Tampilkan postingan dengan label takwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label takwa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juni 2016

BEKAL JELANG RAMADHAN

Ramadhan akan kembali hadir di tengah-tengah kaum Muslim. Sebagai orang beriman sudah sepatutnya kita berbahagia menyambut kehadiran Ramadhan dengan penuh kegembiraan.
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, ketika bulan Ramadhan datang, Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah mewajibkan kepada kalian berpuasa, dibuka lebar pintu surga, ditutup rapat pintu neraka, dan dibelenggu tangan setan. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa yang terhalang untuk mendapatkan kebaikannya maka sungguh ia terhalang dari kebaikan bulan puasa." (HR Ahmad).
Hadis di atas memberikan penjelasan sekaligus kabar gembira tentang keistimewaan bulan Ramadhan. Sehingga mendorong kita untuk menyambut kehadiran bulan suci Ramadhan dengan penuh kebahagiaan. Namun,di tengah kebahagiaan itu, kita perlu melakukan persiapan sebagai bekal menghadapi Ramadhan dengan berbagai amalan saleh. 
Pertama, banyak berdoa. Tidak ada seorang pun yang dapat menjamin usia kita sampai bulan Ramadhan, untuk itu teruslah berdoalah kepada-Nya. "Allahumma bariklana fii rajaba wa sya'ban, wa balighna ramadhan" (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikan kami pada bulan Ramadhan). 
Kedua, puasa sunah di bulan Sya'ban. Dikisahkan oleh Aisyah RA, "Rasulullah banyak berpuasa (pada Sya'ban) sehingga kita mengatakan, 'Beliau tidak pernah berbuka dan aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah banyak berpuasa (di luar Ramadhan) melebihi Sya'ban'." (Muttafaq 'alaih).
    Ketiga, tadarus Alquran. Dengan memperbanyak tadarus Alquran di bulan Sya'ban, dapat mengantarkan kepada kebersihan jiwa, sehingga saat memasuki Ramadhan jiwa dalam keadaan bersih dan pada akhirnya mengantarkan kepada keikhlasan dalam menjalankan ibadah Ramadhan.
Keempat, menelaah buku-buku terkait ibadah puasa. Hal ini dilakukan untuk pemantapan dan penyempurnaan ibadah di bulan Ramadhan. Sebab, ibadah yang tidak disertai ilmu (pemahaman) hanya akan merusak kesempurnaan ibadah itu sendiri. 
Hasan al-Basri mengatakan, beramal tanpa ilmu hanya membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan kebaikan. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh, tapi jangan sampai meninggalkan ibadah. Gemarlah pula beribadah, tapi jangan sampai meninggalkan ilmu. Karena ada segolongan orang yang rajin ibadah, tapi meninggalkan belajar (lihat dalam Miftah Daris Sa'adah karya Ibnul Qayyim).
Kelima, silaturahim kepada keluarga, tetangga, teman, terutama kepada kedua orangtua untuk saling memaafkan dan mendoakan. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menghadirkan suasana kebersamaan dan saling memotivasi, guna memaksimalkan ibadah Ramadhan.
Semoga Allah membimbing kita agar dapat menjalankan ibadah Ramadhan dengan penuh keimanan dan ihtisaban, terampuni dosa-dosa kita dan meraih derajat takwa. Amin.


***) Imam Nur Suharno

Rabu, 15 Juni 2016

BERIMAN DI TEPIAN

''Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi (tidak dengan penuh keyakinan), jika ia memperoleh kebajikan tetaplah ia dalam keadaan itu (keimanan) dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana berbaliklah ia kebelakang (menjadi kafir lagi). Rugilah ia di dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.'' (QS Al-Hajj [22]:11).
 Ayat di atas menjelaskan tentang orang-orang yang menggunakan syarat dalam menyembah Allah SWT. Ia mau beribadah kalau semua keinginannya terpenuhi. Ia menjadikan agama sebagai sarana untuk memuaskan nafsunya. Ia menjadikan Allah SWT seperti lampu Aladin yang harus mengabulkan semua keinginannya.
Jika keinginannya tidak terpenuhi dan jika ia ditimpa berbagai musibah serta kesusahan dalam menjalani hidup, maka ia kembali menjadi orang kafir. Orang seperti ini, menurut Al-Qurtubi dan Ibn Al-Katsir, adalah orang-orang munafik yang sangat merugi di dunia dan di akhirat, dan merekalah golongan orang-orang munafik yang akan berada di neraka yang paling bawah, ''Sesungguhnya orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.'' (QS An-Nisa [4]: 145).
Begitu juga dalam bermuamalah atau interaksi sosial, ia mau menegakkan kebenaran dan berlaku adil jika kebenaran dan keadilan itu menguntungkan dirinya. Ia mau membantu dan peduli terhadap sesama jika hal itu bisa membuat dirinya populer. Namun, jika tidak maka ia berdiam diri dan pura-pura tidak tahu akan musibah dan problem orang lain.
Rasulullah SAW menegaskan kerugian orang-orang seperti itu dengan sabdanya, ''Sangatlah merugi budak harta dan budak baju beludru (baju yang sangat bagus), jika ia diberikan harta dan baju beludru maka ia ridha dan jika tidak maka ia marah.'' (HR Al-Bukhari).
Penyebutan harta dan baju beludru dalam hadis di atas hanyalah contoh semata. Namun, dalam pengertiannya yang luas mencakup semua hal yang sifatnya bisa memuaskan dan membahagiakan.
Semoga kita tidak menjadi budak hawa nafsu seperti orang-orang di atas. Semoga pasca-Ramadhan ini kita menjadi insan yang 'kembali', yang menapaki hidup di rel-Nya. ''Wahai Tuhanku tolonglah aku agar selalu mengingat-Mu, selalu bersyukur kepada-Mu dan selalu bagus dalam beribadah kepada-Mu.'' (HR Abu Dawud).


**) Asep Sulhadi--Pusat Data Republika

Sabtu, 11 Juni 2016

MENYEGERAKAN AMAL

Dalam kitab Ihya' Ulumuddin, Imam Ghazali menukil ungkapan Al-Mandzir, "Aku mendengar Malik bin Dinar berkata kepada dirinya, 'Celakalah kamu. Bersegeralah sebelum urusan datang kepadamu. Celakalah kamu. Bersegeralah sebelum urusan datang kepadamu.' Sehingga, ia mengulangi yang demikian itu sampai 60 kali yang aku dengarnya dan ia tidak melihatku."
Tindakan Malik bin Dinar tentu didorong oleh pemahaman yang kuat terhadap perintah Allah Ta'ala agar bersegera dalam beramal (QS Ali Imran: 133-134 dan QS al-Hadid: 21). Kata "segera" berarti tidak bisa dipisahkan dari waktu.  
Ibn Al-Jauzi dalam bukunya Shaid Al-Khatir mengatakan, "Seorang manusia mesti mengetahui nilai dan kedudukan waktu agar ia tak menyia-nyiakan sesaat pun darinya untuk sesuatu yang tak bisa mendekatkan diri kepada Allah." 
Pemahaman mendalam terhadap nilai dan kedudukan waktu menjadikan ulama terdahulu amat selektif dalam memanfaatkan nikmat yang menurut Rasulullah kebanyakan manusia tertipu, yakni waktu. Fudhail bin Iyadh berkata, "Aku kenal orang yang menghitung perkataannya dari minggu ke minggu." 
Kemudian ada Dawud al-Tha'i, meski sedang membuat adonan roti, lisannya tak pernah kering dari ayat-ayat Alquran. "Antara membuat adonan dan makan roti aku telah berhasil membaca 50 ayat."
Suatu hari seseorang berkata kepada Amir bin Abd Qais (55 H), murid dari Abu Musa al-Asy'ari, "Berhentilah, aku ingin berbicara kepada Anda!" Amir bin Abd Qais pun menjawab, "Coba hentikan matahari."
Sikap Amir bin Abd Qais itu menunjukkan bahwa dirinya telah menetapkan beragam amal di setiap pergantian waktu sehingga menjadi tidak mungkin dirinya meluangkan waktu kepada orang yang secara tiba-tiba memintanya untuk berhenti tanpa niat dan tujuan yang jelas.


