Minggu, 03 Januari 2016

BATAS ISRAF

Israf mempunyai arti berlebih-lebihan. Sikap israf atau berlebih-lebihan merupakan hal yang kurang baik atau bahkan malah tidak baik. Terlalu banyak bersedekah itu kurang baik, bahkan terlalu banyak rakaat dalam shalat sunah juga kurang baik.
Itu baru berlebihan atau israf dalam kebaikan, yang hal itu saja kurang baik, apalagi israf dalam kemaksiatan. Sungguh hal itu akan mampu menjerumuskan pelaku israf dalam kemaksiatan ke neraka.
Segala hal yang dilakukan secara berlebihan itu tidak baik. Pada zaman Rasulullah SAW, ada seorang sahabat laki-laki yang gemar beribadah di dalam masjid. Dia terus-terusan beribadah di masjid. Melihat hal itu, Rasulullah SAW pun menegurnya agar lelaki itu beribadah di masjid secukupnya saja.
Rasulullah SAW juga memerintahkannya untuk bekerja, berkumpul bersama istri, dan tidak melulu di masjid. Apa guna beribadah secara berlebihan tetapi keluarga di rumah telantar?
Allah SWT berfirman yang termaktub dalam potongan QS al-A'raf ayat 31, " ... Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang berlebihan." Dengan demikian, kita semua pun tahu bahwa israf itu tidak baik.
Lalu, hal yang dikatakan israf itu sejauh mana? Jika israf diartikan sebagai sikap atau perilaku yang dilakukan secara berlebihan, semua dari kita paham. Namun, sebagian dari kita terkadang tidak memahami batas-batas dari berlebihan itu.
Batas dari berlebihan memang antara satu orang dan orang yang lain itu berbeda. Dengan demikian, israf itu memang berbeda-beda kadarnya. Bukankah kita bisa menghabiskan nasi sepiring penuh, tetapi anak berusia empat tahun tidak bisa? Ya, bisa diibaratkan seperti itu.
Oleh karena itu, batas dari israf yang paling jelas adalah cukup, tidak membebani, dan seimbang. Kita boleh menunaikan shalat sunah seratus rakaat, asalkan keharusan yang lain juga bisa terpenuhi sesuai kadarnya. Kita pun tidak dilarang untuk rajin berpuasa. Akan tetapi, ketika waktu Maghrib tiba, maka kita harus berbuka atau membatalkan puasa.
Allah SWT menetapkan syariat Islam memang telah dirancang sesuai dengan kadar kemampuan umat manusia. Shalat wajib yang asalnya 50 waktu saja kini menjadi hanya lima waktu. Kita tidak akan sanggup untuk menunaikan shalat 50 kali dalam sehari semalam. Oleh karenanya, Allah SWT hanya mewajibkan lima waktu dan jika kita masih merasa kurang, maka ada shalat sunah yang bisa dikerjakan sesuai dengan kemampuan.
Perlu kita memahami QS al-Baqarah ayat 286 bahwa Allah SWT tidak membebani kita di luar kemampuan kita. Allah SWT tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
Islam mengajarkan ajaran yang seimbang; antara kebutuhan duniawi dan ukhrawi, antara kebutuhan jasmani dan rohani, antara kebutuhan diri sendiri dan orang lain, antara kebutuhan pribadi dan keluarga. Ada skala prioritas dalam syariat. Islam mengajarkan keseimbangan dalam hidup ini dan tidak membenarkan israf. Wallahu a'lam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Supriyadi

Sabtu, 02 Januari 2016

AGAR BAIK TETAP BAIK

Imam an-Nawawi mengemukakan, perkara baik tidak akan tetap baik kecuali bila ditunjang dengan perkara baik lainnya. Dalam konteks ini an-Nawawi mengemukakan sepuluh perkara baik. Lima di antaranya: akal (kecerdasan), kemenangan/kesuksesan, kekuasaan, kekayaan, dan kemiskinan.
Lima perkara tersebut berdasar pada sabda Rasulullah SAW semuanya baik. Namun, kelima perkara tersebut tidak akan baik tanpa dilengkapi perkara baik lainnya. Maka, siapa pun yang memiliki lima perkara tersebut dianjurkan untuk melengkapinya dengan memiliki perkara baik lainnya.
Pertama, akal (kecerdasan). Tidak diragukan lagi orang yang memiliki kecerdasan adalah orang yang beruntung. Lebih-lebih bila kecerdasan yang dimilikinya itu digunakan untuk mendalami al-Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Kecerdasan itu adalah cahaya di dalam hati/kalbu yang dapat membedakan antara yang benar dan yang salah.
Tetapi, memiliki kecerdasan itu bisa juga membuat pemiliknya salah kaprah. Oleh sebab itu, yang bersangkutan sangat dianjurkan untuk melengkapinya dengan sifat wara’. Dengan sifat inilah yang bersangkutan dinilai aman dari kemungkinan salah kaprah dalam mengaplikasikan kecerdasan yang dimiliknya.
Kedua, kemenangan/kesuksesan. Orang yang meraih kemenangan/kesuksesan dapat dikatakan orang yang mujur. Tetapi, kemenangan/kesuksesan yang tidak diikuti syukur dan takut kepada Allah justru akan menjerumuskannya ke neraka. 
Maka, orang yang meraih kemenangan/kesuksesan dianjurkan untuk syukur dan takut kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk neraka orang yang menangis lantaran takut kepada Allah.
Ketiga, kekuasaan atau jabatan. Kekuasaan atau jabatan adalah amanah yang wajib ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Bila tidak demikian, kekuasaan atau jabatan itu justru akan mendatangkan murka Allah SWT. Dengan begitu, orang yang memiliki kekuasaan atau jabatan wajib mengembannya dengan tanggung jawab. 
Rasulullah SAW bersabda, “Manusia yang paling dicintai Allah dan yang paling dekat dari-Nya pada hari kiamat nanti adalah pemimpin yang adil. Manusia yang paling dibenci Allah dan yang paling jauh dari-Nya pada hari kiamat nanti adalah pemimpin yang zalim.
Keempat, kekayaan. Memiliki kekayaan adalah baik. Tetapi, kekayaan tidak akan manfaat jika tidak didermakan di jalan Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. (Sebaliknya) orang yang kikir itu jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka.
Kelima, kemiskinan. Sejatinya kemiskinan itu baik. Abdullah bin Mubarak berkata, “Merasa kaya saat berada dalam kemiskinan lebih baik dari kemiskinan itu sendiri.” Tetapi, kemiskinan itu dapat berubah menjadi kemudaratan bagi yang bersangkutan.
Misalnya, ketika yang bersangkutan tidak menyikapinya secara qana’ah.Rasulullah SAW bersabda, “Jadilah kamu orang yang qana’ah niscaya kamu akan menjadi orang yang paling bersyukur.” Wallahu A’lam. 
 (Da'wah, hidayah, hikmah, pendidikan, takwa, )

***) Mahmud Yunus

Jumat, 01 Januari 2016

MENGAPA DOA KU TIDAK DIJABAH

Ada yang bertanya Ustaz, mengapa doa doaku tidak diijabah Allah?
Sahabatku,
1. Tugas kita sebagai hamba-Nya berdoa, hak mutlak Allah untuk mengijabahnya.
2. Allah ingin kita selalu berdoa pada-Nya, boleh jadi kalau dikabulkan kita tidak berdoa lagi.
3. Tidak dikabulkan karena kalau dikabulkan membawa fitnah untuk kita, tidak jadi kaya, boleh jadi setelah kaya jadi sombong.
4. InsyaAllah dikabulkan hanya waktu kemudian, atau
5. Allah hanya kabulkan di akhirat saja, jadi doa sebagai tabungan akhirat.
6. Allah kabulkan dalam bentuk lain, Allah tahu baik buruknya untuk kita,
7. Kalau tidak juga tetaplah baik sangka,
8. Dan saatnya untuk muhasabah diri, mungkin hidup kita dari rizki tidak halal, Rasulullah mengisahkan seseorang yang rambutnya acak-acakan dan berdebu lalu menengadahkan tangannya ke langit untuk berdoa, “Ya Rabi, ya Rabi.’
Padahal, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan keluarganya diberi makan dari sumber yang haram. Bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad). Mungkin ibadah kita masih diiringi ma’siyat, atau masih sering menyakiti orang lain atau aurat kita masih belum terjaga.
9. Perbaiki diri, sungguh sungguhlah taat dan jangan pernah putus asa dalam berdoa. Baca dengan iman, “Berdoalah kalian kepada-Ku, pasti KU ijabah doa kalian!!”(QS al Mu’min : 60).
SubhanAllah, terus, terus, dan terus berdoa karena kita tidak tahu kapan, dimana, dan bagaimana doa kita diijabah Allah…insyaAllah, aamiin.

Sumber: Akun Facebook Ustaz Arifin Ilham
 Da'wah, hidayah, hikmah, sabar syukur., takwa., 

Kamis, 31 Desember 2015

BAHAYA DUSTA

Rasulullah SAW bersabda, “Mendekati kiamat akan muncul para pendusta. Maka, berhati-hatilah terhadap mereka.” (HR Muslim). Hadis ini menggambarkan kondisi akhir zaman. Suatu kondisi yang tampaknya mulai terasa sekarang, seiring dengan melemahnya nilai-nilai iman.
Saat ini orang sudah tidak merasa risih berdusta. Bahkan kedustaan, kebohongan, dan kepalsuan masuk ke dalam seluruh sendi kehidupan. Mulai dari lingkungan keluarga, pendidikan, bisnis, hiburan, politik, birokrasi, hingga pemerintahan. 
Semuanya tidak lepas dari praktik dusta, kecurangan, dan kepalsuan. Ada yang berdusta untuk kepentingan dunia; untuk mendapatkan harta, takhta, dan wanita. Ada yang berdusta untuk mencelakakan saudara karena dendam dan kebencian. 
Ada juga yang berdusta karena canda, hobi, dan kebiasaan. Akhirnya, virus penyakit dusta ini menyebar ke mana-mana. Cukuplah kita memahami bahaya besar dari berdusta ketika Allah menyebutkannya dalam Alquran sebanyak 280 kali seraya memberikan ancaman keras kepada orang yang biasa berdusta sekaligus menafikan keimanannya. 
Di antaranya, Allah SWT berfirman, “Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang boros dan pendusta.” (QS Ghafir:28). “Celaka bagi orang yang pembohong dan pendosa.” (QS al-Jatsiyah:7). “Orang yang mengadakan kebohongan adalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah. Mereka adalah para pendusta.” (QS an-Nahl: 105).
Di antara dampak buruk dan bahaya dusta adalah sebagai berikut. Pertama, berdusta membuat pelakunya tidak bisa tenang dan selalu merasa gelisah. Rasulullah SAW bersabda, “Jujur mendatangkan ketenangan sementara dusta mendatangkan keragu-raguan (kegelisahan).” 
Bagaimana bisa tenang, orang yang berdusta akan selalu dibayang-bayangi rasa takut dan khawatir kalau kebohongannya diketahui orang.
Kedua, dusta menjadi penyebab jatuhnya citra, nama baik, dan kehormatan si pelaku. Orang menjadi kehilangan kepercayaan padanya. Bayangkan kalau dalam satu komunitas satu dengan yang lain sudah tidak saling mempercayai.
Ketiga, dusta menjadi bagian dari bentuk kemunafikan sehingga mengancam eksistensi iman. Rasulullah SAW bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga. Apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila dipercaya ia khianat.” (HR Bukhari dan Muslim).
Keempat, kalaupun si pendusta selamat dan aman di dunia, ia berhasil membungkus segala kepalsuan, kedustaaan, dan kebohongannya dengan berbagai macam intrik dan tipu daya sehingga orang tetap percaya maka di sisi Allah ia tidak akan bisa selamat. 
Bahkan, dalam hadis disebutkan, “Dusta mengantar pada kejahatan, dan kejahatan mengantar kepada neraka. Manakala seseorang terus berdusta dan berusaha berdusta, ia akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR Bukhari).
Karena itu, tidak ada jalan lain bahwa hidup tenang, bahagia, terhormat, dipercaya, dan sukses dunia akhirat hanya bisa didapat dengan kejujuran. Kejujuran adalah modal dasar orang-orang istimewa. 
Allah SW berfirman, “Ceritakan (wahai Muhammad SAW) kisah Ibrahim dalam al-Kitab (Alquran). Ia adalah orang yang jujur dan juga seorang nabi.” (QS Maryam: 41).
Ceritakan (wahai Muhammad SAW) kisah Idris dalam al-Kitab (Alquran). Ia adalah orang yang jujur dan juga seorang nabi.” (QS Maryam: 56). 
Nabi Yusuf AS juga disebut dan dikenal sebagai orang jujur (lihat QS Yusuf ayat 46). Apalagi, Nabi Muhammad SAW, sejak muda beliau dikenal sebagai sosok yang jujur dan dapat dipercaya. 
(Da'wah, hidayah, hikmah, takwa, )


***) Fauzi Bahreisy

Selasa, 29 Desember 2015

UMMU ABU HURAIRAH YANG DISAYANGI UMAT BERKAT DOA RASULULLAH (2-HABIS)

