Tampilkan postingan dengan label kebesaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebesaran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juni 2016

BERIMAN DI TEPIAN

''Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi (tidak dengan penuh keyakinan), jika ia memperoleh kebajikan tetaplah ia dalam keadaan itu (keimanan) dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana berbaliklah ia kebelakang (menjadi kafir lagi). Rugilah ia di dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.'' (QS Al-Hajj [22]:11).
 Ayat di atas menjelaskan tentang orang-orang yang menggunakan syarat dalam menyembah Allah SWT. Ia mau beribadah kalau semua keinginannya terpenuhi. Ia menjadikan agama sebagai sarana untuk memuaskan nafsunya. Ia menjadikan Allah SWT seperti lampu Aladin yang harus mengabulkan semua keinginannya.
Jika keinginannya tidak terpenuhi dan jika ia ditimpa berbagai musibah serta kesusahan dalam menjalani hidup, maka ia kembali menjadi orang kafir. Orang seperti ini, menurut Al-Qurtubi dan Ibn Al-Katsir, adalah orang-orang munafik yang sangat merugi di dunia dan di akhirat, dan merekalah golongan orang-orang munafik yang akan berada di neraka yang paling bawah, ''Sesungguhnya orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.'' (QS An-Nisa [4]: 145).
Begitu juga dalam bermuamalah atau interaksi sosial, ia mau menegakkan kebenaran dan berlaku adil jika kebenaran dan keadilan itu menguntungkan dirinya. Ia mau membantu dan peduli terhadap sesama jika hal itu bisa membuat dirinya populer. Namun, jika tidak maka ia berdiam diri dan pura-pura tidak tahu akan musibah dan problem orang lain.
Rasulullah SAW menegaskan kerugian orang-orang seperti itu dengan sabdanya, ''Sangatlah merugi budak harta dan budak baju beludru (baju yang sangat bagus), jika ia diberikan harta dan baju beludru maka ia ridha dan jika tidak maka ia marah.'' (HR Al-Bukhari).
Penyebutan harta dan baju beludru dalam hadis di atas hanyalah contoh semata. Namun, dalam pengertiannya yang luas mencakup semua hal yang sifatnya bisa memuaskan dan membahagiakan.
Semoga kita tidak menjadi budak hawa nafsu seperti orang-orang di atas. Semoga pasca-Ramadhan ini kita menjadi insan yang 'kembali', yang menapaki hidup di rel-Nya. ''Wahai Tuhanku tolonglah aku agar selalu mengingat-Mu, selalu bersyukur kepada-Mu dan selalu bagus dalam beribadah kepada-Mu.'' (HR Abu Dawud).


**) Asep Sulhadi--Pusat Data Republika

Sabtu, 23 April 2016

JIHAD BAGI WANITA

Ibnu Abbas RA menuturkan, datang seorang wanita kepada Nabi SAW seraya berkata, “Sesungguhnya aku adalah duta kaum wanita untuk menghadapmu. Tidak ada seorang wanita di antara mereka, baik yang mengerti maupun tidak mengerti, melainkan dia akan merasa senang dengan kehadiranku di hadapanmu." 
Allah adalah Tuhan kaum laki-laki dan wanita, sedang engkau adalah Rasul Allah kepada kaum laki-laki dan wanita. Jihad telah diwajibkan kepada kaum laki-laki. Jika menang, mereka akan kaya. Jika gugur sebagai syahid, mereka tetap hidup di sisi Tuhannya. Lalu, adakah di antara amal-amal kaum wanita yang mampu menandingi hal itu?” 
Nabi SAW menjawab, “Menaati suami dan mengetahui hak-hak mereka (dapat menyamai jihad di jalan Allah), tetapi sedikit dari kalian yang melakukannya.” (HR Thabrani). 
Hadis di atas memberikan penjelasan bagi kaum wanita yang memiliki semangat untuk berjihad di jalan Allah SWT. Dan ternyata, jihad bagi kaum wanita itu cukup mudah dan hal itu tidak jauh dari rumah tangganya. 
Jihad bagi kaum wanita sebagaimana hadis di atas adalah taat kepada suami. Sebab, ketaatan seorang wanita (istri) kepada Allah tidak akan sempurna jika tanpa diikuti dengan ketaatan kepada suami, selama hal itu tidak bertentangan dengan syariat. 
Aisyah RA berkata, “Seandainya seorang wanita menaati Tuhannya dan menjaga kemaluannya, kemudian ia menyakiti suaminya dengan suatu kata, maka malaikat akan melaknatnya sepanjang malam.” (HR Baihaki).
Rasulullah SAW pernah berpesan kepada seorang sahabat dari kalangan kaum wanita agar taat suami karena surga dan neraka seorang wanita (istri) ada pada suaminya. Sabdanya, “Perhatikanlah posisimu dari dirinya karena sesungguhnya dia (suami) adalah surgamu dan nerakamu.” (HR Ahmad). 
Meski demikian, sebagai seorang laki-laki (suami), tidak boleh egois. Justru Rasulullah SAW berpesan khusus kepada kaum laki-laki agar memperlakukan kepada kaum wanita dengan lemah lembut. 
Rasulullah SAW bersabda, “Berpesanlah kebaikan kepada kaum wanita karena mereka tercipta dari tulang rusuk. Sesungguhnya yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika kalian berusaha meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Jika engkau membiarkannya, dia akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berpesanlah kebaikan kepada kaum wanita.” (HR Bukhari). 
Semoga Allah membimbing kita para wanita agar menjadi istri yang selalu taat kepada suami dan menjadi laki-laki (suami) yang dapat memperlakukan istri dengan lemah lembut. Amin. 

***)  Siti Mahmudah ---Republika online

Selasa, 19 April 2016

MEMELIHARA TAKWA

Suatu ketika, Abu Hurairah ditanya oleh seseorang, ''Wahai Abu Hurairah, apakah yang dimaksud dengan takwa itu?'' Abu Hurairah tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi memberikan satu ilustrasi.
''Pernahkah engkau melewati suatu jalan dan engkau melihat jalan itu penuh dengan duri? Bagaimana tindakanmu untuk melewatinya?'' Orang itu menjawab, ''Apabila aku melihat duri, maka aku menghindarinya dan berjalan di tempat yang tidak ada durinya, atau aku langkahi duri-duri itu, atau aku mundur.'' Abu Hurairah cepat berkata, ''Itulah dia takwa!'' (HR Ibnu Abi Dunya).
Kata takwa, menurut HAMKA dalam tafsirnya, Al-Azhar, diambil dari rumpun kata wiqayah yang berarti memelihara. Memelihara hubungan yang baik dengan Allah SWT. Memelihara jangan sampai terperosok kepada perbuatan yang tidak diridhai-Nya. Memelihara segala perintah-Nya supaya dapat dijalankan. Memelihara kaki jangan terperosok ke tempat yang penuh lumpur atau duri.
Takwa, dengan demikian, tidak dapat diartikan sebatas takut kepada Allah SWT. Rasa takut kepada Allah SWT adalah bagian kecil dari takwa. Menurut HAMKA lagi, dalam takwa terkandung cinta, kasih, harap, cemas, tawakal, ridha, dan sabar. Takwa adalah pelaksanaan dari iman dan amal saleh. Bahkan, dalam kata takwa terkandung juga arti berani.
Itulah kandungan takwa yang diilustrasikan Allah SWT. ''Itulah Alquran yang tidak ada satu pun keraguan di dalamnya. Ia adalah petunjuk bagi orang-orang bertakwa. Yaitu, mereka yang beriman kepada hal-hal gaib, mendirikan shalat, dan menyedekahkan sebagian harta yang mereka miliki dari rezeki Kami. Dan, juga mereka yang beriman dengan yang kami turunkan kepadamu wahai Muhammad, dan yang diturunkan kepada para nabi dan rasul sebelummu. Mereka juga beriman kepada akhirat. Itulah mereka yang mendapatkan petunjuk dari Tuhan mereka. Dan, mereka itulah orang-orang yang beruntung.'' (QS Al-Baqarah: 2-5).
Pada ayat yang lain, Allah SWT mengungkapkan makna takwa sebagai upaya pemeliharaan. ''Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan. Di dalamnya ada malaikat yang sangar dan keras. Mereka tidak pernah mendurhakai Allah. Justru, mereka selalu patuh menjalankan segala perintah Allah.'' (QS At-Tahrim: 6).
Maka, takwa, sebagai upaya pemeliharaan diri, harus terus-menerus terbenam dalam hati kita. Dengan bekal takwa, seseorang akan mampu mengontrol tingkah laku. Ia akan selalu menimbang apakah yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan rasul-Nya atau tidak. Jika takwa sudah menjadi baju dan bekal hidup seseorang, maka takwa akan menjadi gaya hidupnya.
Gaya hidup itulah yang kemudian terakumulasi menjadi suatu budaya. Yaitu, hasil budi daya manusia dalam mengembangkan dan menerapkan ketakwaan itu dalam kehidupannya. Allah SWT berfirman, ''Jika penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, maka Kami akan bukakan untuk mereka pintu-pintu keberkatan dari langit dan bumi.'' (QS Al-A'raf: 26). Wallahu a'lam bi as-Shawab.

