Senin, 16 Maret 2015

K O R U P S I


Malu itu sebagian dari iman, demikian sabda Nabi Muhammad SAW. Ucapan Rasulullah secara teologis mengisyaratkan setiap perbuatan hendaknya dilandasi rasa malu. Sifat baik tersebut hakikatnya menunjukkan kualitas iman seseorang.
Memang, manusia itu mahkluk bermoral ambigu, satu sisi menyenangi kebaikan dan di sisi lainnya kerap melanggar nilai dan norma. Kita membenci korupsi, tapi kita juga memberi ruang proses-proses berlangsungnya perbuatan tuna adab itu. Kita mengutuk suap, kolusi, dan nepotisme, tapi dalam kesempatan tertentu kita juga menjadi pelakunya.
Rasa malu dalam situasi seperti ini menjadi barang langka dan berlaku seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Padahal, jika rasa malu itu dipancarkan dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara, niscaya akan berlimpah kemaslahatan. Rasulullah Muhammad SAW mengatakan, "Malu itu tidak datang, kecuali dengan membawa kebaikan."
Internalisasi perilaku malu berbuat korupsi dan melawan hukum dapat diwujudkan dari keteladanan para pemimpin.
Bila pemimpin itu mewariskan kebajikan dan taat pada hukum, niscaya masyarakat juga akan meneladaninya.
Kedua, budaya malu dapat disosialisasikan di ranah keluarga. Peran orang tua sangat menentukan kualitas karakter dan martabat kepribadian anak-anaknya. Berbuat kebajikan untuk peduli kepada sesama dan larangan mengambil yang bukan haknya termasuk tindakan bermoral yang patut dibudayakan di lingkungan keluarga. Keluarga merupakan benteng utama menanam benih moral bagi pembentukan nilai-nilai kepribadian.
Ketiga, melestarikan budaya malu hendaknya diimplementasikan di lembaga pendidikan sekolah. Menurut Emile Durkheim, sekolah mempunyai tugas dan fungsi untuk menanamkan nilai-nilai yang bermanfaat guna mempertahankan sistem sosial. Sebagai salah satu agen sosialisasi, sekolah memiliki peran sentral, yaitu mengubah dan memproduksi berbagai sistem nilai budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kebudayaan yang diproduksi bisa berupa ilmu pengetahuan, kecakapan, nilai, dan sikap.
Keempat, penegakan hukum merupakan salah satu instrumen penting mewujudkan budaya malu di kehidupan masyarakat. Kerja kolektif dan sinergi antarlembaga sosial, politik, hukum, dan aparat kepolisian dalam memberantas korupsi serta-merta tak lepas dari pengawalan publik. Baik dan buruknya kualitas budaya malu tergantung pada tajam atau tumpulnya payung hukum itu ditegakkan. Bila payung hukum tempat berteduh pencari keadilan tersebut loyo dan rapuh, tak kalah berhadapan dengan uang dan kekuasaan, jangan harap rasa malu kepribadian bangsa ini bisa dirawat.
Terakhir, fungsi media massa sejatinya menjadi penopang nilai-nilai budaya bangsa. Melalui media diupayakan kerja kreatif berupa kampanye menggalakkan antikorupsi bisa diimplikasikan secara permanen. Sayangnya, iklan- iklan komersial tak mendidik, seperti iklan rokok yang nyaris membunuh jutaan orang, lebih sering menyergap ruang publik. Sebaliknya, iklan antikorupsi kering dan garing. Pertanyaannya, beranikah media massa kita mengampanyekan antikorupsi serupa dengan iklan rokok sehingga gaungnya berbunyi, "Peringatan: Koruptor Membunuhmu."
Sebuah pesan moral dari Rasulullah Muhammad SAW, "Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah bila kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu." (HR Bukhari).
Sayang sekali, bangsa kita gagal menyelami adab malu. Bangsa kita lebih suka berbuat apa saja tanpa rasa malu dan berakhir sebagai bangsa yang memalukan. Na'udzubillah
(hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, pendidikan, )

***)republika

L A P A N G D A D A


Istilah lapang dada, secara simbolik digunakan Allah SWT untuk menunjuk orang-orang yang kepadanya Ia berkenan memberi petunjuk atau hidayah, terutama hidayah iman dan Islam. Karena itu, seperti dituturkan Muhammad Ghazali dalam bukunya Khuluq al-Muslim, tak ada nikmat dan anugerah yang amat besar selain nikmat bersih hati dan lapang dada.
Allah berfirman, ''Siapa-siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, maka Dia melapangkan dadanya. Dan siapa-siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, maka Allah menjadikan dadanya sesak dan sempit'' (Q. S. 6: 125).
Nabi Muhammad sendiri, disebut Allah SWT sebagai orang yang telah dilapangkan dadanya (Q. S. 94: 1). Menurut Muhammad Ali al-Shabuni dalam buku tafsirnya Shafwat al-Tafasir, yang dimaksud dengan dilapangkan dadanya ialah bahwa hati Nabi SAW telah dipenuhi dengan iman, diterangi dengan cahaya kebajikan dan kebenaran, serta disucikan dari berbagai kotoran dan dosa-dosa. Di dalam dada yang lapang dan hati yang bersih itulah bersemayam iman dan takwa. ''Tempat takwa itu di sini!'' sabda Nabi Muhammad SAW, sambil menunjuk ke dadanya.
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Abdullah bin 'Amr dibikin penasaran oleh ''keistimewaan'' salah seorang Anshar. Pasalnya, setiap kali melihat orang itu, Nabi SAW selalu berkata, ''Ini dia calon penghuni surga!'' Setelah diteliti dan diselidiki, Abdullah menjadi tahu keistimewaan orang itu. Dia adalah orang yang bersih hati dan lapang dada. (H.R. Ahmad).
Orang yang bersih hati dan lapang dada, seperti dikemukakan di atas, tak lain adalah orang-orang yang mampu menekan secara maksimal kecenderungan-kecenderungan buruk yang ada dalam dirinya, seperti rasa benci, dengki, iri hati, dan dendam kusumat. Sebaliknya, ia juga mampu dan berhasil mengembangkan potensi-potensi baik yang ada dalam dirinya menjadi kualitas-kualitas moral (akhlaq al-karimah) yang nyata dan aktual dalam kehidupannya.
Hanya orang yang lapang dada dan bersih hati seperti itu mampu dan sanggup mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, seperti dianjurkan oleh Nabi SAW. Juga hanya orang seperti itu yang dapat merasa senang dan gembira apabila melihat saudaranya mendapat kebaikan dan anugerah dari Allah SWT.
Orang yang demikian itu pula yang kelak akan mendapat perlindungan dari Allah SWT. Firman-Nya, ''(Ingatlah) pada hari di mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih dan lapang.'' (Q.S. 26:89). Semoga kita menjadi orang yang selalu berlapang dada.    (hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, pendidikan, )


