Tampilkan postingan dengan label keyakinan takwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keyakinan takwa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 April 2015

TIGA GOLONGAN MANUSIA

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan". (Q.S. Al-Qhashash : 77)

Imam Al-Ghazali membagi manusia kepada tiga golongan, dilihat dari sudut pandang jiwa mereka dalam menghadapi kehidupan. Pertama ialah orang-orang yang celaka, yang disebut dengan julukan Al-halikun; kedua, orang-orang yang beruntung, yang dinamakan Al-faizun; ketiga orang-orang yang pertengahan, yang dinamakan Al-Muqtashidun. Baiklah kita uraikan ketiga golongan ini secara singkat; satu demi satu.

Pertama, Al-Halikun
Golongan yang pertama ini senantiasa sibuk dan menyibukkan diri dengan kenikmatan hidup duniawi, dan melupakan sama sekali persiapan-persiapan untuk kehidupan yang akan datang (akhirat). Dunia ini dipandangnya laksana lautan madu yang perlu dicicipi kelezatan rasa manisnya. Walaupun dia menyadari bahwa kenikmatan dunia ini sifatnya sementara dan akan fana, tetapi hatinya telah tertambat padanya.
Meskipun setiap saat dia menyaksikan bahwa dunia ini hanyalah tempat lalu lalang, dimana orang silih berganti datang dan pergi. Sementara yang pergi tidak bisa mengangkut sumber-sumber kenikmatan hidup namun peristiwa-peristiwa itu tidak sedikitpun menggugah hati nurani dan kesadarannya.
Memang sudah menjadi tabiat manusia cinta kepada segala sesuatu yang dipandang sebagai kenikmatan duniawi. Allah ... berfirman : "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)". (Q.S. Ali Imraan : 14)
Meskipun tabiat dan naluri manusia cinta kepada kenikmatan dunia, tapi Allah ... juga menganugerahkan satu instrumen yang dapat mengendalikan keinginan-keinginan itu, yaitu akal. Dengan akal manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana menguntungkan dengan yang merugikan, antara nilai-nilai untuk jangka panjang atau pendek dan lain sebagainya.
Namun, ternyata akal saja tidak cukup. Buktinya, berapa banyak orang yang cerdas, pintar, brilian, otaknya encer tapi justru kepintarannya menyeret kelembah kehancuran dan kebinasaan. Itulah sebabnya akal pun perlu mendapat bimbingan dan petunjuk dari Pencipta dan arsitek akal itu sendiri yaitu Allah ...
Ajaran-ajaran Islam mengandung petunjuk-petunjuk yang dapat dibuat menjadi kompas mengarungi samudera kehidupan ini. Agar jangan sampai tengelam dan berakhir terkubur di dalam dasar lautan (kecelakaan) untuk selama-selamanya. Pada ayat yang lain dalam Al-Qur'an Allah memperingatkan kepada manusia bahwa kehidupan ini laksana pentas drama, atau semacam fatamorgana, yang selalu mengkaburkan pandangan yang sebenarnya. Allah ... berfirman. "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu". (Q.S. Al-Hadid : 20)
Pada ayat di atas ditegaskan lima macam kedudukan kehidupan dunia yaitu, permainan (la'ibun), hal-hal yang melalaikan (laghwun), perhiasan (zinatun), bermegah-megahan (tafakhur), dan berlomba dalam megah-megahan. Apabila manusia tidak pandai memanfaatkan kedudukan yang demikian, maka timbullah bencana dan kecelakaan yang merugikan diri sendiri, bahkan seringkali pula merugika orang lain. Sehingga ia tidak hanya menjadi al-halikun (orang yang celaka) tetapi juga Al-Muhlikun (orang-orang yang mecelakakan) orang lain dan masyarakat.