***) Fajar Kurnianto

Sumber : Pusat Data Republika

Minggu, 10 April 2016

HAJI TUKANG SAPU

Ibnu Mubarak menceritakan bahwa setelah musim haji, ia bermimpi mendengar dialog antara dua malaikat tentang mereka yang telah menunaikan ibadah haji. Dalam dialog dua malaikat itu terungkap bahwa tidak satu pun dari ribuan jamaah haji musim ini yang hajinya diterima Allah, kecuali hajinya seorang tukang sapu yang tinggal di Kota Damsyik.
Karena penasaran dengan mimpinya, Ibnu Mubarak pun pergi ke Damsyik untuk mencari keberadaan orang tersebut. Setelah bertemu, ia langsung menanyakan tentang perjalanan hajinya. Maka, tukang sapu yang bernama Muwaffak menceritakan bahwa ia telah lama mengumpulkan uang guna melaksanakan ibadah haji.
Setelah terkumpul dan mulai mempersiapkan diri untuk keberangkatannya, tiba-tiba istrinya yang hamil muda (ngidam) menginginkan masakan daging yang bau lezatnya tercium dari rumah tetangganya.
Akhirnya, Muwaffak terpaksa mendatangi rumah tetangganya untuk meminta. Namun, jawaban yang didengar sangat mengejutkan, ''Daging ini halal untukku, tetapi haram untukmu.'' Sebab, daging yang dimasaknya itu adalah bangkai yang ditemukannya dalam perjalanan setelah lama berjalan ke sana ke mari mencari makanan untuk dirinya dan anak yatim yang telah beberapa hari tidak makan.
Mendengar kisah janda tersebut, hatinya terhenyak. Muwaffak segera pulang mengambil seluruh bekal yang telah lama ia persiapkan untuk keberangkatan haji. Dengan penuh keyakinan, ia berucap, ''Hajiku cukup di depan rumah.''
Tidak lama kemudian, Muwaffak dengan ditemani istrinya mendatangi tetangganya yang tengah didera lapar untuk memberikan uang simpanannya ditambah beberapa potong roti. ''Kami telah berbuat zalim, membiarkan tetangga yang tinggalnya tidak seberapa jauh, hidup dalam kelaparan. Maafkan kami,'' pintanya dengan penuh rasa bersalah.
Kisah ini jauh dari maksud merendahkan keutamaan pergi berhaji. Ini hanya sebuah renungan sebelum menentukan wajib tidaknya pergi berhaji bagi seseorang, terutama bila mengingat situasi dan kondisi sekitarnya, lebih lagi di tengah masyarakat yang cenderung memaksakan diri untuk pergi berhaji bahkan ada berkali-kali. Kepergiannya tidak benar-benar dalam rangka memenuhi panggilan Allah, melainkan untuk rekreasi, bertujuan politik, berdagang, dan lain-lain.
Rasulullah SAW dalam sebuah sabdanya pernah mensinyalir bahwa kelak di akhir zaman akan muncul empat macam orang-orang yang berhaji dengan berbagai motivasinya. Para pemimpin berhaji untuk rekreasi, orang-orang kaya untuk berdagang, orang-orang miskin untuk meminta-minta, dan para pembaca Alquran untuk mencari popularitas.
Mereka yang berhaji dengan berbagai niatan ini jika dibandingkan dengan tamu-tamu Allah yang ikhlas bagaikan tamu-tamu yang tak diundang. Kehadirannya tidak membawa perubahan apa-apa, kecuali sebutan Pak Haji dan Bu Hajah.


***) Muhammad Bajuri  --Pusat Data Republika

Sabtu, 09 April 2016

ORANG-ORANG YANG DIBENCI

Dalam Kitab Riyadhush-Shalihin, Imam an-Nawawi menukil sebuah hadis yang diriwayatkan Imam At-Turmudzi dari Jabir RA. Pada suatu kesempatan, Nabi SAW berkumpul dengan sahabatnya, lalu memberi petuah yang menggetarkan hati.
“Sesungguhnya, yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada Hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan, sungguh yang paling aku benci di antara kalian dan paling jauh duduknya denganku pada Hari Kiamat adalah al-tsatsaruun dan al-mutasyaddiquun serta al-mutafaihiquun," sabda Rasulullah SAW.
Lalu para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, Kami mengerti al-tsartsaruun dan al-mutasyaddiquun. Tapi, siapakah al-mutafaihiquun itu?” Beliau SAW menjawab, “al-mutakabbiruun."
Melalui hadis ini, Nabi SAW hendak mengingatkan umatnya akan tiga perkara yang paling dibencinya karena termasuk akhlak al-mazmumah (perilaku buruk) yakni: Pertama, al-tsartsaruun (orang yang banyak celoteh dan suka membual).
Golongan pertama yang dibenci Nabi SAW adalah pembual atau pendusta yang banyak cakap dan lagunya, serta pandai pula bersilat lidah. Kadang disertai argumentasi logis dan yuridis, namun mengandung kebohongan dan tipuan. Kalau bicara seenaknya, kurang menjaga adab dan menyela pembicaraan.
Nabi SAW berpesan, “Katakanlah yang baik atau diam.” (HR Bukhari). Banyak kata tapi sedikit makna dan tidak sesuai fakta. Mereka itulah orang-orang munafik yang apabila berkata ia dusta, bila berjanji diingkari dan bila dipercaya dikhianati (HR. Bukhari). Jangan percaya kepada orang yang banyak cakap, tapi minim amal atau tidak sesuai dengan lakunya (QS [61]:2-3).
Kedua, al-mutasyaddiquun (Orang yang suka bicara berlebihan kepada orang lain). Golongan kedua yang dibenci Nabi SAW adalah orang berlagak fasih dengan tata bahasa yang menakjubkan. Jika bicara, bumbunya berlebihan hingga tak sesuai kenyaataan.
Lihai dalam bertutur kata, tapi hanya ingin dapat pujian. Tidak jarang pula, bahasanya indah namun berbisa (menghinakan). Susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah.
Dalam diri manusia ada hati (wadah), akal (pengendali) dan hawa nafsu (keinginan). Jika hati kotor maka yang keluar dari lisan pun kotor. Jika baik maka yang keluar dari ucapan juga baik (QS [91]:8-10). Alquran menyindir manusia yang perkataannya menarik, tetapi palsu belaka (QS [2]:204, [22]:30).
Ketiga, al-mutafaihiquun (Orang yang suka membesarkan diri). Golongan ketiga yang sangat dibenci Nabi SAW yakni orang sombong atau angkuh. Kesombongan pertama adalah ketika Iblis menolak sujud kepada Nabi Adam AS, lalu ia pun dikeluarkan dari surga (QS [5]:29-35).
Fir’aun yang mengaku Tuhan (QS [79]:23-25,[28]:38), akhirnya ditenggelamkan di Laut Merah. Qarun yang pongah karena harta kekayaannya (QS [28]:76-82), dilenyapkan ke perut bumi. Raja Namrudz yang menyetarakan diri dengan Allah SWT. (QS [2]:258), justru dimatikan oleh seekor nyamuk.
Nasihat Imam Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam perlu kita renungi, "Kemaksiatan yang menimbulkan rasa hina dan penyesalan, lebih baik dari ketaatan yang melahirkan bangga dan kesombongan."
Tetaplah rendah hati, karena keangkuhan adalah awal dari semua kejatuhan. Jangan sombong di depan orang tawadhu, nanti kau dipermalukan. Jangan pula rendah hati di depan orang sombong, nanti kau dihinakan. Allahu a’lam bish-shawab. 

***) Dr Hasan Basri Tanjung—(Republika Online)

Selasa, 05 April 2016

KEBERHASILAN YANG MEMBAHAGIAKAN

Keberhasilan adalah hal yang sangat membahagiakan. Orang yang berusaha pastilah mendambakan sebuah keberhasilan. Seseorang yang sedang menuntut ilmu (thalab al-ilmi) menginginkan keberhasilan dalam belajarnya. Seorang petani yang sedang menanam padi mengharapkan panen yang sangat melimpah. Seorang yang sedang ditimpa cobaan ataupun musibah pastilah menginginkan keberhasilan dalam melewati musibah maupun cobaan tersebut. 
Kita bisa belajar dari kisah Nabi Ayub AS yang diberi cobaan oleh Allah berupa penyakit. Kemudian, beliau menyeru kepada Sang Khalik, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang". (QS 21:83). Karena kesabarannya maka Allah memperkenankan seruan Nabi Ayub AS. Kemudian, Allah SWT melenyapkan penyakit yang ada padanya dan Allah kembalikan keluarganya, bahkan Allah lipat gandakan jumlah mereka sebagai suatu rahmat dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.
Kita juga bisa mengambil ibrah dari kisah Nabi Zakaria AS tatkala ia berdoa kepada Allah SWT dengan suara yang lembut. "Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, wahai Tuhanku, sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku". (QS 19: 4-5). Yaitu, orang-orang yang akan mengendalikan dan melanjutkan urusan sepeninggalnya. 

Saat itu, Nabi Zakaria AS mengkhawatirkan kalau mereka tidak dapat melaksanakan urusan itu dengan baik karena tidak seorang pun di antara mereka yang dapat dipercayainya. Nabi Zakaria AS pun meminta dianugerahi seorang anak sedangkan istrinya adalah seorang yang mandul. Kemudian beliau berdoa, "Wahai Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling baik".(QS 21: 89). Berkat kesabaran dan ketawakalannya maka Allah mengabulkan doa Nabi Zakaria dengan memberikannya keturunan, yaitu seorang anak laki-laki bernama Yahya, padahal ia sudah tua renta dan istrinya pun sudah divonis mandul.
Dari kisah di atas dapat diambil benang merah bahwa para nabi tersebut dapat melewati cobaan maupun ujian dari Allah dengan tiga kunci. Hal ini termaktub dalam surah al-Anbiyâ (21) ayat 90, "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada kami." (QS al-Anbiya: 90).
Pertama, berusaha optimal. Usaha merupakan langkah awal menuju keberhasilan. Usaha juga merupakan tolok ukur sebuah keberhasilan. Semakin keras usahanya maka akan semakin dekat menuju keberhasilan. Bukankah Allah tidak akan mengubah suatu kaum hingga kaum tersebut berusaha mengubah ke arah yang lebih baik? Artinya, ketika kita menginginkan keberhasilan dalam sesuatu maka usaha maksimal nan optimal adalah mutlak dilaksanakan.
Kedua, berdoa paripurna. Doa merupakan penguat usaha yang dilakukan. Usaha yang optimal tidak akan kuat tanpa diikat oleh doa. Hendaknya kita berdoa secara paripurna, yaitu dengan penuh harap dan cemas. Meyakini bahwa Allah akan mengabulkan doa yang kita panjatkan. (QS al-Baqarah [2]: 186).
Ketiga, bertawakal penuh. Berusaha dan berdoa harus dibarengi dengan sebuah ketawakalan. Tawakal merupakan wujud ketauhidan kita kepada Allah SWT. Allahlah yang menentukan segala sesuatunya sehingga ketika kita mengalami kegagalan maka kita akan dapat berlapang dada. Karena, semuanya berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Wallahu a'lam.

***)Muhammad Fahri (Republika Online

Sabtu, 02 April 2016

HASAD, API YANG MENGHANGUSKAN KAYU BAKAR

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jauhilah hasad (dengki), karena hasad akan menghanguskan kebaikan-kebaikan sebagaimana api menghanguskan kayu bakar." (HR Abu Dawud)
Hasad atau dengki adalah menginginkan nikmat yang dimiliki orang lain dan menghendaki nikmat tersebut berpindah kepada dirinya. Hasad berawal dari sikap tidak menerima nikmat yang diberikan Allah kepadanya, karena ia melihat orang lain diberi nikmat yang dianggap lebih besar. Hasad pun bisa timbul bila seseorang menganggap dirinya lebih berhak mendapatkan nikmat dibanding orang lain.
Dalam Alquran disebutkan tentang sikap sebagian ahli kitab terhadap Rasulullah SAW. "Ataukah mereka hasad (dengki) kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar." (QS An-Nisa [4]: 54).
Dampak hasad sungguh luar biasa. Hadis yang diriwayatkan Abu Dawud tersebut menyebutkan bahwa hasad bisa menghancurkan seluruh catatan amal saleh. Hasad pun bisa menimbulkan kebencian, sehingga ia sulit berbuat kebaikan pada orang yang ia dengki. Pada saat yang sama ia pun akan sulit menerima kebaikan yang diberikan orang itu.
Orang yang hasad akan letih. Sebabnya, ia tidak pernah puas dengan nikmat yang telah Allah karuniakan. Pikirannya pun akan tumpul, karena selalu memikirkan kenikmatan orang lain. Bila hasadnya memuncak, bisa saja ia berbuat apapun untuk menghilangkan kenikmatan orang lain, termasuk mencurinya. Dampak terpaling besar adalah hancurnya tali persaudaraan dan tumbuh suburnya kebencian. Padahal, persaudaraan adalah kekuatan kedua umat Islam setelah akidah.
Walaupun demikian, tidak semua hasad dilarang. Rasulullah Saw. bersabda, "Tidak boleh dengki kecuali kepada dua hal. Kepada orang yang diberi ilmu Alquran oleh Allah, lalu ia mengamalkannya siang dan malam dan kepada orang yang diberi harta, lalu menginfaqkannya siang dan malam" (HR Bukhari). Hasad di sini berarti adanya keinginan kuat untuk meneladaninya, bukan menginginkan hilangnya kenikmatan tersebut.
Musthafa Al-Buqha membagi tipe orang hasad ke dalam tiga bagian. Pertama, orang yang berusaha agar nikmat orang lain hilang, yang dilakukannya melalui ucapan atau tindakan. Dari golongan ini ada yang berusaha agar nikmat tersebut pindah kepadanya, ada juga yang tidak.
Kedua, orang yang tidak mengungkapkan hasad-nya, baik melalui ucapan atau tindakan. Ia memendam hasad-nya. Menurut Hasan Al-Bashri, golongan ini tidak berdosa. Ketiga, orang yang berusaha menghilangkan hasad yang ada di dalam hatinya dan berbuat baik terhadap orang yang ia dengki. Bahkan ia ganti hasadnya dengan cinta. Inilah orang yang paling mulia.
Seorang Muslim harus berlindung dari sifat hasad dan juga dari orang-orang yang hasad. Allah SWT berfirman, Dan (aku berlindung kepada Rabb penguasa Subuh) dari kejahatan orang yang hasad apabila ia hasad (QS Al-Falaq [113]: 5). Wallahu a'lam bish shawab.


Sumber : Pusat Data Republika

Kamis, 31 Maret 2016

GENERASI PENERUS & KEPEMIMPINAN

Beberapa ayat Alquran di awal surat Maryam mengisahkan Nabi Zakaria yang mengkhawatirkan generasi di belakangnya. Dengan suara lembut Zakaria bermunajat kepada Allah SWT menuturkan kondisi tulang belulangnya yang telah lemah, rambutnya yang telah bertabur uban, dan istrinya yang mandul. Zakaria menginginkan anak untuk menjadi ahli waris perjuangannya.
Seperti permohonan sebelumnya, permohonannya yang satu inipun dikabulkan Allah SWT. Nabi Zakaria memperoleh seorang anak yang diberi nama Yahya, suatu nama yang belum pernah dipakai orang sebelumnya. Yang artinya hidup, berarti kehidupan Yahya akan melanjutkan kehidupan generasi yang semula diduga akan terputus.
Nabi Zakaria merasa beruntung, karena anaknya Yahya memegang erat Kitab Allah, dia diberi hikmah sejak kecil, memiliki sifat belas kasihan dan kesucian, serta memelihara diri (takwa), berbuat baik kepada ibu bapaknya, jauh dari kesombongan dan kedurhakaan. Yahya memperoleh kesejahteraan di waktu lahir, di hari wafatnya, hingga hari berbangkit nanti.
Kisah Nabi Zakaria di atas menggambarkan sikap semua tokoh Islam yang menginginkan suksesi pemimpin umat. Keinginan mempunyai generasi penerus sebuah jeritan batin yang kadangkala disertai rintihan dan tetesan air mata. Harapan untuk terwujudnya suksesi itu biasanya muncul ketika pemimpin umat telah panjang umur, kulit telah kendur, gigi telah mulai gugur, mata mulai kabur, di kepala uban bertabur, dan sudah hampir ke liang kubur.
Upaya mendapatkan suksesi itu sebaiknya diiringi dengan kegiatan pembinaan dan bimbingan, meliputi pembinaan akidah dan kemauan beramal, seperti yang dicontohkan Nabi Ibrahim kepada anaknya Ismail. Firman-Nya, ''Dan ketika Ibrahim dan Ismail meninggikan sendi Baitullah (keduanya berdoa), 'Oh Tuhan kami! Terimalah dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Oh Tuhan kami! Jadikanlah kami berdua orang yang patuh kepada Engkau dan jadikanlah dari keturunan kami umat yang patuh juga kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara beribadah dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Penerima Tobat dan Penyayang'.'' (Al-Baqarah: 127-128).
Kerja keras Ibrahim meletakkan dan meninggikan sendi-sendi Baitullah dengan melibatkan anaknya Ismail adalah sebuah ibadah besar yang berhubungan dengan tauhid, serta berisi dimensi pembinaan dan bimbingan dari seorang pemimpin umat kepada generasi penerusnya. Hingga kini dan insya Allah sampai akhir masa, kerja keras mereka berdua dirasakan bermanfaat besar buat kelangsungan ibadah umat Islam di seluruh penjuru dunia.
Sejalan dengan itu, umat Islam pun diajar memohon kepada Allah untuk mendapatkan suksesi pemimpin umat yang sekaligus merupakan kriteria seorang hamba Allah Tuhan Yang Maha Pengasih.
Firman-Nya, ''Dan mereka (hamba Allah Yang Maha Pengasih) berkata, 'Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami istri dan anak cucu yang menjadi penyejuk mata dan jadikanlah kami pemimpin orang yang bertakwa'.'' (Al-Furqan: 74). Wallahu a'lam.

Sumber : Pusat Data Republika

Kamis, 24 Maret 2016

WUDHU RASULULLAH TAK HANYA UNTUK SHALAT

Sungguh indah Islam. Betapa tidak, awal mula yang diajarkan dalam ibadah adalah tentang kesucian (thaharah), meliputi kesucian badan, pakaian, maupun tempat untuk ibadah. Baik kesucian dari hadats, maupun dari segala najis. Kesemuanya ini sebagai ritual seorang hamba ketika akan menghadap Rabb-nya yaitu dengan keadaan yang benar-benar suci.
Wudhu adalah satu cara seorang hamba menyucikan diri dari hadats kecil. Berwudhu wajib dilakukan bagi orang yang hendak menunaikan shalat karena termasuk syarat sahnya.
Rasul berkata melalui riwayat Tirmidzi, ''Kuncinya surga adalah shalat dan kuncinya shalat adalah wudhu,'' dan riwayat Imam Ahmad, ''Tidaklah dianggap shalat bagi orang yang tidak berwudhu.''
Namun, Rasulullah melakukan wudhu tidaklah hanya ketika akan melaksanakan shalat. Beliau selalu mendawamkan wudhu dalam kesehariannya, yaitu senantiasa menjaga kesucian dengan cara selalu memperbarui wudhu ketika beliau hadats.
Kesunahan ini sangat dianjurkan. Sebuah pesan ajakan ittiba' ini terekam dari perkataannya, ''Sesungguhnya umatku akan datang pada hari kiamat dengan tanda ghurra yang bersinar (di wajahnya) karena atsar (bekas) dari wudhu. Barang siapa yang mampu untuk memperpanjang ghurra tersebut, maka lakukanlah.'' (HR Muslim dari Abu Huraiah).


Sumber : Pusat Data Republika

Selasa, 22 Maret 2016

RASULULLAH PUN BISA LUPA

Mengutip salah satu hadis dari kitab al-Muwattha'(karya Imam Malik), Ibnu Taymiyyah mengungkapkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah lupa.
Pernyataan ini sejalan dengan kisah yang termuat dalam kitab Minhaj al-Sunnah jilid 1. Di situ diceritakan bahwa saat shalat wajib empat rakaat, Nabi lupa menunaikannya dengan jumlah rakaat berlebih. Hanya, tidak ditegaskan apakah shalat wajib empat rakaat itu Zhuhur, Ashar, atau Isya.
Selesai shalat, beberapa sahabat bertanya, ''Wahai Rasulullah, apakah memang ditambah rakaat dalam shalat itu?'' Nabi balik bertanya, ''Apa yang terjadi?'' Mereka menjawab, ''Engkau ya Rasulullah, melakukan shalat lima rakaat.'' Maka, dengan amat bijaksana Rasulullah SAW menjawab, ''Sesungguhnya aku hanyalah manusia. Aku dapat lupa, sebagaimana kamu semua dapat lupa. Maka jika aku lupa, ingatkanlah aku.'' (HR Bukhari-Muslim dalam kitab al-Shahihayn).
Hadis tersebut menjelaskan, kelupaan Nabi ini merupakan sifatnya sebagai manusia biasa. Bukan berarti lupa yang ada pada diri Nabi itu merupakan sesuatu yang rutin. Ini hanya "pelajaran" untuk menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia seperti kita. Beliau makan, minum, beristri, bekerja, dan sebagainya. Sifatnya ini disebut basyariah (kemanusiaan) Nabi.
Nabi yang merupakan seorang pemimpin meminta para sahabatnya untuk segera mengingatkan jika beliau lupa. Saat ini, banyak sekali pemimpin kita yang terkena penyakit lupa. Saat berkampanye, mereka mengumbar janji. Namun, setelah terpilih, ia seolah-olah melupakan janjinya. Masyarakat yang sudah telanjur memegang janji pun menjadi kecewa. Maka, wajar jika masyarakat kemudian mencoba mengingatkan pemimpinnya lewat dialog ataupun unjuk rasa.

