Tampilkan postingan dengan label keyakinan .. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keyakinan .. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Januari 2016

DAHSYATNYA ISTIGHFAR

Jika ikhwah sering menghadiri majelis-majelis zikir, tentu tidak hanya majelis kami, ikhwah pasti sering sekali mendengar dari para ustaz dan ulama kita tentang pelaziman istighfar. 
Dalam majelis zikir yang kami helat, misalnya, istighfar minimal seratus kali dibaca dan sekaligus sebagai pembuka zikir kami.
Lalu, mengapa kita sangat perlu beristighfar? Berikut ini adalah tuturan hikmahnya. Mohon ikhwah baca dengan iman dan pelan, serta resapi dan rujukkan kepada maraji'-nya.
Pertama, penyebab Allah jatuh cinta kepada hamba-Nya; hubbullaah(baca QS Al-Baqarah [2]: 222). Kedua, akan mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah dan makhluk-Nya; al-mukarromuun (QS Yasin [36]: 27).
Ketiga, mendapatkan ampunan Allah; al-magfuuruun (QS Az-Zumar [39]: 53). Berikutnya, al-fadhilah, upaya untuk mendapatkan karunia Allah yang paling besar (QS An-Nur [24]: 21). Dengan beristighfar, kita memberi kebaikan untuk tercegahnya bala dan hura-hura kiamat;daf'ul balaai (QS Al-Anfal [8]: 33).
Istighfar adalah Du'aaur Rasuul, doa yang menjadi wirid harian Rasulullah SAW. Istighfar juga adalah ijaabatul Malaikah, doa yang diaminkan para malaikat. Ia adalah rahmatullah, mengundang hujan yang penuh rahmat. Bahkan istighfar, bi amwaalin, memudahkan meraih rezeki halal penuh berkah.
Istighfar juga as-sahlu, penyebab Allah memudahkan dalam setiap urusan. Al-Marjuuqu, solusi rezeki yang tidak ia sangka-sangka.
Quwwatul iimaani, bisa memperkuat iman. Adz-Dzihnu, kecerdasan spiritual, kecerdasan yang terbimbing. Qowlan tsaqiilan, dengan istighfar akan menjadikan arah bicaranya hikmah dan disimak.
Orang yang melazimkan istighfar akan didapati pada dirinyaquwwatul jasadi, fisik yang kuat dan prima. Tathmainnul quluubi, hati terliputi tenang, damai, dan bahagia.
Dawaaun, ia adalah solusi dan obat penyakit jasmani dan rohani.Miftaahul falaahi, kunci sukses dan bahagia dunia akhirat (QS An-Nur [24]: 31).
Terakhir, simak kalam Allah dengan iman, "Sesungguhnya Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang sungguh-sungguh bertobat dan terus-menerus menjaga kesucian diri-Nya." (QS Al-Baqoroh [2]: 222).
"Mohonlah kalian pada ampunan Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah akan turunkan hujan yang lebat, kemudahan meraih rezeki halal penuh berkah, generasi yang saleh-saleh, dan kesejahteraan dengan kebun-kebun yang indah serta sungai sungai jernih yang mengalir." (QS Nuh [71]: 10-12).
Dari Abu Hurairah RA berkata, saya mendengar Rasulullah bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar memohon ampunan kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari lebih dari tujuh puluh kali." (HR Bukhari).
Dari al-Aghar bin Yasar al-Muzani RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Wahai manusia bertobatlah kamu kepada Allah dan mintalah ampunan kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertobat dalam sehari seratus kali." (HR Muslim).
Allahumma ya Allah ampunilah seluruh dosa-dosa kami. Mari kita sungguh-sungguh bertobat dengan banyak mohon ampunan-Nya.
(Da'wah, hidayah, keyakinan ., sabarR,syukur., takwa, )


***) Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Selasa, 01 Desember 2015

SAKU KEBERKAHAN

Pagi itu cuaca cerah membelah pinggiran Kota Semarang, Jawa Tengah. Angin semilir menyapa tanda pagi tiba. Selepas shalat shubuh di masjid, saya berhenti melihat kerumunan. Tampak orang duduk rapi di pinggir jalan menyantap sarapan. 
Kendaraan lalu lalang tak dihiraukan. Saya penasaran dan menghampirinya. Ternyata mereka sedang menyantap sepincuk nasi. "Bu, saya satu pincuk ya," pintaku. "Antre ya mas," jawabnya singkat. Suasana pagi itu begitu indah. 
Satu per satu pembeli dilayani dengan tertib. Jauh dari kesan rebutan seperti yang sering saya lihat di kota-kota besar. "Bu, sepincuk nasi berapa harganya?" "Tiga ribu mas," jawabnya singkat sambil melayani pembeli lainnya. 
Sungguh, saya tergaget. Uang Rp 3.000 dapat sepincuk nasi. Padahal di kota-kota besar, untuk bayar parkir pun kurang. Apalagi untuk makan. "Jam berapa buka-nya, Bu?" tanyaku. "Jam 5, Mas". "Terus habisnya biasanya jam berapa?" "Jam 7..." jawabnya. 
"Ibu tinggalnya di mana?". "Di Gubug, Mas". Gubug adalah kecamatan di wilayah Grobogan, Purwodadi. Butuh dua jam perjalanan untuk sampai ke lokasi. Hal ini dilakukannya lebih dari 10 tahun lamanya. 
Dari ceritanya, ibu ini memiliki tiga putra. Semuanya kuliah dan ada yang sudah sarjana. Kesederhanaannya memikatku. Betapa besarnya Allah SWT. Allahu Akbar! Betapa Mahadilnya Allah. Betapa kasih dan sayangnya Allah pada hamba-hamba-Nya. 
Kasihnya tak pernah pilih kasih. Sayangnya tak pernah hilang ditelan zaman. Semua hamba-Nya diberi ketika mau berusaha tiap hari. Termasuk ibu-ibu penjual nasi pincuk di pinggir jalan Kota Semarang ini.
Kita mestinya merasa malu (pada penjual nasi pincuk) karena suka menghambur-hamburkan uang. Kita malu karena uang Rp 3.000 ternyata begitu berarti. Kita malu, mengapa harus korupsi. Kita malu, mengapa harus mark-up/ proyek tiap hari. 
Kita malu mengapa harus demonstrasi dengan tuntutan yang terkadang basi. Kita malu mengapa harus rebutan kursi. Kita malu mengapa harus menuntut hak tanpa tahu diri. Kita pun malu mengapa tak pernah bersyukur atas kesehatan yang diberi. 
Ataukah jangan-jangan kita sudah tidak punya rasa malu? Termasuk pada diri sendiri? Maka, tepat sekali peringatan Allah SWT dalam surah Ar-Rahman yang diulang berkali-kali, "Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?" 
Makan nasi pincuk seharga Rp 3.000 saja sudah kenyang. Mengapa harus mencari lebih dan lebih ketika kecukupan itu sudah kita peroleh? Kesederhanaan dalam pola makan, pola sikap dan pola hidup inilah yang patut kita lakukan.
Sehingga, yang kita peroleh adalah keberkahan. Inilah yang sering dilupakan oleh kita semua dalam menjalani kehidupan. Berkah itu hakikatnya ziyadayul khair” artinya bertambah kebaikan. 
Apapun yang kita lakukan, jika menjadikan kebaikan kita itu bertambah berarti ada nilai keberkahan di dalamnya. Demikian juga sebaliknya. Bukankah, kita sering mendengar cerita, tukang bubur bisa naik haji, penjual nasi pincuk bisa menyekolahkan anaknya sampai sarjana bahkan S3 dan masih banyak cerita-cerita penuh hikmah lagi. 
Boleh jadi penjual nasi pincuk dan tukang bubur itu memiliki saku keberkahan. Sehingga apapun yang masuk dalam saku itu akan bertambah terus kebaikan demi kebaikannya. Inilah yang menjadikannya semakin mudah dalam meraih apa yang diharapkannya. 
Mari kita renungkan firman Allah SWT ini, “Jika sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi jika mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya,” (QS. Al-A’raaf: 96).

