Selasa, 17 November 2015

MENJAGA ETIKA KOMUNIKASI

Rasulullah SAW bersabda, “Perkataan kotor menunjukkan kekotoran tabiat, dan kekotoran tabiat kelak di neraka.” (HR Al-Bukhari dan At-Tirmidzi).
Di dunia internet yang kian maju saat ini, komunikasi antarmanusia seperti tak berjarak jauh. Orang di satu negara bisa berkomunikasi dengan orang lain di negara berbeda dalam waktu yang sama. Apalagi ditambah dengan adanya media-media sosial.
Pendek kata, masalah komunikasi antarmanusia di abad ini relatif tidak ada hambatan. Yang bermasalah justru adalah isi atau materi dari komunikasi itu. 
Dulu, sebelum ada internet yang berlanjut pada munculnya media-media sosial, komunikasi antarmanusia berlangsung lewat lisan. Sebagian orang yang belum terambah teknologi itu atau enggan memanfaatkan kemajuan teknologi, masih berkomunikasi lewat lisan.
Saat ini, komunikasi berlangsung juga di media-media sosial. Bukan lagi lewat bahasa lisan, tapi bahasa tulisan yang mewakili bahasa lisan. Di situ, orang bisa menulis, menanggapi, dan menilai apa pun. Dari yang positif hingga yang negatif.
Untuk yang positif, tentu saja tidak ada masalah. Yang masalah adalah yang negatif. Seperti halnya bahasa lisan yang oleh Rasulullah SAW pada hadis di awal diingatkan untuk dijaga, karena Allah tidak suka orang yang berkata kotor, dalam bahasa tulisan juga demikian. 
Berkata kotor di sini adalah berkata yang isinya antara lain menghujat, mengejek, atau menjelek-jelekkan yang biasa disebut bullying, hingga memfitnah. Beda halnya jika isinya adalah kritik, koreksi, masukan, dan sejenisnya yang positif.
Dalam hadis disebutkan, “Sesungguhnya Allah SWT benci terhadap orang yang berkata kotor.” (HR Ath-Thahawi). Allah SWT tidak suka kata-kata kotor, karena akan berdampak buruk pada pelaku dan korbannya. 
Bagi pelaku akan menjadi terbiasa, kemudian menganggapnya tiada masalah. Dengan kata lain, ia meremehkan dosa, lalu lambat laun karena sudah terbiasa, pelaku akan menganggapnya sebagai bukan dosa. Adapun bagi korban, secara psikologis ia akan tertekan. 
Dalam kondisi ini, bisa jadi ia akan membalas dengan hal yang sama, hingga lahir perang kata-kata kotor. Atau, ia diam saja, tapi perasaannya terganggu.
Seorang muslim yang baik akan selalu menjaga segala ucapan dan perilakunya. Karena, ia tahu dampak yang bakal terjadi nantinya. Seperti disebutkan pada hadis di awal, perkataan kotor menunjukkan tabiat yang kotor, dan tabiat yang kotor menjadi penyebab seseorang masuk neraka. 
Lidah memang tak bertulang, tapi ia tak kalah tajam jika digunakan. Seperti halnya senjata, lidah juga bisa membunuh, yakni membunuh karakter, bahkan menjadi sarana yang menuju pada perbuatan membunuh.
Maka Rasulullah SAW memberikan wejangan, jika seseorang tak mampu berkata yang baik-baik, lebih baik diam. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim). 
Alquran mengingatkan dengan tegas, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yanglain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).” (QS Al-Hujurat [49]: 11). Wallahu a’lam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, takwa, )



***)Nur Faridah

Minggu, 15 November 2015

MENYELAMI SAKARATUL MAUT

Siapakah yang ingin mengetahui besarnya penderitaan saat sakaratul maut. Pedihnya tidak dapat dikethui dengan sebenarnya kecuali oleh orang yang telah merasakannya. Dan kita, pada saatnya nanti akan merasakan kepedihan itu.
Maka saksikanlah bagaimana penuturan sang Hujjatul Islam, Imam Ghazali bagaimana kala ajal menjelang dalam Ihya Ulumuddin. Sang Imam menyebut sakaratul maut hanya akan dialami oleh makhluk yang memiliki ruh.
Ruh lah yang sejatinya merasakan kepedihan sakaratul maut. Jika badan seseorang terimpa luka maka bekas kepedihan fisik itu akan menjalar sampai ke ruh. Jika ia terbakar, maka rasa sakit yang dialami badan akan terasa jua oleh ruh.
Saat kepedihan pencabut nyawa menyerang ruh, rasanya akan menenggelamkan semuanya. Ruh lah yang ditarik dari badan. Dicerabut dari tiap urat badan, ditarik perlahan dari urat syaraf, dari sendi-sendi, dari pokok setiap rambut dan kulit dari ujung kepala hingga tapak kaki. Tergambar betapa menyakitkannya.
Manusia pada hari itu benar-benar kepayahan. Seorang penyair pernah berkata tentang sakaratul maut. "Sungguh kematian itu lebih sakit daripada pukulan dengan pedang, gergajian dengan gergaji dan guntingan dengan gunting."
Sang Imam melanjutkan, akal manusia pada saat itu benar-benar kacau balau. Lisan telah dibisukan, tak sanggup berkata apa-apa tanpa pertolongan Allah SWT. Semua anggota badan telah dilemahkan. Tak ada upaya dan usaha kecuali hanya dari Allah SWT. Persis seperti zikir yang kita sebut setiap saat.
Jika saja ia mampu berteriak, maka ia akan berteriak karena rasa sakitnya. Namun ia tidak sanggup. Jika tersisa kekuatan pada seseorang yang dicabut nyawanya, tentu ia akan mengerahkan semua kekuatan untuk menahan rasa sakit. 
Kepedihan itu semakin dalam menuju dua biji mata, naik terus ke pelupuknya. Kedua bibir sudah mengkerut. Anak jemarinya berubah menjadi kehijau-hijauan. Jika satu urat saja ditarik, sakitnya pun akan luar biasa. Apalagi ruh diangkat dari setiap inchi urat tanpa kecuali.
Lalu setiap anggota badan dari seluruh anggota badan mati secara bertahap. Dinginlah kedua tapak kakinya, lalu ke betisnya kemudian menjalar ke pahanya. Dari setiap badan ada anggota yang sekarat tahap demi tahap hingga mencapai kerongkongannya.
Jika sudah seperti ini maka terputuslah pandangannya pada dunia dan ditutup baginya pintu tobat. Rasulullah SAW bersabda, "Diterima tobat seorang hamba selama belum sekarat." (HR Tirmidzi).
Maka lihatlah kesaksian Ummul Mukminin Aisyah RA yang menemani Rasulullah SAW hingga saat-saat terakhirnya. Beliau berkata, "Tidaklah aku iri hari kepada seseorang yang Allah memudahkan atas kematiannya sesudah yang aku lihat dari kesulitan wafatnya Rasulullah SAW.."
Benarlah jika kematian yang tiba-tiba itu sejatinya sebuah kenikmatan. Rasulullah SAW bersabda, "Kematian secara tiba-tiba adalah kesenangan bagi orang Mukmin dan penyesalan atas orang yang berbuat maksiat. " (HR Ahmad)
Tidak ada yang lebih baik dibandingkan menyambut kepedihan sakaratul maut dengan terus tegap di atas iman. Kita tak pernah lagi tahu kapankah sakaratul maut itu akan bertamu. Kepedihan apa yang akan menghadap.
Seorang Mukmin sejati hakikatnya adalah mereka yang bahagia dengan perjumpaan dengan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, "Siapa saja yang menyukai perjumpaan dengan Allah, niscaya Allah menyukai perjumpaan dengannya, dan siapa saja yang tidak menyukai perjuampaan dengan Allah, niscaya Allah tidak menyukai perjumpaan dengannya." (HR Bukhari Muslim)
Tiap kita pun pantas terus berdoa, agar detik-detik sakaratul maut kita akan berakhir dengan khusnul khatimah. Sebuah cara yang paling indah untuk memulai perjuampaan dengan Zat yang menciptakan kita dari tanah lalu memberikan amanah besar untuk mengurus dunia.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, takwa., 


***)Hafidz Muftisany

Sabtu, 14 November 2015

ISI PESAN SHALAT

Alquran dan hadis Nabi SAW telah menerangkan tentang kedudukan ibadah shalat, termasuk menjelaskan fungsi dan keutamaannya, baik secara eksplisit maupun implisit. 
Misalnya, apabila shalat dikerjakan dengan sempurna, hati dan jiwa seseorang menjadi tenang dan tenteram (QS ar-Ra'du [13]: 28). Shalat juga bisa mencegah diri dari sifat keluh-kesah atau galau (QS al-Ma'arij [70]: 19-23).
Shalat pun dapat mencegah perbuatan keji dan munkar (QS al-Ankabut [29]: 45). Dengan shalat pintu keberkahan dari langit dan bumi akan terbuka (QS al-Araf [7]: 96). Ibadah shalat akan menjadi penolong di saat seorang hamba berada dalam kondisi serbasulit dan susah (QS al-Baqarah [2]: 45-46). Dan sejumlah pesan spiritualitas kehidupan lainnya.
Khusus hubungannya dengan pesan shalat sebagai media yang menolong di saat kompleksnya terpaan kebutuhan mendesak dan kesulitan hidup, terdapat kisah inspiratif dari Rasulullah SAW yang penting untuk kita teladani. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad disebutkan, "Bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW apabila dirundung persoalan hidup, beliau segera mengerjakan shalat." (HR Ahmad).
Hudzaifah Ibnu al-Yaman RA juga menuturkan, "Pada malam berlangsungnya Perang Ahzab, saya menemui Rasulullah SAW, sementara beliau sedang shalat seraya menutup tubuhnya dengan jubah. Apabila Nabi SAW menghadapi permasalahan, beliau akan mengerjakan shalat." 
Ali bin Abi Thalib RA pernah menuturkan keadaan Rasulullah SAW ketika Perang Badar. "Pada malam berlangsungnya Perang Badar, kami semua tertidur kecuali Rasulullah SAW. Beliau shalat dan berdoa sampai pagi." 
Fakta di atas menunjukkan betapa penting dan besarnya kedudukan shalat. Ia bukan hanya sebagai ritual ibadah seorang hamba kepada Allah semata, tetapi shalat mampu melahirkan kesan dan pengaruh positif terhadap pembentukan karakter dan realitas kehidupan. Termasuk fungsi dan keutamaannya sebagai penolong di saat kondisi yang serbasulit karena banyaknya permasalahan yang dihadapi, baik secara personal, kolektif, keluarga, kerja tim, maupun dalam konteks kebangsaan dan negara. 
Sebagaimana penderitaan nasional yang saat ini masih dirasakan, seperti tingginya angka kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, kebodohan, korupsi yang semakin merajalela, lemahnya ekonomi dan tumpulnya penegakan hukum dan sebagainya. Demikian juga kasus kabut asap karena pembakaraan hutan belakangan ini, jelas telah mengakibatkan kemudaratan yang sangat besar, seperti kerusakan alam, kerugian material, dan bahkan hilangnya nyawa.
Di saat kondisi sulit seperti ini, maka sabar dan shalat hendaklah menjadi kekuatan yang menolong bagi setiap individu Muslim. Sebab, shalat merupakan cerminan totalitas ketundukan dan ketakwaan kepada Allah. 
Sedangkan, bagi orang-orang yang bertakwa, Allah menjamin untuk memberi pertolongan, jalan keluar, rezeki yang tidak diduga-duga, dan kemudahan dalam setiap urusannya. Belum lagi di akhirat kelak, orang-orang yang bertakwa akan mendapat ampunan dan balasan pahala yang besar. (QS atThalaq [65]: 2-5).
Yakin seyakin-yakinnya, shalat dapat membentuk kepribadian luhur dan terpuji bagi setiap hamba yang mengerjakannya. Bahkan, shalat bisa menjadi kekuatan yang menolong sekaligus menempatkannya pada derajat hidup yang mulia jika dikerjakan dengan baik dan sempurna. Wallahu Al Musta'an.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, takwa., )



***)Imran Barhaqi

Jumat, 13 November 2015

SHALAT SEBAGAI PENOLONG

Alquran dan hadis Nabi SAW telah menerangkan tentang kedudukan ibadah shalat, termasuk menjelaskan fungsi dan keutamaannya, baik secara eksplisit maupun implisit.
Misalnya, apabila shalat dikerjakan dengan sempurna, hati dan jiwa seseorang menjadi tenang dan tenteram (QS ar-Ra'du [13]: 28). Shalat juga bisa mencegah diri dari sifat keluh-kesah atau galau (QS al-Ma'arij [70]: 19-23).
Shalat pun dapat mencegah perbuatan keji dan munkar (QS al-Ankabut [29]: 45). Dengan shalat pintu keberkahan dari langit dan bumi akan terbuka (QS al-Araf [7]: 96). 
Ibadah shalat akan menjadi penolong di saat seorang hamba berada dalam kondisi serbasulit dan susah (QS al-Baqarah [2]: 45-46). Dan sejumlah pesan spiritualitas kehidupan lainnya.
Khusus hubungannya dengan pesan shalat sebagai media yang menolong di saat kompleksnya terpaan kebutuhan mendesak dan kesulitan hidup, terdapat kisah inspiratif dari Rasulullah SAW yang penting untuk kita teladani. 
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad disebutkan, “Bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW apabila dirundung persoalan hidup, beliau segera mengerjakan shalat.” (HR Ahmad).
Hudzaifah Ibnu al-Yaman RA juga menuturkan, “Pada malam berlangsungnya Perang Ahzab, saya menemui Rasulullah SAW, sementara beliau sedang shalat seraya menutup tubuhnya dengan jubah. Apabila Nabi SAW menghadapi permasalahan, beliau akan mengerjakan shalat.”
Ali bin Abi Thalib RA pernah menuturkan keadaan Rasulullah SAW ketika Perang Badar. “Pada malam berlangsungnya Perang Badar, kami semua tertidur kecuali Rasulullah SAW. Beliau shalat dan berdoa sampai pagi.”
Fakta di atas menunjukkan betapa penting dan besarnya kedudukan shalat. Ia bukan hanya sebagai ritual ibadah seorang hamba kepada Allah semata, tetapi shalat mampu melahirkan kesan dan pengaruh positif terhadap pembentukan karakter dan realitas kehidupan. 
Termasuk fungsi dan keutamaannya sebagai penolong di saat kondisi yang serba sulit karena banyaknya permasalahan yang dihadapi, baik secara personal, kolektif, keluarga, kerja tim, maupun dalam konteks kebangsaan dan negara.
Sebagaimana penderitaan nasional yang saat ini masih dirasakan, seperti tingginya angka kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, kebodohan, korupsi yang semakin merajalela, lemahnya ekonomi dan tumpulnya penegakan hukum dan sebagainya.
Demikian juga kasus kabut asap karena pembakaraan hutan belakangan ini, jelas telah mengakibatkan kemudaratan yang sangat besar, seperti kerusakan alam, kerugian material, dan bahkan hilangnya nyawa.
Di saat kondisi sulit seperti ini, sabar dan shalat hendaklah menjadi kekuatan yang menolong bagi setiap individu Muslim. Sebab, shalat merupakan cerminan totalitas ketundukan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Sedangkan, bagi orang-orang yang bertakwa, Allah menjamin untuk memberi pertolongan, jalan keluar, rezeki yang tidak diduga-duga, dan kemudahan dalam setiap urusannya. Belum lagi di akhirat kelak, orang-orang yang bertakwa akan mendapat ampunan dan balasan pahala yang besar. (QS atThalaq [65]: 2-5).
Yakin seyakin-yakinnya, shalat dapat membentuk kepribadian luhur dan terpuji bagi setiap hamba yang mengerjakannya. Bahkan, shalat bisa menjadi kekuatan yang menolong sekaligus menempatkannya pada derajat hidup yang mulia jika dikerjakan dengan baik dan sempurna. Wallahu Al Musta'an.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur, takwa., )



***) Imron Baehaqi

Kamis, 12 November 2015

WASPADAI KESERAKAHAN & PERUSAKAN ALAM

Bencana asap yang menerpa di berbagai wilayah, terutama di Sumatra, di antaranya karena ulah keserakahan manusia. Keserakahan manusia untuk terus-menerus mengeksploitasi sumber daya alam.
Termasuk, membakar lahan dengan cara tak bertanggung jawab, telah berdampak pada kerugian material dan nonmaterial yang tidak sedikit. Di sisi lain, upaya untuk mengatasi bencana asap ini belum juga menemukan titik terangnya.
Padahal, Allah SWT telah mengingatkan dalam Alquran bahwa, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS ar-Rum [30]: 41).
Terkadang, ketika manusia berinteraksi dengan sesama manusia, hewan, dan alam semesta, sering kali lupa akan tugas dan kewajibannya sebagai khalifah di muka bumi untuk menjaga keseimbangan ekosistem kehidupan di muka bumi. Sebab itu, Allah SWT mengingatkan manusia untuk memperlakukan apa saja yang ada di bumi dengan baik.
Penyakit serakah pada dasarnya bermuara dari sikap hidup berlebih-lebihan dalam penggunaan harta benda dan kekayaan alam, tanpa memikirkan kehidupan selanjutnya di masa depan. Keserakahan tidak hanya merugikan sesama manusia, tetapi juga dapat mengancam keseimbangan ekosistem alam.
Oleh karenanya, ajaran Islam mengingatkan manusia untuk memperlakukan alam dengan sebaik mungkin. Hal ini terlihat ketika tentara Muslim memasuki sebuah wilayah yang ditaklukkan. Salah satu larangan tegas yang dilarang adalah menebangi pohon tanpa ada alasan yang benar. Peristiwa ini memperlihatkan Islam adalah agama yang ramah terhadap lingkungan.
Berbagai upaya pelestarian alam harus dilaksanakan oleh setiap Muslim yang menaati perintah agamanya. Tentunya, setiap perilaku yang menyebabkan kerusakan di muka bumi harus dilarang dan dicegah. Sebab, dalam Alquran surah Ali-Imran ayat 104 dikemukakan, "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung."
Mengajak kepada yang ma'ruf (pelestarian alam) dan mencegah tindakan yang mungkar (perusakan alam) merupakan perintah Allah SWT kepada umat Islam. Dalam kehidupan sosial bermasyarakat sekarang ini, umat Islam diharuskan berperan aktif menjadi agen-agen pelestarian alam, baik individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat Muslim yang lebih luas.
(Da'wah, hidayah, hikmah, takwa, )


***) Muslimin

Rabu, 11 November 2015

H U J A N

Hujan adalah salah satu anugerah agung dari Allah SWT yang diberikan kepada makhluk-Nya di bumi, terutama bagi manusia.
Hujan tidak hanya memberikan curahan air segar, tapi juga menjadi sebab terbukanya pintu rezeki, menyuburkan tanah yang gersang, dan membantu memperbaiki kualitas udara bagi manusia.
Karena itu, dalam Alquran, hujan sering disebutkan dengan kata rahmat (kasih sayang), rizqan (rezeki), dan ghaits (pertolongan).
Allah SWT berfirman, “Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan), dan Kami turunkan air dari langit yang amat bersih agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.” (QS Al-Furqan [25]: 48-49).
Di tengah meluasnya bencana asap dan kekeringan yang melanda wilayah Indonesia saat ini, kita benar-benar sedang membutuhkan curahan air hujan. Allah SWT dan Rasul-Nya telah mengajarkan beberapa langkah yang hendaknya kita lakukan untuk “memancing” turunnya hujan.
Pertama, memperbanyak istighfar. Istighfar berarti mohon ampun kepada Allah SWT dengan mengakui dosa-dosa yang kita lakukan. Istighfar sebagai salah satu cara untuk memancing turunnya hujan pernah diajarkan oleh Nabi Nuh AS ketika berdakwah kepada kaumnya.
Allah SWT berfirman dalam Alquran surat Nuh (71) ayat 10-11 yang artinya, “Maka, aku (Nuh) katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.”
Kedua, istiqamah di jalan Allah SWT. Selain beristighfar, cara lain untuk memancing datangnya hujan adalah dengan istiqamah, yaitu konsisten melakukan kebaikan dan konsisten menjauhi larangan.
Allah SWT berfirman, “Dan bahwasanya jikalau mereka tetap istiqamah (berjalan lurus) di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air (hujan) yang segar.” (QS Al-Jin [72]: 16).
Ketiga, memperbanyak doa. Doa adalah senjata utama kaum Muslimin. Ketika berbagai usaha telah kita lakukan maka doa adalah pelengkapnya.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa suatu hari ada orang datang kepada Rasulullah SAW mengadukan musnahnya harta benda dan terputusnya pintu rezekinya karena hujan yang tak kunjung turun.
Rasulullah SAW kemudian berdoa, “Ya Allah turunkanlah kepada kami hujan, Ya Allah turunkanlah kepada kami hujan, Ya Allah turunkanlah kepada kami hujan.” Tak lama setelah itu, tiba-tiba dari balik gunung muncul mendung bagaikan perisai, lalu menyebar dan menurunkan hujan hingga seminggu berikutnya. (HR Bukhari Muslim).
Keempat, shalat Istisqa. Shalat Istisqa adalah shalat dua rakaat yang diniatkan untuk meminta hujan kepada Allah SWT. Selain berdoa, Rasulullah SAW juga pernah mencontohkan shalat Istisqa ketika hujan tak kunjung datang.
Sahabat Abdullah bin Zaid pernah berkisah, “Rasulullah SAW pernah keluar rumah meminta hujan, lalu beliau shalat dua rakaat, di mana beliau mengeraskan bacaan pada kedua rakaatnya.” (HR An-Nasai). Wallahu A'lam. 
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur, takwa, )

***)Jauhar Ridloni Marzuq

Selasa, 10 November 2015

MEMBERIKAN PINJAMAN KEPADA ALLAH

Diriwayatkan dari Tsabit bin al-Bunani dari Anas mengisahkan, dahulu ada dua orang bertetangga yang terlibat sengketa karena memperebutkan sebatang pohon kurma. Salah satunya ingin memagar tanah, namun terhalang sebatang pohon kurma milik tetangganya yang tumbuh melewati pekarangannya. Persengketaan ini berlanjut sampai ke hadapan Rasulullah SAW.
"Berikanlah batang kurma itu kepada saudaramu (agar ia bisa memagar tanahnya), engkau akan mendapatkan ganti sebuah kebun kurma di surga," bujuk Rasulullah SAW. Namun tetap saja, ia tidak tidak mau.
Tiba-tiba seorang sahabat bernama Abu Dahdah datang menghampiri Rasulullah. "Benarkah demikian (apa yang baru engkau sabdakan itu), wahai Rasulullah?" ujarnya. Rasulullah pun mengiyakan.
Dengan wajah sumrigah, Abu Dahdah langsung berujar kepada kedua orang yang bersengketa itu. “Juallah sebatang pohon kurmamu itu kepadaku. Aku beli dengan seisi kebunku,” ujar Abu Dahdah kepada si pemilik batang kurma.
Ia pun terkejut. Siapa yang tidak kenal dengan kebun kurma milik Abu Dahdah. Di kebun tersebut setidaknya ada 600 pohon kurma. Tidak itu saja, kebun tersebut juga mempunyai sumur, vila, dan taman-taman yang indah. Benarkah Abu Dahdah rela menjualnya hanya untuk mendapatkan satu batang kurma yang dipertikaikan itu? Setengah tak percaya, si pemilik batang kurma itupun mengangguk.
“Wahai Rasulullah, aku telah membeli pohon kurma itu, aku bayar dengan kebunku. Sekarang pohon kurma itu aku berikan kepadamu,” tutur Abu Dahdah.
Rasulullah pun terkesima dengan perbuatan Abu Dahdah. “Alangkah banyaknya tandan kurma yang harum baunya milik Abu Dahdah di surga kelak,” Sabda Beliau SAW seraya mengulang-ulang kalimat tersebut.
Abu Dahdah pun pulang menemui istrinya. Ia ceritakanlah apa yang baru saja ia lakukan. Ia pun mengajak istri beserta anak-anaknya untuk keluar dari kebun kurma yang baru saja ia jual itu. Dengan wajah berseri-seri, istrinya pun setuju. “Alangkah beruntungnya jual belimu, suamiku,” ujar ummu Dahdah, istrinya. Demikian seperti dikisahkan dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/300 nomor 763.
Kisah inilah yang melatarbelakangi turunnya Ayat Alquran Surat al-Baqarah ayat 245, “Siapa yang memberi pinjam kepada Allah dengan pinjaman yang baik, pasti Allah berikan ganjaran kepadanya dengan gandaan yang banyak."
Demikian manisnya Allah SWT membahasakan infak dan sedekah. Allah menamakan infak dan sedekah dengan istilah pinjaman. Mereka yang bersedekah berarti meminjamkan sesuatu kepada Allah. Kemudian, di akhirat kelak pinjaman tersebut dibayarkan Allah dengan kenikmatan surga. Tentulah, Sang Khaliq tidak akan ingkar kepada hamba-Nya yang telah mengeluarkan pinjaman.
Keyakinan inilah yang dipegang secara bulat oleh Abu Dahdah dan istrinya. Tanpa keyakinan penuh akan janji Allah, tentu tak akan ada orang yang mau menginfakkan sebuah kebun yang sangat luas dan indah itu. Keyakinan yang mantap itulah yang harus ada dalam diri setiap mukmin.
Pertanyaannya, seberapa yakinkah kita dengan janji Allah? Benarkah kita yakin, dengan sedekah yang kita keluarkan akan mendapatkan ganjaran yang berlipat-lipat di dunia hingga di akhirat kelak? Jika yakin itu benar-benar ada, maka tentu kita akan meminjamkan semua benda keduniawian kita kepada Allah, kemudian mengharapkan pengembaliannya di akhirat kelak.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar,  syukur., takwa., )


***) Hannan Putra