Rabu, 11 Maret 2015

J A B A T A N



Rasulullah saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (Muttafaqun alaihi), pernah berkata kepada Abdurrahman bin Samurah, ''Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta suatu jabatan (kursi), karena sesungguhnya jika kamu diberi suatu jabatan tanpa memintanya maka kamu akan mendapat pertolongan Allah dalam menjalankan jabatan itu. Tetapi kalau kamu diberi jabatan karena meminta, maka (beban) jabatan itu diserahkan sepenuhnya kepadamu.''
Mengapa manusia suka akan ''kursi'' yang satu ini? Jawabannya mudah: karena ia memberikan janji kenikmatan. Sehingga walaupun ia harus mengorbankan harta atau nyawa sekalipun, akan dilakukannya. Bagi yang menganggap kursi atau jabatan sebagai ''komoditi nonmigas'', maka ia akan menghitungnya dengan perhitungan bisnis. Biaya, tenaga, pikiran, dan segala pengeluaran akan dianggapnya sebagai modal usaha yang harus mendatangkan keuntungan dalam waktu tertentu.
Tampaknya kebanyakan manusia belum tahu apa sesungguhnya jabatan itu, dan apa akibatnya di akhirat nanti. Rasulullah saw menegaskan, ''Sesungguhnya kamu sekalian akan berambisi untuk dapat memegang suatu jabatan, tetapi nanti pada hari kiamat jabatan itu menjadi sebuah penyesalan'' (HR Bukhari). Penyesalan yang muncul kemudian dikarenakan ia tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya selama menjabat adalah telah ''memperdagangkan'' rakyat untuk kepentingan hawa nafsunya. Rakyat menjadi sapi perah baginya dan sumber kesenangan diri dan keluarganya. Padahal mestinya, dialah yang harus menjadi pelayan rakyat, karena jabatan adalah amanah Allah melalui rakyat.
Jabatan itu tidak perlu diminta, kecuali benar-benar tidak ada yang sanggup memikulnya. Kemudian, bila ia mengetahui bahwa ada orang lain yang lebih mampu memikulnya, hendaknya ia serahkan jabatan itu kepadanya. Ini seperti yang dilakukan oleh Nabi Yusuf yang pernah meminta jabatan kepada Raja Mesir. Hal itu ia lakukan, selain sebagai upaya menyelamatkan negeri itu dari bahaya kelaparan akibat tujuh tahun musim paceklik, juga lantaran ia tahu betul tentang ilmu perbendaharaan dan bagaimana menjaga amanah.
Sedang bagi yang tak mampu memegang jabatan, seyogianya bertindak seperti apa yang pernah disabdakan Nabi saw kepada Abu Dzar. Beliau berkata, ''Wahai Abu Dzar, sesungguhnya aku melihat kamu itu lemah dan sesungguhnya aku mencintaimu sebagaimana aku mencintai diriku sendiri. Janganlah kamu menjadi pejabat, walaupun hanya terhadap dua orang dan jangan sekali-kali kamu mengelola harta anak yatim.'
Itulah bukti kecintaan Nabi kepada sahabatnya. Beliau tidak rela jika Abu Dzar menyesal di kemudian hari. Melaksanakan jabatan harus dibekali ilmu di samping iman. Ilmu tanpa iman ibarat orang buta. Orang buta tidak akan pernah bisa melihat rambu-rambu jalan, kapan ia harus berhenti, dan kapan harus jalan. Seorang pejabat -- jika tidak ingin jabatannya kelak menjadi penyesalan -- hendaknya bersifat amanah: menggunakan haknya dan menunaikan kewajibannya dengan sebaik-baiknya dan siap mengembalikan amanah tersebut kepada pemiliknya, Allah swt (HR Muslim).
(hidayah, hikmah, keyakinan, takwa., kisah, pendidikan, )

***)republika

BERBICARA


Menurut hikayat klasik, konon, pada suatu hari, tikus-tikus berkumpul dan menggelar seminar akbar. Tujuannya untuk mencari masukan tentang cara yang efektif menghadapi ancaman kucing. Lalu, kata Sahibul Hikayat, seluruh peserta seminar sepakat untuk membikin ''kalung krincingan'' buat si kucing, musuh bebuyutan mereka, agar langkahnya dapat dideteksi, dan tikus-tikus pun mudah menyelamatkan diri.
Namun, suasana seminar tikus ini menjadi agak tegang ketika pembahasan sampai pada pertanyaan, ''Siapa di antara mereka yang berani memasang kalung itu ke leher si kucing?'' Seluruh peserta terdiam dan tak satu pun bersedia menyanggupinya. Dari kisah ini lalu muncullah ungkapan Arab, ''Ma ashal al-kalam wa ma ash'ab al-'amal Betapa mudah berkata, dan betapa sulit mewujudkan perkataan itu''.
Kenyataan seperti di atas, sering kita saksikan dalam kehidupan di sekeliling kita. Kita sering melihat orang yang perkataannya di depan forum begitu mempesona, menarik hati, dan mengundang tepuk tangan meriah. Sayangnya, tak jarang semua itu sekadar ucapan dan isapan jempol. Allah SWT pernah mengingatkan Nabi SAW perihal orang seperti ini.
''Dan di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya atas kebenaran isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.'' Q. S. 2: 204.
Ayat ini, turun berkenaan dengan olah Akhnas bin Syarik, seorang yang menyatakan keislamannya secara terbuka di depan Nabi SAW dan kaum Muslimin. Tapi, ia sesungguhnya seorang munafik, yang perkataannya tak sesuai dengan perbuatannya.
Sikap mental hipokrit dan budaya semangat forum yang dualistik, seperti diperlihatkan Akhnas, sungguh sangat tidak sejalan dengan nilai-nilai keislaman. ''Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Sungguh besar murka Allah bila kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.'' Q.S. 61: 2-3. Tidak heran bila Nabi SAW selalu mengingatkan agar kita berkata benar atau berdiam diri.
Pada suatu hari Nabi SAW kedatangan seorang tamu yang kelihatannya cukup beken. Dalam pembicaraannya dengan Nabi, orang itu selalu berusaha untuk mengungguli setiap kata yang diucapkan oleh beliau. Setelah orang itu berlalu, Nabi SAW berkata kepada para sahabatnya, ''Allah SWT tidak suka kepada orang tadi dan orang-orang lain yang serupa. Mereka terlalu biasa memutar-balikkan lidahnya kepada setiap orang, seperti sapi di tempat gembalaan. Dan seperti itu pula Allah kelak akan memutar-mutarkan lidah dan wajah mereka dalam api neraka.''
(hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, kisah, pendidikan)

***)Republika

Selasa, 10 Maret 2015

ADIL BERBUAH KEBERKAHAN


Pada suatu ketika, Kaisar Romawi mengirim utusan kepada Khalifah Umar bin Khaththab ra. Dia berniat melihat dari dekat kondisinya dan aktivitas amirul mukminin. Ketika utusan Romawi tersebut telah tiba di Madinah, ia bertanya tentang Umar bin Khaththab ra. kepada penduduk Madinah. "Mana raja kalian?"
Penduduk Madinah menjawab, "Kami tidak mempunyai raja. Kami hanya mempunyai pemimpin yang telah pergi keluar Madinah." Utusan Kaisar Romawi tersebut segera keluar dari Madinah untuk mencari Umar bin Khaththab ra dan menemukannya tidur di atas tanah dengan berbantalkan tongkat kecilnya yang ia biasa bawa untuk mengubah kemungkaran.
Ketika utusan Kaisar Romawi melihat Umar dalam keadaan seperti itu, ia merasakan ketenangan di hatinya dan berkata, "Orang yang ditakuti oleh semua raja karena kewibawaannya kok keadaannya seperti ini? Namun, hai Umar, engkau berbuat adil, dan engkau pun bisa tidur. Sedangkan, raja kami zalim, maka tidak heran kalau ia tidak bisa tidur dan selalu diliputi ketakutan."
Kisah yang terdapat di dalam kitab Minhajul Muslimkarya Abu Bakr Jabir Al-Jazairi ini memberikan pelajaran berharga mengenai buah dari hasil memutuskan hukum dengan adil. Salah satunya adalah tersebarnya ketenangan di dalam hati.
Ketenangan di dalam hati seseorang yang memutuskan hukum dengan adil karena dia tidak memutuskan suatu hukum dengan hawa nafsunya dan tidak menzalimi hak-hak pemilik nya.
Dia memberikan keputusan hukum kepada manusia dengan memberikan hak kepada pemiliknya.
Sikap inilah yang menjadikan sang pemimpin mendapatkan cinta Allah, keridhaan-Nya, kemuliaannya, dan nikmat-Nya. Salah satu bentuk kecintaan Allah, keridhaan, kemuliaan, dan nikmat-Nya itu adalah dengan memberikan ketenangan di dalam diri orang yang berbuat adil dalam memutuskan hukum.
Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk bersikap adil dalam hukum. Perintah Allah SWT ini termaktub di dalam Alquran surah an-Nisa (4) ayat 58, "Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya, Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya, Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." Wallahu a'lam.     (hidayah, keyakinan, takwa., syukur.sabar, kisah, )



***)republika

Senin, 09 Maret 2015

KEBERKAHAN DI PAGI HARI

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa : "Ya Allah, berkahilah ummatku di pagi hari" (H.R. Abu Dawud-shahihkan oleh al-Albani)
Pagi adalah awal dari sebuah hari, dalam kebiasaan sebagaian besar orang Indonesia, biasanya pagi diasosiasikan dengan waktu di mana matahari mulai terbit, lain lagi dengan kebudayaan Barat karena menggunakan patokan 12 jam maka pagi sudah dimulai ketika memasuki jam 00.00, sapaan yang digunakan pada saat itu bukan lagi "good night" tapi "good morning", kebiasaan ini pun mulai diikuti oleh sedikit kalangan di Indonesia terutama di media TV dan Radio.
Berbeda dengan dua kebiasaan di atas, perbincangan tentang pagi dalam Islam dimulai ketika munculnya fajar shadiq yang menandakan tibanya waktu shalat shubuh, oleh karenanya berbagai fadhilah tentang keberkahan pagi dimulai ketika memasuki waktu Shubuh bukan ketika matahari terbit.
Di dalam Al-Qur'an, banyak sumpah Allah yang menggunakan waktu, dan salah satu bagian waktu yang sering disebutkan adalah waktu awal dari siang, Allah `azza wa jalla berfirman "wal fajr" (demi waktu fajar), wash shubhi idza asfar (Dan subuh apabila mulai terang), wash shubhi idza tanaffas(Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing), wadh-dhuha (demi waktu dhuha), bagi kita tidak dibolehkan bersumpah dengan makhluk, namun bagi Allah adalah hak-Nya, dan di antaranya keagungan dan pentingnya hal-hal yang dijadikan sumpah tersebut.
Pagi adalah waktu yang diberkahi bagi umat ini, oleh karena  itu,  tidak selayaknya kita menyia-nyiakan waktu itu dengan hanya tidur, larut dalam lamunan dan hal-hal yang tidak bermanfaat lainnya. Bahkan menurut banyak penelitian modern, banyak keuntungan yang akan didapatkan dengan bangun pagi diantaranya membentuk pola pikir disiplin, memiliki banyak waktu dan meningkatkan produktifitas, dan lain-lain.
Keberkahan Pagi bagi Umat Islam
Mengapa pagi menjadi waktu utama dan penuh keberkahan dalam konsep Islam, banyak hal yang mendasarinya, antara lain:
Pertama, do'a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar umat ini mendapat berkah di pagi harinya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Shakhr bin Wada'ah al-Ghamidi, bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Ya Allah berilah berkah untuk umatku pada pagi harinya" (H.R. Abu Dawud dan dishahihkan oleh al-Albani).
Kita akan sangat senang jika ada orang shaleh yang mendo'akan kita, meskipun kita menyadari tidak ada jaminan dikabulkannya do'a, namun keberkahan waktu pagi untuk umat ini yang mendo'akannya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang do'anya pasti dikabulkan (mustajab), marilah kita  gunakan waktu pagi seoptimal  mungkin agar kita mendapat keberkahan dari do'a Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.
Terkait dengan do'a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas, dikabarkan juga bahwa Shakhr bin Wada'ah al-Ghamidi ra (sahabat yang menriwayatkan hadits ini) mengamalkan sunnah ini, sebagai pedagang ia mengirimkan dagangannya di awal hari kemudian ia pun menjadi orang kaya dan banyak harta.
Ibnu Muflih al-Maqdisi dalam kitab al-Adab asy-Syar'iyyah, menyebutkan bahwa suatu saat Abdullah bin Abbas ra, mendapati anak laki-laki nya sedang tidur pada waktu dhuha, maka Ibnu Abbas pun mengatakan : "bangunlah, apakah kau akan tidur pada saat rizki sedang dibagikan? ... hal itu karena baik secara syar'i atau pun menurut kebiasaan bahwa waktu mencari rizki, dan sebagaimana do'a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang disebutkan di atas.
Kedua, memelihara waktu shalat, memelihara dan melaksanakan shalat pada waktunya merupakan salah satu amalan yang paling dicintai oleh Allah `azza wa jalla, di dalam surat Al-Baqarah ayat 238, firman-Nya : "Peliharalah semua shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu".
Dengan bangun pagi dan melaksanakan shalat shubuh, maka seorang hamba akan mendapat rezeki nomplok yang pertama, yakni ia berada dalam jaminan (dzimmah) Allah. Dalam hal ini Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Maka jangan sampai Allah menuntut kalian sesuatu apa pun pada jaminan-Nya. Karena barangsiapa yang Dia tuntut pada jaminan-Nya, pasti Dia akan mendapatkannya. Kemudian dia akan ditelungkupkan pada wajahnya di dalam Neraka." (H.R. Muslim)
Ketiga, Berpagi-pagi dalam membaca Al-Qur'an dan menghafalnya. Al-Qur'an merupakan petunjuk untuk umat manusia, dan Allah `azza wa jalla telah memudahkannya untuk dapat diingat, dibaca dan dihafalkan.
Berpagi-pagi dalam membaca dan menghafalkannya merupakan salah satu cara utama untuk mendapatkan keberkahan Al-Qur'an dan keberkahan pagi secara bersamaan, bahkan di dalam surah al-Isra ayat 78 memberikan kesan terkait pentingnya hubungan antara Al-Qur'an dan waktu fajar sehingga shalat shubuh disebut dengan "Qur'an al-fajr", Allah `azza wa jalla berfirman : "Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh (qur'an al-fajr). Sesungguhnya shalat subuh (qur'an al-fajr) itu disaksikan (oleh malaikat)"
Menurut para ulama, bahwa waktu utama melakukan muraja'ah Al-Qur'an adalah pada saat tenang yang sempurna, dan waktu itu adalah waktu sahur sampai awal siang, dari Umar bin al-Khathab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa yang tertidur sehingga meninggalkan (hizb)nya pada waktu malam atau sebagian darinya, kemudian ia membacanya antara shalat fajar dan shalat dhuhur, maka Allah mencatatnya seakan-akan ia membacanya pada malam hari" (H.R. Muslim)
Keempat, Berpagi-pagi dalam berdzikir kepada Allah, waktu pagi merupakan waktu yang dianjurkan memperbanyak dzikir, hal ini ditunjukkan dengan banyak-banyak dzikir-dzikir dan bacaan do'a pagi hari dan do'a ketika bangun dari tidur yang datang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, terkait keutamaan dzikir diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berjalan di jalanan Makkah, kemudian beliau melewati gunung Jamdan, beliau bersabda : "jalanlah kalian, inilah Jamdan, telah mendahului al-Mufarridun", kemudian ditanyakan kepada beliau : "Siapakah al-Mufarridun",  Beliau besabda : "mereka adalah orang-orang yang banyak mengingat Allah (berdzikir) dari kalangan laki-laki dan perempuan" (H.R. Muslim)
Bagaimana kita memulai pagi?
Di sebagian besar kota, fenomena pasca waktu shubuh yang kita saksikan adalah kesibukan manusia yang luar biasa, jalanan menjadi macet, penumpang bis dan kereta api berdesak-desakkan, semua orang berlomba untuk mendapatkan rizki, mencari uang dan mencari kesenangan dunia, fenomena ini tidak ada salahnya namun yang menjadi masalah adalah ketika fenomena ini berbanding terbalik dengan keadaan saat bergemanya adzan subuh, jalan-jalan tetap sepi, gang-gang perumahan tetap sunyi, yang mendatangi masjid hanya sedikit orang saja, sebagiannya lagi tetap enggan mendatangi rumah Allah `azza wa jalla untuk melaksanakan shalat Shubuh secara berjamaah.
Fenomena di atas bukanlah yang dimaksudkan dengan bentuk pengamalan sunnah untuk memperoleh keberkahan pada pagi hari, keberkahan itu akan di dapat ketika kita memulainya dengan shalat shubuh, dan menjadikan niat akhirat sebagai hal yang mengisi hati kita, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa, yang akhirat menjadi obsesinya, maka Allah akan menjadikan kecukupan berada dalam hatinya, dan Allah akan menghimpun urusannya, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan dunia itu hina, dan barang siapa obsesinya adalah dunia, Allah menjadikan kemelaratan ada di depan kedua matanya dan mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja". (H.R. Tirmidzi)
Untuk merubah itu semuanya, ia harus belajar bangun di waktu Shubuh dan memulai harinya dengan ibadah dan mengharap keluasan rahmat dari Allah `azza wa jalla. Wallahu A'lam.
(hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, syukur, )


***)Sumber: Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia.

Minggu, 08 Maret 2015

P E R S A T U A N


Seputar umat, ada persatuan umat dan persatuan antarumat. Dua-duanya penting. Persatuan umat dalam urusan ukhuwah Islamiah dan hal-hal yang mengikutinya. Pengaruhnya keurusan ekonomi, pendidikan, bahkan politik.
Persatuan antarumat, yakni antara umat Islam dan umat-umat lain yang beragam. Pengaruhnya juga besar ke urusan ekonomi langsung tidak langsung, ke urusan pendidikan, hingga kemudian juga ke urusan politik. Khususnya, dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. 
Jadi, tema persatuan itu penting. Namun, persatuan itu tidak harus menjadi sama. Persis seperti yang dianut negeri ini, Bhinneka Tunggal Ika. Benar-benar tidak harus sama identik. Kembar identik saja ada bedanya. 
Dalam perbedaan, tetap terbuka peluang untuk bersatu. Idul Adha 2014 jatuh pada hari Ahad. Ada cerita di Markas Brimob, masyarakat Mus lim/ Muslimah butuh lapangan. Sementara, hari Ahad ada jadwal kebaktian bagi anggota, keluarga anggota, dan masyarakat Kristiani. Lapangan itu biasanya dijadikan lapangan parkir jemaat gereja. 
Lalu, apa yang terjadi? Gereja memiliki jam ibadah yang berbeda dengan Muslimin yang terikat dengan waktu (mauquutaa). Yang terjadi kemudian gereja di markas Brimob menyepakati menunda ibadatnya. Setelah Muslimin usai melaksanakan shalat Idul Adha yang memakai lapangan. Sementara itu, anggota Brimob yang non-Muslim ikut membantu parkiran, keamanan, dan lain-lain. Sehingga, seluruh anggota Brimob yang Muslim/Muslimah dan masyarakat Muslim/Muslimah bisa terfokus melaksanakan ibadah.
Selalu ada peluang untuk bersatu, berdampingan, bersama-sama, tanpa perlu berubah. Kristiani tidak perlu ikut shalat Idul Adha untuk menunjukkan bisa bersatu. Begitu juga kaum Buddha, Hindu, dan lain-lain.
Dan, sebaliknya. Saat Natal dan ibadah-ibadahnya, kawan-kawan dari agama lain, dari Muslim ikut membantu menjaga keamanan, parkiran, dan lain- lain. Tanpa perlu ikut kebaktian. Sesungguhnya, jika ini saja yang dilakukan, sudah sangat cukup. Belakangan, muncul polemik yang tak perlu.
Sebagai ustaz yang awam, saya bingung. Sekian tahun tak pernah ada masalah dengan kawan-kawan umat lain, bahkan para pemimpin agamanya.
Meski saya tidak mengucapkan selamat Natal atau selamat hari Waisak. Masih banyak cara. Senyum ketika papasan, sering mengadakan pertemuan, tidak harus pas hari raya masing-masing.
Bertemu di rumah makan, berbisnis bareng, dan lain-lain. Dan, mereka juga nyaman-nyaman saja saya tak masuk gerejanya, wiharanya, kelentengnya, dan sebaliknya. Juga, nyaman-nyaman saja tak menerima ucapan apa pun.
Umat lain tidak akan cacat toleransinya sebab tidak mengucapkan Idul Fitri. Sebaliknya, tidak akan cacat toleransi kita meski kita tidak mengucapkan. Jaga mereka, hormati mereka, sayangi mereka, tanpa perlu menjadi mereka dan tetap menjaga batas toleransi yang aman bagi akidah kita.
Satu hal yang pasti, saya tetap akan, bahkan membela kawan-kawan lain, dari hati saya, walau saya tidak mengucapkan. Sebab, saya sayang mereka dan menghormati mereka. Dan, mereka pun kawan dan saudara saya, sebangsa, dan setanah air.    
 (hidayah, hikmah, kebesaran, keyakinan, takwa, syukur., pendidikan, )
***)republika

Sabtu, 07 Maret 2015

BERSAHABAT DENGAN ALAM

Islam memerintahkan manusia berbuat baik kepada sesama, termasuk kepada alam. Jika cuek kepada alam, manusia akan mendapatkan dampak buruk darinya. Soal hujan, misalnya. Hujan yang awalnya menjadi sumber air dan pembawa rahmat (QS al-An'am [6]: 99) bisa berubah menjadi banjir bandang yang memusnahkan (QS al-Baqarah [2]: 59). Angin yang awalnya berperan dalam proses penyerbukan tumbuh-tumbuhan (QS al-Kahfi [18]: 45) dan mendistribusikan awan (QS al-Baqarah [2]: 164), tiba-tiba berubah menjadi puting beliung yang meluluhlantakkan (QS Fushshilat [41]: 16). Laut yang awalnya jinak (QS al-Hajj [22]: 65) tiba-tiba berubah menjadi tsunami yang menggulung apa saja yang dilaluinya (QS at-Takwir [81]: 6).
Bencana alam yang silih berganti di muka bumi tidak dapat dilepaskan dari pola interaksi manusia dengan lingkungannya. Manusia seringkali mengeksploitasi alam secara membabi buta (berlebihan), tanpa memikirkan akibat dari tindakan yang dilakukannya. Itulah di antara perilaku manusia yang dapat memicu munculnya berbagai bencana alam.
Islam sangat peduli terhadap persoalan lingkungan. Pelestarian lingkungan merupakan bagian daripada misi Islam. Maksudnya, Islam datang untuk menyelamatkan umat manusia dari kesengsaraan dan mewujudkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, fiddunya hasanah wa fil-akhirati hasanah(QS al-Baqarah [2]: 201).
Islam mengajarkan manusia bersahabat dengan alam dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya. Hal ini membuktikan Islam adalah agama yang ramah terhadap lingkungan. Agama yang dengan jelas mengatur hubungan antara manusia dan Tuhannya, manusia dan manusia, serta manusia dan alam.
Hubungan manusia dengan alam, menurut ajaran Islam, merupakan hubungan yang dibingkai dengan konsep hukum yang sama-sama tunduk dan patuh kepada-Nya. Dalam konsep ini, manusia memperoleh konsesi dari Sang Maha Pencipta memperlakukan alam semesta dengan rahmatan lil alamin.
Karena itu, usaha pelestarian lingkungan harus dipandang sebagai salah satu tuntunan agama yang wajib dipatuhi. Sebaliknya, setiap tindakan yang mengakibatkan rusaknya lingkungan dapat dikategorikan sebagai perbuatan mungkar yang harus dicegah.
Sebab, "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS al-A'raf [7]: 96). Wallahu a'lam.

(hidayah, hikmah, kebesaran, keyakinan, takwa., keyakinan., syukur, )

Jumat, 06 Maret 2015

BERBAKTILAH KEPADA IBU


Ibu Hans (bukan nama sebenarnya), bersama putrinya duduk bersimpuh di makam ibunya. Semua peziarah kubur dan tukang-tukang kembang melihat pria ini kelihatan kehilangan akan sosok ibunya.
Berhari-hari ia duduk di samping makam itu. Tapi tidak ada yang tahu kalau yang dilakukan Hans terlambat. Ia menyesal karena telah menyia-nyiakan kesempatan berbakti kepada ibunya. Suatu hari, ketika hendak menikah, Hans bilang kepada calon istrinya bahwa ibu kandungnya sudah meninggal beberapa tahun lalu.
Ibunya pun tidak mempermasalahkan itu. Sebab, ibunya juga menyadari apa yang telah dilakukan Hans itu karena dirinya tak sempat merawat dan membimbing Hans. Ibunya hanya bilang, "Nggakapa-apa Hans, yang penting kamu tetap mendoakan ibu." 
Orang-orang di kampungnya mengetahui Hans telah menikah. Namun, mereka tidak pernah tahu rupa istrinya. Hans bukan anak yang taat kepada ibunya. Birrul walidain-nya kepada orang tua kurang bagus, kurang berbakti.
Sekian puluh tahun silam Hans ditinggal wafat ayahandanya, kira-kira saat usia Hans 10 tahun atau kelas 3 SD. Sepeninggal ayah Hans, ibunya memutuskan tidak menikah lagi karena khawatir ayah tirinya tidak menyayangi Hans.
Hans tumbuh bersama ibunya. Karena kasih sayangnya, ibu Hans melakukan apa saja yang terbaik demi anak nya. Segala rupa dilakoni untuk menghidupi Hans, dari menjadi penjahit, jualan es, jadi buruh pabrik, buruh migran di luar negeri, dan sebagainya. Ketika ibunya kembali ke Tanah Air, Hans sudah menjadi anak yang cerdas, bahkan bisa menembus salah satu perguruan tinggi terkemuka di salah satu kota di Indonesia.
Entah bagaimana hidupnya, suatu ketika Hans berubah. Ia kenal dengan salah seorang perempuan kaya. Dan, Hans mengaku ia hidup sebatang kara. Jadi, istrinya tidak tahu kalau ibunya Hans saat itu masih hidup.
Ini bukan kisah di sinetron, saya bertemu langsung dengan sosok Hans. Ketika ibunya wafat, Hans menyesal sekali. Sebab, Hans tak sempat mengenalkan anaknya yang pertama kepada ibunya atau nenek dari anaknya. Mereka tak pernah melihat wajah nenek atau ibu dari ayahnya.
Karena itu, ketika ibunya wafat, Hans sangat menyesali kesalahannya. Ia menyesal sedalam-dalamnya. Ia merasa telah menipu dirinya, istri, anak, dan semua orang yang dicintainya. Ia telah berbohong. Dan akibat kebohongannya, ia sulit untuk memperbaikinya.
Bahkan, ketika ibunya sakit, ia tak jua datang untuk menjenguknya. Alasannya sibuk. Namun, sebelum wafat, ibunya menuliskan surat yang ditujukan kepada Hans dan hanya boleh dibuka saat ibunya sudah tiada.
Hans tidak bercerita apa isi surat ibunya itu, tapi ia sangat menyesalinya. Itulah mengapa pada akhirnya Hans bersimpuh berhari-hari di makam ibunya. Namun, terlambat, ibunya tiada.
Sahabat Republika, banyak pelajaran yang saya dapatkan dari kisah Hans ini. Banyak kesempatan bagi kita untuk senantiasa berbakti kepada orang tua. Selagi mereka masih hidup, janganlah lupa untuk selalu berbakti dan mendoakan ibu dan ayah. Bersimpuh dan memohon doa kepadanya. Jangan sampai apa yang dialami Hans terjadi kepada kita. Padahal, jasa ibu dan ayah sangatlah besar. 
(hidayah, hikmah, keyakinan., takwa., syukur., sabar., Tuhan, pendidikan,)


***)republika