Sabtu, 05 Maret 2016

RAHASIA PUASA SENIN KAMIS

Rasulullah saw bersabda, ''Puasalah engkau, niscaya sehat.'' Sabda Beliau diucapkan 15 abad silam, ketika dunia medis kedokteran belum maju dan secanggih sekarang. Dan, sabda Rasulullah itu terbukti kebenarannya.
Dalam buku Kehebatan Puasa Senin-Kamis yang ditulis oleh Imam Bukhori (Penerbit Vision3),  disebutkan hikmah puasa Senin-Kamis itu terutama menyehatkan jiwa-raga, mencerdaskan, serta memudahkan beragam urusan.
Mengutip pendapat berbagai ahli, buku tersebut menyebutkan hikmah puasa antara lain membuat seseorang tetap awet muda secara fisik dan mental. Puasa juga menyebabkan orang panjang umur. Puasa Senin-Kamis juga menjadi terapi kebersihan jiwa dari noda perilaku kotor dan keji, sekaligus untuk dijadikan sebagai tabungan akhirat.
Dalam bukunya yang berjudul Puasa dan Kesehatan (Penerbit Gema Insani), Dr dr H. Wahjoetomo mengatakan, puasa berpengaruh positif terhadap derajat kesehatan seseorang, asalkan memperhatikan pola makan yang sehat (tidak berlebihan). Penulis juga menegaskan, bahwa puasa paling tidak mempunyai tiga hikmah, yakni sebagai pengendali nafsu, instrumen dasar untuk menumbuhkan kepedulian sosial, dan sarana pelatihan kesabaran.
Mengapa puasa Senin-Kamis, mengapa bukan hari yang lain? Itu pun ada rahasianya. ''Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi Muhammad saw berpuasa pada hari Senin dan Kamis, maka aku bertanya kepada Beliau, lalu Beliau bersabda, 'Sesungguhnya amalan-amalan seseorang didatangkan pada hari Senin dan Kamis.''
Puasa Senin-Kamis merupakan salah satu alat yang cukup relevan untuk meningkatkan kualitas nafsu seseorang, dari nafs ammarah (berjiwa liar) secara bertahap ditingkatkan  menjadi nafs muthmainnah (berjiwa tenang). Hal itu akan sangat membantu seseorang meraih sukses dalam urusan pekerjaan maupun rumah tangganya. Jadi, setelah Ramadhan berlalu, kini saatnya merutinkan puasa Senin-Kamis. 

Sumber : Pusat Data Republika

Jumat, 04 Maret 2016

AMALAN INI LEBIH BESAR PAHALANYA DARI SHALAT & PUASA

Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, suatu ketika bertanya kepada para sahabatnya, ''Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya dari shalat dan puasa? Yaitu engkau damaikan orang-orang yang bertengkar, dan barangsiapa yang ingin panjang usia dan banyak rezeki, sambungkanlah tali silaturahmi.''
Dalam Hadis lain, Rasulullah bersabda, ''Tebarkanlah salam, perkuat silaturahmi, santunilah fakir miskin, dan jangan tinggalkan shalat malam.'' (HR Muslim). 
''Barang siapa percaya kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah mengadakan silaturahmi.'' (HR Bukhari-Muslim). ''Beribadah kepada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya, melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, dan mengadakan silaturahmi,'' demikian jawaban Rasulullah SAW ketika ditanya tentang perbuatan apa yang baik harus dilakukan. (HR Bukhari). 
Nabi Muhammad SAW adalah teladan yang paling nyata dalam memberi maaf kepada musuh. Diriwayatkan oleh Abdullah bin 'Auf: Kami waktu itu sedang berkumpul bersama Rasulullah SAW dan beliau bersabda, 'Janganlah duduk bersamaku, orang yang memutuskan persaudaraan.' Mendengar ucapan tersebut, seorang pemuda berdiri meninggalkan majelis. 
Pemuda itu rupanya telah lama bertengkar dengan bibinya. Ia lalu minta maaf kepada bibinya dan bibinya pun memaafkannya. Setelah itu dia kembali ke majelis, dan Nabi bersabda, 'Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun apabila yang di situ ada orang yang memutuskan tali persaudaraan.' 
Karena itulah, lebaran atau Idul Fitri ini saat yang tepat untuk merajut tali persaudaraan, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dan digariskan Alquran. Setelah sebulan lamanya kita menjalankan ibadah puasa Ramadhan, maka alangkah meruginya bila kualitas ibadah sebulan penuh itu tanpa dilengkapi dengan saling memberi maaf dan meneguhkan kembali tali silaturahim.


Sumber : Pusat Data Republika

Kamis, 03 Maret 2016

ARHAM DAN SILATURAHIM

Banyak cara dilakukan orang untuk menumbuhkan dan mempererat tali persaudaraan. Sekalipun pada dasarnya manusia adalah satu moyang, yakni Adam dan Hawa, namun perselisihan dan konflik tak jarang terjadi dalam kehidupan mereka. Itu sebabnya, diperlukan sarana untuk mempersempit bahkan menghilangkan peluang terjadinya konflik dan perpecahan di antara sesama umat manusia. 
Salah satu media untuk merajut kembali kekerabatan dan mencegah terjadinya konflik itu adalah sesering mungkin melakukan komunikasi satu dengan lainnya. Dalam bahasa Alquran, hal ini dikenal dengan istilah 'silaturahmi' atau silaturrahim. 
Banyak ayat Alquran maupun Hadis yang menggambarkan bagaimana pentingnya silaturahmi. Dalam surat An-Nisaa' ayat 1 disebutkan kata 'arham'. Arham di sini ditujukan kepada segenap manusia agar bertakwa.
''Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri dan daripadanya diciptakan pasangannya dan dari keduanya Ia memperkembangbiakkan sebanyak-banyaknya, laki-laki dan perempuan. Bertakwalah kamu kepada Allah, yang dengan nama-Nya kamu meminta dan (hormatilah) rahim (yang mengandung kamu)...''
Arham adalah kata jamak dari rahim, dan kata dasarnya adalah rahima-yarhamu-rahiman, yang berarti 'kasih sayang', 'lembut hati', 'karunia', dan secara tersirat terdapat arti 'maaf', serta 'penuh kasih sayang' yang merupakan salah satu sifat Allah. 
Manusia semua, laki-laki dan perempuan, adalah berasal dari rahim seorang ibu, yaitu Siti Hawa. Ini membawa makna bahwa semua manusia itu pada hakikatnya bersaudara. Dalam Alquran ditegaskan: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. 
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu (Al-Hujurat: 13). Tradisi silaturahmi yang dijalankan umat Islam kini, didahului oleh tiga macam ibadah: puasa Ramadhan, shalat Id, dan mengeluarkan zakat fitrah. Semua ini diharapkan dapat memberi kesadaran yang lebih intens dalam hidup kerohanian. 
Allah SWT menegaskan: Dan balasan atas suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Maka, barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah... (QS.42: 40). Jadilah engkau seorang pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh (QS. 7: 199). Selain Alquran, juga banyak Hadis yang menyatakan betapa perlunya saling memaafkan dan bersilaturahmi. Pahala memberi maaf sewaktu kita mampu sangat besar, kata Nabi.

Sumber : Pusat Data Republika

Rabu, 02 Maret 2016

MENGIMANI HARI AKHIR

Iman terhadap hari akhir (kiamat) secara khusus diulang-ulang, baik dalam Alquran maupun Hadis. Kerap penyebutan itu terkait dengan penguatan komitmen untuk melaksanakan sesuatu atau untuk meninggalkan sesuatu. 
''... jika berselisih tentang sesuatu, hendaklah kalian kembalikan itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir... (Qs 4:59). 
Penyebutan Iman kepada Allah dan hari akhir, efektif bagi mereka yang percaya kepada Allah, Pencipta segala sesuatu dari tiada dan percaya kepada hari akhir, saat tidak ada waktu undur, tidak ada lagi sogok dan suap. Tidak ada lagi press release pemulas citra buruk. 
''Hari ini Kami tutup mulut mereka, dan yang berbicara kepada Kami adalah tangan-tangan mereka dan yang bersaksi adalah kaki-kaki mereka atas segala yang mereka kerjakan.'' (Qs 36:65). 
Karenanya, rangkaian amal terkait jenazah bukan hanya berdampak sosial, tetapi juga moral-spiritual. Alquran berulang-ulang mengantar harapan Rasulullah saw dan para sahabat jauh ke depan, bahwa kemenangan sejati akan mereka capai di akhirat nanti. 


