Kamis, 09 April 2015

ANJURAN BERHIAS UNTUK ALLAH



Setiap mukalaf (orang yang wajib menjalankan syariat Islam) diundang secara resmi untuk menghadap Allah sebanyak lima kali dalam sehari. Tepatnya, saat shalat Subuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Allah berfirman, “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS an-Nisa [4] : 103).

Undangan resmi itu sebaiknya dihadiri bersama-sama dan tempatnya dipusatkan di masjid. Setiap kali waktu pelaksanaan shalat fardhu tiba, setiap mukalaf (khususnya pria) ditunggu kehadirannya di masjid terdekat.

Apabila azan telah dikumandangkan, setiap mukalaf dianjurkan segera meninggalkan aktivitas yang sedang dijalaninya. Saat itu, mereka diajak untuk fokus mengingat-Nya. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kalian mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (QS al-Jumuah [62] : 9).

Secara tekstual, ayat ini memang berkaitan dengan pelaksanaan shalat Jumat, tetapi kiranya tidak menyimpang dari syariat bila sikap bersegera demi menyambut panggilan shalat fardhu lainnya pun senantiasa diupayakan.

Kehadiran setiap mukalaf di masjid diharuskan dalam keadaan suci dari hadas besar dan kecil serta dari najis. Bahkan, terlebih dahulu dianjurkan merapikan rambut, mengenakan pakaian yang bagus/indah, dan mengunakan wewanginan (parfum) seperlunya.

Allah berfirman, “Hai anak Adam, pakailah pakaian kalian yang indah disetiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah kalian dan janganlah berlebih-lebihan. Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS al-A'raf [7] : 31). Pada ayat berikutnya, yakni ayat ke-32, Allah menjelaskan, “Katakanlah: Siapa yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapakah yang mengharamkan) rezki yang baik?”

Dalam bab shalat dijelaskan, salah satu syarat sahnya shalat adalah menutup aurat. Dijelaskan pula, batasan aurat pria dan wanita secara garis besar. Menurut pendapat yang paling populer, batasan aurat pria adalah anggota badan antara pusar dan lutut. Sedangkan, batasan aurat wanita adalah seluruh anggota badan kecuali wajah dan telapak tangan.

Namun, berdasarkan keterangan dari Abu Hurairah RA Rasulullah SAW pernah bersabda, “Janganlah seorang di antara kalian shalat (ditujukan pada pria) pada sehelai kain yang tidak ada sedikit pun dari padanya yang menutup bahunya."

Dengan demikian, pakaian pria dalam shalat tidak sekadar menutup anggota badan antara pusar dan lutut. Tetapi, dianjurkan pula memerhatikan unsur kepantasan dan/atau kepatutan. Bukankah, ketika Anda diundang untuk menghadiri sebuah pertemuan resmi Anda berusaha mematut diri sedemikian rupa?

Maka, sangat masuk akal bila Allah dan Rasul-Nya menekankan perlunya memakai pakaian yang bagus dan indah setiap kali Anda shalat. Lebih jauh, jangan lupa berhias. Allah itu Mahaindah dan sangat menyukai keindahan. Wallahu 'Alam. 
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, sabar, pendidikan, kisah, )

KEBUTAAN BUDAYA

Agaknya tidak mudah untuk mendefinisikan budaya Islam secara menyeluruh. Namun, kita bisa saksikan kekuatan pengaruhnya hampir di belahan dunia mana pun. Islam sejak masa Nabi Muhammad, Khulafaurrasyidin, hingga renaisans di Cordoba, Spanyol, telah mengembangkan suatu khazanah kebudayaan yang kaya dan beragam. Sejarah Islam sebagai kekuatan budaya telah memunculkan apa yang disebut oleh Gustave von Grunebaum sebagai "unity and variety". Kekuatan budaya Islam telah melakukan "sintesis" yang kaya dan adaptif dengan unit-unit kebudayaan lokal, di mana Islam dapat merambah masuk. Dinamika kebudayaan tidak pernah berjalan linier. Setiap perkembangannya memiliki varian-varian yang kaya dan bernuansa. Tak ayal, kebudayaan dalam puspa ragam bentuk dan isinya telah dipahami sebagai "jaringan-jaringan makna" hidup yang dikembangkan dan mengisi batin kehidupan sosial umat manusia. Kekuatan budaya Islam di ranah budaya telah menunjukkan dinamikanya yang unik. Di samping sebagai kekuatan budaya, Islam, misalnya, telah muncul sebagai gerakan perlawanan menghadapi kolonialisme. Di Indonesia, meski Islam telah menjadi "wajah" bangsa, perjalanan sejarahnya telah melahirkan beberapa tafsiran pemikiran yang dipandang secara berbeda. Tafsiran ini dengan sendirinya telah menunjukkan bahwa khazanah kebudayaan Islam tidak terbatas pada pemahaman-pemahaman teologis yang kaku dan doktrinal belaka. Bahkan, pengembangan kekayaan intelektual (turats) Islam yang berimplikasi pada pengembangan budaya telah banyak mengisi kekuatan-kekuatan spiritual Islam dalam budaya. Munculnya pemikiran Fazlur Rahman, Arkoun, Hasan Hanafi, Amir Ali, sampai Nurcholish Madjid menunjukkan adanya pengayaan dalam mengembangkan pemikiran Islam dalam lintas budaya. Lalu, bagaimana sejatinya hubungan agama dengan kebudayaan? Kita bisa melihat derasnya saling keterpengaruhan antara agama dan budaya. Agama memberi ajaran kepada penganutnya, tetapi juga berbicara mengenai alam. Misalnya, tentang kosmos dan hubungan antarmanusia. Inilah yang membuat pendekatan agama dan budaya amat penting. Pada sisi paradoks, Islam sebagai agama yang merupakan kekuatan budaya telah menimbulkan berbagai gejolak yang sering didakwa secara kurang adil. Dewasa ini kerap dikampanyekan bahwa Islam sebagai agama peradaban telah menjadi "ancaman" bagi dunia Barat kontemporer. Pandangan ini pernah menimbulkan polemik memanas ketika Samuel Huntington mengungkapkan bahwa setelah Perang Dingin pupus dan perang ideologi antara Uni Soviet dan Amerika lenyap, Islam menjadi kekuatan potensial yang mengancam kehadiran peradaban lain. Meski demikian, ada perkembangan positif di Barat: Islam dijadikan teman dialog yang akan membuka cakrawala baru untuk bisa saling memahami. Inilah salah satu upaya mencari apa yang disebut Fritjhof Schuon sebagai "titik temu agama-agama" atau inter-religius. Sebagai realitas kebudayaan, Islam selalu diklaim berdimensi universal dan melakukan berbagai adaptasi. Bahkan, dalam perkembangan sejarahnya, Islam sering melakukan persentuhan terbuka dengan berbagai wilayah budaya lokal yang menjadi sasaran syiarnya. Islam pun menjadi toleran terhadap budaya-budaya lokal. Dalam pandangan lokal, kita tentu tak terlampau merasa heran, bagaimana Islam sebagai pandangan teologi, misalnya, mampu bersenyawa dengan paham sinkretisme Jawa dan Hindu yang