Salah satu ciri utama orang bertakwa adalah beriman kepada sesuatu yang
gaib. ''Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat,
dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan.'' (QS Al-Baqarah [2]: 3).
Iman kepada yang gaib menjadi syarat fundamental dalam Islam.
Keimanan ini berarti percaya seyakin-yakinnya (haqqu al-yaqiin)
bahwa ada entitas di luar dunia indrawi. Entitas ini adalah sesuatu yang nyata,
bukan sekadar ajaran filosofis abstrak ataupun perumpamaan (majaz).
Tuhan bukannya ajaran filosofis yang muncul dari renungan
orang-orang yang kalah (teralienasi) menghadapi realitas kehidupan sebagaimana
dituduhkan kaum ateis. Surga dan neraka bukanlah sekadar ajaran penghibur dan
alat untuk menakut-nakuti seseorang agar dia tidak berbuat semena-mena.
Tapi, semuanya benar-benar ada (al-haq). Dengan
kata lain, orang mukmin wajib meyakini bahwa ada realitas yang tak terjangkau
oleh kemampuan manusia. Ada entitas nonlogis di luar daya visual (quwwah an-nadzri)
dan daya pikir (quwwah al-fiqri) manusia.
Ajaran inilah yang membedakan Islam dengan materialisme. Angin
modernisme yang datang dari Barat (westernisasi) agaknya ingin menggusur akidah
Islamiah digantikan dengan akidah jahiliyah ini. Kepercayaan seseorang kepada
yang gaib semakin menipis. Mereka terlalu mengedepankan rasionalitas empiris.
Dimensi nonmateri dipojokkan dan dituduh sebagai sesuatu yang serba mitos.
Orang yang percaya pada sesuatu yang gaib dikatakan sebagai orang yang kurang
modern.
Kelompok inilah yang disebut oleh Alquran
dengan Al ad-dahr. ''Dan mereka berkata, kehidupan ini tidak lain
hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang
membinasakan kita selain masa.'' (QS Al-Jaatsiyah [45]: 24).
Kelompok materialis (ahlu ad-dahr) hanya memercayai kehidupan
materi. Mereka percaya hanya hukum alamlah yang menyebabkan semuanya hancur.
Tak ada kuasa di balik semua yang riil. Keadaan dunia ini tak ada kaitannya
dengan dimensi gaib termasuk kuasa Tuhan.
Keimanan seorang mukmin pada yang gaib akan menjadi cara pandang
yang membedakannya dengan orang materialis. Keimanan ini menjadi alat kontrol,
sehingga akan senantiasa berbuat jujur di manapun berada.
Ia menjadi manusia yang mandiri dan sadar atas dirinya.
Komitmennya dalam berbuat baik akan dilakukan kapanpun dan di manapun ia
berada. Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang egois, ambisius, dan penuh
motif. Keimanan pada hal gaib inilah yang kiranya mampu menepis egoisme manusia
sehingga ia berbuat dengan tulus dan ikhlas.
***) Tohirin el Ashry—( Pusat Data Republika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar