Jumat, 14 Agustus 2015

RAHASIA MANAJEMEN WAKTU RASULULLAH

Alquran dan sunah sangat perhatian terhadap waktu dari berbagai sisi dan dengan gambaran yang bermacam-macam. Allah SWT telah bersumpah dengan waktu-waktu tertentu dalam beberapa surah Alquran, seperti al-Lail (waktu malam), an-Nahar (waktu siang), al-Fajr (waktu fajar), adh-Dhuha (waktu matahari sepenggalahan naik), al-‘Ashr (masa).
Sebagaimana firman Allah (QS al-Lail 92: 1-2; QS al-Fajr 89: 1-2; QS adh-Dhuha 93: 1-2; QS al-‘Ashr 103: 1-2). Ketika Allah SWT bersumpah dengan sesuatu dari makhluk-Nya, maka hal itu menunjukkan urgensi dan keagungan hal tersebut. Dan agar manusia mengalihkan perhatian mereka kepadanya sekaligus mengingatkan akan manfaatnya yang besar.
Rasulullah SAW pun telah mengabarkan bahwasanya waktu adalah salah satu nikmat di antara nikmat-nikmat Allah kepada hamba-Nya yang harus disyukuri. Jika tidak, nikmat tersebut akan diangkat dan pergi meninggalkan pemiliknya.
Manifestasi dari syukur nikmat adalah dengan memanfaatkannya dalam ketaatan dan amal saleh. Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua nikmat yang kebanyakan orang merugi padanya: waktu luang dan kesehatan." (HR Bukhari).
Waktu luang adalah salah satu nikmat yang banyak dilalaikan oleh manusia. Maka Anda akan melihat mereka menyia-nyiakannya dan tidak mensyukurinya. Padahal Rasulullah SAW telah bersabda, “Gunakanlah lima perkara sebelum datang yang lima: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang ajalmu.” (HR Hakim dishahihkan oleh Al Albani).
Allah memberikan kita setiap hari “modal” waktu kepada semua manusia adalah sama, yaitu 24 jam sehari, 168 jam seminggu, 672 jam sebulan, dan seterusnya. Ada tujuh poin rahasia manajemen “modal” waktu Nabi Muhammad. Dalam waktu 23 tahun beliau telah membuat perubahan besar di Jazirah Arab. Hal ini terjadi lantaran bagusnya manajemen waktu Rasulullah.
Rahasia pertama adalah shalat fardhu sebagai ajang membentuk watak dan tonggak ritme hidup. Umat Islam telah membuat pemilahan waktu dalam sehari dengan jelas. Umat Islam memiliki trik manajemen waktu sehingga aktivitas kita dapat terprogram dengan baik.
Rahasia kedua, berpola pikir investasi, antimanajemen waktu instan. Maksudnya, jangan mengelola waktu dengan instan karena akan membuat kita malas dalam berproses. Persiapkan segala hal untuk masa depan kita sehingga kita dapat memetik hasilnya di kemudian hari.
Rahasia ketiga, terus produktif, jangan biarkan waktu terbuang percuma. Rahasia keempat adalah gunakan aji mumpung selagi ada peluang dan kesempatan.
Rahasia kelima adalah jauhi sikap menunda-nunda. Rahasia keenam adalah cepat tetapi jangan tergesa-gesa. Rahasia terakhir adalah rutin melakukan evaluasi. Ternyata beginilah Rasulullah menggunakan dan mengelola waktu, sungguh menghargai waktu dan tidak pernah menyia-nyiakannya dengan hal yang tak bermanfaat. Semoga.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, pendidikan, )


***) Ahmad Agus Fitriawan

Kamis, 13 Agustus 2015

EFEK TERAFI ALQURAN

Sebelum masuk Islam, Umar Ibn Khattab termasuk orang yang keras permusuhannya terhadap eksistensi Islam. Tetapi, ketika ia mendengar bacaan Alquran yang dilantunkan adiknya, Fathimah, Umar merasakan ketenangan, kedamaian, dan kekuatan kalamullah.
Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar mengungkapkan, salah satu sebab utama yang mendorong Umar masuk Islam karena ia mendengarkan bacaan Alquran adiknya. Dalam kisah lain, seseorang yang jiwanya sedang gelisah mendatangi Abdullah Ibn Mas'ud. Orang tersebut meminta nasihat kepada Ibn Mas'ud, terkait kondisi hatinya yang gelisah.
Kemudian, Ibn Mas'ud menasihati orang itu untuk membaca Alquran, mendengarkan bacaan Alquran orang lain, mendatangi tempat di mana banyak orang membaca Alquran, dan memahami perintah Allah dalam Alquran. Setelah mengamalkan anjuran Ibn Mas'ud untuk bersahabat dengan Alquran, orang itu merasakan ketenangan jiwa, kejernihan pikiran, dan kesehatan jasmani.
Oleh karena itu, membaca Alquran tak hanya bernilai ibadah, tetapi juga dapat menjadi obat penawar jiwa yang gelisah, pikiran yang tak menentu, dan jasmani yang kurang sehat. Sebagaimana Allah SWT mengungkapkan, “Dan kami turunkan Alquran sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS al-Isra [17]: 82).
Al-Qurthubi menjelaskan, ada beberapa pendapat dalam menafsirkan kata syifa` pada ayat itu. Pertama, Alquran dapat menjadi terapi bagi jiwa seseorang yang dalam kondisi kebodohan dan keraguan. Kedua, Alquran membuka jiwa seseorang yang tertutup dan menyembuhkan jiwa yang rapuh. Ketiga, membaca Alquran juga menjadi terapi untuk menyembuhkan penyakit jasmani.
Hal yang sama juga dikemukakan Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Membaca Alquran dapat mengobati penyakit jasmani dan rohani seseorang. Bagi Ibnu Qayyim, sumber penyakit rohani ketika seseorang menuntut ilmu bukan mengharapkan ridha Allah, kemudian menjalani hidup dengan tujuan yang salah.
Bila seseorang menuntut ilmu bukan karena Allah dan tujuan hidupnya bukan mencari ridha Allah, kondisi ini akan mengakibatkan kesesatan, kerusakan, penyakit jasmani, dan rohani. Obat penawar yang mujarab untuk mengobati kedua penyakit ini adalah mengakrabkan diri dengan Alquran.
Alquran mengarahkan jalan terbaik untuk memaksimalkan eksistensinya, mengembangkan karakter baiknya, dan menjadikannya memperoleh kebahagian dunia dan akhirat. Terlebih lagi, seseorang yang mengakrabkan diri dengan Alquran, ia akan memperoleh pertolongan Alquran di hari kiamat.
Sebagaimana dalam penjelasan hadis Nabi, “Bacalah Alquran karena sesungguhnya pada hari kiamat ia akan hadir memberikan pertolongan kepada orang-orang yang membacanya.” (HR Baihaqi).
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, sabar, syukur., )


***)Muslimin

Rabu, 12 Agustus 2015

MERASA DIAWASI ALLAH

Salah satu nilai takwa yang dihasilkan dari ibadah puasa adalah muraqabatullah, yakni merasa diawasi oleh Allah SWT. Betapa tidak, pada siang hari ketika kita sedang melaksanakan puasa, kita bisa saja makan dan minum di tempat yang tersembunyi. 
Namun, hal itu tidak dilakukan karena kita meyakini, walaupun dapat bersembunyi dari penglihatan dan pengawasan manusia, kita tidak akan mampu bersembunyi dari penglihatan dan pengawasan Allah. 
Kita bisa saja berpura-pura menjalankan ibadah puasa di hadapan manusia, tetapi kita tidak dapat menyembunyikan hal itu dari pengawasan Allah. Inilah bentuk dari muraqabatullah. 
Tegasnya, muraqabarullah itu adalah mengondisikan diri merasa diawasi oleh Allah di setiap waktu kehidupan hingga akhir kehidupan. Allah melihat, mengetahui rahasia-rahasia, memperhatikan semua amal perbuatan, dan juga mengamati apa saja yang dikerjakan semua jiwa.
Allah berfirman, “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Alquran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata.” (QS Yunus (10): 61)
Dalam ajaran Islam, muraqabatullah merupakan suatu kedudukan yang tinggi. Hadis menyebutkan bahwa muraqabatullah sejajar dengan tingkatan ihsan, yakni beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya dan jika kita tak mampu melihatnya, maka sesungguhnya Allah melihat kita. (Muttafaq alaih)
Sebagai seorang mukmin hendaknya kita berusaha menggapai kedudukan muraqabatullah ini. Ketika kita sudah mencapai kedudukan muraqabatullah, serangkaian kebaikan dan keutamaan akan kita dapatkan. 
Di antaranya, kita akan merasakan keagungan Allah Ta’ala dan kesempurnaan-Nya, tenteram ketika ingat nama-Nya, merasakan ketenteraman ketika taat kepada-Nya, ingin bertetanggaan dengan-Nya, datang menghadap kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya.
Akhirnya, mari kita merenungi sebuah kisah yang dituturkan oleh Abdullah bin Dinar sebagai motivasi bagi kita untuk menjadi orang yang merasa selalu diawasi oleh Allah SWT.
Abdullah bin Dinar berkata, “Pada suatu hari, aku pergi ke Makkah bersama Umar bin Khaththab. Di salah satu jalan, kami berhenti untuk istirahat, tiba-tiba salah seorang penggembala turun kepada kami dari gunung. Umar bin Khaththab bertanya kepada penggembala tersebut, ‘Hai penggembala, juallah seekor kambingmu kepada kami’.”
Penggembala tersebut berkata, “Kambing-kambing ini bukan milikku, tapi milik majikanku.’’ Umar bin Khaththab berkata, “Katakan saja kepada majikanmu bahwa kambingnya dimakan serigala.’’
Namun, penggembala yang budak tersebut berkata, “Kalau begitu, di mana Allah?” Umar bin Khaththab menangis, kemudian ia pergi kemajikan penggembala tersebut, lalu membeli budak tersebut dan memerdekakannya.” Wallahu’alam.
(Da'wah, hidayah, keyakinan, takwa., sabar, syukur)


***) Moch Hisyam

Selasa, 11 Agustus 2015

KISAH HAYAT ANNE COLLINS OSMAN

Anne tahu dia tidak sudah mempercayai sejumlah ajaran Kristen, tapi gadis itu tetap menghadiri gereja. Saat jemaat membacakan bagian-bagian tertentu seperti Kredo Nicea, diam-diam Anne tidak melafalkannya. Ia merasa terasing, hampir seperti alien di gereja. 
Satu kali, Anne benar-benar merasa jijik. Seorang kawan dekat mengalami masalah perkawinan yang serius, lalu menemui pendeta gereja untuk minta saran. Mengambil kesempatan di tengah kesempitan, pendeta itu mengajak teman dekat Anne ke hotel dan menggodanya. 
Jika selama ini Anne merasa tidak perlu waspada dengan peran pendeta dalam kehidupan umat Kristiani, sekarang ia merasa harus. Ia pergi ke gereja dan melihat para pendeta itu di depan. Mereka tidak lebih baik daripada jemaat yang hadir, bahkan beberapa lebih buruk.
 
Ia heran, mengapa mereka tidak bisa berurusan dengan Tuhan secara langsung, termasuk dalam menerima pengampunan-Nya ? Segera setelah itu, dia membeli Alquran terjemahan di toko buku dan mulai membacanya. Anne membaca Alquran selama delapan tahun. Selama itu pula, ia terus menyelidiki agama-agama lain.
Lama kelamaan, Anne semakin sadar dan takut akan dosa-dosanya. Dia tidak lagi percaya pada pengampunan Tuhan model agama Kristen. Dosa-dosa itu terasa begitu membebani, sementara dia tidak bisa melarikan diri. Ia merindukan pengampunan. 
Suatu hari, ia membaca surah Al Maidah ayat 83-84 tentang keimanan para ahlul kitab setelah turunnya wahyu. Anne mulai berharap Islam bisa menjadi jawaban. Ia semakin yakin ketika melihat cara Muslim shalat dalam sebuah berita di TV. Mereka mempunyai cara khusus untuk sholat.
Anne juga menemukan sebuah buku panduan sholat yang ditulis non-Muslim dan mencoba mempraktikkannya. Ia shalat dengan cara seperti itu diam-diam selama beberapa tahun. 
Akhirnya, sekitar delapan tahun sejak pertama kali membeli Alquran, ia menemukan surah Al Maidah ayat 3. Pada hari ini telah Ku sempurnakan agamamu, telah Ku-cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agamamu.
Ia menangis gembira karena ia tahu bahwa jauh sebelum dia tercipta Allah telah menuliskan Alquran untuknya. Allah sudah tahu bahwa Anne Collins di Buffalo, New York akan membaca ayat itu pada tanggal sekian jam sekian. 
Sekarang, ia tahu bahwa ada banyak hal yang harus ia pelajari. Misalnya, cara sholat, membaca Alquran, dan lain-lain. Anne tidak tahu apa-apa tentang Islam. Muslim AS belum sebanyak sekarang dan Anne tidak tahu di mana menemukan mereka.
Ia lantas mendapati nomor telepon Islamic Society di daftar buku telepon dan membuat panggilan. Tapi, ketika seorang pria menjawab teleponnya, Anne justru panik dan menutup telepon. Apa yang harus dikatakan? Apakah mereka akan curiga? 
Selama beberapa bulan ke depan, ia beberapa kali menelepon masjid. Setiap kali itu pula ia panik dan menutup telepon. Akhirnya, ia melakukan cara yang dirasa aman, meski menurutnya pengecut. Dia menulis surat meminta informasi.
Pengurus masjid kemudian menelepon Anne dan mengirimkan beberapa tulisan tentang Islam. Ia mengatakan kepada mereka keinginannya untuk menjadi Muslim, tapi mereka menjawab, “Tunggu sampai Anda yakin.”
Itu membuatnya agak kecewa. Tapi, Anne tahu mereka benar. Ia harus benar-benar yakin dengan pilihannya karena setelah itu semua tidak akan sama lagi. Siang malam, ia berpikir tentang Islam.  Pada beberapa kesempatan, ia pergi ke sebuah masjid (rumah tua yang dialihfungsi) dan berputar berkali-kali sambil berharap melihat seorang Muslim.
 
Sampai suatu hari di awal November 1986, saat tengah bekerja di dapur, tiba-tiba ia merasa apa yang dia lakukan selama ini tak ada beda dengan yang dilakukan Muslim. Masih merasa pengecut, ia mengirim surat ke masjid, menyatakan keislamannya.
 
Pengurus masjid menelepon Anne keesokan harinya. Gadis itu menyatakan syahadat melalui telepon. Ia merasa beban dosa itu terangkat dari bahunya. Ia pun menangis dan bersyukur.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur, takwa, )

Senin, 10 Agustus 2015

EMPAT AMALIAH ISTIGFAR

Dosa ibarat debu. Jika menempel dan tidak segera dibersihkan, akan berkarat dan kotorannya melekat kuat di hati. Sedangkan, usaha untuk membersihkannya tidak lain adalah dengan bertobat dan membaca istigfar.
Sebagai hamba Allah SWT yang tidak pernah luput dari salah dan dosa, sepantasnya kita memperbanyak istigfar, mohon ampun kepada Allah SWT. "Demi Allah, sesungguhnya aku beristigfar dan bertobat kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari." (HR Bukhari). Dalam riwayat lain sampai 100 kali dalam sehari (HR Muslim).
Hadis di atas memberikan gambaran tobat dan istighfarnya Nabi Muhammad SAW. Meski telah mendapat jaminan ampunan dan surga dari Allah SWT, tapi beliau tetap bersungguh-sungguh dalam beristigfar dan bertobat kepada-Nya. Sebagai hamba-Nya yang tidak mendapatkan jaminan dari Allah, hendaknya kita mencontoh perilaku Baginda Nabi dan merasa malu kepadanya apabila kita lalai dalam memohon ampunan-Nya.
Paling tidak terdapat empat keutamaan amaliah istigfar. Pertama, istigfar merupakan cermin akan kesadaran diri orang-orang yang bertakwa. “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah?” (QS Ali Imran: 135).
Kedua, istigfar merupakan sumber kekuatan umat. Kaum Nabi Hud yang dikenal dengan kekuatan mereka yang luar biasa, masih diperintahkan oleh nabi mereka agar senantiasa beristigfar untuk menambah kekuatan mereka.
“Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa'." (QS Hud: 52).
Bahkan, Rasulullah dalam salah satu hadisnya menegaskan bahwa eksistensi sebuah umat ditentukan di antaranya dengan kesadaran mereka untuk selalu beristigfar. Karenanya, bukan merupakan aib dan tidak merugi orang-orang yang bersalah lantas ia menyadari kesalahannya dengan beristighfar memohon ampun kepada Allah SWT.
Ketiga, istigfar dapat menolak bencana dan menjadi salah satu sarana turunnya keberkahan dan rahmat Allah SWT. Ketika menafsirkan surah al-Anfal: 33, “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.”
Ibnu Katsir menukil riwayat dari Imam Tirmidzi bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah telah menurunkan kepadaku dua pengaman atau penyelemat bagi umat dari azab dan bencana, yaitu keberadaanku dan istighfar. Maka ketika aku telah tiada, masih tersisa satu pengaman hingga hari kiamat, yaitu istigfar." Bahkan, Ibnu Abbas menuturkan bahwa ungkapan istighfar meskipun keluar dari pelaku maksiat dapat mencegah dari beberapa kejahatan dan bahaya.
Keempat, istigfar akan memudahkan urusan seseorang, memudahkan jalan mencari rezeki, dan memelihara seseorang. Dalam konteks ini, Ibnu Katsir menafsirkan surah Hud: 52 dengan menukil hadis Rasulullah SAW yang bersabda, “Barang siapa yang mampu mulazamah atau kontinu dalam beristighfar, maka Allah akan menganugerahkan kebahagiaan dari setiap duka dan kesedihan yang menimpanya, memberi jalan keluar dari setiap kesempitan, dan memberi rezeki dengan cara yang tidak disangka-sangka." (Ibnu Majah).
(Da'wah, hidayah, keyakinan, sabar, syukur, takwa, )


***) Ustaz Arifin Ilham

Minggu, 09 Agustus 2015

CIRI ALUMNI UNIVERSITAS RAMADHAN

Ramadhan yang merupakan bulan pendidikan akan segera berakhir. Gelar muttaqin atau orang bertakwa pun akan didapat jika kita berhasil menjalankan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah SWT.
Dengan gelar takwa setelah menunaikan puasa, selain meraih ampunan dan jaminan surga, seorang Muslim memperoleh kemuliaan di sisi-Nya (QS al-Hujurat [49]: 13). Ramadhan bagaikan sebuah universitas bagi Muslim untuk menjalani pendidikan.
Keberhasilan seorang mahasiswa yang menjalani proses pendidikan di Universitas Ramadhan, tidak dilihat dari aktivitasnya selama di kampus, tetapi sejauh mana ia dapat merealisasikan nilai-nilai pendidikan Ramadhan pada sebelas bulan berikutnya.
Karena itu, Ramadhan menjadi permulaan atau pijakan menuju perubahan kehidupan yang lebih baik, dalam skala individu, keluarga, masyarakat, bahkan secara lebih luas, bangsa dan negara.
Perubahan tersebut mencakup perubahan secara vertikal (hablum minallah) dan horizontal (hablum minannas). Perubahan menuju perbaikan dalam berbagai dimensi kehidupan merupakan keniscayaan bagi seorang Muslim.
Selama Ramadhan, Muslim tak diperkenankan melakukan hal-hal yang pada hakikatnya halal jika dilakukan pada siang hari selain Ramadhan, seperti makan dan minum. Maka seusai Ramadhan, Muslim harus memiliki komitmen kuat soal makanan ini.
Ini berarti, Muslim mestinya hanya mengonsumi makanan dan minuman yang jelas asal-usulnya atau berstatus halal. Saat Ramadhan, Muslim juga didorong untuk menghindari setiap perkataan kotor.
Maka, tatkala telah lulus dari Universitas Ramadhan, seorang alumnus harus berkomitmen selalu mengeluarkan ucapan yang baik dan berusaha menjauhi segala bentuk permusuhan dan menyakiti hati orang lain.
Ramadhan juga melatih Muslim untuk banyak mengeluarkan infak. Setelah melewati Ramadhan maka kita dituntut memiliki komitmen untuk selalu peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
Muslim yang selalu dilatih disiplin waktu melalui sahur dan berbuka pada waktu yang telah ditentukan diharapkan senantiasa setelah mengikuti penempaan di Universitas Ramadhan, berdisiplin dalam menjalani kehidupannya.
Karena itu, bila diikuti secara serius, proses pendidikan selama bulan Ramadhan berpotensi memicu perubahan kehidupan setiap Muslim ke arah yang lebih baik. Ada perbaikan yang tercapai pascapuasa Ramadhan.
Dengan demikian, idealnya, dari rahim Universitas Ramadhan tersebut lahir sumber daya manusia unggul, seperti bayi yang baru lahir, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa berpuasa dengan niat mencari pahala dari Allah SWT maka ia keluar dari bulan Ramadhan sebagaimana bayi yang baru lahir.”
Semoga kita menjadi alumni yang dapat menjaga kebiasan baik dan amal saleh yang telah diajarkan selama proses pendidikan di Universitas Ramadhan. Amin.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur,  takwa, )

***)Imam Nur Suharno


Sabtu, 08 Agustus 2015

YANG PERLUDITINGKATKAN SETERLAH RAMADHAN

YANG PERLUDITINGKATKAN SETERLAH RAMADHAN
Dan Ramadhan pun berlalu. Tidak ada perjumpaan terindah kecuali berjumpa dengan Ramadhan. Sekaligus tidak ada perpisahan yang mengharukan terselip kesedihan kecuali berpisah dengan Ramadhan.
Disebut perjumpaan terindah karena di bulan ini banyak di antara kaum Muslimin mendadak saleh dan berwajah taat. Ramadhan sebagai syahrut tarbiyah berhasil mendidik mereka menjadi pribadi elok, gampang beringsut untuk berbuat baik.
Dan disebut perpisahan yang mengharukan karena Ramadhan yang setahun sekali datangnya ini belum tentu kita adalah yang akan menemuinya lagi. Syawal sebagai bulan setelahnya, apakah bisa melesatkan minimal mengamankan dan melestarikan semua amal kebaikan Ramadhan yang indah itu.
Nah, kita bersedih karena khawatir diri kita tidak bisa meneruskannya apalagi meningkatkannya, sebagaimana yang diminta dengan kehadiran Syawal sebagai syahrut tarqiyah (bulan peningkatan).
Apa yang perlu kita tingkatkan? Pertanyaan ini menarik, sebab banyak kita tidak menyadari Ramadhan itu sebenarnya prosesi awal dari 11 bulan berikutnya. Bagaimana Allah menguji kita, apakah kebiasaan tilawah minimal sehari satu juz dapat bertahan. Bahkan seharusnya dilebihkan.
Perlunya melebihkan karena pahalanya tidak digandakan lagi sebagaimana di bulan Ramadhan sementara sebagai bekal untuk menghalau godaan maksiat dan berdosa sedikit. Bukankah setelah Ramadhan pintu maksiat dan dosa semakin terbuka, disebabkan setan telah terlepas dari belenggunya?
Untuk itulah kita perlu melebihkan bacaan tilawah Alquran. Ketika Ramadhan kita sibuk tadarus Alquran, tiada hari tanpa membaca firman Allah. Itu mengapa hati kita selalu tenang selama menjalani sakralitas ibadah shaum. Sebab, kalimat Alquran mengendap kuat di hati kita.
Berikutnya tentu tarqiyatul ‘ibadah, peningkatan ibadah khususnya amal sunah.  Kalau amal wajib sudah pasti, tidak boleh sedikit pun terpikir untuk meninggalkannya. Yang sunah harus menjadi kecintaan sebagaimana cintaya kita dengan Tarawih, shalat berjamaah selalu di masjid dan tepat waktu, sedekah atau berbagi takjil, iktikaf, dan lain sebagainya.
Dari kecintaan itu tumbuh semangat untuk menghidupkannya, di mana pun, kapan pun dan dalam kondisi bagaimana pun. Harusnya semua amal sunah itu kita teruskan dan tingkatkan.
Tarqiyatul akhlaq, peningkatan akhlak dan kepribadiaan adalah hal yang juga harus kita teruskan di bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya. Selama Ramadhan kita melatih lidah kita untuk berpuasa dari amarah, ucapan kotor, dusta, fitnah, gibah, sifat dengki, dan berkata kasar. Proses itu berujung terciptanya manusia saleh yang berakhlak mulia seperti yang dicontohan Rasulullah SAW.
Sebagai pihak yang kedatangan tamu Syawal harusnya kita meneruskan dan berikhtiar kuat untuk meningkatkan kualitas kepribadian itu, demi terbukanya tabir kebaikan yang Allah janjikan kepada siapa pun yang berakhlak mulia. Sebuah maqalah Arab menyebutkan, maa syarafal makhluq illa bihusnil khuluq, tidak ada kemuliaan seorang makhluk kecuali pada kemuliaan akhlak.
Walhasil, setelah Ramadhan benar-benar berlalu renungi firman-Nya dalam surah al-Insyirah [94], ayat 7, fa idza faraghta fanshab, jika engkau sudah selesai dengan satu urusan, kembalilah tegak (untuk meneruskan dan beramal lain). Dari tarbiyah kita menuju tarqiyah. Wallahu a’lam. 
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur,  takwa, )


***) Ustaz Muhammad Arifin Ilham