***) Imam Nawawi—(Pusat Data Republika

Minggu, 05 Juni 2016

PEMBERI UTANG

Permasalahan dan kesulitan ekonomi tak jarang membuat seseorang merasa buntu dan kehilangan arah untuk menemukan jalan keluar. Hingga pada sampai di titik kesulitan materi yang teramat sangat, akhirnya banyak diantara kita yang memilih untuk berutang kepada sesama. Tidak salah memang.
Berhutang diperbolehkkan dalam Islam, bahkan karena tak menghendaki adanya orang yang dirugikan karena praktik hutang piutang, Allah merumuskan adab-adab berutang yang tertuang dalam penghujung surah al-Baqarah ayat 282 bahwa setiap praktik hutang piutang harus dicatat dan disaksikan.
Pencatatan dan persaksian atas transaksi utang piutang dimaksudkan untuk menghindari kekeliruan dan permusuhan yang akan sangat mungkin terjadi. Dengan pencatatan dan persaksian pula, pengutang ingat kembali jumlah utang yang harus ia bayar jika suatu waktu ia lupa. Namun bagaimana, jika yang berutang tidak mampu atau bahkan fenomena yang sering terjadi adalah justeru yang berhutang lebih kasar dan kejam daripada si pemberi hutang?
Karenanya, diperlukan kelapangan hati dan jiwa ketika kita memutuskan untuk memberikan pinjaman kepada orang lain. Pemberi utang juga harus mengetahui betul apakah yang diutangi betul-betul belum mampu membayar, pura-pura tidak mampu atau bahkan tak ada niat untuk melunasi utangnya. Terkait menghadapi orang yang tidak mampu membayar, maka Alquran menganjurkan kita untuk memberi kelapangan.
“Dan jika dia (penghutang) memiliki kesukaran maka berilah penangguhan sampai waktu lapang (mampu membayarnya), dan apabila kalian menyedekahkannya maka itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui,” (Qs Al-Baqarah: 280)
Begitu santunnya anjuran Alquran dalam memberikan pedoman utang-piutang. Selain si pemberi utang dianjurkan untuk memberikan kelapangan (maysarah—kelonggaran waktu atau kesempatan untuk membayar), pemberi hutang juga harus siap jika pada akhirnya harus menyedekahkan uang yang dipinjamnya ketika yang berhutang, akhirnya tidak sanggup membayarnya.
Pertanyaannya; sudah sanggupkah kita mengikuti tuntunan Alquran? Andai saja kita memiliki uang 10 juta lalu dipinjamkan kepada 10 orang dan kesemuanya itu tidak mampu membayar utangnya, mampukah kita ikhlas?
Ketika Hudzaifah dan Abu Mas’ud ra sedang berkumpul, Hudzaifah ra berkata, “Ada seorang laki-laki yang meninggal dan menemui Tuhannya, maka Tuhannya berkata kepadanya, “Apa yang telah kamu perbuat?” Dia menjawab, “Aku belum pernah berbuat kebaikan, melainkan dahulu aku adalah seseorang yang memiliki harta benda. Dengan harta yang kupunya itulah aku biasa memberikan pinjaman kepada orang yang membutuhkan, lalu aku sering memberikan kemudahan dalam pembayaran. Apabila seseorang tidak mampu membayarnya, maka aku membebaskan hutang tersebut,” Maka Allah Swt berfirman, “Berilah kelapangan kepadanya,” Abu Mas’ud berkata, seperti itulah aku mendengar Rasulullah Saw bersabda,” (HR Muslim, Shahih Muslim, Juz 3, No Hadits 1560)
Demikianlah, tidak ada satu perbuatanpun yang luput dari penjagaan Allah. Berapapun nominal yang telah kita keluarkan (pinjamkan) dengan ikhlas, semua itu pasti akan terbalas. Cukup balasan di akhirat sajalah segala amal kebaikan orang-orang baik itu diberikan. Allahu a’lam


***) Ina Salma Febriany

Sabtu, 14 Mei 2016

UCAPAN CERMINAN HATI

 Orang Mukmin di mata Allah adalah manusia yang paling mulia. Dalam hadis disebutkan, Nabi SAW bersabda, “Tidak ada orang yang lebih mulia di sisi Allah SWT dari seorang Mukmin.” (HR Ath-Thabrani).
Saking mulianya, di hadis lain Beliau SAW bersabda, “Mencaci-maki seorang Mukmin adalah suatu kejahatan dan memeranginya adalah suatu kekufuran.” (HR Muslim).
Mukmin yang dimaksud di sini tentu saja mukmin sejati, bukan Mukmin yang sebatas pengakuan semata. Namun, Mukmin lahir dan batin. Mukmin yang antara ucapan dan perbuatan selaras. Lisan mengatakan beriman, seluruh anggota badan melakukan segala konsekuensi dari keimanan itu.
Mukmin sejati adalah orang yang bertakwa kepada Allah SWT dengan sepenuh hati, totalitas, kaaffah. Salah satu ciri dari orang Mukmin sejati, antara lain, seperti disebutkan dalam hadis Nabi SAW, ''Seorang Mukmin bukanlah pengumpat dan yang suka mengutuk, yang keji, dan yang ucapannya kotor.” (HR Al-Bukhari).
Jadi, Mukmin itu adalah orang yang tidak suka mengumpat, mengutuk, berkata keji, dan berkata kotor. Ini semua berkaitan dengan lisan. Dengan kata lain, Mukmin sejati adalah yang senantiasa mengontrol dan menjaga lisannya dari kata-kata yang tidak baik. Baik itu kata-kata di dunia nyata maupun di dunia maya (internet).
Betapa banyak kita saksikan di jalan raya, misalnya, kata-kata kotor berhamburan saat terjadi cekcok antarpengemudi kendaraan hanya gara-gara kendaraan bersenggolan sedikit.
Dari cekcok dan kata-kata kotor tersebut terkadang berlanjut ke perkelahian yang sia-sia dan tidak perlu. Beruntung kemudian ada yang melerai, sebagian yang lain malah hanya melihat dan menonton, tak peduli, malah seperti menikmati pertikaian.
Di dunia maya tidak kalah parah. Di media-media sosial, misalnya, kata-kata kotor, caci-maki, hujatan, hingga fitnah berhamburan tanpa terkendali. Kritik yang mestinya disampaikan dengan santun dan beradab justru tersampaikan dengan cara-cara yang sebaliknya.
Pada akhirnya, bukannya kebaikan yang muncul, justru keburukan. Orang yang tadinya diam tiba-tiba jadi ikut-ikutan, seperti terbawa arus.
Padahal, Alquran sudah sangat jelas mengingatkan, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya, Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS an-Nahl [16]:125).
Mukmin sejati selalu menjaga lisan. Lisannya selalu digunakan untuk kebaikan. Karena, kata-kata sesungguhnya adalah cerminan dari hati. Hati yang baik akan mengeluarkan kata-kata yang baik.
Sementara, hati yang buruk akan mengeluarkan kata-kata yang buruk juga. Mukmin sejati hatinya jernih, bersih, dan penuh dengan cahaya petunjuk dari Allah SWT. Maka, yang keluar dari lisan pun kata-kata yang jernih, bersih, dan selaras dengan petunjuk Allah SWT.
Rasulullah SAW mewanti-wanti secara tegas, “Sesungguhnya seorang hamba itu berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia pikirkan (baik atau buruknya) maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara sudut timur dan sudut barat.” (HR Al-Bukhari dan Muslim). Wallahu alam.