sudah ratusan tahun saling memengaruhi. Islam sebagai kebudayaan telah memberi sentuhan "luwes dan mesra" terhadap nilai-nilai budaya lokal. Dengan sendirinya, ini menunjukkan Islam sebagai realitas budaya telah menampilkan dirinya. Kebutaan budaya Kini kerap muncul di kalangan Muslim pandangan "antibudaya". Mereka meneriakkan puritanisme dan hendak melenyapkan segala bentuk budaya. Radikalisme agama dan terorisme juga muncul akibat penolakan budaya. Inilah fakta bersemayamnya sikap "kebutaan budaya". Sejauh yang dapat dipetakan, "kebutaan budaya" justru terjadi dalam wilayah dasarnya, yakni berada pada dimensi psikologis-mental, sehingga aktualitas berbudaya kebanyakan orang Islam banyak yang justru merugikan perkembangan kebudayaan Islam. Bila Islam sungguh-sungguh sebagai agama yang diturunkan untuk kemaslahatan seluruh semesta alam beserta isinya, sudah saatnya batas-batas formal-struktural yang kaku dihindari. Maka, harus dihapus kesan bahwa ketika peradaban dan kebudayaan maju, justru agama (Islam) menghambatnya. Tugas agama (Islam) semestinya memicu kemajuan dan seraya membimbingnya Kita tak sekadar menghibur diri dan berapologi, dengan mengatakan bahwa kontribusi Islam dalam peradaban dunia sangatlah besar. Tetapi, kita sudah semestinya membuktikan bahwa agama Islam memicu peradaban sekaligus membela kepentingannya. Dengan demikian, kita tidak akan menjalankan strategi kebudayaan yang keliru. Dalam konteks historis kenegaraan di negeri kita, misalnya, kalau kita menganggap kemerdekaan bangsa sangat diwarnai atau ditentukan oleh kontribusi umat Islam, maka tidak perlu menciptakan distansi antara negara dan agama secara frontal. Dalam arti lain, Islam tidak bertugas hanya memerdekakan bangsa dalam arti formal, tetapi juga harus terus bersama-sama mengolah kehidupan selanjutnya Sampai di sini, sudah seharusnya segera dihindari klaim sosiologis yang menyesatkan. Slogan seperti "Islam untuk Islam" tidak selalu tepat. Bahkan, dalam fase peradaban seperti sekarang bisa merugikan secara strategis ataupun subtantif karena misi Islam tidak pernah menganjurkan singularitas. Dalam konteks ini, dakwah Islam bukan semata "Islamisasi" dalam arti semua menjadi Islam, melainkan menjadi "Islami". Kearifan antroposentris jadi pertimbangan. Manusia adalah khalifah, karena itu harus mampu menjalankan prinsip-prinsip kepemimpinan yang benar. Kecenderungan praktik memperebutkan status dan bukan substansi sepatutnya dihindari. Islam harus mendorong proses kedewasaan budaya. Prinsip nilai kelayakan karena kepantasan harus sama-sama dijalankan. Dalam konteks kebangsaan, misalnya, tentu orang Islam di mana pun bangga kalau pemimpinnya beragama Islam, tetapi tidak berarti harus dipaksakan. Kepemimpinan yang Islami adalah berada dalam format dan alur kelayakan dan kepantasan. Seseorang yang menjadi pemimpin bukan karena dia Muslim, melainkan karena dia layak dan pantas. Walhasil, agama memang perlu menyatu dengan budaya. Langgengnya agama karena menyatu dengan budaya. Agama sebagai sesuatu yang sakral, datang dari Tuhan, turun dari langit, kepada manusia yang parsial, lemah, terbatas, terikat ruang dan waktu. Maka, agama harus sesuai dengan kondisi manusia, bukan kondisi Tuhan. Agama untuk manusia, dan karena itu agama harus sesuai dengan tantangan yang dihadapi manusia. 
(Da'wah, hidayah, keyakinan, takwa,)


