Selasa, 30 Juni 2015

BELAJAR DARI KISAH KEMATIAN FIRAUN

Masih ingat cerita Firaun tenggelam di laut ketika mengejar Nabi Musa as? Ada riwayat yang mengatakan bahwa ketika nyawa sudah sampai dikerongkongan, Firaun mengucapkan keimanannya. Sayang sudah terlambat. Malaikat menjejalkan lumpur kemulutnya dan mengambil nyawa Raja lalim itu dengan paksa.
Bagi orang-orang durhaka, kematian adalah sebuah hukuman, dimana melalui kematian, Allah menimpakan azab untuk dijadikan pelajaran bagi mereka yang hidup (Surah Al Maidah : 106), seperti halnya yang menimpa Firaun dan orang-orang yang menzalimi RasulNya.Bagi orang yang mengalami kematian dan keluarga yang ditinggalkan. Musibah kematian dapat menjadi ujian tapi dapat juga menjadi azab bagi keluarga yang ditinggalkannya. Bagaimana membedakan apakah kematian itu suatu ujian, atau suatu azab yang ditimpakan pada manusia?
Kematian merupakan ujian atau cobaan, apabila kematian tersebut menimpa kepada seorang mukmin, dengan ciri-ciri yang menyertai kematiannya:
1.Bagi orang mukmin musibah dipandang sebagai bagian dari proses yang sudah tertulis dalam takdir Allah SWT serta menjadi kodrat mahluk bernyawa untuk merasakan kematian, mereka menerima dengan lapang dada, ikhlas dan ridha dengan ketentuan sang Khalik. Sebagaimana Al-Quran Surat Al-Anbiya ayat 35, bahwa setiap yang bernyawa pasti merasakan mati.
2.Mukmin memandang musibah kematian sebagai sarana menambah amal ibadah dan mendekatkan diri ke Allah SWT, karena mereka sadar bahwa musibah merupakan cara sang Khalik dalam membedakan mana  yang beramal lebih banyak, mana justru makin sedikit amalnya, sebagaimana Al-Quran Surat Al Mulk yang berbunyi: Allah yang menciptakan hidup dan mati untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya”. (QS. Al-Mulk: 2).
3.Ketika keluarga atau orang tercinta meninggal dunia, mukmin menghadapinya dengan tawakal, tidak menangis meraung-raung dan marah menyalahkan keadaan. Karena meski diperbolehkan menangis, Rasulullah melarang meratapi kematian dengan berlebihan, sebagaimana hadis “Bukanlah dari golongan kami orang yang menampari pipi (ketika ditimpa kematian), merobek pakaian dan yang mengeluh serta meratapi seperti kebiasaan jahiliah.”(HR. Muslim)
4.Orang mukmin yang meninggal dunia akan mendatangkan doa keselamatan yang tulus bagi jenazah dari mereka yang mencintainya . Riwayat pernah menceritakan tentang seorang Sufi bernama Uwais Al Qarni, beliau sangat taat kepada ibunya dan memelihara ibadahnya hingga akhir hayatnya. Rasulullah menyebutnya sebagai 'penduduk langit, dimana ia sangat terkenal diantara para malaikat. Ketika wafat Uwais Al Qarni menggemparkan kota Yaman, karena semasa hidup ia bukan siapa-siapa dibumi  dan dikenal sebagai fakir miskin, jenazahnya didatangi oleh ratusan orang setiap harinya untuk menshalatkannya . Mereka yang datang menshalatkan tak lain adalah para malaikat yang mengagumi kesolehannya.
5.Salah satu ciri orang mukmin ketika menjelang ajalnya akan terlihat mempertajam keimanannya melalui intensitas amal ibadah yang kian meninggi. Sebagaimana Rasulullah bersabda : "Dia akan memberinya petunjuk untuk melakukan kebaikan ketika menjelang ajalnya, sehingga tetangga akan meridhainya (atau ia berkata) orang sekelilingnya." (Hadits Riwayat Al-Hakim)
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, pendidikan., sabar syukur., takwa, )

***)Repubika

Senin, 29 Juni 2015

KEMATIAN, JALAN MENUJU KENIKMATAN ABADI

Dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 28, Sesungguhnya manusia melampaui dua kematian dalam fase  hidupnya. Pertama sebelum manusia diciptakan atau masa ketiadaan. Kedua setelah manusia menjalani hidup didunia atau kematian. Penyebab kematian hanya satu, yakni ajal. Sedangkan penyakit, terbunuh atau bunuh diri hanyalah jalan menuju kematian, sebagaimana tertulis dalam Alquran:
“Tidaklah suatu jiwa akan meninggal kecuali dengan seizin Allah (takdir Allah), Allah telah menulis ajal kematian setiap jiwa.” (Ali ‘Imran: 145). Jelas disini, meski meninggal karena kecelakaan, pembunuhan atau bunuh diri, kematian tetap merupakan iradah atau kehendak Allah dan sudah tertulis didalam takdir yang ditetapkan-Nya.
Kematian atau wafat yang juga disebut dengan maut, yang merupakan proses beralihnya kehidupan manusia dari alam dunia ke alam barzah. Alam barzah merupakan alam transisi sebelum mencapai akhirat. Kehidupan di akhirat inilah yang sesungguhnya menjadi tujuan utama Ummat muslim. Kehidupan di akhirat dikatakan dalam Al-Quran sebagai kehidupan yang mulia dan sempurna. Sehingga dapat dimaknai bahwa kematian merupakan perjalanan berikutnya dari kehidupan manusia, yang berarti juga sebuah proses mulia menuju fase puncak, yakni akhirat.
Bagi orang-orang yang bertakwa, akhirat merupakan nikmat yang sesungguhnya. Al Raqib Al Isfahani menggambarkan kematian sebagai berpisahnya ruh dari badan yang merupakan sebab yang mengantarkan manusia menuju kenikmatan abadi. Kehidupan manusia sesungguhnya abadi, namun untuk mendapatkan keabadian itu manusia harus berpindah dari satu fase ke fase berikutnya.
Akhirat menjadi kabar gembira bagi orang-orang mukmin yang telah menanti kehidupan yang lebih baik daripada dunia. Karena selama didunia, orang-orang mukmin senantiasa merasa terpenjara dari menahan nafsu dunia,  sebagaimana sabda Rasulullah: “Dunia adalah penjara bagi orang mu`min & surga bagi orang kafir” (HR Tirmidzi).
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, pendidikan., sabar, syukur, takwa, )



***)Hikmah republika

Minggu, 28 Juni 2015

KAPANKAH MAKAN PALING NIKMAT

Salah satu kebutuhan paling dasar manusia adalah makan dan minum. Dalam Alquran, banyak ayat yang berbicara tentang perintah untuk memakan yang baik sebagai rezeki dari Allah SWT (QS 67:15, 34:15).
Tidak semua makanan dan minuman boleh dikonsumsi. Karena itu, Islam mengatur makanan yang boleh dan tidak. Jika dibolehkan, pasti baik kandungannya. Jika dilarang, pastilah mudaratnya.
Makan dan minum bukan sekadar untuk bertahan hidup, tetapi menjadi sarana ibadah kepada Allah SWT. Ada empat tuntunan dalam perkara makanan. Pertama, halaalan (halal atau boleh bukan haram), yakni makanan yang zatnya halal dan cara mendapatkannya benar (QS 2:168, 5:88, 16:114).
Kedua, thayyibaat (yang baik-baik), yakni makanan halal dan komposisi yang dibutuhkan. Sebab, makanan yang halal belum tentu thayyib apalagi yang haram (QS 2:172, 7:160, 20:81).
Ketiga, israaf (berlebih-lebihan), artinya berinfak atau makan sesuai kebutuhan saja. Bahkan, bersedekah pun tak boleh berlebihan (QS 3:147, 6:141-142). Keempat, tabziir (boros atau menghamburkan), artinya sedekah atau makanan tidak dihabiskan atau dibuang-buang (QS 17:26-27).
Puasa dengan menahan lapar dan dahaga bukan penyiksaan. Di balik setiap derita ada kepuasan. “Wa maa ladz-dzatu illa ba’da ta’bii” (Tiada kelezatan kecuali setelah kepayahan). Kelak di hari akhir, orang beriman dan beramal saleh, akan dihidangkan makanan lezat, lalu Allah SWT berfirman, ”Makan dan minumlah yang sedap." (QS 52:19, 69,25, 77:43).
Kapankah makan paling nikmat? Nikmat ditentukan dua hal, yakni bahan atau rasa dan situasi atau suasana. Rasa enak itu relatif sehingga enak bagi seseorang belum tentu enak bagi orang lain. Yang penting bukan bahan atau rasanya, tapi situasi atau suasananya.
Ada tiga suasana yang membuat makan menjadi sedap. Pertama, makan ketika lapar. Jika ingin makan enak, maka laparlah. Jika ingin minum yang sedap, hauslah. Allah SWT memberikan jalan agar kita lapar dan haus bernilai ibadah, yakni puasa (wajib dan sunah). Tak perlu makan obat untuk merangsang makan, tapi berpuasalah karena akan mendatangkan kebaikan (QS 2:184). Makan dan minum setiap hari sudah biasa. Tapi di saat berbuka, nikmatnya luar biasa.
Kedua, makan bersama orang-orang lapar. Jika yang pertama bersifat individual, nikmatnya personal, tapi yang kedua ini bersifat sosial sehingga kenikmatannya pun sosial. Buka bersama keluarga, kaum kerabat, dan jamaah. Ibadah puasa memberikan jalan untuk mendapatkan kenikmatan sosial, yakni makan bersama orang-orang yang berpuasa (iftar jama’i). Keberkahan akan turun kepada orang yang makan berjamaah (HR Muslim).
Ketiga, memberi makan orang-orang lapar. Inilah makan paling sedap, bukan hanya nikmat personal dan sosial, tetapi juga spiritual. Bersedekah dan makan bersama dengan mereka yang lapar adalah makan paling nikmat. Kegembiraan orang yang berpuasa itu ketika berbuka dan bersama orang yang berpuasa, apalagi bisa menghidangkan makanan.
Nikmatnya tak bisa diungkapkan karena rasa syukur ke hadirat Ilahi Rabbi hingga kelak gembira pula bertemu Sang Khalik (HR Muttafaq ‘alaih). Orang yang menyajikan takjil (hidangan berbuka) akan mendapat ganjaran seperti pahala orang yang berpuasa (HR Tirmidzi). Lalu Nabi SAW bersabda, “Para malaikat pun akan selalu berdoa untuk mereka agar diberi kebaikan.” (HR Abu Daud). Selamat menikmati.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, pendidikan, )


***) Hasan Basri Tanjung

Sabtu, 27 Juni 2015

TOLERANSI ISLAM

Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang ditemani banyak sahabat. Tiba-tiba, lewat jenazah diantar menuju ke pemakaman. Rasulullah berdiri, seperti memberi hormat. Disampaikan kepada beliau bahwa jenazah itu orang Yahudi, tak pantas memperoleh penghormatan. Namun, Nabi balik bertanya, “Alaisat nafsan (bukankah ia juga manusia)?" (HR Bukhari dan Muslim).
Riwayat ini dikutip oleh Syekh Qardhawi sebagai salah satu contoh torelansi Islam. Dikatakan, toleransi adalah sikap menghormati dan menghargai adanya perbedaan-perbedaan, baik pendapat, pemikiran, agama, dan adat istiada (budaya). Toleransi selanjutnya bermakna membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia (hablun minannas).
Dalam Alquran ditemukan banyak contoh soal teleransi. Dalam kontes keluarga, misalnya, disebutkan apabila kedua orang tua kita menyuruh kepada agama lain (kemusyrikan), kita tidak boleh mematuhinya karena dalam Islam tiada kepatuhan kepada makhluk apabila durhaka kepada khalik. Namun demikian, kita disuruh tetap membangun hubungan yang baik dengan kedua orang tua (baca: QS Luqman [31]: 15).
Dalam konteks kemasyarakat lebih luas, disebutkan bahwa orang-orang yang mulia berkenan memberi bantuan dan donasi kepada orang-orang lemah, orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS al-Insan [76]: 8). Yang dimaksud dengan orang yang ditawan ketika ayat ini turun tentu adalah kafir Quraisy Mekah yang bukan hanya berbeda agama, melainkan musuh yang sangat anti Islam. Begitupun, Allah SWT meminta Nabi dan kaum Muslim agar memperlakukan tawanan perang dengan santun.
Toleransi Islam, menuret Qardhawi, berakar pada empat prinsip. Pertama, prinsip keragaman, pluralitas (al-ta`addudiyah). Keragaman sejatinya merupakan watak alam, dan bagian dari sunanatullah. Orang Muslim, kata Qardhawi, meyakini Keesaan Allah (al-Khalik) dan keberagaman ciptaan-Nya (makhluk). Dalam keragaman itu, kita disuruh saling mengenal dan menghargai. (QS al-Hujurat [43]: 13).
Kedua, prinsip bahwa perbedaan terjadi karena kehendak Tuhan (waqi` bi masyi’atillah). Alquran sendiri menegaskan bahwa perbedaan agama karena kehendak-Nya. Allah SWT tentu tidak berkehendak pada sesuatu kecuali ada kebaikan di dalamnya. Kalau Allah menhendaki maka semua penduduk bumi menjadi Islam. Namun, hal demikian tidak dikehendaki-Nya. (QS Yunus [10]: 99).
Ketiga, prinsip yang memandang manusia sebagai satu keluarga (ka usrah wahidah). Semua orang, dari sisi penciptaan, kembali kepada satu Tuhan, yaitu Allah SWT, dan dari sisi nasab, keturunan, ia kembali kepada satu asal (bapak), yaitu Nabi Adam AS. Pesan ini terbaca dengan jelas dalam surah al-Nisa ayat 1 dan dalam dekalrasi Nabi SAW yang amat mengesankan pada haji wada`.
Keempat, prinsip kemuliaan manusia dari sisi kemanusiannya (takrim al-Insan li-insaniyyatih). Manusia adalah makhluk tertingi ciptaan Allah, dimuliakan dan dilebihkan atas makhluk-makhluk lain (QS al-Isra [17]: 70), dan dinobatkannya sebagai khalifah (QS al-Baqarah [2]: 30). Penghormatan Nabi kepada jenazah Yahudi dilakukan semata-mata karena kemanusiannya, bukan warna kulit, suku, atau agamanya.
Toleransi Islam diajarkan dalam konteks sosial, bukan vertikal dengan satu tujuan, yaitu mewujudkan rasa aman dan damai. (QS Quraisy [106]: 3-4). Wallahu a`lam! 
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, pendidikan., sabar, syukur, takwa, toleransi, )

***)Republika

Kamis, 25 Juni 2015

PUASA BAGI ANAK SARAT MANFAA T

Beberapa hari lagi, bulan suci yang kita rindukan kehadirannya akan tiba. Ramadhan adalah momentum terbaik untuk pendidikan keluarga, khususnya pendidikan anak. Nuansa kebersamaan suami, istri, dan anak dalam Ramadhan sungguh sangat terasa, sehingga momentum penuh berkah ini dapat dimaknai sebagai sebuah pendidikan mental, spiritual, dan sosial. Rasulullah SAW selalu membiasakan bersahur dan berbuka bersama dengan anggota keluarga dan selalu menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya kepada mereka.
Karena itu, orang tua sangat dianjurkan untuk melatih anak berpuasa sejak dini. Puasa anak tidaklah sia-sia karena meskipun belum mencapai akil baligh, ibadah puasanya tetap dicatat oleh Allah SWT sebagai kebaikan. Latihan berpuasa bagi anak tidak hanya menambah nilai keberkahan bagi keluarga (ayah dan ibunya), tapi dapat menumbuhkan kesadaran dan spirit keberagamaan yang positif bagi masa depannya. Doa anak kecil yang sedang puasa juga sangat didengar Allah SWT.
Hasil riset Dr Muhammad Mustafa al Samri, Washaya al Aba'  fi Shiyam al Abna' (Pesan Orang Tua tentang Puasa Anak) menunjukkan bahwa anak-anak yang berpuasa Ramadhan cenderung mengalami pertumbuhan fisik dan perkembangan mental yang lebih baik dibandingkan dengan anak yang tidak berpuasa. Selain itu, anak yang berpuasa cenderung lebih mampu mengemban tanggung jawab (amanah) dan lebih cepat dewasa dalam bersikap, berpikir, dan berperilaku.
Puasa bagi anak juga sarat manfaat. Melalui puasa, anak dididik untuk disiplin waktu. Mereka membiasakan diri bangun lebih pagi, shalat Subuh berjamaah, bertadarus bersama keluarga, dan belajar. Puasa juga mendidik anak untuk berlatih sabar dalam menahan rasa lapar dan dahaga, sabar dalam mengendalikan diri dari kebiasaan "serbaenak", dan kemanjaan-kemanjaan lainnya.
Sebuah penelitian di Amerika Serikat tentang qiamul lail menyimpulkan, kebiasaan bangun malam, diikuti gerakan ringan seperti shalat, menghirup udara, dan minum air putih sangat baik bagi ketahanan dan kesehatan tubuh. Anak yang dibiasakan bangun malam atau pada waktu sahur akan memiliki kebugaran tubuh yang prima. Karena itu, melatih dan membiasakan anak berpuasa sangat penting untuk kesehatan dan kebugaran fisik mereka di masa depan.
Persoalannya kemudian adalah sejak kapan dan bagaimana orang tua harus melatih dan membiasakan anaknya berpusa? Sebagian ahli pendidikan Islam berpendapat, sebaiknya puasa anak dimulai pada usia tujuh tahun, sebagaimana Rasulullah SAW menganjurkan orang tua agar memerintahkan anaknya melaksanakan shalat pada usia tujuh tahun dan jika pada usia 10 tahun belum terbiasa shalat agar diberikan sanksi yang lebih tegas lagi, misalnya, pukulan ringan dengan niat mendidik bukan emosi. (HR Abu Dawud).
Pakar pendidikan menyarankan, dimulai dari usia 10 tahun. Tetapi, bagi sebagian anak perempuan saat ini, usia 10 tahun terkadang sudah menginjak usia akil baligh. Karena itu, latihan puasa perlu dibiasakan bagi anak sedini mungkin.
Tentu saja, latihan puasa harus diberikan secara bertahap, sesuai dengan kemampuan fisik anak. Mula-mula, anak dilatih puasa hingga tengah hari. Artinya, anak diajak makan sahur bersama keluarga dan diperkenankan berbuka pada waktu Zhuhur, kemudian dilanjutkan lagi berpuasa hingga Maghrib. Setelah itu, anak dilatih puasa hingga Ashar, dan akhirnya puasa dari waktu sahur hingga Maghrib.
Yang terpenting dalam pembiasaan ini adalah pengawasan dan motivasi dari orang tua, sehingga tidak mudah tergoda oleh temannya yang kebetulan tidak puasa. Sebagai orang tua, kita harus meyakini bahwa melatih anak berpuasa sejak dini merupakan salah satu strategi pendidikan mental spiritual yang efektif bagi masa depan anak dan bangsa. Marhaban ya Ramadhan.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, pendidikan., sabar, syukur, takwa, )


***) Muhbib Abdul Wahab

Rabu, 24 Juni 2015

DELAPAN TELADAN RASULULLAH SAAT BERPUASA

Puasa yang benar dan membawa pada derajat takwa adalah puasa yang mencontoh Rasulullah SAW. Ketahuilah puasa ala Rasulullah tidak semata persoalan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menghidupkan amal-amal syiar Ramadhan.
Mumpung masih di awal-awal Ramadhan, ada baiknya kita melihat lagi bagaimana Rasulullah berpuasa dan mengisi hari-hari beliau pada bulan Ramadhan. Pertama, memantapkan niat. Nabi Muhammad mengawali puasa dengan niat pada malam hari, seraya berdoa supaya dikuatkan dalam niat dan beramalnya.
Jika puasa sunah semisal Senin-Kamis boleh berniat pada pagi harinya maka puasa Ramadhan niatnya harus dilakukan pada malam harinya. “Barangsiapa yang tak berniat sebelum fajar untuk puasa maka tak ada puasa baginya.” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, Al-Baihaqi).
Kedua sahur. “Semua sahur adalah barakah maka janganlah kalian meninggalkannya walaupun di antara kalian hanya meneguk air. Sesungguhnya, Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang sahur.” (HR Ahmad, dan al-Mundziri).
Ketiga, cepat berbuka, yaitu sebelum shalat Maghrib meskipun hanya dengan seteguk air. “Tiga perkara yang merupakan akhlak para nabi, yaitu menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.” (HR Ath-Thabrani).
Sebaiknya berbuka dengan kurma. “Rasulullah berbuka dengan kurma basah (ruthab), jika tidak ada ruthab, dengan kurma kering (tamr), jika tidak ada tamr maka minum dengan satu tegukan air.” (HR Ahmad, Abu Daud, Baihaqi, Hakim, Ibn Sunni, Nasai, Daruquthni, dan lainnya).
Dalam berbuka dengan kurma sebaiknya dengan bilangan ganjil, yaitu satu, tiga, atau lima biji. Jika tidak, apa saja yang ada. Keempat, banyaklah berdoa terutama pada waktu menjelang berbuka karena termasuk di antara salah satu doa mustajab.
Salah satu doa yang biasa dipanjatkan Nabi menjelang berbuka, “Dzahabadh zhama'u wabtallatil 'uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.” (Telah hilang dahaga dan basah urat-urat, dan telah ditetapkan pahala, insya Allah.” (HR Abu Daud, Baihaqi, Hakim, Ibn Sunni, Nasa'i, Daruquthni).
Kelima, memberi makan orang yang berbuka. “Barangsiapa memberi buka orang puasa akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibn Majah, dan Ibn Hibban).
Keenam, banyak beribadah pada malam Ramadhan (shalat Tarawih). “Barangsiapa shalat pada malam-malam Ramadhan dengan iman dan mengharapkan keridhaan-Nya maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim).
Ketujuh, banyak sedekah dan tadarus Alquran. Dari Ibnu Abbas, “Rasulullah adalah orang yang paling dermawan dan lebih besar kedermawanannya pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Jibril biasanya menemuinya setiap malam Ramadhan, lalu tadarus Alquran (dengan beliau). Sungguh, Rasulullah ketika ditemui Jibril menjadi orang yang lebih murah hati dalam kebaikan sehingga lebih banyak memberi (seperti) tiupan angin.” (HR Bukhari dan Muslim).
Kedelapan, memperbanyak istighfar pada malam terakhir Ramadhan. Saudaraku, semoga Ramadhan yang baru saja kita masuki ini bernilai lebih dalam beruswah kepada Nabi Muhammad. Amin.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, pendidikan., sabar, syukur, takwa, )



***) Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Selasa, 23 Juni 2015

DELAPAN KEUTAMAAN PUASA

Diriwayatkan dari Abu Umamah, dia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku suatu amalan yang akan memasukkanku ke dalam surga. Rasulullah SAW menjawab, ‘Kamu harus puasa karena puasa itu tidak ada bandingannya.’’’ (Musnad Ibni Hambal, juz 5, hlm 264, hadis nomor 22.330).
Setelah peristiwa itu, di rumah Abu Umamah tidak terlihat asap mengepul saat siang hari kecuali bila kedatangan tamu. Jika orang-orang melihat asap di rumahnya, mereka langsung paham bahwa Abu Umamah sedang kedatangan tamu. (lihat kitab Attabwib al Maudhui lil ahadits, juz I, hlm 18.316).
Amalan untuk masuk surga cukup banyak seperti dijelaskan berbagai hadis sahih, tetapi mengapa Rasulullah memerintahkan puasa dan menyatakan bahwa puasa tiada bandingannya dengan ibadah lain? Ini menunjukkan, puasa memiliki keutamaan sebagai penyebab orang masuk surga. Bahkan, dalam hadis tersebut Rasulullah menyebutkan alasan keutamaan puasa dibandingkan ibadah lainnya, dengan ungkapan, “Puasa itu tidak ada bandingannya”. Hal ini menunjukkan beberapa keutamaan puasa.
Pertama, puasa tiada bandingannya dalam hal pahala. Rasulullah meriwayatkan hadis qudsi, “Setiap amalan anak cucu Adam adalah miliknya kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku dan Aku yang langsung membalasnya.’’ Di sisi lain, puasa merupakan latihan kesabaran dan orang-orang sabar akan diberi balasan tanpa batas. (QS az-Zumar:10).
Kedua, berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya yang bisa terlihat oleh orang lain, puasa yang tahu hanyalah Allah dan orang yang melakukannya. Allah menegaskan dalam hadis qudsi, “Orang berpuasa itu meninggalkan makanan dan minumannya untuk diri-Ku (Allah). Maka, puasa itu milik-Ku dan Aku (Allah) sendiri yang akan memberikan pahala karenanya.’’ (HR Bukhari ).
Ketiga, puasa memiliki keutamaan karena dinisbatkan kepada Allah. Berdasarkan hadis qudsi di atas yang menyatakan bahwa “puasa adalah milik-Ku”, berarti Allah memang selalu puasa tidak pernah makan dan minum.
Keempat, orang puasa dimuliakan Allah sehingga disiapkan pintu khusus di surga. Dari Sahal bin Sa’ad, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya surga itu mempunyai satu pintu yang disebut ar-Rayyan. Pada hari kiamat nanti pintu tersebut akan bertanya, di mana orang-orang yang berpuasa? Apabila yang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu itu akan tertutup.” (Muttafaqun ‘Alaih).
Kelima, puasa adalah perisai dari semua perbuatan buruk dan akhlak tercela. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, ‘’Puasa itu perisai, apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, hendaklah ia tidak berkata keji dan membodohi diri. Jika seseorang memerangi atau menghinanya, maka hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’’’ (HR Bukhari).
Keenam, puasa tiada tandingannya dalam merealisasikan ketakwaan sehingga Allah langsung menyebutkan sasaran utama puasa, yaitu merealisasikan ketakwaan. (QS al-Baqarah: 183).
Ketujuh, puasa adalah ibadah yang efektif untuk mematahkan nafsu. Karena, berlebihan dalam makan ataupun minum serta menggauli istri, bisa mendorong nafsu untuk berbuat kejahatan, enggan mensyukuri nikmat, serta mengakibatkan kelengahan.
Kedelapan, puasa mempersempit jalan setan masuk kepada anak Adam melalui jalan aliran darah. Dengan berpuasa, dia aman dari gangguan setan, kekuatan nafsu syahwat, dan kemarahan. Karena itu, Nabi menjadikan puasa sebagai benteng untuk menghalangi nafsu syahwat. Walhasil, bila seorang Muslim berpuasa sesuai tuntunan Rasulullah, pasti menjadi orang bertakwa dan ahli surga. Wallahu a’lam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, pendidikan, sabar, syukur., takwa, )


***)Ahmad Satori Ismail