***) Nur Faridah __Republika Online


Selasa, 10 Mei 2016

SAAT IMAN NAIK TURUN

''Tidaklah kehidupan dunia dibandingkan dengan kehidupan akhirat, kecuali seperti saat salah seorang di antara kamu mencelupkan jari telunjuknya di samudra lautan, lalu lihatlah yang tersisa di jari telunjuknya itu (itulah dunia).'' (HR Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).
Keimanan senantiasa naik turun. Saat iman naik, saat itu kita merasakan betapa lezatnya iman itu. Hidup terasa tenang, dada lapang, mata terasa sejuk, pikiran jernih, kata-kata manis, penuh tawakal, ibadah terasa ringan dan nikmat, kadang air mata ikut menetes untuk ikut merasakan kenikmatannya. Namun, iman bisa turun kalau penjagaannya tidak optimal, karena gerusan kemaksiatan setiap hari pasti dijumpai karena kita tidak hidup sendiri. Tarik-menarik antara keimanan dan kemaksiatan terus akan terjadi.
Kita juga akan merasakan bagaimana kondisi jiwa ketika iman dalam kondisi turun (futur). Hidup penuh dengan ketegangan, dada terasa sempit, penuh dengki, mata liar ke sana-kemari, pikiran kotor, kata-kata tidak terkontrol, ibadah terasa berat, penuh kekhawatiran terhadap dunia, takut kehilangan rezeki, dan sifat-sifat buruk lainnya.
Semakin banyak sifat dan perbuatan buruk dilakukan semakin deras luncuran iman itu menuju titik terendah. Sebaliknya semakin tinggi kuantitas dan kualitas ketaatan semakin cepat iman itu menanjak ke puncak.
Sebagaimana dijelaskan para ulama, iman naik karena ketaatan dan iman turun karena kemaksiatan. Pertanyaannya bagaimana membangunkan iman ketika sedang terbujur lemah? Ada tiga hal yang bisa kita lakukan, pertama, pakar motivasi mengatakan tips mendobrak kemalasan dan ketakutan dengan cara melakukan sebaliknya. Jika dia malas shalat segera bangun shalat maka rasa malas itu akan berangsur-angsur hilang.
Kedua, menyadarkan diri kita bahwa kita diciptakan untuk akhirat, bukan dunia. Maka, segala aktivitas dunia jangan sampai mengalahkan tujuan akhirat kita. 
Ketiga, menyadarkan diri kita kehidupan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan kehidupan akhirat. Hadis di atas setidaknya menggambarkan tentang perbedaan keduanya yaitu antara setetes air kehidupan dunia dan luasnya samudera kehidupan akhirat. Sungguh sebuah perumpamaan yang sangat jelas dipandang mata.
Maka, merugilah orang-orang yang hanya mengejar dunia dan melupakan akhirat. Namun, bila kita senantiasa menjadikan akhirat sebagai motivasi berkarya, maka dunia pun sudah pasti dalam 'genggaman' kita. Wallahu a'lam. 


Pusat Data Republika

Sabtu, 07 Mei 2016

KELEDAI HILANG MALAH SUJUD SYUKUR

Dalam sebuah kisah anekdot Idris Shah, diceritakan bahwa suatu kali, di dalam sebuah perjalanan, Nasruddin mampir di sebuah masjid untuk istirahat. Ia menambatkan keledai kesayangannya di halaman masjid, kemudian ia mengambil air wudhu untuk shalat sunah. 
Rehat sejenak, begitu pikir Nasruddin selesai sembahyang. Ia tak pernah berpikir, tempat yang ia sangka paling aman justru paling rawan tindak kejahatan. Dan itulah yang terjadi ketika ia melihat ke halaman masjid: keledainya lenyap!
Nasruddin mencari ke sana ke mari. Namun sayang, usahanya sia-sia. Ia tidak menemukan keledainya. Seorang jamaah masjid menghampirinya dan bertanya yang terjadi. Nasruddin menceritakan apa adanya. Orang tersebut terperanjat. Ia bercerita, bahwa tadi ada orang yang membawa keledai tersebut dari halaman masjid. Karena dikiranya orang itu adalah si pemilik, ia membiarkan saja.
Nasruddin kini sadar bahwa keledainya memang benar dicuri orang, bukannya lepas dari tambatan. Apa yang dilakukannya? Sejenak kemudian ia bersujud syukur. Tentu saja tingkahnya itu membuat si jamaah masjid heran bukan kepalang. Kisanak, katanya, apakah Anda kurang waras? Bagaimana mungkin, kehilangan keledai Anda malah sujud syukur. Bukannya sedih?
Nasruddin menjawab, aku selalu melihat hikmah di balik setiap peristiwa. Aku merasa bersyukur karena hanya keledaiku yang hilang. Aku masih beruntung bukan diriku, kesadaranku, yang lepas.
Umumnya kita, ketika kehilangan fasilitas duniawi, langsung gelap mata alias hilang kesadaran. Akibatnya, kita kemudian mengekspresikan tindakan-tindakan yang abnormal dan irasional, misalnya uring-uringan, mencari-cari kambing hitam (menyalahkan orang lain), atau malah anarkis (bertindak melawan aturan), pendek kata, kita mengidap penyakit baru, yakni post-power syndrome.
Kesadaran kita hilang bersamaan hilangnya fasilitas duniawi kita. Jika merujuk pada klasifikasi Eric Fromm, kita termasuk orang-orang yang bermodus eksistensi memiliki, bukannya menjadi. 
Bagi yang bermodus memiliki, yang terpenting dalam hidup ini adalah memiliki sesuatu. Maka ketika sesuatu itu hilang, serta merta ia kelimpungan. Ia tidak pernah menjadi diri sendiri, diri yang mandiri dan bebas dari segala bentuk ketergantungan, sehingga memungkinkannya untuk memahami setiap kenyataan hidup ini dalam kerangka proses dan pengalaman.
Penyakit seperti itu lebih berbahaya daripada penyakit-penyakit biasa, bahkan dari sakit gila (hilang ingatan) sekalipun. Sebab, seperti kata Nabi SAW, orang yang mengidap penyakit tersebut disebut sebagai haqqul majnun, gila yang segila-gilanya. 
Dia memang waras, tetapi sebenarnya jiwanya sakit, karena terpenjara, diperbudak hukum-hukum materi dan tubuh. Karena ia tidak sadar akan penyakitnya itu, ironisnya, ia malah merasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan dirinya, seakan-akan semuanya beres. Betapa kasihan. Andai ia tahu, tentu ia akan mendatangi psikoanalis, untuk konsultasi dan meminta terapi kesembuhan.Na'udzubillah.


 ***) Sabrur R Soenardi-- Pusat Data Republika

Jumat, 06 Mei 2016

JABAT TANGAN MALAIKAT

Salah seorang sahabat Rasulullah SAW bernama Hanzhalah Al Usaidi bercerita, "Saya pernah bertemu Abu Bakar, lalu ia bertanya, 'Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?' Aku menjawab, 'Hanzhalah telah menjadi munafiq!' Abu Bakar tersentak kaget seraya berkata, 'Subhanallah! Apa yang engkau katakan?'”
Aku sering bersama Rasulullah SAW, beliau mengingatkan tentang surga dan neraka seolah-olah aku melihatnya dengan mata kepala. Namun ketika aku keluar dari sisi beliau dan bercengkerama dengan istri, anak dan sibuk dengan pekerjaan, aku pun sering melupakannya,” jawabku.
Abu Bakar mengiyakan perasaan seperti itu, “Demi Allah! Kami juga merasakan hal seperti itu!” Kemudian aku dan Abu Bakar berangkat bersama-sama untuk menemui Rasulullah SAW. Aku memulai pembicaraan, “Hanzhalah telah menjadi munafiq wahai Rasulullah! 
Rasulullah balik bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah! Ketika kami bersamamu, engkau mengingatkan tentang surga dan neraka seolah-olah kami melihatnya dengan mata kepala kami. Namun ketika kami keluar dari sisi mu dan bercengkerama dengan istri, anak dan sibuk dengan pekerjaan, kami sering melupakannya.
Rasulullah SAW menjawab, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian selalu dalam keadaan sebagaimana ketika kalian ada di sisiku dan selalu berdzikir, niscaya malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat-tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Tetapi wahai Hanzhalah, suatu waktu seseorang bisa merasakan hal itu, dan di waktu yang lain ia merasakan hal yang lain.” (HR Muslim).
Apa yang dirasakan oleh Hanzhalah Al Usaidi dan sahabat Abu Bakar juga sering kita rasakan di masa sekarang. Ketika kita mendengar ceramah di masjid-masjid atau melalui media elektronik kita merasa dekat dengan Allah, merasakan nikmatnya menjadi penghuni surga, dan merasa betapa mengerikannya kobaran api neraka. 
Dalam suasana hati seperti itu, tidak jarang di antara kita ada yang berjanji untuk mengikuti semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya, dengan tujuan agar kita benar-benar menjadi penghuni surga, dan benar-benar dijauhkan dari api neraka. 
Tapi, perasaan seperti itu tiba-tiba menguap sedikit demi sedikit ketika kita keluar dari masjid atau berkumpul bersama keluarga dan mulai asyik dengan aktifitas sehari-hari kita. 
Perubahan suasana hati seperti ini yang dikhawatirkan oleh Hanzhalah dan Abu Bakar sebagai suatu kemunafikan, karena ketidakistiqamahan hati untuk selalu mengingat janji dan ancaman Allah SWT dalam segala kondisi.
Namun, jawaban Rasulullah menegaskan bahwa perasaan seperti itu bukan merupakan kemunafikan, tapi sebuah perasaan yang lumrah dirasakan setiap orang, pada satu waktu ingat pada janji dan ancamannya Allah, dan di waktu yang lain lupa akan janji dan ancaman tersebut.
Dan orang yang mampu selalu mengingat janji dan ancaman Allah dalam setiap aktivitasnya, maka ia akan menjadi manusia yang sangat istimewa, karena akan mendapat jabat tangan malaikat (doa) di jalan-jalan dan di tempat tidurnya. 

