Tampilkan postingan dengan label toleransi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label toleransi. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Agustus 2015

KASIH SAYANG ALLAH

Suatu hari, Rasulullah SAW dan para sahabat berjalan di tengah padang pasir. Saat itu, panas sinar matahari terasa menyengat, seolah membakar tubuh, bahkan menelusup menembus ke lapisan kulit.
Tiba-tiba, seorang ibu tampak sedang menggendong bayinya. Sang ibu dengan penuh perhatian mendekap buah hatinya. Ia berusaha melindungi bayinya agar tak terkena panas matahari.
Melihat pemandangan ini, Rasulullah menghentikan langkah para sahabatnya. Seolah mendapat tamsil kasus yang tepat, beliau bertanya, "Wahai para sahabatku, akankah ibu itu melemparkan bayinya ke dalam api yang membara?" Para sahabat menjawab serentak, "Tidak mungkin, wahai Rasulullah."
Kemudian, Rasulullah bersabda, "Ketahuilah, kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kasih sayang ibu itu terhadap bayinya. Dia-lah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim!" (HR Bukhari-Muslim).
Kisah di atas mengajarkan bahwa sifat Allah yang khusus diberikan kepada orang-orang beriman pada hari akhir adalah ar-Rahman dan ar-Rahim. Kedua asma Allah ini (ar-Rahman dan ar-Rahim) berasal dari kata arrahmah. Menurut Ibnu Faris, seorang ahli bahasa bahwa semua kata yang terdiri dari hurufra, ha, dan mim mengandung makna “lemah lembut, kasih sayang, dan kehalusan.”
Kata ar-Rahman berasal dari kata sifat dalam bahasa Arab yang berakar dari kata kerja ra-ha-ma/, artinya ialah penyayang, pengasih, pencinta, pelindung, pengayom, dan para mufasir memberi penjelasan bahwa ar-Rahman dapat diartikan sebagai sifat kasih Allah pada seluruh makhluk-Nya di dunia, baik manusia beriman atau kafir, binatang, dan tumbuh-tumbuhan serta makhluk lainnya.
Dengan kasih-Nya ini, Sang Khalik mencukupkan semua kebutuhan hidup makhluk di alam semesta. Hanya saja, limpahan kasih ini hanya diberikan Allah pada semua mahluk selama hidup di dunia, di akhirat kelak kasih sayang ini hanya diberikan kepada orang beriman yang menjadi penghuni surga.
Sementara itu, ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) di dalam Alquran, Allah mengulangi kata ini sebanyak 228 kali, jauh lebih banyak dari asma Allah, ar-Rahman yang hanya disebutkan sebanyak 171 kali. Jika kata ar-Rahman sifatnya berlaku untuk seluruh manusia maka kata yang kedua ar-Rahim, sifat-Nya yang hanya berlaku pada situasi khusus dan untuk kaum tertentu semata.
Rahim juga disebut sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya janin. Di alam rahim inilah bermulanya kehidupan. Di alam rahim kehidupan ideal kita dijaga dan dipelihara. Bahkan, di alam rahim pula, setiap manusia dipersaksikan “apa dan ke mana” tujuan hidupnya.
Maka, tak heran apabila bayi dilahirkan, ia akan menangis, karena meninggalkan rahim yang melimpahkan sayang dan rasa aman. Di dalam sifat rahim Allah, kita akan hidup dengan aman, nyaman, penuh kemuliaan, sentosa, dan penuh keberkahan.
Maka, sebutlah nama-nama Tuhan yang indah, dalam setiap awal doa dan permintaan. Mereka yang selalu membasahi bibirnya dengan kata, ar-Rahman dan ar-Rahim, maka Allah akan melimpahkan  kasih sayang-Nya yang tak terbatas. Siapa saja dikasihi dan disayangi Allah. Maka, tak satu pun makhluk di dunia memiliki alasan untuk membenci kecuali mereka yang telah dikuasai nafsu angkara murka.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., toleransi, takwa,)


***) Dadang Kahmad

Selasa, 04 Agustus 2015

TETAPLAH LAPAR

“ Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya untuk sering-sering merasakan lapar dan dahaga karena dapat mengetuk pintu surga.”

Sewaktu Bulan Suci Ramadhan pergi, seakan ia berpesan kepada semua alumni-nya agar memegang teguh janji (adab) sebagai ikatan persahabatan sejati yang pernah terjalin.
Paling tidak, ada empat pesan penting yang ia titipkan kepada kita jika betul merasa sedih saat kepergiannya dan rindu menanti kedatangannya.  
Pertama; tetaplah lapar. Lapar memang sengsara membawa nikmat.  wa maal ladz-dzatu illa ba’da ta’bi (tiada kelezatan kecuali setelah kepayahan”). 
Apa maknanya ? Yakni meneruskan kebiasaan tak makan di siang hari, dengan menjalankan puasa sunnah, seperti enam hari di bulan syawal, puasa Senin-Kamis, apalagi puasa Nabi Daus As, sehari lapar sehari kenyang. 
Kenapa lapar itu penting dijaga, karena hanya orang lapar yang mengerti arti sesuap nasi. Jika makan tak pernah bersisa walau sebutir. 
Makan yang nikmat adalah ketika lapar. Tetaplah lapar, karena lapar membuat badan sehat dan enteng, pikiran cerdas dan hati lembut serta mudah berempati kepada derita sesama, lalu senang bersedekah kepada yatim dan dhuafa.  
Kedua; Tetaplah haus. Semakna dengan lapar, ia juga derita. Tetapi melahirkan kelezatan. Minum yang nikmat ketika haus, maka berhaus-hauslah di siang hari (puasa), agar enak minum di sore hati (berbuka). 
Ketika air banyak berlimpah, kita sering kali membuang-buangnya seakan tak berdosa, padahal itu mubazzir (QS.17:26-27).
Lalu, kapan air baru berharga? Ketika kehausan atau kekeringan melanda karena kemarau panjang seperti yang terjadi saat ini. Orang yang haus akan menghargai segelas air dan jika ia minum tak bersisa walau setetes. 
Orang puasa akan menghargai, menjaga kebersihan dan kejernihannya. Mereka tidak akan mengotori, mencemari atau merusak lingkungan. Mereka pun  tak tahan melihat derita orang yang dahaga, binatang kehausan atau tanaman yang hampir mati kepanasan.  
Ketiga; Tetaplah bodoh. Orang yang merasa bodoh tak berprasangka macam-macam kepada orang lain. Mereka polos menjalani kehidupan, dan sadar akan kekurangan dirinya lalu terus belajar (QS.58:11). 
Orang yang merasa bodoh itu pertanda tahu bahwa ia tidak tahu (rajulun yadri annahu laa yadri). Tapi, orang yang merasa tahu pertanda tidak tahu ia tidak tahu (rajulun laa yadri annahu laa yadri). Orang yang merasa tahu semua hal sebenarnya tidak apa-apa dan itu kesombongan.
Meski sudah banyak belajar, mengkaji, meneliti, mendengar tausiah, tapi tetaplah merasa bodoh (murid). Tanda orang berilmu itu menyadari yang diketahuinya lebih sedikit daripada yang tidak diketahuinya (rajulun yadri annahu yadri). Yang paling berbahaya adalah orang dungu, yakni tidak tahu bahwa ia tidak tahu (rajulun laa yadri annahu laa yadri).
Keempat; Tetaplah rendah hati  (tawadhu’). Walaupun sudah banyak ilmu yang dipahamkan, banyak sedekah yang diterbarkan, banyak kearifan yang didapatkan, kenikmatan spritual yang dirasakan, namun tetaplah rendah hati. 
Penyakit orang kaya dan orang berilmu itu keangkuhan. Hanya sedikit orang kaya rendah hati, yakni yang dermawan. Sedikit pula orang berilmu rendah hati, yakni yang saleh. Allah SWT benci kepada orang kaya sombong, tapi lebih benci melihat orang miskin yang sombong. 
Allah SWT juga tak suka orang berlimu sombong, namun lebih tak suka kepada orang bodoh yang sombong. Setinggi apapun pun pangkat, sebanyak apapun harta, seluas apapun ilmu, sehebat apapun pencapaian, namun tetaplah rendah hati. Karena, keangkuhan adalah awal dari setiap kejatuhan. 
Pesan-pesan ini saling berkaitan satu sama lain. Keempatnya adalah kesalehan indvidual yang berbuah pada kesalehan sosial. Itulah mukmin sejati, yakni al-Muttaqiin (orang-orang bertakwa). Allahu a’lam bish-shawab. 
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, pendidikan, sabar, syukur., takwa, toleransi,  )

***) Ustaz Hasan Basri Tanjung, MA --- republika

Sabtu, 27 Juni 2015

TOLERANSI ISLAM

Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang ditemani banyak sahabat. Tiba-tiba, lewat jenazah diantar menuju ke pemakaman. Rasulullah berdiri, seperti memberi hormat. Disampaikan kepada beliau bahwa jenazah itu orang Yahudi, tak pantas memperoleh penghormatan. Namun, Nabi balik bertanya, “Alaisat nafsan (bukankah ia juga manusia)?" (HR Bukhari dan Muslim).
Riwayat ini dikutip oleh Syekh Qardhawi sebagai salah satu contoh torelansi Islam. Dikatakan, toleransi adalah sikap menghormati dan menghargai adanya perbedaan-perbedaan, baik pendapat, pemikiran, agama, dan adat istiada (budaya). Toleransi selanjutnya bermakna membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia (hablun minannas).
Dalam Alquran ditemukan banyak contoh soal teleransi. Dalam kontes keluarga, misalnya, disebutkan apabila kedua orang tua kita menyuruh kepada agama lain (kemusyrikan), kita tidak boleh mematuhinya karena dalam Islam tiada kepatuhan kepada makhluk apabila durhaka kepada khalik. Namun demikian, kita disuruh tetap membangun hubungan yang baik dengan kedua orang tua (baca: QS Luqman [31]: 15).
Dalam konteks kemasyarakat lebih luas, disebutkan bahwa orang-orang yang mulia berkenan memberi bantuan dan donasi kepada orang-orang lemah, orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS al-Insan [76]: 8). Yang dimaksud dengan orang yang ditawan ketika ayat ini turun tentu adalah kafir Quraisy Mekah yang bukan hanya berbeda agama, melainkan musuh yang sangat anti Islam. Begitupun, Allah SWT meminta Nabi dan kaum Muslim agar memperlakukan tawanan perang dengan santun.
Toleransi Islam, menuret Qardhawi, berakar pada empat prinsip. Pertama, prinsip keragaman, pluralitas (al-ta`addudiyah). Keragaman sejatinya merupakan watak alam, dan bagian dari sunanatullah. Orang Muslim, kata Qardhawi, meyakini Keesaan Allah (al-Khalik) dan keberagaman ciptaan-Nya (makhluk). Dalam keragaman itu, kita disuruh saling mengenal dan menghargai. (QS al-Hujurat [43]: 13).
Kedua, prinsip bahwa perbedaan terjadi karena kehendak Tuhan (waqi` bi masyi’atillah). Alquran sendiri menegaskan bahwa perbedaan agama karena kehendak-Nya. Allah SWT tentu tidak berkehendak pada sesuatu kecuali ada kebaikan di dalamnya. Kalau Allah menhendaki maka semua penduduk bumi menjadi Islam. Namun, hal demikian tidak dikehendaki-Nya. (QS Yunus [10]: 99).
Ketiga, prinsip yang memandang manusia sebagai satu keluarga (ka usrah wahidah). Semua orang, dari sisi penciptaan, kembali kepada satu Tuhan, yaitu Allah SWT, dan dari sisi nasab, keturunan, ia kembali kepada satu asal (bapak), yaitu Nabi Adam AS. Pesan ini terbaca dengan jelas dalam surah al-Nisa ayat 1 dan dalam dekalrasi Nabi SAW yang amat mengesankan pada haji wada`.
Keempat, prinsip kemuliaan manusia dari sisi kemanusiannya (takrim al-Insan li-insaniyyatih). Manusia adalah makhluk tertingi ciptaan Allah, dimuliakan dan dilebihkan atas makhluk-makhluk lain (QS al-Isra [17]: 70), dan dinobatkannya sebagai khalifah (QS al-Baqarah [2]: 30). Penghormatan Nabi kepada jenazah Yahudi dilakukan semata-mata karena kemanusiannya, bukan warna kulit, suku, atau agamanya.
Toleransi Islam diajarkan dalam konteks sosial, bukan vertikal dengan satu tujuan, yaitu mewujudkan rasa aman dan damai. (QS Quraisy [106]: 3-4). Wallahu a`lam! 
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, pendidikan., sabar, syukur, takwa, toleransi, )

***)Republika

Selasa, 16 Juni 2015

TIGA HIKMAH MENYEGARKAN BERBUKA

Ramadhan, bulan yang penuh berkah akan kembali menyapa. Di antara keberkahan itu ialah setiap amal ibadah orang yang berpuasa dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan dibalas dengan 10 hingga 700 kali lipat. Dan khusus pahala puasa, Allah SWT sendiri yang langsung membalasnya (HR Muslim).
Dalam hadis yang lain, suatu amal kebajikan (sunah) di bulan Ramadhan nilai pahalanya seperti menunaikan amalan wajib (fardhu) di bulan yang lain dan menunaikan amalan wajib nilai pahalanya sama dengan mengerjakan 70 kali amalan wajib di bulan lain. (HR Ibnu Khuzaimah). Allahu Akbar.
Dan salah satu amalan ibadah sunah yang hendaknya mendapatkan perhatian serius dari orang yang berpuasa adalah menyegerakan berbuka puasa. Rasulullah SAW bersabda, “Manusia akan selalu baik selama mereka cepat berbuka.” (HR Muttafaq alaih).
Dalam sunah amaliyah Rasulullah SAW, seperti yang telah diriwayatkan oleh Anas RA bahwa beliau berbuka puasa dengan memakan beberapa buah kurma setengah matang. Jika tidak ada, beliau memakan beberapa buah kurma masak. Jika tidak ada, beliau hanya meneguk beberapa tegukan air sebelum melaksanakan shalat Maghrib. (HR Ahmad).
Rasul SAW tidak pernah menunaikan shalat Maghrib (pada bulan Ramadhan) sebelum berbuka puasa, meskipun beliau hanya berbuka dengan meminum air putih. (HR Abu Ya'la). Hal ini menunjukkan pentingnya menghidupkan sunah menyegerakan buka puasa.
Ada hikmah besar di balik perintah untuk menyegerakan berbuka puasa. Pertama, untuk menghidupkan sunah Nabi SAW. Berkata Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, telah berkata Imam Syafii, “Mempercepat berbuka puasa adalah perbuatan yang disunahkan dan mengakhirkannya bukanlah perbuatan yang diharamkan kecuali apabila menganggap bahwa mengakhirkan berbuka puasa terdapat keutamaan di dalamnya.”
Kedua, sebagai pembeda dengan pemeluk agama lain. Rasulullah SAW bersabda, “Agama Islam akan selalu menang selama para pemeluknya mempercepat berbuka (puasa) karena orang Yahudi dan Nasrani selalu mengakhirkannya.” (HR Abu Dawud).
Ketiga, dapat menyegarkan badan. Hal ini pernah dikatakan oleh Imam Al-Muhallib, “Hikmah dari menyegerakan berbuka puasa adalah agar orang yang berpuasa itu tidak semakin berat dengan menahan lapar lebih lama. Selain itu, agar badan segar kembali sehingga lebih kuat dalam beribadah di malam hari.”
Hal ini tampak dari doa berbuka puasa yang telah diajarkan oleh Rasul SAW. “Dzahabadz dzama'u wabtalatil 'uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah” (Rasa dahaga telah hilang, urat kerongkongan telah basah, dan pahala ditetapkan, insya Allah). (HR Abu Dawud).
Agar waktu berbuka puasa semakin bertambah berkah, hendaknya orang yang berpuasa memanfaatkannya untuk berdoa. Sebab, di antara waktu yang mustajab untuk berdoa adalah waktu menjelang berbuka puasa.
Dari Abdullah bin Amar berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang berpuasa tatkala berbuka doanya tidak akan ditolak.” (HR Ibnu Majah). Dalam hadis yang lain, “Tiga golongan yang doanya tidak akan ditolak ialah doa pemimpin yang adil, orang yang berpuasa ketika berbuka, dan doa orang yang teraniaya.” (HR Tirmidzi). Dalam riwayat yang lain, “Dan doa orang yang berpuasa sehingga ia berbuka.”
Semoga kita termasuk orang-orang yang dapat melestarikan amalan-amalan sunah di bulan Ramadhan. Amin.

***) Imam Nur Suharno
 (hikmah, keyakinan ., sabar, tawakal., kebesaran, Tuhan, toleransi,)


Senin, 30 Maret 2015

INDONESIA ADALAH NEGARA YANG PALING PAS UNTUK UMAT ISLAM

Indonesia adalah negara yang paling pas untuk umat Islam saat ini. Pernyataan tersebut dilontarkan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Machasin dalam menyikapi pilihan ajaran Islam. 

"Indonesia adalah negara yang paling pas untuk umat Islam saat ini. Tidak berbentuk khilafah tapi bukan juga demokrasi liberal. Demokrasi Pancasila, ini paling pas," ujar Machasin ketika dihubungi Republika, Selasa (24/3). 

Menurut Machasin, saat ini ajaran radikalisme dapat dibendung dengan mengarahkan isi khutbah dan memilih ajaran Islam yang sesuai dengan keadaan bangsa Indonesia sekarang dan yang akan datang. 

Machasin mencontohkan bagaimana menyikapi ayat yang menyatakan perang kepada orang yang tidak beragama pada agama Allah.

"Apakah artinya orang yang tidak beragama boleh diperangi atau sebenarnya pengertiannya justru berbeda," ujar Machasin menerangkan.