***)  Abdul Muid Badrun


Jumat, 30 Oktober 2015

SEKOLAH ANAK KITA

Pilu rasanya hati melihat kenyataan yang menimpa anak-anak kita belakangan ini. Peristiwa kekerasan dan pelecehan seksual seakan menjadi rangkaian mata rantai yang belum juga bisa diakhiri.
Sebagian anak mengalami nasib malang karena dianiaya oleh orang tuanya sendiri. Begitu pula seorang anak SD menganiaya temannya hingga tewas. Hingga seorang gadis kecil ditemukan tewas di dalam kardus setelah mengalami kekerasan seksual.
Sejatinya, anak-anak adalah perhiasan hidup dunia yang menyenangkan hati orang tua. Mereka dilahirkan bersih, jujur dan tiada nista, fitrah dan selalu condong kepada kebaikan. (HR Bukhari). Anak kecil selalu tampil apa adanya sehingga kehadiran mereka selalu dinanti dan dirindukan dalam keluarga (QS 3: 14, 18: 46).
Anak belajar dari kehidupan sehingga mereka adalah produk masa yang dilaluinya. Karena itu, kita wajib menyediakan tempat-tempat belajar (sekolah) terbaik bagi mereka.
Ada empat sekolah yang membentuk kepribadian mereka. Pertama, keluarga. Sekolah pertama bagi anak adalah keluarga. Dalam sebuah keluarga dibangun tata sosial dan etika seorang anak. Ayah dan ibu menjadi guru utama untuk menanamkan akidah tauhid, syariat, dan akhlak (QS 2: 132-133, 31: 13-19).
Sikap, kata, dan perbuatan orang tua menjadi model dan rujukan utama bagi anak (kurikulum). Dr M Nasih Ulwan dalam buku Pendidikan Anak dalam Islam menyebutkan, keluarga menjadi wadah menanam akidah pohon tauhid dan syariat dengan keteladan, pembiasaan akhlak karimah, serta nasihat yang baik. Lalu, proses itu dikawal dengan pengawasan maksimal agar tumbuh menjadi pohon yang baik (syajaratun thayyibah).
Kedua, lembaga pendidikan (sekolah). Sekolah menjadi rumah kedua bagi anak, di mana tata sosial dibangun lebih terbuka. Sekolah harus menjadi komunitas baru yang aman dan nyaman agar anak bisa tumbuh normal bersama teman sebayanya.
Guru layaknya orang tua kedua bagi anak. Kurikulum yang baik akan membantu keluarga dalam pembiasaan sikap, kata, dan perilaku anak. Orang tua wajib memilih sekolah terbaik bukan termahal, yakni sekolah yang mengajarkan akidah lurus, syariat yang benar, dan akhlak yang baik.
Ketiga, lingkungan. Lingkungan sosial paling besar pegaruhnya, yakni kerabat, tetangga, teman sebaya, publik figur, tokoh masyarakat, pejabat negara, dan lainnya. Kejahatan, kekerasan, dan penyimpangan seksual sering kali dilakukan oleh orang dekat dan dikenal.
Orang tua harus memastikan anak pergi dengan siapa, di mana, main apa, dan berapa lama. Anak juga bisa belajar dari lingkungan alam sekitarnya. Jika alam masih terjaga, akan berdampak positif pada diri anak. Sebaliknya, jika alam rusak, hutan ditebang dan dibakar, polusi udara, asap kabut, dan hewan yang mati juga akan buruk bagi anak. Untuk itu, wajib bagi kita menjaga kelestarian alam semesta sebagai sekolah buat anak-anak masa depan.
Keempat, media. Sekolah keempat adalah media massa (cetak, elektronik, dan online), media sosial (Facebook, Twitter, dll), dan media komunikasi (HP, gadget). Dampak buruk siaran TV, internet, game online, gadget begitu nyata. Pornografi dan pornoaksi begitu mudah diakses.
Tayangan TV yang tidak mendidik dan HP yang merenggangkan hubungan keluarga. Warnet menjadi "sekolah" buruk yang bertebaran 24 jam. Anak pun bisa menjadi pribadi yang lemah, malas, dan pesimistis. (QS 4: 9).
Tidak ada kata lain kecuali kita harus hijrah berjamaah dari kemaskisatan, kezaliman, ketidakpedulian, kepura-kepuraan (ad-dzulumat) menuju ketaatan, keadilan, kepedulian, kejujuran (an-nuur). Kembali kepada keluarga dengan kasih sayang.
(Da'wah, hidayah, keyakinan ., keyakinan, sabar, syukur, takwa, )


***) Hasan Basri Tanjung

Kamis, 22 Oktober 2015

SPIRIT DARI PERISTIWA HIJRAH

Umat Islam kembali memperingati Tahun Baru Islam 1437 Hijriyah pada 14 Oktober 2015. Sebagaimana kita ketahui, puncak kejayaan Islam dimulai sejak Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah.
Di kota inilah Nabi dan para sahabatnya (muhajirin) disambut luar biasa oleh penduduk asli Madinah (anshar). Dari kota ini pula dakwah Islam berkembang pesat melewati batas toritorial wilayah Arab.
Masyarakat Madinah yang awalnya hidup dalam suasana kesukuan, diskriminatif, primordial, eksklusif, dan penuh permusuhan dalam waktu relatif singkat mampu diubah oleh Rasulullah SAW menjadi masyarakat yang egaliter, penuh cinta kasih, terbuka, toleran, inklusif, serta memiliki semangat membantu dan berbagi (QS al-Hasyr [59]: 9).
Dengan demikian, peristiwa hijrah merupakan titik balik (centre point) bagi perkembangan Islam dan titik awal bagi (entry point) bagi pembentukan masyarakat madani (civil society). Maka tidak mengherankan manakala Khalifah Umar menjadikan peristiwa hijrah tersebut sebagai awal perhitungan kalender Islam, yang kemudian dikenal dengan Tahun Baru Hijriyah.
Jauh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, beberapa Nabi sebelumnya (Nabi Musa, Ibrahim, dan Yusuf) juga telah melakukan hijrah dengan meninggalkan tempat kelahirannya menuju tempat yang baru. Hijrah mereka lakukan untuk mendapatkan suasana kehidupan yang lebih baik terutama bagi kepentingan dakwah.
Dalam dunia modern, banyak masyarakat yang melakukan hijrah. Mereka pindah dari daerah asalnya menuju tempat yang baru (migrasi), hijrah dari desa yang satu ke desa yang lain, dari kota yang satu ke kota yang lain, bahkan dari negara yang satu ke negara yang lain. Itulah yang kemudian melahirkan konsep migrasi, emigrasi, transmigrasi.
Orang hijrah disebabkan atau didorong berbagai sebab atau niat (motivasi). Ada yang karena faktor ekonomi, dakwah, keamanan, ikut keluarga, dan lain sebagainya. Nabi Muhamaad SAW mengatakan, "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barang siapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan." (HR Bukhari). Meski pada prinsipnya hijrah dilakukan karena ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang hijrah yaitu yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah SWT (HR Abu Dawud). Beliau juga ditanya oleh sahabat, hijrah yang bagaimana yang paling utama? Beliau menjawab, engkau jauhi segala sesuatu yang dibenci Tuhanmu (HR Ahmad).
Alquran menjelaskan, orang yang berhijrah akan mendapatkan rahmat, ampunan Allah, nikmat yang mulia, mendapatkan derajat yang tinggi serta memperoleh kemenangan (QS al-Baqarah [2]: 218; QS al-Anfal [8]: 74; dan QS at-Taubah [9]: 20). Spirit hijrah sebagaimana dijelaskan adalah bagaimana meninggalkan berbagai keburukan menuju kebaikan, melakukan hal yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Kalau kita perhatikan kondisi umat Islam sekarang, sungguh sangat memprihatinkan. Konflik di antara umat dan negara Islam luar biasa. Apa yang terjadi di Timur Tengah sungguh menjadi catatan kelam bagi sejarah perkembangan Islam.
Negara-negara Islam yang seharusnya melakukan peran menciptakan kondisi kehidupan yang damai, aman, nyaman, dan tenang justru terlibat konflik berkepanjangan. Akibatnya, banyak masyarakat tidak berdosa menjadi korban, ada yang meninggal dan banyak dari mereka terusir dari negaranya menjadi pengungsi. Bahkan, kasus pengungsi dari Timur Tengah sekarang khususnya dari Suriah merupakan kasus pengungsi terbesar setelah Perang Dunia II.
Oleh karena itu, peringatan Tahun Baru Hijriyah 1437 H dapat memberikan spirit bagi umat Islam dan para pemimpin Islam untuk kembali merajut dan memperkokoh ukhuwah Islamiyah serta memperbaiki kehidupan umat di seluruh bidang kehidupan. Dalam konteks Indonesia, peringatan Tahun Baru 1437 Hijriyah yang hampir bersamaan dengan usia satu tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla. Juga adanya ancaman krisis ekonomi, gangguan asap akibat kebakaran hutan pada 2015 ini, serta berbagai permasalahan lain seperti masih tingginya angka korupsi, maraknya berbagai tindakan pedofilia serta kekerasan di tengah-tengah masyarakat seperti apa yang terjadi di Lumajang.
Karenanya, peringatan Tahun Baru 1437 Hijriyah selain menjadi momentum mengevaluasi diri, juga bagaimana kita dapat melakukan perbaikan di seluruh bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Oleh karena itu, mari kita berhijrah dengan meninggalkan berbagai perilaku tidak baik seperti pembalakan dan pembakaran hutan, korupsi, kolusi, nepotisme, pemalas, tindakan kekerasan, pedofilia, main menang sendiri dan hakim sendiri, serta selalu mempertontonkan dan mengikuti syahwat kekuasaan.
Sebaliknya, kita menggantinya dengan perilaku yang baik seperti kesadaran menjaga lingkungan alam yang lestari, perilaku bersih, santun, jujur, sabar, tekun, taat hukum dan aturan, kerja keras, penuh optimisme, mau berkorban dan berbagi untuk orang lain, serta semangat kerja sama dan berprestasi.
Selamat Tahun Baru 1437 Hijriyah, semoga umat Islam dan bangsa Indonesia dapat menyongsong dan menggapai kehidupan yang lebih baik kini dan yang akan datang.

***)Rahmat Hidayat---Republika


Sabtu, 17 Oktober 2015

LAHIRNYA UMAT TERBAIK

Hijrah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah merupakan babak awal kebangkitan Islam. Dari hijrah, Rasulullah SAW bisa membangun masyarakat baru di Kota Madinah. 
Masyarakat yang terformulasikan dalam bentuk persaudaraan ukhuwah yang sangat kental antara orang-orang yang berhijrah dari Makkah atau kaum Muhajirin dan penduduk Kota Madinah yang membantu mereka atau lebih dikenal kaum Anshar. Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk hijrah dari meninggalkan segala apa yang dilarang oleh Allah SWT. "Dan berbuat dosa tinggalkanlah." (QS al Muddatstsir [74]: 5).  
Hijrah adalah satu peristiwa penting yang harus selalu melekat dalam benak kaum Muslim. Hijrah adalah perjalanan Rasulullah SAW dan para sahabat beliau ke Madinah untuk menyongsong kehidupan bernegara yang berdaulat dan berdiri sendiri serta terbebas dari penguasaan negara-negara lain. 
Hijrah itulah yang dijadikan sebagai awal penanggalan dalam Islam, awal munculnya sebuah umat dalam sejarah dunia, yaitu umat Islam yang dikatakan oleh Allah sebagai umat terbaik yang lahir ke dunia.
Sekarang sudah memasuki tahun ke-1437 H, umat Islam telah eksis di belantara kehidupan hampir satu setengah milenium. Suatu umur yang amat panjang sehingga amat wajar jika umat ini telah melewati segala pahit-manis, susah-senang, maju-mundur sebagai umat dan peradaban.
Umat ini pernah melalui masa-masa gemilang yang tidak ada tandingannya dalam sejarah. Menaungi kemanusiaan dengan keadilan dan kesejahteraan sebab Islam bukan hanya rahmat bagi umat Muslim, melainkan juga rahmat bagi seluruh alam, seluruh manusia. Bukankah Allah SWT telah berfirman, "Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam." (QS al-Anbiyaa[21]: 107).
Namun, sayang, sekarang ini umat Islam sedang terbelenggu oleh penguasaan negara-negara kafir. Harta mereka dikuasai, tenaga mereka dikuras, dan mereka hidup dalam kehidupan yang sempit. Semua ini disebabkan oleh umat ini telah berpaling dari mengingat Allah, mengingat aturan-aturan-Nya, dan menerapkannya dalam kehidupan seperti yang difirmankan-Nya dalam ayat 124 surah Thaha: "Dan barang siapa berpaling dari mengingat-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit."
Imam Ibnul Qoyyim dalam Risalah Tabukiyah menyatakan hijrah yang hukumnya fardhu ain adalah menuju Allah dan Rasul-Nya, tidak hanya berupa jasad, namun juga diikuti dengan hati. Allah berfirman, "Maka segeralah (berlari) kembali menaati Allah." (QS adz-Dzariyaat [51]: 50). 
Hijrah ini meliputi dari dan menuju: Dari perbuatan syirik menuju tauhid, dari jahiliyah menuju Islamiyah, dari mungkar menuju makruf, dari maksiat menuju taat. Dari kecintaan kepada selain Allah menuju kecintaan kepada-Nya, dari takut kepada selain Allah menuju takut kepada-Nya. 
Hijrah ini merupakan tuntutan syahadat la ilaha illallah. Hijrah ini sangat berat. Orang yang menitinya dianggap orang yang asing. Dia meninggalkan seluruh pendapat manusia dan menjadikan Rasulullah sebagai hakim dalam segala perkara yang diperselisihkan dalam seluruh perkara agama. 
Allah berfirman, "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS al-Ahzab [33]: 36). 
Pada akhirnya, hijrah adalah keberanian untuk tampil beda. Berani menolak suap ketika tradisi suap sudah membudaya. Berani menutup aurat ketika sebayanya ramai-ramai membuka aurat. Berani mengatakan yang benar, ketika yang lain justru menutup kebenaran. Wallahu 'alam.


***) Suparman Jassin

Minggu, 11 Oktober 2015

EMPAT PERINGKAT KUALITAS CINTA

Manusia diciptakan oleh Allah SWT berpasang-pasangan, antara lelaki dan perempuan. Manusia dianugerahi perasaan cinta dan kasih sayang. Karena itu, menjadi fitrahnya manusia ingin mencintai dan dicintai satu sama lain. Jika kebutuhan mencintai dan dicintai terpenuhi, hatinya menjadi tenteram, damai, dan bahagia.
Pertanyaannya, "Mengapa Allah menanamkan rasa cinta pada diri manusia? Apakah cinta merupakan sumber kebahagiaan? Ataukah justru penyebab berbagai masalah kemanusiaan? Bagaimana mengaktualisasikan "fitrah cinta" manusia dalam rangka mewujudkan ketaatan dan dedikasi sejati kepada Allah SWT dan dalam menjalani kehidupan rumah tangga?"
Cinta adalah fitrah manusia sekaligus merupakan anugerah Ilahi. Manusia yang tidak memiliki rasa cinta adalah manusia yang tidak normal. Sejak lahir, fitrah cinta itu ada dalam diri manusia. Allah menarasikan fitrah cinta itu, antara lain, dengan istilah hubbub asy-syahawat (mencintai yang menjadi keinginannya). (QS Ali Imran [3]: 14).
Menurut Imam al-Ghazali, ada empat peringkat kualitas cinta. Pertama, cinta diri sendiri; semua hal yang berhubungan dengan cinta diukur dengan kesenangan diri sendiri. Cinta jenis ini cenderung hedonis dan materialistis.
Kedua, cinta transaksional, yaitu cinta kepada orang lain sepanjang orang yang dicintainya itu membawa keuntungan baginya, seperti cinta pedagang kepada pembeli atau para calon pemimpin dengan rakyat yang akan memilihnya. Bujuk rayu, janji, dan harapan palsu diberikan demi mewujudkan transaksinya.
Ketiga, cinta kepada orang, baik meski tidak memperoleh keuntungan langsung, seperti cinta seseorang kepada kiai, ulama, dan pemimpin. Ia rela berkorban demi orang yang dicintainya. Kebahagiaan hidupnya, antara lain, terletak pada kepuasannya berjuang dan berkorban demi yang dicintainya.
Keempat, cinta pada kebaikan semata, terlepas dari siapa yang memiliki kebaikan, bahkan kebaikan yang ada pada musuhnya. Jenis cinta yang terakhir inilah yang dapat mengantarkan ke tingkat cinta kepada Tuhan.
Bagi seorang sufi Rabi'ah al-Adawiyyah, cinta sejati adalah cinta Ilahi (al-hubb al-Ilahi). Cintanya kepada Allah tidak memberikan ruang di dalam hatinya untuk membenci, termasuk membenci setan. Cinta Ilahi adalah cinta yang membuatnya selalu rindu untuk bersimpuh di hadapan-Nya, selalu memuja dan memuji-Nya tanpa berharap apa pun selain ridha-Nya.
Aktualisasi cinta sejati dalam keluarga sakinah harus dibarengi dan dilandasi oleh cinta yang tulus kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan senantiasa menaati syariat-Nya. Sebagai anugerah yang indah, cinta dalam rumah tangga harus dirawat dan dikembangkan dengan membiasakan "berjamaah" dalam banyak hal, misalnya dalam shalat, pengambilan keputusan penting, makan, rekreasi, suka dan duka, dan seterusnya.
Indahnya cinta dalam keluarga sakinah seperti itulah yang pernah diteladankan Rasulullah SAW dalam mengarungi mahligai rumah tangganya. Meskipun tidak serbaberkecukupan secara ekonomi dan materi, Rasulullah sukses mewujudkan "surga dunia" yang penuh kebahagiaan hakiki.
Sesungguhnya di antara manusia yang paling dicintai Allah adalah orang yang sabar, lisannya terus berzikir, dan pandai bersyukur. (HR at-Thabarani).
Jadi, cinta sejati itu anugerah yang kaya energi positif jika dilandasi cinta Ilahi. Cinta Ilahi dengan berhias kesabaran, kebersyukuran, dan lisan yang berzikir akan membuahkan kebahagiaan bila diaktualisasikan dalam rangka meraih ridha-Nya, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
(Da'wah, hidayah, keyakinan ., sabar, syukur., takwa, )