Kedua, Al-Faizun
Golongan manusia yang kedua dinamakan oleh Imam Al-Ghazali sebagai Al-Faizun, yaitu orang yang beruntung atau yang mendapat kemenangan. Adapun perkataan al-faizun berasal dari bahasa Arab kata fawaza yang artinya menurut istilah Al-Qur'an, memperoleh kebaikan dengan hasil yang mengandung keselamatan. Perkataan al-faizun dalam Al-Qur'an melukiskan personifikasi orang-orang yang mendapat kenikmatan dan keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Juga menggambarkan potret oleh orang-orang yang patuh, tekun, ikhlas, bertaqwa kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah ... berfirman, "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan". (Q.S. At-Taubah : 20)
Dalam ayat yang lain Allah .. berfirman, "Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan". (Q.S. An-Nuur : 52)
Menurut Imam Al-Ghazali, kaum al-faizun (orang yang beruntung) itu ialah orang yang lebih sibuk dan menitik-beratkan amalnya untuk kepentingan kehidupan di akhirat kelak. Ini tidaklah berarti bahwa seluruh kegiatan harus dipusatkan untuk keperluan kehidupan akhirat semata. Sikap hidup yang demikian tidak dibenarkan dalam ajaran Islam.
Pernah terjadi di zaman Rasulullah ... seorang sahabat yang bernama Utsman bin Ma'zhun, menjalankan satu tindakan yang ekstrim dan melampui batas dengan meninggalkan seluruh aktifitas duniawinya. Siang dan malam ia gunakan untuk beribadah kepada Allah. Bahkan, istrinya yang bernama Haula' dilarang untuk "mengganggu dan mendekatinya". Tatkala Rasulullah ... mengetahui hal itu, maka nabi memanggil Utsman bin Ma'zhun dan memerintahkan kepadanya untuk mengurungkan niatnya dan dia harus hidup dan bergaul kembali dengan istrinya seperti biasanya, sebab tindakannya tidak dibenarkan dalam ajaran Islam.

Ketiga, Al-Muqtashidun
Adapun golongan al-muqtashidun itu adalah orang-orang yang pertengahan, yang tidak menyia-nyiakan persiapan (bekal) untuk kehidupan akhirat, tetapi juga memanfaatkan seperlunya kehidupan duniawinya. Menurut pendapat Al-Ghazali Al-Muqtashidin adalah orang-orang yang sibuk memanfaatkan kenikmatan dunia ini untuk kepentingan hidup yang akan datang (Akhirat).
Hal ini selaras dengan firman Allah dalam surat Al-Qashas ayat 77. Pada ayat tersebut disebutkan prioritas untuk mempersiapkan bekal akhirat tanpa meninggalkan kenikmatan duniawi. Yang perlu diperlihara ialah sikap seimbang antara kehidupan  dunia dan akhirat. Meskipun keseimbangan tersebut tidak harus fifty-fifty (50:50). Menjaga keseimbangan ini termasuk salah satu seni  hidup bagi mereka yang mendapatkan hidayah dan taufik Ilahy.
Kehidupan di dunia merupakan permainan dan senda gurau. Ada kalanya menang ada kalanya kalah. Susah dan senang silih berganti. Senangnya merupakan kesenangan menipu, sedihnya merupakan kesengsaraan sementara. Itulah dinamakan kehidupan di alam fana. Sungguh berbeda dengan kehidupan sejati dan abadi di akhirat nanti.
Semoga kita termasuk menjadi hamba-Nya  yang mendapatkan kehidupan dunia ini sebagai sarana untuk mendapatkan keselamatan di kehidupan akhirat kelak
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan takwa, syukur, takwa, pendidikan, )

