Tampilkan postingan dengan label keyakinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keyakinan. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2016

HAKIKAT ZUHUD RASULLAH

 "Melakukan zuhud dalam kehidupan dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah. Dan hendaknya engkau bergembira memperoleh pahala musibah yang sedang menimpamu walaupun musibah itu akan tetap menimpamu." (HR. Ahmad). 
Menurut Imam Ali ra, zuhud adalah amal yang lebih utama setelah mengenal Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Zuhudlah kamu di dunia, niscaya Allah mencintaimu." 
Zuhud terhadap dunia bukan berarti terlarang memiliki harta dunia dan kekayaan lainnya. Zuhud berarti lebih yakin dengan yang ada di tangan Allah daripada yang ada di tangan makhluk. Bagi orang zuhud, ketentraman tidak ditentukan banyaknya harta. Baginya, ketentraman adalah keyakinan akan janji dan jaminan Allah. Allah Mahatahu akan segala kebutuhan makhluk-Nya. 
Suatu ketika ada seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW Dia menceritakan keadaan suaminya, yang jika malam hari ia tidak pernah tidur karena ingin beribadah. Hampir tiap hari dia juga selalu shaum. Rasul SAW kemudian memanggil sang suami dan mengklarifikasi hal itu. Sang suami menjawab: "Ya Rasulullah saya melakukan semua itu karena merasa bahwa ibadah saya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan ibadahmu". 
Rasulullah SAW menimpali perkataan laki-laki itu, "Ketahuilah, bahwa saya ini adalah orang yang paling takwa di antara kamu sekalian. Tapi di malam hari, saya ada waktu untuk tidur dan ada pula untuk ibadah. Di siang hari, saya ada waktu buka dan ada waktu shaum". Dari Hadis di atas, kita lihat bahwa zuhud tidak berarti meninggalkan dunia sama sekali. Dunia tetap dicari, tapi tidak sampai terbuai olehnya. Seorang sufi mengatakan, orang zuhud adalah orang yang menyikapi dunia hanya sebatas tangannya saja. Maka dari itu, dia akan lebih berhati-hati, cermat dan tidak sampai diperbudak oleh dunia. 


***)Pusat Data Republika

Rabu, 29 Juni 2016

BEKAL JELANG RAMADHAN

Ramadhan akan kembali hadir di tengah-tengah kaum Muslim. Sebagai orang beriman sudah sepatutnya kita berbahagia menyambut kehadiran Ramadhan dengan penuh kegembiraan.
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, ketika bulan Ramadhan datang, Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah mewajibkan kepada kalian berpuasa, dibuka lebar pintu surga, ditutup rapat pintu neraka, dan dibelenggu tangan setan. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa yang terhalang untuk mendapatkan kebaikannya maka sungguh ia terhalang dari kebaikan bulan puasa." (HR Ahmad).
Hadis di atas memberikan penjelasan sekaligus kabar gembira tentang keistimewaan bulan Ramadhan. Sehingga mendorong kita untuk menyambut kehadiran bulan suci Ramadhan dengan penuh kebahagiaan. Namun,di tengah kebahagiaan itu, kita perlu melakukan persiapan sebagai bekal menghadapi Ramadhan dengan berbagai amalan saleh. 
Pertama, banyak berdoa. Tidak ada seorang pun yang dapat menjamin usia kita sampai bulan Ramadhan, untuk itu teruslah berdoalah kepada-Nya. "Allahumma bariklana fii rajaba wa sya'ban, wa balighna ramadhan" (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikan kami pada bulan Ramadhan). 
Kedua, puasa sunah di bulan Sya'ban. Dikisahkan oleh Aisyah RA, "Rasulullah banyak berpuasa (pada Sya'ban) sehingga kita mengatakan, 'Beliau tidak pernah berbuka dan aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah banyak berpuasa (di luar Ramadhan) melebihi Sya'ban'." (Muttafaq 'alaih).
    Ketiga, tadarus Alquran. Dengan memperbanyak tadarus Alquran di bulan Sya'ban, dapat mengantarkan kepada kebersihan jiwa, sehingga saat memasuki Ramadhan jiwa dalam keadaan bersih dan pada akhirnya mengantarkan kepada keikhlasan dalam menjalankan ibadah Ramadhan.
Keempat, menelaah buku-buku terkait ibadah puasa. Hal ini dilakukan untuk pemantapan dan penyempurnaan ibadah di bulan Ramadhan. Sebab, ibadah yang tidak disertai ilmu (pemahaman) hanya akan merusak kesempurnaan ibadah itu sendiri. 
Hasan al-Basri mengatakan, beramal tanpa ilmu hanya membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan kebaikan. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh, tapi jangan sampai meninggalkan ibadah. Gemarlah pula beribadah, tapi jangan sampai meninggalkan ilmu. Karena ada segolongan orang yang rajin ibadah, tapi meninggalkan belajar (lihat dalam Miftah Daris Sa'adah karya Ibnul Qayyim).
Kelima, silaturahim kepada keluarga, tetangga, teman, terutama kepada kedua orangtua untuk saling memaafkan dan mendoakan. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menghadirkan suasana kebersamaan dan saling memotivasi, guna memaksimalkan ibadah Ramadhan.
Semoga Allah membimbing kita agar dapat menjalankan ibadah Ramadhan dengan penuh keimanan dan ihtisaban, terampuni dosa-dosa kita dan meraih derajat takwa. Amin.


***) Imam Nur Suharno

Jumat, 24 Juni 2016

MANAKAH YG LEBIH UTAMA? AHLI ILMU ATAU AHLI IBADAH

Diriwayatkan dari Abu Umamah, ia berkata: Disebutkan kepada Rasulullah SAW tentang dua orang, yaitu seorang ahli ibadah dan seorang ahli ilmu.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian." Setelah itu beliau melanjutkan, "Sesungguhnya Allah, para malaikat, para penduduk langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya, dan para ikan mendoakan pengajar kebaikan pada manusia." (HR At-Turmidzi).
Dalam redaksi lain Al Bazzar meriwayatkan hadis ini dari 'Aisyah ra bahwa: "Para pengajar kebaikan dimintakan ampunan oleh segala sesuatu, sampai oleh para ikan di lautan."
Tidak ada agama selain Islam, dan tidak ada kitab suci selain Alquran yang demikian tinggi menghargai ilmu pengetahuan, mendorong untuk mencarinya, dan memuji orang-orang yang menguasainya. Hadis ini adalah salah satu bagian kecil dari kaidah Islam, yang memperlihatkan penghargaan yang tinggi pada ilmu dan orang-orang yang memilikinya.
Ibadah adalah sebuah kemuliaan, tapi jauh lebih mulia ilmu dan orang-orang yang memilikinya. Demikian utama orang berilmu di atas ahli ibadah, hingga Rasul dalam hadis di atas mengumpamakan kemuliaan dirinya dengan orang yang paling rendah di antara para sahabatnya. Perumpamaan ini analog dengan perumpamaan "bagaikan langit dan bumi" karena sangat jauhnya.


Sumber : Pusat Data Republika

Selasa, 21 Juni 2016

HIKMAH DARI AHLUL JANNAH

Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh aku mengetahui penghuni neraka yang terakhir kali keluar dari neraka dan penghuni surga yang terakhir masuk surga yaitu seseorang yang keluar dari neraka dengan cara merayap, maka Allah Swt berfirman, “Pergilah kamu dari neraka dan masuklah ke dalam surga!” maka orang tersebut mendatangi surga dan melihat kondisi yang teramat sesak di dalam surga (karena dipenuhi penghuninya). Orang itu kembali kepada Allah dan bberkata, “Wahai Rabb, kutemukan surga telah penuh sesak,” maka Allah Swt berfirman, “Pergi dan masuklah ke surga!” maka ia kembali ke surga dan kembali melihat pemandangan yang sama (surga telah penuh sesak).
Lalu ia kembali kepada Allah dan berkata, “Wahai Rabb, aku telah kembali ke surga, namun kutemukan bahwa surga telah penuh, ya Rabb,” maka Allah Swt berfirman, “Pergi dan masuklah ke surga dan bagimulah surga seluas dunia bahkan sepuluh kali lipatnya,” hamba tadi lantas mengatakan, “Rabb, apakah Engkau menghinaku ataukah mengejekku sedang Engkau adalah Maharaja?” maka, kulihat Rasulullah Saw tertawa hingga gigi gerahamnya kelihatan seraya bersabda, “Itulah penghuni surga yang tingkatannya paling rendah,” (HR Bukhari dan Muslim)
Sungguh menarik jika kita mau mengambil hikmah dari kisah penghuni neraka—yang akhirnya diizinkan Allah keluar dari naar dan terakhir diizinkan masuk ke surga-Nya. Menariknya adalah betapa sebenarnya hamba ini mengakui bahwa dirinya mungkin belum layak (menyadari dosa-dosa dan kesalahannya selama di dunia) hingga akhirnya dengan rahmat Allah-lah ia bisa keluar dari panasnya api neraka dan dahsyatnya siksaan para malaikat penyiksa.
Namun saat ia berbahagia karena berhasil keluar dari neraka, ia dapati surga sudahoverload baginya—ia merasa surga tak mampu lagi menampung penghuni baru sepertinya. Satu hal yang lebih menariknya lagi, Rasulullah Saw pun saat menceritakan hadits ini kepada Ibn Mas’ud tak kuasa menahan hasrat ingin tertawa karena hamba ini mengira bahwa Allah telah menghina ataupun mengejeknya dengan memberikan balasan yang subhaanallah mulia berupa surga yang luas dan ni’matnya sepuluh kali dunia, sedangkan amalnya di dunia tidaklah seberapa.
Dr Mahmud Abdurrazak ar-Rridwani  dalam Ad-Du’au bil Asma-il Husna, mengungkapkan bahwa hadits di atas memberikan faedah bahwa kenikmatan yang paling rendah bagi ahli surga sebanding dengan sepuluh kali keni’matan yang ada di dunia.
Betapa baik dan maharaja-Nya Allah hingga Dia selalu ingin memberikan balasan yang terbaik untuk para hamba-Nya kendati kita menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa amalan apapun takkan pernah sanggup membayar kebaikan-kebaikan Allah apalagi membeli surga-Nya. Dengan sifat rahman dan rahim-Nya-lah Dia tempatkan para hamba-Nya di tempat yang telah Dia tentukan; entah itu surga maupun neraka.
Tentu saja, selain memasuki surga merupakan kehendak mutlak Allah, kita tetap diwajibkan untuk beribadah dan memohon kepada-Nya. Seperti dalam surah Ali Imran ayat 133 Allah berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu, dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (QS. Ali Imran: 133)
Atau dalam surah lain, “Berlomba-lombalah kamu sekalian untuk mendapatkan ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya,” (QS. Al-Hadiid : 21)
Dengan demikian, kendati surga adalah hadiah khusus tanda cinta-Nya untuk para hambanya yang bertaqwa, kita juga dianjurkan untuk berusaha dan berlomba-lomba mendapatkannya. Dengan apa? dengan amal shalih yang tulus ikhlas mengharap keridhaan-Nya. Allahu a’lam


***)Ina Salma Febriany

Jumat, 17 Juni 2016

MENJADI IHSAN

 Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW mendapat pelajaran penting tentang makna iman, Islam, dan ikhsan dari Malaikat Jibril yang mendatangi beliau dengan menjelma menjadi manusia biasa.
Secara berurutan, Nabi menjawab pertanyaan ujian Malaikat Jibril. Apa yang disebut iman? Nabi menjawab, ''Iman adalah engkau percaya kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab Allah, percaya akan adanya perjumpaan dengan Allah, percaya kepada para rasul, dan percaya adanya hari kebangkitan.'' Apa yang disebut Islam? Nabi menjawab, ''Islam adalah engkau menghamba kepada Allah dan tidak menyekutukannya, melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, dan puasa di bulan Ramadhan.''
Apa arti ihsan? ''Engkau beribadah kepada Allah dengan kondisi seolah-olah engkau melihatnya dengan mata. Jika tidak, yakinilah bahwa Allah sedang melihatmu,'' demikian jawab Nabi. (HR Bukhari dari Abu Hurairah).
Iman, Islam, dan ihsan adalah satu kesatuan komponen agama Islam yang tak terpisahkan. Ketiga komponen tersebut seharusnya terintegrasi secara berimbang dalam keberislaman seorang Muslim. Dan pengurutan seperti itu bukanlah kebetulan. Iman didahulukan karena ia adalah pokok dari Islam. 
Selanjutnya, iman di dalam hati menjadi tidak bermakna jika tidak dimanifestasikan dalam tindakan nyata, yang diimplementasikan dalam Islam. Agama Islam pada diri seorang Muslim harus dibenarkan dengan hati (iman) dan dipraktikkan dengan perbuatan (Islam).
ihsan adalah penyatuan dari iman dan Islam. Artinya, seseorang tidak akan bisa melihat Allah SWT, jika tidak percaya akan Mahawujud-Nya, serta tidak mengamalkan apa yang menjadi perintah dan larangan-Nya. Ihsan bisa diraih jika iman dan Islam telah menjadi satu kesatuan tak terpisahkan dalam diri seorang Muslim. Sebab, iman tidak bermakna tanpa Islam. Dan Islam tanpa iman akan rapuh.
Namun, ada sebagian ulama yang mendahulukan Islam, kemudian iman, dan ihsan. Alasannya adalah karena Islam adalah amalan lahir yang rasional, sedangkan iman adalah amalan batin yang suprarasional. Dan ikhsan adalah puncak pencapaian dari keduanya dan melampaui keduanya.
Kenapa ihsan diakhirkan? Hal itu menjadi isyarat bahwa ia adalah hal yang sulit dilakukan. Jika Islam terbatas pada lahiriah, iman terbatas pada batiniah, maka ikhsan tidak terbatas pada keduanya, karena berusaha memfokuskan kesadaran kita akan Allah SWT setiap saat. 


**) Juman Romarif--Pusat Data Republika

Rabu, 15 Juni 2016

BERIMAN DI TEPIAN

''Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi (tidak dengan penuh keyakinan), jika ia memperoleh kebajikan tetaplah ia dalam keadaan itu (keimanan) dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana berbaliklah ia kebelakang (menjadi kafir lagi). Rugilah ia di dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.'' (QS Al-Hajj [22]:11).
 Ayat di atas menjelaskan tentang orang-orang yang menggunakan syarat dalam menyembah Allah SWT. Ia mau beribadah kalau semua keinginannya terpenuhi. Ia menjadikan agama sebagai sarana untuk memuaskan nafsunya. Ia menjadikan Allah SWT seperti lampu Aladin yang harus mengabulkan semua keinginannya.
Jika keinginannya tidak terpenuhi dan jika ia ditimpa berbagai musibah serta kesusahan dalam menjalani hidup, maka ia kembali menjadi orang kafir. Orang seperti ini, menurut Al-Qurtubi dan Ibn Al-Katsir, adalah orang-orang munafik yang sangat merugi di dunia dan di akhirat, dan merekalah golongan orang-orang munafik yang akan berada di neraka yang paling bawah, ''Sesungguhnya orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.'' (QS An-Nisa [4]: 145).
Begitu juga dalam bermuamalah atau interaksi sosial, ia mau menegakkan kebenaran dan berlaku adil jika kebenaran dan keadilan itu menguntungkan dirinya. Ia mau membantu dan peduli terhadap sesama jika hal itu bisa membuat dirinya populer. Namun, jika tidak maka ia berdiam diri dan pura-pura tidak tahu akan musibah dan problem orang lain.
Rasulullah SAW menegaskan kerugian orang-orang seperti itu dengan sabdanya, ''Sangatlah merugi budak harta dan budak baju beludru (baju yang sangat bagus), jika ia diberikan harta dan baju beludru maka ia ridha dan jika tidak maka ia marah.'' (HR Al-Bukhari).
Penyebutan harta dan baju beludru dalam hadis di atas hanyalah contoh semata. Namun, dalam pengertiannya yang luas mencakup semua hal yang sifatnya bisa memuaskan dan membahagiakan.
Semoga kita tidak menjadi budak hawa nafsu seperti orang-orang di atas. Semoga pasca-Ramadhan ini kita menjadi insan yang 'kembali', yang menapaki hidup di rel-Nya. ''Wahai Tuhanku tolonglah aku agar selalu mengingat-Mu, selalu bersyukur kepada-Mu dan selalu bagus dalam beribadah kepada-Mu.'' (HR Abu Dawud).


