Selasa, 15 September 2015

YAKINLAH! SKENARIO ALLAH ITU INDAH

Allah SWT. berfirman: "... Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada...". (QS. Ali Imran: 140).
Penggalan ayat suci Alquran tersebut seakan menegaskan bahwa kehidupan manusia ibarat roda yang terus berputar. Kegembiraan dan kesedihan datang silih berganti menghiasi hari-hari yang kita lalui. Sebagian dari kita merasa bahagia dengan nikmat yang sedang diterima dan sebagian lainnya dituntut untuk memperbanyak sabar dan istighfar atas musibah yang sedang menerpa. 
Namun demikian, kondisi tersebut tidaklah abadi melainkan dapat berubah sesuai kehendak Sang Pencipta. Disinilah Allah SWT menggambarkan kekuasaan-Nya sekaligus mengajarkan manusia untuk selalu bersyukur dan bersabar dalam menghadapi nikmat ataupun musibah yang sedang dihadapi.
Ketidaktahuan kita selaku manusia akan gambaran masa depan, terkadang membuat diri merasa dihantui kekhawatiran yang berlebihan. Jika kita lebih dalam menyelami kitab suci Al Quran, maka sesungguhnya rasa takut dan khawatir tersebut tidak seharusnya muncul. 
Allah SWT telah ‘membocorkan’ sedikit rahasia-Nya kepada manusia agar tetap tegar dalam menghadapi kehidupan. Allah SWT berfirman: “… Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu…” (QS. Ghafir: 60).
Doa merupakan senjata yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman dalam menghadapi seluruh permasalahan kehidupan. Namun demikian, tidak sedikit dari kita yang tidak sabar dalam menunggu terkabulnya doa-doa yang telah dipanjatkan. 
Padahal, Rasulullah SAW, telah menjelaskan dalam sebuah Hadits bahwa “Tidaklah seorang muslim yang berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak untuk memutus tali kekeluargaan, kecuali Allah akan memberinya tiga kemungkinan: Doanya akan segera dikabulkan, atau akan ditunda sampai di akhirat, atau ia akan dijauhkan dari keburukan yang semisal.” (HR. Ahmad).
Subhanallah, tiga kemungkinan dalam Hadits tersebut semuanya mengandung kebaikan dan pada hakikatnya, tidak ada yang mengetahui hal terbaik bagi manusia kecuali Allah Swt. Hal ini dapat kita analogikan dengan kondisi pengamen yang sedang mencari nafkah di jalanan atau warung-warung kaki lima.
Pengamen pertama baru memetik senar gitarnya dan melantunkan satu bait dari lagu yang didendangkan, saat itu juga kita langsung memberikan selembar uang kepadanya. Sedangkan pengamen kedua, harus rela berkeringat menarik suaranya guna menyelesaikan satu buah lagu bahkan lebih dan barulah kita memberinya uang yang diharapkan.
Dalam kasus pengamen pertama terdapat dua kemungkinan: a) kita merasa kasihan kepada sang pengamen sehingga kita mengambil sikap untuk segera membantunya, dan b) kita merasa terganggu dengan kebisingan yang dirasa sehingga kita memutuskan untuk segera menghentikan ketidaknyamanan tersebut.
Begitu juga dengan doa, bisa jadi Allah SWT menganggap kita sebagai hamba yang taat lagi membutuhkan serta doa yang kita panjatkan dinilai telah memenuhi adab dan syarat dikabulkannya sebuah doa, maka Allah kabulkan permintaan kita dengan segera. Akan tetapi, boleh jadi Allah Swt merasa ‘bising’ dengan permintaan-permintaan kita yang kadang bersifat memaksa.
Dalam kondisi ini, Allah SWT kabulkan doa kita dan biarkan kita terbuai dengan kenikmatan sembari tetap melanggar larangan-larangan yang telah ditetapkan. Inilah yang disebut oleh para ulama dengan istidraj.
Sedangkan pada kasus pengamen kedua, kemungkinan besar kita menikmati suara dan lantunan lagu yang dinyanyikan sehingga kita memintanya untuk menuntaskan lagu tersebut dan pada akhirnya memberikan upah dengan nominal yang lebih besar dari yang diminta. 
Begitu juga dengan doa, tidak kunjung dikabulkannya doa yang kita panjatkan bukan berarti Allah SWT tidak mendengar dan menjawab doa kita tersebut, melainkan boleh jadi karena Allah Swt begitu sayang dan rindu akan munajat serta doa yang kita panjatkan di sela-sela tangis pada saat melakukan shalat malam dan ibadah-ibadah lainnya. Walhasil, Allah Swt mengabulkan doa kita lebih dari yang kita inginkan baik itu di dunia maupun di akhirat. Maka, yakinlah bahwa skenario Allah Swt itu indah.
Pada akhirnya, selaku hamba, kita dituntut untuk terus berdoa baik dalam suka maupun duka. Selain itu, kita juga tidak semestinya memaksa agar Allah Swt mengabulkan doa kita atau bahkan berburuk sangka kepada-Nya. Dalam sebuah Hadits Qudsi, Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt. berfirman: Sesungguhnya Aku mengikuti sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku bersamanya apabila dia memanggil-Ku. (HR. Tirmizi).
*) Abu Nashar Bukhari, Lc. Merupakan penerima manfaat Al -Azhar Scholarship Dompet Dhuafa lulusan dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Saat ini sedang menyelesaikan tesis di program Pasca Sarjana Universitas Al-Azhar.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Abu Nashar Bukhari, Lc.*

Senin, 14 September 2015

ADA BALASAN SETIAP KEJAHATAN

Suatu hari Abu Bakar RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu dengan ayat yang berbunyi: Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu. (QS al-Nisa' [4]: 123). Apakah setiap kejahatan yang kami lakukan itu akan mendapat balasan?"
Rasulullah SAW menjawab, "Wahai Abu Bakar, bukankah kamu pernah sakit? Bukankah kamu pernah menderita? Bukankah kamu pernah sedih? Bukankah kamu pernah ditimpa kesusahan?" Abu Bakar RA menjawab, "Tentu pernah, wahai Rasulullah." Maka Rasulullah berkata kepada Abu Bakar RA, "Itulah sebagian dari balasan untuk kalian."
Seseorang bisa melakukan kejahatan karena dua sebab. Pertama, karena ada niat melakukan kejahatan itu sendiri. Kedua, karena ada kesempatan. Di antara kedua sebab terjadinya kejahatan ini motif yang pertamalah yang paling kuat.
Ketika seseorang sudah berniat untuk melakukan kejahatan, secara otomatis cara untuk mengeksekusi kejahatan itu akan muncul dengan sendirinya, dan secara otomatis pula kesempatan akan tercipta mengikuti cara yang telah muncul terlebih dahulu.
Misalnya, seseorang punya niat untuk mencuri maka cara untuk melakukan aksi pencuriannya itu, dan kapan waktu (kesempatan) yang tepat untuk melaksanakan aksinya akan muncul dalam benak si pencuri, mengikuti niat yang telah terpatri sebelumnya.
Namun, motif kedua yang berupa kesempatan juga tidak bisa dianggap remeh karena adanya kesempatan bisa membuat orang melakukan kejahatan meski tidak didahului dengan niat untuk melakukan kejahatan tersebut.
Misalkan, seorang laki-laki yang secara kebetulan melihat aurat perempuan bukan muhrimnya, tiba-tiba muncul keinginan untuk melakukan hal tidak senonoh dengan cara memaksanya sehingga terjadilah pemerkosaan.
Kejahatan seperti ini terjadi tidak didahului dengan niat untuk melakukan kejahatan tersebut, tetapi karena ada kesempatan, keinginan untuk melakukan kejahatan itu muncul secara tiba-tiba, dan terjadilah tindak kejahatan.
Pertanyaan Abu Bakar kepada Nabi SAW dalam hadis di atas menjadi peringatan kepada kita bahwa setiap kejahatan yang kita lakukan tidak dibiarkan begitu saja oleh Allah SWT. Tapi pasti ada perhitungannya, yaitu berupa balasan yang setimpal dengan kejahatan yang kita lakukan. Baik balasan itu terjadi di dunia maupun terjadi di akhirat nanti.
Di dunia balasannya bisa berupa rasa sakit, penderitaan, rasa sedih, kesusahan hidup, dan hal-hal tidak menyenangkan lainnya. Sedangkan di akhirat, Allahlah Yang Mahatahu dan Mahaadil untuk membalas kejahatan yang pernah kita lakukan, jika kita tak kunjung bertobat hingga ajal menjemput.
Sekecil apa pun dosa yang kita lakukan semasa hidup, Allah pasti akan memperhitungkannya. Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah (komponen atom yang sangat kecil), niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasannya). (QS. Al-Zalzalah [99]: 7-8).
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***)Abdul Syukur---REPUBLIKA

Minggu, 13 September 2015

KISAH SAHABAT HIJRAH KE MADINAH

Umar bin Khatab hijrah ke Madinah bersama 20 orang sahabat lainnya. Salah satu di antaranya teman Umar, Iyash bin Rabiah. Sedangkan, teman Umar lainnya, Hisyam bin Ash, berhalangan hijrah.
Tatkala memasuki Madinah, mereka singgah di perkampungan Bani Amru bin Auf di daerah Quba. Sementara, Abu Jahal dan Harits bin Hisyam menyusul Iyash bin Rabi'ah, saudara sepupu mereka sekaligus saudara seibu. Abu Jahal  berkata, "Wahai Iyash, ibumu telah bersumpah tidak akan menyisir rambutnya dan tidak akan berteduh dari terik matahari sampai ia melihatmu."
Mendengar ibunya tidak mau mandi dan selalu berjemur di terik matahari, Iyash merasa kasihan terhadap ibunya. Umar mencoba untuk menenangkan Iyash dan meyakinkannya bahwa ibunya pasti akan mandi dan mesti berteduh dari terik matahari jika Iyash tidak pulang.
Tetapi, Iyash yang sangat dekat dengan ibunya terpengaruh dengan bujuk rayuan Abu Jahal dan Harits. Iyash berkata, "Saya akan menemui ibuku. Saya juga masih punya harta yang tertinggal di Makkah dan saya akan mengambilnya dulu, setelah itu saya bisa kembali ke Madinah."
Umar khawatir kalau sahabatnya itu akan menjadi murtad karena tidak kuat menghadapi tekanan dari ibu dan kerabatnya. Umar ingin membagi setengah hartanya untuk Iyash asalkan tidak pulang ke Makkah. Iyash menolak tawaran Umar dan tetap memutuskan untuk pulang ke Makkah bersama Abu Jahal.
Umar berujar, "Bila Anda bersikeras untuk kembali ke Makkah, gunakanlah untaku ini! Untaku ini sangat kuat, insya Allah." Iyash akhirnya kembali ke Makkah bersama Abu Jahal dan Harits.
Umar berkata, "Dulu kami berpandangan, Allah tidak akan memaafkan perbuatan Iyash dan Hisyam. Allah tidak akan menerima tobat mereka yang telah mengenal Allah lalu tidak berhijrah dan kembali kepada kekufuran karena tidak kuat menghadapi ujian."
 
Hisyam bin Ash juga mengira bahwa Allah tidak akan mengampuni dosanya akibat tidak berangkat hijrah dan kembali pada kekufuran. Umar berkata, "Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah sampai di Madinah, Allah SWT menurunkan sebuah ayat tentang perkataan kami dan perkataan mereka tentang sikap mereka, yaitu (yang artinya):
"Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kalian kepada Rabbmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepada kalian kemudian kalian tidak dapat ditolong. Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepada kalian (Alquran) dari Rabb kalian sebelum datang azab kepada kalian secara mendadak, sedang kalian tidak menyadarinya.'" (QS az-Zumar [39]: 53-55)
Umar mengatakan, "Lalu aku menulis firman Allah tersebut di atas secarik kertas dan aku kirimkan kepada Hisyam bin Ash." Hisyam berkata, "Setelah surat Umar itu sampai ke tangan saya, saya membacanya di Dzi Thuwa (nama sebuah lembah di Makkah), saya naik ke puncak bukit sambil membawa surat tersebut. Saya terus membacanya berkali-kali, tapi masih saja saya belum dapat memahaminya. Hingga akhirnya saya berdoa, "Wahai Allah, pahamkanlah aku tentangnya."
"Lalu Allah pun memberikan pemahaman ke dalam dadaku bahwa ayat ini tentang ucapan kami, tentang diri kami, dan pendapat yang diarahkan kepada kami. Aku kemudian menghampiri untaku. Aku naiki dan segera menyusul Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ke Madinah."
Doktor Nabil Al Awadhi menceritakan bahwa akhirnya Hisyam bin Ash dan Iyash bin Rabi'ah berangkat kembali hijrah ke Madinah untuk membuka kembali lembaran hidup mereka yang baru bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, Umar bin Khatab, dan sahabat-sahabat lainnya radhiallahu anhum ajma'in.
(Da'wah, hidayah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Fariq Ghasim Anuz,  Republika onlene 

Sabtu, 12 September 2015

TIPOLOGI IBADAH HAJI

Musim haji telah tiba. Jutaan kaum Muslimin dari seluruh penjuru dunia secara bertahap bergerak menuju Tanah Suci untuk menjalankan rukun Islam yang kelima, yaitu ibadah haji. 
Dalam pelaksanaannya, banyak hal yang kadang melatarbelakangi seseorang dalam menjalankan ibadah haji, sebagaimana disinyalir oleh Rasulullah SAW. “
Akan datang suatu masa yang dialami umat manusia, yaitu orang kaya dari umatku yang melaksanakan ibadah haji (niatnya) karena wisata, orang kalangan menengah (niatnya) karena berdagang, orang kalangan ahli pengetahuan (niatnya) karena ria dan sumah, dan kaum fakir di antara mereka (niatnya) karena untuk meminta-minta.” (HR Ibnu Jauzy).
Hadis di atas memberikan peringatan kepada jamaah haji agar selalu menjaga keikhlasan sebelum, selama, dan setelah menjalankan ibadah haji.
Sebab, tidak sedikit orang yang pergi ke Tanah Suci dengan latar belakang (niat) yang berbeda-beda, itulah tipologi seseorang dalam menjalakan ibadah haji. 
Pertama, untuk berwisata. Yaitu, ibadah haji yang dilaksanakan bertujuan untuk jalan-jalan. Sehingga, aktivitasnya di Tanah Suci lebih semangat jika diajak untuk jalan-jalan daripada ke masjid.
 
Dan, ibadah yang dilaksanakan selama di Tanah Suci tidak berpengaruh terhadap perbaikan pribadi, keluarga, dan masyarakatnya, melainkan agar masyarakat menilainya sebagai orang yang kaya.
Kedua, untuk berdagang. Yaitu, seseorang yang menunaikan ibadah haji bertujuan untuk berbelanja. Sehingga, aktivitasnya selama di Tanah Suci lebih banyak aktivitas berdagang atau berbelanja daripada ibadah kepada Allah SWT.
 
Ketiga, karena ria dan
 sum'ah. Yaitu, seseorang yang melaksanakan ibadah haji sekadar untuk mengejar status sosial kemasyarakatan, yakni gelar haji. Sehingga, ia mudah tersinggung jika tidak disebutkan gelar hajinya. 
Keempat, untuk meminta-minta. Yaitu, kalangan kaum fakir yang berangkat ke Tanah Suci untuk mengharap belas-kasihan dengan harapan sekembalinya dari Tanah Suci, ia dapat mengumpulkan harta yang cukup. Sehingga, ia menjadikan aktivitas meminta-minta itu sebagai profesi tahunan baginya.
Dengan demikian, balasan bagi orang yang melandaskan niat ibadah hajinya sebagaimana di atas maka ia akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.
Sabda Nabi SAW, ”
Sesungguhnya, setiap perbuatan bergantung niatnya. Dan, sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.” (HR Bukhari dan Muslim). 
Sedangkan, seseorang yang pergi hajinya atas dasar iman dan ikhlas semata karena Allah, tidak berbuat
 rafats, tidak berbuat fusuk, dan tidak melakukan jidal selama haji (QS al-Baqarah [2]: 197), niscaya ia akan meraih predikat haji mabrur yang balasannya adalah surga (HR Bukhari dan Muslim).
Semoga Allah meluruskan niat kaum Muslimin yang tengah menjalankan ibadah haji dengan niat semata karena-Nya dan meraih haji yang mabrur.
Amin.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, )

***) Imam Nur Suharno

Kamis, 10 September 2015

SETIAP KESULITAN TERKANDUNG PAHALA

SETIAP KESULITAN TERKANDUNG PAHALA
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallampernah bercerita tentang pertemuan seorang laki-laki dengan seekor anjing dalam sebuah tempat tak jauh dari sumur. Kisah perjumpaan itu dimulai ketika tenggorokan lelaki tersebut betul-betul telah kering.
Lelaki ini terus melangkah meski dahaga menyiksanya sepanjang perjalanan, hingga ia menemukan sebuah sumur, lalu terjun dan meminum air di dalamnya. Air yang mengaliri kerongkongnya cukup untuk menyembuhkan rasa haus itu. Lidahnya kembali basah, tenaganya sedikit bertambah.
Saat keluar dari lubang laki-laki ini terperanjat. Di hadapan matanya sedang berdiri seekor anjing dengan muka memelas. Napasnya kempas-kempis. Lidahnya menjulur-julur. “Anjing ini pasti mengalami dahaga sangat seperti yang telah aku derita,” kata si lelaki.
Laki-laki tersebut seperti menyadari bahwa meski haus, anjing sekarat itu tak mugkin turun ke dalam sumur karena tindakan ini bisa malah mencelakakanya. Seketika ia terjun kembali ke dalam sumur. Sepatunya ia penuhi dengan air, dan naik lagi dengan beban dan tingkat kesulitan yang bertambah. Si lelaki bahagia bisa berbagi air dengan anjing.
Apa yang selanjutnya terjadi pada lelaki itu?
Rasulullah berkata, “Allah berterima kasih kepadanya, mengampuni dosa-dosanya, lantas memasukkannya ke surga.” Para sahabat bertanya, “Wahai, Rasulullah! Apakah dalam diri binatang-binatang terkandung pahala-pahala kita?”
“Dalam setiap kesulitan mencari air terkandung pahala,” sahut Nabi.
Kisah di atas mengingatkan kita pada keharusan bersifat welas asih kepada sesama makhluk, termasuk binatang. Tapi, bukankah anjing adalah binatang haram? Bukankah keringat dan air liurnya termasuk najis tingkat tinggi dan karenanya harus dijauhi?
Cerita tersebut Rasulullah justru menyadarkan kita bahwa status haram dan najis tak otomatis berbanding lurus dengan anjuran membenci, melaknat, dan menghinakan. Bukankah Rasulullah pernah berujar, “
Irhamû man fil ardl yarhamkum man fis samâ’ (sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.”
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***)NU online

Rabu, 09 September 2015

PELIHARALAH SHALAT ASHARMU

PELIHARALAH SHALAT  ASHARMU
“Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha (Ashar).” (QS al-Baqarah [2]: 238).
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada kita untuk selalu menjaga shalat wustha atau yang kita ketahui adalah shalat Ashar. Begitu istimewanya shalat Ashar sehingga Allah mencantumkannya dalam Alquran.
Selain dalam Alquran, Rasulullah pernah bersabda bahwa malaikat datang untuk mencatat amal hamba-hambanya dan pergi pada waktu shalat Subuh dan shalat Ashar. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika pada waktu datang dan perginya malaikat tersebut kita mendirikan shalat.
Waktu Ashar terletak di ujung sore. Ktika itu, tenaga, pikiran, dan jiwa kita sedang berada di ambang batas. Energi kita nyaris habis. Belum lagi, masih harus menyelesaikan setumpuk amanah yang belum selesai. Tugas kantor, tugas kuliah, ataupun tugas kita sebagai hamba Allah.
Maka, di waktu ini banyak dari kita yang lalai sehingga terpedaya oleh setan. Muaranya, banyak dari kita yang terjerumus dalam lubang kebinasaan lantaran mengabaikan waktu Ashar ini. Hal ini sebagaimana terjadi pada sebagian kaum Quraisy yang sering mengabiskan waktu Ashar untuk bercerita tanpa arah yang jelas.
Cerita mereka bermuatan gunjingan, celaan, dan hinaan kepada sesamanya. Ujungnya, mereka mencela waktu Ashar sebagai waktu yang celaka.
Hal ini sebagaimana diungkap oleh HAMKA dalam menafsirkan surah al-Ashr ayat 1. Ashar banyak menyimpan keutamaan. Pertama, shalat Ashar adalah shalat yang disaksikan oleh malaikat bersamaan dengan shalat Subuh. Kedua, amalan yang mengantarkan ke surga,
“Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat Subuh dan Ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR Bukhari no 574 dan Muslim no 635). Dalam beberapa riwayat lain, Rasulullah juga menyebutkan tentang konsekuensi negatif bagi siapa saja yang meninggalkan atau melewatkan waktu Ashar dengan sengaja.
Bahkan, mereka yang kehilangan shalat di waktu Ashar, dikatakan oleh Rasulullah, kehilangan harta, keluarga, dan semua amal salehhnya. Dari Abdullah bin Umar RA, Rasulullah bersabda, “Orang yang kehilangan shalat Ashar bagaikan orang yang kehilangan keluarga dan harta kekayaannya.” (HR Bukhari no 552).
Dalam riwayat lain juga disebutkan, “Dari Buraidah, bahwa dia mengatakan kepada kaum Muslimin ketika cuaca berawan, karena Nabi SAW pernah bersabda, 'Orang yang meninggalkan shalat Ashar hilanglah semua amal baiknya.'" (HR Bukhari no 553).
Tidaklah heran jika Rasulullah memerintahkan seluruh umatnya untuk mengisi waktu Ashar dengan memperbanyak doa dan zikir. Keduanya merupakan sarana yang sengaja Allah ciptakan agar kita senantiasa terbentengi dari kejahatan setan yang terus-menerus menabuh genderang perangnya.
Agar kita tetap bersiap siaga ketika waktu Ashar, meski ketika itu fisik dan pikiran kita berada dalam keadaan lelah lantaran seharian bekerja. Semoga.
(Da'wah, hidayah, keyakinan, sabar,syukur., takwa,)


***) Ahmad Agus Fitriwan

Selasa, 08 September 2015

HIASI DIRI DENGAN SABAR

Sifat sabar. Inilah sifat yang harus menjadi perhiasan bagi setiap jamaah haji. Kesabaran tak hanya dituntut pada saat puncak pelaksanaan haji, tetapi dalam seluruh proses haji. Mulai dari pendaftaran, keberangkatan, ketika berada di Tanah suci, hingga kembali ke Tanah Air.
Berdasarkan pengalaman, biasanya ujian kesabaran muncul akibat ketidaksesuaian antara rencana dan realitas, antara harapan dan kenyataan. Hal itu mulai terasa sejak keberangkatan dari daerah asal ke asrama haji lalu ke bandara.
 
Kesabaran jamaah haji diuji melalui kemacetan lalu lintas menuju asrama, pemeriksaan dokumen yang memakan waktu relatif lama, menunggu pesawat berjam-jam, mencari koper di tengah ratusan koper jemaah lain yang sama bentuk, ukuran, dan warna.
Ujian kesabaran pun kerap muncul di Tanah Suci, baik Makkah maupun Madinah. Kondisi penginapan juga bisa membuat jengkel. Memiliki empat lantai, tapi tak dilengkapi lift, toilet yang mampet, atau tempat tidur yang tak nyaman.
 
Begitu pula dengan makanan yang terkadang datang terlambat, sudah basi, atau tak sesuai dengan selera. Dan, puncak ujian kesabaran muncul pada puncak pelaksanaan ibadah haji.
Selain meninggalkan segala larangan ketika berihram, para jamaah pun tak diperkenankan
 rafats dan jidal. Setiap musim haji, jutaan orang dari seluruh dunia berkumpul di tempat yang sama dengan tujuan yang sama pula. 
Jalanan macet, kendaraan terjebak berjam-jam sehingga terlambat tiba di tujuan. Di Arafah dan Mina, jamaah harus sabar mengantre makanan dan buang hajat.
Jika tak menghiasi diri dengan kesabaran, semua itu berpotensi membuat jamaah tak henti berkeluh kesah, stres, serta mudah tersinggung dan marah. Celakanya lagi, nilai ibadah bisa rusak. Bahkan, ibadah haji yang telah dilaksanakan bisa tertolak (batal).
Oleh karena itu, di dalam Alquran, Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk meminta pertolongan kepada-Nya dengan sabar. “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat ....” (QS al-Baqarah [2]: 45).
Kesabaran adalah pokok dari setiap amal. Bila kesabarannya hilang, amal akan rusak. Ali bin Abi Thalib berkata, “
Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang, keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Jika kesabaran hilang, seluruh permasalahan akan rusak.'' 
Agar kita dapat menghiasi diri dengan sabar saat melaksanakan prosesi haji, hal yang harus dilakukan jamaah adalah senantiasa melatih diri dan bermujahadah (usaha maksimal) untuk selalu bersabar. Sabar merupakan akhlak yang bisa diperoleh dengan dua hal itu.
Selanjutnya, jamaah harus senantiasa berzikir. Zikir akan menumbuhkan ketenangan hati sehingga jamaah bisa menyikapi berbagai hal yang dihadapinya dengan kepala dingin. Selain itu, hendaknya jamaah meyakini takdir Allah, baik yang sesuai dengan keinginannya maupun tidak. 
Takdir itu akan terus berlangsung dan itulah keputusan yang adil buat jamaah, sabar ataupun tidak. Jika jamaah bersabar, Allah SWT menjanjikan pahala dan kebaikan. Itulah yang akan menumbuhkan kekuatan pada diri jamaah. “
Dalam kesabaran terhadap perkara yang tidak disukai itu banyak kebaikannya.” (HR Tirmidzi). 
Satu hal yang tak kalah penting, hendaknya jamaah haji mencari informasi tentang berbagai kemungkinan yang bisa terjadi dalam pelaksanaan ibadah haji sejak dari berangkatan, ketika berada di Tanah suci, hingga kepulangan ke Tanah Air.
Dengan demikian, jamaah haji tak akan kaget ketika kemungkinan itu menjadi kenyataan dan bisa menyikapinya dengan sabar. Wallahualam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur, takwa,)

***)Moch Hisyam