Kesedihan Abu Hurairah RA begitu mendalam. Sembari menangis ia pergi menemui Rasulullah SAW. Ia pun mengadukan kejadian yang baru saja dialami kepada sang Rasul. “Wahai Rasulullah SAW! Mohonkan kepada Allah agar Dia memberikan hidayah kepada ibuku,” pintanya kepada Nabi Muhammad SAW.
Rasulullah SAW memenuhi permintaan Abu Hurairah RA. Ia berdoa kepada Allah SWT agar Ummu Abu Hurairah RA diberi hidayah.
Mendengar itu, Abu Hurairah RA merasa lebih tenang. Ia kembali ke rumahnya dengan penuh suka cita. Ia tak sabar ingin mengabarkan kepada ibunya doa Rasulullah SAW tersebut.
Sampai di depan pintu, Abu Hurairah RA tertegun. Ia mendapati pintu terkunci rapat. Mendengar langkah kaki Abu Hurairah RA yang terhenti di depan pintu, ibunya berkata, “Wahai Abu Hurairah RA, tetaplah engkau di luar,” kata Umaimah.
Sejenak Abu Hurairah RA mendengar gemericik air. Tak lama kemudian, sang ibu pun Tmembuka pintu. Ia tampak memakai baju dan kerudung. Tiba-tiba ia berkata, “Wahai Abu Hurairah RA! Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah,” ucapnya tanpa disangka-sangka.
Abu Hurairah RA serta merta mengucapkan takbir. Air matanya tak terbendung. Doa Rasulullah SAW begitu cepat terkabul.
Abu Hurairah RA kembali berlari kepada Rasulullah SAW sembari menangis. Kali ini air matanya menetes bahagia. Dengan wajah ceria, ia menceritakan perihal keislaman ibunya kepada Rasulullah SAW. Ia pun meminta agar Rasulullah SAW mendoakan ibunya kembali. Ia ingin ibunya selalu disayangi oleh setiap orang beriman.
“Wahai Allah! Jadikanlah hamba-Mu ini dan ibunya disayangi oleh setiap orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan,” kata Nabi Muhammad SAW.
Doa itu pun terkabul. Ummu Abu Hurairah RA begitu disayangi oleh orang-orang di sekitarnya. Ia dikenal sebagai wanita yang dermawan dan murah hati.
Suatu hari Abu Hurairah RA duduk bersama Humaid bin Malik bin Khaitsam di Aqiq. Tiba-tiba, serombongan orang singgah di sana. Ia meminta Humaid datang kepada Umaimah dan menyampaikan salamnya. “Berikanlah kami makanan,” kata Abu Hurairah RA, ditirukan oleh Humaid ketika sampai di depan ibunya.
Ummu Abu Hurairah RA kemudian memberikan tiga buah roti, minyak, dan garam dalam sebuah mampan. Ia meletakkannya di atas kepala Humaid. Humaid pun mengantarkan makanan dari Umaimah kepada rombongan. Diletakkannya semua makanan tersebut di hadapan Abu Hurairah RA.
“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita kenyang dengan makan roti, yang sebelumnya kita tidak punya makanan apa-apa kecuali aswadain, yaitu kurma dan air,” kata Abu Hurairah RA.


***)Republika online

Senin, 28 Desember 2015

YUK... MENJADI MUSAFIR CERDAS

Seorang musafir lewat di suatu kampung. Ia melihat penduduk kampung lagi berkumpul ramai sekali. Mereka sepertinya lagi mengadakan musyawarah besar.
Setelah mencari tahu, ternyata penduduk kampung itu lagi membicarakan siapa yang mau menjadi ketua kampung. Ia menjadi heran, kenapa orang-orang ini justru mencari siapa yang mau menjadi pemimpin, karena menurut kebiasaan orang malah rebutan untuk jadi pemimpin.
Rupanya ada suatu tradisi aneh di kampung itu. Setiap seorang pemimpin selesai menjalankan tugas, ia akan dibuang ke suatu tempat yang sangat berbahaya. Di padang pasir yang dipenuhi binatang buas dan berbisa. Setiap orang yang masuk ke sana mustahil bisa keluar lagi dengan selamat.
Setelah berpikir sejenak ia menawarkan diri untuk jadi pemimpin di kampung itu. Tentu saja penduduk kampung menjadi heran sekaligus senang. Dengan penuh yakin ia menanda tangani perjanjian untuk menjadi pemimpin dan siap dibuang setelah 10 tahun menjalankan tugas.
Namun musafir ini ternyata seorang yang sangat cerdas. Pantas sekali ia berani menawarkan diri jadi pemimpin negeri itu.
Di tahun pertama dan kedua ia mengumpulkan dana yang sangat besar. Pada tahun ketiga ia menugaskan orang untuk membuat jalan ke padang pasir tempat yang akan dijadikan tempat pembuangannya. Tahun keempat ia membersihkan tempat itu dari binatang buas dan berbisa.
Tahun kelima ia memerintahkan orang untuk mengalirkan air dan menanaminya dengan berbagaimacam tumbuh-tumbuhan. Tahun keenam sampai kedelapan ia menyulap daerah itu menjadi kota yang sangat megah dan membuat istana yang indah untuk tempat ia ketika dibuang nanti.
Akhirnya pada tahun kesembilan ia justru merindukan jabatannya segera berakhir, karena ia tidak sabaran lagi untuk menempati rumah masa depannya.
Itulah gambaran dunia dan akhirat bagi orang yang sadar. Orang yang merasa cemas akan kematian karena ia membiarkan rumah masa depannya dipenuhi binatang buas dan berbisa. Rumahnya hancur berantakan, bahkan dipenuhi api.
Tapi bila kita persiapkan dengan segala amal shaleh, justru akan membuat kerinduan untuk segera menuju ke sana. Ia malah merasa asing dan tidak betah di dunia yang fana ini, karena harap menempati kampung nan indah di seberang sana.
Orang yang cerdas adalah yang mempersiapkan diri untuk kehidupan yang tiada berakhir. Dan orang yang teramat bodoh adalah orang yang mengorbankan kehidupan yang abadi demi kesenangan yang hanya sekejap.
(Da'wah, hidayah, hikmah, sabar, syukur, takwa, )



Sumber: Salingsapa.com

Minggu, 27 Desember 2015

K H I A N A T

Khianat artinya curang, culas, tidak jujur, tidak lurus hati. Menurut Raghib al-Isfahani, khianat kurang lebih sama artinya dengan nifak(orangnya disebut munafik). Khianat dapat terjadi terhadap diri sendiri, terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya, dan terhadap orang lain.
Rasullullah SAW menempatkan khianat sebagai salah satu tanda munafik. Dikatakan bahwa “Tanda munafik itu ada tiga: apabila berbicara, dia dusta; apabila berjanji, dia ingkar; dan apabila dipercaya, dia khianat.” (HR Bukhari dan Muslim).
Namun, penting kita pahami bahwa nifak mengandung arti lebih luas dari pada khianat. Nifak mengandung arti curang terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya. Khianat mengandung arti curang terhadap janji yang dibikinnya dan culas terhadap kepercayaan (amanah) yang diberikan kepadanya.
Khianat terhadap diri sendiri, misalnya, mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah kepadanya tanpa alasan syari. Contohnya, mengharamkan makanan dan/atau minuman yang secara faktual telah dinyatakan kehalalannya dalam kalam Allah atau sabda Rasul-Nya.
Khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya, misalnya, mengingkari perkara yang disyariatkan Allah dan Rasul-Nya. Contohnya, mengabaikan perintah shalat fardhu padahal tidak ada udzur syari, mengabaikan perintah zakat padahal sudah nisab, dan mengabaikan perintah pergi haji padahal sudah istithaah.
Lebih jauh, mengutip pendapat Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang dimaksudkan khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya tidak sebatas meninggalkan aturan agama, tetapi juga menyempitkan aturan agama. 
Ambil contoh: menyempitkan agenda dakwah, tarbiyah, dan khidmat kepada sesama dikait-kaitkan dengan untung rugi secara finansial. Khianat terhadap orang lain, misalnya, tidak membuktikan janji-janjinya terhadap orang lain dan amanah yang diberikan orang lain kepadanya. 
Contohnya, presiden atau wakil presiden tidak dengan sungguh-sungguh membuktikan janji-janji kampanyenya. Padahal, disebabkan janji-janji kampanyenya itulah rakyat telah memilihnya.
Khianat terhadap diri sendiri, khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan khianat terhadap orang lain itu hukumnya terlarang (haram). Risiko ketiga-tiganya tidak ada yang ringan.
Dengan begitu, pastikan bahwa khianat bukan tabiat kita sebagai Muslim. Sehingga, khianat dalam level mana pun semestinya kita hindari. 
Allah SWT berfirman, “Hai, orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang diberikan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS al-Anfal [8] : 27).
Dalam ayat lain, “Dan, jika kamu mengetahui pengkhianatan dari suatu golongan maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang khianat.” (QS al-Anfal [8] : 58).
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang yang tidak memiliki sikap (perilaku) amanah.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban). 
Menariknya, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR Ahmad, Thabrani, Ibnu Hibban, dan al-Bazzar). Wallahu alam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabaR, syukur., takwa, )

***)Mahmud Yunus