***) Abdul Syukur –Repulika Online

Selasa, 03 Mei 2016

3 NASIHAT RASULULLAH SAW UNTUK WANITA

3 NASIHAT RASULULLAH SAW UNTUK WANITA Di antara bukti kecintaan Nabi Muhammad SAW kepada kaum wanita adalah nasihat yang selalu disampaikan kepada umat Islam agar menjaga dan menghormatinya. Sebab wanita merupakan makhluk yang unik, tidak dapat diperlakukan dengan kasar dan tidak bisa pula dibiarkan (HR Bukhari).
Nabi SAW pernah menasihati dan memerintahkan kaum wanita agar bertakwa kepada Allah, menaati suami, dan banyak bersedekah. Nabi SAW bersabda, "Sungguh di antara kalian ada orang-orang yang masuk surga (beliau sambil merapatkan jari-jari tangannya) dan sebagian besar kalian akan menjadi bahan bakar api neraka (lalu beliau membuka jari-jarinya). Seorang wanita bertanya, ‘Mengapa, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Karena kalian banyak melaknat, mengingkari kebaikan suami, dan menunda-nunda kebaikan'." (HR Ibnu Hibban). 
Dari hadis di atas, ada tiga nasihat Nabi SAW yang diperuntukkan khusus untuk kaum wanita sebagai bekal masuk surga. Jika diamalkan maka akan memudahkan kaum wanita meraih surga, yaitu bertakwa kepada Allah, taat kepada suami, dan banyak sedekah. 
Sebaliknya, jika seorang wanita melakukan tiga hal berikut ini maka akan menjadi orang yang celaka (sebagai penghuni neraka). Pertama, wanita yang suka melaknat. Sebagian wanita begitu mudah melaknat orang yang ia benci, termasuk yang sedang ada masalah dengannya. 
Sangat tidak patut jika seseorang yang mengaku mukmin namun lisannya terlalu mudah untuk melaknat. Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah seorang mukmin itu seorang yang suka mencela, tidak pula seorang yang suka melaknat, bukan seorang yang keji dan kotor ucapannya.” (HR Bukhari).
Kedua, wanita yang suka mengingkari kebaikan suami. “Tidaklah seorang istri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi pasangan suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah, seorang suami bagimu hanyalah seorang tamu yang bisa segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR Tirmidzi).
Ketiga, wanita yang suka menunda-nunda kebaikan. Salah satu hal yang menjadikan wanita suka menunda kebaikan itu adalah terlalu larut dalam perasaan dan emosi. Hal ini pernah terjadi pada masa Nabi SAW. (HR Bukhari dan Muslim).

Karena itu, ingat akan nasihat Nabi SAW untuk segera melaksanakan amal saleh sebelum datang tujuh hal yang menghancurkan, yakni;kefakiran yang melupakan, kekayaan yang menyesatkan, sakit yang merusakkan, ketuaan yang melemahkan, kematian yang mendadak, Dajjal yang merupakan seburuk-buruk hal ghaib yang akan datang, dan hari kiamat (HR Tirmidzi).
Semoga Allah SWT membimbing kita para wanita agar dapat menjalankan tiga nasihat Nabi SAW sebagai bekal masuk surga, dan meninggalkan tiga hal larangan agar dapat terhindar dari neraka. Aamin.  


***) Siti Mahmudah

Senin, 02 Mei 2016

5 GOLONGAN YANG MENDAPAT CINTA ALLAH

Allah menginformasikan dalam Alquran tentang golongan orang yang dicintai-Nya. Mereka dicintai Allah karena iman, takwa, dan ketaatan dalam menjalankan perintah agama serta sikap dan perilaku yang baik kepada sesama manusia dan makhluk lain.
Pertama, orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Bagi Muslim, yang paling dicintai adalah Allah dan Rasul-Nya (al mahabbatul ula). Kecintaan kepada keduanya merupakan tolok ukur mencintai yang lain, seperti istri, suami, anak, keluarga, harta, pangkat, dan jabatan.
Cinta kepada Allah memotivasi untuk menjalankan semua perintah-Nya dengan ridha. Allah berfirman, ''Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu'. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'' (QS 3: 31).
Kedua, orang-orang yang berbuat adil (muqsithin). Adil berarti melakukan suatu perbuatan dengan tidak menzalimi orang lain dan diri sendiri. Adil juga berarti melaksanakan kewajiban sesuai ketentuan dan menerima hak sebagai imbalan. Keadilan harus ditegakkan dalam semua aspek kehidupan manusia, baik sosial, politik, ekonomi, maupun hukum.
Allah berfirman, ''Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka, jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikit pun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.'' (QS 5: 42).
Ketiga, berlaku sabar (shabirin). Sabar yang sempurna terwujud manakala seseorang tunduk sepenuhnya tanpa syarat kepada kehendak Allah. Allah berfirman, ''Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.'' (QS 3: 146).
Keempat, orang-orang yang bertawakal (mutawakilin). Tawakal adalah menyerahkan apa yang telah dilakukan kepada Allah. Sikap ini muncul karena keyakinan bahwa apa saja yang diperbuat manusia, hasilnya tidak bisa dipastikan. Allah berfirman, ''Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.'' (QS 3: 159).
Kelima, orang-orang yang menyucikan diri (mutathohhirin). Setiap Muslim dilatih selalu suci secara fisik dengan bersuci dari hadas besar dan kecil ketika akan shalat. Kebiasaan ini diharapkan memberikan pengaruh positif untuk bersih diri dan lingkungan. Allah berfirman, ''Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.'' (QS 2: 222).
Sikap dan perilaku golongan yang dicintai Allah ini harus dicontoh dalam kehidupan. Sebab, sikap dan perilaku itu membawa kemaslahatan bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.


