Tampilkan postingan dengan label sabar syukur.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sabar syukur.. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Mei 2016

WASPADAI PEMAKAN KEBAIKAN

WASPADAI PEMAKAN KEBAIKAN
Ada dua penyakit yang senantiasa menyerang manusia, yaitu penyakit fisik (jasmani) dan penyakit psikologis (jiwa). Kedua penyakit ini sama-sama berbahaya jika dibiarkan bersemayam di tubuh dan jiwa.
Di antara penyakit fisik yang sangat berbahaya adalah kanker. Penyakit jenis ini dapat memakan sel-sel sehat pada tubuh sehingga dapat menyebabkan kematian bagi manusia. Pada jiwa pun terdapat penyakit berbahaya seperti kanker, yaitu dengki (hasad). Jika kanker memakan sel-sel sehat, dengki dapat memakan berbagai kebaikan yang berada dalam diri kita. Jika dibiarkan hidup dan tumbuh dalam diri, penyakit ini akan menyebabkan kematian pada hati.
Dengki (hasad) berarti tidak senang melihat orang lain mendapat nikmat dan berharap nikmat itu hilang dari orang tersebut. Menurut Alquran, tidak senang jika orang lain mendapat kebaikan merupakan salah satu sifat buruk orang kafir. Hal tersebut dijelaskan oleh firman-Nya, "Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan." (QS Ali Imran: 120).
Jika sifat dengki dibiarkan tumbuh dan berkembang dalam diri, ia akan memakan dan menggerus semua kebaikan yang kita perbuat. Hal tersebut dijelaskan oleh Nabi SAW, "Jauhilah oleh kamu (sifat) dengki, sebab (sifat) dengki itu akan memakan berbagai kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).
Sebanyak apa pun kebaikan yang diperbuat, tidak akan bermakna jika bersamaan dengan itu kita masih memelihara sifat dengki. Bahkan, kebaikan tersebut akan berubah menjadi keburukan. Jika pada jiwa kita yang tertinggal adalah keburukan, yang akan tampak adalah keburukan. Oleh karena itu, orang dengki tidak pernah melihat kebaikan pada diri orang yang didengkinya. Semua akan terlihat buruk. Ketika orang yang didengkinya tersenyum, dia maknai sebagai "sedang mengejek", sebaliknya jika cemberut, dimaknainya sebagai "memusuhi".
 Jadi, bagi pendengki, semua yang ada pada orang lain terlihat buruk. Tentu saja keadaan demikian tidak akan merugikan orang lain, tapi sebaliknya akan merugikan dirinya sendiri. Seorang Arab Badui pernah bersenandung, "Aku tidak melihat orang zalim yang menyerupai orang yang terzalimi karena perbuatan dengkinya, sesungguhnya ketika dia melihat kamu mendapat nikmat, namun menjadi kutukan (siksaan) bagi dirinya."
Dampak buruk sifat dengki tidak hanya akan dirasakan oleh diri sendiri tapi juga oleh masyarakat. Dalam berinteraksi sosial terkadang kita terjebak pada konflik dengan orang lain. Sebabnya bisa beragam, mulai karena bercanda, salah paham, sampai karena ketidaktahuan. Semua konflik tersebut akan mudah diselesaikan, kecuali konflik atau permusuhannya dikarenakan kedengkian.
Sahabat Muawiyah pernah berkata, "Semua permusuhan bisa diharapkan dapat diselesaikan, kecuali permusuhan yang disebabkan oleh kedengkian." Melihat begitu bahayanya sifat dengki bagi diri kita, menghindarinya merupakan keharusan.
Salah satu cara menghindarinya adalah dengan memahami hakikat dengki. Perbuatan dengki tidak akan merugikan orang yang didengki, tapi malah akan merugikan diri sendiri. Wallahu a'lam.


