Senin, 09 November 2015

SAKITKU PENGGUGUR DOSAKU

Sebagai manusia pada umumnya, kita rentan melakukan kekeliruan, kesalahan, dan pelanggaran. Semua itu diakibatkan ketidakmampuan kita dalam memilih yang terbaik untuk diri kita. 
Hal tersebut bisa jadi karena ketidaktahuan, keangkuhan, dan ketergesa-gesaan kita. Itulah kelemahan yang kita miliki. Hidup di alam dunia ini, kita mesti menanggung setiap perbuatan yang kita lakukan. 
Perbuatan baik akan dibalas kebaikan, dan perbuatan jelek juga akan dibalas dengan yang buruk. Balasan itu akan kita terima, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Namun, atas rahman dan rahim-Nya Allah SWT, semua dosa dapat diampuni. 
Karena itu, harapan terbesar setelah kita melakukan kesalahan adalah ampunan, dibersihkannya diri dari noda-noda yang ada. Allah SWT Maha Pengampun. Dia telah menyediakan cara untuk mengampuni dosa-dosa kita, salah satunya dengan ujian yang Dia berikan kepada kita. 
Ujian itu salah satunya dalam bentuk sakit. Itulah sebabnya mengapa dalam beberapa hadis, Rasulullah SAW banyak menghibur mereka yang sakit dengan ampunan dosa. Dalam hadis disebutkan: “Seorang beriman yang sakit, ia tidak mendapatkan pahala dari sakitnya, namun diampuni dosa-dosanya.” (HR Thabrani). 
Ketika seorang hamba diberi sakit pada badannya, maka Allah berkata kepada malaikat 'tulislah kebaikan-kebaikan yang biasa dilakukannya ketika sehat, kalau ia sembuh mandikanlah ia dan bersihkan. Kalau ia meninggal maka Allah mengampuninya'.” (HR Ahmad). 
Orang yang sakit juga selayaknya berbahagia mendengar berita ini karena kesusahan, kesedihan, dan rasa sakit yang ia rasakan akan menghapus dosa-dosanya.
Nabi SAW bersabda, “Setiap Muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan dihapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim). 
Nabi SAW juga bersabda, “Tidaklah seorang Muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.” (HR Muslim). 
Bagaimana tidak berbahagia, hanya karena sakit tertusuk duri saja dosa-dosa kita terhapus. Sakitnya tertusuk duri tidak sebanding dengan sakit karena penyakit yang kita rasakan sekarang. Karena itu, berbahagialah jika kita ditimpa sakit. 
Karena bisa jadi, dengan penyakit ini kita akan bersih dari dosa, bahkan tidak mempunyai dosa sama sekali. Di akhirat nanti kita tidak punya timbangan dosa, kita menjadi suci seperti anak yang baru lahir. 
Nabi SAW bersabda, “Cobaan akan selalu menimpa seorang beriman laki-laki maupun perempuan, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.” (HR Ahmad). 
Hadis ini sangat cocok direnungkan oleh orang yang mempunyai penyakit kronis yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya dan vonis dokter mengatakan umurnya tinggal hitungan minggu, hari, bahkan jam. 
Ia khawatir penyakit ini menjadi sebab kematiannya. Hendaknya, ia bergembira karena bisa jadi ia menghadap Allah SWT suci tanpa dosa. Artinya surga telah menunggunya.
(Da'wah, hidayah, takwa., sabar, syukur)

***)Yadin Burhanudin 

Minggu, 08 November 2015

MENJAGA BUMI DENGAN IMAN

Bumi adalah hamparan yang menjadi pijakan kita. Kita tinggal di atasnya, kita mengais rezeki darinya, kita makan bersumber darinya, bahkan kita pun mengandung unsurnya karena kita berasal dari tanah.
Bumi memberikan kita, umat manusia, fasilitas hidup yang sungguh tak terkira. Bahkan, ketika kita telah meninggal dunia, bumi pun menjadi tempat peristirahatan jasad kita. Hanya, para malaikat pernah "protes" kepada Allah tatkala Allah hendak menciptakan kaum manusia (Nabi Adam As).
Hal itu terekam dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 30, "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.' Mereka berkata, 'Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?' Tuhan berfirman, 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui'."
Allah memandatkan Nabi Adam dan keturunannya (umat manusia) untuk mengelola bumi. Dengan demikian, bumi menjadi tempat bergantung bagi umat manusia dan agar umat manusia mengelolanya secara baik. Setidaknya, dalam mengelola bumi itu ada dua hal yang perlu diperhatikan.
Hal pertama adalah mengambil manfaat dari bumi karena bumi telah menyediakan fasilitas bagi umat manusia. Mengambil manfaat ini contohnya adalah bercocok tanam, mengambil manfaat dari pepohonan, menggembalakan ternak di atas padang rumputnya, mengambil air dari sumbernya, mengambil minyak serta batu bara dari perut bumi, dan lain sebagainya. Semua itu untuk kemaslahatan hidup umat manusia. Akan tetapi, pengambilan manfaat dari bumi tersebut tidak boleh dengan landasan serakah dan sewenang-wenang.
Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan hal kedua dalam mengelola bumi, yakni menjaga atau memeliharanya agar bisa tetap lestari dan merata dalam pemenuhan kebutuhan umat manusia yang menjadi penduduk bumi. Pengambilan manfaat dari bumi itu harus tetap memperhatikan kelestariannya. Dengan demikian, selain mengambil manfaat, juga harus diperhatikan pula penjagaan dan pemeliharaannya.
Itulah yang diajarkan oleh agama Islam, yakni mengambil manfaat tetapi juga harus memeliharanya agar manfaat terus bisa terjaga. Itulah yang dinamakan tidak berlebih-lebihan. Berlebih-lebihan itu dilarang oleh Islam, sebagaimana yang termaktub dalam Alquran surah al-A'raf ayat 31, "...Jangan berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
Hanya, banyak di antara umat manusia ini yang serakah. Mereka mengambil manfaat dari bumi secara tidak proporsional, menebang hutan secara liar, membakar hutan secara ngawur, ilegal logging, penambangan secara brutal, pencemaran terhadap lingkungan, dan lain sebagainya. Maka dari itu, tidak mengherankan jika banyak bencana alam yang datang, banjir, tanah longsor, kabut asap, dan lain sebagainya.
Penting dalam hal ini bagi kita sebagai umat Islam adalah menjaga bumi dengan iman. Jika kita mengaku umat beriman, tentu kita mengelola bumi tidak hanya mengambil manfaatnya, tetapi juga menjaganya agar tidak terjadi kerusakan.
Oleh karena itu, marilah kita menjaga bumi dengan iman agar tercipta keseimbangan ekosistem di dalam kehidupan. Wallahu a'lam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, syukur, sabar, takwa, )


***) Supiyadi

Sabtu, 07 November 2015

MAKRIFAT KEPADA ALLAH

Syekh Ahmad Atailah pernah berkata, "Apabila Allah SWT telah membukakan pintu makrifat untuk seorang hamba, karena dengan makrifat Allah itu, engkau tidak perlu pada amalanmu yang memang sedikit itu. Karena, Allah telah membukakan makrifat untukmu itu, berarti Allah berkehendak memberi anugerah-Nya kepadamu, sedang amal-amal yang engkau lakukan adalah semacam pemberian ketaatan kepada-Nya. Kalau demikian, maka di manakah letaknya perbandingan antara ketaatan hamba dan anugerah yang diterima dari Allah SWT."
Makrifat kepada Allah mengandung makna mengenal Allah. Seorang hamba yang telah mengenal Allah akan merasakan kehadiran Allah setiap gerak langkah kaki, tangan, kedipan mata, pendengaran, serta akal dan pikirannya. Dia akan merasakan betapa lemahnya di hadapan Sang Khalik Yang Maha Sempurna dan yang memiliki sifat Rahman-Rahim. 
Sehingga dalam segala aktivitasnya, selalu mengharapkan pertolongan Allah Yang Mahasempurna. 
Seperti dicontohkan Rasulullah SAW setiap kali menghadapi pertanyaan para sahabat, tidak memberikan penjelasan yang belum Allah turunkan petunjuknya. Beliau SAW selalu memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk. Demikian kesempurnaan akhlak dan makrifat Rasulullah kepada Allah.
Makrifat kepada Allah diperlukan dalam beribadah dan beramal sehingga ia akan sampai pada tingkatan hamba yang haqqul yakin karena meyakini Allah itu ada dan tidak terpisahkan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ini merupakan  hal utama sebelum melaksanakan ibadah. Sedangkan, jika seorang hamba berada pada ilmul yaqqin ketika seorang hamba mengetahui Allah itu merupakan kewajiban dan tingkatan ainul yaqqin. Ketika dia mengenal Allah, menurut ilmu Allah sendiri.
Makrifat pada dasarnya bukan hanya persoalan rohani semata, melainkan bagaimana kemudian dapat menjadi bagian dari kehidupan keseharian. Tingkat makrifat seseorang akan terwujud dalam perilaku dan cara menafsir sebuah fenomena sosial tertentu. Apa yang menjadi fakta kehidupan tidak luput dari objek tafakur. Apa yang terjadi pada kehidupan manusia tidak luput dari kehendak Allah Yang Mahakuasa. Sebagai hamba yang serbaterbatas, manusia diharapkan dapat berintrospeksi terhadap apa yang selama ini diperbuat. 
Kini, mari kita bertafakur terhadap apa yang menimpa bangsa ini, mulai dari hal kecil hingga yang paling besar. Kita bisa mengambil contoh, misalnya, yang kini sedang menimpa bangsa ini, yaitu kabut asap. Kabut asap telah berbulan-bulan belum terselesaikan, bahkan semakin meluas kerusakan hutan dan akibatnya. 
Banyak sudah masyarakat menjadi korban, baik meninggal maupun sakit. Masyarakat kehilangan aktivitas pekerjaan atau tidak sekolah karena terhalang kabut asap. Berbagai upaya dilakukan untuk memadamkan api, pasukan BNPB dibantu TNI, Polri, dan negara-negara lain berjibaku, tetapi belum membuahkan hasil. 
Wahai manusia, alam jagat raya ini milik Allah. "... Milik–Nya apa yang ada di langit dan bumi...." (QS al-Baqarah [2]: 255). Ayat ini menjelaskan diri kita, api, asap, tanaman, tanah, air semuanya milik Allah SWT. 
Kini, mari kita bertanya pada diri kita seberapa luas jangkauan tangan kita, seberapa jauh langkah kaki kita, seberapa luas ilmu kita, seberapa kuat tenaga kita, dan seberapa sabar kita untuk mengatasi masalah itu dibanding dengan pasukan Allah. 
Ilmu dan pengetahuan Allah meliputi alam dunia, juga alam akhirat. Seluruh makhluk akan tunduk kepada Sang Pencipta dan pemilik alam ini, yaitu Allah SWT. Lalu, apa yang mesti kita yakini? Bencana ini diakibatkan oleh ketamakan serta keserakahan atau kebodohan kita sebagai manusia pemegang amanah Allah untuk menggunakan alam bagi kesejahteraan manusia. 
Kini, saatnya kita semua kembali kepada Allah, bertobat, memohon pertolongan serta meyakinkan diri kita tidak mengulangi perbuatan itu kembali. Setelah kita yakin pada Allah, saatnya bergerak untuk memadamkan api, "kun fayakun", maka jadilah api padam dengan izin dan perintah Allah SWT yang Rahman dan Rahim. Wallahu a'lam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Asep Effendi Al Fakir

Jumat, 06 November 2015

MULIAKAN HAK ANAK

Ada banyak orang yang sampai hari ini begitu mendambakan kehadiran buah hati, tetapi ternyata Allah belum berkenan menganugerahinya. Namun, pada saat yang sama, akhir-akhir ini, begitu mudah kita saksikan aksi kekerasan terhadap anak. Padahal, Islam sangat memuliakan hak dan keberadaan anak.
Islam begitu concern terhadap hak anak. Setidaknya ada lima hak anak yang harus terpenuhi dengan baik. Pertama, hak untuk mendapatkan perlindungan. Anak-anak harus dilindungi keberadaannya. Kelahirannya harus disambut dengan riang dan dijauhkan dari segala bahaya dan ancaman.
Islam dalam Alquran surah Ali Imran [3] ayat 38 memberikan inspirasi yang sangat berarti, jauh-jauh hari, kepada para pasangan yang hendak menikah untuk berdoa, "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa." Kemudian, ketika masih dalam kandungan, orang tuanya (ayah dan ibu) diperintahkan lagi agar banyak membaca Alquran dan berbuat kebajikan sambil terus berdoa (QS Ibrahim [14]: 35; an-Naml [27]: 19; al-Ahqaf [46]: 15).
Kedua, hak untuk hidup dan bertumbuh kembang. Allah SWT berfirman, "Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yakni bagi mereka yang ingin menyempurnakan penyusuan." (QS al-Baqarah [2]: 233). Sejak masih dalam kandungan, anak sudah harus diasupi gizi yang terbaik agar kelak ketika lahir dapat berjalan normal.
Sampai kemudian bayi tersebut lahir, anak dianjurkan untuk segera diperdengarkan kumandang azan dengan harapan nilai-nilai tauhid terpatri dalam jiwanya semenjak lahir. Bayi pun kemudian harus diberikan ASI agar pertumbuhan dan perkembangannya optimal.
Ketiga, hak mendapatkan pendidikan. Ketika anak terus tumbuh dan berkembang, tahap selanjutnya mereka harus diberikan pendidikan yang terbaik, terutama tentang penanaman nilai budi pekerti dan akhlakul karimah. Nabi SAW bersabda, "Tidak ada pemberian seorang ayah yang lebih baik, selain dari budi pekerti yang luhur." (HR at-Tirmizi). orang tua adalah cerminan anak. Orang tualah yang akan menjadi guru pertama anak ketika di rumah. Orang tua yang harus lebih awal memberikan keteladanan kepada anaknya.
Keempat, hak mendapatkan nafkah dan waris. Untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, anak-anak butuh banyak keperluan. Orang tua wajib memberikan nafkah kepada anak-anaknya. Dan kelak, orang tua juga dapat memberikan warisan kepada anak-anaknya dengan adil. Nabi SAW bersabda, "Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah memberi nama yang baik, mengajarkan sopan santun, mengajari menulis, berenang dan memanah, memberikan nafkah yang baik dan halal, dan mengawinkannya bila saatnya tiba." (HR Hakim).
Kelima, hak mendapatkan perlakuan setara (tidak diskriminatif). Semua anak yang lahir ke dunia ini adalah mulia, baik perempuan maupun laki-laki. Karenanya, Islam sangat menjunjung tinggi hak hidup dan hak mendapatkan perlakuan setara antara anak perempuan dan laki-laki.
Nabi SAW bersabda, "Samakanlah anak-anakmu dalam hal pemberian. Jika kamu hendak melebihkan salah seorang di antara mereka, lebihkanlah pemberian itu kepada anak-anak perempuan." (HR at-Tabrani).
Senada dengan hadis tersebut, pada kesempatan lain Nabi SAW juga bersabda, "Sesungguhnya aku menekankan pada kalian perhatian yang lebih khusus terhadap hak dua orang lemah, yaitu anak yatim dan anak perempuan." (HR Ibnu Majjah). Wallahu a'lam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar,  syukur., takwa, )


***)  Mamang M Haerudin  

Kamis, 05 November 2015

BERSYUKURKLAH SELALU

Saat pulang kantor, saya memberhentikan mobil. Saya lihat dari kaca spion, seorang nenek berjalan kaki sambil berjualan. Umurnya (tampak dari wajah dan cara berjalannya) mungkin di atas 60 tahun.
Di pinggir jalan menuju rumah yang tiap sore ramai, saya kemudian bertanya. "Mau beli rengginang, Nek! Berapa harganya?" "Enam ribu satu bungkus," jawabnya singkat. "Adik mau beli berapa bungkus?" "Dua bungkus saja, Nek," jawabku. "Dua bungkus Rp 12 ribu," ujar si nenek.
Lalu, saya membuka dompet dan mengambil uang Rp 20 ribu. Nenek buru-buru mengeluarkan uang untuk memberi kembalian. Namun, saya bilang, "Kembalian itu untuk Nenek saja." "Terima kasih Den, hati-hati," katanya berpesan.
"Nek, putranya di mana? Kok, Nenek masih berjualan? Jalan kaki lagi!" tanyaku keheranan. "Anak-anak tidak mau tinggal sama Nenek. Tiap hari Nenek berjalan kaki, berjualan dari Kebayoran Lama sampai Ciledug untuk bisa makan."
"Berapa sehari Nenek dapat untung?" tanyaku penuh kasihan. "Tidak mesti Nak karena rezeki Tuhan yang atur. Kadang dapat untung Rp 20 ribu, kadang Rp 10 ribu. Semua itu Nenek syukuri, yang penting Nenek sehat dan tidak menjadi beban orang lain."
Sampai di sini, saya pun malu dan seperti tertampar hebat. Ternyata, selama ini saya kurang bersyukur. Pertemuan sore itu menyadarkan saya betapa hidup itu "wajib" hukumnya bersyukur.
Dapat musibah, bersyukurlah. Dapat ujian, bersyukurlah. Dapat masalah, bersyukurlah. Dapat kesulitan, bersyukurlah. Apalagi dapat kenikmatan, tentu mudah sekali orang untuk bersyukur. Musibah, ujian, masalah, dan kesulitan boleh jadi itu cara Tuhan melihat kualitas keimanan kita.
Boleh jadi, Tuhan kangen dan rindu pada hamba-Nya sehingga ingin memeluknya dengan lebih dulu diberi "ujian" kesulitan demi kesulitan. Bahkan, dalam Alquran pun dijelaskan, "Siapa yang pandai bersyukur, maka Aku akan tambah nikmatnya dan barang siapa kufur (tak mau bersyukur) atas nikmatku, maka sungguh azabku sangat pedih (QS Ibrahim [14]: 7).
Dari sini, bersyukur adalah perintah implisit dari Tuhan langsung kepada hamba-Nya. Karena dalam hidup ini, sejak kita lahir sampai meninggal, dipenuhi "utang" kita pada Tuhan Sang Pencipta. Coba kita hitung, berapa harga satu jari ketika jari itu putus. Berapa harga satu tangan ketika tangan itu patah. Berapa harga satu kaki ketika kaki itu tiada.
Berapa harga oksigen ketika kita sedang sekarat. Bahkan, berapa harga nyawa ini ketika sudah mati. Tentu, semua itu tidak ternilai harganya. Namun, kita dapatkan secara gratis dari Tuhan. Maka, pantas jika kita selalu diingatkan akan ayat-Nya, "Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan!" (QS ar-Rahman [55]: 55).
Jadi, bersyukur adalah kewajiban kita sebagai hamba-Nya. Tanpa bersyukur, sejatinya kita tidak pantas untuk hidup. Karena, apa yang saat ini kita miliki adalah yang terbaik menurut Tuhan dan kita. Bukan sebaliknya!
Bersyukurlah, karena dengan sebenar-benarnya bersyukur, jaminannya akan ditingkatkan kenikmatan hidupnya. Cara sederhana bersyukur dengan memelihara apa yang sudah diberikan pada kita. Jika saat ini sehat, jaga kesehatan itu agar penyakit tak mendekat. Jika ada waktu luang, gunakan untuk menebar kebaikan dan kebenaran. Jika mendapat amanah, sampaikan kepada yang berhak menerimanya. Sudahkah kita bersyukur hari ini?
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, )


***)  Abdul Muid Badrun

Rabu, 04 November 2015

TIGA ALASAN BENCANA MENIMPA MANUSIA

Hampir setiap hari kita disuguhi berita tentang bencana, mulai dari banjir, longsor, dan yang paling aktual adalah bencana asap di tanah Sumatra hingga bencana moral yang diwujudkan dalam tindakan-tindakan kriminal. Mungkin kita bertanya mengapa semua ini terus terjadi? Alquran sebagai petunjuk dan pedoman hidup telah memberikan setidaknya tiga alasan terkait dengan bencana yang menimpa manusia.
Pertama, adakalanya bencana itu datang sebagai "soal ujian" bagi seseorang atau sekelompok manusia. Bencana jenis ini adalah murni kehendak Allah SWT (QS at- Thagaabun [64]:11) yang didatangkan untuk menguji manusia. 
Banyak sekali teori yang diciptakan oleh manusia agar terhindar dari bencana atau musibah jenis ini. Dalam aktivitas perdagangan misalnya, untuk sukses dan terhindar dari kebangkrutan, manusia gencar merancang teori marketing dan promosi, tapi faktanya ada yang berkuasa mengatur arus rezeki. 
Sikap yang harus kita ambil untuk menyikapi bencana ini adalah bersabar dan bertawakal kepada-Nya. Bersabar artinya kita menerima dengan lapang dada. Berat dan ringan cobaan yang menimpa seseorang bukan selalu bergantung pada bentuk musibahnya, melainkan tergantung pula bagaimana dia menerimanya. Jika diterima dengan hati yang sempit, sekecil apa pun musibah akan terasa berat. Ibarat sekepal garam yang dituangkan ke dalam air semangkuk, tentu akan terasa asinnya jika dibandingkan dengan sekepal garam yang dituangkan ke danau.
Kemudian tawakal, yaitu menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT, namun bukan berarti menyerahkan pekerjaan kepada-Nya. Artinya, manusia terus berusaha dan hasilnya terserah bagaimana Allah memberi ketetapan. Di samping itu, manusia juga senantiasa berprasangka baik kepada-Nya.
Kedua, adakalanya bencana itu datang disebabkan oleh kesalahan manusia (khatiiati an-naas) (QS ar-Rum [30]:41). Sifat serakah dan eksploitasi terhadap lingkungan hidup tentu berimplikasi terhadap datangnya bencana alam. Tidak jarang bencana yang ditimbulkan berdampak pula kepada mereka yang tidak terlibat dalam pengrusakan lingkungan. 
Jutaan manusia di Riau dan sekitarnya yang terpapar asap kebakaran hutan mayoritas justru adalah mereka yang tidak terkait sedikit pun dengan keuntungan dari pembakaran hutan yang dilakukan atas nama ekonomi itu. Maka yang harus dilakukan, yakni, pertama, mengintrospeksi diri dan menata kembali hubungan harmonis antara manusia dan alam. Dalam penataan ini jelas peran dan arahan pihak yang berwenang adalah yang terdepan. 
Kedua, mempertebal kembali humanitas yang mungkin sudah mulai meluntur agar tidak ada lagi korban akibat keserakahan dalam mencari keuntungan. Ketiga, adakalanya bencana itu datang disebabkan oleh dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia (dzunubu an-naas). Jika bencana sebelumnya disebabkan oleh ketidakharmonisan hubungan manusia dengan alam, sedangkan jenis bencana yang satu ini disebabkan oleh ketidakharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan. 
Terdapat banyak kisah dalam Alquran yang mengisahkan tentang bencana yang menimpa kaum-kaum terdahulu yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka. Tentu tidaklah semata-mata kisah tersebut disajikan dalam Alquran melainkan agar menjadi pelajaran. Maka, tidak ada yang dapat dilakukan untuk menghindari bencana jenis ini kecuali dengan pertobatan.
Demikianlah Alquran menjawab pertanyaan mengapa bangsa ini terus dilanda bencana. Boleh jadi keimanan kita sedang diuji, namun tidak menutup kemungkinan semua ini akibat dari kesalahan dan dosa-dosa yang kita perbuat. Apa pun yang melatari semua bencana yang melanda negeri ini, berpegang teguh kepada ajaran agama adalah solusinya. Wallahu a'lam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Komarudin Saleh

Selasa, 03 November 2015

H U J A N

Hujan adalah salah satu anugerah agung dari Allah SWT yang diberikan kepada makhluk-Nya di bumi, terutama bagi manusia.
Hujan tidak hanya memberikan curahan air segar, tapi juga menjadi sebab terbukanya pintu rezeki, menyuburkan tanah yang gersang, dan membantu memperbaiki kualitas udara bagi manusia.
Karena itu, dalam Alquran, hujan sering disebutkan dengan kata rahmat (kasih sayang), rizqan (rezeki), dan ghaits (pertolongan). 
Allah SWT berfirman, “Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan), dan Kami turunkan air dari langit yang amat bersih agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.” (QS Al-Furqan [25]: 48-49).
Di tengah meluasnya bencana asap dan kekeringan yang melanda wilayah Indonesia saat ini, kita benar-benar sedang membutuhkan curahan air hujan. Allah SWT dan Rasul-Nya telah mengajarkan beberapa langkah yang hendaknya kita lakukan untuk “memancing” turunnya hujan.
Pertama, memperbanyak istighfar. Istighfar berarti mohon ampun kepada Allah SWT dengan mengakui dosa-dosa yang kita lakukan. Istighfar sebagai salah satu cara untuk memancing turunnya hujan pernah diajarkan oleh Nabi Nuh AS ketika berdakwah kepada kaumnya.
Allah SWT berfirman dalam Alquran surat Nuh (71) ayat 10-11 yang artinya, “Maka, aku (Nuh) katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.” 
Kedua, istiqamah di jalan Allah SWT. Selain beristighfar, cara lain untuk memancing datangnya hujan adalah dengan istiqamah, yaitu konsisten melakukan kebaikan dan konsisten menjauhi larangan. 
Allah SWT berfirman, “Dan bahwasanya jikalau mereka tetap istiqamah (berjalan lurus) di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air (hujan) yang segar.” (QS Al-Jin [72]: 16).
Ketiga, memperbanyak doa. Doa adalah senjata utama kaum Muslimin. Ketika berbagai usaha telah kita lakukan maka doa adalah pelengkapnya.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa suatu hari ada orang datang kepada Rasulullah SAW mengadukan musnahnya harta benda dan terputusnya pintu rezekinya karena hujan yang tak kunjung turun.
Rasulullah SAW kemudian berdoa, “Ya Allah turunkanlah kepada kami hujan, Ya Allah turunkanlah kepada kami hujan, Ya Allah turunkanlah kepada kami hujan.” Tak lama setelah itu, tiba-tiba dari balik gunung muncul mendung bagaikan perisai, lalu menyebar dan menurunkan hujan hingga seminggu berikutnya. (HR Bukhari Muslim).
Keempat, shalat Istisqa. Shalat Istisqa adalah shalat dua rakaat yang diniatkan untuk meminta hujan kepada Allah SWT. Selain berdoa, Rasulullah SAW juga pernah mencontohkan shalat Istisqa ketika hujan tak kunjung datang.
Sahabat Abdullah bin Zaid pernah berkisah, “Rasulullah SAW pernah keluar rumah meminta hujan, lalu beliau shalat dua rakaat, di mana beliau mengeraskan bacaan pada kedua rakaatnya.” (HR An-Nasai).Wallahu A'lam. 

***) Jauhar Ridloni Marzuq