Rabu, 07 Oktober 2015

KITAKAH YANG DICINTAI ALLAH ?

Meskipun manusia sering kali tak bersyukur dan kufur nikmat, tapi rahmat Allah SWT selalu lebih dominan dari murka-Nya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya, Allah SWT jika mencintai seorang hamba maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata, 'Wahai Jibril, Aku mencintai orang ini, maka cintailah dia!'
Maka, Jibril pun mencintainya, lalu Jibril mengumumkannya kepada seluruh penduduk langit dan berkata, 'Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintai pulalah dia oleh kalian semua.' Maka seluruh penduduk langit pun mencintainya. Kemudian, orang itu pun dicintai oleh segenap makhluk Allah di muka bumi ini." (HR Bukhari).
MasyaAllah! Lihatlah cinta Allah, bagaiamana Allah mengumumkan cintanya kepada sekalian makhluk-Nya? Dan, mungkinkah itu adalah kita? Kita yang dicintai Allah dan semua makhluk yang di langit juga yang di bumi?
Inilah jenis kita yang ingin dicintai Allah. Pertama, at-tawwabin dan al-mutathahhirin (orang-orang yang bertobat dan menyucikan diri). "Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." (QS al-Baqarah [2]: 222). Kedua, al-muqsithin (orang-orang yang adil). "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil." (QS al-Maidah [5]: 42).
Ketiga, al-muttaqin (orang-orang yang takwa), "Maka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa." (QS Ali Imran [3] 76). Keempat, al-muhsinin yang gemar bibadah, dermawan, dan senantiasa berbuat kebaikan. "(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS Ali Imran [3]: 134).
Kelima, al-mutawakilin (orang-orang yang bertawakal kepada Allah, setelah doa, ikhtiar, dan baik sangka). "Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya." (QS Ali Imran: 159).
Keenam, as-shobirin, (mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar." (QS Ali Imran [3]: 146). Ketujuh, orang-orang yang mengikuti Rasul. "Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Ali Imran [3]: 31).
Kedelapan, oang-orang yang berperang di jalan Allah. "Sesungguhnya, Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (QS as-Shaf 61: 4).
Kesembilan, orang-orang yang rajin shalat malam. "Sesunguhnya, Tuhanmu mengetahui bahwa engkau berdiri shalat malam kurang dari sepertiga malam." (QS al-Muzammil: 20). Kesepuluh, orang-orang yang banyak mengingat mati. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang banyak mengingat kematian, niscaya Allah mencintainya." Itulah beberapa orang yang paling dicintai Allah, semoga semakin menambah semangat kita dalam beribadah agar senantiasa dicintai Allah SWT.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***)Hikmah--Republika

Selasa, 06 Oktober 2015

FILOSOFI MELONTAR JUMRAH

Seusai wukuf di Arafah tepatnya setelah terbenam matahari pada 9 Dzulhijah, jamaah haji mulai bergerak menuju Muzdalifah untuk bermalam (mabit). Mabit di Muzdalifah, walaupun hanya sebentar, diharapkan dapat memberi kesempatan kepada jamaah haji untuk memulihkan tenaga.
Selama mabit di Muzdalifah, jamaah haji tidak dituntut melakukan aktivitas tertentu. Tetapi, berdasar riwayat dari Jabir bin Abdullah RA, "Begitu Rasulullah SAW tiba di Muzdalifah beliau langsung shalat Maghrib dan Isya dengan satu azan dan dua iqamah; di antara keduanya tidak ada shalat sunah apa pun. Kemudian, beliau tidur hingga terbit fajar. Beliau shalat Subuh setelah jelas datang waktu subuh dengan satu kali azan dan satu kali iqamah." (HR Muttafaq 'Alaih).
Hadis tersebut mengisyaratkan bahwa Rasulullah SAW mendirikan shalat Maghrib dan Isya di Muzdalifah dengan cara jamak dan qashar. Selain itu, jamaah haji dibenarkan memungut sedikitnya tujuh butir kerikil untuk melontar jumrah di Mina.
Namun, banyak jamaah haji Indonesia belakangan ini tidak sepenuhnya dapat melaksanakan mabit di Muzdalifah. Mereka karena satu dan lain hal ada yang langsung menuju Mina. 
Di sinilah mereka diharapkan dapat beristirahat dengan leluasa. Kondisi fisik yang bugar sangat diperlukan guna melaksanakan aktivitas berikutnya yang lebih berat: melontar jumrah.
Melontar jumrah termasuk wajib haji. Maka, dalam perspektif hukum, melontar jumrah harus dipahami sebagai bentuk ketaatan memenuhi perintah Allah SWT. 
Kendati demikian, bagi jamaah haji yang kurang sehat, misalnya, dapat menggantinya dengan cara membayar dam. Atau, menurut sebagian pendapat dapat pula dengan cara mewakilkannya kepada orang lain.
Melontar itu dilakukan di tiga jumrah: Ula, Wustha, dan Aqabah. Hal tersebut berdasar pada apa yang dicontohkan oleh Ibrahim AS, Ismail AS (putranya), dan Hajar (istrinya). 
Allah berfirman: "Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia" (QS Al-Mumtahanah [60] : 4). Selain itu juga berdasar pada apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Ibrahim AS, Ismail AS, dan Hajar saat akan melaksanakan perintah Allah (menyembelih Ismail AS) digoda sedemikian rupa oleh setan.
Lalu, mereka bertiga sepakat melawan setan dengan cara melemparinya dengan kerikil. Cara yang mereka pilih ternyata efektif. Maka, Ibrahim AS pun sukses menunaikan kewajibannya dengan baik.
Ibrahim AS dan keluarga kecilnya berhasil mengalahkan setan dengan melontarinya menggunakan kerikil. Tetapi, mengapa sebagian jamaah haji yang sejatinya pernah melontar jumrah di Mina dalam kesehariannya belum mampu mengalahkan setan?
Melontar jumrah hanya simbolik. Setan bukan hanya dimusuhi ketika melontar jumrah. Setan adalah musuh abadi. Maka, jadikanlah musuh untuk selama-lamanya. Ya Allah, lindungilah kami dari godaan setan yang terkutuk. 
(Da'wah, hidayah, keyakinan, hikmah, sabar, syukur, takwa,)

***)  Mahmud Yunus

Senin, 05 Oktober 2015

PENYAKIT UMAT TERDAHULU

Rasulullah bersabda, "Pintu-pintu surga itu dibuka pada hari Senin dan Kamis, lalu diampunkanlah bagi setiap hamba yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya itu ada rasa dendam, lalu dikatakanlah, 'Nantikanlah dulu kedua orang ini sehingga keduanya berdamai kembali. Nantikanlah kedua orang ini sehingga keduanya berdamai kembali'." (HR Muslim)
Perbedaan kerap menimbulkan gesekan hingga berujung pada pertikaian atau konflik. Dalam setiap konflik, terkadang bukan hanya luka fisik yang tertinggal, melainkan juga luka nonfisik (batin) dalam rupa dendam. Dendam inilah api dalam sekam yang terus-menerus memelihara konflik hingga membuatnya tak kunjung padam, tak cepat usai. Karena dendam, masalah sepele bisa menjadi masalah serius.
Dalam sebuah hadisnya, Rasulullah mengingatkan, "Kelak akan menimpa umatku penyakit umat-umat terdahulu, yaitu penyakit sombong, kufur nikmat, dan lupa daratan dalam memperoleh kenikmatan. Mereka berlomba mengumpulkan harta dan bermegah-megahan dengan harta. Mereka terjerumus dalam jurang kesenangan dunia, saling bermusuhan, dan saling iri, dengki, dan dendam sehingga mereka melakukan kezaliman (melampaui batas)." (HR Al-Hakim)
Dendam adalah sejenis penyakit hati yang destruktif. Tidak hanya bagi orang yang punya dendam, tetapi juga pihak yang didendami. Karena itulah, seperti diingatkan pada hadis di awal, seseorang mesti membersihkan hatinya dari dendam. Orang yang punya rasa dendam akan tertahan tidak masuk surga hingga ia memaafkan dan berdamai. Dan pemaafan atau perdamaian ini bukan dilakukan saat di akhirat, melainkan dilakukan saat masih di dunia karena akhirat adalah tempat pertanggungjawaban amal-amal di dunia. Kecuali jika Allah berkehendak lain.
Surga adalah "darussalam", tempat yang aman, damai, sejahtera. Tidak ada dendam di hati para penghuninya. Seperti yang difirmankan Allah, "Dan Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka, di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami. Sesungguhnya rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran.' Diserukan kepada mereka, 'Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu karena apa yang telah kamu kerjakan'." (QS al-A'raf [7]: 43)
Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang yang bertakwa itu berada dalam surga-surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air (yang mengalir). (Allah berfirman), 'Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera dan aman.' Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka: mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan." (QS al-Hijr [15]: 45-47)
Surga tak layak dihuni oleh orang-orang yang punya rasa dendam di hatinya. Dendam sendiri bukanlah karakter seorang Muslim sejati. Dengan kata lain, jika seseorang ingin masuk surga, ia harus membersihkan hatinya dari rasa dendam. Sebagai gantinya, ia mengisi hatinya dengan rasa maaf, cinta damai, dan kasih sayang. Jika dendam sudah lenyap dari hati, segala pertikaian dan konflik akan cepat berakhir. Wallahu 'alam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***)  Nur Faridah

Minggu, 04 Oktober 2015

BERITA BOHONG

"Ingatlah ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar." (QS an-Nuur: 15).
Ayat ini diturunkan berkenaan dengan berita bohong (hadisul ifki) terhadap Sayyidah Aisyah RA. Berita itu disebarkan dari mulut ke mulut oleh kaum munafik dan sebagian kecil sahabat (Hamnah binti Jahsi, Hasan bin Tsabit, dan Misthah bin Asasah) yang juga terpengaruh. Orang-orang munafik sengaja ingin merusak kehormatan Ummul Mukminin Aisyah RA.
Perangkap ini kurang disadari ketiga sahabat itu dan mereka justru ikut berperan dalam penyebaran informasi yang tidak benar. Mereka tidak menyadari bahwa menyebarkan berita bohong di sisi Allah merupakan pelanggaran serius sampai Allah menurunkan teguran melalui wahyu.
Pada zaman digital sekarang, penyebaran segala macam informasi jauh lebih cepat dan aksesnya pun lebih mudah. Siapa pun dengan bebas menyebarkan informasi dari mana saja, bahkan dari sumber tidak jelas. 
Sayangnya, sebagian mereka menyebarkannya tanpa meneliti dahulu apakah informasi itu layak disebarkan, apakah ada konsekuensi akibat tersebarnya informasi itu, apakah bisa merusak nama baik orang dan memecah-belah keutuhan umat?
Kita mesti bijak dalam menyebarkan informasi yang berseliweran di dunia maya. Keakuratan dan kesahihan informasi merupakan hal penting. Jangan sampai latah menyebarkan informasi yang kita sendiri tidak mengetahui kebenarannya. Kelatahan bukan berarti bebas dari konsekuensi kesalahan dan dosa.
Janganlah kebencian terhadap seseorang atau suatu golongan membutakan hati kita sehingga dengan sengaja menyebarkan berita bohong atau fitnah dengan maksud untuk merusak reputasi orang atau lembaga lain. Menahan diri segala macam isu yang belum tentu benar adalah sikap yang lebih bijak. (QS al-Maidah: 2).
Saling membantu dan saling menasihati adalah spirit utama umat Islam. Ibarat tubuh, apabila salah satu anggotanya sakit, anggota tubuh yang lain juga merasakan sakit.
Ayat di atas menjelaskan sekaligus menjadi peringatan bahwa saling menyebarkan berita bohong atau informasi yang tidak jelas kebenarannya termasuk dalam tolong-menolong dalam berbuat dosa. Islam melarang dan mengingatkan umatnya untuk berhati-hati agar tidak tergelicir dalam perbuatan dosa. (QS an-Nuur: 12).
Islam telah membuat bingkai dengan begitu indah supaya umat tidak jatuh ke kubangan perpecahan dan kehancuran. Penekanan pada sikap berbaik sangka merupakan dasar utama ketika kita mendengar ada informasi yang sumbernya tidak jelas.
Bertabayyun untuk mengklarifikasi informasi yang menjurus kepada fitnah dengan membuka saluran cross-check sehingga umat akan terjaga keutuhannya dan tak terpancing melakukan perbuatan bodoh. (QS al-Hujurat: 6).
Umat Islam harus waspada atas derasnya informasi yang dengan sangat cepat menjungkirbalikkan prasangka seseorang terhadap orang lain. Dengan begitu, umat Islam tidak mudah diadudomba oleh pihak yang memang senang melihat umat Islam terpecah-belah.
(Da'wah, hidayah, hikmah, sabar, syukur., takwa, )

***)  Sarbini Abdul Murad

Sabtu, 03 Oktober 2015

MENGAPA KITA HARUS HIDUP SEDERHANA

Tetap sederhana dan tidak berlebihan dalam menyikapi segala persoalan kehidupan adalah ciri insan beriman. Harta, jabatan, dan berbagai pernik duniawi tak harus menjadikan kita lupa diri dan berlebihan.
Abu Umamah Iyash bin Tsa'labah al-Anshariy al-Haritsy RA berkata, "Pada suatu hari Rasulullah SAW membicarakan masalah dunia. Kemudian, Rasulullah SAW bersabda, 'Apakah kalian tidak mendengar? Apakah kalian tidak mendengar? Sesungguhnya kesederhanaan itu bagian dari iman, sesungguhnya kesederhanaan itu sebagian dari iman'." (HR Abu Daud).
Hidup ini harus dijalani dengan penuh kesederhanaan, bersyukur, dan tidak berlebihan. Bila sedang berkuasa dan memiliki banyak harta, tetaplah sadari bahwa itu semua adalah amanah-Nya. Tak perlu harus berubah sikap, merasa diri hebat, kaya raya, dan dapat memenuhi semua keinginan. Tak ada yang sempurna, kecuali pemiliknya, yang Mahasempurna.
Mereka yang hatinya dipenuhi keimanan akan senantiasa menjalani hari-harinya dengan apa adanya. Termasuk dalam menghadapi segala persoalan hidup, kita dituntut untuk biasa saja menyikapinya, tidak overacting, bahkan terkesan didramatisasi dan "lebay".
Sikap melampaui batas (berlebihan), termasuk dalam mengelola harta sangat tidak disukai Allah SWT. Firman-Nya dalam Alquran, "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan" (QS al-A'raaf: 31).
Bukan hanya terhadap harta dan jabatan, demikian pula dalam menjalani kehidupan, tak perlu disikapi berlebihan. Cukupi semua yang dialami, baik itu kebahagiaan maupun kesedihan, dengan syukur dan ikhtiar serta berusaha mendapatkan hikmah di balik itu semua.
Sering kita saking bahagianya lupa mengucap dan bersikap penuh syukur, terlena dan bahkan lupa diri. Atau mungkin ketika dilanda musibah, ujian datang terus-menerus, seolah-olah kitalah yang paling menderita, lalu putus asa.
Mungkin kita merasa hidup ini rumit seakan terus dilanda kesusahan tak berujung. Padahal, banyak saudara kita yang telah hilang rasa pedihnya hidup saking setiap saat kesusahan menyertai. Sahabat kita di Palestina dan negara-negara yang tengah berperang, jauh lebih menderita. Sebaliknya, bagi Anda yang merasa jemawa, sungguh ada orang yang tidak lagi merasa kaya karena hartanya melimapah ruah di mana-mana.
Rasulullah SAW bersabda, "Perhatikanlah orang yang berada di bawahmu dan jangan kamu memperhatikan orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih pantas agar kamu semua tidak menganggap sepele nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadamu." (HR Bukhari dan Muslim).
Suka dan duka tentunya sering menyapa dan bergantian rupa. Sapalah dan pastikan semua proses yang dialami itu penuh makna. Jadikan semua itu sebagai pelajaran dan pembelajaran dalam kehidupan. Karena baik kebahagiaan maupun kesusahan selalu menyimpan hikmah. Bagi mereka yang beriman, menemukan hikmah di balik itu semua merupakan jalan terbaik.
Nikmatilah hidup yang singkat ini dengan kesederhanaan dan penuh rasa syukur. Dengan penuh kesadaran bahwa hidup tidak selalu di atas dan tidak juga selamanya di bawah. Sesungguhnya, baik kebahagiaan maupun kesusahan, merupakan ujian dari Allah. Perbanyaklah beramal saleh, membantu yang susah, dan bermanfaat bagi orang lain untuk bekal kehidupan akhirat kelak.
Rasulullah SAW bersabda, "Ada tiga hal yang mengikuti kepergian jenazah, yaitu keluarga, harta, dan amalnya. Dua di antaranya akan kembali, hanya satu yang tetap menyertainya. Keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan yang tetap adalah amalnya." (HR Bukhari dan Muslim). Wallahu 'alam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Iu Rusliana-- Republika

Jumat, 02 Oktober 2015

PETUNJUK QURAN DALAM MENELUSURI INFORMASI

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang seorang fasik dengan membawa suatu informasi maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena suatu kebodohan, sehingga kalian menyesali perbuatan yang telah kalian lakukan,” (Qs. Al-Hujurat [49: 6])
Inti dari salah satu surah ke- 49 dalam Alquran di atas memberikan tuntunan praktis bagaimana Allah, melalui Alquran menuntun kita dalam membangun hubungan baik antar sesama. Surat Al-Hujurat yang bermakna kamar-kamar, diturunkan setelah Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah).
Saat itu, suku-suku yang ada di Jazirah Arab berbondong-bondong masuk Islam. Termasuk di dalamnya adalah Bani Musthaliq, yang di pimpin oleh Al-Harits bin Dhirar. Meskipun masuknya Islam Al-Harits diawali dengan sebuah peperangan,  keislaman Al-Harits ini tidak diragukan. Apalagi putrinya yang bernama Al-Juwairiyah dinikahi oleh Rasulullah Saw.
Sesudah masuk Islam Rasulullah Saw memerintahkan Al-Harits untuk mengajak kabilahnya masuk Islam dan membayar zakat. Al-Harits pun menyatakan kesanggupannya. Namun ketika kaum Bani Musthaliq sudah masuk Islam dan zakat sudah terkumpul, utusan Rasulullah belum juga datang. Maka melalui musyawarah dengan tokoh-tokoh Bani Musthaliq, Al-Harits merasa harus datang kepada Rasulullah Saw, bukan menanti kedatangan utusan beliau yang akan menarik zakat.
Sementara itu, dalam waktu yang hampir bersamaan Rasulullah Saw mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat yang telah dikumpulkan Al-Harits. Di tengah jalan Al-Walid melihat Al-Harits beserta sejumlah orang berjalan menuju Madinah.
Didasari oleh ingatan permusuhan masa jahiliyah antara dirinya dengan al-Harits, timbul rasa gentar di hati Al-Walid, ia berpikir Al-Harits akan menyerang dirinya. Karena itulah kemudian ia berbalik kembali ke Madinah dan menyampaikan laporan yang tidak benar kepada Rasulullah Saw bahwa Al-Harits tidak mau menyerahkan zakat, bahkan ia akan dibunuhnya. Rasulullah saw tidak langsung begitu saja percaya, beliau pun mengutus lagi beberapa sahabat yang lain untuk menemui Al-Harits.
Ketika utusan itu bertemu dengan Al-Harits, ia berkata, “Kami diutus Rasulullah Saw untuk bertemu denganmu.” Al-Harits bertanya, “Ada apa?” Utusan Rasulullah itupun menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah Saw telah mengutus Al-Walid bin Uqbah, untuk mengambil zakat, lalu ia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat bahkan mau membunuhnya.”
Al-Harits menjawab, “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihatnya dan tidak ada yang datang kepadaku.”Maka ketika mereka sampai kepada Nabi Saw., beliau pun bertanya, “Apakah benar engkau menolak untuk membayarkan zakat dan hendak membunuh utusanku?” “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan sebenar-benarnya, aku tidak berbuat demikian.” jawab Al-Harits. Selang beberapa lama, turunlah ayat di atas untuk membenarkan pengakuan Al-Harits.
Asbaabun nuzul surah Al-Hujurat ayat 6 ini mengisyaratkan bahwa laporan yang tidak benar, tentu akan berdampak buruk baik kepada si pemberi kabar, terlebih korban. Dalam kehidupan sehari-hari, kita memang tak terlepas dari permasalahan seperti ini. Tak ubahnya di zaman digitalisasi ini. Media- media sosial yang belum bisa dipercaya kabarnya, kerap memengaruhi efek kognitif pembaca; contohnya saja kabar musibah yang melanda jamaah haji; dari mulai runtuhnya crane, badai pasir, hingga insiden di Mina.
Sebagian kabar tersebut menyatakan bahwa segala yang terjadi karena kesalahan pemerintah Arab Saudi yang tidak melayani tamu-tamu Allah dengan baik. Ada pula yang menyatakan bahwa Arab Saudi sedang sibuk menyulap negaranya menjadi Las Vegas. Bahkan, yang lebih menyedihkan lagi, salah satu media tersebut menyatakan bahwa musibah ini terjadi karena anak Raja Saudi melintas saat pelemparan jumrah berlangsung.
Belajar menjadi mukmin yang, kita berkewajiban untuk bertabayun; menggali dan menelusuri informasi yang datang silih berganti setiap hari; baik permasalahan yang berkaitan dengan sosial kemasyrakatan, terlebih agama. Musibah dan cobaan berat bagi jamaah haji tahun ini, adalah salah satu takdir dari Allah yang harus kita imani bahwa segala yang terjadi di muka bumi, pasti seizin-Nya. Jika pun ada campur tangan manusia, semoga ini dapat menjadi pelajaran yang amat berharga dan tidak terulang lagi di masa mendatang.
“Musibah apapun yang menimpamu itu adalah seizin Allah. Dan bagi orang beriman kepada Allah, maka hatinya akan tenang (atas musibah tersebut). Dan Allah-lah yang Maha Mengetahui segala sesuatu,” (Qs. Ath-Thagaabuun: 11)
Lalu, bagaimana sebaiknya sikap kita terhadap informasi yang belum jelas beritanya tersebut? Sikap bijaksana yang dapat kita ambil ialah bertawaquf (berdiam diri, tidak menyebarkan/ men-share berita tersebut). Itu akan jauh lebih mendatangkan mashalat. Sebab, jika kita turut menyebarkan informasi tersebut (padahal kita belum tahu kabar tersebut secara benar), dikhawatirkan akan menyebabkan perpecahan umat dan perselisihan antar sesama. Tentu hal tersebut yang tidak diinginkan.
Akhirnya, mari kita menengadahkan tangan agar para jamaah yang wafat saat berhaji, mendapatkan ampunan dan surga-Nya, dan yang telah sampai dengan selamat di negaranya masing-masing, Allah jadikan haji yang mabruur; yang dengan hajinya tersebut, dapat memberi manfaat dan keberkahan baik untuk dirinya sendiri, maupun untuk sesama. Aamiin.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, pendidikan, takwa, ) 


***) Ina Salma Febriany

Kamis, 01 Oktober 2015

SABAR YANG DIPUJI

Dalam kehidupan, semua yang terjadi sudah ditentukan oleh Allah SWT. Bahkan, daun yang jatuh sekalipun tidak luput dari ketentuan yang sudah digariskan-Nya.
Dari Abdullah bin Mas'ud, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian, diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rezekinya, ajalnya, amalnya, dan kecelakaan atau kebahagiaannya." (HR Bukhari dan Muslim).
Kejadian jatuhnya crane di Masjidil Haram beberapa hari lalu menyisakan duka mendalam bagi kita. Siapa pun tidak berharap akan terjadinya musibah itu. Namun, musibah itu telah terjadi. Terlepas dari penyebabnya apakah murni faktor alam atau kesalahan manusia.
Jika kita terus berprasangka baik kepada Allah, tentu akan mendatangkan hikmah dari kejadian ini. Karena, kita percaya bahwa setelah kesulitan pasti akan ada kemudahan. Firman Allah SWT, "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."(QS al-Syarh [94]: 5-6).
Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah menguatkan kesabaran. Jika kita terus berupaya sabar, terlebih ini adalah sabar dalam beribadah, Allah SWT akan selalu menyertai kita dan memberikan petunjuk-Nya. "(Yaitu) orang-orang yang apabila menimpa kepada mereka suatu musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kita ini dari Allah, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kita semua akan kembali. Mereka itu akan dikaruniakan atas mereka anugerah-anugerah dari Tuhan mereka dan rahmat, dan mereka itulah orang-orang yang akan mendapat petunjuk."(QS al-Baqarah [2]: 156-157).
Kesabaran yang kita miliki mempunyai arti penting dalam menghadapi pelbagai musibah. Keluhan, rasa sakit, dan segala ketidaknyamanan akan berganti dengan perasaan lapang. Prasangka buruk, waswas, dan perasaan gelisah akan hilang digantikan oleh ketenangan.
Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata, "Sabar yang dipuji ada beberapa macam, pertama, sabar di atas ketaatan kepada Allah 'azza wa jalla. Kedua, sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah 'azza wa jalla. Ketiga, sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan...."
Dari Shuhaib, Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin, setiap perkara baik baginya dan hal ini tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika ia diberikan kesenangan, ia bersyukur dan hal ini baik baginya dan jika ia ditimpa musibah, ia pun bersabar dan hal ini baik baginya." (HR Muslim)
Dalam kitab al Minhaj Syarh Sahih Muslim, Ibnu Atha menuturkan, "Sabar adalah menyikapi musibah dengan cara yang baik." Karena dengan sikap terbaiklah, segala perkara akan menjadi lebih baik. Yakinlah bahwa akan ada hikmah di balik segala musibah. Allah Maha Pemilik segala sesuatu mempunyai rencana setelah kejadian ini.
Wallahu a'lam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, sabar, syukur.)


***) Hiznu Sobar