Ia menyatakan hal ini harus disikapi dalam konteks Indonesia yang memiliki keberagaman. Menurut Machasin, sepanjang orang itu tidak menimbulkan kebencian maka tidak ada masalah. "Selanjutnya marifastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan)," ujar Machasin. 
(hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, toleransi, syukur, sabar, )

Kamis, 26 Maret 2015

M U S I B A H

Musibah beruntun datang, seperti selalu kita ikuti di media massa. Mulai dari musibah berskala lokal, regional hingga yang mondial, musibah terus menimpa manusia, baik perorangan, komunitas maupun bangsa. Musibah yang datang tak terduga dapat mengancam siapa saja, kapan saja, dan di mana pun. Apa pun bentuknya, secara kasat mata musibah bersifat merugikan.

Namun sesungguhnya, dilihat dari sudut mental spiritual, musibah bisa merupakan jalan naik menuju hidup yang lebih baik. Musibah itu tidak sia-sia hadir, bahkan walau menimpa kita. Musibah memberi kita peluang untuk mempelajari pengalaman menyedihkan, hingga kita menemukan kehidupan sejati dan hakikat keberadaan manusia di alam ini. Masalahnya musibah selalu hadir berupa tamparan atau cubitan yang tak enak untuk dirasakan.

Allah berfirman, ''Sungguh akan Kuberikan kepadamu kecemasan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa serta buah-buahan, tetapi berbahagialah orang yang bersabar, yakni orang yang ketika menemui musibah berkata, 'Sungguh kita kepunyaan Allah dan kepada-Nya kita akan kembali'.'' (Q. S. 2: 155-156).

Jelas, rinci serta praktis Allah menuntun hamba-Nya menghadapi setiap musibah. Allah menjelaskan, dengan musibah itu, orang yang biasa bersabar diuji kualitas kesabarannya, dan orang yang belum bersabar diberi peluang untuk mendapatkan kesabaran lantaran musibah itu.

Orang bijak dari kalangan sufi membedakan adanya tiga manfaat ditimpakannya musibah kepada seseorang. Pertama, musibah sebagai penebus dan pembebas dosa yang pernah dilakukannya. Kedua, musibah sebagai pengingat dan penguji akan kualitas kesabaran seseorang. Ketiga, musibah sebagai tangga naik orang yang tertimpa menuju kualitas hidup yang lebih tinggi.

Ketika musibah menimpa kita, selain kita pasrah, selayaknya kita pun melakukan muhasabah, mengevaluasi diri: dosa atas perbuatan apa yang kita lakukan kemarin dan kini. Bila secara jujur kita akui, maka musibah inilah penebusnya.

Namun bilamana kita tidak menyadari dosa-dosa kita, maka musibah akan menjadi pengingat dan penyadar bagi kita. Kita harus menghadapinya dengan sabar, sebab boleh jadi musibah itu justru peringatan bahwa kita bakal mendapatkan rahmat-Nya.    (hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, toleransi, syukur, sabar, )


