Seorang sufi terkemuka abad kedua Hijriah,
Abu Bakar as-Syibli, semasa hidupnya pernah menulis sebuah syair, ketika ia
berada di pengujung Ramadhan. Tepatnya, kala fajar 1 Syawal tiba. “Jika Engkau
bagiku ialah Id maka tak sebanding Id saat ini. Rasa cinta kepadaMu di hatiku,
terus mengalir. Laksana air di kecapi.”
Sebulan penuh umat Islam melewati
Ramadhan. Bulan ini diposisikan sebagai Kawah candradimuka, tempat penempaan
spiritual umat Muslim. Bentuk penggemblengan itu beragam, baik bentuk ataupun
dimensi ibadahnya. Ada yang bersifat sangat individual, hanya menyentuh wilayah
privat. Sebagiannya lagi, masuk pada ranah ibadah sosial.
Kini, Idul Fitri hadir, kembali menyapa
kita. Benarkah kedatangannya berarti puncak kemenangan? Justru tidak. Di
sinilah, keberhasilan dari rangkaian ritual sepanjang Ramadhan akan dibuktikan.
Idul Fitri bukan akhir segalanya.
Ia sekadar tempat rehat, momentum
mengembalikan kesucian diri. Menyegarkan kembali semangat dan ghirah untuk
berbuat lebih baik lagi. Dan, menanggalkan segala bentuk tindakan keji, zalim,
dan perbuatan nista. Kembali ke fitrah, baik dalam konteks pribadi, sosial,
maupun hidup berbangsa dan bernegara.
Idul Fitri bagi individu adalah evaluasi
dan introspeksi menuju pribadi yang bertakwa. Minimal, implikasinya bisa diukur
dengan adanya perubahan nyata dalam kesehariannya. Ia mestinya menjadi figur
yang tidak mencederai orang lain, baik secara lisan, perbuatan, ataupun sikap
sikapnya dalam berinteraksi. Sebab, disesuaikan dengan posisi dan tanggung
jawab yang diemban.
Pemimpin yang lulus Ramadhan, misalnya, tak
akan gampang mengumbar janji, mengeluarkan pernyataan, dan tak mempermainkan
amanah rakyat. Pemimpin yang sukses menangkap pesan Idul Fitri akan berani
bertindak tegas dan bersikap antikezaliman dan penyelewengan, apa pun bentuk
dan motifnya. Karena ia kembali ke fitrah sebagai pengemban amanah.
Sebagai makhluk sosial, Idul Fitri
mengingatkan kita terhadap keberadaan entitas lain. Mengetuk kepedulian sosial,
mengunggah empati, dan mengajak kita untuk segera berbuat sesuatu. Di luar
sana, masih banyak saudara kita yang hidup di bawah garis kemiskinan. Sedikit
perhatian kita akan meringankan beban derita yang mereka rasakan.
Dalam konteks berbangsa dan bernegara, Idul
Fitri adalah saat yang tepat untuk meneguhkan kembali komitmen nasionalisme dan
menguatkan konsistensi terhadap penegakan hukum. Karena, idealnya,
spiritualitas yang terbarukan akan mendorong rasa malu. Malu tidak mandiri dan
berdikari, malu mengekor ke pihak asing, malu main mata antarpenegak hukum, dan
malu mengambil hak oran lain.
Jika menurut as-Syibli, kecintaan
terhadapNya adalah hakikat Idul Fitri telah menguasai dirinya. Maka, siapa pun
yang mengaku cinta pada seseorang, ia akan menuruti apa pun yang dititahkan dan
menjauhi segala yang dilarang.
Bukan Idul Fitri namanya bila lepas
Ramadhan, nafsu dan syahwat kekuasaan, angkara murka, atau kenistaan lainnya,
justru kembali bahkan lebih menggila. Karena, menurut Hasan al-Bashri, tiap
hari adalah Idul Fitri, dengan catatan selama kemaksiatan tidak dilakukan
seperti maksiat diri, maksiat sosial, dan maksiat dalam berbangsa dan
bernegara.
(Da'wah, hidayah, keyakinan, sabar, syukur, takwa, )
***)republika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar