Tampilkan postingan dengan label tawakal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tawakal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Mei 2016

HARUSKAH MENUNGGU TUA

 Tidak sedikit Alquran menceritakan sosok pemuda ideal. Tidak sekadar memuji, Alquran bahkan menjadikannya sebagai teladan zaman. Ada Ibrahim, potret pemuda yang gigih menegakkan tauhid di tengah para penggiat syirik. "Sungguh Ibrahim adalah imam yang layak dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali dia bukanlah pelaku syirik" (QS an-Nahl [16]: 120).
Putra beliau, Ismail, adalah tipe pemuda yang berhati jujur dan suci. Ketika Ibrahim mengabarkan wahyu Allah untuk menyembelih dirinya, jawaban Ismail adalah, "Wahai Ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah aku termasuk orang-orang yang sabar" (QS as-Shaffat [37]: 102). 
Alquran juga mengabadikan kisah Yusuf. Pemuda tampan ini sungguh luar biasa. Ketika dirayu Zulaikha, wanita cantik yang juga istri pembesar Mesir, Yusuf sanggup menundukkan gelombang syahwatnya sebagai lelaki normal. Dia lebih memilih penjara ketimbang berbuat mesum. "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku" (QS Yusuf [12]: 33).
Dan, yang juga terkenal adalah kisah Ashabul Kahfi. Cave of the Seven Sleepers, itulah nama situs bersejarah di Yordania yang jadi saksi atas tujuh pemuda bersama anjing mereka. Ngumpet demi mempertahankan akidah, mereka diselamatkan Allah dari kezaliman penguasa setempat. Tujuh pejuang tauhid itu ditidurkan Allah selama 309 tahun. "Sungguh mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula petunjuk untuk mereka" (QS al-Kahfi [18]: 13).
Cukuplah cuplikan kisah pemuda teladan itu. Hal yang penting kita cermati, masing-masing pemuda itu hebat ternyata bukan sekadar berotak cerdas atau berbadan kesatria. Mereka punya idealisme iman. Dan, kita tahu, iman adalah kemantapan hati yang diikrarkan dengan lisan, kemudian dinyatakan via tindakan. Itulah kunci keunggulan dan kehebatan diri.
Sekarang mari kita becermin: sudahkah pemuda kita punya keimanan prima itu? Minimal berusaha mematut-matutkan diri agar dapat seperti mereka. Kita tengok masjid kita. Berapa banyak pemuda kita yang aktif jamaah di sana? Ketika Maghrib mungkin bisa dikatakan lumayan, tetapi bagaimana dengan Isya dan terlebih lagi Subuh? Juga dalam majelis taklim, sudahkah penuh oleh pemuda atau justru para tua?
Oleh:”Replubika online

Oleh M Husnaeni

Selasa, 05 Januari 2016

KHIANAT

Khianat artinya curang, culas, tidak jujur, tidak lurus hati. Menurut Raghib al-Isfahani, khianat kurang lebih sama artinya dengan nifak(orangnya disebut munafik). Khianat dapat terjadi terhadap diri sendiri, terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya, dan terhadap orang lain.
Rasullullah SAW menempatkan khianat sebagai salah satu tanda munafik. Dikatakan bahwa “Tanda munafik itu ada tiga: apabila berbicara, dia dusta; apabila berjanji, dia ingkar; dan apabila dipercaya, dia khianat.” (HR Bukhari dan Muslim).
Namun, penting kita pahami bahwa nifak mengandung arti lebih luas dari pada khianat. Nifak mengandung arti curang terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya. Khianat mengandung arti curang terhadap janji yang dibikinnya dan culas terhadap kepercayaan (amanah) yang diberikan kepadanya.
Khianat terhadap diri sendiri, misalnya, mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah kepadanya tanpa alasan syari. Contohnya, mengharamkan makanan dan/atau minuman yang secara faktual telah dinyatakan kehalalannya dalam kalam Allah atau sabda Rasul-Nya.
Khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya, misalnya, mengingkari perkara yang disyariatkan Allah dan Rasul-Nya. Contohnya, mengabaikan perintah shalat fardhu padahal tidak ada udzur syari, mengabaikan perintah zakat padahal sudah nisab, dan mengabaikan perintah pergi haji padahal sudah istithaah.
Lebih jauh, mengutip pendapat Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang dimaksudkan khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya tidak sebatas meninggalkan aturan agama, tetapi juga menyempitkan aturan agama. 
Ambil contoh: menyempitkan agenda dakwah, tarbiyah, dan khidmat kepada sesama dikait-kaitkan dengan untung rugi secara finansial. Khianat terhadap orang lain, misalnya, tidak membuktikan janji-janjinya terhadap orang lain dan amanah yang diberikan orang lain kepadanya. 
Contohnya, presiden atau wakil presiden tidak dengan sungguh-sungguh membuktikan janji-janji kampanyenya. Padahal, disebabkan janji-janji kampanyenya itulah rakyat telah memilihnya.
Khianat terhadap diri sendiri, khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan khianat terhadap orang lain itu hukumnya terlarang (haram). Risiko ketiga-tiganya tidak ada yang ringan.

Dengan begitu, pastikan bahwa khianat bukan tabiat kita sebagai Muslim. Sehingga, khianat dalam level mana pun semestinya kita hindari. 
Allah SWT berfirman, “Hai, orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang diberikan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS al-Anfal [8] : 27).
Dalam ayat lain, “Dan, jika kamu mengetahui pengkhianatan dari suatu golongan maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang khianat.” (QS al-Anfal [8] : 58).
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang yang tidak memiliki sikap (perilaku) amanah.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban). 
Menariknya, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR Ahmad, Thabrani, Ibnu Hibban, dan al-Bazzar). Wallahu alam.


"""Mahmud Yunus

Da'wah, hidayah, hikmah, sabar syukur., tawakal, 

Minggu, 18 Januari 2015

MEMAKAN BANGKAI


Tuhan, tawakal, takwa.  Dalam keseharian, ada kebiasaan yang kadang kita tidak sadari, yaitu membicarakan orang lain. Menanyakan kabar si Fulan tentu saja sangat baik. Tapi, bila disertai dengan sikap mencemooh, apalagi berprasangka buruk dan bergosip ria, tak elok rasanya. Memang, gosip itu makin digosok makin sip.
 
Di waktu senggang, saat bercengkerama dengan tetangga atau rekan kerja, kerap terselip obrolan tentang kebaikan atau keburukan saudara kita. Apalagi, musim kampanye politik ketika saling menjelekkan (bergunjing) dan fitnah menjadi biasa.
Ibarat meminum es, bergunjing sangat mengasyikan, bahkan membuat pelakunya ketagihan tak ada habisnya. Rupanya, kita lupa bahwa tak ada seorang pun dalam kehidupan ini yang sempurna. Jika pun terpaksa membicarakan keburukan orang lain, hendaknya tidak disebutkan nama dan dijadikan hikmah agar kita tak melakukan perbuatan serupa.
Bergunjing merupakan penyakit jiwa yang berbahaya, termasuk kelompok nafsu lawwâmah. Munculnya karena sifat iri dengki dalam hati, tidak suka, cemburu, dan benci. Fitnah dan gosip pun tersebar ke masyarakat. Lalu, muncul guyonan, "Susah melihat orang senang, senang melihat orang susah."

Sadarilah, kebiasaan tersebut sangat merugikan karena akan memakan amal kebaikan kita seperti api yang membakar kayu. Bahkan, Allah SWT menyerupakannya dengan memakan bangkai manusia.

Tuhan, tawakal, takwa.    "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS Al-Hujuraat:12)

Bahkan, Rasululllah SAW mewanti-wanti agar kita sebagai umatnya menjauhi perbuatan menggunjing. Diriwayatkan Abu Dawud, Abu Hurairah berkata, "Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan ghibah itu?" Rasulullah menjawab, "Kamu menceritakan perihal saudaramu yang tidak disukainya." Ditanyakan lagi, "Bagaimanakah bila keadaan saudaraku itu sesuai dengan yang aku katakan?" Rasulullah menjawab, "Bila keadaan saudaramu itu sesuai dengan yang kamu katakan, itulah ghibah terhadapnya. Bila tidak terdapat apa yang kamu katakan maka kamu telah berdusta."

Bayangkan bila yang digunjingkan itu kita atau keluarga, sangat menyakitkan bukan? Introspeksi dirilah lebih banyak lagi. Sibukkanlah diri dengan berbagai aktivitas positif sehingga tak sempat lagi bergunjing. Berprasangka baiklah kepada sesama. Pahamilah semua manusia selalu ada sisi kurangnya, ingatlah selalu sisi baiknya.

Apabila ada tetangga atau saudara yang sukses, kekayaannya bertambah, ikutlah senang. Siapa tahu kita akan ikut merasakan kesuksesannya. Tidak perlu terlalu curiga mendapat rezeki dari mana sehingga kekayaannya melimpah ruah. Jadikanlah penyemangat, giatlah bekerja. Setelah segala ikhtiar dilakukan, bertawakallah kepada-Nya. Syukurilah apa yang telah Allah karuniakan kepada kita.

Jauhkan diri dari perbuatan dosa karena itu berpotensi menjadikan gunjingan tetangga atau rekan kerja dan berlindunglah kepada Allah agar terhindar dari perilaku tercela tersebut. Renungkanlah, jika saja Allah SWT membukakan aib kita, betapa malu dan rendahnya kita di hadapan anak, keluarga, tetangga, dan manusia lainnya. Tutuplah aib saudara sendiri, jadikanlah pelajaran, dan berusahalah untuk terus menjadi manusia yang terbaik dalam penilaian-Nya. Wallâhu'alam.          

Jumat, 26 Desember 2014

BESI, BENDA LANGIT DI BUMI


(Keyakinan, sabar,syukur).  Besi merupakan benda paling keras yang ada di bumi. Dengan adanya besi, banyak peralatan yang dihasilkan untuk membantu  kerja manusia. Hal ini pun diabadikan di dalam Alquran dengan seuah surat yang bernama al-Hadid  (besi).   Allah SWT berfirman, “Dan kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia.” (QS al-Hadid (57):25).

Pada tahun 1990-an terkuaklah sebuah hasil penelitian baru oleh atronomi Barat. Seperti dipaparkan oleh ilmuwan Islam, Harun Yahya dalm bukunya Keajaiban Besi hasi penelitain tersebut disebut para ilmuwan barat dalam teori yang mereka namakan  “teori supernova”.   Dalam teori tersebut, disebutkan bahwa bahwa asal muasal besi bukanlah dari Bumi. Besi merupakan benda langit yang merupakan koponen bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari.