Selasa, 24 Maret 2015

KEINDONESIAAN DAN KEISLAMAN

Upaya memadukan keindonesiaan dan keislaman dalam perjalanan Republik Indonesia selama 69 tahun menarik untuk dikaji. Sejak dalam persidangan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), yang berlangsung 28 Mei-22 Agustus 1945, hubungan agama (Islam) dan negara (Indonesia) telah menjadi masalah pelik. BPUPKI telah merumuskan Piagam Jakarta yang menjadi Pembukaan UUD. Rancangan UUD itu akan disahkan dalam persidangan PPKI. Namun, sehari sebelumnya sekelompok pemuda yang mengaku mewakili umat Kristen dari Indonesia timur mendatangi Bung Hatta dan menyatakan tak akan bergabung dengan Republik Indonesia karena Piagam Jakarta ada kalimat "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Esoknya Bung Hatta mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh Islam, yaitu Ki  Bagus Hadikusumo, KHA Wahid Hasyim, Mr Kasman Singodimedjo,  dan Teuku Mohamad Hasan untuk membahasnya. Dengan jiwa besar, rasa tanggung jawab, semangat mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan, mereka berani mencoret tujuh kata Piagam Jakarta sehingga Pembukaan UUD berbunyi dan tertulis seperti sekarang. Kementerian Agama Sejarah menunjukkan, penyatuan kekuasaan politik dan agama pada kerajaan di Jawa, khususnya Mataram, bukan hanya terjadi di tingkat pusat, melainkan juga di tingkat bawah. Salah satu lembaga yang diwarisi dari masa lalu dan tumbuh subur masa penjajahan Belanda adalah kepenghuluan. Tugasnya mengawasi pernikahan, perceraian, dan pembagian warisan menurut hukum Islam. Zaman pendudukan Jepang, dibentuk Shumubu (Kantor Urusan Agama). Dalam Sidang Pleno Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pada November 1945, anggota KNI Daerah Banyumas KH Abu Dardiri dkk mengusulkan pembentukan Kementerian Agama. Usul didukung anggota KNIP dan diterima dengan Menteri Agama pertama HM Rasyidi. Kementerian Agama (Kemenag) menurut saya merupakan konvergensi atau paduan antara keindonesiaan dan keislaman. Pengadilan Agama yang semula berada di Kemenag telah pindah ke dalam lingkungan Mahkamah Agung. Pendidikan Islam berada di bawah Kemenag dan pendidikan umum berada di bawah Kemdikbud. Sayang sekali bahwa Kemenag belakangan ini tercemar akibat (dugaan) korupsi. Kalau diperbaiki, Kemenag akan menjadi kementerian yang berperan amat strategis. Syaratnya: sang menteri harus bersih dan membersihkan, paham masalah, khususnya posisi agama di mata konstitusi, dan berani. Perkembangan Munas Ulama NU pada 1983 mengesahkan Dokumen Hubungan Islam dan Pancasila yang diperkuat dengan Keputusan Muktamar NU 1984. Secara resmi NU menerima Pancasila. Sikap NU itu diikuti oleh PPP dan hampir semua ormas Islam. Penerimaan Pancasila oleh umat Islam melalui ormas-ormas Islam tak berarti masalah sudah selesai. Masih terdapat perbedaan dalam menafsirkan Pancasila. Salah satunya ialah perbedaan persepsi terhadap HAM. Perbedaan di dalam kalangan Islam juga tampak dalam menyikapi kelompok Ahmadiyah dan Syiah. Sebagian ulama mendasarkan sikapnya semata-mata berdasar ajaran agama Islam dan sebagian lain mendasarkan diri pada ketentuan UUD. Pemerintah lamban menghadapi kelompok pelaku kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah atau Syiah. Kini kita juga melihat perkembangan yang amat berbeda. Muncul keinginan memberlakukan syariat Islam, tetapi tak diuraikan syariat Islam seperti apa yang dimaksud. Juga muncul kelompok yang menginginkan berdirinya negara Islam. Munculnya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan ISIS yang membahayakan keberadaan negara Republik Indonesia membuat kita sadar bahwa cukup besar potensi masalah yang bisa mengancam kita. Dasar negara Pancasila ternyata tak mampu menghasilkan negara yang adil secara hukum dan secara sosial, masih banyak orang miskin dan kekurangan gizi. Masih banyak penduduk yang belum bersekolah. Kekayaan sumber daya alam kita banyak dikuasai pihak asing. Lebih dari lima juta tenaga kerja terpaksa bekerja di luar negeri. Pancasila itu baru di atas kertas, belum terwujud secara nyata di dalam kehidupan. Itu terjadi karena birokrasi pemerintah dan pejabat banyak yang menyalahgunakan kekuasaan. Hukum belum tegak sehingga penyalahgunaan kekuasaan leluasa. Tak ada jaminan bahwa mendirikan daulah Islamiyah atau khilafah Islamiyah akan mampu secara langsung mewujudkan negara hukum dan memperbaiki birokrasi pemerintah. Selama kita belum berhasil menerapkan Pancasila dalam kehidupan nyata, dimulai dari sila keadilan sosial dan sila ketuhanan YME, kita akan terus menghadapi kelompok-kelompok yang beranggapan bahwa Pancasila harus diganti dengan Islam sebagai dasar negara. 
(hidayah, hikmah, keyakinan, toleransi, takwa, )