Senin, 09 Februari 2015

AR RAHMAN DAN AR RAHIM



Nama Allah yang terkandung dalam basmallah adalah Ar Rahman dan Ar Rahiim, sifat kasih sayang. Hikmah di balik nama tersebut harus kita fahami dengan baik. Semoga dengan mempelajarinya kita menyadari siapa Allah dan bagaimana kita meniru sifat-Nya. Yang disebut orang yang pengasih adalah orang yang selalu berniat memberi atau menolong orang lain dengan segenap kemampuannya. Sedang yang dimaksud dengan Ar Rahiim, sifat pengasihnya Allah, adalah pemberian yang melimpah terus menerus, terlepas dari apakah yang diberi tersebut membutuhkan atau tidak, bahkan layak menerima atau tidak.
Berbeda dengan sebagian besar manusia, kelemahan kita adalah baru mau memberi jika diberi atau karena mengharapkan sesuatu, misalnya mengharapkan pujian, penghargaan atau balas budi. Ciri kita masih tak ikhlas saat memberi adalah kecewa jikalau orang yang diberi tak balas budi atau tak mengucapkan terima kasih. Kasih sayang Allah menyelimuti segala sesuatu. Allah memberi bukan karena kepentingan-Nya, tapi karena perhatian Allah kepada makhluk-makhluk-Nya, baik Muslim atau kafir, shalih ataupun tidak.
Allah memberi tak pandang bulu, dicurahkan kepada semua makhluk-Nya. Pemberian Allah bukan untuk kepuasan Allah karena Mahasuci Allah dari membutuhkan apa pun, tapi justru untuk kebaikan kita. Berbeda dengan Ar Rahiim, Ar Rahman lebih tinggi daripada Ar Rahiim. Ar Rahman jangkauan kasih sayangnya meliputi dunia akhirat, sedang Ar Rahiim hanya duniawi. Sebelum Allah menciptakan kita, Allah telah memberikan kasih sayang-Nya pada kita dengan menciptakan dan membentuk.
Kemudian setelah tercipta, kita dituntun mendapatkan iman dan kebahagiaan dunia akhirat. Setelah mati, kita diberi peluang menatap-Nya di akhirat kelak. Kita sering bertanya mengapa Allah memberikan sakit, kebangkrutan dan berbagai musibah? Bahkan kita juga sering bertanya mengapa tak sedikit orang yang rajin beribadah tapi tetap terkena musibah? Camkan baik-baik, tak ada keburukan yang tak mengandung kebaikan. Keburukan yang ditimpakan kepada kita pasti berisi kebaikan di dalamnya.
Ketidaksabaran dan ketidakmampuan kita memahami hikmahlah yang membuat seolah kejadian itu buruk. Dengan kedalaman iman kita dapat menembus keyakinan bahwa tak ada keburukan yang tak mengandung kebaikan. Ambil contoh, seorang anak tertusuk duri hingga harus diamputasi. Diamputasi tangan adalah suatu keburukan, tapi jika tak diamputasi ia akan tetanus dan bila penyakitnya makin kronis tubuhnya akan hancur.
Diamputasi bukanlah suatu keburukan walau tubuhnya tersakiti dan sebagian tangannya hilang. Disakiti untuk kebaikan tetap kebaikan. Karenanya, janganlah kita menjadi sengsara karena bencana yang menimpa hingga menyangka bahwa Allah tak sayang pada kita. Bila terjadi sesuatu pada diri kita yang tampaknya seperti keburukan, maka ingatlah bahwa Allah senantiasa berniat berbuat baik kepada hamba-Nya.
Ibarat anak yang diamputasi tadi, sang orang tua mengamputasi bukan karena ingin menghilangkan tangannya, tapi justru untuk menyehatkannya. Begitupun, aneka cobaan dan masalah dalam hidup ini sesungguhnya merupakan kasih sayang Allah untuk keselamatan kita. Hikmah utamanya adalah kita tak boleh su'udzan di balik sepelik apa pun masalah yang menimpa karena pasti tersimpan niat baik dari Allah untuk kita dan pasti tersimpan kebaikan-kebaikan yang terkandung dalam setiap kejadian yang kita anggap buruk.
Hikmah lainnya adalah kita harus meniru sifat kasih sayang Allah ini. Seorang Muslim yang mengikuti sifat kasih sayang Allah, dia akan peka terhadap orang-orang di sekitarnya yang berada dalam kesulitan. Dia terus melacak siapa yang membutuhkan pertolongan seraya menyediakan diri dan hartanya untuk menolong dengan segenap kemampuannya.
Jika tak mampu menolong, maka dia berusaha memfasilitasi untuk menjadi perantara pertolongan. Jika itupun tak berdaya dilakukannya, maka berempati dengan menjadikan dirinya sebagai tempat curhat yang bisa meringankan bebannya. Jika itupun tak sanggup, maka dia berdoa di balik gelap malam tanpa sepengetahuan siapa pun karena dia sangat merindukan orang lain terlepas dari kemalangannya.
Inilah sebenarnya karakter seorang Muslim, selalu berfikir bagaimana menolong sesama dan melepaskan kemalangan orang lain. Jika hal ini ada pada diri kita, kita akan hidup penuh dengan kebahagian, bukan karena mendapatkan pertolongan, tapi karena kita bisa menolong orang lain.
hidayah, hikmah,keyakinan takwa, 