**) Asep Sulhadi--Pusat Data Republika

Sabtu, 11 Juni 2016

MENYEGERAKAN AMAL

Dalam kitab Ihya' Ulumuddin, Imam Ghazali menukil ungkapan Al-Mandzir, "Aku mendengar Malik bin Dinar berkata kepada dirinya, 'Celakalah kamu. Bersegeralah sebelum urusan datang kepadamu. Celakalah kamu. Bersegeralah sebelum urusan datang kepadamu.' Sehingga, ia mengulangi yang demikian itu sampai 60 kali yang aku dengarnya dan ia tidak melihatku."
Tindakan Malik bin Dinar tentu didorong oleh pemahaman yang kuat terhadap perintah Allah Ta'ala agar bersegera dalam beramal (QS Ali Imran: 133-134 dan QS al-Hadid: 21). Kata "segera" berarti tidak bisa dipisahkan dari waktu.  
Ibn Al-Jauzi dalam bukunya Shaid Al-Khatir mengatakan, "Seorang manusia mesti mengetahui nilai dan kedudukan waktu agar ia tak menyia-nyiakan sesaat pun darinya untuk sesuatu yang tak bisa mendekatkan diri kepada Allah." 
Pemahaman mendalam terhadap nilai dan kedudukan waktu menjadikan ulama terdahulu amat selektif dalam memanfaatkan nikmat yang menurut Rasulullah kebanyakan manusia tertipu, yakni waktu. Fudhail bin Iyadh berkata, "Aku kenal orang yang menghitung perkataannya dari minggu ke minggu." 
Kemudian ada Dawud al-Tha'i, meski sedang membuat adonan roti, lisannya tak pernah kering dari ayat-ayat Alquran. "Antara membuat adonan dan makan roti aku telah berhasil membaca 50 ayat."
Suatu hari seseorang berkata kepada Amir bin Abd Qais (55 H), murid dari Abu Musa al-Asy'ari, "Berhentilah, aku ingin berbicara kepada Anda!" Amir bin Abd Qais pun menjawab, "Coba hentikan matahari."
Sikap Amir bin Abd Qais itu menunjukkan bahwa dirinya telah menetapkan beragam amal di setiap pergantian waktu sehingga menjadi tidak mungkin dirinya meluangkan waktu kepada orang yang secara tiba-tiba memintanya untuk berhenti tanpa niat dan tujuan yang jelas.


***) Imam Nawawi—(Pusat Data Republika

Jumat, 20 Mei 2016

MIRAS INDUK DARI SEGALA KEJAHATAN

 Dampak buruk dari miras dan sejenisnya terhadap masyarakat kiranya sudah diketahui secara terang benderang. Sayangnya, sikap yang ditunjukkan sebagian masyarakat dan bahkan pemerintah belum seragam dan tegas dalam melarang produksi dan peredaran miras tersebut. 
Walau kita akui, sebagian pemda, ormas, serta masyarakat telah mengambil sikap sendiri terhadap peredaran miras dengan sikapnya yang tegas, menolak peredaran miras. Terjadinya tindak kriminal, tidak jarang dimulai dari pengaruh minuman keras yang ditenggaknya. 
Karena dengan miras, konon keberanian pelaku menjadi meningkat, rasa takut dan minder menjadi hilang, kontrol dan akal sehat menjadi lemah bahkan hilang, sehingga perbuatannya menjadi ngawur dan lepas kendali. 
Akibatnya, ia bisa bertindak nekat dan di luar batas kemanusian. Ia bisa menodong, menjambret, melukai dan bahkan membunuh. Yang memprihatinkan seperti kejadian baru-baru ini, sudah memperkosa korban lalu membunuhnya, sunguh sangat biadab. 
Sikap Islam sangat tegas mengenai miras. Hukumnya haram, dan pelakunya dianggap telah melakukan dosa besar serta dikenakan hukuman had berupa dicambuk/dipukul dalam hitungan 40 atau 80 kali cambukan. 
Nabi Muhammad SAW juga menyatakan khamr (miras) adalah ummul khaba 'its (induk dari segala kejahatan) sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Khamr adalah induk dari kekejian dan dosa yang paling besar, barang siapa meminumnya, ia bisa berzina dengan ibunya, saudari ibunya, dan saudari ayahnya.” (HR ath-Thabrani) 
Dengan redaksi yang sedikit berbeda, Abdullah bin Amr meriwayatkan, bahwa Nabi SAW bersabda, "Khamr adalah induk dari segala kejahatan, barang siapa meminumnya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari, apabila ia mati sementara ada khamr di dalam perutnya, maka ia mati sebagaimana matinya orang Jahiliyyah.” (HR ath-Thabrani) 
Bahaya miras juga telah diingatkan oleh salah seorang sahabat Rasulullah SAW, Utsman bin Affan. Diriwayatkan, suatu ketika Utsman sedang menyampaikan khutbah sembari berpesan, “Waspadalah terhadap miras karena sesungguhnya miras merupakan induk segala perbuatan keji. Sungguh, pernah terjadi pada seorang pria saleh sebelum kalian dari kalangan ahli ibadah. Ia rajin beribadah ke masjid. Suatu ketika ia bertemu dengan seorang perempuan nakal." 
"Perempuan tersebut memerintahkan kepada pembantunya agar mempersilakan lelaki tersebut masuk ke dalam rumah. Kemudian pintunya dikunci rapat-rapat. Di sisi perempuan tersebut terdapat miras dan seorang bayi. kemudian perempuan tadi berkata, 'Kamu tidak bisa keluar dari rumah ini sebelum engkau memilih minum segelas arak ini atau engkau berzina dengan aku, atau engkau membunuh bayi ini. Jika kamu tidak mau, maka saya akan berteriak dan saya katakan bahwa kamu ini memasuki rumahku. Siapa yang akan percaya kepadamu?' 
Lelaki tersebut menjawab, “Saya tidak mau melakukan perbuatan keji (berzina) atau pun membunuh jiwa seseorang.” Akhirnya ia minum segelas miras. Demi Allah, ia menjadi mabuk sehingga ia pun berbuat zina dengan perempuan tersebut dan membunuh si bayi. 
Utsman RA pun berpesan, “Jauhilah minum minuman keras, karena minuman keras merupakan induk segala perbuatan keji. Demi Allah, sungguh, iman dan minuman keras tidak akan bersatu di dalam hati seseorang melainkan hampir pasti salah satu di antaranya melenyapkan yang lain.”
Setelah menyadari bahaya miras, masihkah kita bersikap lembek terhadapnya? Ataukah masih butuh korban lebih banyak lagi baru mau mengambil tindakan? 

***) Ali Trigiyatno –(Republika online

Jumat, 06 Mei 2016

JABAT TANGAN MALAIKAT

Salah seorang sahabat Rasulullah SAW bernama Hanzhalah Al Usaidi bercerita, "Saya pernah bertemu Abu Bakar, lalu ia bertanya, 'Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?' Aku menjawab, 'Hanzhalah telah menjadi munafiq!' Abu Bakar tersentak kaget seraya berkata, 'Subhanallah! Apa yang engkau katakan?'”
Aku sering bersama Rasulullah SAW, beliau mengingatkan tentang surga dan neraka seolah-olah aku melihatnya dengan mata kepala. Namun ketika aku keluar dari sisi beliau dan bercengkerama dengan istri, anak dan sibuk dengan pekerjaan, aku pun sering melupakannya,” jawabku.
Abu Bakar mengiyakan perasaan seperti itu, “Demi Allah! Kami juga merasakan hal seperti itu!” Kemudian aku dan Abu Bakar berangkat bersama-sama untuk menemui Rasulullah SAW. Aku memulai pembicaraan, “Hanzhalah telah menjadi munafiq wahai Rasulullah! 
Rasulullah balik bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah! Ketika kami bersamamu, engkau mengingatkan tentang surga dan neraka seolah-olah kami melihatnya dengan mata kepala kami. Namun ketika kami keluar dari sisi mu dan bercengkerama dengan istri, anak dan sibuk dengan pekerjaan, kami sering melupakannya.
Rasulullah SAW menjawab, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian selalu dalam keadaan sebagaimana ketika kalian ada di sisiku dan selalu berdzikir, niscaya malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat-tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Tetapi wahai Hanzhalah, suatu waktu seseorang bisa merasakan hal itu, dan di waktu yang lain ia merasakan hal yang lain.” (HR Muslim).
Apa yang dirasakan oleh Hanzhalah Al Usaidi dan sahabat Abu Bakar juga sering kita rasakan di masa sekarang. Ketika kita mendengar ceramah di masjid-masjid atau melalui media elektronik kita merasa dekat dengan Allah, merasakan nikmatnya menjadi penghuni surga, dan merasa betapa mengerikannya kobaran api neraka. 
Dalam suasana hati seperti itu, tidak jarang di antara kita ada yang berjanji untuk mengikuti semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya, dengan tujuan agar kita benar-benar menjadi penghuni surga, dan benar-benar dijauhkan dari api neraka. 
Tapi, perasaan seperti itu tiba-tiba menguap sedikit demi sedikit ketika kita keluar dari masjid atau berkumpul bersama keluarga dan mulai asyik dengan aktifitas sehari-hari kita. 
Perubahan suasana hati seperti ini yang dikhawatirkan oleh Hanzhalah dan Abu Bakar sebagai suatu kemunafikan, karena ketidakistiqamahan hati untuk selalu mengingat janji dan ancaman Allah SWT dalam segala kondisi.
Namun, jawaban Rasulullah menegaskan bahwa perasaan seperti itu bukan merupakan kemunafikan, tapi sebuah perasaan yang lumrah dirasakan setiap orang, pada satu waktu ingat pada janji dan ancamannya Allah, dan di waktu yang lain lupa akan janji dan ancaman tersebut.
Dan orang yang mampu selalu mengingat janji dan ancaman Allah dalam setiap aktivitasnya, maka ia akan menjadi manusia yang sangat istimewa, karena akan mendapat jabat tangan malaikat (doa) di jalan-jalan dan di tempat tidurnya. 

***) Abdul Syukur –Repulika Online

Minggu, 01 Mei 2016

BAGAIMANA SEHARUSNYA NEGARA MENGHADAPI KEMISKINAN

Diriwayatkan dari Jabir RA, ''Sekali peristiwa kami bersama Rasulullah pada pagi hari di Madinah, tiba-tiba datang serombongan orang berpakaian compang-camping. Tampak saat itu kesedihan di wajah Rasulullah lantaran melihat kesengsaraan mereka. Rasulullah kemudian masuk ke dalam rumah dan keluar kembali, lalu menyuruh Bilal mengumandangkan azan dan ikamah, kemudian beliau memimpin shalat.''
''Selesai shalat, Rasulullah berpidato, 'Hai sekalian manusia, hendaklah setiap orang menyedekahkan sebagian dari dinarnya, sebagian dari dirhamnya, sebagian dari pakaiannya, segantang dari gandumnya, dari segantang kurmanya, biarpun dengan sekeping kurma.'''
Berkata Jabir selanjutnya, ''Maka, datanglah seorang laki-laki dari golongan ansar membawa sebuah pundi yang hampir-hampir tangannya tidak kuat membawanya. Kemudian orang banyak membawa pakaian dan makanan, sehingga aku melihat dua tumpukan terdiri atas makanan dan pakaian, aku melihat uang yang banyak sekali, dan kulihat wajah Rasulullah berseri-seri bagaikan sesuatu bersepuh emas layaknya.''
Sambil menyerahkan bantuan yang terkumpul saat itu, Rasulullah bersabda, ''Barang siapa membuat suatu aturan yang baik, maka baginya pahala ditambah dengan pahala orang-orang yang menjalankan aturan itu di belakangnya, dengan tidak dikurangi sedikit pun dari pahala mereka.'' (HR Muslim).
Dari cuplikan peristiwa di atas, terdapat ajaran yang sangat penting seputar tanggung jawab kepemimpinan yang dicontohkan oleh Rasulullah, yakni menggerakkan orang-orang yang berkecukupan supaya menginfakkan hartanya dalam keadaan yang mengharuskan mereka berbuat demikian. Dalam kondisi seperti itu, kaum Muslimin tidak lagi berhitung soal zakat, tetapi yang diterapkan adalah infak atas dasar keikhlasan yang "diwajibkan" sewaktu-waktu saat keadaan memaksa.
Bagian yang diterima oleh fakir-miskin bukan suatu belas kasihan, melainkan hak yang telah ditentukan melalui mekanisme yang digerakkan oleh negara. ''Demi Allah, andaikata mereka tak mau menyerahkan kepadaku seutas tali unta yang dahulu diserahkan kepada Rasulullah, niscaya mereka kuperangi karena-Nya,'' demikian ditegaskan oleh Abu Bakar Siddik selaku kepala negara Islam di abad pertama Hijriyah.
Ulama besar kelahiran Andalusia (Spanyol), Ibnu Hazm al-Andalusy berpendapat bahwa kemiskinan hanya dapat diatasi dengan kesediaan orang-orang kaya memberikan hak orang miskin yang diamanatkan Allah kepadanya. Ibnu Hazm mengutip sebuah hadis bahwa ada hak-hak fakir miskin selain zakat yang harus dikeluarkan oleh orang-orang kaya. Apabila zakat tidak mencukupi sebagai jaminan sosial bagi masyarakat yang tidak mampu, maka ulil amri (pemerintah) diberi hak untuk memungut pajak sosial lainnya dari orang-orang kaya.
Jika ajaran Islam dilaksanakan secara kafah dan konsekuen oleh umatnya, baik selaku anggota masyarakat maupun ulil amri yang memegang amanah kekuasaan, maka tak akan ditemukan seorang fakir pun yang menahan lapar di antara warga masyarakat lainnya yang hidup berkecukupan. Tak akan ada orang miskin yang telantar. Penduduk yang tak punya tempat tinggal karena sangat miskinnya atau kehilangan kesempatan membina keluarga, atau terlunta di hari tuanya.

***) M Fuad Nasar : Pusat Data Republika

Kamis, 28 April 2016

DOSA TERBESAR

Dari Abu Bakrah ra, ia berkata, Nabi Saw bersabda, “Maukah aku beritahukan kepada kamu tentang dosa terbesar di antara dosa-dosa besar?” Kami menjawab, “Tentu saja, wahai Rasulullah!” Rasulullah Saw pun bersabda, “Dosa-dosa tersebut ialah menyekutukan Allah (syirik), mendurhakai orangtua,” beliau pun bersandar lantas duduk, “Ingatlah! dua dosa lagi yaitu perkataan keji dan kesaksian palsu,” Beliau mengatakannya terus menerus dan diulang-ulang hingga kami pun berkata dalam hati, “Duhai, andai saja Rasulullah berhenti mengucapkannya,” (HR Bukhari dan Muslim)
Menurut Dr Musthafa Said al-Khin, Hadits di atas mengandung beberapa faedah yaitu peringatan bahwa dosa yang paling dibenci Allah ialah menyekutukan-Nya, durhaka kepada orangtua, perkataan yang keji dan kesaksian palsu.
Kedua, ancaman keras terhadap perkataan keji dan kesaksian palsu. Rasulullah berulang- ulang memperingatkannya untuk menjelaskan betapa besarnya bahaya perbuatan itu yang dapat mengancam perdamaian umat dan beratnya siksaan yang akan ditanggung oleh pelakunya pada hari kiamat.
Ada dua penyandingan dalam hadits tersebut yang diucapkan Rasulullah pertama, dosa syirik dan dosa mendurhakai orangtua. Betapa banyak ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang perintah untuk hamba-Nya agar menaati Allah dan berbakti kepada orangtua, surah Al-Isra ayat 23 misalnya; dalam ayat tersebut Allah memerintahkan (mewasiatkan; dengan menggunakan lafadz Qadaa) agar kita tidak mendurhakai Allah atau menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun ditambah dengan anjuran untuk berbuat baik kepada orangtua.
Dalam surah lain, yakni Qs Al-Baqarah ayat 215 pun demikian, dengan santun Allah mengajak para hamba-Nya agar menyisihkan rezeki yang Dia berikan untuk orang-orang yang berhak menerimanya; salah satu orang yang berhak yang disebut pertama kali oleh Allah adalah orang tua, kemudian disusul untuk keluarga (kaum kerabat), anak yatim, orang miskin dan orang-orang yang sedang berada di dalam perjalanan (Ibn Sabil).
Pada akhir ayat, Allah menjamin bahwasannya kebaikan apapun yang kita lakukan, Allah pasti akan mengetahuinya. Tentu saja Allah tak sekedar tahu, namun juga Maha Membalas kebaikan yang dilakukan para hamba-Nya untuk dapat memberatkan timbangan kebaikan mereka di yaumil akhir kelak.
Kembali ke konteks hadit yang telah disebutkan di atas, dua perilaku dosa terbesar yang disebut bersamaan adalah perkataan keji dan kesaksian palsu. Disebut bersamaan karena orang-orang yang cenderung mudah untuk mengatakan kata-kata kotor, dusta dan tidak benar, mereka tentu juga akan mudah memfitnah, menghasud, memprovokasi, mengadu domba, bahkan memberikan kesaksian palsu.
Mengapa kesaksian palsu juga masuk ke dalam kategori dosa terbesar? Jelas, karena kesaksian palsu tak hanya menjerumuskan pelakunya ke dalam lubang dosa namun juga merugikan orang lain; terlebih orang yang difitnah karena kesaksian yang tidak benar itu. Karenanya, Allah menegaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 263 bahwa perkataan yang baik dan pemberian maaf itu lebih baik daripada sedekah dengan diiringi ketidakikhlasan (menggerutu dan sebagainya).
Kendati surah Al-Baqarah ayat 263 secara khusus berbicara tentang sedekah, namun secara umum juga berfungsi sebagai penegasan dan pengingat untuk kita bahwa seutama-utamanya sedekah adalah perkataan baik—yang diharapkan dengan pengingat ini bahwa kita mampu menjaga dan menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang kurang manfaat. Rasulullah pun dalam suatu hadits juga bersabda bahwa kita dianjurkan untuk berkata yang baik-baik (saja), atau jika tidak sanggup maka diam akan jauh lebih baik.
Karenanya, Ibn Mas’ud ra dalam sebuah hadits menguraikan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Allahumma inni as-alukal huda wattuqo wal’afaaf walghinaa—Ya Allah, aku memohon kepadamu hidayah, ketaqwaan, kemampuan untuk menahan diri dan kecukupan rezeki,” (HR Muslim)
Akhirnya, do’a Rasulullah inilah yang mengantarkan kita semua kepada sebenar-benarnya doa dan permohonan bahwa yang perlu kita pinta pada-Nya hanyalah petunjuk, rasa takut yang bertambah kepada Allah, kemampuan untuk tidak melakukan hal-hal buruk (termasuk berkata keji dan kesaksian palsu), juga kekayaan hati dan materi.
Semoga Allah memampukan kita untuk menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak terpuji juga melindungi kita dari empat dosa terbesar di antara yang besar ini. Aamiin.