Suhu dari bintang-bintang tersebut sangat panas hingga mencapai ratusan juta derajat. Ketika jumlah besi tersebut melampaui suhu yang sangat panas, akhirnya besi itu meledak yang diistilahkan dengan nova supernova.  Ledakan tersebut sampai menerjang beberapa planet, termasuk diantaranya Bumi. Benda langit yang jatuh ke Bumi ini diistilahkan dengan meteor, yaitu benda yang mengandung besi. Besi-besi yang menghantam Bumi ini kemudian pecah dan bertaburan keseluruh  penjuru alam semesta dan bergerak melalui ruang hampa hingga mengalami tarikan oleh gaya gravitasi benda angkasa. Demikian, seperti dipaparkan dalam Discovery Channel.

(Keyakinan,sabar,syukur).    Besi tidak didapati diseluruh wilayah di Bumi. Hanya tempat-tempat yang dulu dihujani meteor. Tempat besi dapat ditemukan. Hal ini menandakan bahwa  besi bukanlah benda Bumi. Sebagaimana firman-Nya “...Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat ...”
Berdasarkan penemuan dari Astronomi inilah, dalam terjemahan Alquran yang terbaru keluaran Al Mizan  Pulishing House tahun  2009, kanta anzalna dikembalikan lagi kepada makna aslinya “Kami turunkan”, setelah sebelumnya  diterjemahkan dengan “Kami ciptakan”.


SEHAT ALA RASULLAH


Hidayah & keyakinan.       Salah satu karunia Allah SWT yang sering diabaikan dan dilalaikan oleh manusia dalam kehidupan ini adalah nikmat kesehatan. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadis Rasulullah SAW. “Ada dua nikmat yang seing kali di lalaikan oleh manusia, yaitu nikmat sehat dan kesempatan.“ Padahal, kesehatan merupakan mahkota yang tidak dapt dirasakan keuali bagi mereka yang sakit.
DR Husain Haikal dalam kitabnya, Hayatu Muhammad, menjelaskan Nabi Muhammad SAW selama hayatnya, yaitu 63 tahun, hanya dua kali mengalami sakit, yakni ketika beliau susah tidur seusai ziarah makam pahlawan di Baqi dan demam panas beberapa hari sebelum wafat. Timbul pertanyan kenapa Rasulullah selalu Sehat?
Pertama, beliau senantiasa bangun subuh. Sepanjang catatan sejarah hiupnya selama 23 tahun beliau jadi Nabi. Hanya satu kali saja beliau tidak bangun tepat waktu subuh. Itu disebabkan mungkin beliau terlalu letih dalam perjalanan dakwahnya dan tidur sesudah larut malam. Nabi Muhammad SAW senantiasa bangun waktu “subuh” dan waktu subuh tentu tidak sama dengan waktu pagi.
Waktu pagi adalah setelah matahari terbit, kira-kira jam 07.00, sedangkan waktu subuh ialah setelah fajar menyingsing dan sebelum matahari terbit, sebagaimana disebutkan Alquran surah Takwir ayat 18. Artinya  : “Demi waktu subuh di kala fajar merekah."
Sumpah Allah dengan waktu itu adalah untuk menarik perhatian manusia, khususnya manusia yang beriman kepada-Nya akan pentingnya waktu itu bagi kesehatan fisik dan mental. Udara subuh memang sangat segar dan banyak mengandung Zat asam yang sangat diperlukan untuk pernafasan manusia.
Faktor kedua beliau selalu menjaga kebersihan. Sejak kecil Rasulullah menyukai kebersihan meskipun negerinya kekurangan air.  Dan ketika diangkat menjadi rasul, makin besar perhatiannya pada kebersihan. Beliau bersabda “Kebersihan itu sebagian dari iman.”
Faktor ketiga karena beliau selalu makan secukupnya, Rasulullah SAW bersabda: kami adalah kaum yang tak pernah makan sebelum lapar, dan bila kami makan tidak pernah sampai kenyang.”
Hidayah & keyakinan.          Makan memang merupakan salah satu syarat untuk hidup, bila tidak makan pada waktunya,  maka zat-zat pembakar dalam tubuh kekurangan bahan bakar yang mengakibatkan pembakaran tidak terjadi. Bila pembakaran tidak terjadi, panas badan berkurang dan darah tidak bisa teratur lagi. Maka, makan  diperlukan untuk hidup, tetapi manusia hidup bukan untuk makan. Manusia yang hidup hanya untuk makan merosot nilainya menjadi hewan. Sungguh tepat apa yang dikatakan ‘Ali bin Abi Thalib: “Orang yang hidup hanya untuk mengisi perutnya, nilainya sama dengan apa yang keluar dari perutnya.”


***)hasanuddin qh.repunlika


Kamis, 25 Desember 2014

BERKURBAN

 BERKURBAN

Keyakinan & bersyukur. Kesadaran  dan kepedulian berkurban masyarakat Indonesia terus meningkat. Tak hanya di Tanah Air. Kepedulian Umat Islam Indonesia sampai nun jauh ke Afrika. Lembaga kemanusiaan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) dan Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyalurkan amanah pekurban Tanah Air ke Kenya dan Somalia.
Tim Kurban PKPU untuk Kenya, Nana Sudiana mengatakan, timnya memiih daerah Kiberia, Nairobi, Kenya, sebagai sasaran pernyaluran kurban. Daerah tersebut sangat padat, “Daerah ini merupakan kantong daerah Muslim,” ujar  Nana.
 Menurut data yang dihimpun PKPU, Kiberia adalah daerah permukiman kumuh terbesar di Afrika dengan jumlah penduduk sekitar satu juta jiwa. “ Orang-orang Kiberia hidup di  gunungan sampah. Sebagian besar penduduk disini  tidak memiliki rumah sendiri,” lanjut Nana. Penyembelihan  dan pembagian kurban di Kiberia dilakukan setelah shalat  Idul Adha di Masjid Madina Center Nairobi. Kurban di Kenya sendiri dilakukan berkat kerja sama PKPU dengan juga turut  membantu. Warga antusias mendapatkan daging kurban dari Indonesia. Karena sangat kekurangan, warga bahkan sampai meminta  jeroan hewan kurban untuk dikonsumsi.
Keyakinan, bersyukur.     Antusiasme yang sama ditunjukan warga Daliban Village, Distric Afgoye, Region Lower Shabelle, Somalia. Puluhan warga antre pembagian daging dari pekurban Indonesia lewat  ACT. “Warga Daliban Village mayoritas adalah petani miskin. Mereka mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan makanan karena ladang mereka mengalami kekeringan,” ujar Tim Global Qurban ACT Andhika  Purbo Swasono.
Selain kekeringan, Andhika menyebut, warga Somalia sangat membutuhkan bantuan dari luar. Negera yang bependuduk mayoritas Muslim ini masih dilanda konflik bersenjata  yg berkepanjangan. “Pembagian ini disambut dengan baik. Tim relawan lokal juga membantu  penyembelihan,” papar Andhika.  Kebahagian jelas terpancar dari warga Somalia setelah menerima paket daging Kurban. “Mahadsanid  Indonesia !”  ucap salah seorang warga Somalia mengucapkan  terima kasih. Sebagai keyakinan-Nya  dan rasa syukur.



**)ed:hafidz muftisany

SHALAT CALON PEMIMPIN


Pendidikan.      Sekarang, negara kita tercinta, Indonesia, sedang sibuk mencari pemimpin yang dapat menjadi panutan dan ketauladan seorang. Rakyat bingung menentukan pilihan.  Standar yang digunakan hanya berkutat di tataran intelektualitas dan lahiriyah para pemimpin dan belum merambah ranah spiritual.
Dengan demikian, kesalehan hakiki mereka tidak pernah teruji dan ak pernah ada yang berusaha untuk mengujinya. Padahal, kesalehan seperti inilah yang bisa menjamin baik tidaknya seorang pemimpin.
Jika mengaca pada sejarah, dulu saat prosesi pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah, di antara pertimbangan  yang mengemuka ketika itu, yakni Abu Bakar pernah menjadi shalat menggantikan Nabi Muhammad.
Kisah ini dinarasikan Ibnu Asakir dari Ibnu Umar. “Rasulullah memerintahkan Abu Bakar memimpin shalat berjamaah, sedangkan saya menyaksikan sendiri , tidak ghaib, tidak sakit. Maka kami rela menyerahkan urusan dunia kami sebagaimana Rasulullah rela menyerakan urusan agama kepadanya.
Pada era awal Islam, standar yang digunakan untuk menunjuk seorang pemimpin, yaitu faktor spiritual. Hal ini diwakili oleh agama dan tiang dari agama tidak lain ialah shalat.            Jika shalat hamba tersebut baik, dalam arti sempurna dari segi syarat, rukuh, dan kekhusyukannya, maka bisa dipastikan orang tersebut akan memiliki nilai kesalehan yang tinggi  sebagai dampak dari shalatnya.
Hal tersebut ditegaskan langsung oleh Allah dalam surat al-Ankabut 45, “Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan munkar”. Benar saja, orang yang shaleh karena shalat berarti mampu merasapi dan memegang prinsip prinsip yang ada dalam shalat.
Paling tidak, orang itu selalu merasa diawasi oleh Allah. Sebab dalam shalat, seorang hamba diajari untuk merasa melihat Allah sejak takbiratul ihram sampai saam atau kalau tidak bisa merasa melihat Allah, paling tidak harus merasa dilihat oleh Allah.
Pendidikan.       Orang seperti inilah yang pantas menjadi pemimpin. Pertanyaannya sekarang, adakah di antara calon pemimpin kita yang seperti ini? Jika ada sebutkan siapa? Jika tidak, sampai kapan negara kita terus seperti ini?



***) abdul syukur

Selasa, 23 Desember 2014

SEKOLAH MUSLIM PERTAMA


Pendidikan.  Pada musim gugur 2007 sekolah Islam pertama, Avicenna Islamic, berdiri di Belgia. Sekolah yang berlokasi molenbeek  itu merupakan lembaga swasta yang tidak menerima subsidi dari pemerintah. Sekolah ini belum diakui oleh Negara sehingga ijazah yang dikeluarkan  belum diakui.
Untuk mendapatkan nilai resmi, para siswa harus menjalani serangkaian tes dengan dewan pemeriksaan publik, secara teoritis, sekolah ini terbuka untuk anak-anak Muslim dan  non Muslim.
 De Standaard, sebuah lembaga di balik berdirinya sekolah Islam ini, mengakui ingin mempersiapkan siswanya agar selalu aktif dalam bermasyarakat. Ia juga menginginkan setiap anak mempunyai emansipasi yang sama sebagai  seorang  siswa.
Sejumlah orang tua siswa pernah mengatakan kepada kantor  berita Mediascrape tentang alasan mengapa mrengapa mengirimkan anaknya ke sekolah Avicenna Islamic. Salah satunya karena rendahnya kualitas  di lingkungan sekolah umum sekalipun harus membayar mahal  untuk pendaftaran, yakni sebesar 1.800 euro atau sekitar  Rp. 27 juta.
Pendidikan  yang menanamkan sifat ke Islaman.