***) Firdaus  (Pusat Data Republika

Minggu, 01 Mei 2016

BAGAIMANA SEHARUSNYA NEGARA MENGHADAPI KEMISKINAN

Diriwayatkan dari Jabir RA, ''Sekali peristiwa kami bersama Rasulullah pada pagi hari di Madinah, tiba-tiba datang serombongan orang berpakaian compang-camping. Tampak saat itu kesedihan di wajah Rasulullah lantaran melihat kesengsaraan mereka. Rasulullah kemudian masuk ke dalam rumah dan keluar kembali, lalu menyuruh Bilal mengumandangkan azan dan ikamah, kemudian beliau memimpin shalat.''
''Selesai shalat, Rasulullah berpidato, 'Hai sekalian manusia, hendaklah setiap orang menyedekahkan sebagian dari dinarnya, sebagian dari dirhamnya, sebagian dari pakaiannya, segantang dari gandumnya, dari segantang kurmanya, biarpun dengan sekeping kurma.'''
Berkata Jabir selanjutnya, ''Maka, datanglah seorang laki-laki dari golongan ansar membawa sebuah pundi yang hampir-hampir tangannya tidak kuat membawanya. Kemudian orang banyak membawa pakaian dan makanan, sehingga aku melihat dua tumpukan terdiri atas makanan dan pakaian, aku melihat uang yang banyak sekali, dan kulihat wajah Rasulullah berseri-seri bagaikan sesuatu bersepuh emas layaknya.''
Sambil menyerahkan bantuan yang terkumpul saat itu, Rasulullah bersabda, ''Barang siapa membuat suatu aturan yang baik, maka baginya pahala ditambah dengan pahala orang-orang yang menjalankan aturan itu di belakangnya, dengan tidak dikurangi sedikit pun dari pahala mereka.'' (HR Muslim).
Dari cuplikan peristiwa di atas, terdapat ajaran yang sangat penting seputar tanggung jawab kepemimpinan yang dicontohkan oleh Rasulullah, yakni menggerakkan orang-orang yang berkecukupan supaya menginfakkan hartanya dalam keadaan yang mengharuskan mereka berbuat demikian. Dalam kondisi seperti itu, kaum Muslimin tidak lagi berhitung soal zakat, tetapi yang diterapkan adalah infak atas dasar keikhlasan yang "diwajibkan" sewaktu-waktu saat keadaan memaksa.
Bagian yang diterima oleh fakir-miskin bukan suatu belas kasihan, melainkan hak yang telah ditentukan melalui mekanisme yang digerakkan oleh negara. ''Demi Allah, andaikata mereka tak mau menyerahkan kepadaku seutas tali unta yang dahulu diserahkan kepada Rasulullah, niscaya mereka kuperangi karena-Nya,'' demikian ditegaskan oleh Abu Bakar Siddik selaku kepala negara Islam di abad pertama Hijriyah.
Ulama besar kelahiran Andalusia (Spanyol), Ibnu Hazm al-Andalusy berpendapat bahwa kemiskinan hanya dapat diatasi dengan kesediaan orang-orang kaya memberikan hak orang miskin yang diamanatkan Allah kepadanya. Ibnu Hazm mengutip sebuah hadis bahwa ada hak-hak fakir miskin selain zakat yang harus dikeluarkan oleh orang-orang kaya. Apabila zakat tidak mencukupi sebagai jaminan sosial bagi masyarakat yang tidak mampu, maka ulil amri (pemerintah) diberi hak untuk memungut pajak sosial lainnya dari orang-orang kaya.
Jika ajaran Islam dilaksanakan secara kafah dan konsekuen oleh umatnya, baik selaku anggota masyarakat maupun ulil amri yang memegang amanah kekuasaan, maka tak akan ditemukan seorang fakir pun yang menahan lapar di antara warga masyarakat lainnya yang hidup berkecukupan. Tak akan ada orang miskin yang telantar. Penduduk yang tak punya tempat tinggal karena sangat miskinnya atau kehilangan kesempatan membina keluarga, atau terlunta di hari tuanya.

***) M Fuad Nasar : Pusat Data Republika

Sabtu, 30 April 2016

BATAS KEZALIMAN

"Sesungguhnya Allah takkan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya walaupun orang-orang yang berdosa tidak menyukainya.'' (QS Yunus, 10: 81-82).
Wahai semua pejuang kebenaran, inilah kabar gembira. Bahwa setiap kemungkaran dan kemaksiatan ada batasnya. Sejarah manusia membuktikan bahwa runtuhnya kezaliman demi kezaliman, sekuat apa pun dia, hanya soal masa.
Ada Fir'aun di era Nabi Musa. Hampir semua orang menyembahnya. Namun, kekuasaannya lenyap sekejap ditelan air laut, berikut ketuhanannya. Sekarang banyak pemimpin zalim, tapi tak ada yang sampai menuhankannya. Bahkan, rakyatnya mengkritik dan mencercanya. Logika sederhana: kesewenang-wenangan mereka punah lebih segera.
Hal serupa juga terjadi pada kaum dan penduduk 'Ad, Tsamud, Sodom, Al Hijr, dan sebagainya. Mereka bisa membangun rumah di gunung dan bukit, yang tak mampu lagi ditiru generasi kita. Toh, semuanya sirna.
Kita juga dapat becermin pada riba. Teori menyatakan uang akan membukit tanpa bekerja. Orang-orang tertentu dapat segera kaya raya. Tapi, itu semua terbukti membangkrutkan negara. Andaikan tiada korupsi dan penyelewengan kekuasaan, yang dibiarkan berlalu seiring dengan berotasinya bumi, tentulah semua insan yang menyemai riba dan memelihara berbagai sarananya, akan jatuh miskin dan menderita.
Firman-Nya, ''Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.'' (QS Al-Baqarah, 2: 276). Terbukti, sebagai kezaliman nyata, bunga dan sejenisnya ada batasnya. Apa pun kezaliman itu, siapa pun pelakunya, seberapa banyak pun pendukungnya, semuanya akan punah tak bersisa. Ambruk di dunia, remuk di alam baka. Itu takdir Allah Taala. Itu sunnatullah, hukum alam bagi siapa saja.
''Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.'' (QS Faathir, 35: 43).
Ironisnya, masih banyak orang tertawa ketika berdosa. Ada yang bangga bisa menenggak minuman keras dan berzina. Mereka tiada malu itu semua dari korupsi dan suap-menyuap menggarap aset rakyat dan negara. Bahkan, gembira bisa berkolusi, walau rakyat jadi tambah menderita karena kenaikan harga, misalnya.
Tidak pernah ada kesedihan, padahal belum berhasil menyejahterakan warga. Seolah-olah tiada takut memikirkan pertanggungjawaban amanah di alam baka. Padahal, semua kezaliman akan sirna. Sementara kita tidak hidup, kecuali terus menghampiri ajal kita.


***) Fahmi AP Pane

Jumat, 29 April 2016

WUDHU KITA MENYELAMATKAN KITA

Wudhu. Sebuah amalan yang kerap dianggap biasa namun memiliki fadilah yang amat besar. Wudhu kerap dimaknai hanya sebuah ritual membasuh anggota tubuh sebelum shalat. Padahal, maknanya jauh melebihi itu.
Wudhu mendapat tempat penting dalam kitab-kitab fikih. Biasanya ia diletakkan di awal pembahasan bersama dengan bahasan bersuci. Bersuci khususnya wudhu menjadi pembuka amaliyah yang amat penting yakni shalat. Tanpa bersuci, maka tidak akan sah shalat seorang Muslim. Wudhu menjadi pembuka amal-amal lain yang terlihat lebih besar.
Makna wudhu secara spiritual juga amatlah membekas. Wudhu menjadi terminal seorang Mukmin untuk membersihkan diri. Bersih secara fisik maupun suci secara batin. Basuhan air ke anggota tubuh saat berwudhu akan menghilangkan hadas. Basuhan yang sama juga akan menggugurkan dosa.
Siapakah makhluk yang bernama manusia yang berani mendeklarasikan diri bebas dari dosa? Hanya Nabi Muhammad SAW yang memiliki sifat maksum. Selebihnya, termasuk kita, adalah gudangnya khilaf dan alpa. Dosa-dosa yang amat kotor jikalau ia nampak itu akan mengerak dalam hati. Menutup kalbu hingga hitam pekat. Sehingga sebuah cahaya akan kesulitan menembus dindingnya dan menghantarkan hidayah.
Allah SWT yang Maha Pengampun menyiapkan banyak sarana untuk mencuci dan membilas dosa-dosa kita agar tak makin legam. Wudhu, adalah salah satu diantara sarana penyucian diri.
Adalah Amr bin Abasah yang bertanya kepada Rasulullah SAW dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim. 
“Wahai Rasulullah beritahukan kepadaku tentang wudhu?” 
Pertanyaan Amr ini akan menjadi sejarah sekaligus kabar gembira bagi umat. Kabar gembira karena jawaban sang Nabi SAW nantinya, akan mengurai panjang fadilah wudhu dalam menggugurkan dosa-dosa anggota tubuh.