***)Said Aqil Siroj 

Rabu, 08 April 2015

KESALEHAN SOSIAL PENGGERAK IMAN

Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah menyampaikan sebuah teguran bagi umat Islam. “Ada orang beragama, tetapi tidak berakhlak dan ada orang yang berakhlak, tetapi tidak bertuhan.” Pernyataan ini merupakan sindiran bagi seorang yang telah berikrar iman, tetapi tabiat dan kelakuannya jauh dari moralitas sehingga ia lebih tepat dikategorikan kafir. Bukankah dari keimanan idealnya lahir tindakan-tindakan kebaikan yang sejalan dengan prinsip-prinsip moral universal? Dapatkah disebut beriman ketika tindakan-tindakannya bahkan berseberangan dari prinsip-prinsip kebaikan?
Dewasa ini, kita dihadapkan pada kenyataan pahit tentang jati diri keimanan. Negeri-negeri Islam bergejolak karena ribut ihwal iman. Apakah benar keimanan lantas menyulut amarah sehingga bisa dijadikan dogma suci untuk membungkam kelompok lain? Padahal, Rasulullah pernah bersabda, “Tidak termasuk orang yang beriman, siapa saja yang kenyang sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar.” (HR Bukhari). Dari hadis itu, kita bisa memetik pelajaran bahwa keimanan sejatinya dilandaskan pada kepedulian sosial. Dalam konteks itu adalah anjuran menolong tetangga yang dalam keadaan susah dan miskin. Kesantunan dan kepedulian sosial adalah bentuk nyata keberimanan seseorang.
Sedangkan, dalam hadis lainnya, Rasulullah bersabda, “Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia sedang berzina. Tidaklah beriman seorang  peminum khamar ketika ia sedang meminum khamar. Tidaklah beriman seorang pencuri ketika ia sedang mencuri.” (HR Bukhari). Dari situ, kita diajak memahami bahwa fondasi iman yang lain adalah kesadaran diri. Orang-orang yang sadar telah beriman akan menjalankan perintah agama dengan kedewasaan dan kesabaran. Sehingga, tidak mungkin bisa terjebak dalam sulutan emosi hingga menyakiti lainnya. Dengan kata lain, keimanan bukan semata keyakinan yang terpendam dalam diri. Sikap acuh terhadap kesusahan orang lain atau pelanggaran terhadap syariat secara tidak tegas bisa dinyatakan sebagai 'tidak beriman', yakni kekafiran terselubung.
Rasulullah juga menyatakan dalam hadisnya, “Tidaklah beriman seseorang dari kalian hingga dia menginginkan kebaikan bagi saudaranya sebagaimana dia menginginkan kebaikan bagi dirinya sendiri.” (HR Muslim). Dengan menelaah hadis itu, lagi-lagi kita diajak menumbuhkan empati sosial sebagai motor penggerak keimanan. Kesalehan secara sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan demi kesempurnaan iman. Ketika Nabi ditanya ihwal siapa seorang yang paling utama di sisi Allah, beliau menjelaskan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Dalam Alquran juga banyak ditekankan implementasi keimanan dalam bentuk kesalehan, kepedulian, kesadaran, dan empati sosial. Sebagaimana termaktub dalam surah al-Hajj ayat 77, yakni “Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah kalian, sujudlah kalian, sembahlah Tuhan kalian, dan berbuatlah kebajikan supaya kalian mendapat kemenangan.”
Ayat itu adalah satu dari ratusan ayat lainnya yang menjabarkan arti kebajikan seorang mukmin. Seorang mukmin di samping wajib menyempurnakan ibadah pribadinya kepada Tuhan, seperti shalat, puasa, haji, dan lainnya, juga wajib berperan aktif dan berkontribusi dalam terselenggaranya kehidupan sosial yang aman dan sejahtera. Tak ayal, apabila ada seorang yang mengaku beriman, tetapi mereka justru mengafir-kafirkan di luar kelompoknya, bahkan merusak harta dan membunuh kelompok lainnya secara membabi buta. Maka, sudah jelas keimanan mereka dipertanyakan atau justru mereka sendirilah yang sudah terjerembap dalam kubangan kekafiran itu sendiri. 
Wallahu a'lam.     (Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, pendidikan,kisah, takwa, )

