Selasa, 31 Mei 2016

MEMULIAKAN PEREMPUAN

Suatu ketika, seseorang melukai kepala seorang budak perempuan dengan batu sampai terluka. Kemudian salah seorang sahabat Nabi SAW menanyai budak wanita tersebut, siapa yang berbuat demikian kejam terhadapnya. Ketika disebutkan nama seseorang yang memukulinya. Wanita tersebut menganggukkan kepalanya. 
Kemudian, orang yang melukai budak wanita tersebut dihadapkan kepada Rasulullah, tetapi ia tidak mengakui perbuatannya sampai waktu yang cukup lama. Tetapi pada akhirnya, ia mengakui perbuatannya dan Rasulullah SAW memerintahkan sahabat untuk menghukum orang tersebut.  
Riwayat dari Anas RA di atas menunjukkan, betapa ajaran Islam sangat memuliakan wanita dengan menjadikannya manusia yang sama kedudukannya dengan laki-laki dalam setiap lini kehidupan, kecuali yang berhubungan dengan tugas, kewajiban, tanggung jawab, dan karier yang tidak sesuai dengan fitrahnya sebagai wanita.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Alquran, "Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," (QS. at-Taubah [91]: 71)
Islam memberikan kemuliaan dan penghargaan yang tinggi kepada kaum wanita. Sebagai contoh, Ummul Mukminin Aisyah RA banyak sekali meriwayatkan hadis yang disertai dengan penjelasannya. Aisyah sering berdiskusi dengan para sahabat Nabi SAW. Beliau juga termasuk yang menjadi salah satu sumber rujukan untuk memahami wahyu dan sunah Nabi.
Oleh karenanya, dalam Islam wanita juga memiliki kewajiban yang sama dengan laki-laki untuk menuntut ilmu sepanjang hayat dikandung badan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, "Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap Muslim laki-laki maupun Muslim perempuan." (HR Ibnu Abdil Barr)
Terkait masalah ekonomi, seorang wanita berhak memiliki harta benda dan menafkahkannya sesuai dengan keinginannya. Tidak seorang pun berhak memaksanya untuk menafkahkan hartanya. Termasuk kerabat dekat dan suaminya sekalipun.
Termasuk memilih pendamping hidup, seorang wanita berhak menolak ketika akan dinikahkan oleh walinya apabila dilakukan tanpa seizinnya. Rasulullah SAW bersabda, "Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya. Seorang perawan dimintakan izin darinya (ketika hendak dinikahkan), sedangkan pertanda izinnya adalah diamnya."
Begitulah Islam memposisikan sosok wanita, sebagai manusia yang sama kedudukannya dengan pria. Dia adalah sosok ibu, saudara perempuan, anak perempuan, dan istri yang harus dihormati dan dihargai keberadaannya. 


***) Muslimin –(Pusat Data Republika

Minggu, 29 Mei 2016

MENJAGA ANAK DAN PEREMPUAN

 Manusia kini sedang dihadapkan dengan persoalan yang seolah-olah tidak merusak iman. Sebagian ada yang menunda menikah karena takut persoalan impitan kehidupan saat menikah. Memilih pacaran dalam waktu yang lama, kemudian menikah. 
Meski satu sisi pacaran itu tak layak secara agama, banyak yang memilih cara ini. Alasannya karena ingin mendekatkan diri dengan keluarga, menunggu agar lebih mampu secara ekonomi, dan banyak lagi alasan. Hingga perintah yang harus disegerakan itu tertunda. Setelah sekian lamanya berpacaran, hingga tak pula menjadi istrinya. 
Sudah melakukan banyak dosa, justru menumpuk pula dosa itu. Fakta ini menjadi realitas dalam lingkungan sosial kini. Seharusnya, alasan tidak menikah bukan karena takut tidak dapat rezeki, melainkan karena belum dapat jodoh pilihan yang sesuai. Proses ini yang akan menentukan banyak atau tidaknya rezeki saat sudah menikah tadi. Saat setelah menikah, banyak pula yang menunda punya anak. 
Akhirnya, kembali diberikan cobaan kemiskinan sebab Allah belum akan melepaskan kemiskinan itu selagi ia menunda mempunyai anak. Alasannya karena ingin santai dan bahagia. Ada juga karena khawatir tidak bisa mengurus anak. Bahagia apa yang dimaksudkan jika tidak punya anak. Justru punya anak perempuan dan laki-laki, kebahagiaan yang memberikan motivasi hidup. Selain ditahan rezekinya, juga diberikan cobaan baru lagi, yaitu tidak punya anak sampai sekian tahun. 
Percayalah bahwa itulah salah satu penyebab mengapa tak dapat anak dan tak pula kaya. Kita tidak bisa berdiam diri atas kelahiran putra dan putri kita. Terbayang selalu wajah senyum mereka di rumah dan merasa bersalah jika tidak memberikan nafkah kepadanya. Seketika itu pula, Allah memberikan jalan terbaik, yaitu menitipkan rezeki istri dan anak kepada kepala keluarga. Terkumpullah menjadi banyak porsi itu jika mau mengejar harta yang disediakan Allah. 
Satu sisi keyakinan ini tidak tumbuh dalam diri manusia kini. Meyakini jika usahanya yang lebih penting. Ia tidak yakin jika ada porsi-porsi rezeki yang dititipkan Allah untuk ditangkap berupa rezeki di permukaan bumi itu. Akhirnya, ia tak sadar jika perbuatannya itu justru membuatnya tertunda menjadi manusia yang terkaya, baik di dunia maupun akhirat. Manusia kaya di dunia karena banyaknya harta yang kita peroleh titipan Allah dari anak perempuan tadi. Banyaknya rezeki dari istri tadi untuk kita. 
Akhirnya, memberikan dorongan bagi kepala keluarga untuk mencari rezeki sebanyak mungkin. Kedua, kita akan dapat pahala yang lebih banyak dengan membesarkan anak perempuan. Hal ini terkait dengan sulitnya menjaganya. Banyak yang menginginkannya di luar sana, baik yang beriman maupun tidak. Banyak pula yang ingin melamarnya. Jika nanti jatuh kepada laki-laki yang tidak benar secara agama, banyak sekali aliran dosa kepada orang tua. 
Mari kita jaga anak perempuan kita dengan baik dan yakin ada rezeki yang lebih banyak dengan membesarkan anak perempuan. Bahkan, jaminan surga bagi kita. Ketiga, berikan hak perempuan, yaitu sekolah. Jangan anggap karena mau mengurus anak sehingga tidak sekolah. Justru karena ingin mendidik anaklah maka perhatikan sekolah anak perempuan. Padanya bertumpu nasib anak-anak pada kemudian hari. 
Itulah kenikmatan yang tertinggi. Dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Anas bin Malik dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Barang siapa dapat mengasuh dua orang anak perempuannya hingga dewasa, aku akan bersamanya pada hari kiamat kelak.' Beliau merapatkan kedua jarinya." 


***) Bahagia –(Pusat Data Republika

Sabtu, 28 Mei 2016

JAMINAN REJEKI


Rezeki adalah segala hal yang dapat dimanfaatkan manusia, baik yang halal atau haram, yang baik maupun yang buruk. Rezeki yang diberikan Allah SWT kepada manusia tidak hanya berupa harta, tetapi meliputi semua karunia dan bakat yang ada pada manusia, seperti ilmu, kecerdasan otak, kefasihan lidah berbicara, dan kekuatan tubuh.
Semua yang tidak dimanfaatkan, meskipun milik kita, belum tentu rezeki kita. Boleh jadi itu rezeki orang lain. Sesuatu baru menjadi rezeki kita apabila dapat kita manfaatkan.
Rezeki yang dimanfaatkan menuju pada tiga arah. Apa yang dimakan akan menjadi kotoran, apa yang dipakai menjadi sampah, dan apa yang disedekahkan menjadi tabungan abadi di akhirat. Rasulullah SAW bersabda, ''Anak Adam berkata hartaku, hartaku. Sesungguhnya harta milik seseorang menuju tiga arah, apa yang dimakan akan lenyap, atau apa yang dipakai akan rusak, atau apa yang disedekahkan akan abadi.'' (HR Muslim).
Semua rezeki datang dari Allah dan Dia menjamin rezeki setiap makhluk, termasuk manusia yang ingkar sekalipun. Allah SWT berfirman, ''Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudh).'' (QS 11: 6).
Meskipun rezeki semua manusia dijamin Allah, tetapi mereka tetap diperintahkan berusaha dan bekerja keras menggunakan ilmu dan keterampilan untuk mendapatkan rezeki tersebut. Allah SWT menilai setiap kerja yang dilakukan manusia. Firman-Nya, ''Dan katakanlah, 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kenakan'.'' (QS 9: 105).
Iman, takwa, dan sikap tawakal yang melekat pada diri seseorang merupakan garansi mendapatkan rezeki dan karunia Allah. Allah SWT berfirman, ''Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.'' (QS 65: 2-3).
Ridho dan syukur terhadap rezeki dan nikmat yang telah diterima dapat mengundang datangnya rezeki Allah lebih banyak dari sebelumnya. Allah SWT berfirman, ''Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'' (QS 14: 7).
Mereka yang selalu memohon ampun dan memperbanyak istighfar kepada Allah atas dosa yang pernah dilakukan membukakan curahan rezeki dari-Nya dengan cara tiada diduga. Rasulullah SAW bersabda: ''Siapa yang senantiasa ber-istighfar, Allah akan melapangkannya dari berbagai kesempitan hidup, akan membebaskannya dari berbagai kedukaan, dan memberinya curahan rezeki dari berbagai arah yang tiada diperkirakan sebelumnya.''
***)Firdaus –(Pusat Data Republika

