Rabu, 08 Juni 2016

TAK BERLEBIHAN DALAM BERAGAMA

 Anas ra berkisah, ada tiga orang datang menemui istri-istri Rasulullah untuk menanyakan ibadah baginda nabi. Saat diberitahu mengenai ibadah Rasulullah, mereka merasa sangat  kecil. Rasulullah SAW yang sudah dijamin mendapat ampunan dan surga Allah SWT ternyata melaksanakan ibadah 'berat'. Sungguh terasa sangat jauh dibanding dengan mereka.
Orang pertama pun bertekad dan menyatakan akan shalat malam terus menerus. Orang Kedua akan puasa sepanjang tahun tanpa henti. Orang ketiga akan menjauhi perempuan dan tak akan menikah selamanya.  
Ketika mendengar niat ketiga orang itu, Nabi bersabda, “Benarkah kalian yang mengatakan akan shalat malam terus menerus, akan berpuasa setiap hari, dan tidak akan menikah selama hidup? Bukankah, demi Allah, aku orang yang paling takut di antara kalian kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, namun demikian aku shalat malam dan juga tidur, aku berpuasa dan juga tidak berpuasa, dan aku menikahi wanita? Barangsiapa tidak menyukai sunahku maka ia bukan golonganku.” (HR Bukhori dan Muslim).  
Sebagaimana sabda Nabi di atas, kita tidak dibenarkan untuk melaksanakan agama dengan cara yang berlebih-lebihan. Untuk mengukur kadar ibadah yang pas, tentu tidak mudah. Oleh karenanya, di samping memiliki tolok ukur ibadah Nabi, juga harus melihat para sahabat serta sikap toleransi Nabi terhadap apa yang diamalkan para pengikutnya.
Pada waktu berbeda, masih dikisahkan Anas bin Malik, Rasulullah SAW menerangkan tentang laki-laki calon penghuni surga. “Sebentar lagi akan muncul dihadapan kalian salah seorang ahli surga." Ketika diketahui orangnya, seorang sahabat Abdullah bin Amr meneliti dengan bertamu bermalam di rumahnya.
Setelah diamati ternyata ibadah orang itu biasa-biasa saja, bahkan si peneliti sendiri merasa ibadah dia jauh lebih baik. Setelah berdialog dan didalami maka diketahuilah bahwa kelebihannya adalah “tidak pernah berlaku curang” dan “tidak iri” atas kelebihan yang diberikan Allah kepada orang lain. Jadi, kekuatannya ternyata ada pada mental and moral attitude.
Dalam Alquran disebutkan, orang yang berlebih-lebihan dalam beragama dikaitkan dengan doa dan pendekatan diri kepada Allah. Ketika menderita, dia intensif berdoa, tapi saat lapang dia menyimpang.
“Dan, apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. Tetapi, setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan.” (QS Yunus 12).


***) Rizal Fadilah—(Pusat Data Republika

Selasa, 07 Juni 2016

PEMBUNUH YG BEBAS KARENA SHALAT SUBUH

Syahdan, Salim bin Abdullah, seorang ulama tabiin menemui Gubernur Hajjaj bin Yusuf untuk menyampaikan tentang kebutuhan kaum Muslimin. Hajjaj menyambutnya dengan ramah dan memuliakannya.
Tidak lama, beberapa orang dibawa ke hadapan Hajjaj. Rambut mereka kusut dengan wajah pucat. Debu pun menempel di badan. Semua tahanan di belenggu. Hajjaj berkata kepada Salim, “Mereka adalah pemberontak yang telah membuat kerusakan di muka bumi dan menghalalkan darah yang telah Allah haramkan.”
Hajjaj menyerahkan pedangnya kepada Salim sambil menunjuk kepada salah seorang dari mereka. Dia berkata kepada Salim: “Pergilah dan tebaslah lehernya!” Salim menerima pedang dari tangan Hajjaj lalu berjalan mendekati orang yang dimaksud.  
Salim berhenti tepat di depan orang tersebut, lalu bertanya, “Apakah Anda Muslim?” Terdakwa, “Benar saya Muslim. Tapi, apa perlunya Anda bertanya demikian? Lakukan saja apa yang diperintahkan kepada Anda!” Salim, “Apakah Anda shalat Subuh?” Terdakwa, “Sudah saya katakan bahwa saya Muslim. Mengapa Anda masih bertanya lagi?" Salim, “Saya bertanya, apakah Anda shalat Subuh hari ini?” Terdakwa, “Semoga Allah memberimu hidayah. Tentu saya shalat Subuh! Silakan Anda melaksanakan perintah orang zalim itu agar ia tidak murka kepada Anda.” 
Salim berbalik menghadap Hajjaj kemudian melemparkan pedang yang digenggamnya sambil berkata, “Orang ini mengaku sebagai Muslim dan berkata bahwa hari ini sudah shalat Subuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa shalat Subuh, dia berada dalam perlindungan Allah.” Saya tidak akan membunuh seseorang yang berada dalam perlindungan-Nya!”
Hajjaj marah dan berkata, “Kami akan membunuhnya bukan karena dia tidak shalat, tetapi karena dia ikut terlibat dalam pembunuhan khalifah Utsman bin Affan.” Salim menjawab, “Masih ada orang lain yang lebih berhak dari saya dan dari Anda untuk menuntut darah Utsman bin Affan!” Hajjaj terdiam seribu bahasa.


