Putra beliau, Ismail, adalah tipe pemuda yang berhati
jujur dan suci. Ketika Ibrahim mengabarkan wahyu Allah untuk menyembelih
dirinya, jawaban Ismail adalah, "Wahai Ayahanda, kerjakanlah apa yang
diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah aku termasuk orang-orang yang
sabar" (QS as-Shaffat [37]: 102).
Alquran juga mengabadikan kisah Yusuf. Pemuda tampan ini
sungguh luar biasa. Ketika dirayu Zulaikha, wanita cantik yang juga istri
pembesar Mesir, Yusuf sanggup menundukkan gelombang syahwatnya sebagai lelaki
normal. Dia lebih memilih penjara ketimbang berbuat mesum. "Wahai Tuhanku,
penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku" (QS
Yusuf [12]: 33).
Dan, yang juga terkenal adalah kisah Ashabul Kahfi. Cave of the Seven Sleepers, itulah nama
situs bersejarah di Yordania yang jadi saksi atas tujuh pemuda bersama anjing
mereka. Ngumpet demi mempertahankan akidah, mereka diselamatkan Allah dari
kezaliman penguasa setempat. Tujuh pejuang tauhid itu ditidurkan Allah selama
309 tahun. "Sungguh mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan
mereka, dan Kami tambah pula petunjuk untuk mereka" (QS al-Kahfi [18]:
13).
Cukuplah cuplikan kisah pemuda teladan itu. Hal yang
penting kita cermati, masing-masing pemuda itu hebat ternyata bukan sekadar
berotak cerdas atau berbadan kesatria. Mereka punya idealisme iman. Dan, kita
tahu, iman adalah kemantapan hati yang diikrarkan dengan lisan, kemudian
dinyatakan via tindakan. Itulah kunci keunggulan dan kehebatan diri.
Sekarang mari kita becermin: sudahkah pemuda kita punya
keimanan prima itu? Minimal berusaha mematut-matutkan diri agar dapat seperti
mereka. Kita tengok masjid kita. Berapa banyak pemuda kita yang aktif jamaah di
sana? Ketika Maghrib mungkin bisa dikatakan lumayan, tetapi bagaimana dengan
Isya dan terlebih lagi Subuh? Juga dalam majelis taklim, sudahkah penuh oleh
pemuda atau justru para tua?
Oleh:”Replubika online
Oleh M Husnaeni
Tidak ada komentar:
Posting Komentar