Minggu, 31 Januari 2016

KASIH SAYANG ALLAH

Suatu hari, Rasulullah SAW dan para sahabat berjalan di tengah padang pasir. Saat itu, panas sinar matahari terasa menyengat, seolah membakar tubuh, bahkan menelusup menembus ke lapisan kulit.
Tiba-tiba, seorang ibu tampak sedang menggendong bayinya. Sang ibu dengan penuh perhatian mendekap buah hatinya. Ia berusaha melindungi bayinya agar tak terkena panas matahari.
Melihat pemandangan ini, Rasulullah menghentikan langkah para sahabatnya. Seolah mendapat tamsil kasus yang tepat, beliau bertanya, "Wahai para sahabatku, akankah ibu itu melemparkan bayinya ke dalam api yang membara?" Para sahabat menjawab serentak, "Tidak mungkin, wahai Rasulullah."
Kemudian, Rasulullah bersabda, "Ketahuilah, kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kasih sayang ibu itu terhadap bayinya. Dia-lah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim!" (HR Bukhari-Muslim).
Kisah di atas mengajarkan bahwa sifat Allah yang khusus diberikan kepada orang-orang beriman pada hari akhir adalah ar-Rahman dan ar-Rahim. Kedua asma Allah ini (ar-Rahman dan ar-Rahim) berasal dari kata arrahmah. Menurut Ibnu Faris, seorang ahli bahasa bahwa semua kata yang terdiri dari hurufra, ha, dan mim mengandung makna “lemah lembut, kasih sayang, dan kehalusan.”
Kata ar-Rahman berasal dari kata sifat dalam bahasa Arab yang berakar dari kata kerja ra-ha-ma/, artinya ialah penyayang, pengasih, pencinta, pelindung, pengayom, dan para mufasir memberi penjelasan bahwa ar-Rahman dapat diartikan sebagai sifat kasih Allah pada seluruh makhluk-Nya di dunia, baik manusia beriman atau kafir, binatang, dan tumbuh-tumbuhan serta makhluk lainnya.
Dengan kasih-Nya ini, Sang Khalik mencukupkan semua kebutuhan hidup makhluk di alam semesta. Hanya saja, limpahan kasih ini hanya diberikan Allah pada semua mahluk selama hidup di dunia, di akhirat kelak kasih sayang ini hanya diberikan kepada orang beriman yang menjadi penghuni surga.
Sementara itu, ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) di dalam Alquran, Allah mengulangi kata ini sebanyak 228 kali, jauh lebih banyak dari asma Allah, ar-Rahman yang hanya disebutkan sebanyak 171 kali. Jika kata ar-Rahman sifatnya berlaku untuk seluruh manusia maka kata yang kedua ar-Rahim, sifat-Nya yang hanya berlaku pada situasi khusus dan untuk kaum tertentu semata.
Rahim juga disebut sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya janin. Di alam rahim inilah bermulanya kehidupan. Di alam rahim kehidupan ideal kita dijaga dan dipelihara. Bahkan, di alam rahim pula, setiap manusia dipersaksikan “apa dan ke mana” tujuan hidupnya.
Maka, tak heran apabila bayi dilahirkan, ia akan menangis, karena meninggalkan rahim yang melimpahkan sayang dan rasa aman. Di dalam sifat rahim Allah, kita akan hidup dengan aman, nyaman, penuh kemuliaan, sentosa, dan penuh keberkahan.
Maka, sebutlah nama-nama Tuhan yang indah, dalam setiap awal doa dan permintaan. Mereka yang selalu membasahi bibirnya dengan kata, ar-Rahman dan ar-Rahim, maka Allah akan melimpahkan  kasih sayang-Nya yang tak terbatas. Siapa saja dikasihi dan disayangi Allah. Maka, tak satu pun makhluk di dunia memiliki alasan untuk membenci kecuali mereka yang telah dikuasai nafsu angkara murka.


