Selasa, 24 November 2015

KISAH TUKANG SOL SEPATU

Hati yang Bersinar "Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku Rabb-mu, Mereka menjawab: Benar (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb).'" (QS al-A'raaf: 172) Ketika ruh masuk ke dalam jasad, maka beragam tuntutan jasad pun memberikan perubahan yang berpengaruh langsung kepada hati.
Bila cahaya menyinari hati begitu kuat, maka seseorang dapat menahan beragam desakan tubuh yang diharamkan. Rasulullah SAW adalah teladan kita. Beliau SAW merupakan cermin seorang yang mampu menahan pengaruh kehidupan dunia, sehingga hatinya selalu bercahaya. Hal itu tecermin dari akhlak beliau, baik terhadap Allah maupun terhadap mahluk-Nya.
Syekh Ahmad bin Muhammad Ataillah berkata, "Betapa hati manusia akan menyinarkan cahaya bila cermin hati kita memantulkan beraneka macam gambaran tentang alam kemakhlukan? Betapa seorang hamba mampu menjumpai Allah, padahal ia terbelenggu ke dalam syahwat. Bagaimana mungkin seorang dengan keinginan kerasnya untuk masuk ke hadirat Allah, padahal ia belum bersih dari janabat kelalaiannya.
Bagaimana mungkin seorang hamba mampu memahami berbagai rahasia yang halus, padahal ia belum juga bertobat dari kesalahannya." Dua hal tersebut di atas tentu saja sangat mustahil dikumpulkan menjadi satu. Bahkan, orang akan keheranan apabila ada orang yang menghendaki berbinar-binar cahaya, padahal ia sendiri belum mampu memisahkan diri dari gambaran dunia yang mengasyikan.
Tidak mungkin cahaya Allah itu dapat ditangkap untuk menghiasi hatinya apabila cermin hatinya masih tertutup oleh kegelapan dunia. Karena cermin hati dapat cahayanya apabila telah mendapat sinar keimanan. Bagi hati yang telah mendapatkan cahaya, persoalan dunia bukanlah tujuan utamanya. Mereka akan tetap beribadah walaupun hidup dalam kesederhanaan.
Rezeki terkadang datang dari pintu yang tidak terduga, setelah kita berusaha semaksimal mungkin untuk berusaha dan terus berdoa. Kisah tukang sol sepatu, misalnya, pernah melintasi cerita inspiratif tentang makna keimanan seorang hamba. Di tengah usahanya yang terus berjalan dan tanpa order, tukang sol sepatu terus berusaha dan tidak berhenti berdoa dan shalat dalam setiap perjalanannya.
Namun, di tengah kesedihan karena sepinya order, justru rezeki diberikan Allah lewat seorang tetangga melalui istrinya yang sedang ada di rumah. Sang lelaki itu tak mampu menahan air mata, seraya berucap, "Allahu Akbar," sambil bersujud dan berucap, "Ya Allah, benar Engkau Mahakaya, Pengasih, serta Penyayang, muliakan tetangga kami serta tambahkan rezekinya, amin, ya Allah." Allah SWT berfirman dalam Alquran surah al-Mukmin ayat 61, "Allahlah yang menjadikan malam untukmu supaya kamu beristirahat, dan menjadikan siang terang benderang.
Sungguh besar karunia Allah kepada manusia! Tetapi kebanyakan manusia tidak mau bersyukur." Kini lihatlah diri kita yang setiap hari bergelimang dengan harta. Setiap saat kita berdiskusi untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar, bahkan terkadang kita membicarakan jabatan agar bisa meraihnya. Padahal semua itu akan kita tinggalkan ketika malaikat maut datang menjemput.
Ketika hati kita sudah diisi dengan hawa nafsu dunia, maka cahaya Allah makin redup dalam diri kita. Dunia sudah kita besarkan setiap saat, sementara Allah yang telah menciptakan dan mencukupkan rezeki kita justru dikecilkan kedudukannya. Di manakah cinta kita kepada Allah yang Rahman dan Rahim?
(Da'wah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )

***) Asep Effendi Al Faqir  

Senin, 23 November 2015

KEUTAMAAN BERSIKAP LEMAH LEMBUT

Diriwayatkan bahwa seorang badui memasuki masjid, sementara Rasulullah SAW sedang duduk. Orang itu berkata, "Ya Allah, ampuni aku dan Muhammad, dan jangan Engkau ampuni seorang pun selain kami." Lalu Rasulullah SAW tertawa dan berkata, "Engkau telah menghalangi banyak orang." 
Kemudian orang itu beranjak hingga ke sudut masjid untuk kencing. Setelah melalui peristiwa itu, orang badui itu berkata, "Beliau berdiri menghampiriku. Sungguh, beliau tidak mencela dan tidak menghardik. Beliau malah berkata, "Sesungguhnya masjid ini tidak untuk kencing di dalamnya, tetapi dibangun untuk berzikir kepada Allah dan shalat." Selanjutnya beliau memerintahkan agar disiramkan air pada bekas teresebut (HR Ibnu Majah dan Bukhari).
Hadis di atas menjelaskan kepada kita bagaimana sikap dan tutur kata Rasulullah SAW yang penuh dengan kelembutan saat beliau menghadapi orang yang kurang tepat dalam berdoa dan kencing di sudut masjid. Beliau tidak mencela dan tidak pula menghardiknya, akan tetapi menasihatinya dengan lembut dan menyelesaikan apa yang menjadi inti permasalahannya, yakni menyiram kencing orang tersebut dengan air. Kelemahlembutan Rasulullah SAW ini membuat orang badui tersebut sadar dan kian hormat dan mencintai kepadanya.
Lembah lembut sendiri mengandung pengertian kelembutan yang berupa perkataan dan perbuatan, Tegasnya, lawan dari sikap kasar. (al-Qamus al-Muhith). Dalam keseharian, kita harus mengedepankan sikap dan tutur kata yang lembut dan menjauhkan diri dari sikap kasar karena kelembutan akan mendatangkan kedekatan dan kebaikan. Sebaliknya, sikap kasar akan menjauhkan persaudaraan dan mendatangkan keburukan. 
Disebutkan, "Sesungguhnya kelembutan tidak terjadi pada sesuatu kecuali akan mengindahkannya, dan tidaklah tercabut dari sesuatu kecuali akan memburukkannya." Kelembutan tutur kata dan perbuatan merupakan landasan dalam membangun keharmonisan antarsesama, kunci dalam menasihati dan penyelesai permasalahan serta penyebab datangnya kebaikan. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang tidak memiliki kelemahlembutan maka tidak dihampiri kebaikan." (HR Muslim).
Lebih daripada itu, ketika kita memiliki sikap dan tutur kata yang lembut tidak hanya akan menjadikan hidup kita penuh dengan kedamaian dan keharmonisan dengan sesama, juga di akhirat kelak kita akan dimasukkan ke dalam surga. Rasulullah SAW bersabda, "Maukah kalian aku kabari tentang orang yang diharamkan terhadap neraka atau orang yang neraka diharamkan terhadapnya? Yaitu setiap orang yang bersikap dekat serta berlaku mudah dan gampang (bersikap lemah lembut)." (HR Tirmidzi).
Oleh karena itu, kita harus berupaya menyandang sifat ini karena termasuk sifat yang dicintai oleh Allah SWT lagi penuh dengan keutamaan. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah Mahalembut, dia menyukai kelembutan. Dia memberikan kepada orang yang lemah lembut apa yang tidak diberikan kepada yang kasar dan apa yang tidak diberikan kepada yang selainnya." (HR Muslim)
(Da'wah, hidayah, keyakinan, sabar, syukur, takwa, )


***) Moch Hisyam

Minggu, 22 November 2015

MEMAKNAI PERTANYAAN

Dalam kitab suci Alquran dan hadis Nabi SAW ditemukan banyak teks yang berisi pertanyaan. Tidak semua pertanyaan tersebut dijawab langsung, tetapi ada juga yang bersifat retoris, yakni tidak perlu jawaban karena akan terjawab dengan sendirinya. Kalimat pertanyaan dapat dikenali dari kata yang digunakan, seperti ara-aita (QS 107:1), wa maa adraaka (QS 97:2), serta hal  (QS 88:1).
Dalam hidup ini, ada empat esensi pertanyaan yang dalam filsafat ilmu disebut ontologi (apa, hakikat), epistemologi (mengapa dan bagaimana, cara), dan aksiologi (untuk apa, nilai).  Pertanyaan (as-suaal) berkaitan dengan empat unsur: siapa yang bertanya (as-saail), apa yang ditanyakan (al-mas`alah), siapa yang ditanya (al-mas`ul), dan di mana tempatnya (mas'al).
Setidaknya ada lima makna pertanyaan. Pertama, ingin tahu. Bertanya, karena ingin tahu sesuatu atau fenomena adalah awal mula ilmu pengetahuan. Orang yang bertanya bukan bodoh, melainkan orang yang tahu kalau dia tidak tahu (rajulun yadri annahu laa yadri). Ada ungkapan, assuaalu nishful jawabun (pertanyaan separuh dari jawaban). Alquran mendorong untuk bertanya jika tidak tahu (QS 16:43), tetapi jangan banyak bertanya yang justru buat susah sendiri (QS 5:101).
Kedua, perhatian. Orang tua atau guru mesti memberikan perhatian kepada anak atau murid dengan menanyakan sesuatu. Karena, pada dasarnya anak-anak ingin diperhatikan. Dalam Alquran banyak pertanyaan sebagai bentuk perhatian atau pendidikan. Seperti pertanyaan Nabi Yakub AS kepada anak-anaknya tentang apa yang akan disembah mereka (QS 2:131-133), Nabi Ibrahim AS kepada Nabi Ismail AS (QS 37:102).
Ketiga, menasihati. Ada pertanyaan yang bermakana nasihat (petuah) agar lebih menghunjam ke relung lubuk hati. Begitulah orang tua dan para guru-guru kita dahulu menasihati. Nabi SAW juga bertanya kepada sahabatnya untuk menasihati mereka sesuatu yang penting. Misalnya, Nabi SAW bertanya tentang siapakah orang yang bangkrut itu (HR Bukhari).
Keempat, pertanggungjawaban (al-mas'uliyah). Pertanyaan untuk meminta pertanggungjawaban pasti dialami setiap orang. Anak ditanya oleh orang tua, murid ditanya guru, mahasiswa ditanya dosen, begitu pun sebaliknya. Tidak suatu amal pun yang akan luput dari pertanyaan (QS 2:134, 4:43-44, 17:36). Pesan Nabi SAW, "Setiap orang akan diminta pertanggungjawaban kepemimpinannya" (HR Bukhari).
Pada hari kiamat kelak, manusia akan ditanya tentang perbuatannya di dunia. Jika lulus, akan dimasukkan ke dalam surga dan jika tidak bisa jawab, akan dijerumuskan ke neraka sesuai predikat penilaiannya.
Kelima, keangkuhan. Ada pula pertanyaan karena keangkuhan. Bertanya hanya untuk menunjukkan ke-aku-an dan meremehkan orang lain. Seperti Firaun kepada Nabi Musa AS (QS 26:23) dan Raja Namrudz kepada Nabi Ibrahim AS (QS 2:258, 21:62). Termasuk pula pertanyaan jebakan Kafir Quraisy kepada Nabi SAW tentang tiga hal, yakni ruh (QS 17:85), Dzulqarnaen (QS 18:83), dan Ashabul Kahfi (QS 18:9-22). 
Kehidupan ini sejatinya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam keseharian. Untuk itu, diperlukan persiapan (bekal) yang cukup, yakni keyakinan (tauhid, iman), ilmu pengetahuan, kearifan (hikmah, intuisi), dan pengalaman. Perlu diingat, bagi orang yang menjadi tempat bertanya, kelak akan ditanya jawaban yang diberikannya. Orang yang bertugas bertanya pun, akan ditanya soal pertanyaannya. Allahu a'lam bish-shawab.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, pendidikan., sabar, syukur., takwa., )

***)Hasan Basri Tanjung

Sabtu, 21 November 2015

PECINTA AMAL YAUMIYAH

Hidup di dunia ini sungguh sekejap saja. Sementara, kesempatan mengumpulkan bekal teramat sebentar. Kita akan hidup selama-lamanya, tidak akan ada akhir lagi, yaitu kelak nanti di akhirat. Dan, hamba Allah yang beriman pasti akan menyibukkan diri dengan amal ketaatan supaya di kehidupan nanti mendapatkan kebahagiaan yang sempurna.
Salah satu amal ketaatan seorang hamba itu adalah bersemangat dalam menghidupkan ihyaaus sunnah. Tiada waktu, hari, jam, menit, detik berlalu kecuali bernilai ibadah, amal saleh, manfaat, dan mencari perbekalan terbaik di akhirat. Karena itulah, ia hidupkan sunah harian Rasulullah SAW.
Gambaran indah amal yaumiyah (amal sunah harian Nabi SAW) adalah bermula ketika hendak tidur. Ia pasti akan tidur lebih awal karena kerinduannya bangun di tengah malam. Saat terjaga, ia bersegera membangunkan keluarga dan sahabatnya untuk menikmati indahnya shalat malam.
Pencinta amal yaumiyah Nabi SAW pasti tidak akan pernah beranjak dari Tahajud kecuali setelah membaca istighfar dengan bilangan yang banyak, dilanjutkan tadabur Alquran. Lalu, dengan hati gembira, ia melangkah dengan kaki diayun untuk berjamaah Subuh di masjid.
Kemudian, ia biasakan tidak keluar dari masjid kecuali ikut kajian ilmu dan zikir hingga waktu shalat sunah Isyraq. Dan, pagi pun menjelang. Ia tidak akan keluar rumah untuk ikhtiar yang halal kecuali diiringi doa, pamit kepada keluarga dengan ciuman, lambaian salam dan terjaga selalu wudhunya. Hatinya pun selalu terpaut zikir kepada Allah SWT.
Dalam beraktvitas selalu dengan belas kasih, rendah hati, murah senyum, ringan tangan, penebar salam dan salaman, bersih-wangi bersahaja dengan sesederhana mungkin penampilannya. Hal ini terbaca dari isyarat mata, tubuh, dan penampilannya yang tidak sombong. Bicaranya santun dan selalu berbaik sangka pada setiap takdir-Nya, jauh dari sifat dengki.
Tiba waktu Zhuhur atau Ashar, maka shalatnya pasti tepat waktu dan berjamaah. Ia tidak sungkan untuk memulai dan mendatangi serta menjulurkan tangan silaturahim. Diam-diam hatinya berdoa untuk keluarganya, negerinya, saudara-saudaranya yang tertindas, seperti di Palestina, Afghanistan, Irak, Suriah, Mesir, Yaman, Rohingya. Bahkan, terhadap mereka yang berbeda keyakinan, doa pun dipanjatkannya agar Allah SWT memberi hidayah.
Kepada siapa pun yang dijumpai, ia selalu ingatkan tentang dahsyatnya kehidupan akhirat tanpa merasa dirinya paling suci. Dan, puncaknya bermuhasabah diri, sama sekali tidak tertarik membahas, apalagi mencari aib saudaranya. Inilah amal ringan, tapi padat penuh makna.
Orang beriman akan menjadikan tiada waktu yang sia-sia. Fokus dalam ketaatan yang prima dengan menjaga amal yaumiyah. Semoga Allah SWT terus dan terus membimbing kita semangat beriman dan beramal saleh hingga wafat dalam keridhaan-Nya. Aamiin.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Ustaz Arifin Ilham

Jumat, 20 November 2015

DOA KORBAN FITNAH

Memfitnah berarti menebar tuduhan kepada orang lain dengan fakta palsu atau dusta secara sengaja. Tujuannya untuk memberikan stigma negatif sehingga wibawa dan reputasi orang yang menjadi sasaran fitnah tersebut jatuh, apakah di hadapan orang tertentu ataupun di mata publik.
Bentuk dan motif fitnah ini bisa macam-macam. Misalnya, bentuk fitnah yang dikenal dengan istilah play victim, yaitu melukai diri atau merusak reputasinya sendiri dengan motif mencari simpati, keserakahan, kekuasaan, dan lain sebagainya. Dan pada saat yang sama, ia pun harus melemparkan tuduhan bahwa pihak lawanlah yang melakukannya.
iasanya, jenis fitnah di atas sering kita temukan, baik di tengah masyarakat lokal maupun global. Kecanggihan teknologi informasi dan jejaring media sosial menjadi salah satu andalan untuk memuluskan tipu muslihatnya tersebut.
Tak aneh jika fitnah serupa atau bentuk-bentuk fitnah lainnya sering terjadi, terutama di saat menjelang kampanye pemilu atau pilkada serentak yang tidak lama lagi dilaksanakan di negara kita.
Disadari atau tidak, menebar fitnah hanya akan mengundang malapetaka dan penderitaan yang sangat melelahkan. Entah bagi diri, lingkungan keluarga, ataupun masyarakat yang lebih luas.
Dan, penting diketahui bahwa penderitaan akibat fitnah ini tidak hanya dirasakan oleh orang yang difitnah saja, akan tetapi aktor utama yang menebar fitnah pun akan merasakan akibatnya yang lebih besar jika ia tidak segera meminta maaf dan bertaubat.
Sebab, orang yang suka memfitnah orang lain sebenarnya ia sedang menata penderitaan hidupnya sendiri, cepat ataupun lambat. Seolah-olah dirinya tidak pernah memikirkan perbuatannya itu sebagai sebuah dosa. Padahal, perbuatannya itu justru mengantarkan dirinya ke dalam jurang kehinaan di dunia. Lebih-lebih di akhirat.
Salah satu kisah menarik yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tentang konflik antara Sa'id Ibn Zaid Ibn 'Amr Ibn Nufail dan Arwa binti 'Aus. Sa'id ditentang dan dilaporkan oleh Arwa binti 'Aus kepada Marwan Ibn al Hakam.
Wanita itu menuduhnya mengambil sebagian dari tanahnya. Sa'id pun berkata, "Apakah aku mengambil sebagian dari tanah miliknya setelah aku mendengar ucapan dari Rasulullah SAW?"
Marwan bertanya, "Apa yang Anda dengar dari Rasulullah SAW?" Ia menjawab, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Barangsiapa mengambil sejengkal tanah secara zalim maka Allah akan mengalungkan ke lehernya tujuh lapis bumi.'"
Maka, Marwan berkata, "Aku tidak akan memintamu bukti-bukti setelah ini." Lalu Sa'id berkata, "Ya Allah, jika perempuan ini bohong maka butakanlah matanya dan matikan dia di tanahnya."  Sehingga, Urwah berkata, "Wanita itu tidak meninggal dunia sehingga matanya menjadi buta dan ketika ia berjalan di tanahnya, tiba-tiba ia terjatuh dan masuk terperosok lubang dan meninggal." (HR Bukhari Muslim).
Dalam riwayat lain dengan makna yang sama, Muhammad Ibn Zaid melihat wanita tersebut dalam keadaan buta dan sedang meraba-raba dinding seraya berkata, "Aku tertimpa doanya Sa'id, dan sesungguhnya ia melewati sumur di rumah yang ia pertentangkan kemudian ia terjatuh ke dalam sumur dan itu menjadi kuburnya." (HR Muslim).
Kisah di atas menunjukkan betapa buruk dan bahayanya dosa menuduh atau memfitnah, sekaligus memberi peringatan kepada kita bahwa perangai ini termasuk perbuatan jahat (zalim) yang semestinya ditinggalkan.
Di sisi lain, kisah di atas memberi hikmah dan pesan yang sangat penting untuk kita bahwa tangisan dan rintihan doa orang yang dizalimi hendaklah ditakuti karena ia akan didengar dan dikabulkan Allah. Termasuk tangisan dan rintihan doa orang yang difitnah.
Senada dengan pesan Nabi SAW kepada Mu'adz ketika akan diutus ke Yaman, "Takutlah kamu akan doa seorang yang dizalimi karena doa tersebut tidak ada hijab (penghalang) di antara dia dengan Allah." (HR Bukhari dan Muslim). Wallahu'alam bish shawab.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa., )


***) Imron Baehaqi

Kamis, 19 November 2015

DERAJAT KEMULIAAN GURU

Rasulullah SAW adalah contoh terbaik figur seorang guru. Tak dinyana, posisi dan peran guru sangat menentukan potret peradaban manusia. Imam Al-Ghazali bahkan mengumpamakan guru seperti matahari yang menerangi dan memberikan kehidupan bagi umat manusia.
Lewat warisan ilmu dan keteladanan akhlaknya, guru mengarahkan manusia untuk mengetahui yang benar dan salah, yang baik dan yang buruk, sehingga mereka dapat meraih kebahagiaan dunia dan kenikmatan akhirat.
Sosok Muslim, Mukmin, dan Muttaqin bisa menjadi guru. Tentu dengan tingkat kualitas hidup dan derajat ketakwaan yang berbeda. Guru Muslim banyak, tetapi berapa banyak kita menemukan sosok guru Mukmin? Siapapun dapat mengaku Muslim.
Bila yang mengaku Muslim ini guru, dia punya posisi strategis, tapi tak selamanya mampu jadi uswah hasanah bagi murid-murid. Sebagai seorang hamba, tugas guru adalah beribadah kepada Allah SWT (QS Adz-Dzaariyaat: 56).
Karena gagal memahami dan memaknai hakikat hidup, guru Muslim mengalami disorientasi tujuan hidup. Peran dan tanggung jawab menjadi guru tak dimaknai sebagai ladang amal dan ibadah kepada Allah SWT. Tapi hanya sekadar menjalani rutinitas pekerjaan sehari-hari untuk menggugurkan kewajiban sebagai guru.
Memandang pekerjaan guru hanya berkutat dengan urusan duniawi. Tak ada kaitannya dengan kehidupan akhirat kelak. Guru berstatus Muslim banyak, guru Mukmin sedikit. Karena menjadi Mukmin lebih sulit ketimbang sekadar menjadi Muslim.
Mengaku mukmin banyak, tapi yang benahi tauhid sedikit. Menjadi Mukmin artinya membenahi tauhid, agar tahu dan kenal Allah SWT. Mengenal Allah tak lain adalah mengenal diri sendiri.
Kenalilah dirimu, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.” Mengenal diri adalah mengenal jiwa. Mengenal jiwa adalah mengendalikan nafsu.
Siapa yang dapat mengendalikan nafsu, nikmatnya terasa di hati. Siapa yang mendapat kenikmatan hati, dia kenali jiwanya. Mengenal jiwa, itulah dia telah mengenal Allah SWT. Siapa yang kenal Allah SWT, pasti cinta, takut dan rindu kepada-Nya menjadi satu.
Siapa yang cinta kepada Allah SWT, pasti dia tak akan lagi khawatir pada apapun urusan dunia. Memanipulasi dana bantuan operasional sekolah, merekayasa nilai rapor murid, korupsi jam kerja, memberi sogokan untuk licinkan jalan meraih sertifikasi guru, dan apapun yang berbau duniawi tak lagi mengusik.
Inilah takwa, milik orang-orang Muttaqin. Guru muttaqin, hidupnya selamat dan menyelamatkan. Yang belajar jadi Mukmin banyak, namun yang berhasil jadi Muttaqin sedikit. Sebab orang takwa telah melewati jihadun nafsi, jihad akbar.
Berapa banyak guru yang mampu mengendalikan nafsu? Hawa nafsu lebih cenderung kepada sifat-sifat tercela. Maka, berjuanglah untuk mengendalikan hawa nafsu agar guru tak tersesat dari jalan Allah SWT (QS Shaad: 26).
Orang takwa sudah pasti tawadhu. Arti tawadhu adalah meninggalkan hal apapun yang tak ada kaitannya untuk mengabdi pada Allah SWT. Guru takwa bisa jadi kaya raya. Tetapi ruahan kekayaan itu sungguh-sungguh untuk mengabdi pada Allah SWT.
Jika guru takwa berlimpah ilmu dan harta, dia pasti sedekahkan ilmu dan harta di jalan Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Jadilah engkau sebagai guru, atau pelajar, atau pendengar, atau pecinta ilmu, dan janganlah kamu menjadi orang yang kelima, sehingga kamu menjadi rusak.” (HR Abu Daud dan Turmizi).
Jika kita memilih jalan hidup sebagai guru, sadarkah masa depan murid-murid ada di tangan kita? Maka pahamilah, tugas utama guru adalah mendidik diri sendiri.
Jika guru berhasil mendidik diri sendiri, semoga keteladanannya bisa menginspirasi para murid. Oleh karena itu, teruslah menjadi pembelajar sejati yang istiqomah membenahi kualitas ilmu dan derajat keimanan. (QS Al-Mujadalah: 11).
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Asep Sapa’at

Rabu, 18 November 2015

CARA MENGENDALIKAN AMARAH

Saat terjadi Perang Khandaq, terjadi pertarungan sengit antara Ali bin Abi Thalib RA melawan Amr bin Abd Wad al-Amiri, dedengkot kaum Musyrikin yang paling ditakuti. Hanya tinggal satu tebasan saja, sepupu Rasulullah SAW itu akan memenangkan pertarungan. 
Belum sempat membunuh, musuh meludahi muka Ali. Bukannya langsung menebaskan pedangnya, Ali malah mundur beberapa saat, seolah ingin membuang amarah. "Aku tak ingin membunuhnya karena marah. Sampai lenyap amarah ini karena aku ingin membunuhnya semata-mata karena Allah," katanya menegaskan.
Kisah masyhur tersebut memberikan kita pelajaran berharga bahwa amarah harus dikendalikan. Seperti berita yang masih hangat, karena senggolan kendaraan, seorang oknum TNI tega membunuh warga sipil yang tak bersenjata. Bukankah itu tak seharusnya terjadi?
Dalam kehidupan ini, kekecewaan atas suatu kondisi atau putusan tentu pernah dialami siapa pun. Rasanya sangat menyedihkan, bahkan menyakitkan. Marah, cemburu, iri, bahkan dengki tak bisa dihindari hinggap dalam sanubari.
Padahal, Rasulullah SAW amat melarang umatnya saling membenci satu sama lain. Jangankan dengan sesama Muslim, dengan musuh sekalipun, bukan kemarahan sebagai dasar pembenaran terjadinya pembunuhan. Nabi SAW bersabda, "Janganlah kalian saling memutuskan tali silaturahim, janganlah saling membelakangi, janganlah saling membenci, dan janganlah saling menghasut. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan, tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan Muslim yang lainnya melebihi dari tiga hari." (HR Bukhari dan Muslim).
Bagi kita orang beriman, jadikanlah kemarahan, cemburu, dan iri menjadi energi positif. Tentu saja, mengubah energi negatif menjadi positif itu tidaklah mudah. Dibutuhkan kekuatan batin, ketangguhan iman, dan penguasaan diri yang lebih baik. Itulah modal dasarnya.
Selanjutnya, energi iri itu harus diubah menjadi energi untuk berlomba dalam kebaikan. Yakinlah emas itu akan tetap emas walau berada di sistem yang buruk sekalipun. Tetaplah berfokus pada produktivitas diri, menyebar kebaikan sebaik mungkin.
Menjadi pemaaf atas kekecewaan dan kemarahan ialah bukti teguhnya keimanan. Firman-Nya, "Jadilah engkau pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh." (QS al-A'raf:199).
Ketika kita kecewa pada seseorang atau kondisi, marah tentu membakar jiwa. Sadarilah, energi negatif itu kadang membakar semua kebaikan, melampaui batasan yang ada. Dendam itu kadang menuntut lebih karena puasnya saat orang lain lebih menderita dari kita. Ketahuilah, bagi mereka yang bersabar dan dapat mengendalikan amarah, Allah Yang Maha Pengampun menjanjikan kenikmatan di akhirat kelak. 
Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang mampu menahan marah, padahal sebenarnya ia bisa untuk melampiaskannya, maka pada hari kiamat Allah SWT akan memanggilnya di hadapan para makhluk, kemudian ia diminta untuk memilih bidadari yang cantik jelita sesuai dengan yang diinginkan." (HR Abu Daud dan Tirmidzi).
Terkadang, kemarahan dan kebencian sering dipicu oleh prasangka-prasangka yang belum jelas kebenarannya. Kedepankan tabayun untuk semua informasi yang tengah ditudingkan. Berpasrahlah kepada Allah Yang Pengasih dan Penyayang untuk segala yang dialami. Ambillah pengalaman dari kejadian itu dan keluarlah dari kepungan api kebencian.
Hiruplah udara segar dan berhusnuzhanlah pada siapa pun. Bertobatlah dan bersabar untuk semua pengalaman yang menyakitkan itu. Maka, biarkan hati ini kembali diterangi kebaikan, ketenteraman, dan kebahagiaan. Wallahu a'lam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur, takwa., )


***)Iu Rusliana