Selasa, 07 April 2015

AGAR HATI TIDAK BERKARAT

Sesungguhnya, hati itu dapat berkarat sebagaimana besi berkarat. Rasulullah SAW lalu ditanya: Apa yang bisa membuat hati agar tidak berkarat? Rasul menjawab: Membaca Alquran dan mengingat kematian." (HR al-Baihaqi).
Ilustrasi dalam hadis tersebut menunjukkan bahwa hati manusia itu potensial menjadi seperti besi yang kemudian berubah menjadi berkarat. Sebelum berkarat, besi itu kuat, tapi ketika sudah berkarat, ia akan berubah menjadi rapuh.
Hati yang berkarat adalah hati yang berpenyakit atau sudah tidak sehat dan kuat. Agar hati tidak berkarat, Rasulullah SAW memberi solusi, yaitu membaca Alquran. Badiuzzaman Said Nursi dalam al-Mu'jizat al-Qur'aniyyah menjelaskan bahwa Alquran adalah Kalam Allah. 
Ia adalah kitab suci yang menebarkan hikmah yang turun dari lingkup nama-Nya yang paling agung. Ia menatap kepada apa yang diliputi Arasy yang paling agung. Jangankan hati yang berkarat! Bebatuan gunung yang kuat dan kokohpun dapat "takluk dan tunduk" kepada Alqur dan sekiranya diturunkan kepadanya. (QS al-Hasyr [59]:21).
Hati adalah cermin cahaya (nur) ilahi. Karena itu, wajar jika hati yang berkarat akan kembali memancarkan cahaya te rang apabila diasupi hidangan rabbani. Sebab, Alquran merupakan "jamuan spesial" Allah SWT (ma'dubatullah) bagi hamba-Nya. 
Jamuan kemuliaan ini tentu harus dinikmati dan dimaknai. Memaknai Alquran identik dengan membaca, memahami, menghayati, mengapresiasi, dan mengamalkan seruan berpikir rasional, pesan-pesan moral dan spiritualnya.
Dengan kata lain, agar hati tidak berkarat, mudarasah Al quran harus terus dilakukan dan dibudayakan; bukan sekadar mengaji (tilawah), membaca, dan mempelajari pesannya (qira'ah wa tadarus), melainkan memahami, menerjemahkan, dan mengaktualisasikan nilai-nilainya dalam ke hidupan nyata (mudarasah), sehingga spirit Alquran itu menjiwai dan menggelorakan kehidupan yang semakin jauh dari nilai-nilai kebenaran, kebaikan, keadilan, keindahan, dan kedamaian.
Mudarasah Alquran merupakan peneduh hati yang gersang dan penjinak watak "keras kepala dan keras hati". Sejarah membuktikan bahwa Umar bin al-Khattab yang sebelum masuk Islam dikenal berwatak keras kepala dan liar, hatinya luluh dan berubah 360 derajat setelah mendengar lantunan ayat-ayat Alquran yang dibacakan adik kandungnya yang telah masuk Islam, Fatimah binti al-Khattab.
Ayat yang didengarnya adalah QS Thaha ayat 2-4,"Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu agar kamu men - jadi susah (sengsara), tetapi sebagai peringatan bagi orang- orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.
"Jika jujur berintrospeksi diri, tampaknya kita umat Islam belum banyak melakukan mudarasah Alquran. Kita masih jauh dari naungan Alquran. Kita belum bisa menikmati jamuan Allah yang diturunkan pada bulan yang suci ini. 
Boleh jadi, salah satu penyebab kemunduran, keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan yang mendera umat Islam saat ini adalah masih jauhnya kita dari naungan dan pangkuan Alquran. Padahal, menurut Sayyid Qutub dalam pengantar tafsir Fi Zhilal Alquran, hidup di bawah naungan Alquran itu nikmat. Wallahu a'lam bish-shawab!
(Da'wah, hidayah, keyakinan, sabar, syukur, takwa, pendidikan, )

Senin, 06 April 2015

BATASI NIKMAT DUNIA

Dunia hanya tempat persinggahan singkat umat manusia sebelum menuju alam kubur dan menunggu hari pengadilan. Di alam kubur, kita akan tahu tempat yang akan diberikan kepada kita kelak pada saat hari kiamat tiba.
Penantian di alam kubur ini yang sangat menyakitkan, sebab bergantung pada apa yang dilakukan di dunia. Pada saat di alam kubur, tak luput kemungkinan kuburan terasa sempit dan mendapatkan siksaan. Meski demikian, kita belum takut dengan tindakan kita yang menambah dosa.
Untuk mengingatkan akan kematian dan menambah kuatnya nilai iman maka sangat perlu mendatangi orang yang meninggal dan berziarah ke makam. Terkadang, ini yang tidak diketahui.
Kerap kali, kuburan atau ziarah ke alam kubur dianggap sebatas berkunjung dan tidak menambah nilai iman. Ada juga yang menggunakan kuburan untuk mendapatkan rezeki, jodoh, dan lain sebagainya. Ada juga yang menganggap dengan datang ke kuburan justru mendapatkan wangsit pada malam harinya.
Ini perilaku zalim pada umat kita yang menyebabkan rendahnya nilai iman itu. Satu hal yang membuat manusia terus melupakan ibadah karena tidak bisa melawan nafsu sehingga berlebihan dalam mencintai dunia.
Manusia yang mengejar dunia secara terus menerus tanpa memikirkan akhirat mengakibatkan manusia lupa dengan hidup yang begitu singkat ketika di dunia sehingga berakhirnya hidup di dunia, tetapi ibadah yang didapatkan sangat sedikit.
Bekal apa yang harus dibawa ketika kembali kepada Allah jika waktu itu terkuras untuk memenuhi nafsu perut saja, yaitu dunia. Padahal, dunia itu menipu kita, terlihat seperti manis, tetapi menyebabkan kita semua larut dalam dunia.
Salah satu ciri manusia yang cinta dunia, yaitu manusia yang terus menumpuk hartanya menjadi lebih banyak lagi. Tidak pernah rasa puas dengan apa yang telah didapatkannya.
Apalagi, jalan yang ditempuh untuk mendapatkan dunia dengan jalan korupsi sehingga dapatlah harta yang bukan lagi haknya.

Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari, dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda, “Celakalah orang yang mengabdi kepada dinar, orang yang mengabdi kepada dirham, dan orang yang mengabdi kepada perut. Jika diberi ia merasa puas dan seneng, jika tidak diberi ia merasa jengkel.
Dia benar-benar celaka dan terjungkir serta tidak mampu mencungkil duri yang menancap ditubuhnya (yakni selalu tersiksa batinnya). Sungguh beruntung orang yang memegang tali kudanya dalam berjihad di jalan Allah dengan rambutnya yang kusut dan tubuh berdebu. Apabila ia ditugaskan digaris depan ia menjalankan tugasnya dengan baik dan apabila ia ditugaskan di garis belakang, ia pun melaksanakan tugasnya dengan baik pula.
Apabila minta izin, ia tidak dizinkan dan apabila minta tambahan pasukan untuk menemaninya, permintaannya tidak dikabulkan (meskipun demikian ia tetap terus bertempur karena Allah)." 
Kemudian dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Anak adam itu akan menua, namun masih terasa muda dalam dua hal, yaitu keinginan terhadap usia (yang panjang) dan keinginan (banyak) harta. ( HR At Tirmidzi).
Hadis di atas memberikan makna, ibadah itu tetap utama dilakukan di atas segala-galanya, termasuk kehidupan dunia. Dalam beribadah juga tidak hitung-hitungan, apalagi menghitung berapa banyak yang harus dibayar dalam bentuk uang.
Hasil dari ini tidak lagi berkah hasilnya. Banyak di antara kita menjadi pejabat, tetapi bertujuan untuk mendapatkan dua hal, yaitu jabatan untuk mendapatkan uang. Buktinya, pejabat tidak akan mau jika tidak dibayar, tetapi anehnya sudah dibayar sebagai pejabat juga tidak amanah dalam menjalankan tugas. Wallahu a'lam.             (Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur, takwa,)

NASEHAT KEMATIAN

Suatu hari, seorang kakek berjalan menuju masjid. Ia melewati sekelompok anak yang sedang bermain bola. Tiba-tiba permainan itu menerbangkan debu-debu jalanan, lalu sang kakek berteriak menghentikan permainan mereka.
Ketika sang kakek mempercepat langkahnya untuk menghindari debu-debu jalanan, tiba-tiba salah seorang dari anak-anak itu bertanya, “Mau lari ke mana kamu wahai Kakek? Sebentar lagi debu-debu ini akan menyelimuti tubuhmu di kuburan.”
Sang kakek tersinggung sedikit bercampur heran dengan perkataan si anak itu. Ia pun segera berhenti, seraya berkata, “Mendekatlah kepadaku.” Tatkala anak itu sudah mendekat, sang kakek pun bertanya, “Apakah kamu memiliki cara untuk menghindari debu atau tanah kuburan itu?”
Anak itu menjawab, “Aku tahu jawabannya, tapi tanyakanlah kepada orang selain aku.”
Sang kakek menukas, “Lalu, aku harus menanyakan kepada siapa?”
Si anak menjawab, “Tanyakanlah kepada akal pikiranmu.”
Mendengar jawaban tersebut sang kakek meneteskan air mata karena takut kepada Allah. Kemudian ia meneruskan perjalanannya menuju masjid dan melaksanakan shalat dengan khusyuk.
Itulah sepenggal kisah yang memberikan pelajaran berharga kepada kita tentang nasihat kematian. Sejatinya, nasihat ini tidak hanya untuk seseorang yang sudah lanjut usia, tetapi juga untuk kita semua, baik yang tua, muda, anak-anak, kaya, miskin, pejabat, rakyat biasa, yang sehat, sakit, dan untuk siapa saja yang bernyawa.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS Ali Imran [3]:185).
Kematian merupakan sebuah kepastian. Tidak ada seorang pun yang dapat menolak, menghindar, tidak ada tawar-menawar, dan tidak ada pula pemajuan maupun penundaan. Dan, setiap orang memiliki jatah hidupnya masing-masing.
“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS al-A’raf [7]: 34).
Karena itu, Rasulullah SAW berpesan, “Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (yaitu kematian).” (HR Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah).
Dengan mengingat kematian, seseorang akan terdorong untuk mempersiapkan bekal dengan amal kebaikan dan berusaha membersihkan kesalahan dan dosa dengan segera bertobat kepada-Nya.
Jangan berlari dari kematian sebab di manapun seseorang berada kematian itu akan menjemputnya (QS an-Nisa’ [4]: 78) dan persiapkan bekal yang cukup, yaitu ketakwaan (QS al-Baqarah [2]: 197). Selain itu, juga berbekal dengan amal saleh (HR Tirmidzi).
Semoga Allah membimbing kita untuk banyak mengingat kematian, mempersiapkan segala amal kebajikan, dan meraih husnul khotimah. Aamiin. Teruntuk Olga Syahputra, selamat jalan.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur, takwa,)