***)Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng

Jumat, 09 Januari 2015

JANGAN PAKSA GUNAKAN ATRIBUT AGAMA


toleransi, takwa., keyakinan.     Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta kepada masyarakat Indonesia untuk bersikap bijak saat menghadapi hari besar keagamaan. Menag meminta jangan ada pemaksaan seseorang menggunakan atribut yang bukan dianutnya.
“Masing-masing kita dituntut untuk dewasa dan bijak untuk tidak menuntut, apalagi memaksa seseorang menggunakan pakaian atau atribut agama yang tidak dianutnya,” Ujar Menag.
Menag mencontohkan, seorang Muslim tidak usah dituntut menggunakan kalung salib atau topi Sinterklas demi menghorati Hari Natal. Sebaliknya, perempuan non-Muslim tidak perlu dipaksa berhijab demi menghormati Idul Fitri.
toleransi, takwa., keyakinan.     Pernyataan Menag mengklarifikasi apa yang dikatakan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama Machasin sebelumnya. Machson mengungkapkan, Muslim tak dilarang ntuk mengenakan atribut Natal demi kepentingan bisnis.
“Kalau untuk kepentingan bisnis. Bukan masalah. Seperti pada hari raya Islam saja, misalnya, banyak non-Muslim di televisi yang ikut memakai atribut Islam.” Dia pun tidak mempermasalahkan saat karyawan perusahaan, seperti di pusat-pusat perbelanjaan atau mal yang disuruh majikannya untuk mengenakan atribut Natal. “Asalkan, tidak mengubah keyakinan iman dia sebagai seorang Muslim.”
Kita lihat atributnya apa dulu, tujuannya apa dulu. Harusnya hanya memakai seragam yang ada,” Ujar Sekjen Kemenag. Dia sepakat solidaritas dalam beragama itu perlu dilakukan. Meski demikian, ungkapnya, hal tersebut tidak harus dengan memakai atribut agama lain, seperti pakaian Sinterklas dan lainnya.
Pimpinan pondok Pesantren Daarul Qur’an Yusuf Mansur mengatakan, toleransi umat beragama cukup dilakukan dengan cara menghormati dan menghargai sesuai dengan batasan akidah agama yang diyakini. Toleransi, ujarnya, dapat dilakukan tanpa harus menjadi bagian dari mereka yang memeluk agama lain.

“Selalu ada cara untuk berteman, berkawan, berkeluarga, satu atap, Indonesia, dengan kawan-kawan yang lain tanpa perlu jadi bagian akidah mereka. I’m to leraner.

***)republika

Jumat, 02 Januari 2015

PERAN KAUM PEREMPUAN


Pendidikan, Tokoh.         Dalam sejarah Islam, perempuan yang berpendidikan merupakan prioritas utama. Sebab, kaum wanita dinilai dapat mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dan mengajarkannya kepada orang lain. Hal ini tergambar jelas pada istri Rasulullah SAW, yakni Aisyah RA. Setelah Rasulullah wafat, Aisyah   dikenal sebagai salah satu ulama dan guru besar terkemuka.
Sejarah Islam kemudian juga menunjukkan besarnya pengaruh kaum perempuan. Di berbagai tempat, banyak wanita Muslim yang menghadiri kuliah di masjid, menuntut ilmu di madrasah, bahkan tak jarang menjadi gurunya.
Sebagai contoh, pada abad ke-12 cendekiawan Ibnu Asakir yang dikenal sebagai pengarang buku sejarah Damaskus, yakni Tarikh Dimasyq, bepergian ke banyak tempat untuk mencari ilmu pengetahuan. Dalam pengembaraan itu, ia sempat belajar pada 80 guru perempuan.
Pendidikan, tokoh.        Perempuan juga memainkan peran utama sebagai pendukung pendidikan. Contohnya. Salah satu penididikan tinggi tertua di dunia Islam, yakni Universitas al Qarawiyyin di Fez, Maroko Islam, didirikan pada 859 oleh saudagar perempuan kaya raya bernama Fatima al-Fihri.
Besarnya peran perempuan juga tergambar pada istri Khalifah Abbasiyah, Harun al-Rasyid, yakni Zubayda. Ia secara secara pribadi mendanai banyak proyek pembangunan masjid, jalan dan sumur di Hijaz. Proyek- proyek tersebut sangat bermanfaat bagi para siswa yang melakukan perjalanan di daerah ini.
Sementara, istri Sultan Turki Utsmani, Suleyman, yakni Hurrem Sultan mengucurkan sumbangan bagi banyak madrasah. Ia juga mendirikan banyak bangunan yang sangat berguna bagi rakyat, seperti rumah sakit, pemandian umum, dan dapur umum.
Sumbangsih kaum perempuan juga tampak pada masa Dinasti Ayyubiyah di Damaskus (1174-1260). Pada masa itu, terdapat 26 bangunan keagamaan, seperti madrasah, masjid, dan monumen keagamaan yang dibangun atas prakarsa kaum perempuan.



***)ed:wachidah hadas

SABAR KETIKA SAKIT


Sabar & Syukur. Kesabaran mutlak diperlukan dalam menjalani kehidupan ini, termasuk ketika kita didera sakit. Dunia ini didesain oleh Allah sebagai gudangnya ujian bagi manusia. Tanpa kesabaran, mustahil kita dapat lulus dari ujian tersebut.
Seorang pasian gagal ginjal, misalnya, mutlak harus memiliki kesabaran selama hidupnya. Ia mesti sabar menjalani terapi rutin cuci darah dua kali dalam seminggu meskipun hal itu harus dijalaninya seumur hidup. Jika tidak memiliki kesabaran, mungkin ia akan memilih mogok cuci darah karena merasa terapi tersebut tidak ada ujungnya.
Kesabaran diperlukan tidak hanya sebagai bentuk ikhtiar agar kondisi kita semakin baik. Lebih dari itu, kesabaran akan membuat hati menjadi lapang. Sabar juga akan membuat kita seperti selalu dekat dengan Allah SWT dan mendapatkan pahala tanpa batas.
Dalam salah satu firman-Nya disebutkan,”Hai orang-orang yang beriman,jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS al-Baqarah:153)
Sabar & Syukur. Di antara faktor yang menjadikan orang bersabar adalah adanya keyakinan bahwa jalan keluar dan pertolongan Allah pasti datang. Setelah kesempitan pasti ada kelapangan, keyakinan ini sedikitnya akan meringankan penderitaan ketika kita didera sakit.
Bagaimana agar kesabaran kita bisa meringankan penderitaan? Yang pertama, kita harus yakin bahwa sakit yang menimpa kita tidak seberapa jika dibandingkan dengan segala nikmat pemberian Allah SWT. Bagi pasien gagal ginjal. Misalnya sadarilah bahwa masih banyak nikmat yang lain yang bisa kita rasakan.
Kedua, hibur diri kita dengan orang lain yang senasib dengan kita. Menghibur diri dengan musibah-musibah orang lain termasuk salah satu cara jitu untuk mengurangi kesedihan dan meringankan penderitaan. Ketiga, anggaplah enteng penyakit yang menimpa kita. Jangan mendramatisasi penyakit yang ada. Jika mau jujur, permasalahan yang terjadi didalam hidup kita adalah hasil dari dramatisasi yang dilakukan oleh kita sendiri, kekhawatiran kita sendiri, dan kepanikan kita sendiri .Ternyata, semua itulah yang membuat kita menjadi merasa tertekan dan menderita.
Sabar & syukur. Karena itu, kendalikan diri sebisa mungkin agar terhindar dari sikap mendramatisasi masalah yang sedang terjadi. Janganlah larut dalam jebakan-jebakan sikap yang mempersulit diri sendiri. Karena, sikap sikap seperti itulah yang akan semakin memperbesar kesulitan dan penderitaan di dalam diri.
Ingatlah firman Allah SWT, “Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya.” (QS Al-Baqarsh:286).


***)yadin burhanudin

Rabu, 31 Desember 2014

ISLAM AJARKAN TOLERANSI


Keyakinan  & Toleransi.    Anggapan Islam sebagai agama tidak toleran menyeruak belakangan ini. Imam besar Masjidil Haram dan Nabawi Prof Abdurrahman bin Abdul Azis As-Sudais pun menepis tudingan tersebut. Menurutnya, agama dengan penganut terbesar kedua di dunia ini menjunjung toleransi antarumat beragama sebagaiman Rasulullah menghargai umat Yahudi.
“Rasulullah Muhammad SAW memperlakukan semua masyrakat sama. Contoh nya saat itu adalah umat Yahudi yang diperlakukan sama baiknya dengan Muslim.”
Ketua Badan Otoritas Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi itu menjelaskan, toleransi beragama kembali isu hangat belakangan ini. Banyaknya peristiwa radikalisme, seperti dilancarkan Alqaidah dan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atau Negara Islam (IS) membuat islam menjadi sorotan.
Menurutnya, kunci kemajuan umat Islam adalah ilmu pengetahauan. Untuk itu, umat perlu bersikap terbuka untuk kebaikan bagi kaum Muslimin maupun non-Islam. Dengan catatan, sepanjang tidak mengancam Islam. Kehadiran Radikalisme ditengarai rendahnya toleransi antarumat beragama. Gerakan Islam moderat anti kekerasan harus terus di dorong ke seluruh dunia. Kekerasan tidaklah mencerminkan Islam. Hal itu harus kita atasi bersama
Indonesia, Misalnya, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, tetap menyepakati Pancasila sebagai dasar dan Ideologi negara. Sebab, ia memang tidak bertentangan dengan Islam. Bahkan, Pancasil mengambil nilai-nilainya dari Islam.   Keyakinan & Toleransi.



***)antara ed:asyalabi ichsan