:”” Oleh: Karman-- (REPLUBIKA ONLINE)

Selasa, 05 Januari 2016

KHIANAT

Khianat artinya curang, culas, tidak jujur, tidak lurus hati. Menurut Raghib al-Isfahani, khianat kurang lebih sama artinya dengan nifak(orangnya disebut munafik). Khianat dapat terjadi terhadap diri sendiri, terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya, dan terhadap orang lain.
Rasullullah SAW menempatkan khianat sebagai salah satu tanda munafik. Dikatakan bahwa “Tanda munafik itu ada tiga: apabila berbicara, dia dusta; apabila berjanji, dia ingkar; dan apabila dipercaya, dia khianat.” (HR Bukhari dan Muslim).
Namun, penting kita pahami bahwa nifak mengandung arti lebih luas dari pada khianat. Nifak mengandung arti curang terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya. Khianat mengandung arti curang terhadap janji yang dibikinnya dan culas terhadap kepercayaan (amanah) yang diberikan kepadanya.
Khianat terhadap diri sendiri, misalnya, mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah kepadanya tanpa alasan syari. Contohnya, mengharamkan makanan dan/atau minuman yang secara faktual telah dinyatakan kehalalannya dalam kalam Allah atau sabda Rasul-Nya.
Khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya, misalnya, mengingkari perkara yang disyariatkan Allah dan Rasul-Nya. Contohnya, mengabaikan perintah shalat fardhu padahal tidak ada udzur syari, mengabaikan perintah zakat padahal sudah nisab, dan mengabaikan perintah pergi haji padahal sudah istithaah.
Lebih jauh, mengutip pendapat Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang dimaksudkan khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya tidak sebatas meninggalkan aturan agama, tetapi juga menyempitkan aturan agama. 
Ambil contoh: menyempitkan agenda dakwah, tarbiyah, dan khidmat kepada sesama dikait-kaitkan dengan untung rugi secara finansial. Khianat terhadap orang lain, misalnya, tidak membuktikan janji-janjinya terhadap orang lain dan amanah yang diberikan orang lain kepadanya. 
Contohnya, presiden atau wakil presiden tidak dengan sungguh-sungguh membuktikan janji-janji kampanyenya. Padahal, disebabkan janji-janji kampanyenya itulah rakyat telah memilihnya.
Khianat terhadap diri sendiri, khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan khianat terhadap orang lain itu hukumnya terlarang (haram). Risiko ketiga-tiganya tidak ada yang ringan.

Dengan begitu, pastikan bahwa khianat bukan tabiat kita sebagai Muslim. Sehingga, khianat dalam level mana pun semestinya kita hindari. 
Allah SWT berfirman, “Hai, orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang diberikan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS al-Anfal [8] : 27).
Dalam ayat lain, “Dan, jika kamu mengetahui pengkhianatan dari suatu golongan maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang khianat.” (QS al-Anfal [8] : 58).
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang yang tidak memiliki sikap (perilaku) amanah.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban). 
Menariknya, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR Ahmad, Thabrani, Ibnu Hibban, dan al-Bazzar). Wallahu alam.


"""Mahmud Yunus

Da'wah, hidayah, hikmah, sabar syukur., tawakal, 

Jumat, 01 Januari 2016

MENGAPA DOA KU TIDAK DIJABAH

Ada yang bertanya Ustaz, mengapa doa doaku tidak diijabah Allah?
Sahabatku,
1. Tugas kita sebagai hamba-Nya berdoa, hak mutlak Allah untuk mengijabahnya.
2. Allah ingin kita selalu berdoa pada-Nya, boleh jadi kalau dikabulkan kita tidak berdoa lagi.
3. Tidak dikabulkan karena kalau dikabulkan membawa fitnah untuk kita, tidak jadi kaya, boleh jadi setelah kaya jadi sombong.
4. InsyaAllah dikabulkan hanya waktu kemudian, atau
5. Allah hanya kabulkan di akhirat saja, jadi doa sebagai tabungan akhirat.
6. Allah kabulkan dalam bentuk lain, Allah tahu baik buruknya untuk kita,
7. Kalau tidak juga tetaplah baik sangka,
8. Dan saatnya untuk muhasabah diri, mungkin hidup kita dari rizki tidak halal, Rasulullah mengisahkan seseorang yang rambutnya acak-acakan dan berdebu lalu menengadahkan tangannya ke langit untuk berdoa, “Ya Rabi, ya Rabi.’
Padahal, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan keluarganya diberi makan dari sumber yang haram. Bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad). Mungkin ibadah kita masih diiringi ma’siyat, atau masih sering menyakiti orang lain atau aurat kita masih belum terjaga.
9. Perbaiki diri, sungguh sungguhlah taat dan jangan pernah putus asa dalam berdoa. Baca dengan iman, “Berdoalah kalian kepada-Ku, pasti KU ijabah doa kalian!!”(QS al Mu’min : 60).
SubhanAllah, terus, terus, dan terus berdoa karena kita tidak tahu kapan, dimana, dan bagaimana doa kita diijabah Allah…insyaAllah, aamiin.

Sumber: Akun Facebook Ustaz Arifin Ilham
 Da'wah, hidayah, hikmah, sabar syukur., takwa., 

Kamis, 17 September 2015

Menjadi Haji Sesungguhnya

Ibadah haji terdiri dari rangkaian ritual yang saling berkesinambungan satu sama lain. Pemahaman pesan ritus-ritus ibadah haji sangat dibutuhkan ketika mengerjakannya. Tanpa pemahaman yang baik dan mendalam, seseorang bisa terjebak dalam kelelahan fisik semata dan bahkan bisa terjebak dalam kemusyrikan ritual. 
Untuk menghindari itu, bekal ketakwaan mutlak diperlukan. Salah satu dari bekal ketakwaan ini adalah memahami simbol-simbol ibadah haji. Dan, sebagai bahan renungan, mari kita resapi kisah berikut ini.
Alkisah, antara al-Syibli dan seorang tokoh sufi bernama Zainal Abidin. Sepulang dari menunaikan ibadah haji, al-Syibli segera menemui Zainal Abidin, seorang sufi besar dari keluarga Rasulullah SAW. Dalam pertemuan itu, Zainal Abidin bertanya kepada al-Syibli secara bertubi-tubi.
Ketika engkau sampai di miqat di mana engkau menanggalkan pakaian berjahit sebagai simbol keduniawian, apakah engkau berniat juga menanggalkan pakaian kemaksiatan dan berganti dengan pakaian ketakwaan. Apakah saat itu saja engkau tanggalkan riya dalam segala hal. Apakah engkau juga menanggalkan sifat kemunafikan dan yang sibhat?
Ketika engkau berihram tanda engkau memulai kegiatan haji, apakah engkau bertekad mengharamkan atas dirimu semua yang diharamkan Allah, lalu engkau mencari yang halal dan thayib. Ketika engkau menuju Kota Suci Makkah, apakah engkau berniat untuk berjalan menuju Allah karena di sana terdapat Baitullah. 
Ketika engkau memasuki Masjidil Haram, di mana manusia dari seluruh dunia datang, apakah engkau berniat untuk menghormati hak-hak orang lain dan tidak berucap apa pun kecuali berzikir kepada Allah Ketika engkau sa'i, apakah engkau merasa sedang menuju dan lari menuju Allah di antara cemas dan penuh harap, sebagaimana disimbolkan oleh Siti Hajar yang sedang mencari air demi kelangsungan hidup putranya, Ismail.
Ketika engkau wukuf di Arafah, adakah engkau merasakan bahwa Allah mengetahui segala kejahatan masa lalumu yang tersembunyi dan engkau sengaja menyembunyikannya. Ketika engkau berangkat ke Muna (Mina), apakah engaku bertekad untuk tidak mengganggu orang lain dengan lidahmu, tanganmu, dan hatimu seperti yang dilakukan oleh setan terhadap Nabi Ibrahim AS. Dan ketika engkau melempar jumrah, apakah engkau juga berniat memerangi iblis yang sering bersarang di hatimu.
Mendengar pertanyaan Zainal Abidin yang bertubi-tubi itu, al-Syibli diam seribu bahasa. Ia hanya berkata, "Tidak". Mendengar jawaban al-Syibli itu, Zainal Abidin lalu berkata, "Wahai kawan, Engkau belum pergi ke miqat, belum berihram, belum thawaf, belum sa'i, belum wukuf, belum ke Muna, dan belum melempar jumrah."
Mendengar itu, al-Syibli menangis, karena pertanyaan yang diajukan Zainal Abidin bukan saja benar, malainkan telah menghunjam hatinya, hingga ia sadar bahwa ibadah hajinya baru kulit belum isi, baru lahiriah belum yang esensi. Kisah ini dapat menjadi cermin untuk kita semua, baik yang sudah pernah haji maupun untuk yang sedang melaksanakan haji, sehingga bisa lebih berhati-hati. 
(Da'wah, hidayah, sabar syukur., )

Selasa, 30 Juni 2015

BELAJAR DARI KISAH KEMATIAN FIRAUN

Masih ingat cerita Firaun tenggelam di laut ketika mengejar Nabi Musa as? Ada riwayat yang mengatakan bahwa ketika nyawa sudah sampai dikerongkongan, Firaun mengucapkan keimanannya. Sayang sudah terlambat. Malaikat menjejalkan lumpur kemulutnya dan mengambil nyawa Raja lalim itu dengan paksa.
Bagi orang-orang durhaka, kematian adalah sebuah hukuman, dimana melalui kematian, Allah menimpakan azab untuk dijadikan pelajaran bagi mereka yang hidup (Surah Al Maidah : 106), seperti halnya yang menimpa Firaun dan orang-orang yang menzalimi RasulNya.Bagi orang yang mengalami kematian dan keluarga yang ditinggalkan. Musibah kematian dapat menjadi ujian tapi dapat juga menjadi azab bagi keluarga yang ditinggalkannya. Bagaimana membedakan apakah kematian itu suatu ujian, atau suatu azab yang ditimpakan pada manusia?
Kematian merupakan ujian atau cobaan, apabila kematian tersebut menimpa kepada seorang mukmin, dengan ciri-ciri yang menyertai kematiannya:
1.Bagi orang mukmin musibah dipandang sebagai bagian dari proses yang sudah tertulis dalam takdir Allah SWT serta menjadi kodrat mahluk bernyawa untuk merasakan kematian, mereka menerima dengan lapang dada, ikhlas dan ridha dengan ketentuan sang Khalik. Sebagaimana Al-Quran Surat Al-Anbiya ayat 35, bahwa setiap yang bernyawa pasti merasakan mati.
2.Mukmin memandang musibah kematian sebagai sarana menambah amal ibadah dan mendekatkan diri ke Allah SWT, karena mereka sadar bahwa musibah merupakan cara sang Khalik dalam membedakan mana  yang beramal lebih banyak, mana justru makin sedikit amalnya, sebagaimana Al-Quran Surat Al Mulk yang berbunyi: Allah yang menciptakan hidup dan mati untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya”. (QS. Al-Mulk: 2).
3.Ketika keluarga atau orang tercinta meninggal dunia, mukmin menghadapinya dengan tawakal, tidak menangis meraung-raung dan marah menyalahkan keadaan. Karena meski diperbolehkan menangis, Rasulullah melarang meratapi kematian dengan berlebihan, sebagaimana hadis “Bukanlah dari golongan kami orang yang menampari pipi (ketika ditimpa kematian), merobek pakaian dan yang mengeluh serta meratapi seperti kebiasaan jahiliah.”(HR. Muslim)
4.Orang mukmin yang meninggal dunia akan mendatangkan doa keselamatan yang tulus bagi jenazah dari mereka yang mencintainya . Riwayat pernah menceritakan tentang seorang Sufi bernama Uwais Al Qarni, beliau sangat taat kepada ibunya dan memelihara ibadahnya hingga akhir hayatnya. Rasulullah menyebutnya sebagai 'penduduk langit, dimana ia sangat terkenal diantara para malaikat. Ketika wafat Uwais Al Qarni menggemparkan kota Yaman, karena semasa hidup ia bukan siapa-siapa dibumi  dan dikenal sebagai fakir miskin, jenazahnya didatangi oleh ratusan orang setiap harinya untuk menshalatkannya . Mereka yang datang menshalatkan tak lain adalah para malaikat yang mengagumi kesolehannya.
5.Salah satu ciri orang mukmin ketika menjelang ajalnya akan terlihat mempertajam keimanannya melalui intensitas amal ibadah yang kian meninggi. Sebagaimana Rasulullah bersabda : "Dia akan memberinya petunjuk untuk melakukan kebaikan ketika menjelang ajalnya, sehingga tetangga akan meridhainya (atau ia berkata) orang sekelilingnya." (Hadits Riwayat Al-Hakim)
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, pendidikan., sabar syukur., takwa, )

***)Repubika