Minggu, 22 Maret 2015

HIDUP BAHAGIA DENGAN SHALAT DHUHA

Jika kita menginginkan hidup bahagia, keberlimpahan materi dan ketercukupan akan segala kebutuhan, jadilah orang yang gemar melaksanakan shalat dhuha dengan ikhlas karena Allah SWT. Sebab dengan begitu, apa yang kita cita-citakan akan segera terwujud.
Menurut Imam At-tirmidzi dan Imam Ath-Thabrani, dalam hadist yang mereka riwayatkan, bila seseorang menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid, lalu ia berdiam di tempat salatnya sapai tiba waktu dhuha, kemudian ia tunaikan salat dhuha, maka ia akan mendapatkan pahala seperti naik haji dan umrah.
Zaid bin Arqam ra, salah seorang sahabat Rasulullah SAW, saat beliau melihat orang-orang yang sedang menunaikan salat dhuha, pernah berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:
“salat dhuha itu adalah salatul awwabin (salat orang yang kembali kepada Allah SWT), setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja yaitu pada waktu anak anak unta bangun karena mulai panas tempat berbaringnya.” HR Muslim.
Para alim ulama dan awliya’ sangatlah menjaga salat dhuha mereka. Imam Syafi’i pernah berkata: “Tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk tidak menunaikan salat dhuha.”
Tentu kita bisa memulainya dengan yang ringan lebih dulu, dari dua rakaat umpanya. kemudian, setiap hari semakin meningkat, baik kualitas maupun kuantitasnya.   (hidayah, hikmah, keyakinan, takwa)

Sabtu, 21 Maret 2015

HARAPAN SEJATI


Harta, takhta, anak, istri, keluarga, serta seluruh atribut yang menyertai kehidupan manusia hanyalah titipan dari-Nya. Semua itu merupakan amanah yang harus disyukuri sepenuh hati dan ikhlas menyerahkannya ketika diminta kembali. Memang tak mudah, tauhidlah yang menjadi fondasinya. Dengan tauhid sejati, semua amanah dari Tuhan akan menjadi kebaikan dan harapan sejati, bekal di keabadian.
Mungkin ini salah satu makna dari pendidikan yang disampaikan Luqmanul Hakim kepada anaknya dan diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya, "...Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, `Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS Luqman [31]: 13).
Pesan Luqman kepada anaknya tentang tauhid merupakan fondasi utama dalam melahirkan sifat mulia lainnya. Tauhid yang benar akan membuat seseorang bersikap selalu ingin mendapatkan keridhaan Allah, bukan demi pujian manusia atau kepentingan pribadi.
Seluruh napas, sikap, dan perilakunya diorientasikan kepada Allah SWT. Baginya kekayaan, jabatan, dan seluruh atribut itu hanyalah titipan. Saat harta diminta, dari semula kaya raya menjadi miskin, kita akan sanggup menerimanya. Pun demikian, awalnya menjabat, kemudian pensiun, kita telah menyadari dan mempersiapkannya.
Kuatkanlah selalu kesadaran bahwa semua kebanggaan dalam hidup merupakan ujian, apakah kita mampu mensyukuri atau sebaliknya, kufur nikmat. (QS at-Tag habun [64]:15).
Bilamana kufur nikmat menguasai, siksaan akan datang tidak hanya di akhirat, tapi juga di dunia. Allah SWT memberikan peringatan di surah at-Taubah ayat 55.
Anak dan harta merupakan kebanggaan.
Kepada keduanya harapan masa depan dititipkan. Warisan dan sekolah yang terbaik untuk anak pasti disiapkan. Hanya kita kerap lupa bila keduanya hanyalah amanah, kapan pun pemilik sejatinya meminta, ikhlas menyerahkannya.
Lagi-lagi, tauhid yang kokoh menjadi kekuatan. Anak yang hebat, gagah, dan cantik hanyalah ujian, apakah menjadi anak yang saleh sebagaimana dicontohkan Luqman di atas.
Sebuah jihad yang luar biasa dari orang tua untuk anak-anaknya. Rezeki yang dinafkahkannya harus terjamin halal dan toyib, keteladanan, didikan, dan lingkungan harus memastikan anak tumbuh sebagai pribadi yang kuat imannya dan mulia akhlaknya.
Akhirnya, hanya harta yang dimanfaatkan untuk kebaikan, ilmu yang bermanfaat, ibadah vertikal dan horizontal yang optimal, serta anak salehlah yang akan menjadi harapan.
"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (QS al-Kahfi [18]:46).

(hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, pendidikan, sabar, syukur)

Jumat, 20 Maret 2015

KESABARAN YANG MULIA

Kata sabar sering kali tidak indah pada era yang serba cepat dan instan. Kata tersebut banyak tak berlaku jika keadaannya menunggu pesawat delay, menunggu antrean yang teramat panjang, atau bahkan jika urusannya berkaitan dengan hukum.
Seseorang yang telah jelas bersalah dalam hukum, tidak jarang bersilat lidah dan mencari kambing hitam demi menemukan kebebasan tanpa syarat sehingga melupakan perilaku sabar dengan membiarkan hukum yang adil mengatur jalannya proses keadilan.
Padahal dalam Islam, kesabaran merupakan kunci sukses, terutama bagi seorang pemimpin. Baik pemimpin keluarga maupun pemimpin suatu negara. Mengenai kesabaran, Allah sampaikan demikian indah dalam Alquran. "Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami."
Orang sabar selalu mampu memberi pengaruh baik bagi diri dan sekitarnya. Karena jaminan Allah bagi orang sabar, yaitu kemampuan memberi petunjuk yang baik dengan menganjurkan dan melaksanakan perintah, serta melarang dan meninggalkan muharramat Allah dan Rasul.
Kesabaran bukan berarti berhenti berbuat, ia merupakan tindakan produktif untuk pengaruh positif terbesar dengan risiko negatif terkecil. Tindakan sehatlah yang menjadi acuan utama dari sikap ini.
Kesabaran tidak tunggal sebab hal ini bisa menjadi suatu kemuliaan, selain juga termasuk suatu kewajiban. Banyak orang menyangka dirinya penyabar yang mulia, tetapi sebenarnya ia sedang melakukan suatu kesabaran yang memang wajib dilakukan. Suatu kesabaran yang mau tidak mau harus dipilih agar tetap menjadi orang sehat.
Kesabaran mulia adalah kesabaran yang dipilih oleh seseorang untuk menentukan seberapa bertakwa dirinya kepada Allah. Seberapa mampu dirinya mendapatkan suatu kehormatan setelah lulus dalam beberapa ujian dan musibah.
Dalam kisah anbiya'contohnya, setiap mereka yang beriman dan mengikuti dakwah, kemudian Allah uji mereka dengan musibah yang berat, maka ia termasuk penyabar yang mulia.
Karena itu, Allah mencontohkan nama-nama nabi, seperti Ismail, Idris, dan Zulkifli sebagai orang sabar terhadap ujian dan musibah, sedangkan mereka dalam perilaku baik. "Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar." (QS al-Anbiya' [21] : 85).
Sabar anbiya'inilah yang dimaksud dengan sabar mulia.
Sabar yang dilakukan orang mulia dengan dasar akal budi dan moral sehingga pengaruhnya termasuk kemuliaan dan hudan.
Sebaliknya, pembangkang Nabi Nuh, Nabi Luth, dan nabi-nabi lain yang ditimpakan musibah kepada mereka, mau tidak mau mereka harus bersabar. Kesabaran seperti inilah kesabaran yang merupakan kewajiban. Karena mau tidak mau, kesabaran harus menjadi sikap dan tindakan. Ini disebabkan keburukan muncul karena suatu kesalahan. Wallahu a'lam. 
(hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, syukur, sabar)

M A N U S I A


Teori tentang sifat dan tabiat manusia telah banyak dikemukakan oleh para pakar dari berbagai disiplin ilmu. Salah satu teori yang sangat terkenal adalah teori libido seksual Sigmund Freud. Menurut teori ini, manusia menjadi sehat bila kebebasan seksnya tidak terhambat. Manusia yang hidup dengan aturan moral, demikian menurut teori ini, akan mengalami gangguan emosional alias stres. Karena itu, kata Freud, hanya dengan kekuatan seksnya manusia terbebas dari jeratan hidup.
Teori ini sepintas mengandung misi pembebasan manusia. Seakan sifat naluri manusia hanya cukup diselesaikan (diatasi) melalui kegiatan seks bebas. Padahal kebebasan manusia yang hakiki adalah kebebasan moral yang menaungi dan menghargai setiap tuntutan kehidupan pribadi dan umat. Teori Freud, nampaknya hanya ingin melestarikan tabiat (sifat) kebebasan manusia yang diperbudak oleh nafsunya semata. Sementara hak dan kepentingan orang lain (umat) dilalaikan.
Murtadho Mutahhari dalam bukunya Manusia Menurut Alquran mengritik teori Freud. Ia mengatakan, teori Freud sangat cocok dengan kepentingan penguasa: yang lemah ditundukkan dan yang kuat bebas berkuasa. Teori Freud, demikian Mutahhari, menyiratkan bahwa bila Anda kuat, Anda dapat berbuat apa saja selama tidak diprotes oleh orang lain. Sementara bila Anda lemah, reaksi orang lain akan membatasi kebebasan Anda. Dalam Alquran, manusia tidak serendah seperti yang dibayangkan oleh Freud. Alquran memang menggambarkan sifat paradoksal manusia yang dalam dirinya terdapat sifat baik dan sifat jahat (Q. S. 91: 8). Tetapi potensi positif manusia sangat dikedepankan oleh Alquran.
Manusia, menurut Alquran, dibedakan antara kata insan dan basyar. Kata insan yang berasal dari kata anasa, nasiya dan al-uns, menunjuk suatu pengertian sikap, kecerdasan menalar, menyesuaikan diri dengan realitas perubahan, berbudaya, menghargai tata aturan etik dan tidak liar. Karena itu, kata insan selalu digunakan oleh Alquran dalam konteks penjelasan fungsi manusia sebagai pemegang amanah, penegak amal saleh, dan penjelasan potensi lainnya. Abas Mahmud Aqqad dalam bukunya Al-Insan fi Alquran menyebut tiga fungsi kewajiban manusia. Pertama, tabligh (kewajiban menegakkan agama Allah). Kedua, berilmu. Ketiga, beramal (berkewajiban melaksanakan agama Allah).
Sedangkan kata basyar yang berarti kulit, digunakan untuk menyebut semua makhluk. Manusia dalam arti basyar (kulit) mengandung arti manusia yang bangun tubuhnya membutuhkan makan dan minum. Kehidupannya tergantung kepada kebutuhan materi. Kedua kata insan dan basyar mengisyaratkan bahwa manusia dalam ajaran Islam berada dalam dua dimensi.
Dalam dimensi insani, manusia berarti dibangun rohaninya agar hidupnya tidak bebas semau nafsu yang menyebabkan diri dan orang lain direndahkan. Sedang dalam dimensi basyari manusia bersedia berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (materi)

(hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, syukur, ). 

Kamis, 19 Maret 2015

HAKIM HUKUM LANGIT


Melihat perseteruan para penegak hukum juga pejabat, membuat sedikit banyak muncul ketidakpercayaan, bahkan sikap apatis ketidakpedulian lagi terhadap hal yang mereka seterukan. Kopral Jono seorang tokoh fiksi menyebutkan bahwa sudah tidak ada lagi kepercayaan dia terhadap penegakan hukum di negara kita, baik kepada para penegaknya maupun kepada sistemnya.
"Sarpin Effect" sekarang menyebar ke seluruh penjuru nusantara. Setiap orang yang ditersangkakan dalam berbagai kasus korupsi menggugat praperadilan. Muncul peluang "permainan" di dalam prosesnya.
Jikalau kita menyandarkan seluruh aturan kepada aturan Allah SWT, kita bisa melihat Islam mendudukkan hakim pada posisi paling penting sebagai penjaga keadilan. Bahkan untuk urusan keadilan, dia diibaratkan sebagai wakil Allah SWT di muka bumi. Sampai-sampai nasib manusia bisa ditentukan olehnya.
Kata ahkam dan hakim terambil dari kata hakama. Makna ini ditarik dari kata hakamah yang berarti kendali. Ini karena kendali menghalangi hewan atau kendaraan mengarah ke arah yang tidak diinginkan atau menjadi liar.
Seperti hukum, berfungsi menghalangi kezaliman. Hikmah adalah mengetahui yang paling utama dari segala sesuatu, baik pengetahuan maupun perbuatan. Dia merupakan ilmu yang didukung oleh amal dan amal yang didukung oleh ilmu. (al-Biqa'i). Seseorang yang ahli dalam melakukannya disebut hakim. Siapa yang tepat dalam penilaiannya dan dalam pengaturannya dialah hakim.
Imam Ghazali memahami kata hikmah dalam arti pengetahuan tentang sesuatu yang paling utama. Ilmu yang paling utama dan wujud yang paling agung, yakni Allah SWT. Jika demikian, tulis al-Ghazali, Allah merupakan Hakim yang sebenarnya. Karena, Dia yang mengetahui ilmu yang paling abadi.
Zat serta sifat-Nya tidak tergambar dalam benak, tidak juga mengalami perubahan. Hanya Dia yang mengetahui wujud yang paling mulia karena hanya Dia yang mengenal hakikat, zat, sifat, dan perbuatan-Nya. Karenanya, perlulah menyandarkan hukum yang kita gunakan kepada hukum yang ditetapkan Allah SWT.
Andai saja hakim dan para penegak hukum diangkat dengan kriteria menguasai, memahami, dan menjalankan ketetapan sesuai dengan hukum Allah SWT, bukan hanya lulus dari sekolah-sekolah ilmu hukum saja, melainkan juga disempurnakan dengan memahami Alquran dan hadis, insya Allah akan sesuai dengan kriteria hakim yang disebut oleh para imam termasuk imam al-Ghazali.
Dan, kita semua akan menjadi orang-orang yang tenang, gembira, dan beruntung mempunyai hakim-hakim berorientasi hukum langit seperti itu. Sebagaimana Junaid al-Baghdadi pernah ditanya, "Apakah wali adalah orang yang berjalan di atas bumi?"
Beliau menjawab, "Tidak."
"Apakah orang yang berjalan di atas air?"
Beliau menjawab lagi "Tidak." Lalu beliau menambah, "Wali adalah orang yang kamu lihat di tempat yang halal (memenuhi kewajibannya) dan kamu tidak menemuinya di tempat yang haram. Sesuatu yang membuat kamu dekat kepada Allah akan membuatmu merasa tinggi, tenang, gembira, dan beruntung.    (hidayah, hikmah, keyakinan, tokoh, kisah, pendidikan, )

Rabu, 18 Maret 2015

PELANGGARAN HUKUM


''Hai manusia, sesungguhnya kebinasaan umat terdahulu sebelum kamu hanyalah karena mereka tidak mau menghukum terhadap kasus pencurian yang dilakukan oleh golongan terhormat (pembesar dikalanganmu), sedang jika yang mencuri itu golongan rendahan (rakyat biasa) mereka melaksanakannya.'' (Hadis riwayat Bukhori-Muslim).

Persamaan di depan hukum merupakan pilar utama bagi tegaknya sistem kehidupan masyarakat yang salamah (tenteram, harmonis, dan demokratis). Sebab persamaan itu menjamin berlangsungnya keseimbangan bagi penyelenggaraan sistem kehidupan yang dinamis dan menjamin terselenggaranya keadilan.
Persamaan itu mencakup setiap hal yang dimiliki oleh manusia dalam derajat kemerdekaannya, yaitu kuasa berkehendak dan kuasa bertindak untuk mempertahankan dan memperjuangkan segala apa yang menjadi hak asasinya sebagai hamba Allah yang menyandang fungsi sebagai khalifah fil-ardh. Bentuk persamaan adalah sesuai dengan fitrah manusia yang diciptakan Allah dalam bentuk dan kadar yang sama. Mereka sama ketika dilahirkan dan ketika di hadapan Allah kelak di hari Kiamat (Q. S. 19: 93; 7: 172; 7: 6-9; 30: 31).
Dengan kemutlakan persamaan itu berarti Islam memberikan pengakuan dan perlakuan sama terhadap setiap jiwa atas harkat kemerdekaan dan derajat fitriah manusia. Mereka pun memiliki hak dan kewajiban yang sama di hadapan Allah.
Karena itu setiap manusia wajib dibebaskan dari perlakuan yang bersifat zalim, sekecil apa pun bentuk dan nilainya. Sebaliknya mereka harus mendapat perlakuan yang adil dan ma'ruf yang menjadi haknya tanpa batas apa pun terkecuali karena alasan yang hak (benar secara hukum). Inilah roh wibawa hukum. Dan tegaknya wibawa hukum merupakan titik tumpu bagi terwujudnya keadilan dan kemakmuran dalam masyarakat, bangsa, dan negara.
Wibawa hukum yang dimaksud ialah berjalannya otoritas hukum sebagai sesuatu yang mengikat, mengatur jiwa dan akal serta perilaku kehidupan anggota masyarakat, baik yang diperintah maupun yang memerintah. Salah satu faktor penting untuk membangun wibawa hukum ialah ditegakkannya hukum atas para pelanggar hukum tanpa pandang bulu. Terlebih terhadap pelanggaran hukum yang dilakukan secara terang-terangan, yaitu yang dilihat, diketahui oleh aparat penegak hukum ataupun atas dasar laporan dan pengaduan masyarakat.
''Apabila perbuatan dosa (pelanggaran hukum) masih sembunyi-sembunyi, ia tidak membahayakan terkecuali terhadap pelakunya. Tetapi apabila telah terang-terangan namun tidak ditindak, pastilah akan membahayakan umat (masyarakat) keseluruhannya,'' sabda Rasulullah, seperti diriwayatkan oleh Thabrani.
Ini berarti setiap aparat hukum dituntut segera melaksanakan proses hukum terhadap setiap bentuk pelanggaran hukum yang terjadi, dan warga negara secara umum terancam moralnya bila bersikap diam.    (hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, pendidikan, )

Selasa, 17 Maret 2015

HAKEKAT RENDAH HATI DALAM KEHIDUPAN


Subhanallah sahabat shalehku, memang rendah hati hormat kepada guru, orang tua, kakak, dan itu sebuah kewajaran dalam kebaikan akhlak. Tetapi hakikat rendah hati sebenarnya adalah takkala engkau sayang, akrab, duduk, makan bersama dengan orang orang yg papa, pembantu, tukang, supir, dan bersahabat tanpa jarak bersama mereka.
Dan boleh jadi mereka lebih mulia dari kita, boleh jadi yang mencium tangan lebih mulia dari yang dicium. 'kan yang paling tahu siapa kita hanya Allah, begini begitu karena aib kita masih ditutupi Allah kan?! Coba kalau Allah buka, pasti hina semua kita.
Baca Kalam Allah, "Sesungguh yg paling mulia diantara kalian adalah siapa yang paling takwa di sisi Allah" (QS Al Hujarat 13). Rasulullah bersabda, “Siapa yang bersikap rendah hati, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya, dan siapa yang bersikap sombong, maka Allah akan merendahkan derajatnya hingga derajat yg paling hina” (HR Ibnu Majah).
Karena itu jangan sekali kali sombong, “Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dg sombong...” (QS Al Isra 37). "Sungguh hamba Allah yang selalu menghinakan dirinya di penghujung malam dengan banyak dan lama sujud dihadapannya, pasti buahnya sangat rendah hati kepada mahluk Allah.
Allahumma ya Allah hiasilah diri hamba dengan kesenangan ibadah kepada-Mu dan sifat rendah hati pada mahluk-Mu


***)republika
(hidayah, hikmah, kebesaran, takwa., syukur., sabar., kisah, )