Kamis, 26 Mei 2016

DUA HIKMAH ISTIMEWA PERISTIWA ISRA MI’RA

 "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjid Al-Haram ke Al-Masjid Al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS Al-Isra [17]: 1).
Setiap tanggal 27 Rajab, umat Islam memperingati peristiwa Isra Mi’raj. Menurut cendekiawan Muslim Prof DR KH Didin Hafidhuddin MSc peristiwa ini adalah peristiwa mukjizat terbesar kedua yang diterima Rasulullah SAW setelah Alquran. Karena itu, maka peristiwa Isra diabadikan dalam Alquran Surat Al-Isra ayat 1. Sedangkan peristiwa Miraj diabadikan dalam Surat An-Najm ayat 13 dan 14.
Ada beberapa hikmah dan pelajaran penting dari peristiwa ini. Yang pertama, kata dia, peristiwa ini adalah menunjukkan ke-Mahakuasaan dan kebesaran Allah. Dia akan mengangkat derajat setinggi-tingginya hamba-Nya yang ingin menjadi Abdullah yakni orang yang mewakafkan dirinya untuk kepentingan agama Allah,'' tandas Direktur Pasca Sarjana UIKA Bogor.
Ia juga mengatakan, Abdullah atau hamba Allah adalah gelar tertinggi yang harus diraih oleh setiap Mukmin. ''Jadi, gelar tertinggi itu bukan profesor atau doktor dan juga bukan kiai, bukan ustaz tapi gelar yang tertinggi adalah menjadi hamba Allah.
Hamba Allah, kata dia, artinya ia hanya ingin dikendalikan oleh Allah SWT. Artinya dia menafikan pengendalian-pengendalian lainnya. Hamba Allah yang baik dia tidak akan dikendalikan oleh harta, oleh jabatan, kedudukan sehingga dia tidak menjadi abdul mal (hamba harta), abdul kursi (hamba jabatan), abdul butun (hamba syahwat), dan lain sebagainya.


