Senin, 13 Juni 2016

HALUAN NEGARA

Saudaraku, sebuah kapal negara takkan karam hanya karena kurang adidaya atau sumberdaya, melainkan karena terjerumus salah arah.
Agar negara berjalan ke arah benar, warga negara harus mengingat trayek sejarah bangsa. Cara mudah membunuh suatu bangsa dengan jurus menghapus memori kolektifnya.
Di atas jalur sejarah bersama, arah negara dituntun oleh haluan berencana nan menyeluruh berlandaskan nilai dan aturan dasar negara.
Bila Pancasila berisi falsafah dasar, konstitusi mengandung aturan dasar, haluan negara memberi arahan dasar. Kaidah Pancasila dan konstitusi takkan bisa dijalankan secara benar tanpa prinsip-prinsip direktif yang tepat.
Mengembaralah ke seluruh penjuru bumi. Perhatikan tanda-tanda kejatuhan kuasa di segala mancanegara. Kapal kekuasaan yang dikemudikan tanpa konsepsi dan direksi akan tersesat menuju lembah kebinasaan.
Dalam menyusun dan menjalankan haluan negara, anak-anak negeri harus menyalakan cinta negeri di hati.  Mereka bukan cuma penduduk bak penghuni hotel yang menumpang tidur, tanpa merasa memiliki dan merawat. Mereka adalah warga negara peduli sebagai pandu pejuang keselamatan dan kemajuan negara.
Manakala saat ini terdapat tanda-tanda negara berjalan salah arah, pandu pejuang harus merasa terpanggil untuk mengembalikannya ke jalan yang benar dengan mamancangkan kembali marka-marka haluan negara.


***) Yudi Latif—(Republika Online

Sabtu, 11 Juni 2016

MENYEGERAKAN AMAL

Dalam kitab Ihya' Ulumuddin, Imam Ghazali menukil ungkapan Al-Mandzir, "Aku mendengar Malik bin Dinar berkata kepada dirinya, 'Celakalah kamu. Bersegeralah sebelum urusan datang kepadamu. Celakalah kamu. Bersegeralah sebelum urusan datang kepadamu.' Sehingga, ia mengulangi yang demikian itu sampai 60 kali yang aku dengarnya dan ia tidak melihatku."
Tindakan Malik bin Dinar tentu didorong oleh pemahaman yang kuat terhadap perintah Allah Ta'ala agar bersegera dalam beramal (QS Ali Imran: 133-134 dan QS al-Hadid: 21). Kata "segera" berarti tidak bisa dipisahkan dari waktu.  
Ibn Al-Jauzi dalam bukunya Shaid Al-Khatir mengatakan, "Seorang manusia mesti mengetahui nilai dan kedudukan waktu agar ia tak menyia-nyiakan sesaat pun darinya untuk sesuatu yang tak bisa mendekatkan diri kepada Allah." 
Pemahaman mendalam terhadap nilai dan kedudukan waktu menjadikan ulama terdahulu amat selektif dalam memanfaatkan nikmat yang menurut Rasulullah kebanyakan manusia tertipu, yakni waktu. Fudhail bin Iyadh berkata, "Aku kenal orang yang menghitung perkataannya dari minggu ke minggu." 
Kemudian ada Dawud al-Tha'i, meski sedang membuat adonan roti, lisannya tak pernah kering dari ayat-ayat Alquran. "Antara membuat adonan dan makan roti aku telah berhasil membaca 50 ayat."
Suatu hari seseorang berkata kepada Amir bin Abd Qais (55 H), murid dari Abu Musa al-Asy'ari, "Berhentilah, aku ingin berbicara kepada Anda!" Amir bin Abd Qais pun menjawab, "Coba hentikan matahari."
Sikap Amir bin Abd Qais itu menunjukkan bahwa dirinya telah menetapkan beragam amal di setiap pergantian waktu sehingga menjadi tidak mungkin dirinya meluangkan waktu kepada orang yang secara tiba-tiba memintanya untuk berhenti tanpa niat dan tujuan yang jelas.


***) Imam Nawawi—(Pusat Data Republika

Jumat, 10 Juni 2016

ZIKIR TAK SEKEDAR TAHLILAN

 (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring ... (QS Ali Imran 191).
Zikir atau mengingat Allah merupakan aktivitas yang dilakukan terutama oleh hati dan lisan berupa tasbih atau menyucikan Allah Ta'ala, memuji, dan menyanjung-Nya, menyebutkan sifat-sifat kebesaran dan keagungan serta keindahan dan kesempurnaan-Nya. 
Zikir telah menjadi kebiasaan kaum Muslimin dalam mengarungi kehidupan sehari-hari atas dasar kesadaran bahwa itu merupakan perintah Allah dan rasul-Nya.Rasulullah menyebut orang yang tidak mengingat Allah sebagai orang yang mati, "Perumpamaan orang-orang yang zikir kepada Allah dengan yang tidak adalah seperti orang yang hidup dengan yang mati," (HR Bukhari). 
Banyak sekali perintah Allah dan rasul-Nya untuk berzikir di antaranya QS Al Baqoroh: 152. Rasullah bersabda, "Ada dua kalimat yang ringan diucapkan lisan, tetapi berat dalam timbangan dan disukai oleh Allah yaitu, Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil azhim." Dalam hadis lain, “Zikir yang paling utama ialah La ilaha ilallah, sedangkan doa yang paling utama ialah Alhamdulillah." (HR Nasai).
Keutamaan zikir tidak terbatas pada tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir. Setiap orang yang beramal karena Allah, demi menaati perintah-Nya maka, ia disebut zikir kepada Allah SWT. Demikian yang dikatakan oleh Said bin Zubair ra dan ulama lainnya. 
Atha ra berkata, "Majelis zikir adalah majelis halal dan haram yang membahas bagaimana Anda menjual dan membeli, shalat, shaum, menikah, bermuamalah, dan pergi haji." Rasulullah bersabda, "Jika kamu lewat taman-taman surga hendaklah kamu ikut bercengkrama!" Mereka bertanya, "Apa taman-taman surga itu, Ya Rasulullah?" 
Beliau menjawab, "Halaqoh-halaqoh dzikir, karena sesungguhnya Allah SWT mempunyai malaikat yang berkeliling mencari halaqoh-halaqoh zikir, apabila mereka mendatangi orang-orang yang berzikir tersebut akan berhenti dan melingkari mereka". (HR Tirmidzi).
Ibnu Mas'ud ra jika mengucapkan hadis ini, berkata, "Aku tidak maksudkan itu halaqoh-halaqoh yang membahas kisah-kisah, melainkan halaqoh yang membahas fikih." Diriwayatkan oleh Anas ra bahwa maknanya begitu juga.
Dengan demikian, zikirnya seorang Muslim dalam kondisi saat ini adalah tidak sebatas pada ucapan-ucapan tasbih, takbir, tahmid, dan istigfar, tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita dalam setiap aktivitas kita senantiasa terikat pada perintah dan larangan Allah SWT. 
Apalagi dalam kondisi yang serba semrawut dan penuh ketidakjelasan seperti sekarang ini, di mana krisis yang tak kunjung berakhir, kerusuhan, teror, huru-hara, dan pemaksaan kehendak masih terus menghantui dan membayangi kehidupan kita. 
Sudah sepatutnya kita lebih mempergiat aktivitas berzikir. Karena pada hakikatnya semua musibah yang menimpa kita adalah cobaan, ujian, sekaligus azab dari Allah lantaran perbuatan kita sendiri yang tidak bertahkim dan mengatur segala aspek kehidupan kita dengan apa yang diturunkan Allah yaitu Islam.
Allah SWT berfirman: Telah banyak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (Islam). (QS Ar-Ruum: 41). 

***) Tito Adi Dewanto—(Pusat Data Republika

Rabu, 08 Juni 2016

TAK BERLEBIHAN DALAM BERAGAMA

 Anas ra berkisah, ada tiga orang datang menemui istri-istri Rasulullah untuk menanyakan ibadah baginda nabi. Saat diberitahu mengenai ibadah Rasulullah, mereka merasa sangat  kecil. Rasulullah SAW yang sudah dijamin mendapat ampunan dan surga Allah SWT ternyata melaksanakan ibadah 'berat'. Sungguh terasa sangat jauh dibanding dengan mereka.
Orang pertama pun bertekad dan menyatakan akan shalat malam terus menerus. Orang Kedua akan puasa sepanjang tahun tanpa henti. Orang ketiga akan menjauhi perempuan dan tak akan menikah selamanya.  
Ketika mendengar niat ketiga orang itu, Nabi bersabda, “Benarkah kalian yang mengatakan akan shalat malam terus menerus, akan berpuasa setiap hari, dan tidak akan menikah selama hidup? Bukankah, demi Allah, aku orang yang paling takut di antara kalian kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, namun demikian aku shalat malam dan juga tidur, aku berpuasa dan juga tidak berpuasa, dan aku menikahi wanita? Barangsiapa tidak menyukai sunahku maka ia bukan golonganku.” (HR Bukhori dan Muslim).  
Sebagaimana sabda Nabi di atas, kita tidak dibenarkan untuk melaksanakan agama dengan cara yang berlebih-lebihan. Untuk mengukur kadar ibadah yang pas, tentu tidak mudah. Oleh karenanya, di samping memiliki tolok ukur ibadah Nabi, juga harus melihat para sahabat serta sikap toleransi Nabi terhadap apa yang diamalkan para pengikutnya.
Pada waktu berbeda, masih dikisahkan Anas bin Malik, Rasulullah SAW menerangkan tentang laki-laki calon penghuni surga. “Sebentar lagi akan muncul dihadapan kalian salah seorang ahli surga." Ketika diketahui orangnya, seorang sahabat Abdullah bin Amr meneliti dengan bertamu bermalam di rumahnya.
Setelah diamati ternyata ibadah orang itu biasa-biasa saja, bahkan si peneliti sendiri merasa ibadah dia jauh lebih baik. Setelah berdialog dan didalami maka diketahuilah bahwa kelebihannya adalah “tidak pernah berlaku curang” dan “tidak iri” atas kelebihan yang diberikan Allah kepada orang lain. Jadi, kekuatannya ternyata ada pada mental and moral attitude.
Dalam Alquran disebutkan, orang yang berlebih-lebihan dalam beragama dikaitkan dengan doa dan pendekatan diri kepada Allah. Ketika menderita, dia intensif berdoa, tapi saat lapang dia menyimpang.
“Dan, apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. Tetapi, setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan.” (QS Yunus 12).


***) Rizal Fadilah—(Pusat Data Republika

Selasa, 07 Juni 2016

PEMBUNUH YG BEBAS KARENA SHALAT SUBUH

Syahdan, Salim bin Abdullah, seorang ulama tabiin menemui Gubernur Hajjaj bin Yusuf untuk menyampaikan tentang kebutuhan kaum Muslimin. Hajjaj menyambutnya dengan ramah dan memuliakannya.
Tidak lama, beberapa orang dibawa ke hadapan Hajjaj. Rambut mereka kusut dengan wajah pucat. Debu pun menempel di badan. Semua tahanan di belenggu. Hajjaj berkata kepada Salim, “Mereka adalah pemberontak yang telah membuat kerusakan di muka bumi dan menghalalkan darah yang telah Allah haramkan.”
Hajjaj menyerahkan pedangnya kepada Salim sambil menunjuk kepada salah seorang dari mereka. Dia berkata kepada Salim: “Pergilah dan tebaslah lehernya!” Salim menerima pedang dari tangan Hajjaj lalu berjalan mendekati orang yang dimaksud.  
Salim berhenti tepat di depan orang tersebut, lalu bertanya, “Apakah Anda Muslim?” Terdakwa, “Benar saya Muslim. Tapi, apa perlunya Anda bertanya demikian? Lakukan saja apa yang diperintahkan kepada Anda!” Salim, “Apakah Anda shalat Subuh?” Terdakwa, “Sudah saya katakan bahwa saya Muslim. Mengapa Anda masih bertanya lagi?" Salim, “Saya bertanya, apakah Anda shalat Subuh hari ini?” Terdakwa, “Semoga Allah memberimu hidayah. Tentu saya shalat Subuh! Silakan Anda melaksanakan perintah orang zalim itu agar ia tidak murka kepada Anda.” 
Salim berbalik menghadap Hajjaj kemudian melemparkan pedang yang digenggamnya sambil berkata, “Orang ini mengaku sebagai Muslim dan berkata bahwa hari ini sudah shalat Subuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa shalat Subuh, dia berada dalam perlindungan Allah.” Saya tidak akan membunuh seseorang yang berada dalam perlindungan-Nya!”
Hajjaj marah dan berkata, “Kami akan membunuhnya bukan karena dia tidak shalat, tetapi karena dia ikut terlibat dalam pembunuhan khalifah Utsman bin Affan.” Salim menjawab, “Masih ada orang lain yang lebih berhak dari saya dan dari Anda untuk menuntut darah Utsman bin Affan!” Hajjaj terdiam seribu bahasa.


**) Fariq Gasim—(Pusat Data Republika

Senin, 06 Juni 2016

MELAWAN SIKAP PESIMISTIS

Pesimistis adalah melihat alam dengan kebencian dan memandang dunia dengan kemurkaan. Orang yang pesimistis melihat segala sesuatu menjadi hitam. Baginya bunga adalah duri, batang pohon adalah meriam, pohon kurma adalah pohon labu, dan hujan adalah api. 
Orang yang pesimistis itu kerap berkerut dahinya, muram wajahnya, dan sempit hatinya. Dia tidak memiliki harapan, cita-cita, kelapangan, dan kemudahan. Dia memandang bahwa malam akan abadi, kefakiran tidak berakhir, kelaparan akan berlanjut, dan sakit tidak akan sembuh. 
Dalam kamus orang yang pesimistis hanya ada kematian, rasa sakit, kehancuran, kegagalan dan kejatuhan. “Mereka mengira bahwa setiap teriakan keras ditujukan kepada mereka.” (QS. Al-Munafiqun: 4). 
Orang yang pesimistis itu bisa mati berkali-kali dalam sehari. Dia merasa lapar padahal dalam keadaan kenyang. Dia merasa fakir padahal dalam keadaan kaya. Karena dia menaati setan. “Setan itu menakut-nakuti kalian dengan kefakiran dan menyuruh kalian berbuat keji.” (QS. Al-Baqaran 268). 
Kehidupan ini bukan untuk ditakuti, namun untuk dihadapi. Allah SWT sudah menganugerahkan kita perangkat dan fasilitas yang bisa menunjang kita mengarungi derasnya kehidupan. Manusia memiliki akal, kekuatan fisik, dan kemampuan berikhtiar. Namun, semua itu tidak disadari dan disyukuri oleh orang yang bermental penakut. Rasa pesimistis sudah menguasai jiwanya. 
Dalam menghadapi tantangan, hidup itu adalah urusan mau atau tidak mau. Hidup juga perkara berani atau tidak berani. Jadi kemauan dan keberanian itu diperlukan untuk mencapai sesuatu yang diikuti dengan usaha untuk mendapatkannya. 
Caranya dengan mempersiapkan segala hal yang memungkinkan untuk meraihnya dan bila perlu dapat mempercepat tercapainya tujuan tersebut. Orang-orang yang sukses itu menghadapi jalan terjal di medan juang mereka. Musibah yang dideritanya tidak sedikit. Tetapi mereka menghadapinya dengan penuh kesabaran, optimisme tinggi, dan tahan uji. 
Mereka bagaikan sekelompok kafilah yang tengah menyusuri padang pasir yang ditempa terik matahari atau sedang melawan badai gurun. Itulah rahasianya mengapa para pengukir sejarah berhasil mencapai cita-citanya. 
"Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang utama.” (QS. Ali Imran: 186). 
Jadi siapapun dia yang lemah kemauannya, dikuasai oleh pesimistis, akan lemah pula jiwanya. Akan rendah pula martabat kemanusiaannya. Para pesaing akan melesat melewatinya. Akan mudah diombang-ambingkan oleh hawa nafsu. Syetan pun akan mudah menguasainya. Ibarat sebuah bola yang ditendang kesana-kemari sesuai dengan kemauan orang yang mempermainkannya. 
Sebagai khalifah fil ardi, kita dituntut untuk terus bisa survive dalam segala kondisi. Mengingat keadaan sewaktu-waktu bisa berubah. Jangan sampai kita menyerah pada nasib, tunduk pada keadaan. Semangat harus dipupuk. Ilmu pengetahuan hari demi hari harus meningkat. Keterampilan selalu diasah. Dan iman takwa jadi benteng utama. 

***) Habib Ziadi 

Minggu, 05 Juni 2016

PEMBERI UTANG

Permasalahan dan kesulitan ekonomi tak jarang membuat seseorang merasa buntu dan kehilangan arah untuk menemukan jalan keluar. Hingga pada sampai di titik kesulitan materi yang teramat sangat, akhirnya banyak diantara kita yang memilih untuk berutang kepada sesama. Tidak salah memang.
Berhutang diperbolehkkan dalam Islam, bahkan karena tak menghendaki adanya orang yang dirugikan karena praktik hutang piutang, Allah merumuskan adab-adab berutang yang tertuang dalam penghujung surah al-Baqarah ayat 282 bahwa setiap praktik hutang piutang harus dicatat dan disaksikan.
Pencatatan dan persaksian atas transaksi utang piutang dimaksudkan untuk menghindari kekeliruan dan permusuhan yang akan sangat mungkin terjadi. Dengan pencatatan dan persaksian pula, pengutang ingat kembali jumlah utang yang harus ia bayar jika suatu waktu ia lupa. Namun bagaimana, jika yang berutang tidak mampu atau bahkan fenomena yang sering terjadi adalah justeru yang berhutang lebih kasar dan kejam daripada si pemberi hutang?
Karenanya, diperlukan kelapangan hati dan jiwa ketika kita memutuskan untuk memberikan pinjaman kepada orang lain. Pemberi utang juga harus mengetahui betul apakah yang diutangi betul-betul belum mampu membayar, pura-pura tidak mampu atau bahkan tak ada niat untuk melunasi utangnya. Terkait menghadapi orang yang tidak mampu membayar, maka Alquran menganjurkan kita untuk memberi kelapangan.
“Dan jika dia (penghutang) memiliki kesukaran maka berilah penangguhan sampai waktu lapang (mampu membayarnya), dan apabila kalian menyedekahkannya maka itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui,” (Qs Al-Baqarah: 280)
Begitu santunnya anjuran Alquran dalam memberikan pedoman utang-piutang. Selain si pemberi utang dianjurkan untuk memberikan kelapangan (maysarah—kelonggaran waktu atau kesempatan untuk membayar), pemberi hutang juga harus siap jika pada akhirnya harus menyedekahkan uang yang dipinjamnya ketika yang berhutang, akhirnya tidak sanggup membayarnya.
Pertanyaannya; sudah sanggupkah kita mengikuti tuntunan Alquran? Andai saja kita memiliki uang 10 juta lalu dipinjamkan kepada 10 orang dan kesemuanya itu tidak mampu membayar utangnya, mampukah kita ikhlas?
Ketika Hudzaifah dan Abu Mas’ud ra sedang berkumpul, Hudzaifah ra berkata, “Ada seorang laki-laki yang meninggal dan menemui Tuhannya, maka Tuhannya berkata kepadanya, “Apa yang telah kamu perbuat?” Dia menjawab, “Aku belum pernah berbuat kebaikan, melainkan dahulu aku adalah seseorang yang memiliki harta benda. Dengan harta yang kupunya itulah aku biasa memberikan pinjaman kepada orang yang membutuhkan, lalu aku sering memberikan kemudahan dalam pembayaran. Apabila seseorang tidak mampu membayarnya, maka aku membebaskan hutang tersebut,” Maka Allah Swt berfirman, “Berilah kelapangan kepadanya,” Abu Mas’ud berkata, seperti itulah aku mendengar Rasulullah Saw bersabda,” (HR Muslim, Shahih Muslim, Juz 3, No Hadits 1560)
Demikianlah, tidak ada satu perbuatanpun yang luput dari penjagaan Allah. Berapapun nominal yang telah kita keluarkan (pinjamkan) dengan ikhlas, semua itu pasti akan terbalas. Cukup balasan di akhirat sajalah segala amal kebaikan orang-orang baik itu diberikan. Allahu a’lam


***) Ina Salma Febriany