Tampilkan postingan dengan label sabar. syukur.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sabar. syukur.. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Mei 2016

HARUSKAH MENUNGGU TUA

 Tidak sedikit Alquran menceritakan sosok pemuda ideal. Tidak sekadar memuji, Alquran bahkan menjadikannya sebagai teladan zaman. Ada Ibrahim, potret pemuda yang gigih menegakkan tauhid di tengah para penggiat syirik. "Sungguh Ibrahim adalah imam yang layak dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali dia bukanlah pelaku syirik" (QS an-Nahl [16]: 120).
Putra beliau, Ismail, adalah tipe pemuda yang berhati jujur dan suci. Ketika Ibrahim mengabarkan wahyu Allah untuk menyembelih dirinya, jawaban Ismail adalah, "Wahai Ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah aku termasuk orang-orang yang sabar" (QS as-Shaffat [37]: 102). 
Alquran juga mengabadikan kisah Yusuf. Pemuda tampan ini sungguh luar biasa. Ketika dirayu Zulaikha, wanita cantik yang juga istri pembesar Mesir, Yusuf sanggup menundukkan gelombang syahwatnya sebagai lelaki normal. Dia lebih memilih penjara ketimbang berbuat mesum. "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku" (QS Yusuf [12]: 33).
Dan, yang juga terkenal adalah kisah Ashabul Kahfi. Cave of the Seven Sleepers, itulah nama situs bersejarah di Yordania yang jadi saksi atas tujuh pemuda bersama anjing mereka. Ngumpet demi mempertahankan akidah, mereka diselamatkan Allah dari kezaliman penguasa setempat. Tujuh pejuang tauhid itu ditidurkan Allah selama 309 tahun. "Sungguh mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula petunjuk untuk mereka" (QS al-Kahfi [18]: 13).
Cukuplah cuplikan kisah pemuda teladan itu. Hal yang penting kita cermati, masing-masing pemuda itu hebat ternyata bukan sekadar berotak cerdas atau berbadan kesatria. Mereka punya idealisme iman. Dan, kita tahu, iman adalah kemantapan hati yang diikrarkan dengan lisan, kemudian dinyatakan via tindakan. Itulah kunci keunggulan dan kehebatan diri.
Sekarang mari kita becermin: sudahkah pemuda kita punya keimanan prima itu? Minimal berusaha mematut-matutkan diri agar dapat seperti mereka. Kita tengok masjid kita. Berapa banyak pemuda kita yang aktif jamaah di sana? Ketika Maghrib mungkin bisa dikatakan lumayan, tetapi bagaimana dengan Isya dan terlebih lagi Subuh? Juga dalam majelis taklim, sudahkah penuh oleh pemuda atau justru para tua?
Oleh:”Replubika online

Oleh M Husnaeni

Jumat, 03 April 2015

KIAT MENJAGA HATI

Rasulullah SAW bersaksi dalam tubuh setiap orang terdapat organ yang keberadaannya sangat berpengaruh terhadap organ lainnya, yaitu hati (kalbu). Jika hatinya baik, baiklah seluruh organ tubuh lainnya. Jika hatinya rusak, rusaklah seluruh organ tubuh lain nya.
Kata baik (shaluhat) dapat dipadankan dengan kata selamat. Jika hatinya selamat, selamatlah seluruh organ tubuh lainnya. Kata rusak (fasadat) dapat dipadankan dengan kata celaka. Jika hatinya celaka, celakalah seluruh organ tubuh lainnya.
Dengan begitu, menjaga hati kita agar tetap berada dalam kategori baik sangat penting karena akan menentukan keselamatan kita. Menjaga hati agar tetap berada dalam kategori baik tentu tidak akan semudah mengucapkannya. Oleh sebab itu, kita perlu menjaganya dengan kiat khusus.
Hasan al-Bisri RA, salah seorang tabi'in terkemuka, pernah berkata, "Hati itu rusak karena enam hal." Maka, kita harus berhati-hati dengan enam hal yang berpotensi merusak hati.
Pertama, melakukan dosa dengan berangan-angan akan segera ditobati dan yakin Allah akan menerima tobatnya. Kedua, mengetahui ajaran Islam, tetapi tidak berusaha mengamalkannya. Ketiga, mengamalkan ajaran Islam, tetapi tidak ikhlas lilaahi ta'ala. Keempat, menikmati rezeki dari Allah, tetapi tidak berusaha mensyukurinya. Kelima, tidak ridha menerima ketentuan dari Allah. Keenam, menguburkan jenazah saudaranya, tetapi tidak mengambil pelajaran darinya.
Maka, agar hati tidak rusak sehingga merusak organ tubuh yang lainnya, kita harus bekerja ektra keras guna menghindari enam hal yang dikemukakan oleh Hasan al-Bisri tersebut. Lalu, bagaimana kiatnya?
Pertama, kita jangan memandang remeh dosa tak terkecuali dosa kecil. Sebab dosa kecil (saja) apabila dilakukan berulang-ulang dapat berubah menjadi dosa besar. Dengan kata lain, kita harus bekerja ekstra keras untuk menghindari dosa. Lebih jauh, apabila kita menyadari telah melakukan dosa jangan berhenti meminta pengampunan pada Allah. Rasulullah SAW sendiri yang dijaga dari perbuatan dosa (ma'shum) senantiasa beristighfar seratus kali setiap harinya. Apalagi, kita?
Kedua, kita bertekad untuk mempelajari ajaran Islam dengan sebaik-baiknya sepanjang hayat di kandung badan. Di samping itu kita bertekad untuk mengamalkannya sedikit demi sedikit dalam kehidupan kita sehari-hari.
Ketiga, kita bertekad untuk mengamalkan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya karena kita yakin dengan firman Allah dalam QS An-Nisa [4] ayat 125 dan QS al-Mulk [67] ayat 2. Keempat, kita bertekad untuk mensyukuri rezeki yang diberikan Allah kepada kita karena kita yakin dengan firman-Nya dalam QS Ibrahim [14] ayat 7.
Kelima, kita bertekad untuk menerima dengan ridha ketentuan Allah yang baik dan yang buruk terhadap kita karena kita yakin itulah yang terbaik buat kita. Keenam, kita bertekad untuk mengambil pelajaran dari kematian saudara-saudara kita karena kita yakin suatu hari akan mengalaminya juga. Wallahu a'lam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, takwa., pendidikan., sabar. syukur., sabar, )