Sumber : Pusat Data Republika

Sabtu, 27 Februari 2016

KEIKHLASAN GURU

"Saya ikhlas jadi guru. Percayalah tujuan saya ikhlas, hanya ingin mengajar dan mendidik murid-murid." Benarkah rasa ikhlas bisa ditakar lewat kata-kata? Ikhlas itu amalan hati, tak perlu disebut dengan kata-kata. Bisa jadi saat bilang ikhlas, itulah tanda ketidakikhlasan. Karena, ikhlas tersimpan di lubuk hati terdalam maka hanya Allah SWT saja yang pasti mengetahui ikhlas tidaknya seseorang dalam beramal (QS at-Taghabun: 4).
Siapa guru yang ikhlas itu? Ali bin Abi Thalib RA berkata, "Orang yang ikhlas adalah orang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima Allah SWT." Bahkan, seorang ulama mukhlisin, Ayyub As-Sakhtiyaany RA, mengatakan, "Demi Allah, tiadalah seorang hamba yang benar-benar ikhlas kepada Allah, melainkan ia merasa senang apabila dirinya seolah-olah tidak mengetahui kedudukan dirinya." Guru yang ikhlas paham dan sadar bahwa segala amal perbuatannya mesti bersih dari sikap riya, dan hanya diniatkan untuk mendapatkan ridha Allah SWT semata.
Tidak ikhlas berarti tidak ada ruhnya dalam suatu amalan. Karena, ikhlas merupakan ruh dan syarat diterimanya amal seorang guru. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat (menilai) bentuk tubuh serta kemolekan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan yang bersemayam dalam lubuk hatimu." (HR Bukhari dan Muslim).
Ada beberapa ciri keikhlasan seorang guru. Pertama, guru berbuat baik bukan karena ingin dipuji, hendak cari nama, atau mendapatkan penghargaan. Dipuji, dihargai, atau bahkan dicaci, sama saja bagi seorang guru yang ikhlas. Yang penting ridha Allah SWT, itu sudah cukup. Guru ikhlas tak silau pujian dari manusia. Oleh karena itu, guru yang ikhlas tak bisa diperbudak penghargaan dalam bentuk perkataan, perhatian, pemberian fasilitas dan tanda jasa, dan lain sebagainya. Firman Allah SWT, "Dan, apa saja harta yang kamu nafkahkan maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan, janganlah kamu membelanjakan (harta) untuk tujuan selain mencari keridhaan Allah semata." (QS al-Baqarah: 272).
Kedua, ikhlas itu tidak pamrih. Amalan seorang guru dikategorikan ikhlas jika dalam melaksanakan amalnya ia tidak mengharapkan untuk mendapatkan sesuatu, seperti pangkat, jabatan, atau kedudukan (QS al-Insan: 9). Guru ikhlas yakin setiap orang akan dinilai dari tanggung jawab terhadap amanah yang diembannya. Maka, guru yang ikhlas tak ujub karena pangkat dan kedudukannya, dan tak rendah diri pula karena tak punya posisi dan jabatan yang tinggi.
Ketiga, guru ikhlas konsisten berbuat baik dan memiliki perasaan nikmat dalam berbuat kebajikan. Guru yang ikhlas akan sibuk beramal baik meskipun membutuhkan pengorbanan harta, pikiran, tenaga, bahkan nyawa sekali pun. Karena baginya, semua amal baik itu adalah investasi terbaik untuk kehidupan di akhirat kelak. Firman Allah SWT, "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan amal kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS al-Anbiya: 90).
Ikhlas adalah sifat baik yang mudah diucap tapi sulit dilakukan. Disiplin saat di depan murid dan kepala sekolah, tetapi tidak peduli waktu saat sendiri. Berapi-api saat menyuruh murid belajar, tapi guru sendiri malas belajar. Dipuji senang, ditegur tidak terima dan sempitlah dada. Senang melihat guru lain susah dan susah melihat guru lain senang. Tanya pada nurani, sudahkah kita jadi pribadi guru yang ikhlas? Wallahu a'lam.


***) Asep Sapa'at  (Republika Online)

Minggu, 31 Januari 2016

KASIH SAYANG ALLAH

Suatu hari, Rasulullah SAW dan para sahabat berjalan di tengah padang pasir. Saat itu, panas sinar matahari terasa menyengat, seolah membakar tubuh, bahkan menelusup menembus ke lapisan kulit.
Tiba-tiba, seorang ibu tampak sedang menggendong bayinya. Sang ibu dengan penuh perhatian mendekap buah hatinya. Ia berusaha melindungi bayinya agar tak terkena panas matahari.
Melihat pemandangan ini, Rasulullah menghentikan langkah para sahabatnya. Seolah mendapat tamsil kasus yang tepat, beliau bertanya, "Wahai para sahabatku, akankah ibu itu melemparkan bayinya ke dalam api yang membara?" Para sahabat menjawab serentak, "Tidak mungkin, wahai Rasulullah."
Kemudian, Rasulullah bersabda, "Ketahuilah, kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kasih sayang ibu itu terhadap bayinya. Dia-lah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim!" (HR Bukhari-Muslim).
Kisah di atas mengajarkan bahwa sifat Allah yang khusus diberikan kepada orang-orang beriman pada hari akhir adalah ar-Rahman dan ar-Rahim. Kedua asma Allah ini (ar-Rahman dan ar-Rahim) berasal dari kata arrahmah. Menurut Ibnu Faris, seorang ahli bahasa bahwa semua kata yang terdiri dari hurufra, ha, dan mim mengandung makna “lemah lembut, kasih sayang, dan kehalusan.”
Kata ar-Rahman berasal dari kata sifat dalam bahasa Arab yang berakar dari kata kerja ra-ha-ma/, artinya ialah penyayang, pengasih, pencinta, pelindung, pengayom, dan para mufasir memberi penjelasan bahwa ar-Rahman dapat diartikan sebagai sifat kasih Allah pada seluruh makhluk-Nya di dunia, baik manusia beriman atau kafir, binatang, dan tumbuh-tumbuhan serta makhluk lainnya.
Dengan kasih-Nya ini, Sang Khalik mencukupkan semua kebutuhan hidup makhluk di alam semesta. Hanya saja, limpahan kasih ini hanya diberikan Allah pada semua mahluk selama hidup di dunia, di akhirat kelak kasih sayang ini hanya diberikan kepada orang beriman yang menjadi penghuni surga.
Sementara itu, ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) di dalam Alquran, Allah mengulangi kata ini sebanyak 228 kali, jauh lebih banyak dari asma Allah, ar-Rahman yang hanya disebutkan sebanyak 171 kali. Jika kata ar-Rahman sifatnya berlaku untuk seluruh manusia maka kata yang kedua ar-Rahim, sifat-Nya yang hanya berlaku pada situasi khusus dan untuk kaum tertentu semata.
Rahim juga disebut sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya janin. Di alam rahim inilah bermulanya kehidupan. Di alam rahim kehidupan ideal kita dijaga dan dipelihara. Bahkan, di alam rahim pula, setiap manusia dipersaksikan “apa dan ke mana” tujuan hidupnya.
Maka, tak heran apabila bayi dilahirkan, ia akan menangis, karena meninggalkan rahim yang melimpahkan sayang dan rasa aman. Di dalam sifat rahim Allah, kita akan hidup dengan aman, nyaman, penuh kemuliaan, sentosa, dan penuh keberkahan.
Maka, sebutlah nama-nama Tuhan yang indah, dalam setiap awal doa dan permintaan. Mereka yang selalu membasahi bibirnya dengan kata, ar-Rahman dan ar-Rahim, maka Allah akan melimpahkan  kasih sayang-Nya yang tak terbatas. Siapa saja dikasihi dan disayangi Allah. Maka, tak satu pun makhluk di dunia memiliki alasan untuk membenci kecuali mereka yang telah dikuasai nafsu angkara murka.


***) Dadang Kahmad

Kamis, 14 Januari 2016

15 HIKMAH SAKIT

1. Sakit itu dzikrullah
Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma ALLAH di banding ketika dalam sehatnya.
2. Sakit itu istighfar
Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit, sehingga lisan terbimbing untuk mohon ampun.
3. Sakit itu tauhid
Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thoyyibat yang akan terus digetar?
4. Sakit itu muhasabah
Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali.
5. Sakit itu jihad
Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah, di wajibkan terus berikhtiar, berjuang demi kesembuhannya.
6. Bahkan Sakit itu ilmu
Bukankah ketika sakit, dia akan memeriksa, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit.
7. Sakit itu nasihat
Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri, yang sehat hibur si sakit agar mau bersabar, ALLAH cinta dan sayang keduanya.
8. Sakit itu silaturrahim
Saat jenguk, bukankah keluarga yang jarang datang akhirnya datang membesuk, penuh senyum dan rindu mesra? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah.
9. Sakit itu gugur dosa
Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan yang sakit dinyerikan dan di cuci-Nya.
10. Sakit itu mustajab do’a
Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta dido’akan oleh yang sakit.
11. Sakit itu salah satu keadaan yang menyulitkan syaitan, di ajak maksiat tak mampu tak mau, dosa lalu malah disesali kemudian diampuni.
12. Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis, satu sikap keinsyafan yang disukai Nabi dan para makhluk langit.
13. Sakit meningkatkan kualitas ibadah, rukuk-sujud lebih khusyuk, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyyat-do’a jadi lebih lama.
14. Sakit itu memperbaiki akhlak, kesombongan terkikis, sifat tamak di paksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu.
15. Dan pada akhirnya sakit membawa kita untuk selalu ingat mati, mengingat mati dan bersiap amal untuk menyambutnya, adalah pendongkrak derajat ketaqwaan.
Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa memberi kesembuhan atas penyakit yang saat ini sahabatku derita dan Allah berikan kemudahan untuk mengambil hikmahnya.
(Da'wah, hidayah, hikmah, kebesaran, keyakinan, sabar, syukur, takwa., )


***)Sumber: Salingsapa

Rabu, 16 Desember 2015

PECINTA AMAL YAUMIYAH

Hidup di dunia ini sungguh sekejap saja. Sementara, kesempatan mengumpulkan bekal teramat sebentar. Kita akan hidup selama-lamanya, tidak akan ada akhir lagi, yaitu kelak nanti di akhirat. Dan, hamba Allah yang beriman pasti akan menyibukkan diri dengan amal ketaatan supaya di kehidupan nanti mendapatkan kebahagiaan yang sempurna.
Salah satu amal ketaatan seorang hamba itu adalah bersemangat dalam menghidupkan ihyaaus sunnah. Tiada waktu, hari, jam, menit, detik berlalu kecuali bernilai ibadah, amal saleh, manfaat, dan mencari perbekalan terbaik di akhirat. Karena itulah, ia hidupkan sunah harian Rasulullah SAW.
Gambaran indah amal yaumiyah (amal sunah harian Nabi SAW) adalah bermula ketika hendak tidur. Ia pasti akan tidur lebih awal karena kerinduannya bangun di tengah malam. Saat terjaga, ia bersegera membangunkan keluarga dan sahabatnya untuk menikmati indahnya shalat malam.
Pencinta amal yaumiyah Nabi SAW pasti tidak akan pernah beranjak dari Tahajud kecuali setelah membaca istighfar dengan bilangan yang banyak, dilanjutkan tadabur Alquran. Lalu, dengan hati gembira, ia melangkah dengan kaki diayun untuk berjamaah Subuh di masjid.
Kemudian, ia biasakan tidak keluar dari masjid kecuali ikut kajian ilmu dan zikir hingga waktu shalat sunah Isyraq. Dan, pagi pun menjelang. Ia tidak akan keluar rumah untuk ikhtiar yang halal kecuali diiringi doa, pamit kepada keluarga dengan ciuman, lambaian salam dan terjaga selalu wudhunya. Hatinya pun selalu terpaut zikir kepada Allah SWT.
Dalam beraktvitas selalu dengan belas kasih, rendah hati, murah senyum, ringan tangan, penebar salam dan salaman, bersih-wangi bersahaja dengan sesederhana mungkin penampilannya. Hal ini terbaca dari isyarat mata, tubuh, dan penampilannya yang tidak sombong. Bicaranya santun dan selalu berbaik sangka pada setiap takdir-Nya, jauh dari sifat dengki.
Tiba waktu Zhuhur atau Ashar, maka shalatnya pasti tepat waktu dan berjamaah. Ia tidak sungkan untuk memulai dan mendatangi serta menjulurkan tangan silaturahim. Diam-diam hatinya berdoa untuk keluarganya, negerinya, saudara-saudaranya yang tertindas, seperti di Palestina, Afghanistan, Irak, Suriah, Mesir, Yaman, Rohingya. Bahkan, terhadap mereka yang berbeda keyakinan, doa pun dipanjatkannya agar Allah SWT memberi hidayah.
Kepada siapa pun yang dijumpai, ia selalu ingatkan tentang dahsyatnya kehidupan akhirat tanpa merasa dirinya paling suci. Dan, puncaknya bermuhasabah diri, sama sekali tidak tertarik membahas, apalagi mencari aib saudaranya. Inilah amal ringan, tapi padat penuh makna.
Orang beriman akan menjadikan tiada waktu yang sia-sia. Fokus dalam ketaatan yang prima dengan menjaga amal yaumiyah. Semoga Allah SWT terus dan terus membimbing kita semangat beriman dan beramal saleh hingga wafat dalam keridhaan-Nya. Aamiin.
(Da'wah, hidayah, hikmah, kebesaran, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Ustaz Arifin Ilham

Jumat, 04 Desember 2015

MENASEHATI ITU ANJURAN AGAMA

Dikisahkan bahwa seseorang datang menasihati khalifah al-Makmun dengan cara yang lantang dan tidak santun. Khalifah lalu menimpalinya.
"Orang yang lebih baik darimu pernah datang memberi peringatan kepada orang yang lebih buruk dariku. Sesungguhnya Nabi Musa dan Nabi Harun Alaihimassalam diutus Allah kepada Firaun dengan seruan, 'Maka berkatalah kepadanya (Firaun) dengan qaulan layyinan (ucapan yang lembut).'" (QS Taha [20]: 44).
Nasihat dalam hidup ini sangat diperlukan. Dengan nasihat, seseorang bisa mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan, apa kekurangan, dan bagaimana seharusnya. Seseorang membutuhkan saran dari orang lain agar menjadi lebih baik. Sebab, manusia tidak bisa melakukan apa pun sendiri, melainkan butuh nasihat, saran, atau masukan dari orang lain.
Dalam menasihati seseorang hendaklah memilih bahasa yang santun dan lembut. Sering kali orang menggunakan kalimat yang tidak tepat lagi berintonasi tinggi dalam menegur orang lain. Hal ini tentu memberi kesan tidak baik. Menasihati berbeda dengan marah-marah meski tujuannya kadang sama.
Nasihat dengan menggunakan bahasa yang kasar, nada meninggi, sikap tidak santun, dan terkesan menantang debat otomatis tidak akan mudah diterima oleh orang yang dinasihati meski kesalahannya itu nyata dan benar adanya. Kesantunan berbahasa dan kearifan sikap sangat berpengaruh diterima atau tidaknya nasihat itu. Jadi, pemberi nasihat harus cerdas memilah dan memilih bahasa yang tepat.
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziah menyebut perbedaan antara menasihati dan mempermalukan. Menurut beliau, menasihati itu berlaku adil dan ihsan kepada yang dinasihati, menampakkan kasih sayang kepadanya, tidak sudi melihat saudaranya melakukan kesalahan. Niatnya hanya mencari keridhaan Allah. Dia berlaku layaknya seorang dokter yang mengetahui sakitnya pasien lalu menentukan obat yang tepat agar pasiennya lekas sembuh.
Adapun mempermalukan seseorang itu niatnya mengubah sambil menghinakan, mencela orang yang diperingatinya. Celaannya berbentuk nasihat. Dia berkata padanya, "Hai engkau, mengapa berbuat begini begitu? Hai, celaka engkau, tercelalah dirimu," sambil pura-pura menasihati.
Di antara adab memberi nasihat, hendaklah ketika menasihati ia dalam keadaan sendirian. Sebab, barang siapa yang menutupi kesalahan saudaranya, Allah akan menutupi kekurangannya di dunia akhirat.
Ini perkara sulit karena semua menyadari jika menasihati di hadapan banyak orang maka pemberi nasihat akan terlihat pintar, arif, dan ahli, tetapi orang yang dinasihati tentu merasakan hal berbeda. Dia pasti merasa malu, tidak enak, bahkan mungkin dongkol.
Berkata Imam as-Syafi'i, "Barang siapa menasihati saudaranya secara rahasia, maka ia telah benar-benar menasihatinya dan memuliakannya. Dan siapa yang menasihatinya secara terang-terangan, maka ia telah menistakan dan memalukannya."
Seseorang itu harus siap dipuji dan sebaliknya siap pula diberi masukan atau dikritik sekalipun. Bila pujian itu sering subjektif dengan menyebut kebaikan yang kadang dilebih-lebihkan, teguran atau kritikan itu adalah menyampaikan kekurangannya, kesalahannya, baik sikap maupun tata cara. Dengan itu dia bisa memperbaiki diri. Bisa meminimalkan kekeliruannya dengan tidak mengulang lagi di kemudian hari.
Demikianlah, menasihati itu adalah anjuran agama. Itu juga bagian dari amar makruf nahi mungkar. Kepedulian seseorang dengan datang menasihatinya menandakan kasih sayang pada saudaranya.
Kesiapan menerima masukan adalah tanda kebesaran hati dan jiwa penerima nasihat. Bahkan, ia pun akan berdoa, "Semoga Allah merahmati dan membalasmu dengan kebaikan karena nasihatmu padaku menunjukkan kekuranganku."
(Da'wah, hidayah, hikmah, kebesaran, keyakinan, sabar, syukur)


