Tampilkan postingan dengan label syukur.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syukur.. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2016

PERILAKU KAUM NABI LUTH AS

Maraknya isu lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) belakangan ini mengharuskan kita semua belajar lagi dan mengambil hikmah dari kisah Nabi Luth dan kaumnya yang dikenal berperilaku menyimpang, yaitu kaum homoseksual (liwath). 
Pembelajaran tersebut agar hikmah yang dipetik dari kisah kaum Nabi Luth itu benar-benar menjadi pelajaran bagi masa depan bangsa dan umat manusia. Setidak-tidaknya ada tujuh narasi kategori perilaku yang disematkan Alquran kepada kaum Nabi Luth AS. 
Pertama, perbuatan homoseksual (pria atau perempuan penyuka sesama jenis) disebut fahisyah. Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, 'Kamu benar-benar melakukan perbuatan yang sangat keji (homoseksual) yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu'.” (QS al-'Ankabut [29]: 28). 
Menurut Muhammad al-Hijazi dalam at-Tafsir al-Wadhih, esensifahisyah itu adalah perbuatan yang sangat keji, buruk, menjijikkan, dan sangat membahayakan. 
Kedua, perilaku lesbian dan gay kaum Luth AS itu disebut mungkar (ditolak keras, tidak bisa diterima norma agama, etika, atau hukum). “Apakah pantas kamu mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?” 
Maka, jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika engkau termasuk orang-orang yang benar.” (QS al-`Ankabut [29]: 29). Lebih parah lagi, mereka menantang Nabinya untuk meminta didatangkan azab Allah SWT kepada mereka.
Ketiga, perilaku kaum Nabi Luth AS itu dinilai mufsid (merusak). “Dia (Luth) berdoa, “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas golongan yang berbuat kerusakan itu.” (QS al-`Ankabut [29]: 30). 
Mereka dinilai sebagai pembuat kerusakan karena mereka itu merusak indahnya lembaga pernikahan berbeda jenis, merusak salah satu tujuan dan fungsi pernikahan, yaitu reproduksi secara sehat dan halal, sekaligus merusak mental-spiritual dan masa depan manusia. 
Bayangkan, jika mayoritas manusia berperilaku seperti kaum Nabi Luth AS, niscaya punahlah kehidupan manusia di muka bumi ini. 
Keempat, perilaku kaum Nabi Luth AS itu dianggap musrif, sungguh keterlaluan, atau melampaui batas: rasionalitas, kepatutan, dan kewajaran (abnormal). “Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah urusanmu yang penting wahai para utusan (malaikat)?”
Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth) agar kami menimpa mereka dengan batu-batu dari tanah (yang keras), yang ditandai dari Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas.” (QS az-Dzariyat [51]: 31-34). 
Betapa tidak melampaui batas, binatang saja yang tidak diberikan oleh Allah SWT akal dan kalbu, tidak ada yang menyukai sesama jenis.
Tidak ada ayam, kambing, kerbau dan lainnya yang jantan atau betina menyukai dan mengawini sesama jantan atau betina. Artinya, perilaku kaum Nabi Luth itu jauh lebih buruk daripada perilaku binatang. 
Kelima, perilaku kaum Nabi Luth AS itu dinilai zalim (aniaya), baik terhadap diri mereka sendiri maupun orang lain. Disebut zalim karena mereka melakukan perbuatan yang menyimpang dari fitrah kemanusiaan dan melawan norma dan etika sosial. 
Banyak riset menunjukkan asal mula timbulnya penyakit AIDS adalah karena hubungan seksual sesama jenis, melalui perilaku seks anal (dubur) yang oleh Nabi SAW secara tegas dilarang. 
Keenam, perilaku kaum Nabi Luth AS itu merupakan dosa besar, pelakunya disebut mujrimun. Ketujuh, perilaku kaum Nabi Luth itu termasuk perilaku yang berulang kali diberi peringatan (mundzar)oleh Allah SWT, namun mereka tetap tidak percaya, bahkan menentang dan menantang didatangkannya azab kepada mereka. 
Akibatnya, “Dan Kami hujani mereka (dengan hujan batu), maka betapa buruk hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS asy-Syu'ara' [26]: 173-174). 
Kisah dalam Alquran tersebut faktual, benar adanya, dan tidak ahistoris. Azab yang diturunkan Allah SWT kepada kaum Nabi Luth AS yang berperilaku ala LGBT itu adalah hukuman superdahsyat. 
Tidak ada argumen yang dapat dijadikan sebagai pembenaran atas legalisasi perkawinan sejenis, termasuk argumen HAM, karena perilaku kaum Nabi Luth itu justru melanggar HAM: melawan nurani dan fitrah kemanusiaan yang benar dan lurus, mematikan proses reproduksi melalui pernikahan berbeda jenis dan mematikan masa depan kemanusiaan.

***) Muhbib Abdul Wahab (Republika Online)

Rabu, 06 Januari 2016

DAHSYATNYA ISTIGHFAR

Jika ikhwah sering menghadiri majelis-majelis zikir, tentu tidak hanya majelis kami, ikhwah pasti sering sekali mendengar dari para ustaz dan ulama kita tentang pelaziman istighfar. 
Dalam majelis zikir yang kami helat, misalnya, istighfar minimal seratus kali dibaca dan sekaligus sebagai pembuka zikir kami.
Lalu, mengapa kita sangat perlu beristighfar? Berikut ini adalah tuturan hikmahnya. Mohon ikhwah baca dengan iman dan pelan, serta resapi dan rujukkan kepada maraji'-nya.
Pertama, penyebab Allah jatuh cinta kepada hamba-Nya; hubbullaah(baca QS Al-Baqarah [2]: 222). Kedua, akan mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah dan makhluk-Nya; al-mukarromuun (QS Yasin [36]: 27).
Ketiga, mendapatkan ampunan Allah; al-magfuuruun (QS Az-Zumar [39]: 53). Berikutnya, al-fadhilah, upaya untuk mendapatkan karunia Allah yang paling besar (QS An-Nur [24]: 21). Dengan beristighfar, kita memberi kebaikan untuk tercegahnya bala dan hura-hura kiamat;daf'ul balaai (QS Al-Anfal [8]: 33).
Istighfar adalah Du'aaur Rasuul, doa yang menjadi wirid harian Rasulullah SAW. Istighfar juga adalah ijaabatul Malaikah, doa yang diaminkan para malaikat. Ia adalah rahmatullah, mengundang hujan yang penuh rahmat. Bahkan istighfar, bi amwaalin, memudahkan meraih rezeki halal penuh berkah.
Istighfar juga as-sahlu, penyebab Allah memudahkan dalam setiap urusan. Al-Marjuuqu, solusi rezeki yang tidak ia sangka-sangka.
Quwwatul iimaani, bisa memperkuat iman. Adz-Dzihnu, kecerdasan spiritual, kecerdasan yang terbimbing. Qowlan tsaqiilan, dengan istighfar akan menjadikan arah bicaranya hikmah dan disimak.
Orang yang melazimkan istighfar akan didapati pada dirinyaquwwatul jasadi, fisik yang kuat dan prima. Tathmainnul quluubi, hati terliputi tenang, damai, dan bahagia.
Dawaaun, ia adalah solusi dan obat penyakit jasmani dan rohani.Miftaahul falaahi, kunci sukses dan bahagia dunia akhirat (QS An-Nur [24]: 31).
Terakhir, simak kalam Allah dengan iman, "Sesungguhnya Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang sungguh-sungguh bertobat dan terus-menerus menjaga kesucian diri-Nya." (QS Al-Baqoroh [2]: 222).
"Mohonlah kalian pada ampunan Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah akan turunkan hujan yang lebat, kemudahan meraih rezeki halal penuh berkah, generasi yang saleh-saleh, dan kesejahteraan dengan kebun-kebun yang indah serta sungai sungai jernih yang mengalir." (QS Nuh [71]: 10-12).
Dari Abu Hurairah RA berkata, saya mendengar Rasulullah bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar memohon ampunan kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari lebih dari tujuh puluh kali." (HR Bukhari).
Dari al-Aghar bin Yasar al-Muzani RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Wahai manusia bertobatlah kamu kepada Allah dan mintalah ampunan kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertobat dalam sehari seratus kali." (HR Muslim).
Allahumma ya Allah ampunilah seluruh dosa-dosa kami. Mari kita sungguh-sungguh bertobat dengan banyak mohon ampunan-Nya.
(Da'wah, hidayah, keyakinan ., sabarR,syukur., takwa, )


***) Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Minggu, 03 Januari 2016

BATAS ISRAF

Israf mempunyai arti berlebih-lebihan. Sikap israf atau berlebih-lebihan merupakan hal yang kurang baik atau bahkan malah tidak baik. Terlalu banyak bersedekah itu kurang baik, bahkan terlalu banyak rakaat dalam shalat sunah juga kurang baik.
Itu baru berlebihan atau israf dalam kebaikan, yang hal itu saja kurang baik, apalagi israf dalam kemaksiatan. Sungguh hal itu akan mampu menjerumuskan pelaku israf dalam kemaksiatan ke neraka.
Segala hal yang dilakukan secara berlebihan itu tidak baik. Pada zaman Rasulullah SAW, ada seorang sahabat laki-laki yang gemar beribadah di dalam masjid. Dia terus-terusan beribadah di masjid. Melihat hal itu, Rasulullah SAW pun menegurnya agar lelaki itu beribadah di masjid secukupnya saja.
Rasulullah SAW juga memerintahkannya untuk bekerja, berkumpul bersama istri, dan tidak melulu di masjid. Apa guna beribadah secara berlebihan tetapi keluarga di rumah telantar?
Allah SWT berfirman yang termaktub dalam potongan QS al-A'raf ayat 31, " ... Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang berlebihan." Dengan demikian, kita semua pun tahu bahwa israf itu tidak baik.
Lalu, hal yang dikatakan israf itu sejauh mana? Jika israf diartikan sebagai sikap atau perilaku yang dilakukan secara berlebihan, semua dari kita paham. Namun, sebagian dari kita terkadang tidak memahami batas-batas dari berlebihan itu.
Batas dari berlebihan memang antara satu orang dan orang yang lain itu berbeda. Dengan demikian, israf itu memang berbeda-beda kadarnya. Bukankah kita bisa menghabiskan nasi sepiring penuh, tetapi anak berusia empat tahun tidak bisa? Ya, bisa diibaratkan seperti itu.
Oleh karena itu, batas dari israf yang paling jelas adalah cukup, tidak membebani, dan seimbang. Kita boleh menunaikan shalat sunah seratus rakaat, asalkan keharusan yang lain juga bisa terpenuhi sesuai kadarnya. Kita pun tidak dilarang untuk rajin berpuasa. Akan tetapi, ketika waktu Maghrib tiba, maka kita harus berbuka atau membatalkan puasa.
Allah SWT menetapkan syariat Islam memang telah dirancang sesuai dengan kadar kemampuan umat manusia. Shalat wajib yang asalnya 50 waktu saja kini menjadi hanya lima waktu. Kita tidak akan sanggup untuk menunaikan shalat 50 kali dalam sehari semalam. Oleh karenanya, Allah SWT hanya mewajibkan lima waktu dan jika kita masih merasa kurang, maka ada shalat sunah yang bisa dikerjakan sesuai dengan kemampuan.
Perlu kita memahami QS al-Baqarah ayat 286 bahwa Allah SWT tidak membebani kita di luar kemampuan kita. Allah SWT tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
Islam mengajarkan ajaran yang seimbang; antara kebutuhan duniawi dan ukhrawi, antara kebutuhan jasmani dan rohani, antara kebutuhan diri sendiri dan orang lain, antara kebutuhan pribadi dan keluarga. Ada skala prioritas dalam syariat. Islam mengajarkan keseimbangan dalam hidup ini dan tidak membenarkan israf. Wallahu a'lam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Supriyadi

Minggu, 27 Desember 2015

K H I A N A T

Khianat artinya curang, culas, tidak jujur, tidak lurus hati. Menurut Raghib al-Isfahani, khianat kurang lebih sama artinya dengan nifak(orangnya disebut munafik). Khianat dapat terjadi terhadap diri sendiri, terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya, dan terhadap orang lain.
Rasullullah SAW menempatkan khianat sebagai salah satu tanda munafik. Dikatakan bahwa “Tanda munafik itu ada tiga: apabila berbicara, dia dusta; apabila berjanji, dia ingkar; dan apabila dipercaya, dia khianat.” (HR Bukhari dan Muslim).
Namun, penting kita pahami bahwa nifak mengandung arti lebih luas dari pada khianat. Nifak mengandung arti curang terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya. Khianat mengandung arti curang terhadap janji yang dibikinnya dan culas terhadap kepercayaan (amanah) yang diberikan kepadanya.
Khianat terhadap diri sendiri, misalnya, mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah kepadanya tanpa alasan syari. Contohnya, mengharamkan makanan dan/atau minuman yang secara faktual telah dinyatakan kehalalannya dalam kalam Allah atau sabda Rasul-Nya.
Khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya, misalnya, mengingkari perkara yang disyariatkan Allah dan Rasul-Nya. Contohnya, mengabaikan perintah shalat fardhu padahal tidak ada udzur syari, mengabaikan perintah zakat padahal sudah nisab, dan mengabaikan perintah pergi haji padahal sudah istithaah.
Lebih jauh, mengutip pendapat Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang dimaksudkan khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya tidak sebatas meninggalkan aturan agama, tetapi juga menyempitkan aturan agama. 
Ambil contoh: menyempitkan agenda dakwah, tarbiyah, dan khidmat kepada sesama dikait-kaitkan dengan untung rugi secara finansial. Khianat terhadap orang lain, misalnya, tidak membuktikan janji-janjinya terhadap orang lain dan amanah yang diberikan orang lain kepadanya. 
Contohnya, presiden atau wakil presiden tidak dengan sungguh-sungguh membuktikan janji-janji kampanyenya. Padahal, disebabkan janji-janji kampanyenya itulah rakyat telah memilihnya.
Khianat terhadap diri sendiri, khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan khianat terhadap orang lain itu hukumnya terlarang (haram). Risiko ketiga-tiganya tidak ada yang ringan.
Dengan begitu, pastikan bahwa khianat bukan tabiat kita sebagai Muslim. Sehingga, khianat dalam level mana pun semestinya kita hindari. 
Allah SWT berfirman, “Hai, orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang diberikan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS al-Anfal [8] : 27).
Dalam ayat lain, “Dan, jika kamu mengetahui pengkhianatan dari suatu golongan maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang khianat.” (QS al-Anfal [8] : 58).
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang yang tidak memiliki sikap (perilaku) amanah.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban). 
Menariknya, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR Ahmad, Thabrani, Ibnu Hibban, dan al-Bazzar). Wallahu alam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabaR, syukur., takwa, )

***)Mahmud Yunus

Kamis, 17 Desember 2015

HOTBAH JUMAT PERTAMA RASULULLAH DI MADINAH

Sesungguhnya ketakwaan kepada Allah menghindarkan dari kemarahan, hukuman, dan murka-Nya. Takwa kepada Allah akan membuat wajah bersinar terang, membuat Allah rida, dan meninggikan derajat. Lakukanlah dengan sepenuh kemampuan kalian, dan jangan sampai kurang di sisi Allah. 
Dia telah mengajarkan kepada kalian dalam kitab-Nya dan membentangkan jalan-Nya, untuk mengetahui siapa yang benar dan untuk mengetahui siapa yang dusta. (QS Al-Ankabut [29]: 3).
Maka, berbuat baiklah, sebagaimana Dia berbuat baik kepada kalian, dan musuhilah musuh-musuh-Nya. Berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad. Dia telah memilih dan menamakan kalian sebagai Muslim. (QS Al-Hajj [22]: 78). Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata. (QS Al-Anfal [8]: 42).
Tiada daya upaya, kecuali hanya dengan kekuatan Allah. Karenanya, perbanyaklah mengingat Allah, dan beramallah untuk kehidupan setelah mati. Sesungguhnya orang yang membangun hubungan baik dengan Allah, Allah pun akan membuat baik hubungan orang itu dengan manusia lainnya.
Karena Allah yang memberi ketetapan kepada manusia, sedang manusia tidak mampu memberi ketetapan kepada-Nya. Dia menguasai manusia, sedang manusia tidak bisa menguasai-Nya. Allah itu Maha Agung. Tiada daya dan kekuatan selain dengan kekuatan AlLah Yang Mahatinggi dan Mahaagung.”
Demikianlah isi khutbah Rasul SAW sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Thabari, Tafsir al-Qurthubi, Subul al-Huda wa ar-Rasyad, dan Al-Bayan al-Muhammadi karya Dr Mustafa Asy-Sya’kah.
Asy-Sya’kah menegaskan bahwa khutbah diatas merupakan khutbah Rasul SAW saat shalat Jumat pertama di Wadi Ranuna. Penjelasan ini juga diperkuat dengan keterangan Ibnu Abbas RA yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir. Wallahu A’lam.


***)Republika.online

Rabu, 16 Desember 2015

PECINTA AMAL YAUMIYAH

Hidup di dunia ini sungguh sekejap saja. Sementara, kesempatan mengumpulkan bekal teramat sebentar. Kita akan hidup selama-lamanya, tidak akan ada akhir lagi, yaitu kelak nanti di akhirat. Dan, hamba Allah yang beriman pasti akan menyibukkan diri dengan amal ketaatan supaya di kehidupan nanti mendapatkan kebahagiaan yang sempurna.
Salah satu amal ketaatan seorang hamba itu adalah bersemangat dalam menghidupkan ihyaaus sunnah. Tiada waktu, hari, jam, menit, detik berlalu kecuali bernilai ibadah, amal saleh, manfaat, dan mencari perbekalan terbaik di akhirat. Karena itulah, ia hidupkan sunah harian Rasulullah SAW.
Gambaran indah amal yaumiyah (amal sunah harian Nabi SAW) adalah bermula ketika hendak tidur. Ia pasti akan tidur lebih awal karena kerinduannya bangun di tengah malam. Saat terjaga, ia bersegera membangunkan keluarga dan sahabatnya untuk menikmati indahnya shalat malam.
Pencinta amal yaumiyah Nabi SAW pasti tidak akan pernah beranjak dari Tahajud kecuali setelah membaca istighfar dengan bilangan yang banyak, dilanjutkan tadabur Alquran. Lalu, dengan hati gembira, ia melangkah dengan kaki diayun untuk berjamaah Subuh di masjid.
Kemudian, ia biasakan tidak keluar dari masjid kecuali ikut kajian ilmu dan zikir hingga waktu shalat sunah Isyraq. Dan, pagi pun menjelang. Ia tidak akan keluar rumah untuk ikhtiar yang halal kecuali diiringi doa, pamit kepada keluarga dengan ciuman, lambaian salam dan terjaga selalu wudhunya. Hatinya pun selalu terpaut zikir kepada Allah SWT.
Dalam beraktvitas selalu dengan belas kasih, rendah hati, murah senyum, ringan tangan, penebar salam dan salaman, bersih-wangi bersahaja dengan sesederhana mungkin penampilannya. Hal ini terbaca dari isyarat mata, tubuh, dan penampilannya yang tidak sombong. Bicaranya santun dan selalu berbaik sangka pada setiap takdir-Nya, jauh dari sifat dengki.
Tiba waktu Zhuhur atau Ashar, maka shalatnya pasti tepat waktu dan berjamaah. Ia tidak sungkan untuk memulai dan mendatangi serta menjulurkan tangan silaturahim. Diam-diam hatinya berdoa untuk keluarganya, negerinya, saudara-saudaranya yang tertindas, seperti di Palestina, Afghanistan, Irak, Suriah, Mesir, Yaman, Rohingya. Bahkan, terhadap mereka yang berbeda keyakinan, doa pun dipanjatkannya agar Allah SWT memberi hidayah.
Kepada siapa pun yang dijumpai, ia selalu ingatkan tentang dahsyatnya kehidupan akhirat tanpa merasa dirinya paling suci. Dan, puncaknya bermuhasabah diri, sama sekali tidak tertarik membahas, apalagi mencari aib saudaranya. Inilah amal ringan, tapi padat penuh makna.
Orang beriman akan menjadikan tiada waktu yang sia-sia. Fokus dalam ketaatan yang prima dengan menjaga amal yaumiyah. Semoga Allah SWT terus dan terus membimbing kita semangat beriman dan beramal saleh hingga wafat dalam keridhaan-Nya. Aamiin.
(Da'wah, hidayah, hikmah, kebesaran, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Ustaz Arifin Ilham

Selasa, 15 Desember 2015

AGAR ANAK BERAKHLAK MULIA

Bila seekor binatang dilahirkan, ia akan tumbuh dan berkembang dengan sifat kebinatangannya. Namun, jika manusia dilahirkan belum tentu ia akan tumbuh dan berkembang dengan sifat kemanusiaannya. 
Ada manusia yang tumbuh dengan sifat tikus, merusak dan menggerogoti barang yang bukan miliknya dan bersikap korup. Ada juga manusia dengan sifat anjing, yang tak bisa diberi nasihat, tamak terhadap dunia dan memperturutkan hawa nafsu. 
Tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).” (QS al-Araf [7]:176).
Lebih daripada itu, ada pula manusia yang lebih sesat dari binatang. “Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS al-Furqan [25]:44).
Dari sini dapat kita pahami bahwa wajib hukumnya bagi para orang tua untuk membimbing dan mendidik anak-anaknya agar memiliki akhlak mulia. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS at-Tahrim [66]:6). 
Mendidik, membina, dan membimbing agar anak memiliki akhlak mulia merupakan bagian penting yang harus kita lakukan. Apalah artinya anak kita menjadi ilmuwan, konglomerat, jabatan, dan karier yang tinggi jika mereka tidak memiliki akhlak yang baik. 
Tanpa akhlakul karimah semua yang diraih anak-anak kita tidak ada manfaatnya. Dalam ajaran Islam, akhlak menempati tempat yang luhur. Ia merupakan bagian dari misi utama agama ini. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR Ibnu Abid-Dunya dan Hakim).
Bila anak-anak kita berperangai baik maka ia merupakan warisan terbaik yang kita berikan kepada mereka. Orang bijak berkata, “Sebaik-baiknya warisan para ayah untuk anak-anaknya adalah nama baik, didikan yang berguna, dan saudara-saudara yang shalih.” (Adabul Mujalasah, hal 106).
Bimbingan yang dapat kita berikan kepada anak-anak kita agar mereka memiliki perilaku yang terpuji lagi luhur, antara lain, pertama, bimbinglah anak-anak kita dengan pemahaman. Artinya, anak-anak kita harus diberi pemahaman akan akhlak terpuji dan akhlak tercela. 
Selanjutnya, bimbing mereka agar memahami konsekuensi yang akan mereka terima jika mereka berakhlak baik dan jika mereka berbudi buruk atau tercela.
Kedua, bimbinglah anak-anak kita dengan keteladanan. Artinya, bimbinglah mereka dengan contoh atau keteladanan dari diri kita. Sebab, apa yang mereka lihat dan dengar dari kita akan lebih menerap pada diri mereka. Oleh karena itu, sebagai orang tua penting bagi kita untuk menjadi teladan bagi anak-anak.
Ketiga, bimbinglah anak-anak kita dengan pembiasaan. Artinya, anak kita tidak hanya diberi pemahaman atau teori dan keteladanan saja, mereka juga harus dibimbing untuk dapat terbiasa berperangai baik. 
Proses pembiasaan adalah metode yang strategis dalam mendidik anak. Aktivitas yang terus dikerjakan oleh seorang anak akan menjadi kebiasaan dirinya yang tidak bisa dipisahkan lagi. 
Semoga dengan upaya yang kita lakukan ini menjadikan anak-anak kita tumbuh dan berkembang dengan sifat kemanusiaannya lagi berbudi pekerti yang tinggi. Amin. Wallahu alam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Aneu Rofah Nursyifa

Senin, 14 Desember 2015

BEBAN BERAT PEMIMPIN

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik berangkat menunaikan ibadah haji bersama sahabatnya, Umar bin Abdul Aziz. Di sela-sela melaksanakan ibadah haji, Sulaiman mengajak Umar mendaki sebuah bukit. 
Dari atas bukit itulah, tampak jelas para jamaah haji yang datang dari segala macam penjuru dunia, dari beragam suku, bahasa, dan warna kulit. Melihat rakyatnya yang sedemikian banyak, sang khalifah terkejut. 
Sejurus kemudian, perasaan bangga menyelimuti dirinya. Dia pun berkata kepada Umar yang berada di sampingnya, “Lihatlah wahai Umar betapa banyak rakyat yang kupimpin sekarang! 
Mendengar ucapan tersebut, Umar merasa ada hal yang harus diluruskan. Ia lantas berkata, “Ya benar wahai Khalifah, mereka adalah rakyatmu sekarang, namun Anda mesti menyadari wahai saudaraku, mereka kelak akan menjadi musuhmu di hadapan Allah kelak, meminta pertanggungjawabanmu di hari kiamat. 
Mendengar perkataan Umar, kaki khalifah bergetar, wajahnya memerah memancarkan rasa takut. Hanya isakan tangis yang terdengar darinya tanpa bisa berkata apa-apa sembari menerawang keadaan di hari kiamat yang sudah pasti akan dihadapinya.
Menjadi pemimpin atau pemuka adalah impian banyak orang. Sejak dulu, manusia memiliki kecenderungan yang ekstra dalam mengejar status sosial tersebut.
Jabatan bagi banyak orang adalah jaminan kepuasan diri dan kemapanan hidup. Terlebih lagi, bila menduduki posisi-posisi strategis di pemerintahan, tentu hal itu sangat menggiurkan. 
Dari kisah di atas, setidaknya ada dua hal penting yang dapat kita jadikan sebagai ibrah: Pertama, selektif memilih penasihat. Kearifan dan kebijakan seorang pemimpin sangat ditentukan oleh orang-orang yang berada di sekitarnya.
Kebijakannya akan sejalan dengan prinsip keadilan. Itu dapat terjadi bila kolega atau pembantu terdekatnya adalah orang-orang yang bijak, yang tidak silau dengan segala gemerlap dunia. Bukan pula sekadar mencari muka atasannya. 
Pemegang kekuasaan butuh pendamping yang dapat memberi solusi terbaik dalam problem yang ada. Alangkah buruknya bila pemimpin itu dikelilingi pembisik bermental setan, yang hanya bisa meniupkan ide-ide jahat yang menyengsarakan rakyat.
Pembisik jahat enggan memberi nasihat bila atasannya berbuat khilaf, ia malah membiarkan hal itu dan dia mengaku siap pasang badan untuk memberi rasa aman. 
Kedua, tidak besar kepala dengan kuantitas pengikut. Untuk menjadi pemimpin dan pemuka, sudah barang pasti membutuhkan rakyat atau pengikut. Sehingga, sebisa mungkin mereka akan melakukan banyak hal untuk memperbesar dan memperbanyak jumlah pengikut tersebut. 
Ini agar otoritas dan hegemoni kekuasaannya meluas dan menjauh. Manusia umumnya, bila memegang tampuk pimpinan, menjadi berbangga atas banyaknya pengikut dan luasnya cakupan wilayah. 
Namun, jarang sekali yang menerawang lebih jauh ke depan, bahwa urusan kepemimpinan itu bukan urusan duniawi semata, melainkan juga menyangkut urusan ukhrawi. 
Pemimpin yang hanya tertipu ilusi jumlah bilangan pengikut, namun lupa akan tugasnya, kelak pengikut-pengikutnya itu adalah musuh nyata yang menuntut pertanggungjawabannya di akhirat. 
Pemimpin yang bermental penguasa dengan hanya memperbudak bawahannya, kelak di akhirat akan berlaku sebaliknya. Perkara berat inilah yang harus menjadi perhatian serius bagi setiap pemimpin.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***)  Baiq Ika Sufriawati Amrus 