***)Pusat Data Republika

Rabu, 25 Mei 2016

IMAN KEPADA YANG GAIB

Salah satu ciri utama orang bertakwa adalah beriman kepada sesuatu yang gaib. ''Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan.'' (QS Al-Baqarah [2]: 3).
Iman kepada yang gaib menjadi syarat fundamental dalam Islam. Keimanan ini berarti percaya seyakin-yakinnya (haqqu al-yaqiin) bahwa ada entitas di luar dunia indrawi. Entitas ini adalah sesuatu yang nyata, bukan sekadar ajaran filosofis abstrak ataupun perumpamaan (majaz).
Tuhan bukannya ajaran filosofis yang muncul dari renungan orang-orang yang kalah (teralienasi) menghadapi realitas kehidupan sebagaimana dituduhkan kaum ateis. Surga dan neraka bukanlah sekadar ajaran penghibur dan alat untuk menakut-nakuti seseorang agar dia tidak berbuat semena-mena.
Tapi, semuanya benar-benar ada (al-haq). Dengan kata lain, orang mukmin wajib meyakini bahwa ada realitas yang tak terjangkau oleh kemampuan manusia. Ada entitas nonlogis di luar daya visual (quwwah an-nadzri) dan daya pikir (quwwah al-fiqri) manusia.
Ajaran inilah yang membedakan Islam dengan materialisme. Angin modernisme yang datang dari Barat (westernisasi) agaknya ingin menggusur akidah Islamiah digantikan dengan akidah jahiliyah ini. Kepercayaan seseorang kepada yang gaib semakin menipis. Mereka terlalu mengedepankan rasionalitas empiris. Dimensi nonmateri dipojokkan dan dituduh sebagai sesuatu yang serba mitos. Orang yang percaya pada sesuatu yang gaib dikatakan sebagai orang yang kurang modern.
Kelompok inilah yang disebut oleh Alquran dengan Al ad-dahr. ''Dan mereka berkata, kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.'' (QS Al-Jaatsiyah [45]: 24).
Kelompok materialis (ahlu ad-dahr) hanya memercayai kehidupan materi. Mereka percaya hanya hukum alamlah yang menyebabkan semuanya hancur. Tak ada kuasa di balik semua yang riil. Keadaan dunia ini tak ada kaitannya dengan dimensi gaib termasuk kuasa Tuhan.
Keimanan seorang mukmin pada yang gaib akan menjadi cara pandang yang membedakannya dengan orang materialis. Keimanan ini menjadi alat kontrol, sehingga akan senantiasa berbuat jujur di manapun berada.
Ia menjadi manusia yang mandiri dan sadar atas dirinya. Komitmennya dalam berbuat baik akan dilakukan kapanpun dan di manapun ia berada. Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang egois, ambisius, dan penuh motif. Keimanan pada hal gaib inilah yang kiranya mampu menepis egoisme manusia sehingga ia berbuat dengan tulus dan ikhlas.


***) Tohirin el Ashry—( Pusat Data Republika

Senin, 23 Mei 2016

GIAT BEKERJA, JALANKAN SUNNAH PARA NABI

Mencari nafkah hidup merupakan perintah agama. Dengan mencari nafkah, atau istilah populernya bekerja, tentu saja yang dimaksud di sini adalah pekerjaan yang halal, seseorang menjadi bisa mandiri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain.
Ketika muda, Rasulullah SAW adalah seorang pekerja yang sangat giat. Beliau menjual jasa menjadi gembala kambing kepada kaum kaya Makkah. Beliau juga menjualkan dagangan milik Khadijah ke Syam, untuk mendapatkan bagi hasil.
Bekerja tidak hanya sunah Rasulullah SAW, tetapi juga nabi-nabi pendahulunya. Misalnya Nabi Daud AS, ia mencari nafkah dari hasil pekerjaan tangannya sendiri, yakni melunakkan besi. Di tangan Daud AS, besi tak ubahnya adonan dan lilin, ia membuatnya menjadi baju zirah (baju besi), kemudian menjualnya ke pasar untuk menghidupi diri dan keluarganya dari hasil penjualannya.
Suatu hari Nabi Sulaiman AS minta ditunjukkan oleh Allah hamba yang lebih bersyukur daripadanya. Allah lalu mengutus Jibril untuk mengajari Sulaiman cara menyepuh perhiasan dengan emas, dan ia membuatnya pada kapak, lalu menjualnya. Begitulah, manusia pertama yang membuat hiasan dengan sepuhan emas adalah Nabi Sulaiman AS.
Allah SWT pun sangat cinta kepada orang yang bekerja. Sebagaimana diriwayatkan Thabrani dalam Al-Kabir, Rasulullah bersabda, ''Allah mencintai setiap Mukmin yang bekerja untuk keluarganya dan tidak menyukai Mukmin pengangguran, baik untuk pekerjaan dunia maupun akhirat.'' Tsabit al-Banani RA, seorang sufi, berkata, ''Telah sampai kepadaku kabar bahwa ampunan terletak dalam sepuluh persoalan: sembilan terdapat dalam sikap diam dan satunya adalah lari dari manusia (uzlah). Ibadah ada sepuluh: sembilan di antaranya dalam mencari penghidupan (bekerja), dan satunya dalam ritual.''
Dalam sebuah hadis riwayat Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, ''Siapa mencari dunia secara halal, membanting tulang demi keluarga dan cinta tetangga, maka pada hari kiamat Allah akan membangkitkannya dengan wajah berbinar layak rembulan bulan purnama.'' (Kitab al-Ittihaf, 5/414).
Sebaliknya, Islam juga sangat menentang sikap meminta-minta. Jabir bin Abdullah meriwayatkan, Nabi bersabda, ''Siapa yang membuka pintu meminta-minta, maka Allah pasti akan membuka pintu kefakiran. Sedangkan siapa yang ber-'iffah (menjaga kehormatan diri, tidak meminta-minta), Allah akan menjaganya. Siapa yang mohon kecukupan kepada Allah, dia akan dicukupkan. Seseorang yang membawa tali ke lembah untuk mencari kayu, kemudian membawanya ke pasar untuk dibelikan satu mud kurma, lebih baik baginya daripada meminta-minta baik ia diberi atau tidak.'' (Lihat, Musnad Ahmad, 2/418, Majma' al-Zawa'id, 3/95).
Meski demikian, Islam di sisi lain mencela orang yang mengabaikan peminta-minta. Sebuah hadis meriwayatkan, sabda Nabi, ''Jika datang peminta-minta, berilah meskipun ia mengendarai kuda.'' Hal ini didukung oleh surat Ad-Dhuha 10, yang melarang kita menghardik dan mengusir peminta-minta. Wallahu a'lam.


***) Sabrur R Soenardi –( Pusat Data Republika

Minggu, 22 Mei 2016

MEMBANGUN KAPAL KEHIDUPA

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. (Luqman: 31).
Pada ayat di atas, Allah SWT memperlihatkan salah satu kekuasaan-Nya berupa kapal yang berlayar di lautan. Kapal itu dapat berlayar mengarungi samudera berkat nikmat dari Allah. Allah memberikan contoh kapal sebagai tanda kekuasaan-Nya untuk kita jadikan pelajaran bagi kehidupan kita.
Perumpamaan sebuah kapal itu dapat dipahami. Bukankah kehidupan kita layaknya mengendarai kapal yang sedang terapung mengarungi samudera kehidupan? 
Sebelum digunakan mengarungi samudera, kapal haruslah dipersiapkan dengan baik. Misalnya, dibuat dengan bahan-bahan berkualitas tingi, yaitu berupa amal saleh (suatu perbuatan yang bukan sekadar baik, tapi perbuatan baik yang sesuai dengan aturan-aturan agama). Kita berusaha memilih perbuatan yang bukan saja baik untuk diri kita, tapi baik untuk kepentingan orang lain.
Kapal juga harus dibangun oleh ahlinya. Bila kapal dibuat oleh sembarang orang, pasti dalam waktu yang tidak lama kapal itu akan rusak dan membahayakan bagi kehidupan kita. Rasulullah SAW pernah berpesan, kalau suatu urusan itu diserahkan kepada seseorang yang bukan ahlinya, maka tunggu saja saat kehancurannya.
Selanjutnya, kapal tadi harus dijalankan oleh seorang yang mengerti cara mengendalikan kapal, tahu ke mana tujuan kapal, memahami seluk beluk samudera yang dilalui, dan menguasai ilmu yang terkait dengan pelayaran. 
Demikian pula kapal kehidupan yang kita bangun, harus dijalankan oleh orang yang baik. Kapal kehidupan yang akan mengantarkan kita pada kehidupan yang kekal dan abadi, tidak mungkin diserahkan kepada seorang pemimpin yang bodoh, egois, dan tiran. Kita mesti memilih pemimpin yang adil, memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, visi dan misi jelas, jujur, dan mendahulukan kepentingan penghuni kapal. 
Dalam mengarungi samudera, para penumpang kapal tidak selamanya berada dalam kondisi yang tenang. Tidak jarang ombak gulung-gemulung menyerang, badai dahsyat menghantam, dan karang tajam menghadang. Dalam kondisi seperti inilah para pemimpin harus mampu menenangkan para penumpang dan menjamin keselamatan mereka. Dalam konteks beragama, penyelamatan penumpang itu, antara lain, dengan menyeru manusia kembali kepada Allah, dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya sedekat-dekatnya.
Bukan hanya dalam kondisi kesempitan, dalam kelapangan pun pemimpin juga terus harus mengingatkan rakyatnya. Sudah menjadi kecenderungan, ketika harta telah diraih, kepandaian telah dikuasai, jabatan dan kekuasaan telah didapat, dan segala nikmat dirasakan, seringkali Allah kita lupakan, ibadah kita ditinggalkan. Kita lupa bersyukur. Kita lupa bahwa kapal kehidupan ini berlayar di atas samudra Allah Sang Maha Kuasa. 


***) Oleh Shobahussurur—( Pusat Data Republika