***)ed:nashih nashrullah

MAKNA KURBAN BAGI YAHUDI NASRANI


Keyakinan  Jefrey Carter dalam Understanding Religious Sacrifice menjelaskan, sentraliats pengurbanan di Israel kuno sangat jelas karena tertulis di Alkitab. Khususnya bab-bab awal dari buku Leviticus. Ia merinci metode – metode yang tepat membawa kurban. Pengurbanan yang baik adalah pengurbanan darah hewan atau penawaran berdarah {gandum dan anggur}.
Carter mengatakan, pengurbanan darah terdiri atas seluruh hewan yang di bakar. Pengurbanan untuk penebusan dosa, kurban akan di bakar dan bagian-bagian tertentu dari korban untuk persembahan. Pengurbanan untuk keselamatan, korban akan di bakar dan dimakan bersama-sama. Para nabi menunjukkan, doa dan pengurbanan hanya bagian untuk melayani Tuhan. Namun, tetap disertai dengan rasa moralitas.
Setelah kehancuran Kuil Suci Second, ritual pengurbanan berhenti, namun tidak di kalangan orang-orang samaria. Seorang rasionalis dari yahudi pada abad pertengahan. Maimonides berpendapat, Tuhan mengerti bahwa Israel menggunakan korban binatang khususnya yang dilakukan suku pagan, sebagia cara untuk berkomunikasi dengan dewa-dewa. Dalam pandangan Maimonides, hanya orang orang israel yang menganggap pengurbanan adalah bagian penting antara hubungan Allah dan manusia.
Keyakinan.  Sedangkan dalam ajaran kristen, ungkap Carter, Tuhan Allah mengorbankan anaknya untuk mencapai rekonsiliasi antara Allah dan manusia. Menurut pandangan yang menonjol dalam teologi barat sejak awal milenium kedua, mengharap keadilan tuhan untuk penebusan dosa umat manusia. Jika manusia itu harus di kembalikan ke tempat mereka atau kepada penciptanya, mereka berharap selamat dari hukuman.
Bagaimanapun, tak ada yang tahu seberapa besar pelanggaran yang di lakukan manusia. Sehingga saat itu, Tuhan melakukan perjanjian dengan Abraham, yang mengharuskannya mempersembahkan anak-Nya untuk menjadi korban. Dalam teologi Kristes, pengurbanan ini digantikan hewan kurban.
Dalam Gereja Katolik Roma, Gereja Ortodoks Timur, serta beberapa gereja lainnya perayaan Misa untuk memperingati Kristus di kayu salib. Pengurbanan Yesus ini merupakan representasi kepada Allah. Pengurbanan salib, “inilah tubuh-ku yang di berikan untuk anda,”dan “inilah darah – ku yang ditumpahkan ... untuk pengampunan dosa.”

Keyakinan & toleransi.  Dalam Misa seperti pada kayu salip, Kristus adalah Imam ( mepersembahkan korban) dan korban (pengurbanan dia menwarkan adalah dirinya). Meskipun dalam Misa di Kristus seperti halnya semua orang yang di baptis kedalam kematian dan kebangkitan Yesus, Kristus. Melalui Misa, satu korban salib dapat diterapkan untuk penebusan dan pelepasan jiwa jiwa dari api neraka.




Senin, 22 Desember 2014

BERI KABAR GEMBIRA, BAGI YG SUKA BERINFAQ


Keyakinan ber Tuhan, Jalan Agama Islam sangat mengajurkan pemeluknya untuk berinfaq. Anjuran yang bahkan pada bagian awal surah Al-Baqarah telah di sebutkan oleh Allah SWT salah satu karakter utama orang bertaqwa.
Firman Allah dalam Al-Quran, “Alif Laam Miim. Kitab (AL-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan sahalat dan meng-infaq-kan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka.” (Q Al-Baqarah:1-3)
Keyakinan ber Tuhan, Dalama ayat di atas Allah ta’aala menyebutkan karakter muttaqin yang bisa berinfaq bersama karakternya yang rajin menegakkan sholat. Di dalam Al-Qur’an hampir selalu karakter menegakkan sholat mengeluarkan infaq di sebutkan dalam suatu rangkaian berpasangan. Hal ini mudah di mengerti sebab ajaran islam selalu menekankan keseimbangan dalam segala sesuatu. Islam bukan semata ajaran yang mewujudkan hubungan antara hamba dengan Rabbnya atau hablum minAllah, tetapi juga hubungan antara hamba sesama hamba atau hablum minan-naas.
Firman Allah, yang artinya, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, niscaya Dia akan menggantinya”.(QS.Saba’:39). Syaikh ibnu Asyur berkata: “Yang di maksud dengan infak di sini adalah infak yang di anjurkan dalam agama. Seperti berifak kepada orang orang fakir dan berinfak di jalan Allah untuk membantu agama Allah. “Berinfaklah kamu niscaya aka akan memberikan ganti kepadamu.”Rasulullah juga bersabda:”Pemberian Allah selalu melimpah. Ibnu numair berkata: suatusak j/kddf pemberian yg tak pernah berkurang meskipun mengalir siang & malam. (HR.Muslim).
Sesungguhnya apa yang ada di dalam Tangan Allah, tak pernah berkurang karenanya. Arsy-Nya di atas air, sedangkan di tangan-Nya yang lain maut yang meluaskan rizki hamba-Nya yang lain maut, yang meluaskan rizki hamba-Nya atau menyempitkan.( HR.Muslim).   semoga menambah Keyakinan kita dalam beribadah untuk sesama.
***) candra