***) Ina Salma Febriany

Rabu, 27 April 2016

ETIKA MENASEHATI

Harun ibn ‘Abdillah, seorang ulama ahli hadis yang juga pedagang kain di kota Baghdad bercerita: Suatu hari, saat malam beranjak larut, pintu rumahku di ketuk. “Siapa?” tanyaku. “Ahmad,” jawab orang di luar pelan. “Ahmad yang mana?” tanyaku makin penasaran.
“Ibn Hanbal,” jawabnya pelan. "Subhanallah, itu guruku!" kataku dalam hati. Maka kubuka pintu. Kupersilakan beliau masuk dan kulihat beliau berjalan berjingkat, seolah tak ingin terdengar langkahnya. 
Saat kupersilakan untuk duduk, beliau menjaga agar kursinya tidak berderit mengeluarkan suara. “Wahai guru, ada urusan yang penting apakah sehingga dirimu mendatangiku selarut ini?” 
“Maafkan aku ya Harun. Aku tahu biasanya engkau masih terjaga meneliti hadis selarut ini, maka aku pun memberanikan diri mendatangimu. Ada hal yang mengusik hatiku sedari siang tadi.” Aku terkejut. Sejak siang? 
“Apakah itu wahai guru?” “Mmmm begini!” Suara Ahmad ibn Hanbal sangat pelan, nyaris berbisik. “Siang tadi aku lewat di samping majelismu, saat engkau sedang mengajar murid-muridmu. Aku saksikan murid-muridmu terkena terik sinar mentari saat mencatat hadis-hadis, sementara dirimu bernaung di bawah bayangan pepohonan. Lain kali, janganlah seperti itu wahai Harun! Duduklah dalam keadaan yang sama sebagaimana murid-muridmu duduk!” 
Aku tercekat, tak mampu berkata. Maka beliau berbisik lagi, mohon pamit, melangkah berjingkat dan menutup pintu hati-hati. Masya Allah! Inilah guruku Ahmad ibn Hanbal, begitu mulianya akhlak beliau dalam menyampaikan nasehat.
Beliau bisa saja meluruskanku langsung saat melintasi majelisku. Tapi itu tidak dilakukannya demi menjaga wibawaku di hadapan murid-muridku. Beliau juga rela menunggu hingga larut malam agar tidak ada orang lain yang mengetahui kesalahanku.
Bahkan beliau berbicara dengan suara yang sangat pelan dan berjingkat saat berjalan, agar tak ada anggota keluargaku yang terjaga. Lagi-lagi demi menjaga wibawaku sebagai imam dan teladan bagi keluargaku.
Dari kisah di atas, kita bisa belajar bagaimana arifnya Ahmad bin Hanbal; seorang imam mazhab menyampaikan nasihat kepada muridnya sendiri. Nasihat bukan menunjukkan diri yang paling benar. Nasihat bukan untuk menunjukkan eksistensi diri atau arogansi.
Seringkali kita melupakan etika dalam menyampaikan nasehat. Nasehat hanya bisa diterima oleh hati yang benar-benar menginginkan kebaikan bagi orang yang dinasehatinya. 
Jika nasehat yang disampaikan hanya untuk mempermalukan diri orang lain, niscaya nasehat tak lebih hanya akan menjadi bibit kebencian dan permusuhan. 
Teringat perkataan Imam Asy Syafi’i, “Nasihati aku saat sendiri, jangan di saat ramai dan banyak saksi. Sebab nasehat di tengah khalayak, terasa hinaan yang membuat hatiku pedih dan koyak; maka maafkan jika hatiku berontak.”  (HR Thabrani). Wallahu’alam.


***) Miftah al-Banjary

Selasa, 26 April 2016

ISYARAT KEMATIAN

 Dalam kitab Irsyadul Ibad dikisahkan, Nabi Ya’qub AS biasa berbincang dengan Malaikat Maut. Di antara perbincangan itu membahas mengenai kematian. 
Nabi Ya’qub berkata, “Aku tahu tugasmu sebagai pencabut nyawa. Alangkah baiknya, jika engkau mengabari aku terlebih dahulu sebelum menjemput ajalku nanti. 
Malaikat Maut pun berkata, “Baiklah, nanti akan kukirimkan kepadamu dua atau tiga utusan.” Selang beberapa lama, datanglah Malaikat Maut menemui Nabi Ya’qub AS. Bertanyalah Nabi Ya’kub, “Apa kedatangan Saudara sekadar bertamu seperti biasanya?
Malaikat Maut menjawab, “Tidak, aku mau mencabut nyawamu.” Nabi Ya’qub berkata, “Bukankah aku pernah berpesan padamu agar mengingatkan aku sebelum kau mencabut nyawaku? 
Malaikat Maut menjawab, “Aku sudah kirimkan kepadamu pesan itu, tidak hanya satu bahkan tiga: pertama, rambutmu yang mulai memutih; kedua, badanmu yang mulai melemah; dan ketiga badanmu yang mulai membungkuk. Itulah pesan yang kukirimkan kepada semua manusia sebelum aku mendatangi mereka.
Begitulah sejatinya Allah SWT telah memberikan peringatan kepada segenap manusia akan datangnya kematian. Karena tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (QS al-Anbiya’ [21] :35). 
Akan tetapi, manusia lebih suka berpura-pura melupakannya. Manusia seringkali mengakui tiga hal, tetapi sesering itu pula mereka menyalahinya dengan perbuatannya. 
Mereka mengaku sebagai hamba Allah, tetapi kelakukannya sangat tercela. Mereka berkata Allah-lah yang mencukupi kehidupannya, tetapi perhatian dan hati mereka terborgol dengan keduniawian. Mereka mengetahui kematian itu pasti, tetapi mereka beramal seolah-olah tidak akan pernah mati.
Betapa banyak orang yang mengaku ia adalah hamba Allah, tetapi perbuatannya justru mencerminkan dirinya adalah hamba dunia, hamba harta, hamba jabatan, dan sebagainya. 
Lisannya bisa saja berkata, “aku adalah hamba Allah,” tetapi tangannya masih saja mengambil yang bukan haknya, melakukan tindakan korupsi yang merugikan orang banyak, atau menerima sesuatu yang tidak seharusnya.
Oleh karenanya, semoga kita memiliki komitmen yang kuat untuk menata kembali kehidupan kita dengan lebih baik, sehingga sisa-sisa umur kita ini dapat kita gunakan dengan sebaik-baiknya, sesuai tuntunan Allah dan Rasulullah SAW. 
Dengan bertambahnya umur, semoga bertambah pula ketaatan dan ibadah kita kepada Allah SWT, dan bukan justru bertambah dosa-dosa kita kepada-Nya.