***) Tgh Habib Ziadi

Sabtu, 17 Oktober 2015

LAHIRNYA UMAT TERBAIK

Hijrah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah merupakan babak awal kebangkitan Islam. Dari hijrah, Rasulullah SAW bisa membangun masyarakat baru di Kota Madinah. 
Masyarakat yang terformulasikan dalam bentuk persaudaraan ukhuwah yang sangat kental antara orang-orang yang berhijrah dari Makkah atau kaum Muhajirin dan penduduk Kota Madinah yang membantu mereka atau lebih dikenal kaum Anshar. Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk hijrah dari meninggalkan segala apa yang dilarang oleh Allah SWT. "Dan berbuat dosa tinggalkanlah." (QS al Muddatstsir [74]: 5).  
Hijrah adalah satu peristiwa penting yang harus selalu melekat dalam benak kaum Muslim. Hijrah adalah perjalanan Rasulullah SAW dan para sahabat beliau ke Madinah untuk menyongsong kehidupan bernegara yang berdaulat dan berdiri sendiri serta terbebas dari penguasaan negara-negara lain. 
Hijrah itulah yang dijadikan sebagai awal penanggalan dalam Islam, awal munculnya sebuah umat dalam sejarah dunia, yaitu umat Islam yang dikatakan oleh Allah sebagai umat terbaik yang lahir ke dunia.
Sekarang sudah memasuki tahun ke-1437 H, umat Islam telah eksis di belantara kehidupan hampir satu setengah milenium. Suatu umur yang amat panjang sehingga amat wajar jika umat ini telah melewati segala pahit-manis, susah-senang, maju-mundur sebagai umat dan peradaban.
Umat ini pernah melalui masa-masa gemilang yang tidak ada tandingannya dalam sejarah. Menaungi kemanusiaan dengan keadilan dan kesejahteraan sebab Islam bukan hanya rahmat bagi umat Muslim, melainkan juga rahmat bagi seluruh alam, seluruh manusia. Bukankah Allah SWT telah berfirman, "Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam." (QS al-Anbiyaa[21]: 107).
Namun, sayang, sekarang ini umat Islam sedang terbelenggu oleh penguasaan negara-negara kafir. Harta mereka dikuasai, tenaga mereka dikuras, dan mereka hidup dalam kehidupan yang sempit. Semua ini disebabkan oleh umat ini telah berpaling dari mengingat Allah, mengingat aturan-aturan-Nya, dan menerapkannya dalam kehidupan seperti yang difirmankan-Nya dalam ayat 124 surah Thaha: "Dan barang siapa berpaling dari mengingat-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit."
Imam Ibnul Qoyyim dalam Risalah Tabukiyah menyatakan hijrah yang hukumnya fardhu ain adalah menuju Allah dan Rasul-Nya, tidak hanya berupa jasad, namun juga diikuti dengan hati. Allah berfirman, "Maka segeralah (berlari) kembali menaati Allah." (QS adz-Dzariyaat [51]: 50). 
Hijrah ini meliputi dari dan menuju: Dari perbuatan syirik menuju tauhid, dari jahiliyah menuju Islamiyah, dari mungkar menuju makruf, dari maksiat menuju taat. Dari kecintaan kepada selain Allah menuju kecintaan kepada-Nya, dari takut kepada selain Allah menuju takut kepada-Nya. 
Hijrah ini merupakan tuntutan syahadat la ilaha illallah. Hijrah ini sangat berat. Orang yang menitinya dianggap orang yang asing. Dia meninggalkan seluruh pendapat manusia dan menjadikan Rasulullah sebagai hakim dalam segala perkara yang diperselisihkan dalam seluruh perkara agama. 
Allah berfirman, "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS al-Ahzab [33]: 36). 
Pada akhirnya, hijrah adalah keberanian untuk tampil beda. Berani menolak suap ketika tradisi suap sudah membudaya. Berani menutup aurat ketika sebayanya ramai-ramai membuka aurat. Berani mengatakan yang benar, ketika yang lain justru menutup kebenaran. Wallahu 'alam.


***) Suparman Jassin

Rabu, 05 Agustus 2015

SATU KEKUATAN INDONESIA YG TERAMAT DASYAT

Bismillah, saya tahu bagaimana caranya menurunkan dolar AS sampai di bawah Rp 10 ribu. Bahkan, bisa sampai di bawah Rp 5.000 atau malah terbalik. AS, Cina, dan Jepang yang minjem ke Indonesia. Tidak ada yang tidak mungkin selama Tuhannya Allah.
Seorang kawan tersenyum heran. Beliau pikir saya lagi bercanda atau bermimpi. ''Gimana caranya?'' tanyanya. Yunani dalam waktu dekat, pada Juli, agaknya akan mengumumkan sesuatu, sehubungan mereka bakal gagal lagi bayar utang.
Mudah-mudahan Allah menolong kita semua. Masalah di negara yang satu, dampaknya akan ada bagi negara yang lain. Sebab, kita hidup di bumi yang satu. Saling terhubung. ''Ya udah, gimana caranya?" tanya lagi kawan saya tidak sabar.
Ini berkah Ramadhan. Supaya terjadi nanti, berwujud nanti, habis Ramadhan. Bila kita mampu melakukan cara ini bersama-sama, se-Indonesia. Saya lalu bismillah, mulai memberi tahu kawan saya tersebut.
Buat diri saya dan buat siapa pun yang mau merenungi QS 3 ayat 189, semua kekuasaan, termasuk menjatuhkan, membangunkan, menaikkan, atau menurunkan. Apa saja dan urusan apa saja, kekuasaannya ada pada Allah.
Dan, Allah bilang, ''Wallaahu 'alaa kulli syaiin qodiir." Allah sangat sanggup melakukan segala sesuatunya. Jangan bilang ga mungkin. Dan jangan bilang kekuasaan dan kemampuan itu hanya pada orang atau lembaga tertentu, seperti the Fed, BI, atau negara tertentu.
Semuanya, pure ada pada Allah. Yuk lihat lagi, yaitu surah yang sama, Ali Imran ayat 109. Kekuasaan mutlak, terhadap apa saja, dan pada urusan apa saja, di langit-Nya dan di bumi-Nya, adalah ada pada dan milik Allah semata.
Allah kemudian bilang, ''Wa ilallaahi turja'ul umuur." Langkah apa saja yang kalian lakukan, ikhtiar apa saja yang kalian kerjakan, semua akan berpulang ke Allah juga segala urusannya. Indonesia punya satu kekuatan yang teramat dahsyat.
Sebanyak 80 persen penduduknya insya Allah Islam. Tinggal dijadikan beriman saja. Jika kekuatan ini digerakkan untuk mengimani Allah, bisa menolong, bahkan tidak hanya soal rupiah, dolar, yuan, yen, euro, real, tapi di semua urusan.
Komandonya dari presiden. Kalau perlu siarkan, presiden yang azan pada lima waktu shalat. Presiden tinggal muncul saja di tujuh stasiun televisi nasional. Pagi, siang, sore, malam. Ngajak masyarakat sepenuh-penuh hatinya, rasanya, berdoa kepada Allah.
Minta dolar diturunin, rupiah dinaikkin. Minta agar tidak dikontrol oleh kebijakan negara manapun, juga oleh siapa pun, termasuk dari dalam negeri sendiri jika itu merugikan. Kalau sama-sama untung, oke lah.
Presiden muncul pagi, siang, sore, dan malam di stasiun televisi nasional. Pimpin baca Alquran dan sedikit menadaburinya, lalu menjadi agenda nasional.
(Da'wah, hidayah, hikmah, kebesaran, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Ustaz Yusuf Mansur