HINDARI HURA-HURA SAAT TAHUN BARU

                                              

Perbuatan, sifat.     Seperti halnya Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kementerian Agama (Kemenag) pun mengimbau umat Islam untuk tidak merayakan tahun baru Masehi. “Nggak perlu, nggak ada perayaan tahun baru dalam agama Islam,” ujar Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag.
Ia juga mengingatkan, meski awal tahun baru Masehi (1 Januari) ditetapkan sebagai hari libur nasional, umat Islam tak perlu berhura-hura ikut merayakannya. Meski demikian, ia mengungkapkan, hal itu dikembalikan lagi kepada umat Islam secara pribadi. Sebab, kenyataannya banyak juga umat Islam yang merayakan tahun baru.
Umat Islam tidak perlu mencampuri urusan agama lain. Maka untuk tahun baru Masehi, kita ambil kesempatan liburnya saja, Ujar Wakil Sekretaris MUI Tengku  Zulkarnain.
Lebih baik lagi apabila umat Islam memanfaatkan hari libur itu dengan menyemarakkan tabligh di masjid-masjid. Dengan dimikian, hari libur bisa menjadi waktu yang tepat guna terhindar dari sikap mubazir.
Meski demikian, MUI tidak berencana menerbitkan fatwa terkait pelarangan perayaan tahun baru Masehi. Hanya saja MUI menghimbau seluruh umat Islam di Indonesia agar tidak tururmerayakan momen tahun baru itu apalagi dengan nuansa hura-hura.
Perbuatan, sifat.              Imbauan serupa dilontarkan ormas Islam, Muhammadiyah. Bendahara PP Muhammadiyah Anwar Abbas mengatakan, umat Islam tidak perlu ikut merayakan tahun baru secara hura-hura dan meriah. Sebaiknya gunakan momentum tahun baru untuk mengevaluasi dan mengintropeksi pribadi , keluarga, masyarakat, bangsa, serta negara.
Ia pun menyarankan masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, untuk mulai memikirkan dan mencari bentuk-bentuk lain dari perayaan tahun baru yang ada selama ini. Misalnya, mengganti atau memodiikasi acara tersebut menjadi lebih produktif dan sesuai syariat Islam.           Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Ahmad Satori Ismail mengungkapkan hal senada. Ia mengatakan, perayaan tahun baru Masehi bukanlah untuk umat Ilam. Karena itu, lebih baik umat Islam memandangnya dari segi formalitas, yakni adanya hari libur Nasional.
Libur nasional itu pun, menurut Satori, sebaiknya diisi dengan aktivitas syiar Islam, seperti meramaikan Masjid dan majelis ilmu. Ini semata-mata agar umat Islam lebih menggiatkan muhasabah kolektif.
Seperti halnya Tengku, ia pun menyambut baik salah satu bentuk muhasab itu, yakni Zikir Nasional yang digelar pada malam pergantian tahun baru Masehi.
Ia berpendapat, kegiatan doa zikir bersama itu sangat penting sebagai penguat ukhuwah dan keselamatan bangsa Indonesia. Selain itu, kesempatan berhari libur menjadi tidak diawali dengan nuansa hura-hura, seperti menyalakan petasan atau kembang api, meniup terompet, atau jalan-jalan yang sifatnya konsumtif.