Minggu, 08 Februari 2015

SALING MENASEHATI DALAM KEBAIKAN

Fenomena saling menyalahkan, merasa yang paling benar, serta senang melihat kesengsaraan yang dihadapi oleh sesamanya merupakan penyakit yang harus segera dihilangkan. Manusia merupakan makhluk sosial yang terikat dan bersaudara antara satu dan yang lainnya. Maka, berbuat kebaikan kepada siapa pun menjadi mutlak dilakukan untuk menciptakan hubungan antara sesama manusia yang humanis.
''Demi masa. Sesungguhya, manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.'' (QS Al-Ashr [103]: 1-3).
Seseorang akan merasa beruntung bila ia menggunakan waktunya untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Memang, alangkah indahnya bila kehidupan kita sudah disemarakkan dengan semangat saling menasihati. Betapa tidak? Setiap orang butuh keselamatan. Selamat dari kerusakan, kebodohan, kecelakaan, kekurangan, kelalaian, dan kesalahan. Bentuk cinta dan kasih seseorang terhadap yang lainnya adalah dengan menasihati supaya tidak terjun dalam kubangan kesalahan dan dosa.
Seorang Muslim tidak akan rela melihat saudara se-Muslim lain berbuat kesalahan yang dapat menjauhkan dirinya dari pertolongan syariat.
Makna dari nasihat adalah 'menyuruh kebajikan dan melarang kemungkaran', yaitu mengajak orang lain untuk mengerjakan perbuatan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT dan mengajaknya untuk tidak melakukan perbuatan yang malah dapat menjauhkan diri dari-Nya.
Merupakan tugas setiap Muslim baik perempuan maupun laki-laki untuk saling menasihati seperti dalam firman-Nya, ''Dan, hendaklah ada dari antara kamu segolongan umat yang berseru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan, merekalah orang-orang yang beruntung.'' (QS Ali Imran [3]: 104).
Namun demikian, terkadang banyak yang mau menasihati orang lain, memberikan koreksi, bahkan mengkritik. Tapi, sayangnya, ketika ia sendiri yang dikoreksi dan dinasihati, terkadang sulit sekali untuk berlapang dada menerimanya.
Nasihat yang baik yang boleh kita sampaikan adalah nasihat yang benar, mengandung muatan positif, dan tentunya penuh makna serta manfaat bagi semua orang, yaitu mengajak pada kebajikan dan menjauhi kemungkaran yang berdasarkan Alquran dan sunah.
Dan, bukanlah sebaliknya, menganjurkan kemungkaran dan melarang untuk mengerjakan kebajikan. Apa pun yang kita sampaikan jika itu benar, alangkah baiknya bila cara menyampaikannya pun benar.
Dengan nasihat, kita harus membantu yang lupa agar menjadi ingat, membantu yang lalai agar menjadi semangat, yang tergelincir menjadi bangkit kembali, yang berlumur dosa menjadi bertobat. Intinya, kalau dilandasi niat yang baik, tentu akan melahirkan kebaikan pula.

keyakinan takwa, syukur., sabar, 

Jumat, 06 Februari 2015

BELAJAR TANPA HENTI




Makin sedikit pengetahuan, makin pahit hidup ini karena tak banyak masalah yang bisa diselesaikan. Oleh karena itu jikalau kita ingin sukses ingatlah janji Allah. "... Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS Al Mujadilah [58]: 11)

Juga sabda Nabi SAW, "Barang siapa yang menginginkan dunia, maka wajiblah baginya dengan ilmu. Barang siapa yang menginginkan akhirat, maka wajib baginya untuk mencari ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan dunia dan akhirat, maka wajib baginya untuk mencari ilmu."

Artinya, kalau kita ingin mengetahui tingkat kesuksesan kita, maka lihatlah sejauh mana kecintaan kita kepada ilmu. Dalam 7B (kiat menjadi sukses), B yang ketiga adalah belajar tiada henti, sampai akhir hayat. Kalau kita ingin sukses, selain ibadah harus tangguh dan akhlak harus dijaga, juga buatlah program belajar tiada henti. Kita tahu bahwa segala sesuatu dalam hidup ini selalu berubah. Umur bertambah tua, tubuh bertambah lemah, kebutuhan bertambah banyak, hingga masalah dan potensi konflik pun bertambah.

Bagaimana mungkin kita menyikapi segala sesuatu yang selalu bertambah tanpa ilmu yang bertambah pula. Mari kita terus menerus meng-upgrade diri dan memperbaiki diri. Kalau ilmu kita luas, maka akan seperti orang yang berada di puncak gunung, dia akan bisa melihat pemandangan di bawahnya lebih luas. Begitupun, orang yang luas ilmunya, ia akan lebih arif dan bijak dalam melihat kehidupan. Atau seperti kapal selam di lautan yang dalam, walau dari sana sini air menekan, dia tak pernah kandas tenggelam.

Begitupun, orang yang mengerti arti kehidupan dapat menyelami kehidupan ini dengan tenang, tidak panik. Sebaliknya, orang yang sedikit ilmunya seperti perahu di permukaan laut yang selalu terombang ambing ombak. Orang yang tidak berilmu tak bisa menyelami arti hidup, dalam kesenangan membabi buta, dalam kesedihan terpuruk dan putus asa.

Ciri-ciri orang yang kurang ilmu adalah hilangnya kearifan, misalnya menyelesaikan masalah dengan mengandalkan kekuatan otot atau amarah. Kalau semuanya berubah, tetapi ilmu kita tak berubah dan bertambah, maka seringkali yang bertambah adalah peningkatan emosi dan tensi. Betapa sering kita melihat orang-orang yang terpuruk karena kurang ilmunya. Walau dia mempunyai kedudukan, tetapi jika kemampuannya tidak sesuai dengan amanahnya, maka ia akan menjadi hina justru oleh kedudukannya itu. Jika kita ingin mempunyai masa depan yang baik, maka kita harus mencintai belajar, setiap waktu harus sekuat tenaga menambah ilmu.

Jadikan belajar sebagai program harian kita. Setiap hari harus mencari buku-buku untuk dibaca. Kalau melihat televisi, lihatlah program yang bisa menjadi ilmu. Kalau mempunyai uang lebih, ikutilah kursus yang bisa menambah ilmu, wawasan, dan pengalaman. Kemudian, berkumpullah dengan orang-orang yang mencintai ilmu. Tekadkan dalam hati, "Setiap hari saya harus bertambah ilmu. Saya harus mencari uang lebih banyak agar saya bisa menambah ilmu. Saya harus meluangkan waktu untuk mencari ilmu. Saya harus membebaskan diri saya dari belenggu kebodohan dengan mendapatkan ilmu."

Rumah bisa terbakar, mobil bisa hilang, tetapi kalau ilmu melekat pada diri dan diamalkan, maka tak akan ada yang dapat mencurinya. Orang yang lumpuh pun jikalau ilmunya luas, maka dia akan dimuliakan. Syekh Ahmad Yasin badannya lumpuh tak berdaya, tapi ilmunya luas hingga menggetarkan dunia, menjadi pemimpin Hammas di Palestina. Walau dikatakan teroris, tetapi yang terbukti adalah tak ada yang diinginkan beliau melainkan kebaikan.

Kalau kita berilmu, dunia akan datang kepada kita. Firman Allah dalam hadits Qudsi, "Hai dunia, layani orang yang hidupnya digunakan untuk mengabdi kepada-Ku dan perbudak orang-orang yang hidupnya hanya sibuk mencari dunia." Semoga mulai Ramadhan kali ini, dengan pertolongan Allah kita bisa melakukan amal perbuatan apapun dalam hidup yang hanya sekali-kalinya di dunia ini dengan ilmu pengetahuan yang benar. Amin.
hidayah, hikmah, keyakinan takwa,
Republika

Senin, 02 Februari 2015

MALAIKAT MENCARI ORANG-ORANG YANG BERZIKIR

Assalaamu alaikukum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki sekelompok Malaikat yang berkeling di jalan-jalan  mencari orang-orang berzikir. Apabila mereka menemukan sekolompok orang berzikir kepada Allah, maka mereka saling memanggil: 'Ke marilah kepada apa yang kamu semua hajatkan'.
Lalu, mereka mengelilingi orang-orang yang berzikir itu dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit. Apabila orang itu telah berpisah (bubar dari majelis zikir) maka para malaikat naik ke langit. Maka bertanyalah Allah kepada mereka (padahal Dia-lah yang lebih mengetahui perihal mereka).
Allah berfirman : Dari mana kalian semua? Malaikat berkata : Kami datang dari sekelompok hamba-Mu di Bumi. Mereka bertasbih, bertakbir & bertahlil kepada-Mu.  Allah berfirman : Apakah mereka pernah melihat-Ku? Malaikat berkata: Tidak pernah !
Allah berfirman : Seandainya mereka pernah melihat-Ku? Malaikat berkata: Andai mereka pernah melihat-Mu niscaya mereka akan lebih meningkatkan ibadahnya kepada-Mu, lebih bersemangat memuji-Mu dan lebih banyak bertasbih pada-Mu.
Allah berfirman: Lalu apa yang mereka pinta pada-Ku? Malaikat berkata: Mereka minta surga kepada-Mu.
Allah berfirman : Apa mereka pernah melihat surga? Malaikat berkata : Tidak pernah!
Allah berfirman: Bagamana kalau mereka pernah melihatnya? Malaikat berkata: Andai mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan bertambah semangat terhadapnya, lebih bergairah memintanya, dan semakin besar keinginan untuk memasukinya.
Allah berfirman: Dari hal apa mereka minta perlindungan? Malaikat berkata: Dari api neraka.
Allah berfirman : Apa mereka pernah melihat neraka? Malaikat berkata: Tidak pernah!
Allah berfirman: Bagaimana kalau mereka pernah melihat neraka? Malaikat berkata: Kalau mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan sekuat tenaga menghindarkan diri darinya.
Allah berfirman: Aku persaksikan kepadamu bahwasanya Aku telah mengampuni mereka. Salah satu dari malaikat berkata: Disitu ada seseorg yang tidak termasuk dalam kelompok mereka. Dia datang semata-mata karena ada satu keperluan (apakah mereka akan diampuni juga?).
Allah berfirman : Mereka adalah satu kelompok di mana orang yang duduk bersama mereka tidak akan kecewa" (HR Bukhori Muslim).  Dalam riwayat Muslim ada tambahan pada kalimat terakhir : 'Aku ampunkan segala dosa mereka dan Aku beri permintaan mereka". 
Subhanallah mulianya mereka yg berzikir, sahabatku.  Insya Allah ahad 11 Robiul akhir / 1 Februari mulai 07.00 Tawshiyah Zikir Akbar di mesjid Az Zikra Sentul Bogor. Allahumma ya Allah berkahilah persahabatan dan harakah da'wah kami...Aminn. 
(hidayah, hikmah, keyakinan, keyakinan takwa, pendidikan.)



Jumat, 30 Januari 2015

SATU PAGI DI DEPAN KA’BAH

Setiap kali kembali ke Masjid al-Haram dan lingkungannya selang  hanya beberapa tahun, ketika itu pula jamaah haji atau umrah bisa menyaksikan dan sekaligus merasakan banyak perubahan. Renovasi atau pembangunan kembali Masjid al-Haram seolah tidak pernah berhenti bertahun-tahun sepanjang ingatan.
Melakukan ibadah umrah. Jama’ah pagi itu tidak terlalu ramai  di jalanan dan pelataran luar masjid. Tetapi seperti biasanya, jama’ah yang sedang tawaf tetap berjubel. Begitu juga jama’ah yang mengerjakan sa’i—memadati koridor antara Shafa dan Marwa.
Semua ritual ibadah umrah berlangsung di tengah konstruksi besar-besaran. Begitu jamaah memasuki Masjid dari arah Pintu Raja Fahd atau pintu mana saja, terlihat dua tingkatan jalan layang beton, semacamflyover untuk bertawaf, tidak jauh di atas lingkaran luar Ka’bah. Kelihatan sangat mengganggu keindahan dan kesyahduan bertawaf. Belakangan saya mendapat informasi, ‘jalan layang’ di atas Ka’bah itu hanya sementara, yang bakal dibongkar ketika pembangunan selesai—sesuai rencana—pada 2020.
Soal fly over itu hanya bagian kecil dari perubahan jauh lebih besar baik terkait Masjid al-Haram maupun lingkungan di luar masjid. Dapat dikatakan, Masjid al-Haram mengalami pembangunan kembali agar lebih besar dan konon lebih indah (make over). Penulis Resonansi ini hampir tidak lagi mengenali lanskap masjid seperti 2009 ketika menjalankan umrah Ramadhan.
Lebih jauh, di mana-mana terdapat dinding tinggi menutupi bagian masjid yang sedang dikerjakan. Tak kurang, suara bising datang dari pekerjaan konstruksi yang tengah dikerjakan juga muncul dari mana-mana.
Di bagian luar masjid, secara mencolok terdapat sejumlah gedung baru yang menyatu menjadi semacam konglomerasi bangunan di tempat yang dulu adalah benteng ‘Ajyad’, kini diberi nama ‘Abraj al-Bayt’. Konglomerasi gedung jangkung ini terdiri dari mall sampai tingkat 5; seterusnya hotel mewah semacam Fairmont Hotel and Resort berbintang lima; apartemen (tepatnya kondominium) dan istana—terlihat sangat glamour.
Di puncak konglomerasi gedung ini bertengger Menara Jam Makkah (Mecca Clock Tower), yang sering disebut bahkan oleh banyak warga Hijaz sebagai ‘Mecca Big Ben’, seperti ‘London Big Ben’ yang jauh lebih tua (selesai 1858). Asosiasi ini sulit terelakkan. Menara Jam Makkah setinggi 601 meter merupakan tower tertinggi kedua di dunia pada 2012, mengalahkan ketinggian gedung 101 Taipei. Kini Menara Jam Makkah menduduki tempat ketiga tertinggi di dunia setelah Burj al-Arab Dubai dan Shanghai Tower. Sebagai menara jam, Menara Jam Makkah adalah yang tertinggi di dunia.
Dana yang dihabiskan untuk membangun kompleks Menara Jam Makkah ini tidak sedikit. Menurut Kementerian Wakaf Saudi dan berbagai sumber lain, dana yang dihabiskan sekitar 15 milyar dolar AS. Sedangkan biaya pembangunan kembali Masjid al-Haram sampai selesai lima tahun ke depan diproyeksikan mencapai 60 miliar dolar.
Dari satu segi, pengembangan atau bahkan pembangunan kembali Masjid al-Haram bisa dipahami karena meningkatnya jumlah jamaah haji mencapai sekitar lebih tiga juta jamaah. Menurut Kementerian Haji Arab Saudi mencapai 3,65 juta pada musim haji 2012, kemudian merosot sekitar satu juta orang pada 2013 dan 2014 karena pengurangan kuota akibat pembangunan tersebut.
Pengurangan kuota jamaah haji mengakibatkan peningkatan jumlah jamaah umrah. Sejak 2013 jumlah jamaah umrah mencapai lebih dari enam juta orang. Jumlah ini terus meningkat tajam pada 2014 khususnya pada bulan Ramadhan yang diyakini banyak jamaah umrah sebagai sama pahalanya dengan ibadah haji.
Tetapi pembangunan kembali Masjid al-Haram dan lingkungannya dengan alasan masuk akal itu juga mengundang banyak kontroversi dan oposisi. Salah satu alasan pokok, proyek ini mengakibatkan kian lenyapnya situs-situs historis, semacam ‘benteng Ajyad’ yang dibangun Dinasti Usmani, atau tiang-tiang Masjid al-Haram yang telah berusia berabad-abad.
Menurut The Islamic Heritage Research Foundation, lembaga asal Teluk Persia [atau Teluk Arab] yang berpusat di Washington DC, dalam 20 tahun terakhir, perluasan atau pembangunan kembali Masjid al-Haram melenyapkan sekitar 95 persen bangunan dan lingkungan aslinya. Seorang perempuan Saudi asal Hijaz dalam percakapan dengan penulis Resonansi ini menyatakan kejengkelan karena alasan sama. Bagi dia, proyek tersebut tidak lain merupakan penghancuran.
Selain itu, kritik juga tertuju pada ‘Abraj al-Bayt’ yang menjanjikan fasilitas serba mewah yang bukan tidak hedonistik semacam kamar suite hotel bertarif sekitar 7.000 dolar semalam atau fasilitas spa. Bentuk kemewahan yang ada di tempat lain, kini juga dapat dinikmati di ‘Abraj al-Bayt’, yang bukan tidak bisa mengingatkan orang dengan dunia gemerlap Las Vegas.
Di tengah kemewahan itu, terdapat masih banyak jamaah haji atau umrah yang menggelandang di pinggir jalan. Mereka pergi haji atau umrah lebih didorong keimanan-keislaman tanpa mempertimbangkan kesengsaraan yang mereka alami karena keterbatasan dana. Satu pagi yang kontras di depan Ka’bah yang terus berlanjut di hari-hari esok.     (hidayah, hikmah, keyakinan, keyakinan takwa, syukur.)


*)   Republika