**) Fariq Gasim—(Pusat Data Republika

Senin, 06 Juni 2016

MELAWAN SIKAP PESIMISTIS

Pesimistis adalah melihat alam dengan kebencian dan memandang dunia dengan kemurkaan. Orang yang pesimistis melihat segala sesuatu menjadi hitam. Baginya bunga adalah duri, batang pohon adalah meriam, pohon kurma adalah pohon labu, dan hujan adalah api. 
Orang yang pesimistis itu kerap berkerut dahinya, muram wajahnya, dan sempit hatinya. Dia tidak memiliki harapan, cita-cita, kelapangan, dan kemudahan. Dia memandang bahwa malam akan abadi, kefakiran tidak berakhir, kelaparan akan berlanjut, dan sakit tidak akan sembuh. 
Dalam kamus orang yang pesimistis hanya ada kematian, rasa sakit, kehancuran, kegagalan dan kejatuhan. “Mereka mengira bahwa setiap teriakan keras ditujukan kepada mereka.” (QS. Al-Munafiqun: 4). 
Orang yang pesimistis itu bisa mati berkali-kali dalam sehari. Dia merasa lapar padahal dalam keadaan kenyang. Dia merasa fakir padahal dalam keadaan kaya. Karena dia menaati setan. “Setan itu menakut-nakuti kalian dengan kefakiran dan menyuruh kalian berbuat keji.” (QS. Al-Baqaran 268). 
Kehidupan ini bukan untuk ditakuti, namun untuk dihadapi. Allah SWT sudah menganugerahkan kita perangkat dan fasilitas yang bisa menunjang kita mengarungi derasnya kehidupan. Manusia memiliki akal, kekuatan fisik, dan kemampuan berikhtiar. Namun, semua itu tidak disadari dan disyukuri oleh orang yang bermental penakut. Rasa pesimistis sudah menguasai jiwanya. 
Dalam menghadapi tantangan, hidup itu adalah urusan mau atau tidak mau. Hidup juga perkara berani atau tidak berani. Jadi kemauan dan keberanian itu diperlukan untuk mencapai sesuatu yang diikuti dengan usaha untuk mendapatkannya. 
Caranya dengan mempersiapkan segala hal yang memungkinkan untuk meraihnya dan bila perlu dapat mempercepat tercapainya tujuan tersebut. Orang-orang yang sukses itu menghadapi jalan terjal di medan juang mereka. Musibah yang dideritanya tidak sedikit. Tetapi mereka menghadapinya dengan penuh kesabaran, optimisme tinggi, dan tahan uji. 
Mereka bagaikan sekelompok kafilah yang tengah menyusuri padang pasir yang ditempa terik matahari atau sedang melawan badai gurun. Itulah rahasianya mengapa para pengukir sejarah berhasil mencapai cita-citanya. 
"Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang utama.” (QS. Ali Imran: 186). 
Jadi siapapun dia yang lemah kemauannya, dikuasai oleh pesimistis, akan lemah pula jiwanya. Akan rendah pula martabat kemanusiaannya. Para pesaing akan melesat melewatinya. Akan mudah diombang-ambingkan oleh hawa nafsu. Syetan pun akan mudah menguasainya. Ibarat sebuah bola yang ditendang kesana-kemari sesuai dengan kemauan orang yang mempermainkannya. 
Sebagai khalifah fil ardi, kita dituntut untuk terus bisa survive dalam segala kondisi. Mengingat keadaan sewaktu-waktu bisa berubah. Jangan sampai kita menyerah pada nasib, tunduk pada keadaan. Semangat harus dipupuk. Ilmu pengetahuan hari demi hari harus meningkat. Keterampilan selalu diasah. Dan iman takwa jadi benteng utama. 

