Tampilkan postingan dengan label takwa.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label takwa.. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juli 2016

LAPAR DAN TAKUT

Sudah menjadi suatu kewajaran bahwa manusia itu bisa merasa lapar lantaran perut kosong. Selain itu, menjadi kewajaran pula bahwa di dalam diri manusia itu terkandung sifat takut.
Lapar dan takut merupakan bawaan yang menjadi kekhasan makhluk hidup. Lapar akan hilang ketika kita telah mengisi perut kita dengan makanan. 
Lantas, dari mana makanan itu bisa kita dapat sehingga kita bisa memakannya dan terhindar dari kelaparan? Tentu saja kita harus berusaha untuk mendapatkannya.
Usaha untuk mendapat makanan adalah dengan bekerja yang produktif. Apapun bentuk pekerjaannya, jika pekerjaan itu menghasilkan maka kita akan membelanjakan hasil kerja tersebut untuk mendapatkan makanan. 
Sementara itu, bagaimana jika kita takut? Takut adalah pekerjaan hati. Ia tidak terlihat secara kasat mata tetapi bisa dirasakan begitu ia datang menghampiri kita. Entah ketakutan tersebut ditujukan kepada apa atau siapa, yang pasti ketakutan itu benar-benar membuat kita tidak nyaman. 
Oleh karenanya, kita hendaknya mengelola takut tersebut hanya ditujukan kepada Allah SWT. Takut kepada Allah SWT juga harus dibumbui dengan cinta kepada-Nya. Allah SWT memberikan kita tuntunan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan kita dari ketakutan. 
Tuntunan tersebut termaktub dalam firman-Nya, surah Quraisy ayat 1 sampai 4, "Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." 
Dalam surah Quraisy tersebut Allah mengisahkan kebiasaan orang-orang Quraisy. Mereka senantiasa bepergian di musim dingin dan panas.
Mereka bepergian bukan tanpa maksud, melainkan karena berniaga. Dari hasil perniagaan tersebut, mereka memperoleh rezeki. Mereka berniaga ke Syam pada musim panas dan ke Yaman pada musim dingin.
Dari hal ini, kita bisa merenungkan bahwa mereka bekerja (berniaga atau bernisnis) dengan gigih meskipun musim senantiasa berganti. Mereka justru membaca alam (musim) untuk kelancaran perniagaan yang mereka lakukan.
Walhasil, mereka mendapatkan banyak rezeki dari perniagan tersebut. Rezeki itu pun menghilangkan mereka dari rasa lapar. 
Dalam bepergian untuk berniaga tersebut, mereka mendapatkan jaminan rasa aman dari penguasa Syam dan Yaman. Mereka mendapatkan kenikmatan berupa rasa aman.
Dalam arti lain, mereka tidak usah takut akan keselamatan mereka di perjalanan ketika berniaga. Karena rasa aman tersebut, Allah pun menganjurkan kepada mereka agar senantiasa menyembah-Nya. 
Karena hanya Allah SWT sajalah mereka mendapatkan kenikmatan tersebut. Dengan begitu, menyembah Allah SWT adalah bentuk dari rasa syukur atas nikmat yang mereka peroleh. Dari surah Quraisy tersebut, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa kita bisa meniru orang-orang Quraisy. 
Mereka senantiasa giat dalam bekerja meskipun musim terus berganti. Hendaknya kita juga giat bekerja untuk mencari rezeki sehingga kita tidak kelaparan. Namun demikian, kita juga tidak boleh melalaikan Allah SWT, Dzat yang telah memberikan berbagai kenikmatan. 
Itulah yang bisa membuat kita merasa aman ketika kita takut. Seyogianya, mengingat Allah SWT dengan bertauhid adalah sumber dari keberanian dan penghilang rasa takut akan kehidupan dunia ini.
Surah Quraisy telah memberikan pelajaran untuk menghindari lapar dan mengamankan diri dari ketakutan. Semoga kita bisa mengamalkan semangat Quraisy ini. Wallahu a’lam. 


 ***) Supriyadi 

Kamis, 16 Juni 2016

ENERGI CINTA BERBAGI

“Kamu sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu membelanjakan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Ali Imran [3]: 92) 
Dalam konteks ini, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Seseorang tidak disebut mukmin selama belum mencintai sesamanya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.” (HR al-Bukhari, Muslim, At-Turmudzi, an-Nasa’i, dan Ibn Majah). 
Ayat dan hadis tersebut menunjukkan urgensi energi cinta berbagi sebagai spirit kebajikan dan keluhuran akhlak. Energi cinta berbagi dalam diri manusia perlu dididik dan diaktualisasikan dalam bentuk kedermawanan sosial.
Etos filantropi untuk mewujudkan kebaikan dan kemaslahatan bersama memang harus dilandasi rasa cinta. Karena cinta menyemangati dan menggerakkan manusia untuk mewujudkan cita-cita mulia. 
Kedermawanan sosial berbasis cinta (filantropi) merupakan akhlak mulia, karena etos cinta berbagi dan berderma dalam Islam intinya adalah memberi dan memberi (give more and more) rezeki Allah yang dikaruniakan kepada kita dengan semangat menyayangi dan memberdayakan sesama. Ingatlah bahwa “Tangan di atas (pemberi) itu lebih baik daripada tangan di bawah (peminta).” (HR Muslim). 
Jadi, esensi cinta sejati, dalam segala hal, mulai dari cinta anak dan istri, cinta berbagi kepada sesama hingga cinta Ilahi, adalah memberi dan mendedikasikan diri. Pendidikan cinta berbagi telah dipelopori dan diteladankan Nabi Muhammad SAW dan istri beliau tercinta, Khadijah RA. 
Sedemikian cintanya kepada Islam, Khadijah RA mendermakan hampir seluruh hartanya untuk kepentingan dakwah dan kejayaan Islam. Para sahabat juga selalu dididik oleh Nabi SAW untuk gemar berderma dengan menyisihkan sebagian rezeki sebagai bukti cinta terhadap Islam, sekaligus sebagai sikap peduli terhadap sesama. 
Sejarah membuktikan, tradisi tersebut menjadi solusi jitu dalam mengatasi masalah umat, terutama kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. Pendidikan cinta berbagi termasuk ajaran Islam yang paling dini diperkenalkan Nabi Muhammad SAW setelah pendidikan iman. 
Pendidikan ini ditanamkan Nabi SAW dengan menjauhkan diri dari sikap pamrih, sebab pamrih hanya akan menghilangkan nilai sedekah sekaligus menyuburkan penyakit riya’. Oleh karena itu, pada masa awal kerasulannya, Allah SWT dengan tegas menyatakan, “Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS al-Mudatstsir [74]: 6). 
Larangan ini juga sekaligus mendidik Nabi SAW dan para sahabatnya untuk mandiri dalam membangun sistem ekonomi umat yang solid, kuat,dan menyejahterakan semua, sehingga tidak tergantung pada sistem ekonomi kapitalistik dan individualistik ala kafir Quraisy Makkah. 
Keberhasilan pendidikan cinta berbagi yang ditanamkan Nabi SAW berdampak sangat positif bagi kemandirian ekonomi dan kewirausahaan umat, sehingga selama sepuluh tahun berada di Madinah tidak pernah ada krisis moneter, krisis pangan, kelaparan, gizi buruk, krisis sembako, dan sebagainya. 
Zakat, infak, sedekah, wakaf, dan hibah diatur dan diberdayagunakan sedemikian rupa, sehingga take and give, kebersamaan, kemitraan, dan keadilan sosial dapat terwujud dengan sangat indah. “Bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu; dengarlah dan taatilah; dan dermakanlah derma yang baik untuk dirimu. Siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS al-Taghabun [64]: 16). 
Dengan demikian, pendidikan cinta berbagi merupakan solusi jitu untuk mengatasi kemiskinan, kemunduran, dan kebodohan. Gagasan pendirian Baitul Mal oleh Umar bin al-Khattab merupakan upaya institusionalisasi filantropi dengan menghimpun, mengelola, dan mendistribusikan kekayaan dari, oleh, dan untuk kemaslahatan umat.
Baitul Hikmah dan Universitas al-Azhar di Mesir, misalnya, didirikan, dikembangkan, dan dibesarkan oleh donasi filantropi sebagai manifestasi pendidikan cinta berbagi.
Umat Islam sesungguhnya tidak akan pernah miskin jika energi cinta berbagi dalam rangka aktualisasi kedermawanan sosial umat dapat diidentifikasi, didata, dikelola, dikembangkan, dioptimalkan, dan dimanfaatkan dengan penuh amanah dan manajemen modern. 

***) Muhbib Abdul Wahab 

Sabtu, 04 Juni 2016

MEREMEHKAN KESALAHAN KECIL

 Nabi Muhammad SAW bersabda, “Janganlah memandang kecil kesalahan (dosa) tetapi pandanglah kepada siapa yang kamu durhakai.” (HR Ath-Thusi).
Manusia tidak pernah lepas dari kesalahan (dosa), baik terhadap sesama maupun terhadap Allah. Baik itu kesalahan yang sifatnya ringan maupun berat, sengaja maupun tidak. Karena itu, manusia dalam bahasa Arab disebut insan dari kata dasar nasiya, yakni lupa atau lalai. 
Manusia sering kali lupa, sehingga melakukan kesalahan berulang-ulang. Allah SWT Maha Menerima tobat. Sebesar apa pun kesalahan yang dilakukan manusia, Allah selalu membuka pintu tobat bagi manusia. Tentu saja, tobat yang serius, sungguh-sungguh, kemudian berkomitmen untuk tidak mengulangi. 
Dengan kata lain, tobat nasuha, yakni tobat yang sebenar-benarnya. Ada orang yang mengaku telah bertobat, ternyata ia mengulangi lagi kesalahan itu dengan sengaja. Ini bukan tobat nasuha. Meskipun Allah Maha Pengampun dan Penerima tobat, manusia hendaknya tidak menyepelekan kesalahan terhadap-Nya. 
Seperti disinggung Nabi SAW pada hadis di atas, kita jangan pernah memandang kecil suatu kesalahan, tetapi pandanglah kepada siapa kita berbuat kesalahan. Dalam hal ini adalah Allah. Ada sebuah ungkapan, “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”. Semakin kita memupuk kesalahan-kesalahan kecil, maka jika kita biarkan ia akan membesar. 
Hal yang sama berlaku pula dalam hubungannya dengan sesama manusia. Jika kita melakukan kesalahan terhadap orang lain, kita mesti segera mendatanginya dan meminta maaf. Jangan sampai, kesalahan itu malah kita lakukan berulang-ulang, sehingga orang lain itu marah, lalu dendam, dan pada suatu saat melampiaskan dendam itu. 
Orang yang dimintai maaf juga hendaknya memberi maaf. Memberi maaf itu tindakan mulia. Nabi SAW seringkali dicela kaumnya, namun beliau selalu memaafkan. Hal itu terlihat, misalnya, pada hari penaklukan Makkah atau Fathu Makkah. 
Andaikata Nabi SAW mau, beliau bisa saja menghabisi semua orang kafir yang dulu memusuhi dan memerangi serta berusaha membunuh beliau dalam setiap kesempatan. Nyatanya, beliau memaafkan mereka, membiarkan mereka tetap hidup. Kecuali, para pengkhianat dan orang-orang yang tetap berusaha memerangi beliau. 
Kepada mereka, beliau memberikan hukuman yang setimpal.Jangan pernah meremehkan kesalahan kecil, karena setiap kesalahan akan dicatat oleh malaikat pencatat amal. Kelak, di hari kiamat, catatan itu akan dibeberkan ke hadapan orang yang terkait dengannya. 
Betapa malu dan menyesalnya orang yang catatan amalnya ternyata buruk, dan ia semakin masygul ketika menyadari bahwa kesalahan yang tercatat itu dulu ia anggap remeh sehingga ia terus melakukannya berulang-ulang. Pada akhirnya, kesalahan itu membesar dan tertera nyata di catatan tersebut.
Sebelum terlambat, marilah kita berusaha mengontrol diri kita, jangan sampai kita melakukan kesalahan sekecil apa pun. Dan jika ternyata kita telanjur melakukan kesalahan kecil, kita segera bertobat dan tidak mengulangi lagi. 
Kita mesti malu jika kita melakukan kesalahan kepada Allah, padahal Allah telah memberi banyak sekali karunia kepada kita yang tak terhitung. Betapa bodohnya jika kita membalas kebaikan Allah dengan kesalahan kita kepada-Nya, meskipun itu kita anggap kesalahan kecil. Wallahu a’lam.


***)  Nur Faridah –(Republika Online

Rabu, 11 Mei 2016

DOSA KORUPSI

Siang itu, panas terik matahari begitu menyengat. Jalanan yang kami lalui macet parah. Namun, tak mengurangi niat kami untuk sampai pada tujuan. Apa itu? Misi suci (holy mission), yaitu menegakkan kebenaran dan memberantas kebatilan dalam lingkup kerja.
Ketika sampai pada tujuan, kami disambut dengan ramah dalam suasana kekeluargaan. Kami hanyut dalam pembicaraan. Sampai akhirnya kami kaget karena tuan rumah sudah tidak memiliki apa-apa. Selain niat dan semangat untuk melunasi utang-utangnya. Istrinya masih bekerja ketika kami asyik dalam pembicaraan.
Sebut saja namanya Rudi. Menyesali semua perbuatannya. Menurut pengakuannya, selama ini ia melakukan tindakan salah dan berdosa itu karena ikut-ikutan seniornya. Rudy yang baru satu tahun bekerja terkena masalah fraud (pencurian dengan menyalahgunakan amanah) yang membuatnya malu dan terpuruk.
Ia malu karena perbuatannya membuat sang istri harus menanggung akibat dari perbuatannya. Terpuruk karena sudah bisa dipastikan kantor tempat ia bekerja akan memberhentikannya. Pengakuan dosa dan salah ternyata tidak cukup.
Karena dosa dan salah terkait dengan Allah (hablum minallah). Sementara kerugian yang timbul atas tindakan fraud-nya (meski barang yang diambil dikembalikan seutuhnya), terkait dengan manusia (hablum minannas).
Artinya, hukuman bagi pelaku fraud tetap berjalan. Bukan menghukum orangnya namun tindakannya. Mengapa? Karena dengan menghukum tindakannya, kita sudah berkampanye amar makruf nahi munkar.
Seperti tertuang dalam Alquran, "Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan. Menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar." (QS Ali Imran: 104).
Inilah filosofi pentingnya hukum ditegakkan di bumi Indonesia. Para pelaku korupsi meski uang yang dikorup dikembalikan kepada negara lagi, tetap saja terkena hukum atas tindakannya.
Pertanyaannya, mengapa pelaku kesalahan atau tindakan kriminal ini tetap saja marak dilakukan? Padahal hukum sudah ditegakkan? Inilah yang dalam bahasa saya menyebut, "Dosa itu tak tampak, maka harus ditampakkan dengan terapi kejut (shock therapy) sampai pelaku jera dan tidak akan mengulanginya lagi."
Jika hukuman mati bagi koruptor adalah cara terbaik agar pelaku jera dan tak mengulanginya lagi atau membuat takut orang yang berniat melakukan korupsi, maka jangan sampai ditunda lagi.
Karena, memberantas korupsi, fraud, dan semacamnya ibarat kita mencukur kumis tiap hari. Jika kita biarkan satu atau dua hari saja, maka kumis akan terus tumbuh dan tumbuh. Makanya, harus terus dicukur dan dicukur.
Jangan sampai lengah dan dibiarkan tumbuh apalagi sampai lebat. Karena kalau lebat akan semakin sulit mencukurnya. Apakah korupsi dan fraud di Indonesia sudah lebat atau sangat lebat tumbuhnya? Sehingga, sepertinya kita kesulitan untuk memberantasnya.
Jika dosa fraud, korupsi dan sejenisnya ini dibiarkan merajalela, maka kita akan masuk pada kegelapan peradaban (The dark of civilization). Dan ini adalah awal kehancuran sebuah bangsa.
Maka dari itu, mari menjadi bagian dari penegak kebenaran dan pemberantas kebatilan di Indonesia. Jika tidak bisa, minimal jangan menjadi bagian dari kebatilan tersebut.
Seperti sindiran hadis Nabi SAW, "Barangsiapa melihat kemunkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jikapun tetap saja tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya (doa). Karena itulah selemah-lemahnya iman." (HR Muslim).


***) Abdul Muid Badrun

Minggu, 03 April 2016

3 PESAN ALQURAN BUAT WANITA SALEHAH

Wanita memiliki peranan yang sangat penting. Kesuksesan dalam membangun bangsa, termasuk keluarga, ternyata tidak lepas dari peranannya.
Sehingga, tidak salah jika dikatakan wanita (ibu) merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sebab, wanita adalah sebagai pemimpin di rumah suaminya (HR Bukhari). 
Karena strategis dan pentingnya peranan wanita bagi kehidupan, Islam memberikan pesan-pesan khusus untuk kaum wanita melalui Alquran dan hadis Nabi SAW. 
Pertama, Alquran memerintahkan kepada kaum wanita untuk menahan pandangan, memelihara kemaluan, tidak menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak daripadanya, menutupkan kain kudung ke dadanya, dan tidak menampakkan perhiasan (QS an-Nur [24]: 31). 
Kedua, Alquran memerintahkan kepada para sahabat Nabi SAW, apabila meminta suatu keperluan kepada istri-istri Nabi SAW, hendaknya memintanya dari belakang tabir. Dan, cara seperti itu yang akan dapat menjaga suasana hati (QS al-Ahzab [33]: 53). 
Ketiga, Alquran memerintahkan kepada kaum wanita untuk menutup aurat. Allah SWT berfirman, “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'.'' 
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal. Karena itu, mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Ahzab [33]: 59). 
Selain Alquran, Nabi Muhammad SAW juga memberikan pesan khusus kepada kaum wanita melalui sabdanya. Pertama, wanita sebagai perhiasan terbaik. Rasulullah SAW bersabda, “Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/kesenangan dunia adalah wanita yang salehah.” (HR Muslim, Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ahmad). 
Kedua, wanita (yang salehah) memiliki ciri-ciri khusus. Sabda Nabi SAW, “Siapakah wanita yang paling baik?” Beliau menjawab, ''(Sebaik-baik wanita) adalah yang menyenangkan (suaminya) jika ia melihatnya, menaati (suaminya) jika ia memerintahnya, dan ia tidak menyelisihi (suaminya) dalam hal yang dibenci suami pada dirinya dan harta suaminya.“ (HR Ahmad, Hakim, Nasa'i, dan Thabrani). 
Ketiga, pemahaman agama sebagai ukuran dalam kesalehahan wanita. Nabi SAW bersabda, “Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, kecantikannya, dan karena agamanya; maka pilihlah yang memiliki agama maka engkau akan beruntung.” (HR Bukhari dan Muslim). 
Keempat, wanita sebagai mitra kaum laki-laki dalam berbagai hal, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya kaum wanita adalah mitra bagi kaum laki-laki.” (HR Tirmidzi). 
Kelima, wanita sebagai seorang hamba yang paling dekat dengan Rabbnya. Hal ini ditegaskan melalui sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya seorang wanita akan menjadi lebih dekat kepada Allah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR Thabrani). 
Itulah sebagian pesan Islam terhadap kaum wanita. Semoga Allah membimbing kita para wanita agar dapat menjalankan pesan mulia tersebut dan meraih kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Amin. 

***) Hj Siti Mahmudah (Republika Online)

Jumat, 01 April 2016

AJAIBNYA PERKATAAN RASULLAH SAW

Aku diberi oleh Allah kemampuan untuk mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata yang singkat, ringkas, namun isinya padat. (Rasulullah SAW)
Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, "Apa yang aku larang untuk kalian, maka tinggalkanlah, dan apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka laksanakan sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan dan perselisihan terhadap para nabi mereka." (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakr RA).
Apa yang dapat kita tangkap dari hadis ini? Semua pasti sepakat bahwa hadis ini sangat luar biasa. Redaksinya begitu singkat, tapi padat maknanya dan amat luas konsekuensinya. Tak salah pula bila kita mengatakan bahwa hadis ini adalah poros dalam Islam. Betapa tidak, di dalamnya tercakup dua cakupan Islam, yaitu perintah -- untuk menaati Allah dan Rasul-Nya -- dan larangan, yaitu untuk menjauhi apa yang dilarang Allah dan Rasul-Nya.
Imam Nawawi berkata, "Hadis ini merupakan dasar-dasar Islam yang sangat penting". Ibnu Hajar Al-Haitami pun memberikan komentar, "Hadis ini adalah hadis yang sangat agung karena merupakan dasar agama dan bagian rukun Islam. Karena itu, sebagai seorang Muslim hadis ini patut kita hapalkan, kita perhatikan, dan kita maknai kandungannya". Di samping dua komentar tersebut, masih ada komentar-komentar dari para ulama yang mengungkapkan betapa agungnya hadis ini.
Dari hadis ini kita melihat salah satu keistimewaan Rasulullah SAW yaitu mampu berbicara singkat tapi padat makna. Tentang hal ini Rasul bersabda, "Aku diberi oleh Allah kemampuan untuk mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata yang singkat, ringkas, namun isinya padat".
Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakr tersebut adalah satu dari banyak hadis (perkataan) Rasulullah SAW dengan redaksi yang singkat, padat, dan dalam maknanya. Sekadar menguatkan, ada satu hadis lain yang menunjukkan kehebatan komunikasi Rasulullah SAW. Beliau bersabda, "Seperti apa keberadaan kalian, seperti itulah kalian diserahi kekuasaan".
Menurut Said Hawwa dalam bukunya Ar-Rasul: Shalallahu 'Alaihi Wassallam, hadis ini mencakup kaidah inti dari politik suatu bangsa. Di dalam kalimat pendek ini terkandung beberapa kaidah penting dalam ilmu politik. Pertama, bahwa suatu bangsa bertanggung jawab terhadap keadaan pemerintahannya. 
Kedua, bahwa moral suatu bangsa lebih penting daripada peraturan dan bentuk pemerintahan negara. Ketiga, bahwa kekuasaan adalah pengikut dan bukan asal. Keempat, bahwa menurut ilmu politik modern sumber kekuasaan ada ditangan rakyat. Dan terakhir, hadis ini mengandung sebuah kaidah bahwa suatu bangsa berhak mendapatkan penguasa yang mereka dapat bersabar terhadapnya, meski bukan penguasa yang baik. Subhanallah!


Sumber : Pusat Data Republika

Rabu, 23 Maret 2016

NIKMATNYA MENJAGA AGAMA ALLA

Ibnu Abbas berkata, "Pada suatu hari, aku di belakang (dibonceng) Nabi SAW. Beliau bersabda, 'Hai anak muda, aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah (agama) Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah (agama) Allah, niscaya Allah selalu bersamamu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah.
Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, jika seluruh manusia berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kepadamu, kecuali sesuatu yang telah ditulis Allah untukmu. Jika mereka berkumpul untuk memberikan mudharat kepadamu, maka mereka tidak akan bisa memberikan mudharat, kecuali yang telah ditulis Allah untukmu. Pena telah diangkat dan lembarannya telah kering" (HR Tirmidzi)
Rasulullah SAW adalah rahmat bagi seluruh alam. Ajaran yang beliau sampaikan meliputi semua manusia, termasuk kelompok pemuda di dalamnya. Dalam berbagai kesempatan beliau mendampingi dan sering memberi arahan kepada para pemuda.
Seperti terungkap dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas tersebut. Ketika itu, Ibnu Abbas masih kecil. Ia adalah putra paman Rasulullah SAW, Abbas bin Abdul Muthalib.
Walaupun disampaikan kepada Ibnu Abbas, akan tetapi pesan yang disampaikannya berlaku universal. Pesan inti beliau sampaikan adalah menjaga agama Allah. Berada di jalan agama Allah adalah nikmat terbesar. Orang yang konsisten di dalamnya akan meraih cita-cita mulia, yaitu bahagia di dunia dan akhirat.


Sumber : Pusat Data Republika

Rabu, 16 Maret 2016

KEINDAHAN TOBAT

Dalam menjalani kehidupan ini, kita pasti pernah berbuat salah dan dosa. Hal demikian adalah manusiawi. Sebab, bukankah Rasulullah SAW berkata, "Setiap anak cucu Adam memiliki dosa, dan sebaik-baik pendosa adalah dia yang bertobat." (HR Ibnu Majah). Mengapa demikian? Sebab, manusia diciptakan dalam keadaan lemah. (QS An-nisa: 28).
Manusia yang lemah itu diberikan jalan tobat sebagai wujud kasih sayang Allah SWT kepada kita. Suatu hari, Umar bin Khattab RA datang menghadap Rasulullah saw dengan membawa beberapa orang tawanan.
Di antara tawanan itu terlihat seorang wanita sedang mencari-cari anaknya, lalu jika ia mendapatkan seorang bayi di antara tawanan langsung mengambil bayi itu, mendekapkannya ke perut untuk disusui. 
Rasulullah saw berkata kepada kami, "Bagaimana pendapat kamu sekalian, apakah wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?" Kami menjawab, "Tidak, demi Allah, sedangkan dia mampu untuk tidak melemparnya."  Rasulullah saw bersabda, "Sungguh Allah lebih mengasihi hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya." (HR Muslim).
Karena sedemikian kasih dan sayangnya Allah pada kita, Allah sangat senang bila seorang hamba telanjur berbuat dosa lalu bertobat, berjanji sepenuh hati tak akan pernah mengulangi perbuatannya.  
Rasulullah SAW menggambarkan kesenangan Allah SWT itu dengan bersabda, "Sungguh Allah akan lebih senang menerima tobat hamba-Nya ketika ia bertobat kepada-Nya daripada (kesenangan) seorang di antara kalian yang menunggang untanya di tengah padang luas yang sangat tandus, lalu unta itu terlepas membawa lari bekal makanan dan minumannya dan putuslah harapannya untuk memperoleh kembali. Kemudian, dia menghampiri sebatang pohon lalu berbaring di bawah keteduhannya karena telah putus asa mendapatkan unta tunggangannya tersebut. Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba dia mendapati untanya telah berdiri di hadapannya...." (HR Muslim).
Seringkali kita merasa bahwa dosa yang kita lakukan hanya dosa-dosa kecil sehingga tak diperlukan penyegeraan dalam bertobat. Padahal, kata Ibnul Qayyim, jangan pernah meremehkan dosa-dosa kecil. Lihatlah patok kayu (di dermaga) yang melilit tambang, ia bahkan dapat menarik kapal.
Tobat tidaklah sebatas usaha seorang hamba untuk memohon ampunan dari Allah SWT, tetapi sekaligus termasuk ibadah yang mulia di sisi-Nya karena perbuatan itu merupakan perintah dari Allah SWT. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 8 yang artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya...." 
Karena itulah, tobat merupakan amalan para nabi. Aisyah mengatakan, "Dahulu Rasulullah sebelum meninggal banyak mengucapkan, 'maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya aku memohon ampun dan aku bertobat kepada-Nya'." (HR Bukhari-Muslim). Demikian pula para nabi sebelumnya. Adam dan Hawa adalah para pendosa pertama yang segera bertobat. 
Allah SWT mengabadikan dalam firman-Nya, "Wahai Rabb-kami, kami adalah orang-orang yang berbuat zalim pada diri-diri kami, kalau sekiranya Engkau tidak mengampuni (dosa-dosa) dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang celaka." (QS Al-A'raf: 23).
Tobat harus memenuhi syarat dan ketentuan. Imam Nawawi menyebutkan tiga persyaratan, yakni menjauhi maksiat, menyesali perbuatan tersebut, dan berjanji untuk tidak mengulangi selama-lamanya.
Jika hilang salah satu syarat-syarat tersebut di atas, tidak sah tobatnya. Rasulullah saw bersabda yang artinya, "Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawa belum sampai kerongkongan." (HR At Tirmidzi).
Sesungguhnya rahmat Allah itu sangat luas sehingga tidak sepantasnya bagi seorang hamba untuk berputus asa dari rahmat-Nya. 
Menutup tulisan ini, menarik untuk mengutip Ibnul Qayyim sekali lagi. Katanya, "Sekiranya seorang pelaku maksiat mengetahui bahwa kenikmatan bertobat lebih dahsyat berlipat-lipat dari kelezatan maksiat, niscaya dia akan bersegera menuju tobat lebih cepat dari usahanya menggapai maksiat". Wallahu a'lam.


***)  Inayatullah Hasyim (Republika Online)

Selasa, 15 Maret 2016

IRI DAN DENGKI

Penyakit hati yang dinamakan iri dan dengki hampir sama umurnya dengan sejarah peradaban manusia. Kejadian di awal zaman Nabi Adam, yaitu pertengkaran dan pertumpahan darah antara Habil dan Qabil bermuasal dari penyakit hati ini atau hasutan (provokasi) yang sangat menyesatkan dari setan. 
Penyakit iri dan dengki ini sangat merusak diri sendiri, orang lain, dan masyarakat. Karena penyakit hati ini dapat menjangkit siapa pun. Bila dibiarkan bercokol dalam waktu lama, penyakit ini dapat menimbulkan sikap yang destruktif bagi pengembangan kepribadian.
Pernahkah kita berpikir dan bertindak untuk selalu syukur dan senang bila ada orang lain mendapat sukses atau kenikmatan? Bila tidak, kita perlu membiasakannya.
Rasulullah mengatakan bahwa menjadi manusia baik adalah manusia yang bermanfaat bagi lingkungannya. Artinya manusia harus bersikap inklusif dan peka terhadap lingkungan, baik sosial maupun alam, dan tidak bersikap eksklusif untuk kepentingan dirinya saja.
Barangkali perlu dibiasakan dalam pergaulan sehari-hari untuk selalu terampil dalam memberi nilai-nilai positif bagi orang lain, dan dicegah kecenderungan untuk memberi nilai-nilai negatif bagi seseorang yang didasarkan oleh rasa subjektivitas.
Seorang yang telah beriman dan yakin menyatakan tiada ilah selain Allah, sepatutnya menampakkan keimanannya itu dalam setiap tindak tanduk pergaulan. Dia terus berupaya terus menjaga perilakunya itu sebagai suatu kebiasaan baik yang bernuansa Islami. 
Contohnya, keimanan terhadap takdir ditunjukkan dalam bersikap gembira dan bersyukur pada Allah, bila mendengar ada orang lain yang mendapat kesuksesan atau rezeki halal. Demikian pula memberikan empati bagi yang mendapat musibah atau kesulitan hidup, dan akan lebih bagus lagi bila langsung memberikan pertolongan yang bersifat finansial agar mereka langsung dapat memanfaatkannya.
Pola kebiasaan inilah yang harus ditumbuhkembangkan terus sebagai bagian dari sikap dan gaya hidup manusia Muslim, baik dalam berbagai profesi, kesempatan maupun urusan kenegaraan. Insya Allah perbuatan sekecil apapun bila dilakukan dengan ikhlas karena Allah, akan selalu mendapat ganjaran hikmah di dunia maupun di akhirat. 

Sumber : Pusat Data Republika

Selasa, 08 Maret 2016

MELAWAN STRATEGI SETAN

Dalam Alquran, tidak kurang dari 88 kali setan disebut. Setan berasal dari kata syathana yang artinya jauh. Jauh dari rahmat Allah dan jauh dari berbagai kebaikan. Setan adalah setiap makhluk yang melanggar hukum Allah dan melampaui batas ketentuan Allah SWT. 
Setan bisa berasal dari bangsa jin, bisa pula dari kalangan manusia (QS al-An'am [6]: 112 dan an-Nas [114]: 6). Setan senantiasa menyeru manusia untuk melakukan perbuatan jahat dan keji (QS al-Baqarah [2]: 169). 
Ia juga menghasut manusia agar saling membenci dan memusuhi, seperti melalui judi dan khamar (QS al-Maidah [5]: 91). Setan juga menakut-nakuti manusia akan kemiskinan (QS Al-Baqarah [2]: 286) sehingga manusia cenderung mengumpulkan harta dengan rakus, kikir, dan menghalalkan segala cara. 
Padahal, semua rayuan dan godaannya hanyalah tipuan belaka dan angan-angan kosong (QS an-Nisa' [4]: 120). Untuk menjalankan seruannya, setan memiliki beberapa siasat atau strategi. 
Pertama, menghiasi keburukan dengan keindahan (QS an-Nahl: 63 dan an-Naml: 24). Suatu perbuatan yang buruk dalam pandangan agama, dipandang indah oleh manusia yang terbujuk rayu setan. 
Misalnya, perempuan yang memperlihatkan aurat, bergoyang dan bernyanyi dengan lirik mengundang syahwat dan berahi, justru dinilai oleh pria dan wanita itu sendiri sebagai seni yang mahal harganya. 
Kedua, menjadikan manusia lupa kepada Allah. “Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah.” (Al-Mujadalah 19). Ketika manusia lupa kepada Allah, maka perbuatan maksiat mudah dilakukan. Sebaliknya, orang yang senantiasa ingat kepada Allah, tidak ada celah baginya bermaksiat. 
Ketiga, mengajak manusia mengubah agama. Firman-Nya, “Dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah, (lalu mereka benar-benar mengubahnya).” (QS an-Nisa'[4]: 119). 
Kata ciptaan Allah pada ayat di atas bermakna agama Allah. Jadi, setan memperdaya manusia untuk mengubah agama Allah ini. Mereka frustrasi melihat kondisi umat Islam yang suka berpecah belah, dianggap tokoh agama tetapi masih berani korupsi, diangkat sebagai pemimpin namun menzalimi, kemiskinan dan kebodohan kerap kali diderita umat. 
Setan pun menggoda manusia untuk menganggap Islam tak relevan lagi dengan zaman, maka perlu diperbarui. Agama pun mereka ubah, seakan agama hanya produk budaya. Mereka sesat lagi menyesatkan. 
Keempat, melalui minuman keras (khamar) dan perjudian (QS al-Ma'idah [5]: 91), setan menyesatkan manusia sehingga merusak persaudaraan antarmanusia. Padahal, secara akal, khamar merusak pikiran dan memelihara kebodohan, sedangkan judi mengakibatkan kemiskinan. 
Namun, daya rasionalitasnya tak berfungsi akibat bujuk rayu setan. Meskipun setan melakukan berbagai siasat dan strategi untuk menyesatkan manusia, namun Allah menegaskan, “Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (QS an-Nisa' [4]: 76). 
Maka siasat setan mesti dilawan. Di antara strategi melawan setan adalah memperkuat iman, bertawakal (QS an-Nahl [16]: 99) dan memperbanyak zikir kepada Allah (QS al-A'raf [7]: 201). 
Di samping itu, Allah SWT menegaskan bahwa setan datang dari arah kanan, kiri, muka, dan belakang untuk menyesatkan manusia (QS al-A'raf [7]: 17). Akan tetapi, setan tidak datang dari atas dan bawah. 
Sebagian mufasir berpendapat bahwa dari arah atas, setan tidak bisa menghampiri manusia selama manusia itu senantiasa mengingat Allah dan bertawakal kepada-Nya. Sementara arah bawah, setan juga tak sanggup menaklukkan bani Adam ketika manusia senantiasa ingat pada kematian (karena manusia berasal dari dan kembali ke tanah) lalu memperbanyak sujud. 
Maka perbanyaklah ibadah, seperti shalat, sedekah dan lain-lain sehingga setan akan menjauh dari manusia. Selanjutnya, perbanyak doa: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan dan aku berlindung (pula) kepada Engkau Ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (QS al-Mukminun: 97-98).

***)  Muhammad Kosim (Republika Online)

Selasa, 02 Februari 2016

EMPAT MAKNA IHSAN

Istilah ihsan secara bahasa berarti baik dan berbuat baik. Istilah ini muncul dalam Alquran dan hadis beberapa kali untuk menunjukkan beberapa makna yang sekaligus menggambarkan bentuk-bentuk sikap ihsan yang perlu ditampilkan Muslim dalam kehidupan.
Pertama, ihsan adalah memberikan nikmat atau sesuatu yang disenangi kepada orang lain. Banyak ayat Alquran dan hadis yang mendorong umat Islam memberikan sesuatu yang baik kepada orang lain. Bahkan, pemberian itu dipandang sebagai tolok ukur kesempurnaan iman seseorang.
Kedua, berbuat baik dan menyebarkan kebaikan. Sikap ini lahir karena pelakunya menyadari bahwa perbuatan itu baik dan diperintahkan agama untuk dilakukan. Dalam hal ini, lahirnya sikap ihsan sangat didukung oleh pengetahuan seseorang tentang kebaikan.
Umar ibn Khattab pernah mengungkapkan, ''Manusia dipandang dan dinilai karena pengetahuannya tentang kebaikan dan konsistensinya melakukan perbuatan baik sesuai dengan pengetahuan tersebut.''
Ketiga, berbuat baik karena seseorang memahami bahwa perbuatan tersebut akan dibalas Allah dengan yang lebih baik, di dunia maupun di akhirat. Perbuatan baik seseorang tidak akan disia-siakan Allah, meskipun sedikit jumlahnya.
Keempat, ihsan lebih tinggi dari berlaku adil. Seseorang disebut adil apabila melaksanakan kewajibannya, lalu ia menerima haknya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sedangkan ihsan adalah melakukan pekerjaan melebihi dari yang diwajibkan dengan tidak melanggar aturan dan mengambil atau menerima hak kurang dari yang telah ditentukan. Jadi, orang yang ihsan tidak pernah mengambil hak orang lain. Ia bahkan masih menyisakan haknya demi kemaslahatan orang lain.


Sumber : Pusat Data Republika

Kamis, 14 Januari 2016

15 HIKMAH SAKIT

1. Sakit itu dzikrullah
Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma ALLAH di banding ketika dalam sehatnya.
2. Sakit itu istighfar
Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit, sehingga lisan terbimbing untuk mohon ampun.
3. Sakit itu tauhid
Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thoyyibat yang akan terus digetar?
4. Sakit itu muhasabah
Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali.
5. Sakit itu jihad
Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah, di wajibkan terus berikhtiar, berjuang demi kesembuhannya.
6. Bahkan Sakit itu ilmu
Bukankah ketika sakit, dia akan memeriksa, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit.
7. Sakit itu nasihat
Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri, yang sehat hibur si sakit agar mau bersabar, ALLAH cinta dan sayang keduanya.
8. Sakit itu silaturrahim
Saat jenguk, bukankah keluarga yang jarang datang akhirnya datang membesuk, penuh senyum dan rindu mesra? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah.
9. Sakit itu gugur dosa
Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan yang sakit dinyerikan dan di cuci-Nya.
10. Sakit itu mustajab do’a
Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta dido’akan oleh yang sakit.
11. Sakit itu salah satu keadaan yang menyulitkan syaitan, di ajak maksiat tak mampu tak mau, dosa lalu malah disesali kemudian diampuni.
12. Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis, satu sikap keinsyafan yang disukai Nabi dan para makhluk langit.
13. Sakit meningkatkan kualitas ibadah, rukuk-sujud lebih khusyuk, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyyat-do’a jadi lebih lama.
14. Sakit itu memperbaiki akhlak, kesombongan terkikis, sifat tamak di paksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu.
15. Dan pada akhirnya sakit membawa kita untuk selalu ingat mati, mengingat mati dan bersiap amal untuk menyambutnya, adalah pendongkrak derajat ketaqwaan.
Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa memberi kesembuhan atas penyakit yang saat ini sahabatku derita dan Allah berikan kemudahan untuk mengambil hikmahnya.
(Da'wah, hidayah, hikmah, kebesaran, keyakinan, sabar, syukur, takwa., )


***)Sumber: Salingsapa

Jumat, 01 Januari 2016

MENGAPA DOA KU TIDAK DIJABAH

Ada yang bertanya Ustaz, mengapa doa doaku tidak diijabah Allah?
Sahabatku,
1. Tugas kita sebagai hamba-Nya berdoa, hak mutlak Allah untuk mengijabahnya.
2. Allah ingin kita selalu berdoa pada-Nya, boleh jadi kalau dikabulkan kita tidak berdoa lagi.
3. Tidak dikabulkan karena kalau dikabulkan membawa fitnah untuk kita, tidak jadi kaya, boleh jadi setelah kaya jadi sombong.
4. InsyaAllah dikabulkan hanya waktu kemudian, atau
5. Allah hanya kabulkan di akhirat saja, jadi doa sebagai tabungan akhirat.
6. Allah kabulkan dalam bentuk lain, Allah tahu baik buruknya untuk kita,
7. Kalau tidak juga tetaplah baik sangka,
8. Dan saatnya untuk muhasabah diri, mungkin hidup kita dari rizki tidak halal, Rasulullah mengisahkan seseorang yang rambutnya acak-acakan dan berdebu lalu menengadahkan tangannya ke langit untuk berdoa, “Ya Rabi, ya Rabi.’
Padahal, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan keluarganya diberi makan dari sumber yang haram. Bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad). Mungkin ibadah kita masih diiringi ma’siyat, atau masih sering menyakiti orang lain atau aurat kita masih belum terjaga.
9. Perbaiki diri, sungguh sungguhlah taat dan jangan pernah putus asa dalam berdoa. Baca dengan iman, “Berdoalah kalian kepada-Ku, pasti KU ijabah doa kalian!!”(QS al Mu’min : 60).
SubhanAllah, terus, terus, dan terus berdoa karena kita tidak tahu kapan, dimana, dan bagaimana doa kita diijabah Allah…insyaAllah, aamiin.

Sumber: Akun Facebook Ustaz Arifin Ilham
 Da'wah, hidayah, hikmah, sabar syukur., takwa., 

Sabtu, 05 Desember 2015

PAKET KEZALIMAN

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak merasa.” (QS. al Baqarah [2]:11-12). 
Alquran menyebutkan sejumlah kaum dan tokoh yang melakukan perbuatan destruktif atau kezaliman di muka bumi. Seperti, bangsa Yahudi, kaum Tsamud, Yakjuj dan Makjuj, Fir’aun, Qarun, dan sederetan nama dan kaum lainnya. 
Mereka diabadikan dalam Alquran sebagai pelaku atau agen kerusakan, al Mufsiduuna fil Ardh. Atau dengan bahasa lain, az Zhalimun (orang-orang yang berbuat zalim). Secara umum dan spesifik, Alquran juga menerangkan diversitas atau bentuk-bentuk kerusakan yang terjadi di atas bumi. 
Misalnya, merampas atau mencuri harta milik orang lain, baik pribadi maupun milik umum (QS Yusuf [12]: 73). Menghalang-halangi manusia menuju jalan yang diridhai Allah merupakan bentuk kerusakan di muka bumi (QS al-‘Araf [7]:86). 
Menuruti hawa nafsu duniawi dengan gejalanya seperti cinta dunia dan takut mati, budaya meterialistik, hedonis, tamak dan seumpamanya (QS. al-Mukminun [23]: 71).
Termasuk jenis kerusakan yang dijelaskan dalam Alquran adalah sikap orang-orang Mukmin yang menjadikan orang-orang yang tidak seakidah sebagai pemimpin (QS al Anfal [8]:73). 
Lebih-lebih apabila umat Islam menjadikan sekelompok orang sebagai teman setia atau kiblat politik, padahal selama ini mereka jelas-jelas memusuhi dan memerangi atas nama agama (QS. al-Mumtahanah [60]:8-9). 
Demikian juga kepongahan dan kesewenang-wenangan dengan segala indikatornya, seperti merancang konflik, penindasan dan pembunuhan secara biadab adalah bentuk kerusakan yang sangat nyata (QS al-Qashash [28]:4). 
Seorang pakar tafsir terkemuka di era sahabat, Abdullah bin Mas’ud, ketika menafsirkan ayat yang dikemukakan pada pendahuluan di atas (QS al-Baqarah [2]:11-12) mengatakan, yang dimaksud kerusakan di muka bumi dalam ayat ini adalah jalan kekufuran dan perbuatan maksiat. 
Sehingga logis, apabila sejumlah ulama tafsir menarik sebuah kesimpulan, kekufuran dan maksiat kepada Allah merupakan sumber kerusakan. Maknanya, status kufur dan maksiat adalah akar kerusakan yang menimbulkan kerusakan-kerusakan yang lain di atas bumi. 
Sebagaimana dikatakan salah seorang ahli tafsir, Imam Asy-Syaukani, perbuatan syirik (menyekutukan Allah) dan maksiat adalah sebab timbulnya berbagai kerusakan di alam semesta. Kesimpulannya, Islam adalah agama yang menghendaki keselamatan dan kemakmuran di atas bumi. 
Apa pun bentuk kerusakan dan kemudharatan sebagaimana disebutkan di atas, semuanya bertolak belakang dengan prinsip dan syariat Islam.
Orang-orang yang memerangi Allah dan rasulNya dan orang-orang yang senantiasa berbuat kerusakan merupakan satu paket kezaliman yang sejak dulu diperangi oleh para Nabi dan Rasul. 
Adapun ancaman atau hukuman yang pantas bagi orang-orang yang melakukan paket kezhaliman di atas, Alquran kembali menunjukkan salah satu dimensi kemukjizatannya kepada kita.
“Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya dan membuat kerusakan di bumi, hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar. Kecuali orang-orang yang bertaubat sebelum kamu menguasai mereka, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.” (QS al-Maidah [5]:33-34). Wallahu Al-musta’aan.
(PAKET  KEZALIMAN
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak merasa.” (QS. al Baqarah [2]:11-12). 