***)Republika

Minggu, 15 Maret 2015

MERAIH DOA 70RIBU MALAIKAT

"Tiada seorang Muslim pun yang membesuk saudaranya yang sakit, melainkan Allah mengutus baginya 70 ribu malaikat agar mendoakannya kapanpun di siang hari hingga sore hari dan kapan pun di sore hari hingga pagi harinya." (Musnad Ahmad 2/110).
Syaikh Ahmad Abdurrahman al Banna dalam syarahnya menjelaskan, "Shalawat malaikat bagi anak Adam ialah dengan mendoakan agar mereka diberi rahmat dan maghfirah. Sedang yang dimaksud dengan `kapan pun di siang hari', yakni waktu ia menjenguk. Jika ia menjenguknya pada siang hari, malaikat mendoakannya hingga sore hari dan bila ia menjenguknya pada malam hari, malaikat mendoakannya hingga pagi hari. Karena itu, orang yang berniat hendaknya berangkat sepagi mungkin di awal siang atau bersegera begitu malam menjelang agar semakin banyak didoakan malaikat.
"Siapa yang membesuk orang sakit di pagi hari akan diiringi 70 ribu malaikat, semuanya memohonkan ampun untuknya hingga sore hari dan ia mendapat taman di jannah. Jika ia membesuknya di sore hari, ia akan diiringi oleh 70 ribu malaikat yang semuanya memintakan ampun untuknya hingga pagi dan ia mendapat taman di jannah."(Musnad Ahmad 2/206, hadis 975).
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya pada hari kiamat Allah SWT berfirman, `Hai anak Adam, Aku sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku'." Dia berkata, "Wahai Rabb-ku, bagaimana saya menjenguk-Mu, padahal Engkau adalah Rabb semesta alam?"
Dia berfirman, "Tidak tahukah kamu bahwa hamba-Ku, fulan, sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Tidak tahukah kamu jika kamu menjenguknya, kamu akan mendapati Aku berada di sisi-Nya."(Diriwayatkan oleh Muslim, No 2569).
Menjenguk orang sakit diperintahkan Rasulullah SAW. Al Bara bin Azib RA meriwayatkan, "Nabi menyuruh kita tujuh hal dan melarang kita tujuh hal. Beliau menyuruh kita untuk mengantarkan jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, menolong orang yang teraniaya, melaksanakan sumpah, menjawab salam, dan mendoakan orang yang bersin. Dan Nabi SAW melarang kita memakai wadah (bejana) dari perak, cincin emas, kain sutra, dibaj (sutra halus), qasiy (sutra kasar), dan istibraq (sutra tebal)." (Bukhari No 1239; Muslim No 2066).
Menjenguk orang sakit memiliki beberapa manfaat, di antaranya, pertama, menjenguk orang sakit berpotensi memberi perasaan dan kesan kepadanya bahwa ia diperhatikan orang-orang di sekitarnya, dicintai, dan diharapkan segera sembuh. Hal ini dapat menenteramkan hati si sakit.
Kedua, menjenguk orang sakit dapat menumbuhkan semangat, motivasi, dan sugesti dari pasien. Hal ini dapat menjadi kekuatan khusus dari dalam jiwanya untuk melawan sakit yang dialaminya. Dalam dirinya ada energi hebat untuk sembuh.
Ketiga, mencari tahu apa yang diperlukan si sakit. Keempat, mengambil pelajaran dari penderitaan yang dialami si sakit. Kelima, mendoakan si sakit. Keenam, melakukan rukiyah (membaca ayat-ayat tertentu dari Alquran) yang syar'i. Betapa besar perhatian Nabi SAW agar setiap Muslim mau membesuk saudara Muslimnya yang sakit.   (hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, kisah, pendidikan, )