***) Habib Ziadi 

Minggu, 05 Juni 2016

PEMBERI UTANG

Permasalahan dan kesulitan ekonomi tak jarang membuat seseorang merasa buntu dan kehilangan arah untuk menemukan jalan keluar. Hingga pada sampai di titik kesulitan materi yang teramat sangat, akhirnya banyak diantara kita yang memilih untuk berutang kepada sesama. Tidak salah memang.
Berhutang diperbolehkkan dalam Islam, bahkan karena tak menghendaki adanya orang yang dirugikan karena praktik hutang piutang, Allah merumuskan adab-adab berutang yang tertuang dalam penghujung surah al-Baqarah ayat 282 bahwa setiap praktik hutang piutang harus dicatat dan disaksikan.
Pencatatan dan persaksian atas transaksi utang piutang dimaksudkan untuk menghindari kekeliruan dan permusuhan yang akan sangat mungkin terjadi. Dengan pencatatan dan persaksian pula, pengutang ingat kembali jumlah utang yang harus ia bayar jika suatu waktu ia lupa. Namun bagaimana, jika yang berutang tidak mampu atau bahkan fenomena yang sering terjadi adalah justeru yang berhutang lebih kasar dan kejam daripada si pemberi hutang?
Karenanya, diperlukan kelapangan hati dan jiwa ketika kita memutuskan untuk memberikan pinjaman kepada orang lain. Pemberi utang juga harus mengetahui betul apakah yang diutangi betul-betul belum mampu membayar, pura-pura tidak mampu atau bahkan tak ada niat untuk melunasi utangnya. Terkait menghadapi orang yang tidak mampu membayar, maka Alquran menganjurkan kita untuk memberi kelapangan.
“Dan jika dia (penghutang) memiliki kesukaran maka berilah penangguhan sampai waktu lapang (mampu membayarnya), dan apabila kalian menyedekahkannya maka itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui,” (Qs Al-Baqarah: 280)
Begitu santunnya anjuran Alquran dalam memberikan pedoman utang-piutang. Selain si pemberi utang dianjurkan untuk memberikan kelapangan (maysarah—kelonggaran waktu atau kesempatan untuk membayar), pemberi hutang juga harus siap jika pada akhirnya harus menyedekahkan uang yang dipinjamnya ketika yang berhutang, akhirnya tidak sanggup membayarnya.
Pertanyaannya; sudah sanggupkah kita mengikuti tuntunan Alquran? Andai saja kita memiliki uang 10 juta lalu dipinjamkan kepada 10 orang dan kesemuanya itu tidak mampu membayar utangnya, mampukah kita ikhlas?
Ketika Hudzaifah dan Abu Mas’ud ra sedang berkumpul, Hudzaifah ra berkata, “Ada seorang laki-laki yang meninggal dan menemui Tuhannya, maka Tuhannya berkata kepadanya, “Apa yang telah kamu perbuat?” Dia menjawab, “Aku belum pernah berbuat kebaikan, melainkan dahulu aku adalah seseorang yang memiliki harta benda. Dengan harta yang kupunya itulah aku biasa memberikan pinjaman kepada orang yang membutuhkan, lalu aku sering memberikan kemudahan dalam pembayaran. Apabila seseorang tidak mampu membayarnya, maka aku membebaskan hutang tersebut,” Maka Allah Swt berfirman, “Berilah kelapangan kepadanya,” Abu Mas’ud berkata, seperti itulah aku mendengar Rasulullah Saw bersabda,” (HR Muslim, Shahih Muslim, Juz 3, No Hadits 1560)
Demikianlah, tidak ada satu perbuatanpun yang luput dari penjagaan Allah. Berapapun nominal yang telah kita keluarkan (pinjamkan) dengan ikhlas, semua itu pasti akan terbalas. Cukup balasan di akhirat sajalah segala amal kebaikan orang-orang baik itu diberikan. Allahu a’lam


***) Ina Salma Febriany

Sabtu, 04 Juni 2016

MEREMEHKAN KESALAHAN KECIL

 Nabi Muhammad SAW bersabda, “Janganlah memandang kecil kesalahan (dosa) tetapi pandanglah kepada siapa yang kamu durhakai.” (HR Ath-Thusi).
Manusia tidak pernah lepas dari kesalahan (dosa), baik terhadap sesama maupun terhadap Allah. Baik itu kesalahan yang sifatnya ringan maupun berat, sengaja maupun tidak. Karena itu, manusia dalam bahasa Arab disebut insan dari kata dasar nasiya, yakni lupa atau lalai. 
Manusia sering kali lupa, sehingga melakukan kesalahan berulang-ulang. Allah SWT Maha Menerima tobat. Sebesar apa pun kesalahan yang dilakukan manusia, Allah selalu membuka pintu tobat bagi manusia. Tentu saja, tobat yang serius, sungguh-sungguh, kemudian berkomitmen untuk tidak mengulangi. 
Dengan kata lain, tobat nasuha, yakni tobat yang sebenar-benarnya. Ada orang yang mengaku telah bertobat, ternyata ia mengulangi lagi kesalahan itu dengan sengaja. Ini bukan tobat nasuha. Meskipun Allah Maha Pengampun dan Penerima tobat, manusia hendaknya tidak menyepelekan kesalahan terhadap-Nya. 
Seperti disinggung Nabi SAW pada hadis di atas, kita jangan pernah memandang kecil suatu kesalahan, tetapi pandanglah kepada siapa kita berbuat kesalahan. Dalam hal ini adalah Allah. Ada sebuah ungkapan, “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”. Semakin kita memupuk kesalahan-kesalahan kecil, maka jika kita biarkan ia akan membesar. 
Hal yang sama berlaku pula dalam hubungannya dengan sesama manusia. Jika kita melakukan kesalahan terhadap orang lain, kita mesti segera mendatanginya dan meminta maaf. Jangan sampai, kesalahan itu malah kita lakukan berulang-ulang, sehingga orang lain itu marah, lalu dendam, dan pada suatu saat melampiaskan dendam itu. 
Orang yang dimintai maaf juga hendaknya memberi maaf. Memberi maaf itu tindakan mulia. Nabi SAW seringkali dicela kaumnya, namun beliau selalu memaafkan. Hal itu terlihat, misalnya, pada hari penaklukan Makkah atau Fathu Makkah. 
Andaikata Nabi SAW mau, beliau bisa saja menghabisi semua orang kafir yang dulu memusuhi dan memerangi serta berusaha membunuh beliau dalam setiap kesempatan. Nyatanya, beliau memaafkan mereka, membiarkan mereka tetap hidup. Kecuali, para pengkhianat dan orang-orang yang tetap berusaha memerangi beliau. 
Kepada mereka, beliau memberikan hukuman yang setimpal.Jangan pernah meremehkan kesalahan kecil, karena setiap kesalahan akan dicatat oleh malaikat pencatat amal. Kelak, di hari kiamat, catatan itu akan dibeberkan ke hadapan orang yang terkait dengannya. 
Betapa malu dan menyesalnya orang yang catatan amalnya ternyata buruk, dan ia semakin masygul ketika menyadari bahwa kesalahan yang tercatat itu dulu ia anggap remeh sehingga ia terus melakukannya berulang-ulang. Pada akhirnya, kesalahan itu membesar dan tertera nyata di catatan tersebut.
Sebelum terlambat, marilah kita berusaha mengontrol diri kita, jangan sampai kita melakukan kesalahan sekecil apa pun. Dan jika ternyata kita telanjur melakukan kesalahan kecil, kita segera bertobat dan tidak mengulangi lagi. 
Kita mesti malu jika kita melakukan kesalahan kepada Allah, padahal Allah telah memberi banyak sekali karunia kepada kita yang tak terhitung. Betapa bodohnya jika kita membalas kebaikan Allah dengan kesalahan kita kepada-Nya, meskipun itu kita anggap kesalahan kecil. Wallahu a’lam.


