Sabtu, 04 April 2015

MENJADI MUSLIM PENOLONG



Seorang Muslim mesti menjadi pribadi penolong. Seorang Muslim tidak dibenarkan lepas tangan bila ada yang membutuhkan bantuan. Ia dituntut berkontribusi semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuannya. Semakin banyak orang yang ditolong, maka semakin banyak orang yang terselamatkan. Apalagi bila berhasil mengajak orang lain. Semakin banyak yang berkontribusi, masalah akan semakin cepat selesai.

Saling membantu dan saling tolong adalah ruh dalam risalah Islam. Sebab, sesama Muslim adalah bersaudara, saudara yang diikat oleh akidah. Mereka ibarat satu bangunan. Satu dan lainnya saling menopang dan menguatkan. Jika ada anggota tubuh yang sakit, akan terasa hingga sekujur tubuh.

Islam sangat menekankan pemeluknya peka terhadap realitas sosial di sekitarnya. Banyak nasihat Alquran dan hadis Nabi SAW yang memaparkan keutamaan saling membantu. Islam mengajarkan kebersamaan, sinergi dalam kebaikan. Jika sekelompok masyarakat sudah bersinergi dan gemar saling menolong satu sama lain, otomatis masyarakat itu akan kompak. Jika sudah kompak, pasti mereka utuh dan bersatu. Persatuan itu lahir dari menumbuh kembangkan jiwa saling membantu.

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang membebaskan seorang mukmin dari kesempitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari kesempitan di hari kiamat. Barang siapa yang memberi kemudahan orang yang kesulitan, maka Allah akan memberi kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat." (Muttafaq Alaih).

Menolong itu tidak hanya dengan harta dan tenaga, tetapi juga dengan ide atau saran, bahkan doa. Bila benar-benar dibutuhkan, menolong dengan berkorban nyawa juga dibenarkan. Artinya, bentuk pertolongan dikembalikan kepada pribadi masing-masing. Sebab, setiap orang memiliki kemampuan terbatas. Menolong dengan ide, tenaga, dan harta tentu lebih berpahala dibandingkan dengan satu jenis pertolongan. Menolong dengan doa atau dukungan moril tentu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Dengan menolong, mereka yang telah tertolong pasti akan mengucap syukur dan berterima kasih. Mendorong mereka mengucap alhamdulillah adalah pahala bagi kita. Apalagi bila mereka bisa leluasa menjalankan ibadah setelah itu, tentu pahalanya semakin bertambah. Mereka akan menyebut nama kita dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Itulah sebabnya memudahkan urusan orang lain merupakan keberkahan tersendiri.

Tolong-menolong dalam Islam tidak dibatasi oleh ras, suku, afiliasi politik, mazhab, ormas, bangsa, bahkan agama. Pertolongan harus diberikan kepada siapa pun jika memang diperlukan, mengingat kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu, penting sekali menjaga harmonisasi dengan saling menolong dan saling berempati. Rasulullah SAW bersabda, "Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya." (Muttafaq Alaih).

Allah tidak akan menyia-nyiakan amal saleh si penolong. Sehingga, bila sewaktu-waktu ia dalam kesulitan, Allah akan menolongnya dengan tangan-Nya sendiri atau lewat tangan orang lain. Kita perlu menjadikan hadis semacam ini sebagai motivasi bagi diri kita agar gemar menolong. Betapa tidak, Allah telah menjamin akan senantiasa menolong orang yang gemar menolong sesamanya.

Muslim sejati bukanlah Muslim yang harus diminta-minta terlebih dahulu untuk menolong orang lain. Wallahu a'lam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur, takwa, )

AGAMA ITU NASEHAT

"Aku menyampaikan amanah Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu." (QS al-A'raf: 68). Demikian pula Nabi SAW bersabda, "Agama itu nasihat. Sahabat bertanya, `Bagi siapa?' Beliau bersabda, `Bagi Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpin- pemimpin, dan umat Islam pada umumnya.'" (HR Muslim).

Kata nasihat berasal dari bahasa Arab, dari kata kerja nashahayang berarti khalasha, yaitu `murni serta bersih dari segala kotoran' dan `benar'. Dalam arti lain, nasihat juga bisa berarti khaatha, yaitu `menjahit' karena perbuatan penasihat yang selalu menginginkan kebaikan orang yang dinasihatinya diibaratkan memperbaiki pakaiannya yang robek.