***) Muhbib Abdul Wahab

Sabtu, 26 September 2015

TELADAN IBRAHIM UNTUK ORANG TUA

Ibrahim dan Ismail merupakan utusan Allah SWT yang darinya tumbuh generasi-generasi pilihan. Allah SWT melalui Alquran memerintahkan Muhammad SAW agar mengikuti agama Ibrahim yang hanif, seperti difirmankan dalam surah an-Nahl ayat 123, “Kemudian Kami Wahyukan kepadamu (Muhammad), ikutilah agama Ibrahim yang hanif, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.” 
Ajaran Ibrahim AS sampai sekarang masih kekal dan diamalkan umat Islam, salah satunya yaitu melaksanakan ibadah kurban pada 10 Dzulhijah dan pada hari-hari tasyrik. Bentuk pengorbanan berupa ibadah kurban yang dimulai pada zaman Ibrahim dengan mengorbankan putranya, Ismail, bukanlah pengorbanan yang kecil. 
Setelah beberapa lama belum dianugerahi putra, akhirnya Allah SWT mengabulkan doa Ibrahim dengan menganugerahinya seorang putra bernama Ismail. Namun, setelah Ismail mencapai usia remaja, Allah SWT memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih putranya itu. 
Ibrahim yang sudah sangat lama mendambakan seorang putra harus dihadapkan pada sebuah kenyataan yang sangat dilematis, yaitu harus menyembelih anaknya. Jika tidak ada keyakinan yang kuat di antara kedua manusia saleh ini, pastilah tidak akan terjadi pengabdian yang total atas perintah Allah SWT. 
Ibrahim dan Ismail begitu yakin pada perintah Allah SWT. Ismail pun yakin sang ayah tak akan mencelakainya. Apa yang bisa diambil pelajaran dari perjalanan Ibrahim dan Ismail? 
Pertama, kedekatan orang tua dan anak mampu menumbuhkan rasa saling percaya yang kuat dalam ketaatan kepada Allah SWT sehingga menjadikan sebuah pengorbanan besar itu bisa dilaksanakan dengan totalitas tanpa keraguan sedikit pun. 
"....Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka, pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang Diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS al-Shafat: 102). Tidak ada penolakan sama sekali dari Ismail atas perintah penyembelihan itu. 
Kedua, keberanian berkorban Ismail pada usia belia karena berada dalam bimbingan Ibrahim sebagai orang tua yang pantas dipercaya. Kepercayaan seseorang bisa menjadi bekal lahirnya pengorbanan. 
Bagaimana mau berkorban jika keyakinan dan kepercayaan tidak ada. Mengajarkan dan memberikan contoh berkorban terhadap anak sejak awal merupakan investasi untuk masa depan anak. 
Bahkan keluarga, bukan sekadar untuk mendapatkan pahala, melainkan juga untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik karena sebelumnya dibiasakan sikap ikhlas untuk berkorban. 
Berkorban waktu untuk beribadah, belajar, membantu orang tua, membantu dan menolong sesama, sehingga nantinya memiliki life skilldan soft skill sebagai bekal bidup. 
Ketiga, orang tualah yang mengajak dan memberikan contoh, melatih putra-putrinya untuk berkorban sejak dini agar nanti di kemudian bisa terbiasa. 
Semoga kita tidak kesulitan dalam mengajak putra-putri kita dalam melakukan kebaikan karena kita sudah membangun kepercayaan dan keyakinan yang kuat dengan keluarga dan putra-putri kita. 
Berguru kepada Ibrahim dan Ismail tentang berkorban adalah belajar bagaimana membangun keyakinan dan kepercayaan serta berkorban dengan ikhlas terhadap Allah SWT serta membangun sikap saling percaya yang dibangun dalam keluarga dengan ikatan tauhid. 
Dengan sikap saling percaya itulah sikap berkorban akan mudah ditunaikan minimal di lingkungan keluarga, terlebih di masyarakat. Berani berkorban sejak dini berarti berani untuk mendapatkan kebaikan dan mudah untuk berkorban di saat dewasa nanti. Wallahu'alam. 
(Da'wah, hidayah, keyakinan ., hikmah, takwa, )

***) Abdul Hopid 

Kamis, 24 September 2015

AYO SHALAT ISTISQA

Sebagian besar wilayah Indonesia dilanda musim kemarau panjang dan kekeringan sehingga berakibat kekurangan air bersih. Banyak sumur masyarakat yang mulai kering. Lahan pertanian dan perkebunan mengalami gagal panen. Akibat suhu panas, banyak hutan terbakar sehingga berdampak kabut asap yang mengganggu aktivitas kehidupan. Dengan kata lain, kita semua sangat mengharapkan turunnya hujan lebat.
Aisyah RA menuturkan bahwa masyarakat Madinah pernah mengeluhkan musim paceklik dan kemarau panjang kepada Rasulullah SAW. Beliau lalu memerintahkan untuk menyiapkan mimbar di tempat shalat dan menjanjikan untuk bersama-sama melaksanakan shalat Istisqa pada suatu hari.
Lalu Rasulullah keluar dari rumah menuju tempat shalat di tanah lapang ketika matahari sudah mulai terik (waktu Dhuha), lalu naik mimbar. Beliau memulai khutbahnya dengan bertakbir lalu memuji Allah. Dalam khutbahnya Rasulullah berkata, "Kalian semua mengeluhkan kekeringan, kesulitan air di rumah-rumah kalian, terlambatnya turun hujan. Padahal, Allah SWT telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya, dan Dia telah menjanjikan untuk mengabulkan doa kalian.
Beliau kemudian berdoa, "Alhamdu lillahi Rabbi al-'Alamin ar-Rahman ar-Rahim. Maliki yaumi ad-din. La ila illa Allah…" (Dia berbuat menurut kehendak-Nya. Ya Allah, Engkau adalah Allah yang tiada tuhan selain Engkau. Engkau Mahakaya, sedangkan kami sangat fakir. Turunkanlah hujan dan jadikanlah apa yang engkau turunkan itu sebagai kekuatan dan penyambung kehidupan hingga masa tertentu."
Rasul kemudian tetap mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi hingga terlihat bulu ketiaknya yang berwarna putih, lalu beliau berpaling membelakangi para sahabat (menghadap kiblat) dan mengubah sarung selendangnya sambil menengadahkan kedua tangannya. Beliau kembali menghadap kepada para sahabat, lalu turun dari mimbar kemudian shalat dua rakaat.
Tidak lama setelah itu, Allah membuat langit menjadi mendung, berawan tebal, bergemuruh suara guntur, dan berkilatan petir, lalu turun hujan lebat sehingga menggenangi masjid. Beliau tidak ke masjid sampai air surut. Ketika melihat para sahabat bergegas pulang ke rumah masing-masing, beliau tertawa sehingga terlihat gigi gerahamnya." (HR Abu Daud).
Ketika terjadi Perang Tabuk, perang antara Rasulullah SAW bersama pasukannya melawan pasukan Bizantium, para sahabat tidak hanya menghadapi krisis logistik, tetapi juga mengalami krisis air. Mereka mengadu kepada Rasulullah, lalu beliau mengajak sebagian pasukan untuk melaksanakan shalat Istisqa. Tidak lama kemudian, turunlah hujan lebat. Para pasukan Muslim dapat menghimpun perbekalan air untuk keperluan mereka dan binatang yang dijadikan kendaraannya (kuda dan unta).
Shalat Istisqa merupakan salah satu solusi jitu untuk mengatasi kekeringan, kesulitan air, kebakaran hutan, krisis pangan, dan krisis pencemaran udara karena banyak debu dan asap akibat kebakaran hutan. Shalat Istisqa itu sarat dengan nasihat spiritual bagi kita semua bahwa tobat, beristighfar, shalat, dan berdoa kepada Allah merupakan amalan yang tidak pernah sia-sia, jika kita menyadari keterbatasan dan kefakiran diri kita di hadapan Allah.
Melalui shalat Istisqa, kita dididik untuk semakin percaya bahwa Allah itu Mahakaya, Mahakuasa, Maha Pengasih dan Penyayang yang memedulikan kesulitan hidup hamba-Nya. Kalau bukan kepada Allah, lantas kepada siapa lagi kita mengadu dan memohon pertolongan?  Melalui shalat Istisqa kita diajak untuk mengingat Allah dan menyakini bahwa Allah itu pasti menolong apa yang sedang dikeluhkan oleh hamba-Nya.
Karena itu, umat perlu digerakkan untuk melaksanakan shalat Istisqa karena berulang kali Rasulullah memberi contoh shalat Istisqa dan terbukti tidak lama setelah itu (atau bahkan saat sedang shalat) hujan turun lebat. Ayo kita shalat Istisqa!
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan ., sabar, syukur., takwa, )


***) Muhbib Abdul Wahab

Selasa, 22 September 2015

RAHASIA PERINTAH SUJUD

Subhanallah walhamdulillah diantara rahasia perintah sujud dan ruku'. Simaklah Kalam Allah dengga iman : "Wahai hamba hamba yg beriman! Ruku'lah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung" (QS AL-Hajj 77). "...Bersujudlah dan mendekatlah kepada Allah (QS Al Alaq 19).
Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya apabila seseorang hamba berdiri untuk shalat maka diletakkan semua dosa-dosanya di atas kepala dan kedua bahunya. Setiap kali, ia ruku' atau sujud berjatuhanlah dosa-dosanya itu" (HR At-Tabrani).
Rasulullah bersabda, "Apabila imam bangun dari ruku' serta membaca doa, maka hendaklah kamu membaca 'Allahuma Rabbana lakal hamdu' karena siapa yang bersamaan bacaannya dg bacaan Malaikat, niscaya diampunkan dosanya yang telah lalu" (HR Bukhari dan Muslim).
Rasulullah bersabda, "Sedekat-dekatnya seorang hamba kepada Tuhannya ialah ketika dia sedang bersujud, karena itu perbanyaklah doa" (HR Muslim).
Jangan pernah mempercepat sujud ruku' lagi, jangan menganggap biasa lagi sujud, ruku' itu, hayatilah, nikmatilah, rasakanlah saat saat sujud ruku' itu, kita sedang berhadapan dg serba Maha, Yang Menguasai, Yang Mengatur, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, Yang Menatap, dan Yang Mendengar kita saat saat sujud ruku' dihadapanNya.
Ridha, rahmat, ampunan dan berkahNya, ia kucurkan saat saat sujud ruku' dihadapanNya, Allahu Akbar.
Allahumma ya Allah terimalah sujud ruku' kami...aamiin.