***)  Nur Faridah –(Republika Online

Kamis, 02 Juni 2016

MENGGAPAI RAHMATNYA

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Allah Swt menjadikan sifat rahmat seratus bagian. Maka, dipeganglah pada sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkan satu bagian ke bumi. Dari satu bagian rahmat itulah seluruh makhluk berkasih sayang kepada sesamanya sehingga seekor hewan mengangkat kakinya karena takut anaknya akan terinjak olehnya,” (HR Bukhari Muslim)
Allah ar-Rahmaan ar-Rahiim, sebab kasih sayang-Nyalah kita masih diberi usia hingga detik ini. Sebab kemahaan dan rasa cinta yang melebihi murka-Nyalah pula kita masih diberikan kenikmatan menghirup udara segar, merasakan makanan dan minuman yang lezat, mampu melihat, mendengar, berbicara, serta beberapa nikmat-Nya yang tidak mungkin mampu kita urai satu persatu.
Ketika sudah mendapatkan semua nikmat itu, maka bertakwa dan bersyukur adalah cara untuk melanggengkan nikmat-nikmat itu kendati Allah tidak pernah menantikan apalagi mengharapkan ucapan ‘terimakasih’ dari hamba-hambaNya. Namun, dengan sifatnya yang Maha Mensyukuri (Asy-Syakuur), Allah kelak dan selalu akan membalas rasa syukur yang diucapkan para hamba untuk-Nya.
Musthafa Sa’id Al Khin dalam Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyaadhi Shaalihiina, Juz 1 (1987: 382-383), menguraikan beberapa faedah dari hadits di atas, pertama sesungguhnya rahmat yang telah Allah SWT tetapkan di dalam hati hamba-hamba-Nya merupakan bagian dari ciptaan-Nya. Kedua, Kebaikan Allah Swt turunkan kepada mereka merupakan bagian dari keutamaan-Nya. Ketiga, Rahmat itu merupakan salah satu bagian yang Allah simpan bagi hamba-hambaNya yang mukmin pada hari kiamat.
Dalam hal ini, terdapat harapan paling besar dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman karena hanya satu rahmat yang Allah ciptakan bagi manusia di dunia, mereka (manusia) mampu berkasih sayang kepada sesamanya dan menjadi kebaikan bagi mereka, apalagi dengan seratus rahmat pada hari kiamat.
Karenanya, melalui rahmat-Nya yang telah dilimpahkan ke bumi ciptaan-Nya inilah, Allah memerintahkan kita untuk selalu menyambung silaturrahim, berbagi, saling tolong menolong dalam kebaikan dan berkasih sayang. Sesuai dari hadits yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid ra, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah diserahi cucunya yang telah meninggal, maka air mata beliau pun menetes. Lalu Sa’ad pun bertanya, “Ada apa wahai Rasulullah Saw?” beliau menjawab, “Ini adalah rahmat (kasih sayang) yang telah dijadikan Allah dalam hati para hamba-Nya. Sesungguhnya hamba Allah yang dirahmati oleh-Nya hanyalah orang yang memiliki kasih sayang,” (HR Bukhari dan Muslim)
Atau dalam Al haditsul Qudsiyyah karya Jamal Muhammad Ali Asy-Syuqairi, dari Abdurrahman bin Auf ra berkata, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Allah berfirman, ‘Aku adalah Ar-Rahman (Yang rahmat-Nya meluas) yaitu Ar-Rahim (Yang rahmat-Nya khusus bagi orang-orang yang beriman). Aku ambil dia sebagai salah satu dari nama-Ku. Barang siapa yang menyambungnya, maka Aku akan menyambung hubungan dengannya. dan barangsiapa memutuskannya, maka Aku akan memutuskan hubungan dengannya sama sekali,” (HR Abu Daud)
Mari istiqamahkan diri untuk senantiasa mencintai, berbagi kebaikan dan menebar kasih sayang, agar rahmat Allah selalu tercurah untuk kita. Allahu a’lam.


***) Ina Salma Febriany—(Pusat data  Republika

Rabu, 01 Juni 2016

TARHIB RAMADHAN

Di antara 12 bulan dalam setahun, Allah telah memilih Ramadhan sebagai bulan kemuliaan yang penuh dengan keberkahan. Rasulullah SAW bersabda, "Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah telah mewajibkan kalian untuk berpuasa." (HR Ahmad). Dan, pada Ramadhan, Allah telah memilih satu malam yang nilai kebaikannya melebihi 1.000 bulan. (QS al-Qadr: 3). 
Ramadhan disebut sebagai bulan berkah karena banyaknya kebaikan yang telah ditetapkan Allah di dalamnya. Berkah atau keberkahan berarti menetap (ast-tsubut), bertambah (az-ziyadah), atau berkembang (an-nama'a), yaitu kebaikan dari Allah SWT pada sesuatu. Sesuatu itu bisa berupa harta, pekerjaan, usia, keluarga, anak, hari, bulan, tempat, dan atau kehidupan yang kita lalui. 
Keberkahan pada Ramadhan berarti nilai kebaikan di dalamnya terus bertambah dan berkembang serta mendatangkan kebermanfaatan bagi manusia beriman. Semua itu adalah bentuk rahmat Allah untuk seluruh insan. Seperti, Allah menetapkan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya (permulaan) Alquran sebagai pedoman dan pembeda antara kebenaran dan kebatilan (QS al-Baqarah: 185). 
Allah memilih semua hari pada Ramadhan untuk dipuasakan oleh orang-orang beriman agar meraih ketakwaan. (QS al-Baqarah: 183). Pada Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka. Pintu-pintu neraka ditutup. Dan, setan-setan dibelenggu. (HR Muslim). 
Sungguh ironi. Jika pintu surga telah dibukakan Allah, tetapi kebaikan sebagai jalan mudah memasukinya masih saja enggan dikerjakan. Sungguh ironi. Jika pintu neraka telah ditutup, masih saja ingin membukanya dengan melakukan kemaksiatan. Sungguh bebal saat setan-setan dibelenggu pada Ramadhan agar peluang beramal kebaikan dengan banyak orang beriman dimudahkan, masih saja mencari peluang untuk melakukan kehinaan.
Begitu istimewa dan mulianya Ramadhan, sepantasnyalah Muslimin mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Karena, ada beberapa makna atau pesan dari kegiatan penyambutan (tarhib) Ramadhan itu. Pertama, kegiatan menyambut jelas menunjukkan suasana hati yang penuh harap dan bahagia. Begitulah seharusnya sikap seorang Muslim menjelang kedatangan Ramadhan. Maka, Rasulullah mengajarkan doa dan berdoa, "Ya Allah, antarkan diriku kepada Ramadhan dan antarkan Ramadhan kepada diriku serta terimalah (amalan-amalan) Ramadhan dariku." (HR Abu Dawud).
Kedua, dari sisi yang disambut, yakni Ramadhan, jelas mengindikasikan keistimewaan dan kemuliaan. Ketiga, adanya sikap menyambut menunjukkan komitmen dalam menyikapi Ramadhan. Orang yang tak berminat dengan Ramadhan tak peduli dengan kedatangan Ramadhan. Oleh sebab itu, penyambutan Ramadhan dimaknai sebagai motivasi diri, kesungguhan, kesiapan, dan azam yang kuat untuk kedatangan Ramadhan.
Nabi SAW sebagai teladan sebenarnya telah memberi contoh tuntunan. Di antaranya, Rasulullah jauh hari telah berdoa kepada Allah agar diberkahi pada Rajab, Sya'ban, dan disampaikan usia kepada Ramadhan. 
Istri beliau, Aisyah RA, juga mengabarkan, "Aku belum pernah melihat Rasulullah berpuasa sebelum penuh, kecuali pada Ramadhan. Dan, aku belum pernah melihat Rasulullah lebih banyak berpuasa, kecuali pada Sya'ban." (HR Bukhari). Itulah di antara bentuk komitmen dan persiapan diri Rasulullah menjelang Ramadhan. Semoga menjadi teladan. Wallahu a'lam. 


***) Lidus Yardi---(Pusat Data Republika