Sumber : Pusat Data Republika

Selasa, 01 Maret 2016

KAMI DENGAR & KAMI TAAT

Inilah kisah keteladanan dari lelaki bernama Hudzaifah Ibnu Yaman. Salah satu fragmen dalam Perang Khandaq menjadikan kisahnya menjadi suar dalam Islam.
Kita paham bagaimana beratnya perang Khandaq. Rasulullah SAW dan para sahabat memainkan strategi defensif. Lewat peluh dan kepayahan mereka menggali parit. Kelaparan diatasi dengan ganjalan batu. Kaum Muslimin dikepung oleh pasukan aliansi Quraisy.
Sementara dari dalam Kota Madinah, umat Islam dikhianati oleh Yahudi. Terlebih saat itu musim dingin menerpa dengan angin kencang yang tak henti-hentinya menerpa.
Dalam keadaan yang mencekam itu, Rasulullah SAW memberikan tugas yang amat menantang. Memata-matai musuh di seberang. Rasulullah SAW bersabda, "Adakah orang yang bersedia mencari berita musuh dan melaporkannya kepadaku. Mudah-mudahan Allah menjadikannya bersamaku pada hari kiamat".
Begitu Imam Muslim meriwayatkan. Lihatlah balasannya yang amat besar. Rasulullah menjanjikan bagi yang mau berangkat akan menemaninya kelak di hari kiamat. Sebuah balasan yang amat besar. Tapi para sahabat bergeming. Keadaan yang mencekam lebih menusuk ke dalam kalbu mereka.
Rasulullah SAW pun sampai mengulangi sabdanya tiga kali. Tetap, tak ada satupun yang beranjak. Tiba-tiba, Rasulullah SAW langsung menunjuk seseorang.  "Bangkitlah, wahai Hudzaifah. Carilah berita dan laporkanlah kepadaku!"

Dalam hadis yang sanadnya langsung bersambung ke Hudzaifah ini, ia sejatinya merasa berat mengerjakan perintah itu. Sama seperti yang lain. Namun ia mengalahkan semua keengganan itu dan segera bangkit demi namanya langsung disebut Rasulullah. "Karena itu, tidak boleh tidak, aku harus bangkit karena beliau menyebut namaku."
Lihatlah Hudzaifah. Ia tetap mengisahkan bagian kemanusiaannya. Ia merasa berat, itu wajar. Sangat manusiawi. Sahabat-sahabat yang senior pun juga enggan mengajukan diri. Hatinya merasa tak sanggup melakukan pekerjaan yang pahalanya amat besar itu. Namun ia bangkit. Ia berangkat. Demi mematuhi sebuah perintah yang telah terucap. Hudzaifah mendengar dan ia taat. Adakah sifat dan karakter itu masih terpatri dalam diri kita hari ini? Kita kerap mendengarsami'na wa atha'na terucap sesaat sebelum shalat. Saat sang imam memerintahkan kita, jamaahnya, untuk meluruskan shaf. Kami mendengar perintahmu wahai imam, dan kami menaatinya, sesegera mungkin.
Kalimat itu sejatinya tak boleh berhenti dalam ritual shalat saja. Kami dengar dan kami taat adalah prinsip paling kuat dalam kepemimpinan Islam. Bagaimana rahasia pasukan Muslimin yang berasal dari tanah gersang itu bisa memengaruhi dunia? Salah satu prinsip kuat yang diajarkan adalah loyalitas penuh kepada pemimpin. Dengan catatan selama tak mengarahkan pada kemungkaran.
Prinsip ini yang membawa Islam menjadi jaya. Jika kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini akan membawa kepada kemuliaan hidup. Seorang istri yang memiliki kewajiban taat pada suami, dengan prinsip ini akan membawa ketenangan keluarga. Bisa jadi bibit-bibit konflik akan layu sebelum meletup. Karena ada prinsip asasi yang mengalahkan ego diri. Istri mendengar dan ia taat.
Seorang pekerja akan memiliki produktivitas nan tinggi. Karena ia siap mengerjakan apa saja perintah atasan demi selesainya sebuah pekerjaan. Hasilnya bisa jadi jenjang karirnya akan melesat dengan cepat. Karena ia mendengar dan ia taat.
Seorang murid akan mencapai keberkahan ilmu. Penguasaannya terhadap pengetahuan bisa jadi lebih cepat dari murid lain yang sebaya. Karena ia siap mendengar setiap nasihat guru dan mengerjakannya.
Sebuah negara akan stabil jika rakyatnya menerapkan prinsip yang asasi ini. Pemimpin akan ditaati selama ia mengeluarkan kebijakan yang tidak zalim. Keterikatan antara pemerintah dan yang diperintah akan teramat kuat. Inilah kunci, bagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat bisa melewati masa-masa sulit saat dakwah awal merekah di Makkah.
Kekuatan prinsip sami'na wa atha'na pasti menemui batu ujiannya. Apakah kesetiaan kita pada prinsip ini benar-benar purna atau masing setengah matang. Ujian itu pula yang berhasil dilewati Hudzaifah. Setelah berhasil masuk ke dalam pasukan Quraisy, Hudzaifah mendapat informasi berharga.
Namun tak hanya itu. Ia mendapat kesempatan untuk membunuh pemimpin kaum Quraisy, Abu Sufyan karena dekat jaraknya. Namun Hudzaifah memegang erat perintah Rasulullah SAW, "Jangan engkau melakukan tindakan apapun".
Ia lewatkan kesempatan emas untuk membunuh pemimpin musuh. Ia memilih kembali kepada Rasulullah dengan sebuah berita penting. Hudzaifah berhasil melewati ujian ketaatan meski hatinya bergolak. Dan kita paham, seorang Abu Sufyan kelak sebakda Fathu Makkah menjadi pemuka kaum Muslimin yang memiliki jasa besar dalam dakwah ini.


***) Hafidz Muftisany (Republia Online)

Senin, 29 Februari 2016

KETULUSAN PAMAN BILAL

Tidak banyak yang tahu nama sebenarnya dari Paman Bilal. Semua orang memanggilnya Bilal, mulai dari anak-anak yang belajar di Taman Pendidikan Alquran yang diasuhnya, sampai jamaah Shalat Jumat yang setiap Jumat mendengarkan suaranya yang merdu melantunkan azan. 
Gelar Bilal sudah melekat padanya karena tugasnya sebagai muazin resmi masjid di kampungnya. Di samping menjadi muazin, Paman Bilal juga menjadi guru membaca Alquran di TPA yang terletak persis sebelah selatan masjid.
 
Keahliannya adalah qiraah, membaca Alquran dengan irama. Anak-anak yang sudah khatam Alquran dan berminat mendalami qiraah diserahkan pembimbingannya kepada Paman Bilal.
Setiap generasi hampir selalu ada anak asuhnya yang berhasil jadi juara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), baik tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, bahkan juara di tingkat nasional.
 
Dalam membimbing dan mendampingi murid-muridnya ikut MTQ, Paman Bilal tak mengenal kata lelah. Semuanya dilakukan dengan tulus tanpa bayaran apa pun. Kecintaannya pada Alquran dan seni membaca Alquran yang telah membuatnya selalu bersemangat.
Setiap hari Paman Bilal jalan kaki pulang pergi ke masjid dan TPA. Letak rumahnya memang tidak terlalu jauh dari masjid, sekitar 1,5 km. Jarak itu cukup melelahkan juga jika dalam sehari dia bolak-balik ke masjid beberapa kali.
Pernah suatu kali, seorang jamaah masjid menawarkan untuk memboncengnya ke masjid naik sepeda motor, tapi Paman Bilal menolak. Paman Bilal beralasan, “Jika naik sepeda motor, saya terlalu cepat sampai, padahal saya belum selesai membaca Alquran.”
 
Rupanya jalan pulang-pergi ke masjid itu diisi Paman Bilal dengan membaca surah-surah tertentu yang dihafalnya. Demikianlah Paman Bilal, setia dengan dua tugas utamanya, menjadi muazin dan guru qiraah. Sudah puluhan tahun berlalu, entah berapa banyak angkatan murid-murid TPA yang diasuhnya.
 
Beberapa di antara mereka juga sudah ada yang menjadi guru TPA. Begitu juga di masjid, sudah muncul beberapa kader yang siap menggantikan tugasnya sebagai muazin. Jika Allah SWT menjemput ajalnya, dia sudah siap. Tapi, satu keinginannya yang belum terwujud, yakni berhaji.
Sebagai muazin tanpa honor dan guru TPA dengan honor sekadarnya, Paman Bilal tidak sanggup membayar ongkos naik haji. Jangan ditanya berapa rindunya Paman Bilal untuk melihat Ka’bah secara langsung dan beribadah di Tanah Suci.
 
Setiap kali diundang menghadiri syukuran orang pergi haji, ia selalu terharu, sambil berdoa diberi kesempatan ke Makkah, suatu saat nanti.
Doa Paman Bilal terkabul. Salah seorang muridnya yang sudah puluhan tahun berkarier di Ibu Kota, bertemu dengannya saat pulang kampung menghadiri syukuran haji kerabatnya. Pertemuan itu menyadarkan murid bahwa sang guru belum haji.
 
Tanpa membuang waktu, dia mengontak beberapa temannya yang kesemuanya murid-murid Paman Bilal. Setelah uang terkumpul maka diproseslah pendaftaran haji untuk guru mereka yang sederhana itu. Dan akhirnya, Paman Bilal bisa menunaikan ibadah haji sebelum meninggal dunia beberapa tahun lalu.
 


***) Yunahar Ilyas (Republika online)

Sabtu, 27 Februari 2016

KEIKHLASAN GURU

"Saya ikhlas jadi guru. Percayalah tujuan saya ikhlas, hanya ingin mengajar dan mendidik murid-murid." Benarkah rasa ikhlas bisa ditakar lewat kata-kata? Ikhlas itu amalan hati, tak perlu disebut dengan kata-kata. Bisa jadi saat bilang ikhlas, itulah tanda ketidakikhlasan. Karena, ikhlas tersimpan di lubuk hati terdalam maka hanya Allah SWT saja yang pasti mengetahui ikhlas tidaknya seseorang dalam beramal (QS at-Taghabun: 4).
Siapa guru yang ikhlas itu? Ali bin Abi Thalib RA berkata, "Orang yang ikhlas adalah orang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima Allah SWT." Bahkan, seorang ulama mukhlisin, Ayyub As-Sakhtiyaany RA, mengatakan, "Demi Allah, tiadalah seorang hamba yang benar-benar ikhlas kepada Allah, melainkan ia merasa senang apabila dirinya seolah-olah tidak mengetahui kedudukan dirinya." Guru yang ikhlas paham dan sadar bahwa segala amal perbuatannya mesti bersih dari sikap riya, dan hanya diniatkan untuk mendapatkan ridha Allah SWT semata.
Tidak ikhlas berarti tidak ada ruhnya dalam suatu amalan. Karena, ikhlas merupakan ruh dan syarat diterimanya amal seorang guru. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat (menilai) bentuk tubuh serta kemolekan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan yang bersemayam dalam lubuk hatimu." (HR Bukhari dan Muslim).
Ada beberapa ciri keikhlasan seorang guru. Pertama, guru berbuat baik bukan karena ingin dipuji, hendak cari nama, atau mendapatkan penghargaan. Dipuji, dihargai, atau bahkan dicaci, sama saja bagi seorang guru yang ikhlas. Yang penting ridha Allah SWT, itu sudah cukup. Guru ikhlas tak silau pujian dari manusia. Oleh karena itu, guru yang ikhlas tak bisa diperbudak penghargaan dalam bentuk perkataan, perhatian, pemberian fasilitas dan tanda jasa, dan lain sebagainya. Firman Allah SWT, "Dan, apa saja harta yang kamu nafkahkan maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan, janganlah kamu membelanjakan (harta) untuk tujuan selain mencari keridhaan Allah semata." (QS al-Baqarah: 272).
Kedua, ikhlas itu tidak pamrih. Amalan seorang guru dikategorikan ikhlas jika dalam melaksanakan amalnya ia tidak mengharapkan untuk mendapatkan sesuatu, seperti pangkat, jabatan, atau kedudukan (QS al-Insan: 9). Guru ikhlas yakin setiap orang akan dinilai dari tanggung jawab terhadap amanah yang diembannya. Maka, guru yang ikhlas tak ujub karena pangkat dan kedudukannya, dan tak rendah diri pula karena tak punya posisi dan jabatan yang tinggi.
Ketiga, guru ikhlas konsisten berbuat baik dan memiliki perasaan nikmat dalam berbuat kebajikan. Guru yang ikhlas akan sibuk beramal baik meskipun membutuhkan pengorbanan harta, pikiran, tenaga, bahkan nyawa sekali pun. Karena baginya, semua amal baik itu adalah investasi terbaik untuk kehidupan di akhirat kelak. Firman Allah SWT, "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan amal kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS al-Anbiya: 90).
Ikhlas adalah sifat baik yang mudah diucap tapi sulit dilakukan. Disiplin saat di depan murid dan kepala sekolah, tetapi tidak peduli waktu saat sendiri. Berapi-api saat menyuruh murid belajar, tapi guru sendiri malas belajar. Dipuji senang, ditegur tidak terima dan sempitlah dada. Senang melihat guru lain susah dan susah melihat guru lain senang. Tanya pada nurani, sudahkah kita jadi pribadi guru yang ikhlas? Wallahu a'lam.


***) Asep Sapa'at  (Republika Online)