Minggu, 21 Desember 2014

DI JERMAN MAKAN BERLEBIHAN DIDENDA


Pendidikan & kisah. Seorang sahabat bernama Suwignyo baru baru ini mendapat kesempatan berkunjung keluar negeri, ia adalah lulusan perguruan tinggi swasta di Jakarta dan bekerja di realstate.
Suatu hari di Kota Berlin, ia bersama rekan yang ikut dalam rombongan, makan di sebuah restoran yang menyuguhkan makanan makanan Asia. Ada Nasi,ada gulai ayam, ada juga daging sapi, kentang goreng dan lauk pauk khas Indonesia. Yang makan di rumah makanan ini, ternyata tidak saja orang asia, tetapi juga orang orang Eropa lainnya yang datang dari penjuru dunia yang melakukan kunjungan wisata di sini.
Singkat Cerita, rombongan Suwignyo pun memesan makanan. Biasalah kalau orang Indonsia biasanya mau makan, sukanya makan ini dan itu. Pesan ayam, pesan gulai, pesan sayur; Lalu ada juga pesan daging dan lain – lain.
Seorang pria tua dan wanita di sampingnya, memandangi pesanan Suwignyo saat di hidangkan. Ia seperti terheran-heran dengan banyak ragam pesan lauk pauk rombongan. Seorang sahabat bernama Rizal, sempat mengemukakan ungkapan,”Kenapa pak?” katanya, tetapi dengan nada yang bersahabat, Jawaban pria Jerman itu,” Banyak sekali pak pesanan nya,” ujar nya memakai bahasa inggris. “Seorang sahabat lain dari lima orang rombongan Suwignyo, menimpali,” Terserah kami pak, duit kan duit kami. Mau pesen banyak itu hak kami,” ujar Irwan, yang memang orangnnya sedikit ceplas ceplos.
Pendidikan & kisah.  Tiba tiba wanita yang di sampingpria itu, mengangkat telepon genggamnya dan matanya agak melotot tak bersahabat kepada para sahabat itu. Kawan –Kawan Suwignyo hanya senyam-senyum dan mulai menyantap hidangan.
Tiba tiba seorang polisi pria tegap yang mengaku dari satuan sekuritas sosial, berdiri di samping meja makanan suwignyo cs. Sembari mengeluarkan notes dan menulis sesuatu. Ia tak bnyak bicara, langsung menyobek kertas dan memberikannya kepada Wignyo yang saat itu lebih dekat dengan polisi pria tersebut.
Pendidikan & kisah.  Ketika membaca tulisan itu, ternyata adalah surat semacam tilang pada setiap orang yang makan berlebih lebihan. Di atasnya tertera angka Euro 50 kepada kami. Lalu dia menjelaskan, bahwa wanita tua itu telah menelepon kantornya, yang menyatakan bahwa ada sekelompok pria yang makan dengan hidang yang berlebih lebihdan. Dan makanan itu pun tampak tersisa.
Suwignyo memandang wanita dan pria tua itu. Ia saksikan memang hanya ada dua piring berisi lauk seadanya dimeja mereka. Polisi dari sekuritas  sosial itu sambil menerangkan, bahwa di Berlin atau di hampir semua daerah di Jerman, tidak diperkenankan orang-orang makan dengan jumlah yang banyak yg membuat mubazir, seperti yang dilihat rombongan Suwignyo.
Pria dan wanita tua itu menggambarkan makan orang disana,ketika, melihat ke kiri dan kanan, ternyata semua orang makan hanya memesan yang dibutuhkan. Dan semua dihabiskan sehingga tak tersisa.
Begitulah di Jerman sebuah negara yg matoritas beragama bukan Islam, orang-orangnya juga terbilang memiliki kemampuan ekonomi yang mapan, apalagi negara itu adalah negeri industri yang maju. Bukan seperti orang kita yang selalu memamerkan kekayaan atau kehebatannya hingga seperti rombongan Suwignyo yang makannya mubazir.
Ia pun keluar dari restoran itu bersama sahabat lainnya sembari membayar makanan pesanannya berikut denda Euro 50. Rombongan itu  terdiam dan hanya bisa menahan malu, kepada semua tamu yang ada direstoran itu yang  memandangi mereka.  (semoga ini menjadikan Pendidikan & Kisah yang sangt berharga)



***) eddy siswanto

BILA KALIAN SELALU BERSYUKUR


Kebesaran manfaat  bersabar & bersyukur. Bersyukur itu, terkadang sangat sulit dan dilakukan. Padahal, dengan bersyukur hidup akan lebih mudah  & bahagia. Dalam Islam adalah satu akhlaq yang sangat tinggi nilainya dengan kita bersyukur. Begitu tinggi nilai dari bersyukur tersebut sehingga tidaklah salah kalau para ulama mengatakan bahwa syukur itu mempunyai keagungan dan kedahsyatan yang mengagumkan. Marilah kita lihat beberapa ayat al-quran yang mengungkapkan keagungan dan kedahsyatan bersyukur.
Sebagaimana firman Allah SWT; “Dan ingatlah tatkala Yuhan-mu memaklumkan: “ Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS.14/ibrahim:7)
Dalam ayat diatas, Allah SWT mengemukakan pasti akan menambah nikmat apabila hambanya bersyukur. Janji Allah tersebut dikuatkan dengan kata “pasti”, dan tidak ada syarat apapun setelahnya. Artinya secara pasti orang-orang yang bersyukur akan diberi Allah tambahan nikmatnya.
Pertanyaan dalam ayat diatas diperkuat lagi dengan ayat lain yang menyatakan bahwa syukur seorang hamba itu adalah untuk dirinya sendiri, sedangkan Allah sama sekali tidak memerlukan syukur itu: “bersyukurlah kepada Allah. Dan berangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa tidak bersyukur, sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Tepuji. (QS.31/Lukman ; 12)
Balasan bagi hamba yang bersyukur itu mutlak, tanpa balasan dan tanpa syarat. Hal ini dinyatakan oleh Allah dalam akhir ayat 145 Surat Ali Imran:”.... Dan kami akan memberi balasan kepada orang orang yang bersyukur. (QS.03/Ali Imran ; 145).