Jumat, 11 Desember 2015

5 KAIDAH BERMUSYAWARAH SESUAI ISLAM

Dalam kehidupan bersama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun bangsa, musyawarah sangat diperlukan. Karena, musyawarah memiliki posisi penting dalam membangun tatanan kehidupan masyarakat. 
Saking pentingnya, Islam memberikan kaidah dalam musyawarah agar suasana kondusif tetap terjaga—sebelum, selama, dan setelah musyawarah—sebagaimana dijelaskan dalam Alquran surah Ali Imran [3] ayat 159, "Maka, disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya."
Yang dimaksud "bermusyawarah dalam urusan itu" dalam ayat tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Alquran dan Terjemahnya Departemen Agama Republik Indonesia adalah urusan peperangan dan hal-hal duniawiah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan, dan lain-lainnya. 
Agar musyawarah yang diselenggarakan itu mendapatkan hasil keputusan terbaik dan mendapat ridha Allah SWT maka setiap peserta mesti memahami kaidah dalam bermusyawarah (QS Ali Imran [3]: 159). 
Pertama, bersikap lemah lembut. Setiap peserta musyawarah harus dapat bersikap lemah lembut, baik dalam sikap, ucapan dan tindakan, serta menghindari sikap emosional, berkata-kata kasar, menggebrak meja, dan keras kepala.
Kedua, mudah memberi maaf. Sikap ini harus dimiliki oleh setiap peserta sebab musyawarah itu tidak akan berjalan dengan baik jika masing-masing peserta masih diliputi kekeruhan hati.
Ketiga, membangun hubungan yang kuat dengan Allah melalui permohonan ampun. Dalam musyawarah dimungkinkan terjadi kesalahan, baik yang disadari maupun tidak, Rasulullah SAW mengajarkan doa kafaratul majelis sebagai penutup musyawarah. "Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilahailla anta astaghfiruka wa'atubu ilaik" (Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu). (HR Tirmidzi).
Keempat, membulatkan tekad. Sudah semestinya peserta musyawarah membulatkan tekad dalam mengambil suatu keputusan yang disepakati bersama (mufakat), bukan saling ingin menang sendiri tanpa ada keputusan. Dan, jika suatu keputusan harus diputuskan melalui voting maka setiap peserta musyawarah hendaknya dapat menerima hasilnya dengan lapang dada.
Kelima, bertawakal kepada Allah. Setelah bermusyawarah semestinya keputusan yang telah diambil, baik secara mufakat maupun voting—hasilnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah karena Dialah yang menentukan segala sesuatu itu terjadi. 
Semoga Allah membimbing kita dan para pengelola bangsa dalam bermusyawarah agar tercipta ketenangan, keharmonisan, dan hasil yang terbaik dalam upaya membangun bangsa menuju kehidupan yang lebih baik dan bermartabat. Aamiin.
(Da'wah, hidayah, hikmah, sabar, syukur., takwa, )


***) Imam Nur Suharno

Kamis, 10 Desember 2015

PASUTRI BERBAHAGIA

Dia adalah Ummu Hakim binti al-Harits Ibn Hisyam Ibn Al-Mughirah dari Bani Makhzum. Ia seorang wanita berpikiran tajam dan memiliki wawasan luas. Ayahnya menikahkan Ummu Hakim dengan anak pamannya, bernama Ikrimah Ibn Abu Jahal.
Pada masa jahiliyah, Ikrimah termasuk orang yang getol memusuhi Islam. Karena itu, ketika umat Islam meraih kemenangan pada Futuh Makkah (penaklukan Makkah), Ikrimah melarikan diri ke Yaman. Ia melarikan diri karena takut akan hukuman yang ditimpakan Rasulullah SAW kepadanya.
Tetapi, mertuanya, Al-Harits Ibn Hisyam, dan istri Ikrimah, Ummu Hakim, masuk Islam dan ikut berbaiat kepada Rasulullah SAW. Setelah masuk Islam dan merasakan kehidupan yang lebih baik, Ummu Hakim berharap suaminya, Ikrimah, juga ikut merasakan manisnya iman.
Karena itu, Ummu Hakim pergi menghadap Rasulullah SAW guna meminta jaminan keamanan bagi suaminya jika mau pulang dan menyerahkan diri.
Saat itu, ia merasa sangat bahagia ketika Rasulullah SAW memaafkan suaminya. Maka, Ummu Hakim segera mencari suaminya, Ikrimah, yang melarikan diri sambil berharap dapat menyusulnya sebelum naik ke kapal.
Sesampainya di dermaga, Ummu Hakim dengan lantang berkata pada suaminya, "Wahai anak pamanku, aku datang sebagai utusan dari orang yang paling suka menyambung silahturahim, paling suka berbuat kebaikan, dan sebaik-baiknya manusia. Janganlah engkau binasakan dirimu sendiri karena aku telah meminta jaminan keamananmu kepada beliau dan beliau telah mengabulkannya."
Ikrimah bertanya, "Sungguhkah engkau telah melakukan itu?"  Ummu Hakim menjawab, "Benar." Kemudian ia pun menjelaskan keyakinan yang telah dirasakan manisnya dan telah menghidupkan jiwanya. Ia menjelaskan, tentang kesempurnaan Islam dan ketinggian ajarannya kepada Ikrimah.
Ummu Hakim juga menjelaskan kepribadian Rasulullah SAW yang mulia, bagaimana beliau masuk Makkah dan menghancurkan berhala-hala yang ada di dalamnya, bagaimana kebesaran hati beliau yang memaafkan orang-orang dan terbukanya jiwa beliau kepada sesama manusia.
Penjelasan Ummu Hakim berhasil menumbuhkan benih-benih kebaikan dalam jiwa suaminya. Ia kembali ke Makkah membawa suaminya untuk menyatakan keIslamannya di hadapan Rasulullah SAW sehingga suaminya bisa memperbaharui kehidupannya sebagai penganut Islam. 
Rasulullah SAW pun menerimanya dengan tangan terbuka sehingga Ikrimah benar-benar menyatakan kesetiaannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Kisah pasangan suami-istri (pasutri), Ikrimah dan Ummu Hakim di atas, layak kita teladani dalam membangun kebahagiaan berkeluarga.
Bagaimana cinta seorang istri kepada suaminya bisa membawa seorang Ikrimah yang tadinya menentang kebenaran menjadi orang yang mengikrarkan dukungannya atas kebenaran Islam. Hatinya yang tertutup dengan kebenaran selama masa jahiliyah tergantikan dengan penerimaan atas iman dan Islam berkat ajakan sang istri.
Kisah tersebut juga mengindikasikan bahwa seorang istri boleh mengingatkan suaminya yang telah melakukan kesalahan dan dosa, dengan cara halus dan bijaksana.
Kesulitan yang kerap dihadapi saat berumah tangga biasanya karena masing-masing anggota pasangan merasa benar sendiri dan tidak mau diingatkan.
Karena itu, dalam  rumah tangga akan berkah dan bahagia jika keduanya bisa komunikasi dengan lancar dan mendiskusikan masalah yang dihadapi demi kebaikan bersama. 
Sungguh indah doa pernikahan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, "Semoga Allah memberikan berkah kepadamu dan keberkahan atas pernikahanmu, dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan." (HR Dawud, Tirmizi, Ibn Majah dan Al-Hakim). Wallahu a'lam
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) H Dadang Kahmad