Alquran menyebutkan sejumlah kaum dan tokoh yang melakukan perbuatan destruktif atau kezaliman di muka bumi. Seperti, bangsa Yahudi, kaum Tsamud, Yakjuj dan Makjuj, Fir’aun, Qarun, dan sederetan nama dan kaum lainnya. 
Mereka diabadikan dalam Alquran sebagai pelaku atau agen kerusakan, al Mufsiduuna fil Ardh. Atau dengan bahasa lain, az Zhalimun (orang-orang yang berbuat zalim). Secara umum dan spesifik, Alquran juga menerangkan diversitas atau bentuk-bentuk kerusakan yang terjadi di atas bumi. 
Misalnya, merampas atau mencuri harta milik orang lain, baik pribadi maupun milik umum (QS Yusuf [12]: 73). Menghalang-halangi manusia menuju jalan yang diridhai Allah merupakan bentuk kerusakan di muka bumi (QS al-‘Araf [7]:86). 
Menuruti hawa nafsu duniawi dengan gejalanya seperti cinta dunia dan takut mati, budaya meterialistik, hedonis, tamak dan seumpamanya (QS. al-Mukminun [23]: 71).
Termasuk jenis kerusakan yang dijelaskan dalam Alquran adalah sikap orang-orang Mukmin yang menjadikan orang-orang yang tidak seakidah sebagai pemimpin (QS al Anfal [8]:73). 
Lebih-lebih apabila umat Islam menjadikan sekelompok orang sebagai teman setia atau kiblat politik, padahal selama ini mereka jelas-jelas memusuhi dan memerangi atas nama agama (QS. al-Mumtahanah [60]:8-9). 
Demikian juga kepongahan dan kesewenang-wenangan dengan segala indikatornya, seperti merancang konflik, penindasan dan pembunuhan secara biadab adalah bentuk kerusakan yang sangat nyata (QS al-Qashash [28]:4). 
Seorang pakar tafsir terkemuka di era sahabat, Abdullah bin Mas’ud, ketika menafsirkan ayat yang dikemukakan pada pendahuluan di atas (QS al-Baqarah [2]:11-12) mengatakan, yang dimaksud kerusakan di muka bumi dalam ayat ini adalah jalan kekufuran dan perbuatan maksiat. 
Sehingga logis, apabila sejumlah ulama tafsir menarik sebuah kesimpulan, kekufuran dan maksiat kepada Allah merupakan sumber kerusakan. Maknanya, status kufur dan maksiat adalah akar kerusakan yang menimbulkan kerusakan-kerusakan yang lain di atas bumi. 
Sebagaimana dikatakan salah seorang ahli tafsir, Imam Asy-Syaukani, perbuatan syirik (menyekutukan Allah) dan maksiat adalah sebab timbulnya berbagai kerusakan di alam semesta. Kesimpulannya, Islam adalah agama yang menghendaki keselamatan dan kemakmuran di atas bumi. 
Apa pun bentuk kerusakan dan kemudharatan sebagaimana disebutkan di atas, semuanya bertolak belakang dengan prinsip dan syariat Islam.
Orang-orang yang memerangi Allah dan rasulNya dan orang-orang yang senantiasa berbuat kerusakan merupakan satu paket kezaliman yang sejak dulu diperangi oleh para Nabi dan Rasul. 
Adapun ancaman atau hukuman yang pantas bagi orang-orang yang melakukan paket kezhaliman di atas, Alquran kembali menunjukkan salah satu dimensi kemukjizatannya kepada kita.
“Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya dan membuat kerusakan di bumi, hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar. Kecuali orang-orang yang bertaubat sebelum kamu menguasai mereka, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.” (QS al-Maidah [5]:33-34). Wallahu Al-musta’aan.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa., )

