Senin, 07 September 2015

PESAN PENTING IBADAH HAJI

Seorang ulama salaf bernama Abdullah bin Mubarak sempat tertidur di Baitullah tidak jauh dari Ka'bah, usai menjalankan ibadah haji. Dalam mimpinya, ia melihat dua malaikat turun dari langit menuju tempat tawaf.
Salah seorang malaikat itu bertanya, "Berapa orang yang berhaji tahun ini?" "600 ribu orang," jawab malaikat kedua. "Berapakah yang diterima hajinya?""Tidak seorang pun!" jawab malaikat kedua. "Tidak seorang pun?" malaikat pertama seakan tidak percaya.
Malaikat kedua berkata lagi, "Tetapi, seorang tukang sol di Damaskus bernama Muwafiq yang tidak jadi berhaji justru diterima hajinya oleh Allah dan berkah dari diterimanya hajinya ini diterimalah semua ibadah haji pada tahun ini."
Abdullah segera terbangun dan terheran-heran dengan mimpi yang dialaminya. Ia berupaya membuktikan adanya seorang tukang sol yang bernama Muwafiq. Dari Makkah, ia langsung memacu tunggangannya menuju Damaskus di Syam. Setibanya di sana, ia mencari tahu tentang Muwafiq.
Awalnya, ia tidak melihat sesuatu yang istimewa pada diri Muwafiq. Hanya seorang lelaki sederhana, bahkan cenderung miskin. "Kebaikan apakah yang engkau kerjakan sehingga engkau memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah?" tanya Abdullah.
"Ada apakah gerangan? Tiba-tiba engkau menemuiku dan bertanya seperti itu?" tanya Muwafiq.
Abdullah lalu menceritakan mimpinya. Mata Muwafiq tampak berkaca-kaca penuh haru dan ia hanya bisa mengucap hamdalah sebagai ungkapan rasa syukurnya. Muwafiq bercerita kalau sejak lama ia sangat ingin berhaji. Tetapi, karena keadaannya miskin, ia harus menabung dan menyisihkan penghasilannya selama bertahun-tahun.
Tahun ini, ia telah mengumpulkan 300 dirham, cukup untuk perjalanan hajinya dan bekal kehidupan keluarga yang ditinggalkannya. Suatu ketika, istrinya yang sedang hamil mencium bau masakan dari rumah tetangganya.
Layaknya seorang hamil muda yang ngidam, ia sangat ingin merasakan masakan tetangganya tersebut.
Dengan berat hati, Muwafiq mendatangi rumah tetangganya tersebut yang ternyata adalah seorang janda dan anak-anak yatimnya. Begitu dibukakan pintu, Muwafiq berkata, "Wahai ibu, istriku sedang hamil dan ia membaui masakan engkau dan ingin merasakannya. Bolehkan aku meminta sedikit saja untuk memenuhi keinginannya?"
"Wahai Muwafiq, makanan itu halal bagiku, tetapi haram bagi engkau!""Mengapa demikian?\" Tanya Muwafiq. Wanita janda itu menceritakan bahwa hidangan yang dimasaknya adalah keledai yang telah mati. Ia terpaksa melakukannya anak-anaknya sedang kelaparan.
Muwafiq segera pulang dan memberikan tabungannya kepada janda tersebut. "Nafkahilah anak- anak yatimmu itu dengan uang ini." "Sesungguhnya haji berada di pintu rumahku!"
Kisah ini mengajarkan kita tentang ketulusan, keikhlasan, dan rasa kemanusiaan Muwafiq terhadap tetangganya yang sedang membutuhkan. Seorang Muslim hendaknya meneladani Muwafiq dengan memperbaiki dan memperhatikan kondisi kemanusiaan lingkungan sekitarnya sebelum melaksanakan haji.
Apalah artinya kita mampu melaksanakan ibadah haji tenang dan khusyuk, sementara saudara di sekeliling kita masih dalam kondisi kelaparan, masih merasa tersakiti dan terabaikan karena perilaku kita. Memperbaiki ibadah sosial dengan tetangga adalah sesuatu yang utama sebelum melaksanakan ibadah haji.
Rasa kemanusiaan yang demikian menjadi salah satu pesan penting dari setiap ibadah ritual, termasuk ibadah haji. Wujud rasa kemanusiaan dan persaudaraan itulah yang juga disimbolkan dalam salah satu bagian ibadah haji, yaitu kondisi kebersamaan umat Islam di Mina, Arafah, dan Muzdalifah. Ritual itulah yang mengajarkan makna kesejajaran, persaudaraan, dan kemanusiaan dalam kehidupan. Wallahu'alam bish shawab.
(Da'wah, hidayah, takwa, )


***) Muqrobin

Minggu, 06 September 2015

KESALEHAN EKOLOGI IBADAH HAJI

KESALEHAN EKOLOGI IBADAH HAJI
Haji merupakan salah satu ibadah yang mengajarkan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan. Salah satu larangan dalam ibadah haji adalah mencabut atau memotong tanaman dan berburu. Larangan ini agar jamaah haji memiliki kesalehan ekologi dan selalu berwawasan lingkungan.
Manusia cenderung melakukan eksploitasi dan merusak lingkungan hidup daripada menanam dan menjaga kelestariannya. Karena itu, kecerdasan lingkungan bangsa kita idealnya semakin tinggi karena jumlah jamaah haji dan "lulusan Tanah Suci" setiap tahun terus meningkat. Sepulang haji, para hujjaj diharapkan menjadi pelopor pendidikan lingkungan, penegak pola hidup bersih, penggerak penghijauan, pelestari lingkungan, dan sebagainya.
Dengan berlatih hemat air di Tanah Suci yang gersang dan panas, jamaah haji semestinya memiliki kesadaran lingkungan agar memedulikan saluran air, tidak membuang sampah sembarangan, kelancaran drainase, sekaligus berkomitmen menghijaukan pekarangan rumah, dan sekitarnya. Pendidikan ekologi yang digerakkan oleh lulusan Tanah Suci pasti akan semakin efektif jika dibarengi refleksi dan spirit mengambil hikmah dari banjir bandang, rob, tanah longsor, tsunami, musim kemarau panjang, dan sebagainya.
Dengan belajar dari penghijauan di padang Arafah, jamaah haji juga berkomitmen mengampanyekan penanaman pohon atau gerakan reboisasi. Nabi SAW pernah melarang umatnya menebang pohon, lebih-lebih pohon itu berfungsi sebagai tempat berteduh manusia atau hewan. (HR Abu Dawud).
Islam juga memerintahkan kita untuk memanfaatkan lahan produktif untuk bercocok tanam, bertani, dan peningkatan produksi bahan pangan. Karena itu, kita dilarang menelantarkan lahan produktif agar berfungsi optimal dalam memberi nilai manfaat bagi umat manusia. (HR al-Bukhari dan Muslim).
Karena itu, menanam pohon, tumbuh-tumbuhan, tanaman buah, dan sebagainya yang memberi nilai manfaat sangatlah penting bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk lain. Bahkan, jika tanaman itu dimakan burung, binatang, atau manusia, buah tanaman yang dimakan itu dinilai sebagai sedekah. Dengan memanfaatkan lahan produktif, kelestarian lingkungan menjadi terjaga sekaligus memberi nilai tambah bagi ketahanan pangan dan keseimbangan ekosistem.
Ibadah haji juga mengajarkan prinsip hidup penuh keberkahan, kasih sayang, dan ampunan dari Allah SWT. Prinsip sosial ini sangat penting dimanifestasikan dalam pemeliharaan lingkungan. "Ada golongan hamba yang pahalanya terus mengalir, sementara ia telah berada dalam kubur setelah kematiannya, yaitu orang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanam pohon, membangun masjid, mewariskan mushaf, dan/atau meninggalkan anak yang selalu memintakan ampun orang tuanya setelah kematiannya." (HR al-Baihaqi, Ibnu Abi Dawud, al-Bazzar, dan ad-Dailami).
Ketika hendak pergi ke medan perang, Nabi SAW selalu berpesan kepada pasukannya untuk tidak membuang kotoran (sampah) di tempat aliran sungai, tidak menebang pohon tanpa alasan, dan tidak buang air kecil atau air besar di bawah pohon yang biasa dilewati atau digunakan manusia berteduh. Etika Islam dalam perang ini paralel dengan etika tamu Allah yang berhaji di Tanah Suci.
Jadi, pendidikan ekologi merupakan bagian integral dari ritualitas ibadah haji yang sudah semestinya mendapat perhatian serius dari semua jamaah haji. Esensi pendidikan ekologi yang dipesankan adalah menjaga, melestarikan, mengelola, memperbaiki, dan mendayagunakan lingkungan seoptimal mungkin untuk kesejahteraan hidup manusia, harmoni terhadap alam raya, sekaligus memberikan kenyamanan dalam beribadah dan mewujudkan masa depan yang lebih baik. Dengan demikian, salah satu indikator kemabruran haji adalah seberapa besar alumni Tanah Suci peduli terhadap pendidikan ekologi demi kemaslahatan umat manusia.
(Da'wah, hidayah, keyakinan, sabar, syukur, takwa, )


***) Muhbib Abdul Wahab

Sabtu, 05 September 2015

BELAJAR ILMU HIKMAH

BELAJAR  ILMU HIKMAH
Thalut diragukan kemampuannya ketika melawan Zhalut. Anak muda yang saleh dari bani Israil ini dianggap tak memiliki apa- apa. Umatnya bahkan menelisik dengan nada mengejek, "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan darinya sedangkan dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?"
Umat bani Israil itu sering aneh dan tak pandai bersyukur. Pascawafatnya Musa AS dan Yusa bin Nun hingga kehadiran pemimpin mereka bernama Shamil, mereka sesungguhnya kehilangan tonggak kepemimpinan yang memberi arah jalan.
 
Mereka meminta kelahiran sosok pemimpin baru untuk melawan rezim Amaliqah. Lalu, Tuhan mengirim Thalut. Dia hanya penggembala miskin, padahal yang diharapkan ialah pemimpin keturunan Lawi bin Ya'kub atau Yahuza bin Ya'kub.
Namun, Tuhan memberi ilmu dan hikmah kepada Thalut. Akhirnya, dengan izin Allah, Thalut mampu mengalahkan Zhalut sang perkasa dari negeri Amaliqah sebagaimana dikisahkan dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 246-248.
Insan beriman niscaya belajar banyak rahasia hidup dengan radar iman dan ilmu yang melampaui. Belajar ilmu hikmah untuk membaca ayat- ayat kauniyah Tuhan yang sering kali penuh misteri dalam hidup di semesta raya ini.
 
Alquran mengungkap kisah-kisah sarat hikmah, seperti Ashab al-Kahfi, Lukman al-Hakim, Dzulqarnain, pertemuan Musa dan Khidir, Ibrahim dan Ismail berkurban, dan banyak lainnya sebagai ibrah.
Membacanya tidak memadai hanya dengan nakar verbal dan instrumental. Manusia beriman, siapa pun dia, sikap hidupnya tentu bukan sekadar berwawasan duniawi atau indrawi belaka. Dunia sendiri disebut Tuhan al-mata al-ghurur, penuh senda gurau, dan permainan. Kejayaan duniawai tetap nisbi dan tak pernah absolut.
Kehebatan manusia siapa pun dia memiliki batas lebih dan kurang. Di dalam kelebihannya terdapat kekurangan dan dalam kelemahannya tersimpan kekuatan. Fir'aun yang superperkasa pun memiliki kelemahan, dia sepanjang hayatnya dibayang-bayangi ketakutan sosok bayi laki-laki yang akan merenggut kedigdayaannya.
Ilmu manusia itu terbatas, betapa pun ia merasa hebat. Apalagi, sekadar ilmu akademik. Allah SWT dalam surah al-Israa'ayat 37 mengingatkan kaum beriman agar tidak arogan. Manusia sombong itu, menurut sabda Nabi, memiliki dua sifat, bathar al-haqq wa ghamthu al-nas, yakni suka menolak kebenaran dari orang lain dan merendahkan sesama. Baru memperoleh ilmu dan merambah dunia sebahu, sudah bertepuk dada seolah setinggi langit. Padahal, di atas langit ada lagi langit.
Belajarlah ilmu hikmah bersama agar semakin tinggi kian merunduk. Hikmah adalah pengetahuan dan kebaikan yang melampaui batas syariat menembus titik hakikat dan makrifat. Hikmah menembus jiwa dan makna ihsan ke jantung terdalam.
 
Mereka yang diberi ilmu minus hikmah, seperti Musa, kala muda yang merasa serba tahu, tetapi akhirnya terpaksa harus belajar kepada Khidzir yang ilmunya menembus batas cakrawala yang tak terjangkau nalar verbal. Berilmu plus hikmah akan melahirkan kecerdasan yang arif mencerahkan.
Hikmah diraih karena berkah Allah. Difirmankan, yang artinya "Allah memberikan hikmah kepada sesiapa yang dikehendakinya. Dan, barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebaikan yang banyak." (QS al- Baqarah: 269). Lukman al-Hakim juga satu di antara hamba Allah yang diberi hikmah yang dari dirinya lahir banyak kebaik an dan suri teladan bagi kehi - dup an, bak pelita di tengah kegelapan.
Berilmu semestinya naik tangga menuju ilmu berhikmah bukan sekadar ilmu verbal dan instrumental. Banyak orang berilmu, tetapi ilmunya tak mence - rahkan sekitar, bahkan tak mampu menerangi dirinya. Mereka yang berilmu tinggi pun tak jarang tersesat arah jalan sehingga mengalami disorientasi hidup.
Apalagi, baru ilmu sejengkal yang menyentuh kulit luar. Mereka sering merasa benar di jalan sesat. Maka, untuk apa merasa digdaya dengan ilmu dan segala atribut kuasa yang dimiliki manakala tak mampu membuahkan hikmah dalam kehidupan?
Banyak hal dalam hidup ini menj adi berantakan dan salah kaprah karena manusia kehilangan hikmah. Politik dan segala aktivitas perebutan akses kehidupan di manapun menjadi serbagarang karena minus hikmah. Hanya karena satu posisi yang tak seberapa manusia beriman sering saling mengancam dan menerkam sesama.
Merasa hebat, namun kerdil. Merasa menjadi pewaris para Nabi pun sekadar baju luar, minus ilmu hikmah untuk mengajarkan se gala kearifan hidup. Akhirnya, ma nusia bisa saling memangsa da lam hukum homo homini lopus.
Nilai autentik Belajar kepada Lukman al- Hakim, Khidhir, Dzulkarnain, lebih-lebih kepada para Nabi dan Rasul kekasih Allah sungguh tak mudah. Juga kepada para sosok- sosok saleh dan cerdas di manapun tempatnya yang menyiramkan benih-benih kebaikan semesta.
Menyerap serbuk kebajikannya pun boleh jadi merupakan suatu pendakian yang sangat berat. Apalagi, untuk meneladani para Nabi dan Rasul dalam seluruh gerak hidup selaku insan beriman yang sering tersandera oleh banyak topeng dan kepentingan-kepentingan serbainstan yang menyala-nyala.
Maka, menjadi penting mem bangkitkan api iman yang autentik berbingkai hikmah sebagai sikap Muslim yang hanif di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang sering kali membuat diri mengalami disorientasi dan sesat jalan. Setiap hari seorang Muslim berdoa, "Tunjukkan kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat." (QS al-Fatihah: 6-7).
Doa itu selain membuka pintu berkah dan perkenan Tuhan, sesungguhnya menularkan energi positif untuk menjalani hidup dengan nilai- nilai ruhaniah yang berwawasan hikmah. Boleh jadi hidayah iman dan Islam dalam makna verbal selalu melekat dalam diri setiap Muslim.
Namun, tak tertutup kemungkinan jalan hidupnya berbelok arah karena iman dan Islamnya tak menghunjam ke kalbu terdalam dan mem buah - kan ihsan serbakebaikan. Iman dan Islam yang harus menjadi - kan setiap insan Muslim berada di jalan lurus dan berperilaku serbabajik yang menyebarkan kesalehan di manapun berada.
Keberimanan dan keberislaman yang benar-benar menampilkan sikap hidup yang tulus, jujur, amanah, damai, welas asih, rendah hati, toleran, dan memuliakan sesama tanpa diskriminasi. Bukan keimanan dan keislaman dalam pesona lisan, teori, dan retorika yang biasanya jauh lebih indah ketimbang aslinya.
Ketika nilai iman dan Islam yang autentik melebur dalam diri insan Muslim, luruhlah kesombongan, keserakahan, ajimumpung, culas, kekerdilan, dusta, nifaq, dan segala penyakit diri. Bersamaan dengan itu diri menjelma menjadi sosok berperangi ihsan yang menyebarkan segala benih kebaikan dalam bingkai Nur Ilahi yang menyejukkan lingkungan kehidupan di sekitar.
Pada titik inilah setiap Muslim mikraj ruhaniah dari sekadar manusia biasa menjadi insan fiahsani at-taqwim yang berperangai utama. Dalam tarikan napasnya selalu ingin menggapai keutamaan hidup yang hakiki melampaui segala penjara duniawi yang indrawi.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, takwa,)


***) Haedar Nashir

Jumat, 04 September 2015

EMPAT ETIKA TAMU ALLAH

Sejak 21 Agustus 2015 calon jamaah haji (calhaj) Indonesia mulai diberangkatkan ke Tanah Suci. Mereka dalam Islam dinilai sebagai orang-orang terpilih yang memiliki kesempatan menjadi tamu Allah di rumah-Nya. Mereka adalah orang-orang yang beruntung karena termasuk salah seorang dari 186.800 calhaj Indonesia yang tahun ini berhak menyandang predikat tamu Allah. Maka, bersyukurlah.
Bentuk syukur yang selayaknya dilakukan bukan sekadar mengundang keluarga besar, handai tolan dan sebagainya dalam rangka kenduri keberangkatan (bagi Anda yang melaksanakannya). Tetapi, jauh lebih penting mempersiapakan diri menjadi tamu Allah yang paham akan etika/adab saat berada di Tanah Suci selama musim haji.
Boleh jadi, jamaah calhaj Indonesia sudah dibekali dengan hal-hal pokok yang selayaknya dilakukan oleh mereka sejak keberangkatan ke Tanah Suci hingga kembali ke Tanah Air. Misalnya, mereka telah diajarkan untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa dan negara Indonesia selama di Arab Saudi.
Umumnya calhaj Indonesia telah mendapat bimbingan saat mereka mengikuti manasik di kabupaten/kota masing-masing. Misalnya, tentang berdoa ketika naik kendaraan, memasuki Kota Mekkah dan Kota Madinah, memasuki Masjidil Haram, dan saat melihat Ka'bah/Baitullah. Juga, berdoa ketika memasuki Masjid Nabawi dan berziarah ke makam Rasulullah SAW dan seterusnya.
Namun, kenyataannya, berdasar pengalaman musim haji sebelumnya, masih banyak calhaj Indonesia yang seolah-olah tidak menyadari bahwa dirinya tamu Allah. Hal tersebut boleh jadi karena mereka belum mendapatkan penjelasan yang memadai saat mengikuti manasik dan/atau pembimbingan dari KBIH (kelompok bimbingan ibadah haji).
Pertama, banyak jamaah perempuan yang menempati shaf shalat jamaah laki-laki. Padahal, di Masjidil Haram sekali pun, sebaiknya jamaah perempuan dan jamaah laki-laki itu terpisah tempatnya, terutama pada saat shalat berjamaah.
Kedua, banyak jamaah yang memaksakan diri, dahulu-mendahului saat tawaf dan/atau saat sa'i. Tidak jarang terjadi desak-desakan dan sikut-sikutan. Lebih jauh, banyak jamaah yang memaksakan diri untuk mencium Hajar Aswad. Padahal, hukum menciumnya adalah sunah.
Ketiga, banyak jamaah dengan seenaknya masuk Masjidil Haram dan Masjid Nabawi tanpa "mematikan" telepon selularnya. Padahal, di sekitar dua masjid tersebut sudah ada tulisan berjalan (running text) yang mengingatkan jamaah untuk "mematikan" telepon selular.
Keempat, banyak jamaah yang memotret aktivitasnya saat berada di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Bahkan, banyak jamaah yang "berani" memotret saat imam sudah memulai shalat berjamaah.
Kelima, banyak jamaah yang ketika sedang berada di Tanah Suci perilakunya tetap tidak berubah, persis seperti kebiasaannya di Tanah Air. Misalnya, ngobrol ngalor-ngidul tanpa kontrol. Berkaca pada pengalaman musim haji sebelumnya, kita harus terus belajar menjadi tamu Allah yang beretika. Semoga.
(Da'wah, hidayah, keyakinan, sabar,takwa, )


***) Mahmud Yunus

Kamis, 03 September 2015

SIAPAKAH YANG PALING BERAT CBAANNYA ?

Suatu hari seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya?" Beliau SAW menjawab: "Para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian yang sesudah mereka secara berurutan berdasarkan tingkat kesalehannya. Seseorang akan diberikan ujian sesuai dengan kadar agamanya. Bila ia kuat, ditambah cobaan baginya. Kalau ia lemah dalam agamanya, akan diringankan cobaan baginya. Seorang mukmin akan tetap diberi cobaan, sampai ia berjalan di muka bumi ini tanpa dosa sedikit pun." (HR Bukhari).
Hadis di atas menunjukkan bahwa kadar cobaan berupa musibah yang diberikan Allah SWT itu bertingkat. Semakin tinggi tingkat keimanan, semakin berat ujian yang dialami. Sejatinya cobaan itu merupakan proses penguatan iman dan ketakwaan. Maka, bersabarlah dan terimalah dengan segala keikhlasan apa yang terjadi. Tidak perlu segala cobaan itu disikapi berlebihan. Tafakuri dan temukan hikmah dari setiap ujian.
Sikap ikhlas atas kehendak-Nya dan menafakuri apa yang dialami, akan memberikan pengalaman spiritual yang luar biasa dan menjadi bekal dalam menjalani kehidupan. Kehidupan adalah sekolah, nilainya ditentukan seberapa hebat tingkat kesabaran, keikhlasan, keimanan, dan ketakwaannya. Tidak ada sesuatu pun yang tak bernilai, semuanya memiliki tujuan. Dan bagi mereka yang mampu mengambil pelajaran, kemuliaan hidup yang akan didapatkan.
Apabila saat ini kondisi ekonomi terasa sangat berat, rupiah yang terpuruk hingga nilai tukarnya terhadap dolar AS mencapai Rp 14 ribu, tetaplah bersyukurlah. Sebab, Indonesia masih aman, jauh dari kondisi perang. Bisa dibayangkan, dalam kondisi perang, bukan hanya mahal, tapi kehidupan menjadi sulit.
Apabila kita tengah menghadapi kebangkrutan usaha, utang menggunung, tetaplah berusaha dan bersyukur karena Allah tidak membangkrutkan iman dan ketakwaan kita. Bangkrut di dunia ini lebih baik daripada bangkrut di akhirat nanti.
Apabila ada salah satu anggota keluarga kita yang sedang sakit, kecelakaan, atau bahkan meninggal, ikhlaslah dan sadari bahwa tak ada sesuatu pun di dunia ini yang bukan atas kehendak-Nya. Tak ada sesuatu apa pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Kehidupan dunia ini sesungguhnya ladang amal saleh, mengumpulkan bekal untuk kehidupan abadi kelak.
Apabila kita tengah dilanda musibah, anak tidak bisa diatur karena kenakalannya, atau sedang ingin memiliki anak, sudah belasan tahun belum juga diamanahi oleh-Nya, tetaplah berbaik sangka kepada-Nya. Doa dan ikhtiar jangan kendur, terus berusaha dan percayakan bahwa Tuhan akan memberikan kita apa yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan.
Ujian dan cobaan di dunia merupakan keniscayaan, siapa pun tidak bisa menghindarinya. Ibarat pelangi yang menjadi warna-warni kehidupan. Dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 155 disebutkan, "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."
Sabar dan bijak dalam menghadapi cobaan dari Allah tidak mudah untuk dilakukan. Ikhlas menerima ketentuannya, akan memberikan kekuatan jiwa dan pahala. Dalam surah az-Zumar ayat 10 disebutkan: "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."
Penyakit, kesulitan hidup, kehilangan orang yang paling disayangi, dan bencana merupakan bagian dari skenario indah Tuhan untuk menaikkelaskan derajat kita. Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah segala sesuatu yang menimpa orang beriman dari kesusahan, sakit, kegundahan, kesedihan dan gangguan, hingga duri yang menusuknya, kecuali Allah menggugurkan kesalahannya dengan semua itu."  Wallahu'alam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan takwa., sabar, syukur., takwa, )

***) Lu Rusliana

Rabu, 02 September 2015

JANGAN SOMBONG

Setiap orang yang pergi haji mempunyai pengalaman masing-masing yang khas. Hal itu pun dirasakan oleh Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS.
Hingga saat ini, guru besar manajemen pembangunan pesisir dan lautan IPB Bogor itu sudah dua kali menunaikan ibadah haji dan enam kali umrah. "Pengalaman yang paling berkesan saat saya pertama kali menunaikan ibadah haji tahun 1994," kata Rokhmin Waktu itu, pria kelahiran Kampung Nelayan, Cirebon, 16 November 1958  itu adalah dosen muda di Fakultas Perikanan IPB Bogor. Ia baru pulang dari Kanada untuk menyelesaikan kuliah S3 di School for Resources and Environmental Studies, Dalhousie University, Halifax, Nova Scotia, Kanada, tahun 1991.
"Saya ikut haji reguler. Lamanya 40 hari," kata lelaki yang menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 di IPB Bogor.
Berhaji ikut rombongan reguler, kata suami Pigoselpi Anas itu, banyak kenangannya. "Kamar penginapan ukurannya kecil untuk enam orang sehingga kami harus berdesak-desakan. Kamar mandinya untuk 20 orang sehingga harus antre," kata mantan menteri kelautan dan perikanan pada era Presiden Megawati itu.
Jarak penginapan ke Masjidil Haram cukup jauh, yakni tiga kilometer sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk berjalan pergi dan pulang ke Masjidil Haram. "Kami tiba di penginapan pukul sebelas malam. Pukul dua dini hari sudah harus bangun kembali. Antre ke kamar mandi kemudian jalan kaki ke Masjidil Haram," ucap ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu.
Kondisi yang cukup berat tersebut, apalagi banyak jamaah haji dalam rombongan Rokhmin yang baru pertama kali ke luar negeri. Tak heran kalau akhirnya banyak yang terkena penyakit flu dan pilek. "Orang sering bilang, hanya unta yang tidak pilek dan batuk di Tanah Suci. Meskipun itu mungkin bernada bercanda, ada benarnya," kata Rokhmin, Ketua Umum Gerakan Nelayan dan Tani Indonesia (GANTI), PDI Perjuangan itu.
Salah satu kenangan yang selalu diingat oleh Rokhmin dari pengalaman haji pertama kali adalah tidak boleh sombong di Tanah Suci. Ayah empat putri itu menceritakan, ada salah seorang jamaah yang menyombongkan diri, tidak mau berusaha mencium hajar aswad, walaupun mencium hajar aswad merupakan hal yang disunahkan. "Untuk apa mencium hajar aswad? Dia kan cuma sebuah batu?" ujarnya dengan nada sombong seperti ditirukan Rokhmin.
Ternyata kesombonannya itu langsung dibalas oleh Allah SWT. "Pulang dari Masjidil Haram, di tempat penginapan, dia berkali-kali menciumi toilet. Setelah dia sadar dan beristighfar, baru dia berhenti menciumi toilet tersebut. Subhanallah. Ternyata kalau berada di Tanah Suci, kita memang tidak boleh sombong," kata Rokhmin yang juga ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Maritim dan Perikanan.
Siapa pun yang sudah berhaji, kata Rokhmin, niscaya bisa merasakan atmosfer yang berbeda manakala shalat di Masjidil Haram (Makkah) dan Masjid Nabawi (Madinah). Di Masjidil Haram, orang harus berebutan dan datang secepat mungkin agar mendapatkan barisan yang di depan.
Sedangkan di Masjid Nabawi, kata Rokhmin, suasananya jauh berbeda. Atmosfernya hangat dan tenang. Para jamaah semuanya kalem, tidak berebutan, dan tidak berdesak-desakan. "Kalau kita perhatikan filosofinya, ternyata memang hal tersebut wajar saja. Nabi mengatakan, siapa yang shalat di Masjidil Haram akan dibalas 100 ribu kali lipat, sedangkan yang shalat di Masjid Nabawi dibalas 1.000 kali lipat. Jadi, wajar saja kalau untuk mendapatkan yang 100 ribu kali lipat kita harus mengeluarkan effort yang lebih besar," kata Rokhmin memaparkan.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, pendidikan, sabar, syukur., takwa, )


***)Republika

Selasa, 01 September 2015

PROKLAMASI KEMERDEKAAN SEORANG MUSLIM

Dua Kalimat syahadat, "Asyahu an laa ila illah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah," sejatinya adalah bentuk proklamasi kemerdekaan diri seorang Muslim.
Yaitu, proklamasi kemerdekaan dari menghamba Tuhan-Tuhan selain Allah dan proklamasi kemerdekaan dari mencari uswah selain Rasulullah. Dengan kata lain, dengan bersyahadat, seorang Muslim secara sadar telah memproklamasikan dirinya merdeka dari belenggu nafsu dan setan.
Dengan bersyahadat juga berarti seseorang telah bersumpah untuk membaktikan dirinya secara total kepada-Nya. Allah SWT berfirman, "Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS al-An'am [6]: 162).
Selain itu, dengan bersyahadat, berarti seseorang telah menyerahkan penghambaan dan permohonan hanya kepada-Nya. Allah SWT berfirman, "Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan." (QS al-Fatihah [1]: 5).
Namun, dalam perjalanannya, sering kali seseorang lupa akan proklamasi tersebut. Terjebak pada rutinitas kehidupan yang kadang melenakan, membuat diri mengikuti jalan kemungkaran (setan) hingga terjerumus ke dalam jurang kehinaan. Hal ini dapat terjadi jika seseorang terkalahkan oleh hawa nafsunya. Ingat, setan tidak akan pernah berhenti dari membuat buaian kepada manusia.
Padahal, Allah SWT telah menegaskan, "Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu. Dan, hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Dan, sungguh, ia (setan itu) telah menyesatkan sebagian besar di antara kamu. Maka, apakah kamu tidak mengerti?" (QS Yasin [36]: 60-62).
Dalam ayat lain, Allah menjanjikan surga bagi seseorang yang dapat menolak keinginan nafsunya. "Dan, adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya. Maka, sungguh, surgalah tempat tinggal(nya)." (QS an-Nazi`at [79]: 40-41).
Dengan demikian, melalui proklamasi kemerdekan diri secara totalitas ini akan dapat mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan sejati. Yaitu, kebahagaiaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Sebagaimana doa yang selalu dilantunkan oleh setiap Muslim pada setiap saat.
"Rabbana atina fiddunyaa hasanah wafil-akhirati hasanah waqina 'adzabannar". (Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka)." (QS al-Baqarah [2]: 201).
Semoga Allah membimbing kaum Muslimin agar senantiasa istiqamah dalam merealisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam dua kalimat syahadat. Amin.
(Da'wah, hidayah, keyakinan, pendidikan, sabar, syukur,takwa, )

***) Meliana