Sumber: Akun Facebook Ustaz Arifin Ilham
(Da'wah, keyakinan ., takwa, )

Senin, 21 September 2015

HINA DINA YANG MULIA

Alkisah, ada seorang lelaki dari kaum Bani Israil yang dijuluki Khali', orang yang gemar berbuat maksiat besar. Suatu ketika ia bertemu dengan seorang 'abid dari kaum Bani Israil, orang yang ahli berbuat ketaatan dan di atas kepalanya terdapat payung mika.
Kemudian Khali' bergumam, "Aku adalah pendosa yang gemar berbuat maksiat, sedangkan dia adalah 'abid-nya kaum Bani Israil, lebih baik aku bersanding duduk dengannya, semoga Allah memberi rahmat kepadaku."
Lalu si Khali' tadi duduk di dekat si 'abid. Lantas si 'abid pun bergumam, "aku adalah seorang 'abid yang alim, sedangkan dia adalah khali' yang gemar bermaksiat, layakkah aku duduk berdampingan dengannya?"  Tiba-tiba saja si 'abid menghujat dan menendang si khali' hingga terjatuh dari tempat duduknya. 
Lalu Allah memberikan wahyu kepada Nabi Bani Israil dengan firmannya, "Perintahkan dua orang ini yakni 'abid dan khali' untuk sama-sama memperbanyak amal, Aku benar-benar telah mengampuni dosa-dosa khali', dan menghapus semua amal ibadah 'abid." Maka, berpindahlah payung mika yang dikenakan 'abid tersebut kepada khali'.
Kisah itu sejatinya menjadi cambuk bagi kita. Seringkali kita merasa bangga dengan ibadah dan amal saleh yang telah dikerjakan. Namun itu menjadi sia-sia karena dengan kebanggaan itu lantas menghujat dan menghakimi orang lain. 

Syekh Ibnu Athaillah dalam Kitab al-Hikam menegaskan bahwa, "Maksiat yang melahirkan rasa hina pada dirimu hingga engkau menjadi butuh kepada Allah, itu lebih baik daripada taat yang menimbulkan perasaan mulia dan sombong atau membanggakan dirimu." 
Dengan kata lain, hina dan butuh kepada Allah keduanya adalah sifat orang yang menghamba. Adapun mulia dan agung adalah sifat Tuhan, sehingga tidak ada kebaikan bagi seorang hamba yang taat tapi menimbulkan perasaan mulia dan agung, sebab keduanya adalah sifat Tuhan. 
Tawadhu-nya orang yang berbuat maksiat dan perasaan hina dan takut kepada Allah, itu lebih utama daripada takabbur-nya orang alim atau orang yang 'abid. Ibnu Athaillah membesarkan hati orang yang telah berbuat dosa agar tidak putus asa terhadap ampunan Allah.
Bahkan orang yang berdosa namun bertobat dengan penuh rasa hina dina dihadapan Allah itu dinilai lebih baik, dibanding orang yang ahli ibadah yang merasa paling hebat, suci, mulia dan sombong dengan ibadahnya.  Rasulullah bersabda,  "Jikalau kalian tak pernah berbuat dosa, niscaya yang paling saya takutkan pada kalian adalah yang lebih dahsyat lagi, yaitu 'ujub (kagum pada diri sendiri)." (HR Imam Ahmad)
Sifat hina dina adalah wujud kehambaan kita. Manusia akan sulit mengakui kehambaannya manakala ia merasa lebih mulia, sombong, ujub, hebat dibanding yang lainnya. Wallahu 'alam
(Da'wah, hidayah, keyakinan ., takwa, )

***)Republika onlene


Sabtu, 22 Agustus 2015

BERDOALAH SELALU AGAR IMAN TERJAGA

Bukan harta, apalagi jabatan yang menjadi bekal terbaik dalam hidup ini. Akidah yang kuat dengan iman yang kokoh menjadi energi terbaik dan membuat seseorang menjadi lebih kuat.
Diriwayatkan dari Jabir ra, ia berkata, "Pada Perang Uhud ada seorang yang bertanya kepada Nabi SAW, 'Apakah engkau tahu di manakah tempatku seandainya aku terbunuh?' Beliau menjawab, 'Di dalam surga.' Kemudian orang itu melemparkan biji-biji kurma yang ada di tangannya, lalu maju ke medan perang sampai mati terbunuh." (HR Bukhari dan Muslim).
Iman dalam setiap diri kadang naik dan turun. Karena itu, peliharalah dan pertahankan sebaik mungkin. Rasulullah SAW mengibaratkan iman sebagai perhiasan terindah, tergambar dalam doa, "Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan keimanan. Dan, jadikanlah kami sebagai orang yang mendapatkan petunjuk dan memberi petunjuk kepada orang lain."
Hidup manusia selalu berada pada bukit, lembah, bahkan dasar jurang, semuanya serbaberliku dan menantang, butuh proses panjang dalam menjalaninya. Seperti roda yang terus berputar, kadang di bawah, kadang juga di atas. Ketika berada di atas, rasanya nyaman dan penuh rasa syukur menjalaninya.
Namun, saat terpuruk di bawah, penuh kesedihan, penyesalan, dan rasa kehilangan. Tak jarang, sebagian dari kita marah, protes atas takdir-Nya, berputus asa dan lari dari kenyataan dan mengakhiri hidup dengan konyol (bunuh diri).
Harta, takhta, jabatan, atau keluarga sekali pun belumlah cukup menjadikan diri manusia kuat menghadapi segala cobaan. Hanya keimanan yang menjadi obat sekaligus penguat dalam menyikapi segala persoalan kehidupan.
Iman yang kuat membuat manusia bijak dalam bersikap, berbuat, dan bertindak. Iman berfungsi sebagai perisai yang melindungi dari perbuatan jahat dan mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Dengan iman, sekeras apa pun cobaan yang menimpa, tidak akan menjadikan diri kita berburuk sangka kepada Allah SWT. Dengan iman, hidup menjadi lebih optimistis, selalu bersemangat, dan penuh makna.
Berdoalah selalu agar iman kita terjaga. Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. (QS Yunus: 9).
Jauhkan diri kita dari kebodohan, kelalaian dalam beribadah, nafsu yang membawa kepada keburukan, dan berbuat maksiat karena akan mengurangi iman. Berlindunglah selalu kepada Allah SWT agar dilindungi dari godaan setan, godaan gemerlap duniawi yang melalaikan, dan teman bergaul yang berakhlak buruk. Kecenderungan manusia untuk menumpuk harta dan lalai kepada peran sejatinya sebagai hamba dan khalifah di muka bumi ini telah digambarkan Allah SWT dalam surah at-Takatsur.
Padahal, harta dan takhta hanyalah amanah dan alat untuk beribadah. Tetaplah pelihara hati agar jangan pernah sedetik pun berpaling dari Allah Yang Maha Rahman dan Rahim. Dengan keimanan, kebahagiaan dunia dan akhirat menjadi niscaya. Dengan keimanan pula, akan digapai ketenangan dan kemantapan jiwa.
Dalam Alquran surah an-Nahl ayat 97, Allah berfirman, "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik...."
Iman membimbing kepada ketaatan, keihklasan dalam beribadah, sabar menghadapi cobaan, dan tawakal kepada Allah. Hatinya selalu diliputi kepasrahan, ketenangan, penuh harap, dan ridha atas segala keputusan-Nya. Wallahu'alam.
(Da'wah, hidayah, keyakinan ., takwa,)

***) Iu Rusliana

Senin, 17 Agustus 2015

YANG PERLU DITINGKATKAN SETELAH RAMADHAN

Dan Ramadhan pun berlalu. Tidak ada perjumpaan terindah kecuali berjumpa dengan Ramadhan. Sekaligus tidak ada perpisahan yang mengharukan terselip kesedihan kecuali berpisah dengan Ramadhan.
Disebut perjumpaan terindah karena di bulan ini banyak di antara kaum Muslimin mendadak saleh dan berwajah taat. Ramadhan sebagai syahrut tarbiyah berhasil mendidik mereka menjadi pribadi elok, gampang beringsut untuk berbuat baik.
Dan disebut perpisahan yang mengharukan karena Ramadhan yang setahun sekali datangnya ini belum tentu kita adalah yang akan menemuinya lagi. Syawal sebagai bulan setelahnya, apakah bisa melesatkan minimal mengamankan dan melestarikan semua amal kebaikan Ramadhan yang indah itu.
Nah, kita bersedih karena khawatir diri kita tidak bisa meneruskannya apalagi meningkatkannya, sebagaimana yang diminta dengan kehadiran Syawal sebagai syahrut tarqiyah (bulan peningkatan).
Apa yang perlu kita tingkatkan? Pertanyaan ini menarik, sebab banyak kita tidak menyadari Ramadhan itu sebenarnya prosesi awal dari 11 bulan berikutnya. Bagaimana Allah menguji kita, apakah kebiasaan tilawah minimal sehari satu juz dapat bertahan. Bahkan seharusnya dilebihkan.
Perlunya melebihkan karena pahalanya tidak digandakan lagi sebagaimana di bulan Ramadhan sementara sebagai bekal untuk menghalau godaan maksiat dan berdosa sedikit. Bukankah setelah Ramadhan pintu maksiat dan dosa semakin terbuka, disebabkan setan telah terlepas dari belenggunya?
Untuk itulah kita perlu melebihkan bacaan tilawah Alquran. Ketika Ramadhan kita sibuk tadarus Alquran, tiada hari tanpa membaca firman Allah. Itu mengapa hati kita selalu tenang selama menjalani sakralitas ibadah shaum. Sebab, kalimat Alquran mengendap kuat di hati kita.
Berikutnya tentu tarqiyatul ‘ibadah, peningkatan ibadah khususnya amal sunah.  Kalau amal wajib sudah pasti, tidak boleh sedikit pun terpikir untuk meninggalkannya. Yang sunah harus menjadi kecintaan sebagaimana cintaya kita dengan Tarawih, shalat berjamaah selalu di masjid dan tepat waktu, sedekah atau berbagi takjil, iktikaf, dan lain sebagainya.
Dari kecintaan itu tumbuh semangat untuk menghidupkannya, di mana pun, kapan pun dan dalam kondisi bagaimana pun. Harusnya semua amal sunah itu kita teruskan dan tingkatkan.
Tarqiyatul akhlaq, peningkatan akhlak dan kepribadiaan adalah hal yang juga harus kita teruskan di bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya. Selama Ramadhan kita melatih lidah kita untuk berpuasa dari amarah, ucapan kotor, dusta, fitnah, gibah, sifat dengki, dan berkata kasar. Proses itu berujung terciptanya manusia saleh yang berakhlak mulia seperti yang dicontohan Rasulullah SAW.
Sebagai pihak yang kedatangan tamu Syawal harusnya kita meneruskan dan berikhtiar kuat untuk meningkatkan kualitas kepribadian itu, demi terbukanya tabir kebaikan yang Allah janjikan kepada siapa pun yang berakhlak mulia. Sebuah maqalah Arab menyebutkan, maa syarafal makhluq illa bihusnil khuluq, tidak ada kemuliaan seorang makhluk kecuali pada kemuliaan akhlak.
Walhasil, setelah Ramadhan benar-benar berlalu renungi firman-Nya dalam surah al-Insyirah [94], ayat 7, fa idza faraghta fanshab, jika engkau sudah selesai dengan satu urusan, kembalilah tegak (untuk meneruskan dan beramal lain). Dari tarbiyah kita menuju tarqiyah. Wallahu a’lam. 
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan ., pendidikan, sabar, syukur., takwa, )

***) Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Selasa, 16 Juni 2015

TIGA HIKMAH MENYEGARKAN BERBUKA

Ramadhan, bulan yang penuh berkah akan kembali menyapa. Di antara keberkahan itu ialah setiap amal ibadah orang yang berpuasa dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan dibalas dengan 10 hingga 700 kali lipat. Dan khusus pahala puasa, Allah SWT sendiri yang langsung membalasnya (HR Muslim).
Dalam hadis yang lain, suatu amal kebajikan (sunah) di bulan Ramadhan nilai pahalanya seperti menunaikan amalan wajib (fardhu) di bulan yang lain dan menunaikan amalan wajib nilai pahalanya sama dengan mengerjakan 70 kali amalan wajib di bulan lain. (HR Ibnu Khuzaimah). Allahu Akbar.
Dan salah satu amalan ibadah sunah yang hendaknya mendapatkan perhatian serius dari orang yang berpuasa adalah menyegerakan berbuka puasa. Rasulullah SAW bersabda, “Manusia akan selalu baik selama mereka cepat berbuka.” (HR Muttafaq alaih).
Dalam sunah amaliyah Rasulullah SAW, seperti yang telah diriwayatkan oleh Anas RA bahwa beliau berbuka puasa dengan memakan beberapa buah kurma setengah matang. Jika tidak ada, beliau memakan beberapa buah kurma masak. Jika tidak ada, beliau hanya meneguk beberapa tegukan air sebelum melaksanakan shalat Maghrib. (HR Ahmad).
Rasul SAW tidak pernah menunaikan shalat Maghrib (pada bulan Ramadhan) sebelum berbuka puasa, meskipun beliau hanya berbuka dengan meminum air putih. (HR Abu Ya'la). Hal ini menunjukkan pentingnya menghidupkan sunah menyegerakan buka puasa.
Ada hikmah besar di balik perintah untuk menyegerakan berbuka puasa. Pertama, untuk menghidupkan sunah Nabi SAW. Berkata Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, telah berkata Imam Syafii, “Mempercepat berbuka puasa adalah perbuatan yang disunahkan dan mengakhirkannya bukanlah perbuatan yang diharamkan kecuali apabila menganggap bahwa mengakhirkan berbuka puasa terdapat keutamaan di dalamnya.”
Kedua, sebagai pembeda dengan pemeluk agama lain. Rasulullah SAW bersabda, “Agama Islam akan selalu menang selama para pemeluknya mempercepat berbuka (puasa) karena orang Yahudi dan Nasrani selalu mengakhirkannya.” (HR Abu Dawud).
Ketiga, dapat menyegarkan badan. Hal ini pernah dikatakan oleh Imam Al-Muhallib, “Hikmah dari menyegerakan berbuka puasa adalah agar orang yang berpuasa itu tidak semakin berat dengan menahan lapar lebih lama. Selain itu, agar badan segar kembali sehingga lebih kuat dalam beribadah di malam hari.”
Hal ini tampak dari doa berbuka puasa yang telah diajarkan oleh Rasul SAW. “Dzahabadz dzama'u wabtalatil 'uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah” (Rasa dahaga telah hilang, urat kerongkongan telah basah, dan pahala ditetapkan, insya Allah). (HR Abu Dawud).
Agar waktu berbuka puasa semakin bertambah berkah, hendaknya orang yang berpuasa memanfaatkannya untuk berdoa. Sebab, di antara waktu yang mustajab untuk berdoa adalah waktu menjelang berbuka puasa.
Dari Abdullah bin Amar berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang berpuasa tatkala berbuka doanya tidak akan ditolak.” (HR Ibnu Majah). Dalam hadis yang lain, “Tiga golongan yang doanya tidak akan ditolak ialah doa pemimpin yang adil, orang yang berpuasa ketika berbuka, dan doa orang yang teraniaya.” (HR Tirmidzi). Dalam riwayat yang lain, “Dan doa orang yang berpuasa sehingga ia berbuka.”
Semoga kita termasuk orang-orang yang dapat melestarikan amalan-amalan sunah di bulan Ramadhan. Amin.

***) Imam Nur Suharno
 (hikmah, keyakinan ., sabar, tawakal., kebesaran, Tuhan, toleransi,)


Rabu, 11 Februari 2015

BERSAHAJA DALAM HIDUP


bersahaja dalam hidup. Kita berharap dari hasil bekerja keras dengan cerdas Allah menitipkan rezeki yang lebih agar dapat didistribusikan untuk sebesar-besarnya manfaat bagi kemaslahatan umat.
Prioritaskan membayar zakat, sedekah dan menabung. Kemudian, agar kita mempunyai lebihan harta kita harus bersahaja dalam hidup dengan menahan diri dalam membelanjakannya. Dengan demikian kita akan lebih besar tiang daripada pasak. Orang yang tak bersahaja dalam hidup, kebutuhan dan pengeluarannya sangat banyak, akibatnya biaya untuk sedekah dan menabung menjadi sedikit karena dia terus menerus memuaskan dirinya, misalnya dengan membeli perhiasan, mengganti mobil atau rumah.
Itu semua tak terlarang dilakukan, tetapi kita membutuhkan orang-orang yang mempunyai kelebihan harta justru untuk bisa dinafkahkan di jalan Allah. Yang disebut orang kaya itu bukan orang yang banyak uangnya, tetapi (di antaranya adalah) orang yang sedikit kebutuhannya. Mengapa demikian? Karena tak sedikit orang yang merasa kaya dengan harta, tabungan, atau rumahnya yang megah padahal pribadinya miskin. Dia meraup harta dari sana sini karena miskin pribadinya. Dia relakan dirinya terhina dengan mencuri uang dan mengambil kekayaan orang lain, itu adalah ciri-ciri orang yang mempunyai kekayaan dunia tapi berkepribadian miskin.
Apakah keuntungannya jika kita membiasakan bersahaja dalam hidup? Pertama, kita tak akan diperbudak oleh pamer. Kalau kita mempunyai barang, makin bagus cenderung makin ingin dilihat orang yang akhirnya membuat kita tersiksa. Bukan tak boleh memiliki barang bagus, tapi apalah artinya kalau barang itu akhirnya memperbudak diri kita. Kedua, biaya hidup bisa lebih rendah. Makin mahal barang, maka perawatan, penjagaan dan perbaikannya juga makin mahal.
Jika kita bersahaja insya Allah itu semua bisa ditekan. Ketiga, kita tak akan membuat orang lain iri atau kotor hati. Selain itu, pencuri pun semakin tak berminat. Bersahaja itu tak identik dengan murah, karena kalau kita membeli barang murah tapi cepat rusak, ini bisa mendatangkan masalah. Misalkan, ada orang yang ingin makanannya bersahaja hingga ia membeli yang murah (kurang menyehatkan) karena sisanya akan ditabungkan.
Tapi bila akhirnya dia sakit hingga biaya pengobatannya lebih besar dari tabungannya, maka ini tak proporsional. Pembelanjaan yang proporsional adalah yang sesuai dengan keperluan dan kemampuan. Firman Allah SWT, "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian." (QS Al Furqaan [25]: 67).
Bertanyalah pada diri jikalau akan membeli sesuatu. Misalkan, "Untuk apa saya membeli kursi? Untuk apa saya mengganti mobil? Perlukah saya mengganti motor padahal baru setahun?" Kalau memang diperlukan silakan membelinya. Bersahaja itu bukan berarti miskin, murah atau jelek. Nabi Muhammad SAW orang yang sangat bersahaja, tak berkurang kemuliaannya. Beliau kudanya bagus-bagus karena memang beliau memerlukannya agar dapat berkendaraan dengan baik.
Rasulullah menganjurkan kita mempunyai rumah yang lapang kalau itu memang diperlukan, tapi rumah Rasul sendiri sangat sederhana karena sebagai pemimpin beliau harus meraba hati orang miskin. Beliau juga harus meneladani umatnya untuk hidup bersahaja walaupun beliau sanggup membeli rumah yang besar dan bagus. Kendati demikian, kita jangan menilai orang lain dengan alat ukur kita, bisa jadi orang lain membeli barang mahal karena memang benar-benar membutuhkannya.
Misalkan, ada orang yang memakai mobil mewah karena aktivitasnya memang sangat membutuhkan kenyamanan, kemudian sedekahnya pun berkali lipat dari harga mobilnya, ini tak mengapa. Tapi andaikata dia sedekahnya pelit, karyawannya seret, tetangganya miskin, ini tak proporsional. Negeri kita sedang krisis ekonomi, tapi begitu banyak mobil mewah, sedangkan rakyat banyak yang untuk makan saja susah.
Karenanya sebaiknya para pemimpin itu lebih pandai meraba derita rakyatnya dan lebih bersahaja dalam hidup. Semoga Allah Yang Mahakaya memperkaya batin kita dengan merasa cukup dengan karunia Allah. Jangan sampai kita merasa kaya dengan apa yang kita miliki, tapi kita harus merasa kaya dengan apa yang Allah jaminkan kepada kita.
(hikmah, hidayah, keyakinan, takwa .)