Semoga kita semua adalah hamba yang bersedia bersyukur. Karena tidak akan ada kerugian bagi mereka yang bersyukur, sebab imbalannya juga sudah jelas dari Allah SWT, yaitu adalah limpahan nikmat dan karunianya.   ***)Ibrahim         

Sabtu, 20 Desember 2014

MUSLIM TAK PERLU RAYAKAN TAHUN BARU

 MUSLIM TAK PERLU RAYAKAN TAHUN BARU

Keyakinan,tawakal.       Dua pekan menjelang pergantian tahun masehi. Dari 2014 ke 2015, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan umat Islam untuk tidak ikut merayakannya. Sebab, perayaan tahun baru Masehi merupakan bagian dari syiar agama lain.
“Umat Islam tidak perlu mencampuri urusan agama lain. Maka,untuk tahun baru Masehi, kita ambil kesempatan liburnya saja.”  ujar Wakil Sekretaris MUI. Umat Islam, menurut dia, sebaliknya juga memafaatkan hari libur 1 Januari 2015 secara Islami. Misalnya, dengan beristirahat atau berkumpul bersama keluarga di kediaman masing-masing. Lebih baik lagi bila umat Islam memanfaatkan hari libur itu dengan menyemarakkan tabligh di masjid-masjid. Dengan demikian, hari libur bisa menjadi waktu yang tepat guna dan terhindar dari sikap mubazir.
Dalam agama Islam, kata Tengku, hal yang diuatamakan dalam setiap perayaan hari besar adalah intropeksi diri secara kolektif sehingga akan terjadi perbaikan pada masyarakat.
Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Ahmad Satori Ismail mengungkapkan hal senada. Ia mengatakan, perayaan tahun baru Masehi bukanlah untuk umat Islam. Karena itu, lebih baik umat Islam memandangnya dari segi formalitas, yakni adanya hari libur nasional.
Keyakinan, tawakal.       Libur nasional itu pun, menurut Ahmad Satori, sebaiknya diisi dengan aktivitas syiar Islam, seperti meramaikan vitas syiar Islam, seperti meramaikan masjid dan majelis ilmu. Ini semata-mata agar umat Islam lebih menggiatkan muhasabah kolektif.
Sepertinya halnya Tengku, ia pun menyambut baik salah satu bentuk muhasabah itu, yakni Zikir Nasional yang digelar pada malam pergantian tahun baru Masehi. Ia berpendapat, kegiatan doa dan zikir bersama seperti itu sangat penting sebagai penguat ukhuwah dan keselamatan bangsa Indoensia. Selain itu, kesempatan berhari libur menjadi tidak diawali dengan nuansa hura-hura, seperti menyalakan petasan atau kembang api, meniup trompet, atau jalan-jalan yang sifatnya konsumtif.
Keyakinan,tawakal.    Mengenai harapan pada 2015, Tengku berharap, umat Islam dan simbol-simbol keagamaan Islam tidak lagi terpinggirkan di Indoenesia. Sebab, pada pengujung tahun ini, ia mulai melihat adanya upaya untuk meminggirkan Islam dari ruang ruang publik.
Ia menyebut contoh, aksi penyiaran agama yang cenderung memurtadkan sebagian Muslimin di tempat umum. Selain itu, muncul pula beberapa wacana pemerintah yang terkesan memancing kecaman  umat Islam.

Sedangkan, Ahmad Satori berharap, pada 2015, para pemimpin negeri ini lebih bijak dalam menjalankan tugas. Ia pun mengimbau para elite Muslim di Indonesia agar memohon petunjuk Allah dalam memajukan bangsa dan negara.

KEUTAMAAN MENUNAIKAN SHALAT DI MASJID


Tawakal, keyakinan. Merupakan kunci keyakinan mereka yang beragama. Ubbayy bin Kaab Radhiyallahu ‘anhu berkata: Ada seorang kaum lelaki dari kaum Ansar yang jarak rumahnya sampai masjid paling jauh diantara yang lain. Dan ia tidak pernah terlewat satu shalat pun (berjamaah).  Maka dikatakan kepadanya.  “ Seandainya engkau menyembelih seekor kedelai yang engkau tunggangi di saat gelap gurita dan di waktu panasnya siang”. Orang tersebut berkata,  “Aku tidak gembira (ketika) rumahku berada disisi masjid, karena aku ingin tuliskan langkah pergiku ke masjid dan langkah kembaliku ketika pulang ke keluargaku”.
Maka Rasulullah Shallallhu alaihi wa sallam bersabda:  “Allah telah mengumpulkan untukmu itu semua.” (HR.Muslim)
Jabir Radhiyallahu anhu berkata: “Ada beberapa tanah kosong di sekitar masjid, maka Bani Salamah ingin pindah ke dekat masjid. Sampailah berita itu kepada nabi Shallallhu alaihi wa sallam, maka beliau berkata kepada mereka, Aku mendengar bahwa kalian hendak pindah ke dekat masjid?”
Mereka menjawab, Ya wahai Rasulullah, kami hendak melakukan itu. Lalu rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Wahai Bani Salamah,tetaplah di rumah kalian pasti bekas langkah kalian dicatat, kemudian mereka berkata.”  (kalau begitu) kami tidak senang untuk pindah.” (HR.Muttafaqin ‘Alaih).
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullahu Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa yang pergi ke masjid pada waktu pagi atau sore hari maka allah pasti sudah menyiapkan tempat untuknya di surga setiap kali ia pergi pada waktu pagi atau sore hari” (HT,Muttafaqun Alaih)
Dari abu hurairah Radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Barang siapa yang bersuci dirumahnya kemudian ia pergi ke salah satu rumah Allah (masjid) untuk melaksanakan salah satu kewajiban Allah maka langkah-langkahnya itu, langkah (kaki) yang satu menghapus kesalahan dan satu lagi mengangkat derajat. (HR.Muslim).
Keyakinan, tawakal.     Seluruh hadist di atas menyebutkan bahwa ke masjid untuk menunaikan salat berjamaah demikian sangat berarti dan beruntungnya kita di hadapan Allah. Serta  dengan bersabar dan bersyukur dalam menyambut hidayah  Allah  (*)  RMIL