Selasa, 17 Februari 2015

ANAK SEBAGAI INVESTASI


Rasulullah SAW bersabda, "Apabila anak Adam telah meninggal dunia (mati) maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga perkara, yaitu shadaqah jariyah (yang ia berikan) atau ilmu yang ia manfaatkan kebaikan) atau anak shalih yang mendoakan dirinya." (HR Muslim)
Artinya anak itu adalah investasi. Anak-anak keturunan kita itu adalah bagian dari keselamatan dunia akhirat kita. Karenanya kita harus serius menanamkan keshalihan pada anak-anak kita. Kalau kita ingin menikmati masa depan kita, maka berapapun pengeluaran yang dikeluarkan untuk mendidik anak agar menjadi shalih, untuk belajar, sekolah dan lainnya, itu bukan biaya, melainkan investasi (modal) yang akan mendatangkan keuntungan suatu saat kelak.
Saya pernah bertanya pada seseorang yang menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Ia menjawab, "Karena sebentar lagi perdagangan bebas, kita perlu mempunyai anak-anak yang memiliki visi ke depan untuk mengarungi era globalisasi." Kemudian saya bertanya lagi, "Bagaimana kondisi ibadahnya di sana?" "Nanti saja kalau dia kembali ke Indonesia akan diperbaiki lagi." "Bagaimana kalau sebelum lulus kuliah sudah diambil nyawanya oleh Allah? Apakah dia siap untuk pulang ke akhirat?"
 Belum tentu anak kita panjang umur. Berapa banyak anak yang mendahului orang tuanya pulang ke akhirat. Mereka jangan hanya dipersiapkan agar bisa hidup kaya di dunia saja, tetapi juga harus dipersiapkan agar bisa pulang dengan selamat, hidup mulia di akhirat. 
Dari Umar bin Khattab ketika ditanya (semoga Allah ridha kepadanya), "Ya Umar, apakah sama pahalanya jika saya mengurus orang tua seperti orang tua mengurus saya di waktu kecil?" "Tidak." "Mengapa tidak?" "Karena orang tua mengurus kamu supaya kamu panjang umur." Setelah kita meninggal, mudah-mudahan anak-anak kita yang mengurus, menyalatkan dan mengiringi jasad kita. Setelah kita dikubur, mudah-mudahan mereka sering mendoakan kita dalam munajat-munajatnya.
Kasihan orang tua yang anaknya tidak tahu agama, sehingga tidak mengerti bagaimana mengurus jasad ibu bapaknya, tidak tahu shalat jenazah, dan setelah dikubur tidak mengerti bagaimana mendoakan orang tuanya. Warisan dipakai maksiat, vila dipakai zina, sehingga hancur dan perih orang tuanya. Tidak sedikit orang yang hidupnya terlunta-lunta di dunia karena anaknya, di akhirat tersiksa pula. Jangan sampai orang tua belum meninggal, anak-anak sudah menghitung warisannya. Bahkan ada anak yang mengurus orang tuanya yang sudah jompo, tetapi dalam benaknya, "Kenapa lama sekali sakitnya?" karena dia membutuhkan warisannya. Ini anak yang tidak shalih. Naudzubillahi min dzalik.
Oleh karena itu, mengurus anak itu jangan pernah hanya dengan sisa waktu, tenaga, dan pikira. Bayangkan jika membangun investasi dengan sesuatu yang serba sisa. Berembuklah dengan istri bagaimana mengupayakan agar anak-anak kita menjadi hamba Allah yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Para pemimpin sekarang adalah anak hasil investasi keluarga-keluarga beberapa puluh tahun yang lalu, sedangkan anak-anak sekarang merupakan investasi untuk para pemimpin masa depan.
Karenanya jika kita merindukan kebangkitan bangsa ini, maka harus diawali dengan kebangkitan dari keluarga-keluarga di rumah. Jika sang anak menjadi pemimpin, tentu tata nilai yang ditanamkan dalam keluarganya yang akan digunakannya kelak. Jika pada masa kecilnya tata nilai yang didapatkan di rumahnya hanya sibuk memamerkan harta kekayaan, maka jangan heran kalau setelah menjadi pemimpin dia hanya sibuk meraup harta.
Sekarang investasi apa yang akan ditanamkan terhadap anak-anak kita di rumah? Kita perlu mengubah tata nilai seperti itu dengan melatih anak-anak kita agar hidup bersahaja, mencari uang sebanyak mungkin untuk dishadaqahkan. Sehingga setelah dewasa, dia makin kaya, makin banyak orang yang tertolong.
Dia makin berkuasa, makin banyak orang yang terangkat martabatnya. Dia makin berani, makin banyak orang yang terlindungi karena keberaniannya. Ya Allah, titipkan kepada kami anak-anak keturunan yang lebih baik dari pada kami, yang menjadi jalan kebahagiaan dan keselamatan bagi dunia akhirat kami. Lindungi kami dari keturunan yang durhaka dan durjana.  (hidayah, hikmah, keyakinan, syukur, takwa., sabar. syukur., pendidikan,)

***) KH Abdullah Gimnastiar   

Kamis, 12 Februari 2015

ANAK SEBAGAI COBAAN


"Dan ketahuilah, bahwa harta dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (QS Al Anfaal [8]: 28).
Ingatlah, hidup adalah perpindahan dari satu cobaan ke cobaan yang lain. Cobaan atau ujian tidak selalu identik dengan kesusahan, tapi bisa juga berupa kemudahan. Ujian itu bisa menjadi musibah atau nikmat tergantung cara kita menyikapi kesusahan atau kemudahan itu.
Musibah adalah segala sesuatu (baik kesusahan maupun kemudahan) yang bisa menjauhkan kita dari Allah, sedangkan nikmat adalah segala sesuatu (baik kesusahan maupun kemudahan) yang bisa mendekatkan kita kepada Allah.
Kalau diuji dengan kesusahan kita menjadi semakin jauh dari Allah (menyikapi dengan minder, putus asa, atau berprasangka buruk kepada Allah), maka kita gagal menghadapi ujian itu, sehingga menjadi musibah. Tetapi jika dengan ujian kesusahan kita semakin dekat kepada Allah (menyikapi dengan tetap khusnudzan kepada-Nya, evaluasi diri, tobat, dan memperbaiki diri), maka kita sukses menghadapi ujian itu, sehingga menjadi nikmat.
Begitu pula, jika diuji dengan kemudahan kita menjadi semakin jauh dari Allah (menjadi ujub, sombong, takabur), maka kita gagal menghadapi ujian itu, sehingga menjadi musibah. Tetapi jika diuji dengan kemudahan kita semakin dekat kepada Allah (menjadi bersyukur dan tawadhu), maka kita sukses menghadapi ujian itu, sehingga menjadi nikmat.
Umpamakanlah ujian hidup ini seperti soal-soal ujian saat sekolah, kita akan stres melihat soal ujian kalau tidak pernah belajar. Kita tidak mungkin menyalahkan soal ujian kalau tidak bisa mengerjakannya. Hanya orang yang selalu mempersiapkan diri dalam hiduplah yang bisa menjadikan setiap cobaan menjadi nikmat yang dapat meningkatkan derajat kemuliaannya baik di dunia maupun di akhirat. Anak-anak itu benar-benar menjadi cobaan bagi orang tuanya, baik kesuksesannya maupun kegagalannya.
Memiliki anak yang sukses itu ujian, jika kita menjadi tawadhu, malu kepada Allah dan merasa bahwa semuanya itu karunia Allah, maka itu adalah kesuksesan. Tapi kalau menjadi ujub, takabur, dan merasa berjasa berarti gagal menyikapi anak yang maju. Cobaan bisa dalam bentuk anak yang tidak sesuai dengan harapan. Usahakanlah sekuat tenaga agar kekurangan anak menjadi ladang amal bagi ibu bapaknya.
Saya pernah melihat seorang ibu yang anaknya tergelincir, walaupun sudah mencoreng aib, ibunya berkata, "Dia darah daging saya. Saya tetap bertanggung jawab untuk membantu dia kembali ke jalan Allah. Mungkin ini teguran dari Allah karena kami kurang bersungguh-sungguh mendidiknya.
" Pernah juga ada seorang ibu yang anaknya selalu menyusahkan. Saat anaknya terkena narkoba, ibunya berusaha keras menyembuhkannya. Setelah sembuh, malah masuk penjara, tetapi tetap saja dikunjungi. Ketika ditanya, "Mengapa Ibu tidak habis-habisnya menyayanginya?" "Saya akan terus memperbaikinya sekuat-kuat kemampuan saya karena ini adalah ladang amal bagi saya.
Kalau orang lain diuji dengan anak-anak yang cemerlang, mungkin saya diuji dengan ini. Saya tidak malu dihina oleh orang lain. Yang malu itu kalau saya tidak bertanggung jawab terhadap anak-anak saya." Dengan demikian tidak berarti ibu ini terhina dan gagal. Mudah-mudahan hal inilah yang akan menjadikannya sebagai jalan pendekat kepada Allah.
Mengurus anak itu bukan sisa waktu, pikiran, dan tenaga, tapi harus menjadi bagian dari kesibukan kita. Jangan sampai anak merasa tidak mempunyai orang tua karena ibu-bapaknya tidak mempunyai waktu untuk mereka. Jangan sampai anak kita merasa ibunya sekadar orang yang melahirkannya, atau merasa bapaknya sekadar orang yang memberinya uang, bahkan ada anak yang merasa para pembantunya sebagai ibu atau bapaknya karena mereka yang selalu menjaganya.
Marilah kita terus meningkatkan kesadaran bahwa anak adalah ujian dari Allah. Tekadkan dalam hati, "Saya tidak boleh mengharapkan anak anak saya membalas budi baik kepada saya karena mendidik anak adalah ladang amal. Apakah anak akan membalas budi atau tidak itu urusan anak, tapi saya mengurus anak dengan sebaik-baiknya di jalan Allah, itu adalah urusan saya."
Jangan pernah patah semangat. Semoga Allah yang Mahagagah, Mahamenatap, melindungi kita dari cobaan yang tidak sanggup kita memikulnya. Mudah-mudahan cobaan apapun yang kita hadapi bisa disikapi dengan sebaik-baiknya karena memang hidup ini hanyalah cobaan demi cobaan. Wallahu a'lam.
(hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, sabar. syukur.)

Penulis : KH. Abdullah Gymnastiar