Selasa, 08 Desember 2015

PAKET KEZALIMAN (2)

 "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah berbuat kerusakan di bumi', mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami orang-orang yang melakukan perbaikan.' Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak merasa." (QS al Baqarah [2]:11-12).
Alquran menyebutkan, sejumlah kaum dan tokoh yang melakukan perbuatan destruktif atau kezaliman di muka bumi. Seperti, bangsa Yahudi, kaum Tsamud, Yakjuj dan Makjuj, Fir'aun, Qarun, dan sederetan nama dan kaum lainnya. Mereka diabadikan dalam Alquran sebagai pelaku atau agen kerusakan, al Mufsiduuna fil Ardh. Atau, dengan bahasa lain, az Zhalimun (orang-orang yang berbuat zalim).
Secara umum dan spesifik, Alquran juga menerangkan diversitas atau bentuk-bentuk kerusakan yang terjadi di atas bumi. Misalnya, merampas atau mencuri harta milik orang lain, baik pribadi maupun milik umum (QS Yusuf [12]: 73). Menghalang-halangi manusia menuju jalan yang diridhai Allah merupakan bentuk kerusakan di muka bumi (QS al-'Araf [7]:86).
Menuruti hawa nafsu duniawi dengan gejalanya, seperti cinta dunia dan takut mati, budaya meterialistis, hedonis, tamak, dan seumpamanya (QS al-Mukminun [23]: 71). Termasuk jenis kerusakan yang dijelaskan dalam Alquran adalah sikap orang-orang Mukmin yang menjadikan orang-orang yang tidak seakidah sebagai pemimpin (QS al Anfal [8]:73).
Lebih-lebih apabila umat Islam menjadikan sekelompok orang sebagai teman setia atau kiblat politik, padahal selama ini mereka jelas-jelas memusuhi dan memerangi atas nama agama (QS. al-Mumtahanah [60]:8-9). 
Demikian juga kepongahan dan kesewenang-wenangan dengan segala indikatornya, seperti  merancang konflik, penindasan, dan pembunuhan secara biadab adalah bentuk kerusakan yang sangat nyata (QS al-Qashash [28]:4).    
Seorang pakar tafsir terkemuka pada era sahabat, Abdullah bin Mas'ud, ketika menafsirkan ayat yang dikemukakan pada pendahuluan di atas (QS al-Baqarah [2]:11-12)  mengatakan, yang dimaksud kerusakan di muka bumi dalam ayat ini adalah jalan kekufuran dan perbuatan maksiat. 
Sehingga, logis apabila sejumlah ulama tafsir menarik sebuah kesimpulan, kekufuran dan maksiat kepada Allah merupakan sumber kerusakan. Maknanya, status kufur dan maksiat adalah akar kerusakan yang menimbulkan kerusakan-kerusakan yang lain di atas bumi.  
Sebagaimana dikatakan salah seorang ahli tafsir, Imam Asy-Syaukani, bahwa perbuatan syirik (menyekutukan Allah) dan maksiat adalah sebab timbulnya berbagai kerusakan di alam semesta.
Kesimpulannya, Islam adalah agama yang menghendaki keselamatan dan kemakmuran di atas bumi. Apa pun bentuk kerusakan dan kemudharatan sebagaimana disebutkan di atas, semuanya bertolak belakang dengan prinsip dan syariat Islam. Orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya dan orang-orang yang senantiasa berbuat kerusakan merupakan satu paket kezaliman yang sejak dulu diperangi oleh para nabi dan rasul. 
Adapun ancaman atau hukuman yang pantas bagi orang-orang yang melakukan paket kezaliman di atas, Alquran kembali menunjukkan salah satu dimensi kemukjizatannya kepada kita.
"Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di bumi hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar. Kecuali orang-orang yang bertaubat sebelum kamu menguasai mereka maka ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Penyayang." (QS al-Maidah [5]:33-34). Wallahu al-musta'aan.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***)Republika

Sabtu, 05 Desember 2015

PAKET KEZALIMAN

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak merasa.” (QS. al Baqarah [2]:11-12). 
Alquran menyebutkan sejumlah kaum dan tokoh yang melakukan perbuatan destruktif atau kezaliman di muka bumi. Seperti, bangsa Yahudi, kaum Tsamud, Yakjuj dan Makjuj, Fir’aun, Qarun, dan sederetan nama dan kaum lainnya. 
Mereka diabadikan dalam Alquran sebagai pelaku atau agen kerusakan, al Mufsiduuna fil Ardh. Atau dengan bahasa lain, az Zhalimun (orang-orang yang berbuat zalim). Secara umum dan spesifik, Alquran juga menerangkan diversitas atau bentuk-bentuk kerusakan yang terjadi di atas bumi. 
Misalnya, merampas atau mencuri harta milik orang lain, baik pribadi maupun milik umum (QS Yusuf [12]: 73). Menghalang-halangi manusia menuju jalan yang diridhai Allah merupakan bentuk kerusakan di muka bumi (QS al-‘Araf [7]:86). 
Menuruti hawa nafsu duniawi dengan gejalanya seperti cinta dunia dan takut mati, budaya meterialistik, hedonis, tamak dan seumpamanya (QS. al-Mukminun [23]: 71).
Termasuk jenis kerusakan yang dijelaskan dalam Alquran adalah sikap orang-orang Mukmin yang menjadikan orang-orang yang tidak seakidah sebagai pemimpin (QS al Anfal [8]:73). 
Lebih-lebih apabila umat Islam menjadikan sekelompok orang sebagai teman setia atau kiblat politik, padahal selama ini mereka jelas-jelas memusuhi dan memerangi atas nama agama (QS. al-Mumtahanah [60]:8-9). 
Demikian juga kepongahan dan kesewenang-wenangan dengan segala indikatornya, seperti merancang konflik, penindasan dan pembunuhan secara biadab adalah bentuk kerusakan yang sangat nyata (QS al-Qashash [28]:4). 
Seorang pakar tafsir terkemuka di era sahabat, Abdullah bin Mas’ud, ketika menafsirkan ayat yang dikemukakan pada pendahuluan di atas (QS al-Baqarah [2]:11-12) mengatakan, yang dimaksud kerusakan di muka bumi dalam ayat ini adalah jalan kekufuran dan perbuatan maksiat. 
Sehingga logis, apabila sejumlah ulama tafsir menarik sebuah kesimpulan, kekufuran dan maksiat kepada Allah merupakan sumber kerusakan. Maknanya, status kufur dan maksiat adalah akar kerusakan yang menimbulkan kerusakan-kerusakan yang lain di atas bumi. 
Sebagaimana dikatakan salah seorang ahli tafsir, Imam Asy-Syaukani, perbuatan syirik (menyekutukan Allah) dan maksiat adalah sebab timbulnya berbagai kerusakan di alam semesta. Kesimpulannya, Islam adalah agama yang menghendaki keselamatan dan kemakmuran di atas bumi. 
Apa pun bentuk kerusakan dan kemudharatan sebagaimana disebutkan di atas, semuanya bertolak belakang dengan prinsip dan syariat Islam.
Orang-orang yang memerangi Allah dan rasulNya dan orang-orang yang senantiasa berbuat kerusakan merupakan satu paket kezaliman yang sejak dulu diperangi oleh para Nabi dan Rasul. 
Adapun ancaman atau hukuman yang pantas bagi orang-orang yang melakukan paket kezhaliman di atas, Alquran kembali menunjukkan salah satu dimensi kemukjizatannya kepada kita.
Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya dan membuat kerusakan di bumi, hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar. Kecuali orang-orang yang bertaubat sebelum kamu menguasai mereka, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.” (QS al-Maidah [5]:33-34). Wallahu Al-musta’aan.
(PAKET  KEZALIMAN
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak merasa.” (QS. al Baqarah [2]:11-12). 

Alquran menyebutkan sejumlah kaum dan tokoh yang melakukan perbuatan destruktif atau kezaliman di muka bumi. Seperti, bangsa Yahudi, kaum Tsamud, Yakjuj dan Makjuj, Fir’aun, Qarun, dan sederetan nama dan kaum lainnya. 
Mereka diabadikan dalam Alquran sebagai pelaku atau agen kerusakan, al Mufsiduuna fil Ardh. Atau dengan bahasa lain, az Zhalimun (orang-orang yang berbuat zalim). Secara umum dan spesifik, Alquran juga menerangkan diversitas atau bentuk-bentuk kerusakan yang terjadi di atas bumi. 
Misalnya, merampas atau mencuri harta milik orang lain, baik pribadi maupun milik umum (QS Yusuf [12]: 73). Menghalang-halangi manusia menuju jalan yang diridhai Allah merupakan bentuk kerusakan di muka bumi (QS al-‘Araf [7]:86). 
Menuruti hawa nafsu duniawi dengan gejalanya seperti cinta dunia dan takut mati, budaya meterialistik, hedonis, tamak dan seumpamanya (QS. al-Mukminun [23]: 71).
Termasuk jenis kerusakan yang dijelaskan dalam Alquran adalah sikap orang-orang Mukmin yang menjadikan orang-orang yang tidak seakidah sebagai pemimpin (QS al Anfal [8]:73). 
Lebih-lebih apabila umat Islam menjadikan sekelompok orang sebagai teman setia atau kiblat politik, padahal selama ini mereka jelas-jelas memusuhi dan memerangi atas nama agama (QS. al-Mumtahanah [60]:8-9). 
Demikian juga kepongahan dan kesewenang-wenangan dengan segala indikatornya, seperti merancang konflik, penindasan dan pembunuhan secara biadab adalah bentuk kerusakan yang sangat nyata (QS al-Qashash [28]:4). 
Seorang pakar tafsir terkemuka di era sahabat, Abdullah bin Mas’ud, ketika menafsirkan ayat yang dikemukakan pada pendahuluan di atas (QS al-Baqarah [2]:11-12) mengatakan, yang dimaksud kerusakan di muka bumi dalam ayat ini adalah jalan kekufuran dan perbuatan maksiat. 
Sehingga logis, apabila sejumlah ulama tafsir menarik sebuah kesimpulan, kekufuran dan maksiat kepada Allah merupakan sumber kerusakan. Maknanya, status kufur dan maksiat adalah akar kerusakan yang menimbulkan kerusakan-kerusakan yang lain di atas bumi. 
Sebagaimana dikatakan salah seorang ahli tafsir, Imam Asy-Syaukani, perbuatan syirik (menyekutukan Allah) dan maksiat adalah sebab timbulnya berbagai kerusakan di alam semesta. Kesimpulannya, Islam adalah agama yang menghendaki keselamatan dan kemakmuran di atas bumi. 
Apa pun bentuk kerusakan dan kemudharatan sebagaimana disebutkan di atas, semuanya bertolak belakang dengan prinsip dan syariat Islam.
Orang-orang yang memerangi Allah dan rasulNya dan orang-orang yang senantiasa berbuat kerusakan merupakan satu paket kezaliman yang sejak dulu diperangi oleh para Nabi dan Rasul. 
Adapun ancaman atau hukuman yang pantas bagi orang-orang yang melakukan paket kezhaliman di atas, Alquran kembali menunjukkan salah satu dimensi kemukjizatannya kepada kita.
Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya dan membuat kerusakan di bumi, hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar. Kecuali orang-orang yang bertaubat sebelum kamu menguasai mereka, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.” (QS al-Maidah [5]:33-34). Wallahu Al-musta’aan.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa., )

***) Imron Baehaqi



***) Imron Baehaqi

Rabu, 02 Desember 2015

5 KEGELAPAN MENURUT KHALIFAH ABU BAKAR

Dalam pandangan Abu Bakar ash-Shiddiq RA, kegelapan jumlahnya ada lima. Kelima-limanya dapat merugikan manusia. Supaya terhindar dari kerugian, manusia dituntut mengoptimalkan potensinya masing-masing.
Pertama, mencintai dunia. Rasulullah SAW bersabda, "Mencintai dunia adalah pangkal segala kesalahan." (HR Baihaqi). Dalam konteks ini, al-Ghazali berkata, "Karena dunia adalah pangkal segala kesalahan maka membenci dunia adalah pangkal segala kebaikan."
Agar tidak mencintai dunia, manusia dituntut untuk melazimkan ketakwaan. Yakni, menjaga diri dengan melazimkan ketaatan kepada Allah demi menghindari siksa-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Jika kamu meninggalkan sesuatu karena takwa kepada Allah 'Azza Wa Jalla maka Dia akan memberimu sesuatu yang lebih baik darinya." (HR Ahmad dan Nasa'i).
Kedua, perbuatan dosa. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya jika seorang hamba melakukan sebuah kesalahan maka kesalahan tersebut akan memunculkan noda hitam di hatinya. Jika dia melepaskan dirinya dari dosa dan beristighfar maka terhapuslah noda hitam di hatinya. Jika dia mengulangi lagi dosanya maka akan bertambahlah noda hitam di hatinya bahkan akan menguasai hatinya. Noda tersebut adalah karat berwarna hitam." (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa'i, Ibnu Hibban, dan al-Hakim).
Ketiga, pekuburan. Dikatakan, pekuburan itu keadaannya gelap. Dijelaskan, ada enam perkara yang dapat menerangi pekuburan: ikhlas dalam beramal, berbakti kepada kedua orang tua, silaturahim, tidak menghabiskan usia dalam kemaksiatan, tidak menuruti hawa nafsu, gemar melakukan ketaatan, dan mengingat Allah sebanyak-banyaknya.
Keempat, akhirat. Dikatakan, akhirat itu keadaannya gelap lantaran begitu banyaknya hal-hal yang menakutkan. Dijelaskan, agar dapat terhindar dari kegelapan akhirat manusia harus meneranginya dengan amal saleh sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Baik ketentuan yang ringan maupun yang berat.
Rasulullah SAW cenderung mengedepankan ketentuan yang ringan. Rasulullah SAW bersabda, "Tunaikan ketentuan yang berat (azimah) dan terimalah ketentuan yang ringan (rukhshah) dan biarkanlah manusia melakukannya; sesungguhnya kalian telah dijaga dari mereka." (HR al-Khatib).
Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa tidak menerima rukhshah dari Allah maka dia telah berdosa sebesar Gunung Arafah." (HR Ahmad). Dalam riwayat lain, "Sesungguhnya, Allah mengutusku dengan agama yang ringan lagi pula mudah: agama Ibrahim." (HR Ibnu Asakir). 
Kelima, jembatan (shirath). Dikatakan, shirath itu gelap. Dijelaskan, agar terhindar dari kegelapan shirath, manusia dituntut mempercayai perkara gaib tanpa keragu-raguan sedikit pun. 
Perkara gaib yang dituntut memercayainya, antara lain, adanya malaikat, adanya hari kiamat, adanya perhitungan/balasan amal, dan adanya kehidupan abadi di akhirat. Dengan begitu, manusia akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindari lima kegelapan yang dapat merugikan dirinya.
Manusia dijamin akan selamat di dunia dan di akhirat bila dia memegang teguh ketentuan kitab Allah dan sunah Rasul-Nya. Wallahu a'lam. 
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Mahmud Yunus

Senin, 30 November 2015

3 SYARAT MENUJU SURGA

Dalam kitab sahihnya, Imam Muslim menyebutkan sebuah hadis riwayat dari Abu Hurairah RA yang menyatakan, Rasulullah SAW pernah bersabda kepada para sahabat, "Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai antarsesama. Maukah kalian, aku tunjukkan suatu perbuatan, jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai, yaitu tebarkan salam di antara kalian."
Hadis ini menegaskan, syarat-syarat yang harus dilakukan seseorang jika ingin masuk surga dan syarat-syarat ini saling berkelindan antara yang satu dengan yang lain.
Pertama, orang tersebut harus beriman. Iman dalam arti yang sesungguhnya, yaitu mempercayai adanya Allah SWT dan meyakini bahwa Allah merupakan Tuhan alam semesta, Yang Maha Pencipta dan Mahakuasa atas segalanya. Percaya adanya malaikat-malaikat Allah dan meyakini bahwa mereka tidak pernah membangkang kepada Allah dan selalu melaksanakan semua perintah-perintah-Nya.
Percaya bahwa Allah menurunkan kitab suci sebagai pedoman bagi umat manusia agar mereka selamat di dunia dan akhirat. Percaya bahwa Allah mengutus para nabi dan para rasul untuk membimbing umatnya ke jalan yang benar. Percaya akan adanya hari kiamat dan kehidupan-kehidupan setelahnya sebagai hari pembalasan. Dan, percaya akan qadha dan qadar yang telah Allah tentukan bagi segenap makhluk-Nya.
Kedua, saling mencintai antarsesama. Ini merupakan syarat seseorang untuk bisa beriman. Karena, tanpa adanya syarat ini, seseorang tidak bisa disebut beriman. Mencintai sesama maksudnya adalah memperlakukan orang lain sama dengan dirinya.
Jika ia senang diperlakukan dengan baik oleh orang lain maka senyatanya orang lain juga ingin diperlakukan dengan baik pula olehnya. Demikian juga sebaliknya, ketika ia tidak ingin diperlakukan buruk oleh orang lain maka orang lain juga tidak ingin mendapat perlakukan yang tidak baik darinya.
Dalam hadis yang lain disebutkan, "Tidak beriman seseorang dari kalian sampai ia mencintai sesuatu untuk orang lain, sebagaimana ia mencintainya untuk dirinya sendiri." (HR Bukhari). Bahkan, dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Syuraih Nabi Muhammad sampai bersumpah tiga kali, "Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman!" Para sahabat bertanya, "Siapa wahai Rasulullah?" Nabi menjawab, "Orang yang membuat orang-orang dekatnya tidak aman dari keburukannya." (HR Bukhari).
Dari berbagai hadis ini, syarat agar seseorang mendapat kesempurnaan iman maka ia harus mencintai antarsesama manusia, bahkan sesama makhluk Allah. Dan, di antara bukti kecintaan seseorang pada orang lain adalah ia memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan oleh orang lain.
Ketiga, menyebarkan salam. Ini merupakan petunjuk dari Nabi agar seseorang bisa mencintai antarsesama manusia. Menyebarkan salam maksudnya setiap bertemu orang mengucapkan, "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" yang artinya kita mendoakan mereka, "Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan berkahnya tercurah pada kalian!" 
Jika ada orang yang setiap bertemu orang lain selalu menyampaikan pesan damai ini maka orang yang ada di sekitarnya akan merasa aman, nyaman, dan damai. Sehingga, orang tersebut akan dicintai oleh masyarakat sekitarnya.
Dan, jika ketiga syarat ini terpenuhi, yaitu menyebarkan salam, saling mencintai antarsesama, dan mendasari keduanya dengan keimanan maka ia pantas masuk surga dengan damai.
(Da'wah, hidayah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Abdul Syukur