Selasa, 06 Januari 2015

PARA PEMIMPIN MULAI LUPA KONSEP QANAAH

 PARA PEMIMPIN MULAI LUPA KONSEP QANAAH

keyakinan ., hidayah, takwa.    Rasulullah SAW pernah berkata kepada Hakim bin Hizam, “Harta memang indah dan manis, barang siapa mengambilnya dengan lapang dada maka dia mendapatkan berkah. Sebaliknya, barang siapa menerimanya dengan kerakusan maka harta itu tidak akan memberikan berkah kepadanya layaknya orang makan yang tak pernah kenyang.”
Dunia nyata semakin menggelorakan nafsu menumpuk harta dan berebut takhta. Karenanya, kita memerlukan treatment menghadapi itu semua, salah satunya dengan mengingat kembali konsep qanaah.
Qanaah adalah merasa puas atas pemberian yang sudah diterimanya. Puas itu ditunjukkan dengan syukur dan menghindari kerakusan. Selain itu, mengekang diri dalam memburu apa yang diinginkannya karena merasa cukup dengan apa yang telah diperoleh. 
Qanaah merupakan salah satu jalur alternatif mengendalikan diri di tengah gemerlap dunia yang semakin menggiurkan. Inilah sikap yang harus dimiliki oleh seorang Muslim pada umumnya dan Muslim pejabat pada khususnya. Hal itu mengingat derasnya cobaan yang silih berganti menawarkan isi dunia. 
Bukankah kita sudah maklum bahwa pada akhirnya nanti uang, harta, dan takhta juga akan sirna. Uang akan usang, harta akan binasa, dan jabatan akan digantikan. Mengapa diri ini selalu tertarik untuk mengumpulkannya, bukankah itu sama artinya menimbun busa yang akan lenyap diterpa udara? Orang yang cerdas pastilah lebih suka mencari sesuatu yang lebih tahan lama, sesuatu yang tidak cepat punah dan habis hanya karena pergantian masa. Adakah hal yang demikian itulah qanaah.
Kita perlu bersandar pada hadis Rasulullah SAW, “Jadilah kamu orang yang wara’, pasti kamu menjadi orang yang rajin beribadah, dan jadilah kamu orang yang qanaah, pastilah kamu menjadi orang yang banyak bersyukur (HR.Bukhari).” Janganlah salah mengartikan qanaah dengan berpangku tangan, berserah diri tanpa usaha, namun penuh harap akan rahmat Allah SWT. 
Tidak, bukan demikian maksud qanaah tersebut. Manusia tidak dilarang mencari rezeki, bahkan Allah SWT memerintahkan manusia untuk berusaha. Karena hasil usahalah yang akan menopang ibadah seseorang. Usahalah yang menjadi modal perjuangan agama. Tanpa ada hasil usaha, tidak akan ada masjid mewah, tidak ada panti asuhan, tidak ada madrasah dan mushalla. Semua itu memerlukan usaha dan harta. 
Hanya saja yang perlu disadari dunia usaha bagaikan hutan belantara yang gelap tanpa arah. Apabila kita berjalan tanpa senjata dan tidak berhati-hati, akan diterkam binatang buas atau tersesat di dalamnya. keyakinan ., hidayah, takwa.        Sehingga kita tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal ataupun mendapatkannya, tetapi bukan hasil yang halal. Bukankah nafsu syaitan selalu mengarahkan kita ke dalam sesat keharaman.
Oleh karena itu, marilah kita persenjatai diri dalam belantara usaha dengan qanaah, insya Allah dia akan memberikan rambu-rambu ke arah yang benar walaupun tidak disertai dengan hasil maksimal. Bila demikian, adanya usaha yang kita lakukan akan memilki nilai ibadah. Karena, segala macam kegiatan manusia yang disandarkan niatnya kepada Allah SWT akan dihitung sebagai ibadah. Ibadah tidak terbatas bertekur dan berzikir di dalam masjid saja, tetapi menyingkirkan duri dari jalanan juga termasuk ibadah.
Di sinilah kehebatan qanaah, dia tidak mengenal takut dan gentar. Apa pun kondisi yang ada harus kita hadapi dengan sabar dan penuh keyakinan. Seperti janji Allah SWT dalam surah Hud ayat 6, “Tiada sesuatu yang melata di bumi ini, melainkan di tangan Allah rezekinya.”
Memang pada kenyataannya hidup ini tidaklah selalu mulus dan mujur. Terkadang malang dan terkadang berkelok. Dan, ketika berkelok itulah tanda-tanda keberuntungan kita. Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh beruntung orang yang Islam dan rezekinya pas-pasan dan dia merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah kepadanya.”

***)republika

Selasa, 30 Desember 2014

PAUS : ISLAM BUKAN AGAMA KEKERASAN



Toleransi.     Pembelaan terhadap umat islam datang dari mulut Paus Franksiskus. Pemimpin tertinggi umat Katolik tersebut mengatakan. Agama islam tidak boleh di samakan dengan tindak kekerasan.
Menurutnya tidak dibenarkan bagi siapa pun mengatakan terorisme merupakan bagian dari agama Islam. Dia menjelaskan, tuduhan tersebut hanya untuk menyerang Islam.” Alquran adalah Kitab perdamaian. Kitab tersebut merupakan sebuah buku kenabian perdamaian.” Kata nya.
Meski demikian, citra keras Islam kembali muncul pada tahun ini. Terutama, dengan kebangkitan kelompok Negara Islam (IS) yang menguasai sebagian wilayah Irak dan Suriah. Mereka melakukan eksekusi terhadap penganut Syiah, Kristen, bhakan Muslim sunni yang tidak sesuai dengan interpretasi mereka.
Paus meminta para pemimpin Muslim di seluruh dunia mengutuk segala tindakan terorisme yang dilakukan atas nama Islam. Ia beranggapan,”kutukan global” dari seluruh pemimpin Muslim akan membantu menghilangan pandangan negatif sejumlah masyarakat Barat tentang umat Islam.
Menurutnya, tidak semua Muslim adalah teroris. Begitu pula, lanjut dia, tidak semua orang Kristen adalah fundamentalis. Pernyataan tersebut ia sampaikan saat kedatangannya kembai ke Roma setelah kunjungannya ke Turki. Paus juga mengatakan kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bahwa akan indah jika semua pemimpin Islam, pemimpin politik, agama atau akademisi mengutuk aksi terorisme karena akan sangat membantu sebagian orang Muslim.
Toleransi.    Paus bersama pemimpin Kristen Ortodoks Bartholomew I mengatakan, mereka tidak akan menarik umat Krisren pergi dari Timur Tengah. Mereka juga mengutuk penganiyaan terhadap saudara saudara mereka yang telah di usir secara paksa dari Timur Tengah.
Imam Masjid Istiqlal KH Ali Mustafa Ya’kub menyambut baik pernyataan Paus tersebut. Dia pun berharap Paus sudah mempelajari Islam sehingga dapat menyampaikannya dari lubuk hati terdalam. “Mudah-mudahan, dia mengetahui Islam yang sebenernya, “ujar Kiai Ali.
Sejauh ini, tutur Kiai Ali, hubungan antarulama di Indonesia degan pemimin Katolik di Vatikan tidak bermasalah. Hubungan itu akan terus dijaga sepanjang tidak menyinggung masalah akidah dan Ibadah. “Selama prinsipnya lakum dinuku waliyadin. “jelasnya. Kemudian Kiai Ali menjelaskan Islam memiliki arti lain sebagai agama perdamaian. Tak hanya itu, Islam pun diajarkan untuk menjadi rahmat seluruh alam.
Toleransi.    Meski demikian, Kiai Hasyim tidak menafikan adanya ayat – ayat tentang berperang di dalam Al-quran. Berperang dalam Islam, hanya untuk mempertahankan agama dan Nyawa.