***) Oleh Hafidz Muftisany


Kamis, 28 April 2016

DOSA TERBESAR

Dari Abu Bakrah ra, ia berkata, Nabi Saw bersabda, “Maukah aku beritahukan kepada kamu tentang dosa terbesar di antara dosa-dosa besar?” Kami menjawab, “Tentu saja, wahai Rasulullah!” Rasulullah Saw pun bersabda, “Dosa-dosa tersebut ialah menyekutukan Allah (syirik), mendurhakai orangtua,” beliau pun bersandar lantas duduk, “Ingatlah! dua dosa lagi yaitu perkataan keji dan kesaksian palsu,” Beliau mengatakannya terus menerus dan diulang-ulang hingga kami pun berkata dalam hati, “Duhai, andai saja Rasulullah berhenti mengucapkannya,” (HR Bukhari dan Muslim)
Menurut Dr Musthafa Said al-Khin, Hadits di atas mengandung beberapa faedah yaitu peringatan bahwa dosa yang paling dibenci Allah ialah menyekutukan-Nya, durhaka kepada orangtua, perkataan yang keji dan kesaksian palsu.
Kedua, ancaman keras terhadap perkataan keji dan kesaksian palsu. Rasulullah berulang- ulang memperingatkannya untuk menjelaskan betapa besarnya bahaya perbuatan itu yang dapat mengancam perdamaian umat dan beratnya siksaan yang akan ditanggung oleh pelakunya pada hari kiamat.
Ada dua penyandingan dalam hadits tersebut yang diucapkan Rasulullah pertama, dosa syirik dan dosa mendurhakai orangtua. Betapa banyak ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang perintah untuk hamba-Nya agar menaati Allah dan berbakti kepada orangtua, surah Al-Isra ayat 23 misalnya; dalam ayat tersebut Allah memerintahkan (mewasiatkan; dengan menggunakan lafadz Qadaa) agar kita tidak mendurhakai Allah atau menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun ditambah dengan anjuran untuk berbuat baik kepada orangtua.
Dalam surah lain, yakni Qs Al-Baqarah ayat 215 pun demikian, dengan santun Allah mengajak para hamba-Nya agar menyisihkan rezeki yang Dia berikan untuk orang-orang yang berhak menerimanya; salah satu orang yang berhak yang disebut pertama kali oleh Allah adalah orang tua, kemudian disusul untuk keluarga (kaum kerabat), anak yatim, orang miskin dan orang-orang yang sedang berada di dalam perjalanan (Ibn Sabil).
Pada akhir ayat, Allah menjamin bahwasannya kebaikan apapun yang kita lakukan, Allah pasti akan mengetahuinya. Tentu saja Allah tak sekedar tahu, namun juga Maha Membalas kebaikan yang dilakukan para hamba-Nya untuk dapat memberatkan timbangan kebaikan mereka di yaumil akhir kelak.
Kembali ke konteks hadit yang telah disebutkan di atas, dua perilaku dosa terbesar yang disebut bersamaan adalah perkataan keji dan kesaksian palsu. Disebut bersamaan karena orang-orang yang cenderung mudah untuk mengatakan kata-kata kotor, dusta dan tidak benar, mereka tentu juga akan mudah memfitnah, menghasud, memprovokasi, mengadu domba, bahkan memberikan kesaksian palsu.
Mengapa kesaksian palsu juga masuk ke dalam kategori dosa terbesar? Jelas, karena kesaksian palsu tak hanya menjerumuskan pelakunya ke dalam lubang dosa namun juga merugikan orang lain; terlebih orang yang difitnah karena kesaksian yang tidak benar itu. Karenanya, Allah menegaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 263 bahwa perkataan yang baik dan pemberian maaf itu lebih baik daripada sedekah dengan diiringi ketidakikhlasan (menggerutu dan sebagainya).
Kendati surah Al-Baqarah ayat 263 secara khusus berbicara tentang sedekah, namun secara umum juga berfungsi sebagai penegasan dan pengingat untuk kita bahwa seutama-utamanya sedekah adalah perkataan baik—yang diharapkan dengan pengingat ini bahwa kita mampu menjaga dan menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang kurang manfaat. Rasulullah pun dalam suatu hadits juga bersabda bahwa kita dianjurkan untuk berkata yang baik-baik (saja), atau jika tidak sanggup maka diam akan jauh lebih baik.
Karenanya, Ibn Mas’ud ra dalam sebuah hadits menguraikan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Allahumma inni as-alukal huda wattuqo wal’afaaf walghinaa—Ya Allah, aku memohon kepadamu hidayah, ketaqwaan, kemampuan untuk menahan diri dan kecukupan rezeki,” (HR Muslim)
Akhirnya, do’a Rasulullah inilah yang mengantarkan kita semua kepada sebenar-benarnya doa dan permohonan bahwa yang perlu kita pinta pada-Nya hanyalah petunjuk, rasa takut yang bertambah kepada Allah, kemampuan untuk tidak melakukan hal-hal buruk (termasuk berkata keji dan kesaksian palsu), juga kekayaan hati dan materi.
Semoga Allah memampukan kita untuk menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak terpuji juga melindungi kita dari empat dosa terbesar di antara yang besar ini. Aamiin.


***) Ina Salma Febriany

Rabu, 27 April 2016

ETIKA MENASEHATI

Harun ibn ‘Abdillah, seorang ulama ahli hadis yang juga pedagang kain di kota Baghdad bercerita: Suatu hari, saat malam beranjak larut, pintu rumahku di ketuk. “Siapa?” tanyaku. “Ahmad,” jawab orang di luar pelan. “Ahmad yang mana?” tanyaku makin penasaran.
“Ibn Hanbal,” jawabnya pelan. "Subhanallah, itu guruku!" kataku dalam hati. Maka kubuka pintu. Kupersilakan beliau masuk dan kulihat beliau berjalan berjingkat, seolah tak ingin terdengar langkahnya. 
Saat kupersilakan untuk duduk, beliau menjaga agar kursinya tidak berderit mengeluarkan suara. “Wahai guru, ada urusan yang penting apakah sehingga dirimu mendatangiku selarut ini?” 
“Maafkan aku ya Harun. Aku tahu biasanya engkau masih terjaga meneliti hadis selarut ini, maka aku pun memberanikan diri mendatangimu. Ada hal yang mengusik hatiku sedari siang tadi.” Aku terkejut. Sejak siang? 
“Apakah itu wahai guru?” “Mmmm begini!” Suara Ahmad ibn Hanbal sangat pelan, nyaris berbisik. “Siang tadi aku lewat di samping majelismu, saat engkau sedang mengajar murid-muridmu. Aku saksikan murid-muridmu terkena terik sinar mentari saat mencatat hadis-hadis, sementara dirimu bernaung di bawah bayangan pepohonan. Lain kali, janganlah seperti itu wahai Harun! Duduklah dalam keadaan yang sama sebagaimana murid-muridmu duduk!” 
Aku tercekat, tak mampu berkata. Maka beliau berbisik lagi, mohon pamit, melangkah berjingkat dan menutup pintu hati-hati. Masya Allah! Inilah guruku Ahmad ibn Hanbal, begitu mulianya akhlak beliau dalam menyampaikan nasehat.
Beliau bisa saja meluruskanku langsung saat melintasi majelisku. Tapi itu tidak dilakukannya demi menjaga wibawaku di hadapan murid-muridku. Beliau juga rela menunggu hingga larut malam agar tidak ada orang lain yang mengetahui kesalahanku.
Bahkan beliau berbicara dengan suara yang sangat pelan dan berjingkat saat berjalan, agar tak ada anggota keluargaku yang terjaga. Lagi-lagi demi menjaga wibawaku sebagai imam dan teladan bagi keluargaku.
Dari kisah di atas, kita bisa belajar bagaimana arifnya Ahmad bin Hanbal; seorang imam mazhab menyampaikan nasihat kepada muridnya sendiri. Nasihat bukan menunjukkan diri yang paling benar. Nasihat bukan untuk menunjukkan eksistensi diri atau arogansi.
Seringkali kita melupakan etika dalam menyampaikan nasehat. Nasehat hanya bisa diterima oleh hati yang benar-benar menginginkan kebaikan bagi orang yang dinasehatinya. 
Jika nasehat yang disampaikan hanya untuk mempermalukan diri orang lain, niscaya nasehat tak lebih hanya akan menjadi bibit kebencian dan permusuhan. 
Teringat perkataan Imam Asy Syafi’i, “Nasihati aku saat sendiri, jangan di saat ramai dan banyak saksi. Sebab nasehat di tengah khalayak, terasa hinaan yang membuat hatiku pedih dan koyak; maka maafkan jika hatiku berontak.”  (HR Thabrani). Wallahu’alam.