***)Ahmad Agus Fitriawan

Selasa, 12 April 2016

DOA MENJELANG UJIAN

Doa bersama menjelang digelarnya ujian seakan menjadi sebuah tradisi tersendiri di lingkungan sekolah. Hal itu dilakukan sebagai upaya pemantapan mental siswa. 
Agar kegiatan doa bersama itu tidak menjadi sekadar rutinitas hendaknya pihak sekolah melalui guru mata pelajaran pendidikan Agama Islam memahamkan kepada siswa tentang pentingnya doa. Sebab kesuksesan, termasuk dalam ujian, tidak ditentukan oleh kecerdasan siswa, melainkan adanya pertolongan Allah SWT (QS an-Nashr [110]: 1).
Siswa yang selalu berdoa –-bukan berdoa ketika lagi butuh-- akan terinternalisasi dalam dirinya dan memahami bahwa manusia tidak memiliki kuasa. Manusia hanya dapat berencana dan Tuhan-lah yang menentukan kesuksesan itu, termasuk kesuksesan dalam ujian. 
Karenanya sebelum, selama, dan setelah ujian pun siswa hendaknya terus berdoa. Melalui doa, siswa akan lebih tenang, rileks, dan lebih fokus dalam menghadapi ujian. 
Terkait hal ini Rasulullah SAW memberikan tuntunan doa mengusir kegelisahan. ”Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazan, wa a’udzubika minal ’ajzi wal kasal, wa a’udzubika minal jubni wal bukhl, wa a’udzubika min ghalabatid daini wa qahrir rijal. 
Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa sesak dada dan kesedihan, dan aku berlindung pada-Mu dari ketidakberdayaan dan kemalasan, dan aku berlindung pada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung pada-Mu dari problem keuangan dan tekanan orang lain.''(HR Abu Dawud).
Pertanyaannya, kapan waktu yang tepat untuk berdoa? Terkait hal ini Rasulullah SAW menginsyaratkan waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa.
Di antaranya, yaitu pada sepertiga malam (HR Muslim), pada hari Jumat (HR Bukhari dan Muslim), sesudah shalat lima waktu (HR Tirmidzi), dan waktu antara adzan dan iqamat (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).
Selain dengan penguatan melalui doa, siswa hendaknya berusaha (belajar) secara rutin dengan bimbingan guru di sekolah dan orang tua di rumah. Berdoa dan belajar bagi siswa harus dilakukan secara istikamah, bukan musiman. 
Setelah itu lakukan tawakal, serahkan hasil akhir (lulus atau tidak lulus dalam UN) sepenuhnya kepada Allah SWT. Di sinilah perlunya internalisasi siswa melalui tradisi DUIT (Doa dan Usaha dilakukan secara Istikamah, lalu Tawakal). 
Dan untuk membumikan tradisi tersebut pihak sekolah harus bekerja keras (berjihad) melawan tradisi yang sudah mendarah daging di kalangan siswa, yaitu tradisi SKS (Sistem Kebut Semalaman).
Untuk menghentikan tradisi SKS di lingkungan sekolah, pihak guru (di sekolah), orang tua (di rumah), dan masyarakat sebagai kontrol sosial hendaknya terus mengkampanyekan secara masif DUIT yes, SKS no. 
Dengan demikian, jika tradisi DUIT ini dapat mengalahkan tradisi SKS di lingkungan sekolah maka tidak menutup kemungkinan akan dapat mengantarkan kepada kesuksesan siswa dalam menghadapi ujian dengan hasil yang terbaik. Semoga. 

***)  Imam Nur Suharno  (Republika Online)

Jumat, 08 April 2016

LUQMAN MENGAJARKAN JANGAN TAKABUR

Seorang budak belian yang memperoleh kedudukan terhormat dalam rentangan kurun peradaban manusia adalah Luqman. Bukan malaikat bukan Nabi, namun namanya terekam dalam Alquran, bahkan menjadi nama sebuah surah.
Nabi pun menegaskan bahwa ada tiga orang kulit hitam yang akan menjadi pemimpin penghuni surga, dan salah satunya adalah Luqman al-Hakim.
Banyak tamsil yang berisikan pelajaran yang berasal dari Luqman, yang salah satunya adalah pesan pada anaknya agar jangan takabur. Ucap Luqman pada anaknya, ''Dan jangan berjalan di muka bumi dengan congkak. Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.'' (Luqman: 18).
Takabur sering didefinisikan dengan rasa kagum terhadap diri sendiri, sikap suka membangga-banggakan, membesar-besarkan, dan membusungkan dada. Lantaran kagum pada potensi dirinya, akibatnya membuahkan sikap arogan, pongah, dan angkuh terhadap orang lain. Hanya dialah pemilik superioritas dan tak ada seorang pun yang bisa menandinginya. 
Ulama besar Ar-Razi berkata dalam ath-Thib ar Ruhani-nya: ''Seorang yang menyombongkan kudanya tak mau menukarnya dengan kuda lain yang lebih kencang larinya, sebab dia berpandangan bahwa tak ada kuda lain yang mungkin berlari lebih cepat daripada kuda miliknya.''
Mutakabbir (orang yang sombong) percaya bahwa dialah satu-satunya pemilik kebenaran, yang karenanya tak ada kebenaran lain di luar dirinya. Take and give tak masuk dalam kamus kehidupan para mutakabbir. Dia bebal terhadap inovasi, saran, dan kritik orang lain. Nabi bersabda, ''Sesungguhnya takabur adalah mencampakkan kebenaran dan meremehkan manusia.'' (HR Thabrani).
Takabur tak hanya berbahaya terhadap orang lain, tapi juga -- lebih-lebih -- terhadap mutakabbir sendiri. Dia hanya tahu pada kelemahan orang lain, sedangkan aibnya sendiri tak ia sadari. Dia menutup mata rapat-rapat akan kemajuan orang lain. Karena, sang mutakabbir itu ingin beroleh puja-puji, namun sesungguhnya ia tengah menuju ambang degradasi. Posisinya justru makin terpuruk.
Ulama Sufyan ats-Tsauri berucap, ''Sesungguhnya kemaksiatan yang tumbuh dari nafsu mempunyai harapan untuk beroleh ampunan, tapi setiap kemaksiatan yang lahir karena takabur tak ada ampun baginya. Karena, kemaksiatan iblis itu berawal dari takabur (dia menduga bahwa dia lebih baik dari Adam), sedangkan kedosaan (zallah) Adam berasal dari nafsu (keinginan untuk mengecap buah pohon terlarang).''
Maka, belajarlah dari bumi, meski semua makhluk mengeruk pelbagai karunia darinya, namun ia tetap berada di bawah. Jalaluddin Rumi berujar, ''Sebuah pohon yang sarat dengan buah-buahan, cabangnya merunduk ke bumi. Tetapi, kemudian pohon itu mengangkat kepalanya ke langit, dapatkah kita berharap memetik dan menikmati buah-buahannya?

