Senin, 07 Desember 2015

KASIH SAYANG GURU

Bagi anak, pendidikan merupakan hak. Bagi orang tua dan guru, pendidikan merupakan kewajiban. Firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS at-Tahrim[66]: 6). 
Ali Ibnu Abu Thalib menjelaskan, cara untuk menjaga diri dan keluarga adalah dengan mengajar dan mendidik anak-anak. Mendidik anak berarti memuliakan mereka. Menelantarkan anak berarti menjerumuskan diri dan keluarga ke dalam neraka.
Mendidik dan mengajar adalah tugas orang tua dan guru sebagai pendidik. Kedua ikhtiar ini membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Caranya pun harus dilakukan dengan penuh kasih sayang. Bukan dengan cara menghardik dan menghajar. 
Karena, sikap kasar cenderung merusak pikiran dan jiwa anak-anak. Merawat anak-anak mesti dengan rasa welas asih. Menghardik berbeda dengan mendidik. Menghajar berbeda dengan mengajar. Menghardik dan menghajar tak mungkin terjadi jika guru menjadikan rasa kasih sayang sebagai cara terbaik mendidik anak-anak. 
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang tidak punya belas kasihan, niscaya tidak akan dikasihani” (HR Bukhari). Guru harus mendidik dengan kasih sayang dan penuh perhatian. 
Mendidik dengan kasih sayang bisa tampak melalui sikap hidup yang ditunjukkan guru kepada murid. Guru punya kewajiban sekaligus etika dalam mendidik anak dengan landasan kasih sayang. Pertama, guru adalah orang tua bagi murid-murid.
Sesungguhnya aku bagi kalian tiada lain hanyalah seperti orang tua kepada anaknya. Aku mengajari kalian.” (Ibnu Majah melalui Abu Hurairah). 
Kedua, guru menyadari anak merupakan amanah titipan dari Allah SWT. Tak ada istilah anak kandung dan anak tiri. Semua murid harus diperlakukan bak anak kandung. Guru bertanggung jawab penuh atas cara dan proses pendidikan murid di sekolah.
Imam Al Ghazali berkata, “Hak guru atas muridnya lebih agung dibanding hak orang tua terhadap anaknya. Orang tua sering hanya menjadi penyebab adanya anak di alam fana dan guru menjadi penyebab hidupnya yang kekal.” Peran guru sungguh amat penting dan strategis bagi pendidikan anak di sekolah. 
Ketiga, cara perhatian guru kepada murid yang proporsional. Guru tak berlebihan dalam memberikan penghargaan dan hukuman. Jangan pelit tapi juga tak mengumbar pujian. Jangan enggan dan ragu, tapi juga tak setiap saat memberikan teguran. 
Sikap baik ini membangun cara pandang guru yang tepat terhadap sosok anak pintar dan anak nakal. Anak pintar dan nakal bisa jadi sumber cobaan bagi guru. Anak pintar bisa menjebak guru jadi bersikap terlena dan merasa hebat. 
Mendidik anak pintar menjadi sosok rendah hati pun bukan perkara mudah. Sebaliknya, anak nakal bisa meruntuhkan batas kesabaran guru. Tak jarang guru yang tak mampu menguasai hawa nafsunya bisa menghardik, bahkan memukul anak. 
Ibnu Khaldun pernah berkata, “Barang siapa yang menerapkan pendidikannya dengan cara kasar dan paksaan terhadap orang-orang yang menuntut ilmu kepadanya, para budak, atau para pelayannya, maka orang yang dididik olehnya akan dikuasai oleh serbaketerpaksaan. Keterpaksaan akan membuat jiwanya merasa sempit dan sulit untuk mendapatkan kelapangan. 
Jika guru menggunakan cara-cara kekerasan saat mendidik anak, makna mendidik jadi kehilangan esensinya. Nilai-nilai kemanusiaan pada diri anak menjadi tergerus. Dampaknya akan membuahkan anak didik yang berjiwa lemah, labil emosinya, lemah tekad dan inisiatif, serta punya citra diri yang buruk. 
Mendidik dan memberikan tuntunan merupakan sebaik-baik hadiah paling indah bagi anak. Dan sebaik-baik cara mendidik anak adalah proses yang didasari rasa kasih sayang. 
Karena itu berarti guru menyadari bahwa dirinya sedang memuliakan nilai-nilai kemanusiaan dan menjunjung tinggi nilai Ilahiah dalam mengajar dan mendidik anak.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, syukur, sabar, takwa, )


***)  Asep Sapa'at 

Minggu, 06 Desember 2015

KARENA KITA CINTA DUNIA & TAKUT MATI

Dan Paris pun terguncang. Dari rilis resmi, 153 orang telah terenggut nyawanya dalam tragedi Jumat (13/11). Bom meledak atau diledakkan di enam titik di kota kiblat fashion dunia itu. Menilik dari jumlah korbannya, peristiwa ini boleh jadi merupakan salah satu peristiwa terorisme terbesar di Eropa sejak Perang Dunia ke-II. Mata dunia pun berduka atas peristiwa ini.
Baik, kita boleh bersedih dan berduka untuk korban Paris. Tetapi jangan lupakan, ada kelompok yang juga menjadi korban dari tragedi ini. Mereka memang tidak mengalaminya langsung, tapi kelompok ini akan menjadi salah satu yang paling merasakan pahitnya tragedi pengeboman Paris. Mereka adalah komunitas Muslim di Eropa, terutama yang berada di negara Prancis.
Saudara-saudara kita harus bersiap-siap untuk menerima perlakuan tidak menyenangkan dari warga Barat yang termakan hasutan media. Dan juga jangan lupakan, peristiwa superdahsyat telah terjadi dan sedang terjadi di tanah negeri-negeri Islam. Di Palestina, Afghanistan, Irak, Suriah, Rohingnya, dan lain-lain. Kemana suara empati dunia untuk kesewenang-wenangan yang terlestari terus-menerus itu. Semua seperti mendadak tuli, buta, dan bisu.
Kolaborasi kaum musyrikin dengan Muslim yang faasiqiin dan munafiqin, semakin meringkihkan keadaan umat Islam. Berharap kepada saudaranya yang seiman, sayangnya mereka lebih asyik menikmati ingar-bingar kemaksiatan dan gemerlap dunia. Mereka cuek, masa bodoh dan tidak mau peduli sedikit pun terhadap keadaan saudaranya yang seiman.
Subhanallah, keadaan ini persis dengan apa yang telah Rasulullah sampaikan 15 abad silam. Dari Tsauban RA Rasulullah SAW bersabda, "Hampir terjadi kelak keadaan yang mana umat-umat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang rakus yang makan mengerumuni makanannya." Salah seorang sahabat berkata, "Apakah karena sedikitnya kami ketika itu?" Nabi SAW berkata: bahkan, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ghutsa'(buih kotor yang terbawa air saat banjir). Pasti Allah akan cabut rasa segan yang ada di dalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa wahn. Kata para sahabat, "Wahai Rasulullah, apa wahnitu? Beliau bersabda, `Cinta dunia dan takut mati'." (HR Abu Daud No 4297, Ahmad 5/278).
Ya, kita lebih mencintai dan menikmati urusan dunia, sampai-sampai setiap hari darah tumpah di bumi Islam, kita tidak mengetahuinya. Ikhwah, semakin takutlah kepada Allah. Tetapkan diri dalam istiqamah. Bangunlah shalat malam, selalu berjamaah Subuh di masjid. Hidupkan hati dengan zikir dan selalu jaga wudhu. Hidupkan sunah Rasulullah. Bimbing dan selamatkan keluarga. Bergabunglah dengan para sahabat yang saleh. Dengarkan nasihat hikam. Bergurulah kepada ulama istiqamah. Hadirilah majelis ilmu dan zikir.
Lalu, maksimalkan perhatian, pikiran, harta, dan doa terhadap keadaan umat Islam. Terutama sederhanalah, jangan banyak tertawa dan jaga perasaan. How can we sleep on the blood of syuhada Palestina, Afghanistan, Irak, Suriah, Afrika. Tetaplah bangga dengan Islam. Teruslah kibarkan panji dakwah Islam.
Sikap ini pasti akan dianggap asing, aneh, kampungan, sok alim, ekstrem, bahkan dituduh teroris. Rasulullah bersabda, "Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya. Karena itu, beruntunglah orang-orang yang asing," (HR Muslim). Allahummaya Allah selamatkanlah kami, keluarga kami, negeri kami, seluruh umat Rasulullah yang sangat kami cintai.Amin.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, pendidikan, syukur, sabar, takwa, )

***) Muhammad Arifin Ilham

Sabtu, 05 Desember 2015

PAKET KEZALIMAN

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak merasa.” (QS. al Baqarah [2]:11-12). 
Alquran menyebutkan sejumlah kaum dan tokoh yang melakukan perbuatan destruktif atau kezaliman di muka bumi. Seperti, bangsa Yahudi, kaum Tsamud, Yakjuj dan Makjuj, Fir’aun, Qarun, dan sederetan nama dan kaum lainnya. 
Mereka diabadikan dalam Alquran sebagai pelaku atau agen kerusakan, al Mufsiduuna fil Ardh. Atau dengan bahasa lain, az Zhalimun (orang-orang yang berbuat zalim). Secara umum dan spesifik, Alquran juga menerangkan diversitas atau bentuk-bentuk kerusakan yang terjadi di atas bumi. 
Misalnya, merampas atau mencuri harta milik orang lain, baik pribadi maupun milik umum (QS Yusuf [12]: 73). Menghalang-halangi manusia menuju jalan yang diridhai Allah merupakan bentuk kerusakan di muka bumi (QS al-‘Araf [7]:86). 
Menuruti hawa nafsu duniawi dengan gejalanya seperti cinta dunia dan takut mati, budaya meterialistik, hedonis, tamak dan seumpamanya (QS. al-Mukminun [23]: 71).
Termasuk jenis kerusakan yang dijelaskan dalam Alquran adalah sikap orang-orang Mukmin yang menjadikan orang-orang yang tidak seakidah sebagai pemimpin (QS al Anfal [8]:73). 
Lebih-lebih apabila umat Islam menjadikan sekelompok orang sebagai teman setia atau kiblat politik, padahal selama ini mereka jelas-jelas memusuhi dan memerangi atas nama agama (QS. al-Mumtahanah [60]:8-9). 
Demikian juga kepongahan dan kesewenang-wenangan dengan segala indikatornya, seperti merancang konflik, penindasan dan pembunuhan secara biadab adalah bentuk kerusakan yang sangat nyata (QS al-Qashash [28]:4). 
Seorang pakar tafsir terkemuka di era sahabat, Abdullah bin Mas’ud, ketika menafsirkan ayat yang dikemukakan pada pendahuluan di atas (QS al-Baqarah [2]:11-12) mengatakan, yang dimaksud kerusakan di muka bumi dalam ayat ini adalah jalan kekufuran dan perbuatan maksiat. 
Sehingga logis, apabila sejumlah ulama tafsir menarik sebuah kesimpulan, kekufuran dan maksiat kepada Allah merupakan sumber kerusakan. Maknanya, status kufur dan maksiat adalah akar kerusakan yang menimbulkan kerusakan-kerusakan yang lain di atas bumi. 
Sebagaimana dikatakan salah seorang ahli tafsir, Imam Asy-Syaukani, perbuatan syirik (menyekutukan Allah) dan maksiat adalah sebab timbulnya berbagai kerusakan di alam semesta. Kesimpulannya, Islam adalah agama yang menghendaki keselamatan dan kemakmuran di atas bumi. 
Apa pun bentuk kerusakan dan kemudharatan sebagaimana disebutkan di atas, semuanya bertolak belakang dengan prinsip dan syariat Islam.
Orang-orang yang memerangi Allah dan rasulNya dan orang-orang yang senantiasa berbuat kerusakan merupakan satu paket kezaliman yang sejak dulu diperangi oleh para Nabi dan Rasul. 
Adapun ancaman atau hukuman yang pantas bagi orang-orang yang melakukan paket kezhaliman di atas, Alquran kembali menunjukkan salah satu dimensi kemukjizatannya kepada kita.
Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya dan membuat kerusakan di bumi, hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar. Kecuali orang-orang yang bertaubat sebelum kamu menguasai mereka, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.” (QS al-Maidah [5]:33-34). Wallahu Al-musta’aan.
(PAKET  KEZALIMAN
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak merasa.” (QS. al Baqarah [2]:11-12). 

Alquran menyebutkan sejumlah kaum dan tokoh yang melakukan perbuatan destruktif atau kezaliman di muka bumi. Seperti, bangsa Yahudi, kaum Tsamud, Yakjuj dan Makjuj, Fir’aun, Qarun, dan sederetan nama dan kaum lainnya. 
Mereka diabadikan dalam Alquran sebagai pelaku atau agen kerusakan, al Mufsiduuna fil Ardh. Atau dengan bahasa lain, az Zhalimun (orang-orang yang berbuat zalim). Secara umum dan spesifik, Alquran juga menerangkan diversitas atau bentuk-bentuk kerusakan yang terjadi di atas bumi. 
Misalnya, merampas atau mencuri harta milik orang lain, baik pribadi maupun milik umum (QS Yusuf [12]: 73). Menghalang-halangi manusia menuju jalan yang diridhai Allah merupakan bentuk kerusakan di muka bumi (QS al-‘Araf [7]:86). 
Menuruti hawa nafsu duniawi dengan gejalanya seperti cinta dunia dan takut mati, budaya meterialistik, hedonis, tamak dan seumpamanya (QS. al-Mukminun [23]: 71).
Termasuk jenis kerusakan yang dijelaskan dalam Alquran adalah sikap orang-orang Mukmin yang menjadikan orang-orang yang tidak seakidah sebagai pemimpin (QS al Anfal [8]:73). 
Lebih-lebih apabila umat Islam menjadikan sekelompok orang sebagai teman setia atau kiblat politik, padahal selama ini mereka jelas-jelas memusuhi dan memerangi atas nama agama (QS. al-Mumtahanah [60]:8-9). 
Demikian juga kepongahan dan kesewenang-wenangan dengan segala indikatornya, seperti merancang konflik, penindasan dan pembunuhan secara biadab adalah bentuk kerusakan yang sangat nyata (QS al-Qashash [28]:4). 
Seorang pakar tafsir terkemuka di era sahabat, Abdullah bin Mas’ud, ketika menafsirkan ayat yang dikemukakan pada pendahuluan di atas (QS al-Baqarah [2]:11-12) mengatakan, yang dimaksud kerusakan di muka bumi dalam ayat ini adalah jalan kekufuran dan perbuatan maksiat. 
Sehingga logis, apabila sejumlah ulama tafsir menarik sebuah kesimpulan, kekufuran dan maksiat kepada Allah merupakan sumber kerusakan. Maknanya, status kufur dan maksiat adalah akar kerusakan yang menimbulkan kerusakan-kerusakan yang lain di atas bumi. 
Sebagaimana dikatakan salah seorang ahli tafsir, Imam Asy-Syaukani, perbuatan syirik (menyekutukan Allah) dan maksiat adalah sebab timbulnya berbagai kerusakan di alam semesta. Kesimpulannya, Islam adalah agama yang menghendaki keselamatan dan kemakmuran di atas bumi. 
Apa pun bentuk kerusakan dan kemudharatan sebagaimana disebutkan di atas, semuanya bertolak belakang dengan prinsip dan syariat Islam.
Orang-orang yang memerangi Allah dan rasulNya dan orang-orang yang senantiasa berbuat kerusakan merupakan satu paket kezaliman yang sejak dulu diperangi oleh para Nabi dan Rasul. 
Adapun ancaman atau hukuman yang pantas bagi orang-orang yang melakukan paket kezhaliman di atas, Alquran kembali menunjukkan salah satu dimensi kemukjizatannya kepada kita.
Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya dan membuat kerusakan di bumi, hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar. Kecuali orang-orang yang bertaubat sebelum kamu menguasai mereka, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.” (QS al-Maidah [5]:33-34). Wallahu Al-musta’aan.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa., )

***) Imron Baehaqi



***) Imron Baehaqi

Jumat, 04 Desember 2015

MENASEHATI ITU ANJURAN AGAMA

Dikisahkan bahwa seseorang datang menasihati khalifah al-Makmun dengan cara yang lantang dan tidak santun. Khalifah lalu menimpalinya.
"Orang yang lebih baik darimu pernah datang memberi peringatan kepada orang yang lebih buruk dariku. Sesungguhnya Nabi Musa dan Nabi Harun Alaihimassalam diutus Allah kepada Firaun dengan seruan, 'Maka berkatalah kepadanya (Firaun) dengan qaulan layyinan (ucapan yang lembut).'" (QS Taha [20]: 44).
Nasihat dalam hidup ini sangat diperlukan. Dengan nasihat, seseorang bisa mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan, apa kekurangan, dan bagaimana seharusnya. Seseorang membutuhkan saran dari orang lain agar menjadi lebih baik. Sebab, manusia tidak bisa melakukan apa pun sendiri, melainkan butuh nasihat, saran, atau masukan dari orang lain.
Dalam menasihati seseorang hendaklah memilih bahasa yang santun dan lembut. Sering kali orang menggunakan kalimat yang tidak tepat lagi berintonasi tinggi dalam menegur orang lain. Hal ini tentu memberi kesan tidak baik. Menasihati berbeda dengan marah-marah meski tujuannya kadang sama.
Nasihat dengan menggunakan bahasa yang kasar, nada meninggi, sikap tidak santun, dan terkesan menantang debat otomatis tidak akan mudah diterima oleh orang yang dinasihati meski kesalahannya itu nyata dan benar adanya. Kesantunan berbahasa dan kearifan sikap sangat berpengaruh diterima atau tidaknya nasihat itu. Jadi, pemberi nasihat harus cerdas memilah dan memilih bahasa yang tepat.
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziah menyebut perbedaan antara menasihati dan mempermalukan. Menurut beliau, menasihati itu berlaku adil dan ihsan kepada yang dinasihati, menampakkan kasih sayang kepadanya, tidak sudi melihat saudaranya melakukan kesalahan. Niatnya hanya mencari keridhaan Allah. Dia berlaku layaknya seorang dokter yang mengetahui sakitnya pasien lalu menentukan obat yang tepat agar pasiennya lekas sembuh.
Adapun mempermalukan seseorang itu niatnya mengubah sambil menghinakan, mencela orang yang diperingatinya. Celaannya berbentuk nasihat. Dia berkata padanya, "Hai engkau, mengapa berbuat begini begitu? Hai, celaka engkau, tercelalah dirimu," sambil pura-pura menasihati.
Di antara adab memberi nasihat, hendaklah ketika menasihati ia dalam keadaan sendirian. Sebab, barang siapa yang menutupi kesalahan saudaranya, Allah akan menutupi kekurangannya di dunia akhirat.
Ini perkara sulit karena semua menyadari jika menasihati di hadapan banyak orang maka pemberi nasihat akan terlihat pintar, arif, dan ahli, tetapi orang yang dinasihati tentu merasakan hal berbeda. Dia pasti merasa malu, tidak enak, bahkan mungkin dongkol.
Berkata Imam as-Syafi'i, "Barang siapa menasihati saudaranya secara rahasia, maka ia telah benar-benar menasihatinya dan memuliakannya. Dan siapa yang menasihatinya secara terang-terangan, maka ia telah menistakan dan memalukannya."
Seseorang itu harus siap dipuji dan sebaliknya siap pula diberi masukan atau dikritik sekalipun. Bila pujian itu sering subjektif dengan menyebut kebaikan yang kadang dilebih-lebihkan, teguran atau kritikan itu adalah menyampaikan kekurangannya, kesalahannya, baik sikap maupun tata cara. Dengan itu dia bisa memperbaiki diri. Bisa meminimalkan kekeliruannya dengan tidak mengulang lagi di kemudian hari.
Demikianlah, menasihati itu adalah anjuran agama. Itu juga bagian dari amar makruf nahi mungkar. Kepedulian seseorang dengan datang menasihatinya menandakan kasih sayang pada saudaranya.
Kesiapan menerima masukan adalah tanda kebesaran hati dan jiwa penerima nasihat. Bahkan, ia pun akan berdoa, "Semoga Allah merahmati dan membalasmu dengan kebaikan karena nasihatmu padaku menunjukkan kekuranganku."
(Da'wah, hidayah, hikmah, kebesaran, keyakinan, sabar, syukur)


***) Tgh Habib Ziadi

Kamis, 03 Desember 2015

PERSAHABATAN YANG MENYEMBUHKAN

Diceritakan, sebut saja tiga perempuan itu bernama A, B, dan C. Ketiganya tinggal di perumahan besar Bekasi. Mereka begitu dekat, bahkan hati dan pikiran mereka sedekat jari manis dan kelingking. Saking dekatnya, mereka tak bisa dipisahkan. Hingga suatu ketika salah satu di antara mereka, sebut saja A, mengalami sakit.
"Kring!" telepon berbunyi di rumah A. "Halo...." jawab suami A yang saat itu sedang menemaninya. "Saya B Pak, apa benar A sedang sakit?" tanyanya. "Benar, sudah dua hari ini istri saya A sakit." "Kalau begitu saya akan ajak C langsung ke rumah Bapak," ucapnya sambil cepat-cepat menutup telepon. Sesampai di rumah A, B dan C langsung memeluk temannya yang sakit itu dengan pelukan hangat seorang sahabat.
Anehnya, setelah B dan C datang dan memeluk, kondisi sakit A langsung berubah. A seakan dapat "obat mujarab" dari kedatangan dan pelukan B dan C. Hasilnya A sembuh dari sakitnya. Namun, ketika B dan C pulang, paginya A sakit lagi. Akhirnya suami A meminta B dan C tinggal sementara di rumahnya agar sakit A bisa cepat disembuhkan.
Inilah yang dalam bahasa psikologi layanan disebut emotional bonding (keterikatan emosi). Sebuah peristiwa yang bisa muncul karena adanya persahabatan yang kuat. Ini bukan sugesti, bukan pula mitos dan ilusi. Ini nyata adanya bahwa persahabatan yang kuat itu bisa menyembuhkan. Hal ini pula seirama dengan sabda Nabi SAW, "Orang mukmin satu dengan yang lainnya seperti sebuah bangunan, satu sama lain saling menguatkan (HR Bukhari dan Muslim).
Sakit yang dialami A sembuh bukan karena obat-obatan medis, melainkan karena kedatangan dan pelukan kedua sahabatnya, B dan C. Kenyataan ini semakin memberikan pelajaran pada kita semua bahwa arti persahabatan saat ini perlu di-rejuvenasi (diremajakan) dan direinterpretasi (dimaknai ulang). Karena, selama ini orang berteman atau bersahabat lebih didominasi karena adanya kepentingan, bukan ketulusan yang dalam. Padahal, Alquran memberikan motivasi pada kita, "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara" (QS al-Hujuraat [49]:10).
Persahabatan ketiga perempuan dalam satu kompleks perumahan di atas semakin membuktikan bahwa tanpa kepentingan pun mereka bisa bersabahat dengan baik dan indah. Bahkan, melebihi kata baik dan indah. Ketika saya bertanya kepada salah satu di antara mereka, "Apa yang menyebabkan persahabatan kalian bisa baik dan kuat begini?"  Salah satu di antara mereka menjawab, "Semuanya karena sejak awal persahabatan kita didasari rasa saling memiliki dan melayani." Inilah yang saat ini langka di negeri ini.
Tokoh politik, tokoh masyarakat, ilmuwan, cendekiawan, tokoh agama, mahasiswa, dan siapa saja perlu belajar dari model persahabatan ketiga ibu-ibu tersebut. Saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami penyusutan persatuan dan kesatuan nyata adanya. Satu sama lain berlomba-lomba untuk mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya masing-masing di atas kepentingan umat dan rakyat.
Akibatnya hubungan mereka sebatas transaksional semata. Bukan saling memiliki dan melayani. Persatuan dan kesatuan adalah harga mati bagi bangsa ini. Tanpa persatuan dan kesatuan, bangsa ini akan semakin mudah goyah, rapuh oleh tantangan zaman. Nah, model persahabatan di ataslah yang patut kita coba terapkan sebagai dasar untuk memperkuat fondasi persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia.
(Da'wah, hidayah, hikmah, sabar, syukur, takwa, )


***)  Abdul Muid Badrun

Rabu, 02 Desember 2015

5 KEGELAPAN MENURUT KHALIFAH ABU BAKAR

Dalam pandangan Abu Bakar ash-Shiddiq RA, kegelapan jumlahnya ada lima. Kelima-limanya dapat merugikan manusia. Supaya terhindar dari kerugian, manusia dituntut mengoptimalkan potensinya masing-masing.
Pertama, mencintai dunia. Rasulullah SAW bersabda, "Mencintai dunia adalah pangkal segala kesalahan." (HR Baihaqi). Dalam konteks ini, al-Ghazali berkata, "Karena dunia adalah pangkal segala kesalahan maka membenci dunia adalah pangkal segala kebaikan."
Agar tidak mencintai dunia, manusia dituntut untuk melazimkan ketakwaan. Yakni, menjaga diri dengan melazimkan ketaatan kepada Allah demi menghindari siksa-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Jika kamu meninggalkan sesuatu karena takwa kepada Allah 'Azza Wa Jalla maka Dia akan memberimu sesuatu yang lebih baik darinya." (HR Ahmad dan Nasa'i).
Kedua, perbuatan dosa. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya jika seorang hamba melakukan sebuah kesalahan maka kesalahan tersebut akan memunculkan noda hitam di hatinya. Jika dia melepaskan dirinya dari dosa dan beristighfar maka terhapuslah noda hitam di hatinya. Jika dia mengulangi lagi dosanya maka akan bertambahlah noda hitam di hatinya bahkan akan menguasai hatinya. Noda tersebut adalah karat berwarna hitam." (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa'i, Ibnu Hibban, dan al-Hakim).
Ketiga, pekuburan. Dikatakan, pekuburan itu keadaannya gelap. Dijelaskan, ada enam perkara yang dapat menerangi pekuburan: ikhlas dalam beramal, berbakti kepada kedua orang tua, silaturahim, tidak menghabiskan usia dalam kemaksiatan, tidak menuruti hawa nafsu, gemar melakukan ketaatan, dan mengingat Allah sebanyak-banyaknya.
Keempat, akhirat. Dikatakan, akhirat itu keadaannya gelap lantaran begitu banyaknya hal-hal yang menakutkan. Dijelaskan, agar dapat terhindar dari kegelapan akhirat manusia harus meneranginya dengan amal saleh sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Baik ketentuan yang ringan maupun yang berat.
Rasulullah SAW cenderung mengedepankan ketentuan yang ringan. Rasulullah SAW bersabda, "Tunaikan ketentuan yang berat (azimah) dan terimalah ketentuan yang ringan (rukhshah) dan biarkanlah manusia melakukannya; sesungguhnya kalian telah dijaga dari mereka." (HR al-Khatib).
Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa tidak menerima rukhshah dari Allah maka dia telah berdosa sebesar Gunung Arafah." (HR Ahmad). Dalam riwayat lain, "Sesungguhnya, Allah mengutusku dengan agama yang ringan lagi pula mudah: agama Ibrahim." (HR Ibnu Asakir). 
Kelima, jembatan (shirath). Dikatakan, shirath itu gelap. Dijelaskan, agar terhindar dari kegelapan shirath, manusia dituntut mempercayai perkara gaib tanpa keragu-raguan sedikit pun. 
Perkara gaib yang dituntut memercayainya, antara lain, adanya malaikat, adanya hari kiamat, adanya perhitungan/balasan amal, dan adanya kehidupan abadi di akhirat. Dengan begitu, manusia akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindari lima kegelapan yang dapat merugikan dirinya.
Manusia dijamin akan selamat di dunia dan di akhirat bila dia memegang teguh ketentuan kitab Allah dan sunah Rasul-Nya. Wallahu a'lam. 
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Mahmud Yunus

Selasa, 01 Desember 2015

SAKU KEBERKAHAN

Pagi itu cuaca cerah membelah pinggiran Kota Semarang, Jawa Tengah. Angin semilir menyapa tanda pagi tiba. Selepas shalat shubuh di masjid, saya berhenti melihat kerumunan. Tampak orang duduk rapi di pinggir jalan menyantap sarapan. 
Kendaraan lalu lalang tak dihiraukan. Saya penasaran dan menghampirinya. Ternyata mereka sedang menyantap sepincuk nasi. "Bu, saya satu pincuk ya," pintaku. "Antre ya mas," jawabnya singkat. Suasana pagi itu begitu indah. 
Satu per satu pembeli dilayani dengan tertib. Jauh dari kesan rebutan seperti yang sering saya lihat di kota-kota besar. "Bu, sepincuk nasi berapa harganya?" "Tiga ribu mas," jawabnya singkat sambil melayani pembeli lainnya. 
Sungguh, saya tergaget. Uang Rp 3.000 dapat sepincuk nasi. Padahal di kota-kota besar, untuk bayar parkir pun kurang. Apalagi untuk makan. "Jam berapa buka-nya, Bu?" tanyaku. "Jam 5, Mas". "Terus habisnya biasanya jam berapa?" "Jam 7..." jawabnya. 
"Ibu tinggalnya di mana?". "Di Gubug, Mas". Gubug adalah kecamatan di wilayah Grobogan, Purwodadi. Butuh dua jam perjalanan untuk sampai ke lokasi. Hal ini dilakukannya lebih dari 10 tahun lamanya. 
Dari ceritanya, ibu ini memiliki tiga putra. Semuanya kuliah dan ada yang sudah sarjana. Kesederhanaannya memikatku. Betapa besarnya Allah SWT. Allahu Akbar! Betapa Mahadilnya Allah. Betapa kasih dan sayangnya Allah pada hamba-hamba-Nya. 
Kasihnya tak pernah pilih kasih. Sayangnya tak pernah hilang ditelan zaman. Semua hamba-Nya diberi ketika mau berusaha tiap hari. Termasuk ibu-ibu penjual nasi pincuk di pinggir jalan Kota Semarang ini.
Kita mestinya merasa malu (pada penjual nasi pincuk) karena suka menghambur-hamburkan uang. Kita malu karena uang Rp 3.000 ternyata begitu berarti. Kita malu, mengapa harus korupsi. Kita malu, mengapa harus mark-up/ proyek tiap hari. 
Kita malu mengapa harus demonstrasi dengan tuntutan yang terkadang basi. Kita malu mengapa harus rebutan kursi. Kita malu mengapa harus menuntut hak tanpa tahu diri. Kita pun malu mengapa tak pernah bersyukur atas kesehatan yang diberi. 
Ataukah jangan-jangan kita sudah tidak punya rasa malu? Termasuk pada diri sendiri? Maka, tepat sekali peringatan Allah SWT dalam surah Ar-Rahman yang diulang berkali-kali, "Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?" 
Makan nasi pincuk seharga Rp 3.000 saja sudah kenyang. Mengapa harus mencari lebih dan lebih ketika kecukupan itu sudah kita peroleh? Kesederhanaan dalam pola makan, pola sikap dan pola hidup inilah yang patut kita lakukan.
Sehingga, yang kita peroleh adalah keberkahan. Inilah yang sering dilupakan oleh kita semua dalam menjalani kehidupan. Berkah itu hakikatnya ziyadayul khair” artinya bertambah kebaikan. 
Apapun yang kita lakukan, jika menjadikan kebaikan kita itu bertambah berarti ada nilai keberkahan di dalamnya. Demikian juga sebaliknya. Bukankah, kita sering mendengar cerita, tukang bubur bisa naik haji, penjual nasi pincuk bisa menyekolahkan anaknya sampai sarjana bahkan S3 dan masih banyak cerita-cerita penuh hikmah lagi. 
Boleh jadi penjual nasi pincuk dan tukang bubur itu memiliki saku keberkahan. Sehingga apapun yang masuk dalam saku itu akan bertambah terus kebaikan demi kebaikannya. Inilah yang menjadikannya semakin mudah dalam meraih apa yang diharapkannya. 
Mari kita renungkan firman Allah SWT ini, “Jika sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi jika mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya,” (QS. Al-A’raaf: 96).

***)  Abdul Muid Badrun