***) Miftah al-Banjary

Selasa, 26 April 2016

ISYARAT KEMATIAN

 Dalam kitab Irsyadul Ibad dikisahkan, Nabi Ya’qub AS biasa berbincang dengan Malaikat Maut. Di antara perbincangan itu membahas mengenai kematian. 
Nabi Ya’qub berkata, “Aku tahu tugasmu sebagai pencabut nyawa. Alangkah baiknya, jika engkau mengabari aku terlebih dahulu sebelum menjemput ajalku nanti. 
Malaikat Maut pun berkata, “Baiklah, nanti akan kukirimkan kepadamu dua atau tiga utusan.” Selang beberapa lama, datanglah Malaikat Maut menemui Nabi Ya’qub AS. Bertanyalah Nabi Ya’kub, “Apa kedatangan Saudara sekadar bertamu seperti biasanya?
Malaikat Maut menjawab, “Tidak, aku mau mencabut nyawamu.” Nabi Ya’qub berkata, “Bukankah aku pernah berpesan padamu agar mengingatkan aku sebelum kau mencabut nyawaku? 
Malaikat Maut menjawab, “Aku sudah kirimkan kepadamu pesan itu, tidak hanya satu bahkan tiga: pertama, rambutmu yang mulai memutih; kedua, badanmu yang mulai melemah; dan ketiga badanmu yang mulai membungkuk. Itulah pesan yang kukirimkan kepada semua manusia sebelum aku mendatangi mereka.
Begitulah sejatinya Allah SWT telah memberikan peringatan kepada segenap manusia akan datangnya kematian. Karena tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (QS al-Anbiya’ [21] :35). 
Akan tetapi, manusia lebih suka berpura-pura melupakannya. Manusia seringkali mengakui tiga hal, tetapi sesering itu pula mereka menyalahinya dengan perbuatannya. 
Mereka mengaku sebagai hamba Allah, tetapi kelakukannya sangat tercela. Mereka berkata Allah-lah yang mencukupi kehidupannya, tetapi perhatian dan hati mereka terborgol dengan keduniawian. Mereka mengetahui kematian itu pasti, tetapi mereka beramal seolah-olah tidak akan pernah mati.
Betapa banyak orang yang mengaku ia adalah hamba Allah, tetapi perbuatannya justru mencerminkan dirinya adalah hamba dunia, hamba harta, hamba jabatan, dan sebagainya. 
Lisannya bisa saja berkata, “aku adalah hamba Allah,” tetapi tangannya masih saja mengambil yang bukan haknya, melakukan tindakan korupsi yang merugikan orang banyak, atau menerima sesuatu yang tidak seharusnya.
Oleh karenanya, semoga kita memiliki komitmen yang kuat untuk menata kembali kehidupan kita dengan lebih baik, sehingga sisa-sisa umur kita ini dapat kita gunakan dengan sebaik-baiknya, sesuai tuntunan Allah dan Rasulullah SAW. 
Dengan bertambahnya umur, semoga bertambah pula ketaatan dan ibadah kita kepada Allah SWT, dan bukan justru bertambah dosa-dosa kita kepada-Nya.

***)Ahmad Agus Fitriawan

Minggu, 24 April 2016

MENGHINDARI SIFAT MUNAFIK

Dalam sebuah riwayat dari Abdullah bin Amru, Rasulullah SAW pernah bersabda, ''Tanda orang munafik ada tiga. Jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, jika diberi amanah ia berkhianat. (HR Bukhari). Dalam HR Muslim ada penambahan, ''Walaupun ia puasa, shalat, dan mengaku sebagai Muslim.''
Menurut para ulama, penipuan, makar, pengelabuan dengan menampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejahatan, termasuk dalam nifak. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'u l-Ulum wa l-Hikam membagi nifak dalam dua jenis.
Pertama, nifak besar (akbar) yang biasa dikenal dengan nifak i'tiqady. Pelakunya berkamuflase mengaku beriman kepada Allah SWT, malaikat, kitab-kitab suci, para rasul, dan hari akhir.
Namun, di balik itu ia mendustakan semua atau sebagiannya. Nifak seperti ini ada pada zaman Muhammad SAW dahulu. Saat itu, Abdullah bin Ubay menjadi panutan kaum munafik. Ia menyebarkan isu bahwa antara Ummul Mukminin Aisyah dan Shafwan bin Mu'aththal ada affair.
Kedua adalah nifak kecil (asghar) yang bersifat amali. Biasanya si pelaku bersikap hipokrit (munafik) dengan menampakkan kebaikan yang sejatinya tidak demikian. Sebagian ciri-ciri nifak jenis ini seperti dusta, ingkar janji, dan khianat.
Sudah jamak diketahui bahwa dusta dalam berbicara adalah sifat yang tidak terpuji. Apalagi kalau dusta kepada orang yang percaya akan kejujuran si pembicara. Dalam al-Musnad ada sebuah hadis bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ''Sebuah pengkhianatan yang besar jika kamu berbicara dengan saudaramu dan ia percaya kepadamu (bahwa kamu tidak akan berdusta), sedangkan kamu berdusta kepadanya.''
Sedangkan ingkar janji adalah perkara yang dilarang keras dalam Islam, baik dalam urusan yang besar maupun remeh. Abdullah bin Amir pernah bercerita, ''Suatu ketika Muhammad SAW berkunjung ke rumah kami. Ketika itu aku masih kecil. Tatkala aku hendak keluar rumah untuk bermain, ibuku memanggilku, Abdullah! sini ibu punya sesuatu untukmu.''
Maka Rasulullah bertanya, ''Apa yang akan kamu berikan buat anakmu?'' ''Akan kuberi kurma,'' jawab ibuku. Rasulullah SAW berkata, ''Seandainya kamu tidak memberi apa-apa kepada anakmu maka kamu dicatat telah berbuat dusta.'' (HR Abu Daud).
Mengenai amanah, ia merupakan perwujudan kepercayaan orang kepada yang diamanahi. Sangat tidak wajar jika ada orang yang menitipkan barangnya kepada pengkhianat. Selayaknya seorang Muslim membalas kepercayaan saudaranya dengan menjaga amanah yang dibebankan kepadanya.
Menjaga diri dari tiga sifat di atas sangatlah perlu. Jika tiga sifat itu bersemayam dalam diri seseorang dan tidak segera diobati, maka pada gilirannya akan menggiring pada nifak akbar yang ancamannya tidak ada selain api neraka.