Sumber : Pusat Data Republika

Rabu, 06 April 2016

RAHASIA KEBAHAGIAAN GURU

RAHASIA  KENAHAGIAAN  GURU Ada pertanyaan menggelitik di tengah kemelut persoalan yang kerap mendera para guru, apa dan di mana rahasia kebahagiaan guru tersembunyi? Apakah sumber kebahagiaan guru berasal dari meruyaknya harta dan tingginya pangkat serta jabatan? 
Firman Allah SWT, “Dan bermusyawarahlah kamu dengan mereka dalam segala urusan. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS al-Imran: 159).
Guru yang bertawakal adalah guru yang berbahagia. Buya Hamka pernah menyatakan jika seorang Mukmin telah bertawakal atau berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT maka terlimpahlah ke dalam dirinya sifat terhormat dan mulia yang ada pada-Nya. 
Selain itu, orang bertawakal akan dilimpahi pengetahuan dan ilham dari Allah SWT yang mengantarkannya kepada meraih kebahagiaan dalam hidup. 
Ada tiga simpul nilai tawakal yang harus diamalkan dan dimaknai guru dalam kehidupan pribadi dan profesionalnya. Pertama, simpul nilai yang disebut azam. Azam mengandung makna kebulatan tekad yang diterapkan di dalam rencana dan ikhtiar yang sungguh-sungguh. 
Contoh, ketika guru hendak mengajar maka guru harus menyiapkan rencana program pengajaran dan pembelajaran yang detail dan sistematis. 
Setelah rencana program dirancang dengan sangat baik, guru bersungguh-sungguh melaksanakan dan memikul tanggung jawab sebagai pengajar seraya bertawakal kepada Allah SWT. Azam merupakan bagian tak terpisahkan dari sikap tawakal. Bahkan, tawakal menjadi cacat atau bisa gugur tanpa adanya azam. 
Kedua, simpul nilai yang disebut ujian. Ujian atau cobaan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup. Sebab, pengakuan keimanan seorang guru belum dipandang cukup sebelum para guru akan mendapatkan ujian hidup (QS al-Ankabut: 2-3). 
Apakah bentuk ujian itu? Allah SWT berfirman: “Kami akan menguji (iman) kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (iman) yang sebenar-benarnya.” (QS al-Anbiya: 35). 

Guru bisa diuji dengan kebaikan seperti sehat lahir batin, banyak rezeki, lulus sertifikasi, punya jabatan, murid-muridnya pandai dan saleh, dan hal-hal baik lainnya. 
Tak jarang pula ujian keburukan pun menimpa guru, seperti sakit, kurang rezeki, murid-muridnya nakal, jadi kambing hitam kegagalan sistem kebijakan pendidikan, dan hal-hal buruk lainnya. Tawakal adalah dasar dari keimanan dan semua amal.
Demikian juga iman dan amal tak dapat ditegakkan kecuali di atas dasar tawakal. Tawakal sendiri hanya bisa terwujud dalam diri seorang guru setelah imannya lulus dalam ujian (QS al-Ankabut: 3). 
Ketiga, simpul nilai yang disebut sabar dan syukur. Sesungguhnya, ujian kelapangan hidup bagi seorang guru adalah bersyukur. Di sisi lain, ujian kesempitan hidup bagi seorang guru adalah kesabaran. 
Banyak guru yang terbiasa hidup lapang dan senang ternyata tak bisa bersabar menjalani satu kesulitan hidup. Sebaliknya, banyak guru yang tangguh saat menghadapi ujian keburukan, tetapi malah tak berhasil atasi diri saat mendapatkan kejayaan hidup.
Guru yang memiliki sifat tawakal akan diberikan ketenangan dan ketenteraman hati. Ketenangan dan ketenteraman hati itu sendiri datangnya dari Allah SWT. Dan, Allah SWT hanya akan memberikannya kepada guru-guru yang telah meraih makam tawakal. 
Guru bisa membeli kasur yang empuk, tapi tak akan pernah bisa membeli nyenyaknya tidur. Guru bisa membeli obat yang mahal, tetapi tak akan bisa membeli nikmatnya kesehatan.
Bagi guru yang bertawakal, rumah sempit terasa lapang. Tetapi, bagi guru yang kerap dirundung rasa keluh kesah, rumah luas pun terasa sempit. 
Allah SWT berfirman, “Dialah yang telah menurunkan ketenangan (dan ketenteraman) ke dalam hati orang-orang Mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka yang telah ada.” (QS al-Fath: 4). 
Sejatinya, ketenangan hati adalah syarat kebahagiaan hidup. Jika sepanjang hidup menjalani peran guru tetapi tak bisa merasakan kebahagiaan maka guru musti merenung, mengapa kita tak merasa bahagia? Lantas, apa sebenarnya yang kita cari di dunia ini? Wallahu alam.

***)Asep Sapaat--(Republika Online)

Selasa, 05 April 2016

KEBERHASILAN YANG MEMBAHAGIAKAN

Keberhasilan adalah hal yang sangat membahagiakan. Orang yang berusaha pastilah mendambakan sebuah keberhasilan. Seseorang yang sedang menuntut ilmu (thalab al-ilmi) menginginkan keberhasilan dalam belajarnya. Seorang petani yang sedang menanam padi mengharapkan panen yang sangat melimpah. Seorang yang sedang ditimpa cobaan ataupun musibah pastilah menginginkan keberhasilan dalam melewati musibah maupun cobaan tersebut. 
Kita bisa belajar dari kisah Nabi Ayub AS yang diberi cobaan oleh Allah berupa penyakit. Kemudian, beliau menyeru kepada Sang Khalik, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang". (QS 21:83). Karena kesabarannya maka Allah memperkenankan seruan Nabi Ayub AS. Kemudian, Allah SWT melenyapkan penyakit yang ada padanya dan Allah kembalikan keluarganya, bahkan Allah lipat gandakan jumlah mereka sebagai suatu rahmat dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.
Kita juga bisa mengambil ibrah dari kisah Nabi Zakaria AS tatkala ia berdoa kepada Allah SWT dengan suara yang lembut. "Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, wahai Tuhanku, sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku". (QS 19: 4-5). Yaitu, orang-orang yang akan mengendalikan dan melanjutkan urusan sepeninggalnya. 

Saat itu, Nabi Zakaria AS mengkhawatirkan kalau mereka tidak dapat melaksanakan urusan itu dengan baik karena tidak seorang pun di antara mereka yang dapat dipercayainya. Nabi Zakaria AS pun meminta dianugerahi seorang anak sedangkan istrinya adalah seorang yang mandul. Kemudian beliau berdoa, "Wahai Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling baik".(QS 21: 89). Berkat kesabaran dan ketawakalannya maka Allah mengabulkan doa Nabi Zakaria dengan memberikannya keturunan, yaitu seorang anak laki-laki bernama Yahya, padahal ia sudah tua renta dan istrinya pun sudah divonis mandul.
Dari kisah di atas dapat diambil benang merah bahwa para nabi tersebut dapat melewati cobaan maupun ujian dari Allah dengan tiga kunci. Hal ini termaktub dalam surah al-Anbiyâ (21) ayat 90, "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada kami." (QS al-Anbiya: 90).
Pertama, berusaha optimal. Usaha merupakan langkah awal menuju keberhasilan. Usaha juga merupakan tolok ukur sebuah keberhasilan. Semakin keras usahanya maka akan semakin dekat menuju keberhasilan. Bukankah Allah tidak akan mengubah suatu kaum hingga kaum tersebut berusaha mengubah ke arah yang lebih baik? Artinya, ketika kita menginginkan keberhasilan dalam sesuatu maka usaha maksimal nan optimal adalah mutlak dilaksanakan.
Kedua, berdoa paripurna. Doa merupakan penguat usaha yang dilakukan. Usaha yang optimal tidak akan kuat tanpa diikat oleh doa. Hendaknya kita berdoa secara paripurna, yaitu dengan penuh harap dan cemas. Meyakini bahwa Allah akan mengabulkan doa yang kita panjatkan. (QS al-Baqarah [2]: 186).
Ketiga, bertawakal penuh. Berusaha dan berdoa harus dibarengi dengan sebuah ketawakalan. Tawakal merupakan wujud ketauhidan kita kepada Allah SWT. Allahlah yang menentukan segala sesuatunya sehingga ketika kita mengalami kegagalan maka kita akan dapat berlapang dada. Karena, semuanya berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Wallahu a'lam.

***)Muhammad Fahri (Republika Online

Sabtu, 02 April 2016

HASAD, API YANG MENGHANGUSKAN KAYU BAKAR

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jauhilah hasad (dengki), karena hasad akan menghanguskan kebaikan-kebaikan sebagaimana api menghanguskan kayu bakar." (HR Abu Dawud)
Hasad atau dengki adalah menginginkan nikmat yang dimiliki orang lain dan menghendaki nikmat tersebut berpindah kepada dirinya. Hasad berawal dari sikap tidak menerima nikmat yang diberikan Allah kepadanya, karena ia melihat orang lain diberi nikmat yang dianggap lebih besar. Hasad pun bisa timbul bila seseorang menganggap dirinya lebih berhak mendapatkan nikmat dibanding orang lain.
Dalam Alquran disebutkan tentang sikap sebagian ahli kitab terhadap Rasulullah SAW. "Ataukah mereka hasad (dengki) kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar." (QS An-Nisa [4]: 54).
Dampak hasad sungguh luar biasa. Hadis yang diriwayatkan Abu Dawud tersebut menyebutkan bahwa hasad bisa menghancurkan seluruh catatan amal saleh. Hasad pun bisa menimbulkan kebencian, sehingga ia sulit berbuat kebaikan pada orang yang ia dengki. Pada saat yang sama ia pun akan sulit menerima kebaikan yang diberikan orang itu.
Orang yang hasad akan letih. Sebabnya, ia tidak pernah puas dengan nikmat yang telah Allah karuniakan. Pikirannya pun akan tumpul, karena selalu memikirkan kenikmatan orang lain. Bila hasadnya memuncak, bisa saja ia berbuat apapun untuk menghilangkan kenikmatan orang lain, termasuk mencurinya. Dampak terpaling besar adalah hancurnya tali persaudaraan dan tumbuh suburnya kebencian. Padahal, persaudaraan adalah kekuatan kedua umat Islam setelah akidah.
Walaupun demikian, tidak semua hasad dilarang. Rasulullah Saw. bersabda, "Tidak boleh dengki kecuali kepada dua hal. Kepada orang yang diberi ilmu Alquran oleh Allah, lalu ia mengamalkannya siang dan malam dan kepada orang yang diberi harta, lalu menginfaqkannya siang dan malam" (HR Bukhari). Hasad di sini berarti adanya keinginan kuat untuk meneladaninya, bukan menginginkan hilangnya kenikmatan tersebut.
Musthafa Al-Buqha membagi tipe orang hasad ke dalam tiga bagian. Pertama, orang yang berusaha agar nikmat orang lain hilang, yang dilakukannya melalui ucapan atau tindakan. Dari golongan ini ada yang berusaha agar nikmat tersebut pindah kepadanya, ada juga yang tidak.
Kedua, orang yang tidak mengungkapkan hasad-nya, baik melalui ucapan atau tindakan. Ia memendam hasad-nya. Menurut Hasan Al-Bashri, golongan ini tidak berdosa. Ketiga, orang yang berusaha menghilangkan hasad yang ada di dalam hatinya dan berbuat baik terhadap orang yang ia dengki. Bahkan ia ganti hasadnya dengan cinta. Inilah orang yang paling mulia.
Seorang Muslim harus berlindung dari sifat hasad dan juga dari orang-orang yang hasad. Allah SWT berfirman, Dan (aku berlindung kepada Rabb penguasa Subuh) dari kejahatan orang yang hasad apabila ia hasad (QS Al-Falaq [113]: 5). Wallahu a'lam bish shawab.


Sumber : Pusat Data Republika

Minggu, 20 Maret 2016

BEKERJA KERAS

Sesampainya Rasulullah saw dan kaum Muhajirin di Madinah, agenda yang Beliau prioritaskan adalah memperat tali persaudaraan (muakhah) antara Muhajirin dan Anshar. 
Ikatan kuat inilah yang mendasari kerukunan, kasih sayang, serta berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan dengan pengorbanan harta benda, jiwa, dan raga. Hal ini mereka tumpahkan hanya untuk mengharapkan keridlaan-Nya. Bahkan, kaum Anshar senantiasa mengutamakan kaum Muhajirin, sekalipun mereka dalam keadaan susah (QS 59:9).
Terdengarlah pada saat itu, Abdurahman bin 'Auf dari Muhajirin dipersaudarakan dengan sahabat Sa'ad bin Rabi'. Sa'ad bin Rabi' adalah salah seorang konglomerat Madinah. 
Sa'ad mempersilakan kepada Abdurrahman untuk mengambil apa saja yang ia inginkan untuk memenuhi kebutuhannya. Abdurrahman bin 'Auf selaku seorang sahabat yang juhud, wara', jujur, serta baik akhlaknya tidak serta-merta mengabulkan permohonan saudaranya ini. Ia tidak mau menerima sesuatu tanpa didasari oleh usaha dan kerja keras untuk mendapatkannya. 
Karena itu, Abdurrahman meminta kepada Sa'ad untuk mengantarkannnya ke pasar. Kepiawaian berdagang yang ia miliki tidak disia-siakannya. Ia tidak hanya berpangku tangan untuk mendapatkan belas kasih orang lain, selagi masih ada kemampuan untuk berusaha. 
Tidak lama kemudian, karena sifatnya yang jujur, ulet, serta kerja keras, akhirnya ia pun menjadi pedagang yang sukses, sehingga ia menjadi seorang konglomerat yang dermawan, serta senantiasa menginfakkan hartanya demi keberlangsungan dakwah. 
Dari kisah tersebut, kita bisa memetik hikmah, di tengah-tengah himpitan  ekonomi yang berkepanjangan ini, bangsa Indonesia sangat membutuhkan semangat Abdurahman bin 'Auf-Abdurahman bin 'Auf yang baru guna menyegarkan dan menghidupkan bangsa ini, sehingga mampu mengembalikan identitas bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat di mata dunia. 
Karena selama ini, kita telah kehilangan jati diri sebagai bangsa besar, disebabkan pemimpin-pemimpinnya yang selalu berharap untuk mendapatkan bantuan dari bangsa lain. 
Hal ini mengakibatkan ketergantungan rakyatnya untuk senantiasa mendapatkan sesuatu tanpa didasari usaha. Bukankah bangsa ini sangat kaya dengan sumber daya alamnya? Ini adalah modal dasar yang telah kita miliki. Untuk itu, selanjutnya tinggal bagaimana kita mampu mengolahnya. Insya Allah dengan kejujuran, keuletan, dan kerja keras di antara kita, baik pejabat maupun rakyat, bangsa ini akan kembali menjadi bangsa yang diperhitungkan di kancah dunia. Semoga! Wallahu a'lam.

Sumber : Pusat Data Republika

Senin, 14 Maret 2016

BAHAYA GOSIP

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW berkata, ''Dari sebaik-baik bukti keislaman seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak berkaitan dengan dirinya.'' Hadis ini mengingatkan kita bahwa bila kita masih sibuk dengan permasalahan orang lain, maka kualitas iman kita masih dapat dipertanyakan.
Mempersoalkan hal-hal orang lain --yang tidak berkaitan dengan diri-- biasa terjadi saat bergosip. Tindakan ini pula yang disebut ghibah. Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, menjelaskan tentang hal itu.
''Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah?'' Para sahabat menjawab, ''Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.''Lalu Rasulullah berkata, ''Ia adalah menyebutkan apa-apa yang ada dalam saudaramu dari sesuatu yang kurang disukai.'' 
''Bagaimana apabila memang itu benar adanya?'' ''Kalau benar apa yang kamu katakan, maka kamu telah berbuat ghibah, namun apabila yang kamu katakan adalah tidak benar, maka kamu telah membuat kebohongan atasnya.'' HR Muslim.
Untuk hukumnya, Allah telah menerangkan dalam surat Al-Hujurat ayat 12, ''Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian dari kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah seseorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.''
Selain berbahaya bagi orang yang digosipkan, ghibah juga berakibat negatif pada pelaku. Pikiran adalah saluran mental yang menyampaikan pesan positif dan negatif. Bila seseorang suka membicarakan orang --yang biasanya adalah aib dan keburukannya-- maka secara tidak langsung, pemancar yang terpasang adalah pemancar negatif yang menyebabkan ia selalu berpikiran buruk dan mempengaruhi interaksinya dengan orang lain.
Karena itu, ada bahaya bila kita mendengar komentar negatif tentang orang lain, karena kita pun akan berusaha negatif pada orang lain. Lebih berbahaya lagi, kadang tanpa sadar, orang lebih senang menambahkan bensin dalam pembicaraan negatif tersebut.
Untuk selalu dapat hidup optimistis, maka janganlah menebarkan pancaran negatif atas orang lain dan jangan juga mendengarkan pernyataan negatif atas orang lain. Tetaplah selalu berpikiran positif akan orang lain.
Benjamin Franklin, seseorang yang sangat tidak bijaksana dalam masa mudanya, bisa menjadi sangat diplomatis dan begitu mahir dalam menangani hubungan sesama manusia. Rahasia suksesnya? ''Saya tidak akan bicara hal buruk tentang seorang pun,'' katanya. Ia hanya membicarakan hal baik tentang semua orang.


***)  Sari Narulita (Republika Online)