***)republika

L I S A N



Manusia mungkin cenderung lupa dan kerap mengabaikan apa yang sebenarnya penting. Masalah lisan (lidah), misalnya, tidak jarang di antara kaum Muslim yang menganggapnya sebagai perkara biasa sehingga tidak heran jika banyak yang menggunakan lisannya secara tidak hati-hati.
Padahal, lisan ini karunia Allah yang sudah semestinya digunakan dengan sebaik-baiknya. Sebab, lisan juga bisa menjadi indikator sempurna tidaknya keimanan seorang Muslim. Rasulullah bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam." (HR Bukhari).
Demikian pentingnya lisan ini, sampai urusan super penting pun, yakni urusan masuk surga atau neraka, juga ditentukan oleh bagaimana seorang Muslim menggunakan lisannya.
Rasul SAW bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh antara timur dan barat." (HR Bukhari-Muslim).
Penjelasan lebih lanjut makna hadis ini, Imam Nawawi menuliskan pendapat Imam Syafi'i dalam kitab Al-Adzkar, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya, maka berbicaralah, dan jika dia ragu, maka janganlah berbicara."
Sungguh menarik apa yang disampaikan Abu Hatim mengenai ini, "Lisan orang yang berakal di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (maslahat) baginya, maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada (maslahat), dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya, dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya."
Sudah semestinya kita benar-benar waspada terhadap penggunaan lisan kita. Kurangi berbicara yang tidak jelas maslahatnya. Hindari berbicara tentang keburukan orang lain, apalagi mencari-cari kesalahan orang lain. Sebab, itu semua tidak akan mendatangkan kecuali kerugian bagi diri sendiri.
Terkait ini Rasulullah mengingatkan, "Wahai orang yang menyatakan beriman melalui lidahnya, tetapi keimanannya belum masuk ke dalam relung hatinya, janganlah kalian melakukan ghibah (menggunjing) terhadap kaum Muslimin dan jangan kalian mencari-cari kesalahan mereka. Sebab, barang siapa yang mencari-cari kesalahan mereka, maka Allah akan menyingkap keburukannya dan barang siapa yang disingkapkan Allah keburukannya, maka Allah akan mempermalukannya walaupun dia bersembunyi di dalam rumahnya." (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).
Dengan demikian, mari sayangi diri kita, iman kita, ibadah kita, dan segala kebaikan yang telah kita upayakan sepanjang hidup ini dengan senantiasa waspada dalam berbicara. Sekiranya pun kita mengetahui keburukan orang lain, maka menutupinya jauh menyelamatkan daripada menyebarluaskannya. "Barang siapa menutupi kekurangan seorang Muslim, maka Allah akan menutupi kekurangannya di Hari Kiamat." (HR Muslim).
(hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, syukur, sabar, pendidikan, )