***) Dadang Kahmad

Sabtu, 30 Januari 2016

MENGAPA KITA BIARKAN MASJID SEPI

Bulan Ramadhan merupakan momen paling tepat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah. Mengaji Alquran, zikir, menghadiri majelis taklim, dan shalat berjamaah. Apalagi, jika amaliah tersebut dilakukan di masjid, tentu lebih afdhal lagi.
Pada bulan yang suci ini, hampir semua agenda keagamaan dipusatkan di masjid. Tadarus Alquran, berbuka bersama, santunan anak yatim, dan berjamaah shalat. Ibadah yang disebut terakhir semakin ramai, berbeda dengan bulan-bulan lainnya.
Shalat berjamaah, ibaratnya adalah show of force atau unjuk kekuatan kaum Muslimin. Ibadah jamaah, baik itu di masjid atau mushala adalah syiar agama. Dalam Alquran disebutkan, bagi yang mengagungkan syiar-syiar Allah merupakan ciri orang bertakwa.
Mereka yang memakmurkan masjid disebut oleh Nabi Muhammad dalam sabdanya, “Jika kalian melihat seorang yang membiasakan diri mendatangi masjid, maka saksikanlah baginya keimanan. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.’’ (HR at-Tirmizi).
Nabi banyak memberi motivasi kepada kaum Musimin secara umum untuk mendatangi masjid dan memakmurkannya. Beliau menyebut mereka dengan predikat yang baik dan memuliakan mereka. Seperti disebutkan dalam hadis, “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid adalah kerabat Allah.” (HR Bazzar).
Bahkan, Nabi secara khusus mendidik para sahabat untuk mencintai masjid. Dengan dijadikannya masjid sebagai pusat peribadatan, pendidikan, dan pemerintahan sekaligus, membuat intensitas kehadiran para sahabat semakin meningkat.
Dengan didikan tersebut, otomatis hati mereka menjadi semakin dekat dengan masjid. Sekarang kita perlu berkaca, mengapa kita terkadang membiarkan masjid sepi. Padahal, di antara kita ada yang duduk sebagai pengurus utama masjid atau rumahnya dekat dengan masjid.
Di sini, kita banyak memiliki masjid yang seharusnya juga setiap saat kita makmurkan masjid tersebut. Bandingkan dengan perjuangan saudara-saudara kita seiman di daerah minoritas, di Eropa, Amerika, bahkan di Asia sendiri.
Betapa sulitnya mereka memiliki masjid. Pemerintah setempat cenderung menerapkan aturan yang ketat. Terkadang mereka harus mengakali hal itu dengan menjadikan rumah mereka sebagai masjid atau menyewa gedung untuk sekadar shalat Jumat.
Di Palestina, saudara-saudari kita tidak diizinkan shalat di Masjid al-Aqsa kecuali bila berusia di atas 50 tahun. Mereka berani bentrok dengan polisi Israel agar bisa shalat di al-Aqsha. Luka akibat tembakan dan cedera karena dipukul senjata tak menyurutkan mereka.


***) Muhammad Shobri Azhari

Jumat, 29 Januari 2016

MANUSIA PENGEMBARA

Suatu hari, Rasulallah SAW memegang pundak Abdullah bin Umar. Rasulullah SAW kemudian berpesan, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengembara.” 
Rupanya, putra Umar bin Khattab itu sangat terkesan dengan ucapan singkat Rasulallah SAW hingga dia berkata, antara lain, “Jaga nikmat hidupmu sebelum ajal menjemputmu. 
Demikian pula seharusnya kita. Bukankah setiap capaian dunia hanyalah halte demi halte untuk sampai pada terminal akhir kehidupan yaitu kematian. 
Pada hakikatnya, manusia memang hanya musafir, hingga Ibnul Qayyim, ulama besar abad ke-12 Masehi berkata, “Manusia sejak tercipta dilahirkan untuk menjadi pengembara. 
Sifat pengembara dalam diri manusia merupakan sebuah keniscayaan kehidupan sebagaimana diungkap Imam Syafii, “Bahkan seekor singa tidak akan pandai memangsa jika tidak hidup di hamparan bumi yang luas, dan anak panah tak akan menemui sasarannya bila tak pernah dilepaskan dari busurnya.
Sayangnya, sifat pengembaraan manusia sering membuatnya alfa dalam pengembaraannya di padang safana kehidupan. Manusia menjadi rakus dalam berburu rezeki. 
Manusia berpikir, rezeki adalah uang. Padahal, sebuah cinta dari seorang istri pun adalah rezeki. Bukankah Rasulallah SAW menyebut cinta Khadijah dengan berkata, “Aku telah diberi rezeki dengan cintanya. 
Seringkali manusia tak pandai bersyukur atas karunia rezeki yang melimpah. Padahal, Allah SWT berjanji untuk memberi lebih jika seorang hamba pandai bersyukur. 
Karena itulah, Ibnul Qayyim berkata, “Andai seorang hamba mendapat rezeki dunia dan seluruh isinya, kemudian dia bekata, “alhamdulillah,” niscaya pemberian Allah padanya dengan ucapan hamdallah itu akan lebih besar dari seluruh dunia dan seisinya. 
Mengapa? Sebab, segala kenikmatan dunia akan berakhir sementara pahala atas ucapan tahmid itu kekal hingga hari akhir. Manusia memang sering mengalami krisis keyakinan soal rezeki. Krisis itulah yang menghantarkan manusia menjadi serakah, korup, manipulatif dan merampas hak-hak orang lain. 
Ulama mengatakan ada tiga konsep rezeki. Rezki yang telah dijamin (rizqul makful), rezeki yang dibagikan (rizqul maqsum) dan rezeki yang dijanjikan (rizqul maw’ud). 
Konsep rezeki pertama seperti udara yang kita hirup, angin yang berhembus, dan kenikmatan lainnya yang Allah SWT berikan tanpa usaha manusia. Pada dua konsep rezeki lainnya, manusia harus berusaha, tentu dengan cara yang halal. 
Itulah sebabnya Rasulallah SAW berkata, “Mencari rezeki yang halal adalah (bersifat) wajib setelah kewajiban agama (seperti shalat dan puasa).” Setelah segala kenikmatan rezeki diperoleh, manusia seharusnya berbagi. 
Nasihat ringkas Ibnul Qayyim menarik untuk dikutip. Ia berkata, “Boleh jadi saat kau tertidur lelap, pintu-pintu langit tengah diketuk puluhan doa; dari orang miskin yang kau tolong; dari orang lapar yang kau beri makan; dari orang yang sedih dan telah kau hidupi, dari orang yang berjumpa denganmu dan kau berikan senyum. Karena itu jangan pernah meremehkan amal-amal kebaikan”. Wallahu a’lam.

***)Inayatullah Hasyim 

Rabu, 27 Januari 2016

DEDADUNAN YG BERCECERAN DI HALAMAN MASJID

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan ia pergi ke Masjid Agung di kota itu. Ia berwudu, masuk masjid, dan melakukan shalat Zuhur. Setelah membaca wirid sekadarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid.
Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembarpun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura siang hari sungguh menyengat. Keringat membasahi seluruh tubuhnya.Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya.
Pada suatu hari takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua datang. Pada hari itu, ketika ia tak menemukan satu daunpun terserak, ia menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum ia datang?
Orang orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku, berikan kesempatan padaku untuk membersihkannya”. Singkat cerita nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan seperti biasa.
Seorang kyai yang terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu.
Perempuan itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: Pertama, hanya Kyai yang mendengarkan rahasianya
Kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan kita dapat mendengarkan rahasia itu.
“Saya ini perempuan bodoh, saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tiak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya.
Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Lebih dari itu ia menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal di hadapan Allah SWT.
Ia memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat bagi semua alam selain Rasulullah?

Sumber: Salingsapa

Minggu, 24 Januari 2016

MERENUNGI HIKMAH AIR

Allah yang Maha Kasih telah menurunkan air ke muka bumi sebagai rahmat bagi manusia. Sudah sepantasnya manusia bersyukur dengan curahan hujan yang datang. Alquran pun mengatakan bahwa air merupakan sumber kehidupan. 
Imam Besar Masjid Istiqlal Ali Mustafa Ya’qub mengatakan, air merupakan unsur penyebab kehidupan di muka bumi ini. Hal ini tercantum dalam ayat Alquran.  “...Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air,...” (QS al-Anbiya [21]: 30).
Ini diperkuat dengan pendapat Ketua Ikatan Da’I Indonesia Ahmad Satori. Ia mengatakan, turunnya air menjadi awal datangnya keberkahan, kesejahteraan, dan limpahan rizki bagi manusia. “Semua rezeki itu dari langit melalui hujan,” kata dia. 
Air yang turun dari langit, diterima oleh bumi dan meresap ke tanah-tanah. Dari tanah itu muncul tumbuh-tumbuhan yang menjadi konsumsi manusia dan hewan. Dengan adanya tumbuh-tumbuhan, manusia menjadi sehat. Dari fisik yang sehat itu turun keturunan yang sholeh, baik, dan sehat. 
“Maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai untukmu.” (QS Nuh [71]: 10-12). 
Seperti tercantum dalam ayat di atas, hujan yang turun tak hanya menghasilkan tumbuhan konsumsi. Dari tanah yang dibahasi oleh hujan tumbuh pula bunga-bunga menjadi kebun atau taman yang indah. Dari taman-taman inilah muncul rasa tenang dan hati dan jiwa yang sehat. 
Hujan tak hanya menjadi berkah bagi mereka yang tinggal di daerah dengan intensitas hujan yang baik. Dari hujan yang lebat, Allah mengalirkannya ke sungai-sungai. 
Air sungai ini menjadi berkah bagi mereka yang tidak terdampak hujan. Dari sinilah pertanian tumbuh dengan baik, orang-orang dapat menggunakan air untuk membersihkan diri (thaharah), menghidupkan pembangkit listrik, dan sebagainya. 


Sumber : Harian Republika

Kamis, 21 Januari 2016

KEDUDUKAN BERBICARA

Ada pelajaran menarik yang bisa dipetik dari film pendek berjudulMakna Kekuatan Kata-Kata yang bisa kita saksikan melalui Youtube. Film itu bercerita tentang seorang pengemis buta yang mencari nafkah di trotoar jalan. 
Untuk mendapat simpati dan belas kasihan, pengemis itu menuliskan kalimat
 Saya orang buta, tolonglah saya pada kertas karton. Tulisan itu ternyata tak banyak menarik perhatian orang-orang yang lewat. 
Hanya sedikit orang berlalu-lalang yang memberi uang recehan bagi pengemis itu. Kemudian lewatlah seorang perempuan muda di depan pengemis itu. Setelah beberapa langkah melewati pengemis buta, perempuan muda itu balik lagi dan mendekati pengemis itu.
 
Ia lalu mengambil kertas karton yang berada di samping si pengemis buta. Perempuan itu lalu membalikkan kertas karton tersebut dan menulis sebuah kalimat,
 Hari yang indah, namun aku tidak dapat melihatnya. 
Apa yang terjadi setelah kalimat itu dipajang di dekat pengemis itu? Tanpa diduga, kalimat itu berhasil menyentuh hati setiap orang yang melintas di depan pengemis itu. Orang-orang pun memberikan uang koinnya kepada pengemis tersebut.
 
Tentu saja, pengemis buta keheranan. Tak lama kemudian si perempuan muda datang lagi dan memberi tahu mengapa orang-orang mau memberikan uang koinnya pada sang pengemis.
 
Bagi saya, cerita yang disajikan dalam film pendek itu begitu menarik. Pasalnya, cerita itu ditutup dengan ungkapan, “
Change your word, change your world” (mengubah kata-katamu akan mengubah duniamu). 
Kata-kata, baik lisan maupun tulisan, akan membangun dunia kita, baik dunia subjektif (batin) maupun dunia objektif (lahir/lingkungan). Seseorang yang biasa berkata baik, hidupnya akan baik. Begitu pula sebaliknya.
 
Ketika kita berkata jujur, dunia batin akan tenteram dan secara lahir keberadaan kita akan diterima dengan baik oleh lingkungan. Sebaliknya, ketika kita berkata bohong, apalagi bohong sudah menjadi gaya hidup, dunia batin kita akan senantiasa resah-gelisah dan biasanya lingkungan pun menolak kita.
 
Dengan kata lain, kata-kata ikut menentukan nasib kita. Biasa berkata baik akan membuat nasib kita menjadi baik. Pun sebaliknya.
 
Rasulullah SAW bersabda, “
Hendaklah kamu bersikap jujur karena kejujuran mengantarkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan mengantarkan kepada surga. Sesungguhnya jika seseorang berlaku jujur dan memilih kejujuran, dia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Jauhilah oleh kalian berbuat dusta karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan dan kejahatan mengantarkan seseorang ke neraka. Dan jika senantiasa berdusta dan memilih kedustaan, seseorang akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta. 
Allah SWT telah mengingatkan kita akan pentingnya berkata baik dan benar. Setidaknya ada dua janji Allah bagi orang biasa berkata baik dan benar. Pertama, Sang Khalik akan membantu menyelesaikan urusan dunia kita. Kedua, Allah akan mengampuni dosa-dosa kita.
Sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Ahzab ayat 70-71. Tidak hanya Allah SWT yang mengingatkan pentingnya berbicara yang baik, Rasulullah SAW pun mengingatkan hal yang sama. Beliau bersabda, “Bicaralah yang baik atau diam. 
Bahkan, menurut orang Arab, “
Salaamatu al insaan fii hifzhi al lisaan(Keselamatan manusia sangat bergantung pada kemampuan menjaga lisan (perkataan).” 
Begitulah kedudukan berbicara dalam ajaran Islam. Menurut Islam, berbicara tidak hanya memiliki dampak dunia, tetapi juga akhirat. Jika kita membiasakan bicara yang baik, dunia dan akhirat kita akan baik. Dan sebaliknya.
 Wallahu a'lam.


***) Karman  Republika Online

Rabu, 20 Januari 2016

NARASI MUHAMMAD

“Aku bisa berdoa kepada Allah untuk menyembuhkan butamu dan mengembalikan penglihatanmu. Tapi jika kamu bisa bersabar dalam kebutaan itu, kamu akan masuk surga. Kamu pilih yang mana?”
Itu dialog Nabi Muhammad SAW dengan seorang wanita buta yang datang mengadukan kebutaannya kepada beliau, dan meminta didoakan agar Allah mengembalikan penglihatannya.
Dialog yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Abbas itu berujung dengan pilihan yang begitu mengharukan: "Saya akan bersabar, dan berdoalah agar Allah tidak mengembalikan penglihatanku."
Beliau juga bisa menyembuhkan seperti Nabi Isa, tapi beliau menawarkan pilihan lain: bersabar. Sebab kesabaran adalah karakter inti yang memungkinkan kita survive dan bertahan melalui seluruh rintangan kehidupan. Kesabaran adalah karakter orang kuat.
Sebaliknya, tidak ada jaminan bahwa dengan bisa melihat, wanita itu akan bisa melakukan lebih banyak amal saleh yang bisa mengantarnya ke surga. Tapi di sini, kesabaran itu adalah jalan pintas ke surga.
Selain itu, penglihatan adalah fasilitas yang kelak harus dipertanggungjawabkan di depan Allah, karena fasilitas berbanding lurus dengan beban dan pertanggungjawaban. Ada manusia, kata Ibnu Taimiyah, lebih bisa lulus dalam ujian kesulitan yang alatnya adalah sabar ketimbang ujian kebaikan yang alatnya adalah syukur.
Nabi Muhammad juga berperang seperti Nabi Musa. Bahkan Malaikat Jibril pun pernah meminta beliau menyetujui untuk menghancurkan Thaif. Tapi beliau menolaknya. Sembari mengucurkan darah dari kakinya beliau malah balik berdoa: "Saya berharap semoga Allah melahirkan dari tulang sulbi mereka anak-anak yang akan menyembah Allah."
Muhammad bisa menyembuhkan seperti Isa. Juga bisa membelah laut seperti Musa. Bahkan bulan pun bisa dibelahnya. Muhammad punya dua jenis kekuatan itu: soft power dan hard power. Muhammad mempunyai semua mukjizat yang pernah diberikan kepada seluruh Nabi dan Rasul sebelumnya.
Tapi beliau selalu menghindari penggunaannya sebagai alat untuk meyakinkan orang kepada agama yang dibawanya. Beliau memilih kata. Beliau memilih narasi. Karena itu mukjizatnya adalah kata: Al-Qur`an. Karena itu sabdanya pun di atas semua kata yang mungkin diciptakan semua manusia.
Itu karena narasi bisa menembus tembok penglihatan manusia menuju pusat eksistensi dan jantung kehidupannya: akal dan hatinya. Jauh lebih dalam daripada apa yang mungkin dirasakan manusia yang kaget terbelalak seketika menyaksikan laut terbelah, atau saat menyaksikan orang buta melihat kembali.


Sumber: Salingsapa