***) republika

Minggu, 05 April 2015

MENYIAPKAN HARI ESOK

Imam Ahmad meriwayatkan dari al-Mundzir bin Jarir, dari ayahnya, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah SAW pada permulaan siang. Lalu, ada suatu kaum yang mendatangi beliau dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, membungkus diri dengan kulit macan atau sejenis mantel dengan menyandang pedang. Kebanyakan mereka berasal dari Mudhar, bahkan seluruhnya berasal dari suku Mudhar."
Maka, (raut) wajah Rasulullah pun berubah ketika melihat keadaan mereka yang demikian miskin itu. Kemudian, beliau masuk, lalu keluar lagi dan memerintahkan Bilal mengumandangkan azan. Maka, Bilal mengumandangkan azan, kemudian iqamah. Lalu, Rasulullah SAW mengerjakan shalat, setelah itu beliau berkhutbah.
Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu,”-sampai akhir ayat-Lalu, beliau membaca ayat (yang artinya), “Dan, hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
Kemudian, seseorang menyedekahkan sebagian dari dinar, dirham, pakaian, satu sha' gandum, dan satu sha' kurma ….-hingga akhirnya Rasulullah SAW bersabda, "… meskipun hanya dengan satu belah kurma.” (HR Muslim).
Demikianlah yang ditulis oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya sebelum menjelaskan tentang makna atau kandungan dari surah al-Hasyr ayat 18 yang memerintahkan setiap Muslim untuk menyiapkan hari esok, yang ternyata bukan soal menimbun harta, melainkan justru menyedekahkannya kepada orang-orang yang sangat membutuhkan.
Dengan demikian, bisa diambil pemahaman, sedekah kepada orang yang sangat membutuhkan adalah cara terbaik seorang Muslim untuk benar-benar bahagia pada hari esok (dunia-akhirat). Dan, bersegera dalam sedekah, meski itu hanya satu belah kurma, sudah cukup untuk mempermudah kehidupan kita pada hari esok yang sekaligus menyolusikan kesulitan sesama.
Dengan kata lain, peka dan peduli terhadap kebutuhan sesama (dengan bersegera melakukan sedekah), utamanya mereka yang memang benar-benar membutuhkan pertolongan adalah wujud nyata keimanan seorang Muslim. Bahkan, itulah manivestasi dari ketakwaan seorang Muslim.
(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS al-Baqarah: 3).
Inilah salah satu perkara yang setiap Muslim harus perhatikan setiap harinya. Ibnu Katsir menjelaskan, “Dan lihatlah apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sendiri berupa amal saleh untuk hari kemudian dan pada saat bertemu dengan Rabb kalian.”
Maka, sungguh tidak mengherankan jika sahabat-sahabat Rasulullah, seperti Khadijah, Abu Bakar, Utsman, dan Abdurrahman bin Auf, berlomba-lomba untuk menyedekahkan hartanya di jalan Allah.
Ternyata, semua itu adalah wujud kesungguhan mereka dalam mempersiapkan kebahagiaan kehidupan mereka pada hari kemudian.
Subhanallah, demikian indahnya ajaran Islam. Kebahagiaan hari esok ternyata tidak semata-mata ditentukan oleh kualitas ibadah kita secara pribadi.

Tetapi, juga dipengaruhi oleh sejauh mana kepedulian kita kepada sesama yang membutuhkan. Dan, itulah tabungan masa depan yang sesungguhnya. Wallahu a'lam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, syukur, sabar, takwa, pendidikan, )