Manusia kini sedang dihadapkan dengan persoalan yang seolah-olah
tidak merusak iman. Sebagian ada yang menunda menikah karena takut persoalan
impitan kehidupan saat menikah. Memilih pacaran dalam waktu yang lama, kemudian
menikah.
Meski satu sisi pacaran itu tak layak secara agama, banyak yang
memilih cara ini. Alasannya karena ingin mendekatkan diri dengan keluarga,
menunggu agar lebih mampu secara ekonomi, dan banyak lagi alasan. Hingga
perintah yang harus disegerakan itu tertunda. Setelah sekian lamanya berpacaran,
hingga tak pula menjadi istrinya.
Sudah melakukan banyak dosa, justru menumpuk pula dosa itu.
Fakta ini menjadi realitas dalam lingkungan sosial kini. Seharusnya, alasan
tidak menikah bukan karena takut tidak dapat rezeki, melainkan karena belum dapat
jodoh pilihan yang sesuai. Proses ini yang akan menentukan banyak atau tidaknya
rezeki saat sudah menikah tadi. Saat setelah menikah, banyak pula yang menunda
punya anak.
Akhirnya, kembali diberikan cobaan kemiskinan sebab Allah belum
akan melepaskan kemiskinan itu selagi ia menunda mempunyai anak. Alasannya
karena ingin santai dan bahagia. Ada juga karena khawatir tidak bisa mengurus
anak. Bahagia apa yang dimaksudkan jika tidak punya anak. Justru punya anak
perempuan dan laki-laki, kebahagiaan yang memberikan motivasi hidup. Selain
ditahan rezekinya, juga diberikan cobaan baru lagi, yaitu tidak punya anak
sampai sekian tahun.
Percayalah bahwa itulah salah satu penyebab mengapa tak dapat
anak dan tak pula kaya. Kita tidak bisa berdiam diri atas kelahiran putra dan
putri kita. Terbayang selalu wajah senyum mereka di rumah dan merasa bersalah
jika tidak memberikan nafkah kepadanya. Seketika itu pula, Allah memberikan
jalan terbaik, yaitu menitipkan rezeki istri dan anak kepada kepala keluarga.
Terkumpullah menjadi banyak porsi itu jika mau mengejar harta yang disediakan
Allah.
Satu sisi keyakinan ini tidak tumbuh dalam diri manusia kini.
Meyakini jika usahanya yang lebih penting. Ia tidak yakin jika ada porsi-porsi
rezeki yang dititipkan Allah untuk ditangkap berupa rezeki di permukaan bumi
itu. Akhirnya, ia tak sadar jika perbuatannya itu justru membuatnya tertunda
menjadi manusia yang terkaya, baik di dunia maupun akhirat. Manusia kaya di
dunia karena banyaknya harta yang kita peroleh titipan Allah dari anak
perempuan tadi. Banyaknya rezeki dari istri tadi untuk kita.
Akhirnya, memberikan dorongan bagi kepala keluarga untuk mencari
rezeki sebanyak mungkin. Kedua, kita akan dapat pahala yang lebih banyak dengan
membesarkan anak perempuan. Hal ini terkait dengan sulitnya menjaganya. Banyak
yang menginginkannya di luar sana, baik yang beriman maupun tidak. Banyak pula
yang ingin melamarnya. Jika nanti jatuh kepada laki-laki yang tidak benar
secara agama, banyak sekali aliran dosa kepada orang tua.
Mari kita jaga anak perempuan kita dengan baik dan yakin ada
rezeki yang lebih banyak dengan membesarkan anak perempuan. Bahkan, jaminan
surga bagi kita. Ketiga, berikan hak perempuan, yaitu sekolah. Jangan anggap
karena mau mengurus anak sehingga tidak sekolah. Justru karena ingin mendidik
anaklah maka perhatikan sekolah anak perempuan. Padanya bertumpu nasib
anak-anak pada kemudian hari.
Itulah kenikmatan yang tertinggi. Dalam hadis riwayat Imam
Muslim dari Anas bin Malik dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda, 'Barang siapa dapat mengasuh dua orang anak perempuannya
hingga dewasa, aku akan bersamanya pada hari kiamat kelak.' Beliau merapatkan
kedua jarinya."
***) Bahagia –(Pusat Data Republika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar