Rabu, 06 April 2016

RAHASIA KEBAHAGIAAN GURU

RAHASIA  KENAHAGIAAN  GURU Ada pertanyaan menggelitik di tengah kemelut persoalan yang kerap mendera para guru, apa dan di mana rahasia kebahagiaan guru tersembunyi? Apakah sumber kebahagiaan guru berasal dari meruyaknya harta dan tingginya pangkat serta jabatan? 
Firman Allah SWT, “Dan bermusyawarahlah kamu dengan mereka dalam segala urusan. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS al-Imran: 159).
Guru yang bertawakal adalah guru yang berbahagia. Buya Hamka pernah menyatakan jika seorang Mukmin telah bertawakal atau berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT maka terlimpahlah ke dalam dirinya sifat terhormat dan mulia yang ada pada-Nya. 
Selain itu, orang bertawakal akan dilimpahi pengetahuan dan ilham dari Allah SWT yang mengantarkannya kepada meraih kebahagiaan dalam hidup. 
Ada tiga simpul nilai tawakal yang harus diamalkan dan dimaknai guru dalam kehidupan pribadi dan profesionalnya. Pertama, simpul nilai yang disebut azam. Azam mengandung makna kebulatan tekad yang diterapkan di dalam rencana dan ikhtiar yang sungguh-sungguh. 
Contoh, ketika guru hendak mengajar maka guru harus menyiapkan rencana program pengajaran dan pembelajaran yang detail dan sistematis. 
Setelah rencana program dirancang dengan sangat baik, guru bersungguh-sungguh melaksanakan dan memikul tanggung jawab sebagai pengajar seraya bertawakal kepada Allah SWT. Azam merupakan bagian tak terpisahkan dari sikap tawakal. Bahkan, tawakal menjadi cacat atau bisa gugur tanpa adanya azam. 
Kedua, simpul nilai yang disebut ujian. Ujian atau cobaan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup. Sebab, pengakuan keimanan seorang guru belum dipandang cukup sebelum para guru akan mendapatkan ujian hidup (QS al-Ankabut: 2-3). 
Apakah bentuk ujian itu? Allah SWT berfirman: “Kami akan menguji (iman) kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (iman) yang sebenar-benarnya.” (QS al-Anbiya: 35). 

Guru bisa diuji dengan kebaikan seperti sehat lahir batin, banyak rezeki, lulus sertifikasi, punya jabatan, murid-muridnya pandai dan saleh, dan hal-hal baik lainnya. 
Tak jarang pula ujian keburukan pun menimpa guru, seperti sakit, kurang rezeki, murid-muridnya nakal, jadi kambing hitam kegagalan sistem kebijakan pendidikan, dan hal-hal buruk lainnya. Tawakal adalah dasar dari keimanan dan semua amal.
Demikian juga iman dan amal tak dapat ditegakkan kecuali di atas dasar tawakal. Tawakal sendiri hanya bisa terwujud dalam diri seorang guru setelah imannya lulus dalam ujian (QS al-Ankabut: 3). 
Ketiga, simpul nilai yang disebut sabar dan syukur. Sesungguhnya, ujian kelapangan hidup bagi seorang guru adalah bersyukur. Di sisi lain, ujian kesempitan hidup bagi seorang guru adalah kesabaran. 
Banyak guru yang terbiasa hidup lapang dan senang ternyata tak bisa bersabar menjalani satu kesulitan hidup. Sebaliknya, banyak guru yang tangguh saat menghadapi ujian keburukan, tetapi malah tak berhasil atasi diri saat mendapatkan kejayaan hidup.
Guru yang memiliki sifat tawakal akan diberikan ketenangan dan ketenteraman hati. Ketenangan dan ketenteraman hati itu sendiri datangnya dari Allah SWT. Dan, Allah SWT hanya akan memberikannya kepada guru-guru yang telah meraih makam tawakal. 
Guru bisa membeli kasur yang empuk, tapi tak akan pernah bisa membeli nyenyaknya tidur. Guru bisa membeli obat yang mahal, tetapi tak akan bisa membeli nikmatnya kesehatan.
Bagi guru yang bertawakal, rumah sempit terasa lapang. Tetapi, bagi guru yang kerap dirundung rasa keluh kesah, rumah luas pun terasa sempit. 
Allah SWT berfirman, “Dialah yang telah menurunkan ketenangan (dan ketenteraman) ke dalam hati orang-orang Mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka yang telah ada.” (QS al-Fath: 4). 
Sejatinya, ketenangan hati adalah syarat kebahagiaan hidup. Jika sepanjang hidup menjalani peran guru tetapi tak bisa merasakan kebahagiaan maka guru musti merenung, mengapa kita tak merasa bahagia? Lantas, apa sebenarnya yang kita cari di dunia ini? Wallahu alam.

***)Asep Sapaat--(Republika Online)

Selasa, 05 April 2016

KEBERHASILAN YANG MEMBAHAGIAKAN

Keberhasilan adalah hal yang sangat membahagiakan. Orang yang berusaha pastilah mendambakan sebuah keberhasilan. Seseorang yang sedang menuntut ilmu (thalab al-ilmi) menginginkan keberhasilan dalam belajarnya. Seorang petani yang sedang menanam padi mengharapkan panen yang sangat melimpah. Seorang yang sedang ditimpa cobaan ataupun musibah pastilah menginginkan keberhasilan dalam melewati musibah maupun cobaan tersebut. 
Kita bisa belajar dari kisah Nabi Ayub AS yang diberi cobaan oleh Allah berupa penyakit. Kemudian, beliau menyeru kepada Sang Khalik, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang". (QS 21:83). Karena kesabarannya maka Allah memperkenankan seruan Nabi Ayub AS. Kemudian, Allah SWT melenyapkan penyakit yang ada padanya dan Allah kembalikan keluarganya, bahkan Allah lipat gandakan jumlah mereka sebagai suatu rahmat dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.
Kita juga bisa mengambil ibrah dari kisah Nabi Zakaria AS tatkala ia berdoa kepada Allah SWT dengan suara yang lembut. "Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, wahai Tuhanku, sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku". (QS 19: 4-5). Yaitu, orang-orang yang akan mengendalikan dan melanjutkan urusan sepeninggalnya. 

Saat itu, Nabi Zakaria AS mengkhawatirkan kalau mereka tidak dapat melaksanakan urusan itu dengan baik karena tidak seorang pun di antara mereka yang dapat dipercayainya. Nabi Zakaria AS pun meminta dianugerahi seorang anak sedangkan istrinya adalah seorang yang mandul. Kemudian beliau berdoa, "Wahai Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling baik".(QS 21: 89). Berkat kesabaran dan ketawakalannya maka Allah mengabulkan doa Nabi Zakaria dengan memberikannya keturunan, yaitu seorang anak laki-laki bernama Yahya, padahal ia sudah tua renta dan istrinya pun sudah divonis mandul.
Dari kisah di atas dapat diambil benang merah bahwa para nabi tersebut dapat melewati cobaan maupun ujian dari Allah dengan tiga kunci. Hal ini termaktub dalam surah al-Anbiyâ (21) ayat 90, "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada kami." (QS al-Anbiya: 90).
Pertama, berusaha optimal. Usaha merupakan langkah awal menuju keberhasilan. Usaha juga merupakan tolok ukur sebuah keberhasilan. Semakin keras usahanya maka akan semakin dekat menuju keberhasilan. Bukankah Allah tidak akan mengubah suatu kaum hingga kaum tersebut berusaha mengubah ke arah yang lebih baik? Artinya, ketika kita menginginkan keberhasilan dalam sesuatu maka usaha maksimal nan optimal adalah mutlak dilaksanakan.
Kedua, berdoa paripurna. Doa merupakan penguat usaha yang dilakukan. Usaha yang optimal tidak akan kuat tanpa diikat oleh doa. Hendaknya kita berdoa secara paripurna, yaitu dengan penuh harap dan cemas. Meyakini bahwa Allah akan mengabulkan doa yang kita panjatkan. (QS al-Baqarah [2]: 186).
Ketiga, bertawakal penuh. Berusaha dan berdoa harus dibarengi dengan sebuah ketawakalan. Tawakal merupakan wujud ketauhidan kita kepada Allah SWT. Allahlah yang menentukan segala sesuatunya sehingga ketika kita mengalami kegagalan maka kita akan dapat berlapang dada. Karena, semuanya berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Wallahu a'lam.

***)Muhammad Fahri (Republika Online

Senin, 04 April 2016

PESAN UNTUK WANITA

Wanita memiliki peranan yang sangat penting. Kesuksesan dalam membangun bangsa, termasuk keluarga, ternyata tidak lepas dari peranannya.
Sehingga, tidak salah jika dikatakan wanita (ibu) merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sebab, wanita adalah sebagai pemimpin di rumah suaminya (HR Bukhari). 
Karena strategis dan pentingnya peranan wanita bagi kehidupan, Islam memberikan pesan-pesan khusus untuk kaum wanita melalui Alquran dan hadis Nabi SAW. 
Pertama, Alquran memerintahkan kepada kaum wanita untuk menahan pandangan, memelihara kemaluan, tidak menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak daripadanya, menutupkan kain kudung ke dadanya, dan tidak menampakkan perhiasan (QS an-Nur [24]: 31). 
Kedua, Alquran memerintahkan kepada para sahabat Nabi SAW, apabila meminta suatu keperluan kepada istri-istri Nabi SAW, hendaknya memintanya dari belakang tabir. Dan cara seperti itu yang akan dapat menjaga suasana hati (QS al-Ahzab [33]: 53). 
Ketiga, Alquran memerintahkan kepada kaum wanita untuk menutup aurat. Allah SWT berfirman, “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.''
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal. Karena itu, mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Ahzab [33]: 59). 
Selain Alquran, Nabi Muhammad SAW juga memberikan pesan khusus kepada kaum wanita melalui sabdanya. Pertama, wanita sebagai perhiasan terbaik.
Rasulullah SAW bersabda, “Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/kesenangan dunia adalah wanita yang salehah.” (HR Muslim, Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ahmad). 
Kedua, wanita (yang salehah) memiliki ciri-ciri khusus. Sabda Nabi SAW, “Siapakah wanita yang paling baik?” Beliau menjawab, '(Sebaik-baik wanita) adalah yang menyenangkan (suaminya) jika ia melihatnya, menaati (suaminya) jika ia memerintahnya, dan ia tidak menyelisihi (suaminya) dalam hal yang dibenci suami pada dirinya dan harta suaminya.“ (HR Ahmad, Hakim, Nasa'i, dan Thabrani). 
Ketiga, pemahaman agama sebagai ukuran dalam kesalehahan wanita. Nabi SAW bersabda, “Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, kecantikannya, dan karena agamanya; maka pilihlah yang memiliki agama maka engkau akan beruntung.” (HR Bukhari dan Muslim). 
Keempat, wanita sebagai mitra kaum laki-laki dalam berbagai hal, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya kaum wanita adalah mitra bagi kaum laki-laki.” (HR Tirmidzi). 
Kelima, wanita sebagai seorang hamba yang paling dekat dengan Rabbnya. Hal ini ditegaskan melalui sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya seorang wanita akan menjadi lebih dekat kepada Allah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR Thabrani). 
Itulah sebagian pesan Islam terhadap kaum wanita. Semoga Allah membimbing kita para wanita agar dapat menjalankan pesan mulia tersebut dan meraih kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Amin. 

***) Hj Siti Mahmudah (Republika Online)

Minggu, 03 April 2016

3 PESAN ALQURAN BUAT WANITA SALEHAH

Wanita memiliki peranan yang sangat penting. Kesuksesan dalam membangun bangsa, termasuk keluarga, ternyata tidak lepas dari peranannya.
Sehingga, tidak salah jika dikatakan wanita (ibu) merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sebab, wanita adalah sebagai pemimpin di rumah suaminya (HR Bukhari). 
Karena strategis dan pentingnya peranan wanita bagi kehidupan, Islam memberikan pesan-pesan khusus untuk kaum wanita melalui Alquran dan hadis Nabi SAW. 
Pertama, Alquran memerintahkan kepada kaum wanita untuk menahan pandangan, memelihara kemaluan, tidak menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak daripadanya, menutupkan kain kudung ke dadanya, dan tidak menampakkan perhiasan (QS an-Nur [24]: 31). 
Kedua, Alquran memerintahkan kepada para sahabat Nabi SAW, apabila meminta suatu keperluan kepada istri-istri Nabi SAW, hendaknya memintanya dari belakang tabir. Dan, cara seperti itu yang akan dapat menjaga suasana hati (QS al-Ahzab [33]: 53). 
Ketiga, Alquran memerintahkan kepada kaum wanita untuk menutup aurat. Allah SWT berfirman, “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'.'' 
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal. Karena itu, mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Ahzab [33]: 59). 
Selain Alquran, Nabi Muhammad SAW juga memberikan pesan khusus kepada kaum wanita melalui sabdanya. Pertama, wanita sebagai perhiasan terbaik. Rasulullah SAW bersabda, “Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/kesenangan dunia adalah wanita yang salehah.” (HR Muslim, Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ahmad). 
Kedua, wanita (yang salehah) memiliki ciri-ciri khusus. Sabda Nabi SAW, “Siapakah wanita yang paling baik?” Beliau menjawab, ''(Sebaik-baik wanita) adalah yang menyenangkan (suaminya) jika ia melihatnya, menaati (suaminya) jika ia memerintahnya, dan ia tidak menyelisihi (suaminya) dalam hal yang dibenci suami pada dirinya dan harta suaminya.“ (HR Ahmad, Hakim, Nasa'i, dan Thabrani). 
Ketiga, pemahaman agama sebagai ukuran dalam kesalehahan wanita. Nabi SAW bersabda, “Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, kecantikannya, dan karena agamanya; maka pilihlah yang memiliki agama maka engkau akan beruntung.” (HR Bukhari dan Muslim). 
Keempat, wanita sebagai mitra kaum laki-laki dalam berbagai hal, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya kaum wanita adalah mitra bagi kaum laki-laki.” (HR Tirmidzi). 
Kelima, wanita sebagai seorang hamba yang paling dekat dengan Rabbnya. Hal ini ditegaskan melalui sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya seorang wanita akan menjadi lebih dekat kepada Allah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR Thabrani). 
Itulah sebagian pesan Islam terhadap kaum wanita. Semoga Allah membimbing kita para wanita agar dapat menjalankan pesan mulia tersebut dan meraih kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Amin. 

***) Hj Siti Mahmudah (Republika Online)

Sabtu, 02 April 2016

HASAD, API YANG MENGHANGUSKAN KAYU BAKAR

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jauhilah hasad (dengki), karena hasad akan menghanguskan kebaikan-kebaikan sebagaimana api menghanguskan kayu bakar." (HR Abu Dawud)
Hasad atau dengki adalah menginginkan nikmat yang dimiliki orang lain dan menghendaki nikmat tersebut berpindah kepada dirinya. Hasad berawal dari sikap tidak menerima nikmat yang diberikan Allah kepadanya, karena ia melihat orang lain diberi nikmat yang dianggap lebih besar. Hasad pun bisa timbul bila seseorang menganggap dirinya lebih berhak mendapatkan nikmat dibanding orang lain.
Dalam Alquran disebutkan tentang sikap sebagian ahli kitab terhadap Rasulullah SAW. "Ataukah mereka hasad (dengki) kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar." (QS An-Nisa [4]: 54).
Dampak hasad sungguh luar biasa. Hadis yang diriwayatkan Abu Dawud tersebut menyebutkan bahwa hasad bisa menghancurkan seluruh catatan amal saleh. Hasad pun bisa menimbulkan kebencian, sehingga ia sulit berbuat kebaikan pada orang yang ia dengki. Pada saat yang sama ia pun akan sulit menerima kebaikan yang diberikan orang itu.
Orang yang hasad akan letih. Sebabnya, ia tidak pernah puas dengan nikmat yang telah Allah karuniakan. Pikirannya pun akan tumpul, karena selalu memikirkan kenikmatan orang lain. Bila hasadnya memuncak, bisa saja ia berbuat apapun untuk menghilangkan kenikmatan orang lain, termasuk mencurinya. Dampak terpaling besar adalah hancurnya tali persaudaraan dan tumbuh suburnya kebencian. Padahal, persaudaraan adalah kekuatan kedua umat Islam setelah akidah.
Walaupun demikian, tidak semua hasad dilarang. Rasulullah Saw. bersabda, "Tidak boleh dengki kecuali kepada dua hal. Kepada orang yang diberi ilmu Alquran oleh Allah, lalu ia mengamalkannya siang dan malam dan kepada orang yang diberi harta, lalu menginfaqkannya siang dan malam" (HR Bukhari). Hasad di sini berarti adanya keinginan kuat untuk meneladaninya, bukan menginginkan hilangnya kenikmatan tersebut.
Musthafa Al-Buqha membagi tipe orang hasad ke dalam tiga bagian. Pertama, orang yang berusaha agar nikmat orang lain hilang, yang dilakukannya melalui ucapan atau tindakan. Dari golongan ini ada yang berusaha agar nikmat tersebut pindah kepadanya, ada juga yang tidak.
Kedua, orang yang tidak mengungkapkan hasad-nya, baik melalui ucapan atau tindakan. Ia memendam hasad-nya. Menurut Hasan Al-Bashri, golongan ini tidak berdosa. Ketiga, orang yang berusaha menghilangkan hasad yang ada di dalam hatinya dan berbuat baik terhadap orang yang ia dengki. Bahkan ia ganti hasadnya dengan cinta. Inilah orang yang paling mulia.
Seorang Muslim harus berlindung dari sifat hasad dan juga dari orang-orang yang hasad. Allah SWT berfirman, Dan (aku berlindung kepada Rabb penguasa Subuh) dari kejahatan orang yang hasad apabila ia hasad (QS Al-Falaq [113]: 5). Wallahu a'lam bish shawab.


Sumber : Pusat Data Republika

Jumat, 01 April 2016

AJAIBNYA PERKATAAN RASULLAH SAW

Aku diberi oleh Allah kemampuan untuk mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata yang singkat, ringkas, namun isinya padat. (Rasulullah SAW)
Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, "Apa yang aku larang untuk kalian, maka tinggalkanlah, dan apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka laksanakan sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan dan perselisihan terhadap para nabi mereka." (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakr RA).
Apa yang dapat kita tangkap dari hadis ini? Semua pasti sepakat bahwa hadis ini sangat luar biasa. Redaksinya begitu singkat, tapi padat maknanya dan amat luas konsekuensinya. Tak salah pula bila kita mengatakan bahwa hadis ini adalah poros dalam Islam. Betapa tidak, di dalamnya tercakup dua cakupan Islam, yaitu perintah -- untuk menaati Allah dan Rasul-Nya -- dan larangan, yaitu untuk menjauhi apa yang dilarang Allah dan Rasul-Nya.
Imam Nawawi berkata, "Hadis ini merupakan dasar-dasar Islam yang sangat penting". Ibnu Hajar Al-Haitami pun memberikan komentar, "Hadis ini adalah hadis yang sangat agung karena merupakan dasar agama dan bagian rukun Islam. Karena itu, sebagai seorang Muslim hadis ini patut kita hapalkan, kita perhatikan, dan kita maknai kandungannya". Di samping dua komentar tersebut, masih ada komentar-komentar dari para ulama yang mengungkapkan betapa agungnya hadis ini.
Dari hadis ini kita melihat salah satu keistimewaan Rasulullah SAW yaitu mampu berbicara singkat tapi padat makna. Tentang hal ini Rasul bersabda, "Aku diberi oleh Allah kemampuan untuk mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata yang singkat, ringkas, namun isinya padat".
Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakr tersebut adalah satu dari banyak hadis (perkataan) Rasulullah SAW dengan redaksi yang singkat, padat, dan dalam maknanya. Sekadar menguatkan, ada satu hadis lain yang menunjukkan kehebatan komunikasi Rasulullah SAW. Beliau bersabda, "Seperti apa keberadaan kalian, seperti itulah kalian diserahi kekuasaan".
Menurut Said Hawwa dalam bukunya Ar-Rasul: Shalallahu 'Alaihi Wassallam, hadis ini mencakup kaidah inti dari politik suatu bangsa. Di dalam kalimat pendek ini terkandung beberapa kaidah penting dalam ilmu politik. Pertama, bahwa suatu bangsa bertanggung jawab terhadap keadaan pemerintahannya. 
Kedua, bahwa moral suatu bangsa lebih penting daripada peraturan dan bentuk pemerintahan negara. Ketiga, bahwa kekuasaan adalah pengikut dan bukan asal. Keempat, bahwa menurut ilmu politik modern sumber kekuasaan ada ditangan rakyat. Dan terakhir, hadis ini mengandung sebuah kaidah bahwa suatu bangsa berhak mendapatkan penguasa yang mereka dapat bersabar terhadapnya, meski bukan penguasa yang baik. Subhanallah!


Sumber : Pusat Data Republika

ZAKAT PEMBEDA KEIMANAN & KEMUNAFIKAN

"Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat." (QS al-Baqarah : 43). Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa Allah menyejajarkan shalat dengan zakat. Hal ini mengisyaratkan bahwa kewajiban mengeluarkan zakat bagi seorang Muslim sebanding dengan kewajiban dia melaksanakan shalat.
Seorang sahabat Nabi, Abdullah bin Mas'ud, bahkan berkata, "Kalian diperintahkan mendirikan shalat dan membayar zakat, siapa yang tidak berzakat berarti tidak ada arti shalat baginya."
Pada zaman kekhalifahan Abu Bakar As-Shidiq, banyak kabilah yang enggan membayar zakat dengan berbagai alasan. Ada yang menganggap bahwa zakat adalah semacam upeti yang harus mereka bayar kepada Rasulullah sehingga ketika Rasulullah wafat mereka berpikir tak lagi perlu membayar zakat. Ada juga yang memang kikir dan tak mau berbagi sehingga mereka menyembunyikan hartanya sedemikian rupa. Hingga Abu Bakar berkata, "Demi Allah, aku akan memerangi siapa pun yang memisahkan shalat dengan zakat."  Bukankah ini menunjukkan betapa sejajarnya shalat dan zakat?
Seorang Muslim harus menjaga hubungan vertikalnya dengan Allah melalui ibadah pribadinya seperti shalat, puasa, tilawah, dan lainnya, juga dia harus menjaga hubungan horizontalnya dengan sesama manusia, salah satunya melalui zakat. Meski demikian, zakat juga sangat erat kaitannya dengan ketauhidan. Allah SWT bahkan menyatakan bahwa orang yang tidak menunaikan zakat adalah orang yang mempersekutukan-Nya,
"Katakanlah: Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan, kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat." (QS Fussilat : 6-7).
Seorang ahli fikih Mesir, Dr Yusuf al-Qhardhawi, menyatakan bahwa zakat dapat berfungsi sebagai pembeda antara keislaman dan kekafiran, antara keimanan dan kemunafikan, serta antara ketakwaan dan kedurhakaan.
Maka, wajib bagi seorang Muslim untuk memahami ilmu seputar zakat layaknya dia mempelajari ilmu tentang shalat. Dalam zakat ada banyak ketentuan yang harus dipahami dan diikuti. Ada perhitungan yang jelas dan ada cara pendistribusian yang spesifik.
Jika semua Muslim telah memperlakukan zakat seperti halnya shalat maka kesejahteraan bangsa hampir bisa dipastikan. Sejarah telah mencatat bagaimana zakat berhasil memakmurkan sebuah negara hingga tak ada lagi orang miskin. Dan, bila ini berlaku di Indonesia maka Indonesia akan semakin hebat. Karena, negara yang hebat adalah negara yang pengelolaan zakatnya baik.


***) Nur Effendi _(Republika Online)