Menurut istilah, nasihat adalah mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan. Imam al-Shobuni mengartikan nasihat dengan menghendaki kedamaian dan kebaikan.

Pengertian secara bahasa dan istilah ini bermakna bahwa, pertama, agama itu nasihat bagi Allah. Maksudnya, dengan berpegang kepada agama, umat Islam dapat tetap memelihara keyakinan dalam menyucikan Allah dan kemahasempurnaan-Nya. Mengesakan-Nya dalam hal ibadah dan menjauhi kesyirikan, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan- Nya, mencintai yang dicintai-Nya, dan membenci yang dibenci-Nya.

Kedua, agama itu nasihat bagi kitab-Nya. Dengan berpegang kepada agama, umat Islam dapat tetap memelihara kesucian Alquran, membacanya, menggali isinya, dan mengamalkan kandungannya. Mereka juga diharapkan dapat mengajak kepada kebaikan dan kedamaian sesuai nilai yang terkandung dalam kitab suci.

Ketiga, agama itu nasihat bagi Rasulullah SAW. Dalam menjalankan misi kerasulannya, beliau berpegang teguh kepada wahyu Allah. Beliau juga menjaga kesucian dan kemuliaan sebagai teladan umat. Dalam menyampaikan dakwah Islamiyah kepada umatnya, masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat Islamiyah dalam waktu relatif singkat.

Keempat, agama itu nasihat bagi pemimpin Islam. Dengan berpegang kepada agama, para pemimpin hendaknya menjalankan tugas kepemim pinan sesuai ajaran agama. Para pemimpin Islam hendaknya membersihkan diri dari hal tak terpuji sehingga menjadi panutan umat. Mereka juga dituntut mengajak umatnya kepada kedamaian dan kebaikan serta menjauhkan dari kemungkaran.

Seorang pemimpin harus ikhlas memberikan pelayanan terbaik dengan menciptakan kepedulian sosial bagi semua lapisan dan menjadikan kekuasaan sebagai amanah. Hanya dengan ikhlas, seorang pemimpin sukses menghilangkan kecenderungannya mengedepankan kepentingan temporal dibandingkan kemaslahatan umat secara menyeluruh.

Kelima, agama itu nasihat bagi umat Islam. Dengan berpegang kepada agama, umat Islam diharapkan membersihkan diri dari kotoran lahir dan batin. Mereka diharapkan taat kepada Allah, Rasul, dan para pemimpinnya. Mereka juga dituntut saling mengajak kepada kedamaian dan kebaikan serta menjauhkan dari kemungkaran.

 (Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar. syukur, syukur, takwa, )

Jumat, 03 April 2015

KIAT MENJAGA HATI

Rasulullah SAW bersaksi dalam tubuh setiap orang terdapat organ yang keberadaannya sangat berpengaruh terhadap organ lainnya, yaitu hati (kalbu). Jika hatinya baik, baiklah seluruh organ tubuh lainnya. Jika hatinya rusak, rusaklah seluruh organ tubuh lain nya.
Kata baik (shaluhat) dapat dipadankan dengan kata selamat. Jika hatinya selamat, selamatlah seluruh organ tubuh lainnya. Kata rusak (fasadat) dapat dipadankan dengan kata celaka. Jika hatinya celaka, celakalah seluruh organ tubuh lainnya.
Dengan begitu, menjaga hati kita agar tetap berada dalam kategori baik sangat penting karena akan menentukan keselamatan kita. Menjaga hati agar tetap berada dalam kategori baik tentu tidak akan semudah mengucapkannya. Oleh sebab itu, kita perlu menjaganya dengan kiat khusus.
Hasan al-Bisri RA, salah seorang tabi'in terkemuka, pernah berkata, "Hati itu rusak karena enam hal." Maka, kita harus berhati-hati dengan enam hal yang berpotensi merusak hati.
Pertama, melakukan dosa dengan berangan-angan akan segera ditobati dan yakin Allah akan menerima tobatnya. Kedua, mengetahui ajaran Islam, tetapi tidak berusaha mengamalkannya. Ketiga, mengamalkan ajaran Islam, tetapi tidak ikhlas lilaahi ta'ala. Keempat, menikmati rezeki dari Allah, tetapi tidak berusaha mensyukurinya. Kelima, tidak ridha menerima ketentuan dari Allah. Keenam, menguburkan jenazah saudaranya, tetapi tidak mengambil pelajaran darinya.
Maka, agar hati tidak rusak sehingga merusak organ tubuh yang lainnya, kita harus bekerja ektra keras guna menghindari enam hal yang dikemukakan oleh Hasan al-Bisri tersebut. Lalu, bagaimana kiatnya?
Pertama, kita jangan memandang remeh dosa tak terkecuali dosa kecil. Sebab dosa kecil (saja) apabila dilakukan berulang-ulang dapat berubah menjadi dosa besar. Dengan kata lain, kita harus bekerja ekstra keras untuk menghindari dosa. Lebih jauh, apabila kita menyadari telah melakukan dosa jangan berhenti meminta pengampunan pada Allah. Rasulullah SAW sendiri yang dijaga dari perbuatan dosa (ma'shum) senantiasa beristighfar seratus kali setiap harinya. Apalagi, kita?
Kedua, kita bertekad untuk mempelajari ajaran Islam dengan sebaik-baiknya sepanjang hayat di kandung badan. Di samping itu kita bertekad untuk mengamalkannya sedikit demi sedikit dalam kehidupan kita sehari-hari.
Ketiga, kita bertekad untuk mengamalkan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya karena kita yakin dengan firman Allah dalam QS An-Nisa [4] ayat 125 dan QS al-Mulk [67] ayat 2. Keempat, kita bertekad untuk mensyukuri rezeki yang diberikan Allah kepada kita karena kita yakin dengan firman-Nya dalam QS Ibrahim [14] ayat 7.
Kelima, kita bertekad untuk menerima dengan ridha ketentuan Allah yang baik dan yang buruk terhadap kita karena kita yakin itulah yang terbaik buat kita. Keenam, kita bertekad untuk mengambil pelajaran dari kematian saudara-saudara kita karena kita yakin suatu hari akan mengalaminya juga. Wallahu a'lam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, takwa., pendidikan., sabar. syukur., sabar, )

Kamis, 02 April 2015

MEREKA YANG LALAI

 "Maka kecelakaanlah bagi , orang-orang yang shalat (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, ...". (Q.S. Al-Mauun : 4-5)
Secara bahasa Shalat berasal dari bahasa arab yang berarti Do'a. Menurut syariat Islam, praktik shalat harus sesuai dengan segala petunjuk tata cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai figur pengejawantah perintah Allah. Sedangkan menurut istilah shalat adalah ibadah khusus yang terdiri dari beberapa kegiatan mulai dari niat, ruku', sujud, bacaan Al-Fatihah dan sebagainya menurut tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimulai dengan takbirotul ikhram dan diakhiri dengan salaam.
Shalat merupakan satu-satunya Rukun Islam yang perintah kewajibannya disampaikan secara langsung oleh Allah `azza wa jalla kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peristiwa bersejarah Isra' Mi'raj. Perintah langsung ini bukan terjadi secara kebetulan, oleh karena sebenarnya shalat memiliki kedudukan yang sangat vital dan fatal bagi setiap muslim dalam kaitannya dengan hari kemudian dan hari ini.
Sebuah bangunan, setelah adanya pondasi yang merupakan asas sebuah bangunan berdiri, kebutuhan pokok setelah pondasi adalah tiang penyangga, penyokong, yang menguatkan bangunan tersebut. Apabila sebuah bangunan memiliki 5 buah pilar penyangga, maka jika satu dari tiang tersebut roboh maka kekuatan atau kekokohan bangunan tersebut akan berkurang. Demikian seterusnya kekokohan suatu bangunan akan terus berkurang seiring dengan hilangnya pilar-pilar penyangganya satu persatu.
Demikian pula Islam, yang ibaratnya adalah sebuah bangunan dengan syahadat sebagai pondasinya, dakwah dan jihad sebagai atap pelindungnya, dan sholat yang merupakan cerminan syariat Islam sebagai pilar penyangganya. Bila kaum muslimin rajin mendirikan sholat yang lima waktu secara berjamaah di masjid maka berarti mereka telah mengokohkan pilar-pilar Islam. Sebaliknya, apabila kaum muslimin malas, ogah-ogahan mendirikan sholat fardhu yang lima waktu secara berjamaah di masjid, maka berarti mereka telah melemahkan Islam itu sendiri dengan 'merobohkan' pilar-pilarnya.
Bahkan secara tegas dalam sebuah hadits Rasulullah disebutkan bahwa pembeda antara seorang mukmin dan kafir adalah seorang tersebut meninggalkan shalat atau tidak, yang bisa kita maknai bahwa agama Islam telah roboh dari diri seseorang tersebut bisa seorang tersebut meninggalkan shalat, terlepas dari perbedaan pendapat tentang kafir tidaknya orang tersebut.
Penyebutan shalat sebagai tiang Islam adalah tepat, dalam Al-Qur'an kita akan menemukan kata-kata yang digunakan adalah aqaama - yuqiimu (mendirikan). Pemilihan kata tersebut adalah untuk menegaskan bahwa shalat memang benar-benar sebagai pilar penyokong Islam yang dalam pelaksanaannya dihukumi wajib, lima kali dalam sehari semalam, dan dilaksanakan secara bersama-sama (berjamaah) di tempat yang tertentu yaitu masjid. Kita masih ingat kisah Isra' mi'raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mendapatkan perintah shalat secara langsung dari Allah `azza wa jalla yang pada awalnya dibebankan 50 kali dalam sehari semalam.
Tentunya ada maksud dari Allah Yang Maha Mengetahui mengenai jumlah  shalat yang awalnya 50 waktu menjadi hanya lima waktu dalam sehari semalam dalam waktu yang tertentu. Firman Allah`azza wa jalla : "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-kitab (Al-Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain), dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan," (Q.S. Al-Ankabuut : 45).

Lalai dalam Shalat

Allah `azza wa jalla berfirman, "...Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, ..."(Q.S. Al-Maa'uun [107] : 4-6). Dalam ayat tersebut, siapakah yang dimaksud dengan orang yang lalai dari shalatnya? Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan menurut Ibnu Abbas bahwa mereka adalah orang-orang munafik yang mereka shalat ketika ramai orang banyak dan mereka meninggalkan shalat ketika dalam keadaan sunyi tidak dilihat orang. Dalam pengertian yang lebih luas, lalai dalam shalat bisa diartikan lalai dalam waktu pelaksanaan shalat, lalai dengan syarat dan rukunnya, dan lalai dalam menghadirkan kekhusyukan didalamnya.
Al-Haafidz Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya, yang dimaksud orang-orang yang lalai dari shalatnya adalah:


Pertama, Orang tersebut lalai dalam pelaksanaannya. Lalai dalam waktu pelaksanaan shalat maksudnya adalah seseorang melalaikan waktu utama dalam melaksanakan shalat yaitu pada awal waktu. Ia selalu melaksanakan shalat pada akhir waktunya tanpa adanya udzur syar'i. Termasuk juga di dalamnya yaitu mengerjakan shalat di luar waktu yang telah disyari'atkan. Bahkan ia tidak mengerjakan shalat sama sekali ketika waktu shalat telah berlalu. Seseorang lebih disibukkan dengan perkara lain sehingga ia lalai dengan waktu shalat kemudian meninggalkannya.

Kedua, Orang tersebut tidak melaksanakan rukun dan syarat shalat sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah `azza wa jalla dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Lalai dengan syarat dan rukun dalam pelaksanaan shalat; seseorang mengerjakan shalat tidak memenuhi syarat dan rukunnya. Ia melaksanakan sholat bagaikan ayam mematuk makanan, tidak ada ketenangan (thuma'ninah) di dalamnya. Ia melaksanakan shalat tanpa memperhatikan syarat dan rukunnya seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal beliau menyuruh kita shalat seperti shalat beliau, sebagaimana sabdanya, "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku (Nabi) shalat". (H.R. Bukhari/631).
Di sinilah pentingnya ilmu untuk mengetahui bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammendirikan shalat. Termasuk di dalamnya adalah memperbagus wudhu untuk melaksanakan shalat sebagai syarat sah shalat.

Ketiga, Orang tersebut tidak khusyu' dalam shalat dan tidak merenungi makna bacaan shalat. Lalai dalam menghadirkan khusyu' dalam shalat; khusyu' adalah menghadirkan rasa takut (khosyyah) kepada Allah Azza wa Jalla di dalam hati dan menampakkannya dengan perbuatan. Khusyu' dalam shalat bisa digapai dengan hadirnya hati, memahami dan mentadabburi bacaan yang ada di dalam shalat. Pandangan diarahkan menuju ke tempat sujud. Sedangkan lalai dalam menghadirkan khusyu' jauh dari hal-hal yang demikian. Hati orang yang lalai dalam shalatnya dipenuhi dengan perkara di luar shalat, pikirannya pun demikian. Bacaan di lisannya tidak dapat ia pahami maknanya dan tidak bisa ditadabburi.
Dan siapa saja yang memiliki salah satu dari ketiga sifat tersebut maka ia termasuk bagian dari ayat ini (yakni termasuk orang-orang yang lalai dalam shalatnya). Jika ketiga lalai tersebut ada pada diri seseorang dalam shalatnya, maka orang tersebut telah melakukan kemunafikan (munafik amaliy). Seperti yang disabdakan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa yang demikian itu adalah shalatnya orang-orang munafik yang mereka mengerjakan shalat pada  waktu yang dimakruhkan untuk melaksanakan shalat, mereka melaksanakan shalat seperti mematuknya burung gagak, tidak ada ketenangan dan kekhusyuan di dalam shalatnya. (H.R. Muslim/622)
Dalam surat An Nisaa' (4): 142 dijelaskan pula bahwa ketika orang-orang munafik mengerjakan shalat mereka mengerjakannya dalam keadaan malas, tidak ikhlas hanya mengharapkan agar dilihat manusia (riya), dan tidak ada kekhusyukan di dalamnya, dan mereka tidak memahami apa yang diucapkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan dalam haditsnya bahwa shalat paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya' dan shalat Shubuh. Hal ini disebabkan karena mereka riya dalam shalatnya. Shalat Isya' waktunya adalah ketika sebagian malam terlah berlalu. Shalat Shubuh waktunya adalah di penghujung malam.
Kita memohon perlindungan kepada Allah `azza wa jalla dari sifat yang demikian. Selayaknya kita mengerjakan shalat tepat pada waktunya dan yang lebih utama adalah pada awal waktu. Mendirikannya dengan berjamaah di masjid. Kita pahami dan tadabburi bacaan-bacaan yang ada di dalamnya. Dan dengan semampu kita menghadirkan kekhusyukan di dalam shalat kita. Allahu a'lam
(Da'wah, hidayah, keyakinan, syukur, sabar,takwa, )

TIGA GOLONGAN MANUSIA

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan". (Q.S. Al-Qhashash : 77)

Imam Al-Ghazali membagi manusia kepada tiga golongan, dilihat dari sudut pandang jiwa mereka dalam menghadapi kehidupan. Pertama ialah orang-orang yang celaka, yang disebut dengan julukan Al-halikun; kedua, orang-orang yang beruntung, yang dinamakan Al-faizun; ketiga orang-orang yang pertengahan, yang dinamakan Al-Muqtashidun. Baiklah kita uraikan ketiga golongan ini secara singkat; satu demi satu.

Pertama, Al-Halikun
Golongan yang pertama ini senantiasa sibuk dan menyibukkan diri dengan kenikmatan hidup duniawi, dan melupakan sama sekali persiapan-persiapan untuk kehidupan yang akan datang (akhirat). Dunia ini dipandangnya laksana lautan madu yang perlu dicicipi kelezatan rasa manisnya. Walaupun dia menyadari bahwa kenikmatan dunia ini sifatnya sementara dan akan fana, tetapi hatinya telah tertambat padanya.
Meskipun setiap saat dia menyaksikan bahwa dunia ini hanyalah tempat lalu lalang, dimana orang silih berganti datang dan pergi. Sementara yang pergi tidak bisa mengangkut sumber-sumber kenikmatan hidup namun peristiwa-peristiwa itu tidak sedikitpun menggugah hati nurani dan kesadarannya.
Memang sudah menjadi tabiat manusia cinta kepada segala sesuatu yang dipandang sebagai kenikmatan duniawi. Allah ... berfirman : "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)". (Q.S. Ali Imraan : 14)
Meskipun tabiat dan naluri manusia cinta kepada kenikmatan dunia, tapi Allah ... juga menganugerahkan satu instrumen yang dapat mengendalikan keinginan-keinginan itu, yaitu akal. Dengan akal manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana menguntungkan dengan yang merugikan, antara nilai-nilai untuk jangka panjang atau pendek dan lain sebagainya.
Namun, ternyata akal saja tidak cukup. Buktinya, berapa banyak orang yang cerdas, pintar, brilian, otaknya encer tapi justru kepintarannya menyeret kelembah kehancuran dan kebinasaan. Itulah sebabnya akal pun perlu mendapat bimbingan dan petunjuk dari Pencipta dan arsitek akal itu sendiri yaitu Allah ...
Ajaran-ajaran Islam mengandung petunjuk-petunjuk yang dapat dibuat menjadi kompas mengarungi samudera kehidupan ini. Agar jangan sampai tengelam dan berakhir terkubur di dalam dasar lautan (kecelakaan) untuk selama-selamanya. Pada ayat yang lain dalam Al-Qur'an Allah memperingatkan kepada manusia bahwa kehidupan ini laksana pentas drama, atau semacam fatamorgana, yang selalu mengkaburkan pandangan yang sebenarnya. Allah ... berfirman. "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu". (Q.S. Al-Hadid : 20)
Pada ayat di atas ditegaskan lima macam kedudukan kehidupan dunia yaitu, permainan (la'ibun), hal-hal yang melalaikan (laghwun), perhiasan (zinatun), bermegah-megahan (tafakhur), dan berlomba dalam megah-megahan. Apabila manusia tidak pandai memanfaatkan kedudukan yang demikian, maka timbullah bencana dan kecelakaan yang merugikan diri sendiri, bahkan seringkali pula merugika orang lain. Sehingga ia tidak hanya menjadi al-halikun (orang yang celaka) tetapi juga Al-Muhlikun (orang-orang yang mecelakakan) orang lain dan masyarakat.