Sabtu, 14 Maret 2015

K E S A T U N A N


Ada empat sikap yang menjadi kunci kemuliaan, yaitu santun, rendah hati, berakhlak mulia, dan dermawan. Rasulullah SAW telah memberikan kita teladan dalam berbagai hadis, salah satunya sikap santun dan lembut. Diriwayatkan Abu Hurairah, "Suatu hari seorang Arab Badui buang air kecil di sudut masjid. Para sahabat kemudian berdiri untuk memukulinya. Namun, Rasulullah SAW memerintahkan, "Biarkanlah dia, siramlah air kencingnya dengan seember atau segayung air.
Sesungguhnya kamu ditampilkan ke tengah-tengah umat manusia untuk memberi kemudahan, bukan untuk membuat kesukaran." (HR Bukhari).
Andai saja kejadian itu menimpa kita sekarang, tentu tidak akan jauh beda dengan sikap para sahabat. Namun, Rasulullah mengajarkan kesantunan dan kelembutan menjadi sikap utama.
Orang yang berani mengotori masjid tidak disikapi dengan keras. Justru dengan penuh kelembutan dan kesantunan, beliau memerintahkan sekadar membersihkan bekas kencingnya.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan pentingnya sikap arif untuk menyelesaikan suatu perkara dalam kerangka kebaikan bersama. Karena boleh jadi, si lelaki Arab Badui itu berbuat begitu karena kebodohannya. Perilaku bodoh jangan dibalas dengan sikap bodoh pula.
Selain itu, memang kita diajarkan untuk berkepribadian santun kepada siapapun. Seorang pelayan beliau, Anas, berkata, "Aku membantu Nabi SAW di Madinah selama sepuluh tahun. Aku hanyalah seorang anak kecil, tidak semua pelayanan yang aku berikan sesuai hati. Namun, beliau tidak pernah sekali pun mengatakan kepadaku, `Hei!', Beliau tidak pernah mengatakan, `Mengapa kamu lakukan ini! Atau, mengapa tidak kamu lakukan begitu!" (HR Bukhari dan Muslim).
Telah menjadi karakter Rasulullah bersikap lembut, sabar, dan penuh kesantunan terhadap siapa pun dalam keseharian.
Bukan hanya urusan pribadi, melainkan ketika berdakwah pun beliau menunjukkan sikap lembut dan santun.
Diriwayatkan Aisyah RA, ia bertanya kepada Rasul SAW, "Apakah ada hari yang engkau rasakan lebih berat daripada peperangan Uhud?" Beliau menjawab, "Aku mengalami berbagai peristiwa dari kaumku, yang paling berat kurasakan, yakni pada hari Aqabah, ketika aku menawarkan dakwah kepada Abdu Yalail bin Abdi Kall, namun ia tidak merespons keinginanku. Aku kembali dengan wajah kecewa. Aku terus berjalan dan baru tersadar ketika telah sampai di Qornuts Tsa'alib, sebuah gunung di kota Makkah. Aku tengadahkan wajahku. Kulihat segumpal awan tengah memayungiku. Aku perhatikan dengan saksama, ternyata malaikat Jibril ada di sana. Lalu, ia menyeruku, `Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka terhadapmu. Dan aku telah mengutus malaikat pengawal gunung kepadamu supaya kamu perintahkan ia sesuai kehendakmu.' Kemudian malaikat pengawal gunung itu memberi salam kepadaku lalu berkata, "Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka terhadapmu, dan aku adalah malaikat pengawal gunung, Allah telah mengutusku kepadamu untuk melaksanakan apa yang kamu perintahkan kepadaku. Sekarang, apakah yang kamu kehendaki? Jika kamu kehendaki agar aku menimpakan kedua gunung ini atas mereka, niscaya aku lakukan!' Beliau menjawab, `Tidak justru aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan sesuatu apa pun dengan-Nya." (HR Bukhari Muslim).
Perilaku lembut dan santun yang dilakukan Nabi Muhammad SAW merupakan prinsip utama bagi siapa pun yang mengaku mukmin dan berharap memperoleh keridhaan Allah. Sikap terpuji beliau yang tak pernah membentak ketika menyikapi seseorang merupakan akhlak utama yang wajib diteladani. Perilaku lemah lembut dan santun merupakan jalan pembuka kebaikan-kebaikan.
Kemuliaan tidak datang dari pangkat, jabatan, dan harta.
Pangkat dan jabatan mengenal pensiun, sedangkan harta akan habis. Kemuliaan akan datang dengan sendirinya, secara otomatis berdasarkan penilaian orang lain kepada kita atas semua kebaikan yang dilakukan. Oleh karena itu, bersikaplah santun, dermawan, rendah hati, dan berakhlak mulia kepada sesama tanpa kecuali. Wallahu a'lam
(hidayah, hikmah, keyakinan, kisah, takwa, syukur)

Jumat, 13 Maret 2015

BERKAHNYA HIDUP SEORANG MUSLIM



Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuh. Masya Allah, alangkah indahnya, bahagianya, dan berkahnya hidup seorang Mukmin itu, tiada hari yang ia lalui dengan sia-sia karena hidupnya dalam keteraturan.
Ia mulai bangun malam untuk shalat malam, muhasabah diri, dan diiringi istigfar di waktu sahur, dan tadabbarul Quran jelang fajar.  Kakinya ia langkahkan untuk shalat subuh berjamaah di masjid.
Sebelum mencari rizki yang halal ia lebih dahulu shalat Dhuha, ia jaga kehormatan dirinya dengan rapih. Auratnya ia tutupi, tak mau menyentuh, dan disentuh yang bukan mahramnya.
Wajahnya bersih dan nyaman dipandang buah selalu terjaga wudhu, murah senyum, dan rendah hatinya. Ia selalu syukuri nikmat Allah dengan sedekah, hati dan lisannya bergerak basah, dan asyik dalam dzikir.
Inilah awal, keteraturan keseharian orang beriman yang terjadi setiap hari. Tiada waktu kecuali bernilai ibadah dan menjadi bekal persiapan di akhirat kelak. 
Dan ia pun berazam mengamalkan hingga Allah mewafatkannya. Allahumma ya Allah tancapkan dihati kami, keluarga kami dan sahabat FB kami kekuatan dan keindahan iman, hiasilah hidup kami dengan kemuliaan akhlak dan selamatkan kami dari berbagai fitnah hidup di dunia sebentar ini…aamiin.