Selasa, 16 Juni 2015

TIGA HIKMAH MENYEGARKAN BERBUKA

Ramadhan, bulan yang penuh berkah akan kembali menyapa. Di antara keberkahan itu ialah setiap amal ibadah orang yang berpuasa dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan dibalas dengan 10 hingga 700 kali lipat. Dan khusus pahala puasa, Allah SWT sendiri yang langsung membalasnya (HR Muslim).
Dalam hadis yang lain, suatu amal kebajikan (sunah) di bulan Ramadhan nilai pahalanya seperti menunaikan amalan wajib (fardhu) di bulan yang lain dan menunaikan amalan wajib nilai pahalanya sama dengan mengerjakan 70 kali amalan wajib di bulan lain. (HR Ibnu Khuzaimah). Allahu Akbar.
Dan salah satu amalan ibadah sunah yang hendaknya mendapatkan perhatian serius dari orang yang berpuasa adalah menyegerakan berbuka puasa. Rasulullah SAW bersabda, “Manusia akan selalu baik selama mereka cepat berbuka.” (HR Muttafaq alaih).
Dalam sunah amaliyah Rasulullah SAW, seperti yang telah diriwayatkan oleh Anas RA bahwa beliau berbuka puasa dengan memakan beberapa buah kurma setengah matang. Jika tidak ada, beliau memakan beberapa buah kurma masak. Jika tidak ada, beliau hanya meneguk beberapa tegukan air sebelum melaksanakan shalat Maghrib. (HR Ahmad).
Rasul SAW tidak pernah menunaikan shalat Maghrib (pada bulan Ramadhan) sebelum berbuka puasa, meskipun beliau hanya berbuka dengan meminum air putih. (HR Abu Ya'la). Hal ini menunjukkan pentingnya menghidupkan sunah menyegerakan buka puasa.
Ada hikmah besar di balik perintah untuk menyegerakan berbuka puasa. Pertama, untuk menghidupkan sunah Nabi SAW. Berkata Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, telah berkata Imam Syafii, “Mempercepat berbuka puasa adalah perbuatan yang disunahkan dan mengakhirkannya bukanlah perbuatan yang diharamkan kecuali apabila menganggap bahwa mengakhirkan berbuka puasa terdapat keutamaan di dalamnya.”
Kedua, sebagai pembeda dengan pemeluk agama lain. Rasulullah SAW bersabda, “Agama Islam akan selalu menang selama para pemeluknya mempercepat berbuka (puasa) karena orang Yahudi dan Nasrani selalu mengakhirkannya.” (HR Abu Dawud).
Ketiga, dapat menyegarkan badan. Hal ini pernah dikatakan oleh Imam Al-Muhallib, “Hikmah dari menyegerakan berbuka puasa adalah agar orang yang berpuasa itu tidak semakin berat dengan menahan lapar lebih lama. Selain itu, agar badan segar kembali sehingga lebih kuat dalam beribadah di malam hari.”
Hal ini tampak dari doa berbuka puasa yang telah diajarkan oleh Rasul SAW. “Dzahabadz dzama'u wabtalatil 'uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah” (Rasa dahaga telah hilang, urat kerongkongan telah basah, dan pahala ditetapkan, insya Allah). (HR Abu Dawud).
Agar waktu berbuka puasa semakin bertambah berkah, hendaknya orang yang berpuasa memanfaatkannya untuk berdoa. Sebab, di antara waktu yang mustajab untuk berdoa adalah waktu menjelang berbuka puasa.
Dari Abdullah bin Amar berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang berpuasa tatkala berbuka doanya tidak akan ditolak.” (HR Ibnu Majah). Dalam hadis yang lain, “Tiga golongan yang doanya tidak akan ditolak ialah doa pemimpin yang adil, orang yang berpuasa ketika berbuka, dan doa orang yang teraniaya.” (HR Tirmidzi). Dalam riwayat yang lain, “Dan doa orang yang berpuasa sehingga ia berbuka.”
Semoga kita termasuk orang-orang yang dapat melestarikan amalan-amalan sunah di bulan Ramadhan. Amin.

***) Imam Nur Suharno
 (hikmah, keyakinan ., sabar, tawakal., kebesaran, Tuhan, toleransi,)


Jumat, 27 Maret 2015

HAKEKAT RENDAH HATI DALAM KEHIDUPAN

Subhanallah sahabat shalehku, memang rendah hati hormat kepada guru, orang tua, kakak, dan itu sebuah kewajaran dalam kebaikan akhlak. Tetapi hakikat rendah hati sebenarnya adalah takkala engkau sayang, akrab, duduk, makan bersama dengan orang orang yg papa, pembantu, tukang, supir, dan bersahabat tanpa jarak bersama mereka.

Dan boleh jadi mereka lebih mulia dari kita, boleh jadi yang mencium tangan lebih mulia dari yang dicium. 'kan yang paling tahu siapa kita hanya Allah, begini begitu karena aib kita masih ditutupi Allah kan?! Coba kalau Allah buka, pasti hina semua kita.

Baca Kalam Allah, "Sesungguh yg paling mulia diantara kalian adalah siapa yang paling takwa di sisi Allah" (QS Al Hujarat 13). Rasulullah bersabda, “Siapa yang bersikap rendah hati, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya, dan siapa yang bersikap sombong, maka Allah akan merendahkan derajatnya hingga derajat yg paling hina” (HR Ibnu Majah).

Karena itu jangan sekali kali sombong, “Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dg sombong...” (QS Al Isra 37). "Sungguh hamba Allah yang selalu menghinakan dirinya di penghujung malam dengan banyak dan lama sujud dihadapannya, pasti buahnya sangat rendah hati kepada mahluk Allah.

Allahumma ya Allah hiasilah diri hamba dengan kesenangan ibadah kepada-Mu dan sifat rendah hati pada mahluk-Mu.


***)republika

Selasa, 17 Maret 2015

HAKEKAT RENDAH HATI DALAM KEHIDUPAN


Subhanallah sahabat shalehku, memang rendah hati hormat kepada guru, orang tua, kakak, dan itu sebuah kewajaran dalam kebaikan akhlak. Tetapi hakikat rendah hati sebenarnya adalah takkala engkau sayang, akrab, duduk, makan bersama dengan orang orang yg papa, pembantu, tukang, supir, dan bersahabat tanpa jarak bersama mereka.
Dan boleh jadi mereka lebih mulia dari kita, boleh jadi yang mencium tangan lebih mulia dari yang dicium. 'kan yang paling tahu siapa kita hanya Allah, begini begitu karena aib kita masih ditutupi Allah kan?! Coba kalau Allah buka, pasti hina semua kita.
Baca Kalam Allah, "Sesungguh yg paling mulia diantara kalian adalah siapa yang paling takwa di sisi Allah" (QS Al Hujarat 13). Rasulullah bersabda, “Siapa yang bersikap rendah hati, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya, dan siapa yang bersikap sombong, maka Allah akan merendahkan derajatnya hingga derajat yg paling hina” (HR Ibnu Majah).
Karena itu jangan sekali kali sombong, “Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dg sombong...” (QS Al Isra 37). "Sungguh hamba Allah yang selalu menghinakan dirinya di penghujung malam dengan banyak dan lama sujud dihadapannya, pasti buahnya sangat rendah hati kepada mahluk Allah.
Allahumma ya Allah hiasilah diri hamba dengan kesenangan ibadah kepada-Mu dan sifat rendah hati pada mahluk-Mu


***)republika
(hidayah, hikmah, kebesaran, takwa., syukur., sabar., kisah, )