***) Imron Baehaqi



***) Imron Baehaqi

Minggu, 29 November 2015

KILAU (HARTA) YANG MENIPU

Hati siapa yang tidak tertarik dengan godaan harta. Terlebih seseorang seharusnya mendapatkan bagian harta tertentu setelah ia berjuang keras. Berjuang hingga risiko antara hidup dan mati hanya dipisahkan benang tipis.
Ketertarikan atas harta yang lantas tak sesuai dengan harapan tentu memunculkan gundah. Keresehan itu pula yang dialami oleh kaum Anshar saat Perang Hunain nan berat itu sudah usai. Kaum Muslimin mendapat kemenangan yang besar.
Seperti laiknya perang-perang lain, kaum Muslimin pun berhak mendapat harta rampasan perang (ghanimah). Namun alangkah kecewanya kaum yang menerima Nabi SAW saat ia diusir dari kaummnya itu. Nabi SAW justru memberikan bagian harta ghanimah kepada orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam semisal Abu Sufyan, 'Uyainah, Al Aqra' dan Suhail bin 'Amar.
Maka jiwa-jiwa manusia biasa kaum Anshar menyeruak protes. Kenapa orang yang dulunya memusuhi Nabi SAW dan baru masuk Islam mendapat bagian? sementara mereka yang menolong Nabi SAW dan kaum muhajirin, pulang dengan tangan hampa.
Rasulullah seperti yang diriwayatkan Imam Ahmad, lantas menemui dan menjawab kegundahan sahabat-sahabatnya dari Anshar itu. "Tidakkah kamu ridha, hai orang-orang Anshar," ujar Nabi SAW dalam kalimatnya yang bersejarah, "manusia pergi dengan kambing dan unta mereka, sedangkan kamu pulang ke kampung halamanmu membawa Rasulullah? Demi yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentulah aku termasuk salah seorang dari Anshar."
Kita paham bagaimana akhir dari kisah ini. Siapakah yang lebih beruntung bisa membawa serta Rasulullah SAW bersama mereka dibandingkan sampah dunia bernama harta. Sesenggukan wajah-wajah Anshar itu terdengar saling bersahutan. Air mata penyesalan mereka basah mengaliri hingga janggut-janggut mereka.
Begitulah kita sejatinya diajarkan untuk bersikap terhadap harta. Memiliki keinginan untuk menguasai harta adalah sesuatu yang wajar. Namun pada hakikatnya, harta hanyalah sebuah sarana. Seperti hanya Rasulullah SAW memberikan harta kepada kaum Quraisy yang baru masuk Islam. Semua itu hanya sarana untuk mengikat hati mereka agar tetap bersama dakwah.
Sementara Rasulullah SAW paham, sejatinya kaum Anshar tak memerlukan itu semua. Bagi mereka yang mengutamakan kaum muhajirin di atas diri mereka sendiri, tentu harta bukanlah yang paling utama. Jika kaum Anshar menangis tersedu karena mereka "mendapat" Rasulullah SAW, kita justru tergugu jika harta kita berkurang. 
Otak kita seakan disetting hanya untuk mencari uang dan materi. Bukan dengan niat jihad mencari nafkah, namun demi memenuhi buas nafsu diri. Terkadang waktu yang kita miliki tak cukup 24 jam guna mencari pundi-pundi rupiah. Demi sebuah tas bermerk agar tak lagi dijauhi dalam kumpulan arisan-arisan masa kini.
Kehidupan kini hanya berjalan dari satu transaksi ke transaksi berikutnya. Dari satu lembur ke lembur yang sama keesokannya. Muara semuanya itu hanya kelelahan raga dan jiwa yang tak pernah tenang. Terlalu keras mengais emas terkadang turut melenakan kita pada hal-hal kecil yang sejatinya butuh perhatian.
Mengejar tender milyaran bagi kita masih terlalu penting dibanding mengajari anak-anak kita belajar huruf hijaiyah agar mereka dapat membaca kitab sucinya. Kita lupa membantu mengejakan hukum-hukum tajwid agar kelak saat kita mati, si anak dengan lancar memimpin barisan shalat jenazah.
Padahal bisa jadi bekal yang sangat ia perlukan bukanlah properti tak bergerak senilai puluhan miliar. Yang mereka butuhkan sejatinya adalah apa yang kaum Anshar butuhkan. Kehadiran sosok Rasulullah SAW. Mereka jauh lebih beruntung membawa pulang Nabi Muhammad SAW ke kota mereka. Lantas menyerap saripati hidup yang sebenarnya.
Semoga kita ini seperti orang-orang Anshar yang mendapat keistimewaan untuk "membawa pulang" Rasulullah SAW bersama mereka. Karena mereka sadar, meski ketertarikan pada kilau harta sangatlah normal namun tak akan bisa menggantikan kilau cahaya hakiki dari Muhammad SAW.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa., )


***) Hafidz Muftisany

Jumat, 27 November 2015

BERILMU SEPANJANG HAYAT

Baqi bin Makhlad, seorang murid Imam Ahmad Bin Hanbal, layak menjadi teladan bagi para pencari ilmu. Ketika berusia 20 tahun, ia melakukan perjalanan dari Andalusia menuju Baghdad dengan berjalan kaki demi mencari ilmu. 
Ia rela menempuh perjalanan yang begitu panjang, melewati padang pasir, melintasi lautan, dan mendaki pegunungan. Upaya itu dilakukan Baqi bin Makhlad untuk belajar hadis pada ulama terkemuka bernama Imam Ahmad bin Hambal. 
Di tengah perjalanan ke Kota Baghdad, ia mendengar kabar bahwa Imam Ahmad bin Hanbal sedang menghadapi ujian.Saat itu, Imam Ahmad bin Hanbal berkukuh pada pendapatnya bahwa Alquran bukanlah makhluk. 
Akibatnya, penguasa melarang sang imam untuk mengajar atau membuka majelis ilmu. Ia dipenjara di rumahnya. Mengetahui hal itu, Baqi pun bersedih. Namun, langkahnya untuk berguru pada sang imam tak berhenti.
Ia tetap melanjutkan perjalanan ke Baghdad. Setibanya di ibu kota Dinasti Abbasiyah, Baqi meletakkan perbekalannya dan pergi menuju Masjid Agung. Ia lalu pergi mencari rumah Imam Ahmad bin Hanbal. 
Ia kemudian mengetuk pintu dan mengucap salam dan Imam Ahmad pun menjawab salam serta membuka pintu. “Aku adalah orang yang asing di negeri ini dan ingin mencari ilmu, tidaklah aku melakukan perjalanan mencari ilmu ini kecuali kepadamu,” ujar Baqi. 
Imam Ahmad lalu bertanya, “Dari manakah asalmu?” “Dari Barat jauh. Aku mangarungi lautan untuk menuju ke sini,” jawab Baqi. Sang imam lalu berkata, “Tempat tinggalmu jauh sekali, dan sebetulnya aku ingin membantumu, tetapi aku sedang dalam tahanan rumah dan tidak boleh mengajarkan sesuatu.” 
“Wahai Abu Abdillah (sebutan Imam Ahmad)... aku adalah orang yang asing, tidak ada satupun dari orang Baghdad yang mengenaliku. Jika engkau mau aku akan datang kepadamu setiap hari sebagai seorang pengemis kemudian aku ketuk pintu rumahmu aku meminta sedekah, kemudian engkau membacakan kepadaku walaupun satu hadis dalam sehari,” ucap Baqi.
“Baiklah...,” ujar Imam Ahmad bin Hanbal. “Engkau boleh seperti itu tetapi dengan syarat tidak menceritakannya kepada para pencari hadis yang lain karena nanti mereka akan iri kepadamu.”
Kisah di atas memberi pesan pada kita, sejauh apa pun jarak akan ditempuh oleh orang-orang yang haus akan ilmu dan kebenaran. Orang terdahulu lebih baik keluar dari tempat tinggal untuk hijrah dari kondisi kebodohan. 
Mencari ilmu atau belajar adalah proses yang harus dilakukan terus-menerus meskipun kita tidak lagi berada di lingkungan sekolah atau universitas. 
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim). 
Ilmu begitu penting dalam kehidupan umat manusia yang hendak mempertebal keimanan. Karena, ilmu dan keimanan laiknya dua sisi mata uang logam yang tidak terpisahkan. 
Tanpa ilmu pengetahuan, keimanan kita bakal keropos. Sedangkan, tanpa keimanan, ilmu kita laksana kapal terbang tak berpilot, dapat mencelakakan para penumpang. 
Itulah mengapa Allah SWT memerintahkan kita untuk selalu berlapang-lapang dalam majelis keilmuan (QS al-Mujaadilah [58]: 11). Di dalam Islam, belajar harus terus-menerus dilakukan tanpa mengenal usia, waktu, dan kesempatan. 
Karena itu, ketika prinsip belajar sepanjang hidup tidak kita tanamkan dalam keyakinan, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menahan ilmu dari manusia dengan cara merenggutnya. Tetapi, dengan mewafatkan para ulama cendekia sehingga tidak lagi tersisa seorang alim. 
Dengan demikian, orang-orang mengangkat pemimpin-pemimpin yang dungu lalu ditanya dan dia memberi fatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan,” (HR Mutafaqalaih). Wallahu alam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa., )


***) Dadang Kahmad