Kedua, Al-Faizun
Golongan manusia yang kedua dinamakan oleh Imam Al-Ghazali sebagai Al-Faizun, yaitu orang yang beruntung atau yang mendapat kemenangan. Adapun perkataan al-faizun berasal dari bahasa Arab kata fawaza yang artinya menurut istilah Al-Qur'an, memperoleh kebaikan dengan hasil yang mengandung keselamatan. Perkataan al-faizun dalam Al-Qur'an melukiskan personifikasi orang-orang yang mendapat kenikmatan dan keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Juga menggambarkan potret oleh orang-orang yang patuh, tekun, ikhlas, bertaqwa kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah ... berfirman, "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan". (Q.S. At-Taubah : 20)
Dalam ayat yang lain Allah .. berfirman, "Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan". (Q.S. An-Nuur : 52)
Menurut Imam Al-Ghazali, kaum al-faizun (orang yang beruntung) itu ialah orang yang lebih sibuk dan menitik-beratkan amalnya untuk kepentingan kehidupan di akhirat kelak. Ini tidaklah berarti bahwa seluruh kegiatan harus dipusatkan untuk keperluan kehidupan akhirat semata. Sikap hidup yang demikian tidak dibenarkan dalam ajaran Islam.
Pernah terjadi di zaman Rasulullah ... seorang sahabat yang bernama Utsman bin Ma'zhun, menjalankan satu tindakan yang ekstrim dan melampui batas dengan meninggalkan seluruh aktifitas duniawinya. Siang dan malam ia gunakan untuk beribadah kepada Allah. Bahkan, istrinya yang bernama Haula' dilarang untuk "mengganggu dan mendekatinya". Tatkala Rasulullah ... mengetahui hal itu, maka nabi memanggil Utsman bin Ma'zhun dan memerintahkan kepadanya untuk mengurungkan niatnya dan dia harus hidup dan bergaul kembali dengan istrinya seperti biasanya, sebab tindakannya tidak dibenarkan dalam ajaran Islam.

Ketiga, Al-Muqtashidun
Adapun golongan al-muqtashidun itu adalah orang-orang yang pertengahan, yang tidak menyia-nyiakan persiapan (bekal) untuk kehidupan akhirat, tetapi juga memanfaatkan seperlunya kehidupan duniawinya. Menurut pendapat Al-Ghazali Al-Muqtashidin adalah orang-orang yang sibuk memanfaatkan kenikmatan dunia ini untuk kepentingan hidup yang akan datang (Akhirat).
Hal ini selaras dengan firman Allah dalam surat Al-Qashas ayat 77. Pada ayat tersebut disebutkan prioritas untuk mempersiapkan bekal akhirat tanpa meninggalkan kenikmatan duniawi. Yang perlu diperlihara ialah sikap seimbang antara kehidupan  dunia dan akhirat. Meskipun keseimbangan tersebut tidak harus fifty-fifty (50:50). Menjaga keseimbangan ini termasuk salah satu seni  hidup bagi mereka yang mendapatkan hidayah dan taufik Ilahy.
Kehidupan di dunia merupakan permainan dan senda gurau. Ada kalanya menang ada kalanya kalah. Susah dan senang silih berganti. Senangnya merupakan kesenangan menipu, sedihnya merupakan kesengsaraan sementara. Itulah dinamakan kehidupan di alam fana. Sungguh berbeda dengan kehidupan sejati dan abadi di akhirat nanti.
Semoga kita termasuk menjadi hamba-Nya  yang mendapatkan kehidupan dunia ini sebagai sarana untuk mendapatkan keselamatan di kehidupan akhirat kelak
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan takwa, syukur, takwa, pendidikan, )

Rabu, 01 April 2015

RASULULLAH SAW DAN ANAK YATIM

Diriwayatkan dari Sahl, Rasulullah bersabda : "Aku dan pemelihara anak yatim, di surga seperti ini. Lalu beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggangkan di antara keduanya sedikit." (H.R. Al-Bukhari).

Pada suatu pagi Hari Raya Idul Fitri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti biasa setiap hari lebaran, mengunjungi rumah demi rumah untuk mendoakan kaum Muslim agar merasa bahagia, terutama anak-anak. Mereka bermain sambil berlari-lari ke sana ke mari dengan mengenakan pakaian hari rayanya. Namun, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat di sebuah sudut ada seorang gadis kecil sedang duduk bersedih. Ia memakai pakaian tambal-tambal dan sepatu yang telah usang.
Rasulullah pun bergegas menghampirinya. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, lalau menangis tersedu-sedu. Rasul kemudian meletakkan tangannya dengan penuh kasih sayang di atas kepala gadis tersebut, lalu bertanya dengan suaranya yang lembut : "Anakku, mengapa kamu menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?"
Gadis kecil itu terkejut. Tanpa berani mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang bertanya, perlahan-lahan ia menjawab sambil bercerita : "Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan berbahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam. Ia bertarung bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahu-membahu dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?"
Setelah Rasulullah mendengar cerita itu, seketika hatinya diliputi kesedihan yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang ia membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata: "Anakku, hapuslah air matamu... Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu... Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? ... Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu... dan Aisyah menjadi ibumu.... Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?"
Begitu mendengar kata-kata itu, gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya. Masya Allah! Benar, ia adalah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam, orang tempat ia baru saja mencurahkan kesedihannya dan menumpahkan segala gundah di hatinya.
Gadis yatim kecil itu sangat tertarik pada tawaran Rasulullah namun entah mengapa ia tidak bisa berkata sepatah kata pun. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuannya.
Gadis yatim kecil itu lalu bergandengan tangan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammenuju ke rumah. Hatinya begitu diliputi kebahagian yang sulit untuk dilukiskan, karena ia diperbolehkan menggenggam tangang Rasulullah yang lembut itu.
Sesampainya di rumah Rasulullah, wajah dan kedua tangan gadis kecil itu lalu dibersihkan dan rambutnya disisir oleh beliau. Semua memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.
Gadis kecil itu lalu dipakaikan gaun yang indah dan diberikan makanan, juga uang saku untuk hari raya. Lalu ia diantar keluar, agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya.
Anak-anak lain merasa iri pada gadis kecil dengan gaun yang indah dan wajah yang berseri-seri itu. Mereka merasa keheranan, lalu bertanya: "Gadis kecil, apa yang telah terjadi? Mengapa kamu terlihat sangat gembira?"
Sambil menunjukkan gaun baru dan uang sakunya gadis kecil itu menjawab : "Akhirnya aku memiliki seorang ayah? Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya! Siapa yang tidak bahagia memiliki seorang ayah seperti Rasulullah? Aku juga kini memiliki seorang ibu, namanya Aisyah, yang hatinya begitu mulia. Juga seorang kakak perempuan, namanya Fatimah. Ia menyisir rambutku dan mengenakanku gaun yang indah ini. Aku merasa sangat bahagia, dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya."

Menyantuni Anak Yatim
Yatim berasal dari bahasa Arab yang berarti orang yang kehilangan (kematian) ayahnya, bukan ibunya. Anak yatim wajib disantuni karena ia kehilangan ayah yang wajib menanggung nafkahnya. Namun demikian, orang yang kehilangan (kematian) ibunya tetap wajib disantuni sebagaimana halnya anak yatim. Apalagi kalau kehilangan (kematia) kedua orang tuanya sekaligus.
Adapun piatu adalah istilah dalam bahasa Indonesia untuk sebutan bagi anak yang kehilangan (kematian) ibunya. Sehingga anak yang kehilangan (kematian) ayah dan ibunya sering disebut dengan yatim piatu. Masa keyatiman seorang anak itu ada batasnya, yaitu ketika ia telah baligh dan tampak rusyd (kemandirian) pada dirinya. Firman Allah `azza wa jalla, "Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya." (Q.S. An-Nisa' [4] : 6).
Secara terperinci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memberi contoh bagaimana cara menyantuni anak yatim. Yang jelas, cara menyantuni anak yatim itu adalah dengan memuliakan, memperhatikan, memberi kasih sayang, memenuhi kebutuhan hidupnya (makan, minum, pakaian, tempat tinggal), pendidikannya, kesehatannya dan segala sesuatu yang diperlukannya agar menjadi anak yang shalih, mandiri dan berguna. Sehingga ia dapat bermanfaat bagi orang lain dan tidak teracuhkan.

Membelai Rambut Anak Yatim
Apakah ada tuntunannya memberi santunan dengan prosesi membelai-belai rambut anak yatim oleh jamaah secara bergiliran? Apakah dibenarkan yatim remaja putri dibelai-belai sedemikian rupa oleh jamaah laki-laki dari remaja hingga dewasa?
Tentang membelai rambut anak yatim, memang ada sebuah hadits sebagai berikut: "Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa ada seorang laki-laki yang mengadukan kekerasan hatinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda : "Usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin." (H.R. Ahmda dengan perawi shahih).
Menurut hadits ini, mengusap kepala anak yatim dan memberi makan orang miskin mempunyai pengaruh yang sangat baik pada diri seseorang, yaitu dapat melembutkan hati yang keras. Dalam prakteknya, kedua hal tersebut dilakukan dengan penuh keinsyafan hati secara natural (tidak dibuat-buat) atau dipaksa-paksakan). Mengusap kepala anak yatim adalah simbol atau cara menunjukkan empati dan kasih sayang, bukan ritual yang harus dilakukan. Sudah barang tentu yang diusap adalah kepala anak yatim yang belum dewasa. Adapun orang laki-laki membelai rambut anak yatim putri yang sudah menginjak usia remaja adalah dilarang karena menimbulkan fitnah.
Demikianlah, beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam menyantuni anak yatim. Semoga kita dapat mengikuti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang selalu santun dan mengasihi anak yatim. Wallahu a'lam bish-shawab
(hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, syukur, sabar, kisah, pendidikan, Da'wah)


***)republika

MANTAN BIARAWATI MASUK AGAMA ISLAM


Mantan Biarawati, Aminah Assilmi, mengaku mendapat ancaman akan dibunuh ketika dirinya masuk Islam. Tidak hanya itu, dia juga diancam akan dimasukkan kedalam rumah sakit jiwa karena dianggap mengalami gangguan mental.
Hal itu diutarakannya dalam sebuah rekaman video dirinya memaparkan pengakuan masuk Islam dalam sebuah forum diskusi. Dalam video tersebut dia memaparkan pengakuannya kenapa memeluk Islam. “Saya menyadari dan merasakan kebesaran Allah,” ungkapnya dalam video tersebut.
Dia mengetahui betul kasih Allah yang sangat besar kepada seluruh manusia. Ditambah lagi dengan keimanan yang menghadirkan ketenangan di dalam hatinya.
Aminah terekam dalam video tersebut mengenakan jilbab putih. Dia berbicara dengan kalem tanpa ada ledakan emosi.
Aminah Assilmi adalah Presiden Internasional Union of Muslim Women yang telah meninggal dunia pada 6 Maret 2010, dalam sebuah kecelakaan mobil di Newport, Tennesse, Amerika Serikat.
Perjalanannya menuju Islam cukup unik. Perjalanan yang patut dikenang. Semuanya berawal dari kesalahan kecil sebuah komputer. Mulanya, ia adalah seorang gadis jemaat Southern Baptist–aliran gereja Protestan terbesar di AS, seorang feminis radikal, dan jurnalis penyiaran.

Sewaktu muda, ia bukan gadis yang biasa-biasa saja, tapi cerdas dan unggul di sekolah sehingga mendapatkan beasiswa.   (hidayah, hikmah, keyakinan, syukur, tokoh, kisah, )