***)antara ed:syalaby ichsan

BERSABARLAH, JANGAN BIARKAN HATI GELISA


Sabar & Syukur.   Hati adalah salah satu anugerah Allah SWT yang tidak ternilai harganya bagi manusia.   Melalui  hati, manusia dapat  merasakan suka,duka,bahagia, derita, kecewa,    bangga, dan lain lain.
Dengan hati, manusia dapat meraba perasaan. Hati juga dapat membuat kehidupan ini penuh dengan kedamaian dan kasih sayang. Hati adalah keajaiban sang pencipta yang senantiasa menuntun manusia pada cahaya, cahaya kebenaran.
Pada dasarnya, manusia adalah sesosok makhluk yang paling sering dilanda kecemasan. Ketika seseorang dihapkan dalam menghadapinya tentu jiwa dan pikirannya akan menjadi guncang dan perkara tersebut sudahlah menjadi fitrah bagi setiap manusia. Jangankan kita sebagai manusia biasa, bahkan rasulullah  SAW pun pernah mengalami keadaan seperti itu  pada tahun ke-10 masa kenabiannya. Pada masa yang mahsyur itu  dengan tahun duka cita itu, beliau ditinggal wafat oleh pamannya, Abu Thalib, kemudian dua bulan disusul dengan wafatnya istri tercinta dann terkasih.
Jangan gelisah, gelisah memang satu penyakit hati yang sangat berbahaya namun hampir tidak pernah dipertimbangkan oleh kebanyakan manusia. Karena, biasanya mereka sudah memiliki cara masing masing untuk menghilangkan gelisah tersebut.  Ada yang  menghilangkannya dengan cara yang sesuai atau tidak melanggar syariat, namun banyak pula yang menghilangkan penyakit tersebut dengan cara menyimpang dari syariat. Akibatnya , gelisah mereka hilang, dosa pun menerkam. Dan satu satunya obat yang paling efektif dan tidak bertentangan dengan syariat Islam untuk menangkal atau mengobati penyait gelisah adalah dengan cara selalu mengingat, sebagaimana telah dikatakan jelas Allah di dalam Al-Qur’an yang artinya:
“(yaitu)”orang orang (mereka)yang beriman dan hari mereka menjadi tenteram ketika mengingat Allah. Ketauhilah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (Qs- Ar-Ra’du:28).   Sabar  & Syukur.    Dalam keseharian sema orang membutuhkan ketenganan hati, dan untuk mendapatkan ketenangan hati bukanlah hal yang mustahil. Allah SWT mengajarkan kepada kita langka nyata mendapatkan ketenangan hati, yaitu dengan berdzikir, ingatlah dengan dzikir mengingat Allah hati aka tentram. Sebaliknya, ketika kita jarang ingat kepada Allah, hati akan kering dan gersang.
Tenangkan hati, Selain menenangkan jiwa, sabar juga dapat menyetabilkan kacaunya akal pikiran akibat beratnya beban yang di hadapi. Ujian yang tuhan berikan kepada ita itu sebenarnya untuk menguji keimanan kita. Jika kita sabar melewati cobaan dan ujian akan meningkatlah level iman kita. Bukankan Allah itu menguji hamba-Nya sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Jika ujian itu datang padanya, berarti Allah yakin kita bosa melewatinya.
Berfikir positif, akan sangat membantu mengatasi  rasa galau yang sedang kita rasa. Karena dengan berfikir postif, maka segala bentuk bentuk kesukaran dan beban yang ada dalam diri kita menjadi terobati karena adanya sikap bahwa segala yang masalah yang hadapi, pastilah mempunyai jalan keluar yang sudah di tetapkan oleh Allah Ta’ala. “karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kesenangan.”Qs Al-insyirah 5-6.
Allah berfirman : “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat ayatnya) lagi berulang ulang, gemetar karenanya kulit orang orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hari mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk dari Allah, dengan kitab itu Dia menunjukki siapa di kehendaki-Nya. Dan barang siapa yang di sesatkan Allah niscaya tak ada baginya seorang pemipinpun.” Qs. Az Zumar 23.
Kemudian jangan lah kalian lupa membaca Al-Qur’an,zikir dan salawat. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai teman paling akrab sepanjang waktu. Sesungguh nya ayat Al-Qur’an adalah penenang jiwa yang paling mujarab. Lalu selalulah kalian berdoa memohon agar Allah SWT membebaskan kita dari kegelisahan dan semua persoalan yang menghimpit. Wallahu’alam



***) wahyu/eddy

KESALEHAN SOSIAL SEORANG NOTARIS


 Tokoh, Perbuatan.     Erry Gustion, SH, M.kn, seorang notaris yang bekerja di wilayah kota Palembang Saat ini Erry yang sering disapa oleh teman-temannya Bowie ini, sedang sibuk-sibuknya mengurasi warga kota yang berurusan soal kenotariatan. Baik itu perizinan, membuat akte maupun perusahaan yang ingin memperoleh Legalitas.
Kesibukannya di bidang kenotarisan tidaklah lalu melupakannya menekuni kegiatan sosial, Kalau boleh menggunakan kalimat para ustadz, pria muslim ini, bekerja sambil beramal. Itu merupakan falsafah hidup yang di lakoninya sehari-hari. Agaknya, ia sangat memahami kenyataan di tengah masyarakat, yang masih banyak membutuhkan uluran tangan untuk membantu mereka. Apalagi bila masalahnya terkait dengan kehidupan fisik. Tentu harus ada orang yang memiliki kepedulian.
Itu pula yang kemudian menuntutnya untuk ikut menekuni organisasi sosial yang langsung menangani orang orang cacat fisik. Pria yang baru berusia 41 tahun ini telah bergabung dengan sebuah organisasi bernama Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI) untuk wilayah operasional Sumatera Selatan.
Tokoh, Perbuatan.     Ia dilantik menjadi Ketua LCKI Sumsel, melalui SK No/Skep/17/VII/2012/LCKI tanggal 27-agustus-2012 Sejak itu ia pun tidak berhenti untuk bisa sedikit membantu mereka yang cacat fisik di daerah ini. “Apa yang saya lakukan juga belum bisa menyentuh semua penyandang cacat. Baru sedikit, Masih kita butuhkan relawawan yang bisa menuntaskan masalah mereka.
Menurutnya, menolong sesama sebenarnya sudah menjadi tugas dan tanggung jawab bagi kita bersama sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Tinggal bagaimana niat kita untuk mewujudkan kesertaan kita dalam kegiatan amal semacam ini.
Setelah memberikan bantuan sebanyak 167 tangan dan kaki palsu, datang pula rezeki maka kemudian melakukan pengukuran tangan dan kaki palsu lagi untuk 140 kaki palsu dan tangan palsu. Kesemua itu telah di serahkannya pada 31 agustus 2013 lalu di Jalan Kebun Jahe Palembang.
Menurutnya, untuk mencapai tujuan kegiatan ini, dirinya merasa perlu membantu sesama khususnya kaum disabilitas ( cacat tubuh ) ini. Ia menyadari masih  sedikit masyarakat yang peduli, khususnya kepada kaum disabilitas ini. Tapi, walaupun kami baru, kami satu-satunya lembaga swadaya masyarakat untuk Sumatera Selatan yang peduli terhadap kaum disabilitas, berharap ada lagi yang lain yang peduli. Bowie menjelaskan LCKI berdiri paa tahun 2005 oleh Bapak Dai Bachtiar, ujar Alumnus S2 Universitas Sriwijaya ini.
Tokoh, Perbuatan.    Selain kegiatan ini, Bowie juga membantu unit usaha kepada mereka masyarakat yang pengangguran agar mandiri. “Kita menfasilitasi mereka dengan gerobak jualan beserta dagangannya. Jadi merek hanya menyiapkan tenaga dan diajari bagaimana cara pemasarannya. “Saat ini jumlah gerobak yang kita miliki sebanyak 25 gerobak,” kata suami Tanti Apriani ini. Menurutnya semua fasilitas gerobak dan kebutuhan lainnya seperti gas da kompornya di berikan secara gratis (free). Kedepan katanya pihaknya akan mengajari mereka agar bisa berwirausaha dan mengarahkannya kepada jiwa enterpreneur.” Makanya kedepannya kami akan membuat unit-unit usaha yang Lainnya di LCKI contohnya seperti memproduksi pempek, bakso tekwan dan model, jadi merekalah yang akan menjalanin unit usaha kita.”