Sumber : Pusat Data Republika

Jumat, 22 April 2016

TETANGGA PENJAMIN SURGA

Manusia adalah makhluk-makhluk sosial. Saat lahir, dia membutuhkan dekapan seorang ibu, saat kecil butuh teman bermain, saat dewasa memerlukan teman hidup, dan saat beranjak tua perlu orang yang merawat serta memperhatikannya. Bahkan saat meninggal pun, masih membutuhkan orang lain untuk memandikan, menshalatkan, dan menguburkannya.
Karena itu, sejak manusia belum terlahir hingga setelah meninggal, pasti butuh kehadiran orang lain. Sangat tidak tepat bila kita menjadi egois, mementingkan diri sendiri. Dalam posisi seperti inilah arti penting tetangga sebagai orang yang dekat dengan kita.
Terkadang kedudukan tetangga jauh lebih penting daripada saudara, karena merekalah pihak pertama yang kita mintai pertolongan saat dalam posisi bahaya. Demikian pentingnya tetangga, hingga Rasulullah SAW pernah menyebutkan, kualitas keimanan seseorang, salah satu tolak ukurnya adalah sejauh mana ia mampu berbuat baik kepada tetangganya.
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya." (HR Bukhari dan Muslim). Bahkan berbuat baik kepada tetangga merupakan salah satu penjamin seseorang bisa masuk surga. "Tidak masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya." (HR Bukhari dan Muslim).
Seseorang berkata, ''Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulanah banyak melakukan shalat, sedekah, dan puasa. Hanya saja ia menyakiti tetangga dengan lisannya.'' Rasulullah SAW bersabda, ''Seseorang diceritakan sedikit melakukan puasa dan shalat, tapi ia bersedekah dengan beberapa potong keju dan tidak menyakiti tetangganya, maka wanita ini ada di dalam surga.'' (HR Ahmad, Ibnu Hibban, dan Hakim).
Untuk itu, mulailah berbuat baik kepada tetangga kita. ''Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah orang yang paling baik di antara mereka terhadap temannya. Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik di antara mereka terhadap tetangganya.'' (HR Tirmidzi).
Berbuat baik kepada tetangga bisa diwujudkan seperti berbahagia ketika tetangga mendapat karunia dan ikut bersedih (berempati) bila mendapat musibah, sehingga melahirkan sikap saling membantu; berpikir positif terhadap yang dilakukan tetangga dan jangan berprasangka negatif; bila kita punya kelebihan rezeki, hendaklah berbagi dengan tetangga.
Rasulullah SAW menganjurkan untuk saling memberi hadiah, karena itu akan melahirkan kecintaan di antara sesama. Bahkan saat orang lain berbuat keburukan, kita tidak dianjurkan untuk membalasnya dengan keburukan yang serupa. ''Kalau kamu memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya. Kemudian lihatlah keluarga dari tetanggamu. Dan berilah mereka dengan baik.'' (HR Muslim). Bukhari pun meriwayatkan, ''Tidaklah disebut Mukmin orang yang kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan.''


Sumber : Pusat Data Republika

Kamis, 21 April 2016

MENJADI BURUNG BUTA DAN LUPUH

 Syaqiq Al-Balkhy, seorang zahid, bermaksud menggeluti dunia bisnis. Ia berpamitan kepada Ibrahim bin Adham, juga seorang zahid yang sangat wara'. 
Ibrahim berdoa agar Syaqiq diberkahi dalam bisnisnya, senantiasa zahid, dan melaksanakan ibadah dan dzikir. Namun, baru beberapa hari meninggalkan kampung halamannya, Syaqiq kembali. Ibrahim merasa heran dan bertanya, "Mengapa engkau kembali lagi?" 
Syaqiq menceritakan peristiwa yang membuatnya kembali pulang dan meninggalkan tekadnya semula. "Tatkala saya singgah di tengah perjalanan untuk beristirahat, saya memasuki reruntuhan rumah untuk suatu keperluan. Di dalamnya saya melihat seekor burung yang buta lagi lumpuh, tentu saja tak mampu bergerak, apalagi terbang. Saya merasa iba melihatnya. Kemudian saya berkata sendiri, 'Dari mana burung malang ini bisa mendapatkan makanan di tempat ini?' Tak lama kemudian, seekor burung lain membawa makanan, menyuapi burung yang buta dan lumpuh tersebut. 
Saya mengamatinya sampai beberapa hari. Terbesit di hati saya, 'Sesungguhnya yang memberikan rezeki kepada burung yang buta dan lumpuh di reruntuhan ini, juga mampu memberikan rezeki kepadaku.' Lalu saya menetapkan kembali ke kampung halaman." 
Ibrahim bin Adham berkata, "Subhanallah! Wahai Syaqiq! Mengapa engkau rela menjadikan diri sendiri sebagai burung buta dan lumpuh yang hanya bisa menunggu pertolongan yang lain? Mengapa engkau tidak bertekad menjadi burung lain yang berusaha dan berjerih payah, lalu kembali sambil membawa hasil jerih payahnya untuk disuapkan kepada burung yang buta dan hanya duduk-duduk saja? 
"Tidakkah engkau mendengar sabda Nabi SAW, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?" Syaqiq bangkit menghampiri Ibrahim, lalu memeluk tangannya. Seraya berkata, "Engkau adalah guru kami, Wahai Abu Ishaq!" 


***) ASM Romli---Sumber : Pusat Data Republika

Rabu, 20 April 2016

GUBERNUR YANG MISKI

 Suatu waktu, Khalifah Umar bin Khattab kedatangan tamu dari negeri Himsy, salah satu wilayah kekuasaan Islam. Khalifah Umar dengan ramah tamah menghormati tamu-tamunya.
Selang beberapa saat, Khalifah Umar mengadakan temu wicara dengan mereka. Ia banyak bertanya tentang kondisi rakyatnya di sana, baik pendidikan, kesehatan maupun kesejahteraannya. Seusai dialog, Khalifah Umar bin Khattab menyuruh para tamunya itu untuk mencatat dan melaporkan rakyatnya yang kurang mampu. 
Ketika membaca laporan tersebut, Khalifah Umar tiba-tiba terlihat kaget saat melihat nama Sa'id bin 'Amir tercantum dalam daftar orang miskin. Dengan keadaan penasaran Khalifah Umar memanggil mereka dan bertanya. ''Wahai tamu-tamuku, siapakah gerangan Sa'id ibn 'Amir yang kalian maksud?'' Mereka menjawab, ''Beliau adalah gubernur kami dan salah seorang utusan Amirul Mukminin yang telah diamanahi tugas untuk memimpin kami.'' 
Pada saat itu, Khalifah Umar langsung menangis. Ia tak kuat menahan haru atas kejujuran serta keamanahan utusannya. Khalifah Umar pun segera memberikan hadiah khusus buat sang gubernurnya.
Sesampainya hadiah tersebut kepada Sa'id bin 'Amir, ia justru bukan merasakan kebahagiaan dengan mendapatkan bingkisan dari atasannya. Yang terjadi malah sebaliknya. Ia sangat khawatir dengan ujian kenikmatan mendapatkan materi. 
Dengan bersegera, Sa'id pun membagikan kembali hadiah tersebut kepada rakyatnya yang betul-betul membutuhkannya. Ia bahkan tidak mengambil sepeser pun buat kepentingan pribadi dan keluarganya. Sungguh dalam kisah ini terkandung banyak hikmah yang bisa kita petik.
Seorang pemimpin besar yang mempunyai kekuasaan luas, walau ia belum sempat mengunjungi semuanya, tapi ia sangat telaten untuk mengetahui keadaan rakyatnya. Kebutuhan rakyatnya selalu ia perhatikan serta segera dipenuhi. 
Bukan malah sebaliknya, kebutuhan rakyat yang sangat mendasar dihilangkan atau kurang dipenuhi, sehingga menelantarkan dan menyusahkan mereka. Begitu pula pejabat yang diamanahi tugas, betul-betul melaksanakan amanahnya. Para pembantunya tidak serta-merta karena mempunyai wewenang, lantas manfaatkan kedudukannya dengan mengeksploitasi segala hal untuk memenuhi keinginannya. 
Penunjukan pejabat bukan karena hasil kolusi dan nepotisme atau uang pelicin. Tapi, lebih berdasarkan pada profesionalisme. Dengan cara seperti itulah insya Allah semua tugas akan mampu dilaksanakan dengan baik. Sungguh, alangkah rindunya kita kepada tipe pemimpin dan pejabat seperti mereka. Wallahu a'lam.


***) Pardan Syafrudin--Sumber : Pusat Data Republika