(hidayah, hikmah, keyakinan, syukur, sabar, takwa, )

KAYA BAHAGIA, MISKIN MULIA

Pada suatu hari, serombongan fakir miskin dari sahabat Muhajirin datang mengeluh kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong semua pahala hingga tingkatan yang paling tinggi sekalipun."
Nabi SAW bertanya, "Mengapa engkau berkata demikian?" Lalu, meraka pun berujar, "Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, tapi giliran saat mereka bersedekah, kami tidak kuasa melakukan amalan seperti mereka. Mereka memerdekakan budak sahaya sedangkan kami tidak memiliki kemampuan melakukan itu."
Setelah mendengar keluhan orang fakir tadi, Rasulullah SAW tersenyum lantas berusaha menghibur sang fakir dengan sebuah hadis motivasi. Dengan sabdanya, Rasulullah SAW berusaha membesarkan hati mereka. "Wahai sahabatku, sukakah aku ajarkan kepadamu amal perbuatan yang dapat mengejar mereka dan tidak seorang pun yang lebih utama dari kamu kecuali yang berbuat seperti perbuatanmu?"
Dengan sangat antusias, mereka pun menjawab, "Baiklah, ya Rasulullah." Kemudian, Nabi SAW bersabda, "Bacalah `subhanallah', `Allahu akbar', dan `alhamdulillah' setiap selesai shalat masing-masing 33 kali." Setelah menerima wasiat Rasulullah SAW, mereka pun pulang untuk mengamalkannya.
Tak lama berselang, setelah beberapa hari berlalu, para fakir miskin itu kembali menyampaikan keluhannya kepada Rasulullah SAW. "Ya Rasulullah, saudara-saudara kami orang kaya itu mendengar perbuatan kami, lalu mereka serentak berbuat sebagaimana perbuatan kami." Maka, Nabi SAW bersabda, "Itulah karunia Allah SWT yang diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki." (QS an-Nur [24]: 38).
Sungguh agung perilaku si miskin dan si kaya yang kita dapati dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim di atas. Keduanya memiliki sifat yang begitu mulia, saling berlomba-lomba dalam setiap kebaikan.
Si kaya yang beruntung dengan dikaruniai limpahan rezeki tidak menjadikannya bak si Qorun yang takabur dan bakhil. Ia sadar betul semua itu hanyalah titipan dari Allah SWT yang mesti digunakan di jalan yang semata-mata hanya untuk mencari keridhaan-Nya. Kekayaan tidak menjadikannya lupa daratan, tapi menyadarkannya untuk lebih bederma karena di dalamnya begitu banyak hak orang lain yang mesti ditunaikan.
Begitu pula dengan potret si miskin yang tidak mau kalah beramal. Ia selalui mencari solusi untuk bersaing secara sehat untuk mencari keunggulan dalam beribadah, sadar akan ketidakberuntungan materi tidak menjadikannya patah arang untuk memberikan pengabdian terbaik bagi Allah SWT.
Menjadi kaya atau miskin tentu membutuhkan mental untuk menerima kenyataan. Namun, yang terpenting kesiapan untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Allah SWT setelah diberi ketentuan satu di antara keduanya. Wallahu a'lam.   
(hidayah, hikmah, keyakinan, pendidikan, takwa, syukur, sabar.)



***)republika