Dalam sebuah kisah
anekdot Idris Shah, diceritakan bahwa suatu kali, di dalam sebuah perjalanan,
Nasruddin mampir di sebuah masjid untuk istirahat. Ia menambatkan keledai
kesayangannya di halaman masjid, kemudian ia mengambil air wudhu untuk shalat
sunah.
Rehat sejenak, begitu pikir Nasruddin selesai sembahyang.
Ia tak pernah berpikir, tempat yang ia sangka paling aman justru paling rawan
tindak kejahatan. Dan itulah yang terjadi ketika ia melihat ke halaman masjid:
keledainya lenyap!
Nasruddin mencari ke sana ke mari. Namun sayang, usahanya
sia-sia. Ia tidak menemukan keledainya. Seorang jamaah masjid menghampirinya
dan bertanya yang terjadi. Nasruddin menceritakan apa adanya. Orang tersebut
terperanjat. Ia bercerita, bahwa tadi ada orang yang membawa keledai tersebut
dari halaman masjid. Karena dikiranya orang itu adalah si pemilik, ia
membiarkan saja.
Nasruddin kini sadar bahwa keledainya memang benar dicuri
orang, bukannya lepas dari tambatan. Apa yang dilakukannya? Sejenak kemudian ia
bersujud syukur. Tentu saja tingkahnya itu membuat si jamaah masjid heran bukan
kepalang. Kisanak, katanya, apakah Anda kurang waras? Bagaimana mungkin,
kehilangan keledai Anda malah sujud syukur. Bukannya sedih?
Nasruddin menjawab, aku selalu melihat hikmah di balik
setiap peristiwa. Aku merasa bersyukur karena hanya keledaiku yang hilang. Aku
masih beruntung bukan diriku, kesadaranku, yang lepas.
Umumnya kita, ketika kehilangan fasilitas duniawi,
langsung gelap mata alias hilang kesadaran. Akibatnya, kita kemudian
mengekspresikan tindakan-tindakan yang abnormal dan irasional, misalnya
uring-uringan, mencari-cari kambing hitam (menyalahkan orang lain), atau malah
anarkis (bertindak melawan aturan), pendek kata, kita mengidap penyakit baru,
yakni post-power syndrome.
Kesadaran kita hilang bersamaan hilangnya fasilitas duniawi
kita. Jika merujuk pada klasifikasi Eric Fromm, kita termasuk orang-orang yang
bermodus eksistensi memiliki, bukannya menjadi.
Bagi yang bermodus memiliki, yang terpenting dalam hidup
ini adalah memiliki sesuatu. Maka ketika sesuatu itu hilang, serta merta ia
kelimpungan. Ia tidak pernah menjadi diri sendiri, diri yang mandiri dan bebas
dari segala bentuk ketergantungan, sehingga memungkinkannya untuk memahami
setiap kenyataan hidup ini dalam kerangka proses dan pengalaman.
Penyakit seperti itu lebih berbahaya daripada
penyakit-penyakit biasa, bahkan dari sakit gila (hilang ingatan) sekalipun.
Sebab, seperti kata Nabi SAW, orang yang mengidap penyakit tersebut disebut
sebagai haqqul majnun, gila yang segila-gilanya.
Dia memang waras, tetapi sebenarnya jiwanya sakit, karena
terpenjara, diperbudak hukum-hukum materi dan tubuh. Karena ia tidak sadar akan
penyakitnya itu, ironisnya, ia malah merasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa
dengan dirinya, seakan-akan semuanya beres. Betapa kasihan. Andai ia tahu,
tentu ia akan mendatangi psikoanalis, untuk konsultasi dan meminta terapi
kesembuhan.Na'udzubillah.
***) Sabrur R Soenardi-- Pusat Data Republika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar