Jumat, 19 Februari 2016

BELAJAR DARI KISAH NABI NUH

Dalam Alquran ditemui kisah Nabi Nuh AS bersama kaumnya dilanda banjir. Nuh AS bersama pengikutnya serta makhluk lain masing-masing dua berpasangan dapat selamat dengan menggunakan kapal yang dipersiapkan sebelumnya. Lainnya tenggelam ditelan air bah.
Di antara korban itu adalah anak kandung Nuh sendiri, bernama Kan'an. Dia menolak bergabung dengan ayahnya dan berpihak kepada kaum kafir. Karenanya Nuh AS merasa kecewa yang mendalam.
Sebelumnya Nuh telah berusaha agar anaknya itu selamat. Ketika air sedang naik, ombak bergulung, Nuh memanggil anaknya Kan'an agar naik ke kapal bersamanya. Tapi Kan'an menolak sambil menunjuk sebuah gunung tempat ia lari dari kejaran banjir. Akhirnya gunung tempat berlindung Kan'an pun dibenam air. Kan'an tewas di sana.
Setelah banjir surut, Nuh mengetahui nasib anaknya yang malang. ''Dan, Nuh memanggil Rab-nya lalu berkata: 'Oh Tuhanku! Sesungguhnya anakku itu bahagian dari keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu benar dan Engkau hakim yang paling adil'. Allah SWT berkata: 'Hai Nuh! Sesungguhnya dia bukan keluarga engkau, sebenarnya dia telah melakukan pekerjaan yang tidak baik, maka janganlah engkau menanyakan kepada-Ku tentang persoalan yang kamu tidak berpengetahuan tentang itu, Aku mengajar engkau supaya engkau tidak termasuk orang yang bodoh'.'' (QS Hud ayat 45 dan 46).
Pada ayat berikutnya Nuh AS menyesali perkataannya. Ia berlindung kepada Allah SWT dari pernyataan yang tidak berdasar kepada pengetahuannya. Dia mohon ampun kepada Allah SWT dan menuntut kasih sayang-Nya.
Sebagai Rasul Allah, Nuh AS tentu tunduk sepenuhnya. Berdasarkan ajaran Allah SWT, bapak dan anak menjadi sebuah keluarga. Dan karena Allah SWT pula hubungan keluarga antara anak dan bapak jadi terputus.
Siapa yang bisa bilang kalau antara ayah dan anak bukan sebuah keluarga, tapi siapa pula yang bisa membantah kalau hubungan keluarga itu dinyatakan putus akibat tidak seiman? Menurut ajaran Allah SWT, keluarga yang abadi adalah sebuah keluarga yang sama beriman kepada-Nya. Bukan hanya di dunia, akan tetapi berhubungan keluarga sampai ke akhirat kelak.
Firman Allah SWT: ''Dan orang-orang yang beriman, lalu diiringi oleh anak cucunya yang juga beriman, nanti mereka kami pertemukan dengan turunannya itu dan tiada kami kurangi amal mereka sedikit pun, setiap orang bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakannya.'' (Surat At Thur ayat 21).
Alangkah indahnya keluarga mukmin itu. Tentu jadi idaman semua orang yang mengaku beriman. Amatlah bijak kalau pertemuan keluarga dalam suasana Idul Fitri atau pertemuan lainnya diarahkan pada pemantapan iman semua anggota keluarga. Wallahu a'lam 


***) Nasril Zainun (Republika Online)

Kamis, 18 Februari 2016

MERAIH KEBAIKAN MELALUI UJIAN

Proses kehidupan manusia di muka bumi tak terlepas dari kekuasaan Allah Yang Maha Tak Terbatas. Kekuasaan Allah meliputi apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.
Salah satu bentuk kuasa-Nya adalah Allah ciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan. Keberadaan siang dan malam, panas dan hujan, lelaki dan perempuan, hitam dan putih, matahari dan bulan, termasuk di dalamnya ujian dan kebahagiaan.
Sungguh, tiada satu pun kesia-siaan dalam hidup ini, meskipun bentuknya adalah ujian. Namun kadangkala, manusia kerap menyalahartikan bentuk cinta-Nya yang datang berupa ujian. Prasangka pun datang, padahal ujian datang sebagai bentuk kasih sayang.
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya, maka Dia akan mengujinya,” (HR Bukhari)
Dr Musthafa Sa’id Al-Khin dalam Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyadis Shalihina, hadits di atas memberikan faedah bahwa orang yang beriman tidak akan terlepas dari ujian. Sesungguhnya, apa yang menimpanya itu tiada lain adalah kebaikan bagi dirinya, karena ketika itu ia berlindung kepada Allah Swt dan jadilah ujian-ujian itu sebagai penghapus kesalahan-kesalahannya.
Jika kita mau merenungkan ujian-ujian yang Allah berikan, sepertinya belum seberat ujian yang datang kepada para Nabi Allah—lebih khusus ujian yang Allah berikan kepada Rasul Ulul Azmi— dan secara umum ujian yang dikirim kepada Nabi-nabi yang Allah abadikan dalam Alquran. Salah satu contohnya ialah cobaan yang Allah berikan kepada Nabi Yunus as.

Allah berfirman, “Kemudian dia ikut diundi ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian),” (Qs Ash-Shaffaat: 141)
Firman Allah dalam surah Ash-Shaffat ayat 141 di atas adalah peristiwa saat Nabi Yunus as harus ditenggelamkan ke tengah laut. Ada peristiwa yang terjadi sebelumnya kenapa pada akhirnya Yunus as harus mengalami hal tersebut. Yunus as yang diutus kepada kaum Ninawa yang gemar menyembah patung singa, harus merasakan pedih yang teramat sangat tatkala kaumnya tersebut menolak dakwahnya mentah-mentah.
Tidak sekali dua kali Yunus as menyerukan untuk menyembah Allah saja, tidak selain-Nya, tapi berulang kali pula kaumnya tersebut membantah. Hingga suatu hari, Yunus as pun kurang kesabaran. Ia pun berniat meninggalkan kaumnya, sebelum dakwahnya usai. Ia pun memutuskan untuk pergi begitu saja tanpa ada perintah dari Allah karena kekesalan yang tidak mampu ia bendung lagi kepada kaumnya. Akhirnya, ia pun menumpang suatu perahu agar dapat menyebrang lautan.
Ibnu Katsir dalam dalam Tafsirul Quran’l Adzhim mengungkapkan ketika perahu itu mulai terombang ambing oleh ombak di sekelilingnya dan hampir tenggelam, mereka langsung saja mengadakan undian. Barangsiapa di antara mereka yang mendapatkan undian itu, ia mesti dilemparkan ke laut supaya beban perahu menjadi ringan dan seimbang kembali.
Ternyata undian itu jatuh pada Nabi Allah, yaitu Yunus as. Setelah diulang sampai ketiga kali, ternyata undian itu tetap saja jatuh pada Yunus as, tetapi mereka tidak mengingkan Yunus as dilemparkan di antara mereka.
Tanpa menunggu lama, dengan kesedihan sekaligus kepasrahannya pada Allah, Yunus as melepas bajunya dan langsung terjun ke laut, padahal mereka tidak mengharapkan hal itu terjadi. Lalu Allah Swt memerintahkan seekor ikan paus yang berasal dari laut biru agar membelah lautan dan menelan Yunus as tanpa meremukan dagingnya dan memecahkan tulangnya. Dibawalah Yunus as oleh paus mengelilingi lautan.
Di saat Yunus as berada di perut ikan paus, ia mengira dirinya sudah mati, namun kemudian bergeraklah kepala dan kedua kaki serta ujung-ujung jarinya, ternyata bersyukur ia masih hidup. Lalu ia pun berdiri dan melaksanakan shalat di perut ikan paus, dan sejumlah doa dipanjatkannya, yaitu, “Wahai Tuhanku, aku jadikan tempat ini sebagai tempat sujud kepada-Mu, yang mana tidak ada seorang pun dari manusia mengalaminya,”
Allah berfirman, “Maka sekiranya dia (Yunus) tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah niscaya dia akan tetap tinggal di perut itu sampai hari berbangkit,” (Qs Ash-Shaaffat: 143-144). Ibnu Abbas ra, Sa’id bin Jubair, Adh-Dhahak, Atha bin As-Saib, As-Sudi, Al-Hasan, dan Qatadah berkata, “Yang dimaksud dengan orang-orang yang yang senantiasa bertasbih itu ialah orang-orang yang senantiasa melaksanakan shalat, karena dijelaskan bahwa Nabi Yunus gemar melaksanakan shalat sebelumnya,”
Tidak hanya shalat di dalam ikan, Nabi Yunus juga membaca doa yang ia ulang-ulang agar Allah mau mengampuninya, “Tiada Tuhan melainkan Engkau (ya Allah) Maha Suci Engkau (daripada melakukan aniaya, tolonglah aku). Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang yang menganiaya diri sendiri” (QS Al-Anbiya’ : 87).
Kala itu, Yunus as benar-benar kepayahan dan tiada daya upaya. Ia pasrah jika pada akhirnya, harus wafat di dalam perut ikan. Tapi ia pun menyesal dan memikirkan bagaimana kabar kaumnya setelah ia tinggal dalam keadaan yang masih kafir?
Akhirnya, Allah tak tinggal diam. Keberadaan Yunus as dalam perut ikan ternyata bersamaan dengan musibah angin besar dan banjir bah yang melanda kaum Ninawa. Mereka akhirnya menyadari bahwa musibah itu datang karena mereka tak mengiraukan ajakan Nabi Yunus untuk menyembah Allah.
Setelah sembuh berkat pertolongan Allah, Nabi Yunus as pun diperintahkan kembali kepada kaumnya. Maha Besar Allah, betapa takjubnya Yunus as tatkala mendapati seluruh kaumnya yang berjumlah 100 ribu lebih akhirnya beriman kepada Allah.
“”Dan Kami utus dia (Yunus) kepada seratus ribu lebih dari mereka. Lalu mereka beriman dan Kami berikan kesenangan hingga waktu tertentu,” (Qs Ash-Shaffat 147-148)
Nabi Yunus as pun menangis. Ia menyadari betapa baiknya Allah, padahal ia telah meninggalkan kaumnya sebelum ada perintah dari Allah dan dakwahnya belum usai. Hingga akhirnya Allah pun memberikan cobaan dengan tinggal puluhan hari di dalam perut ikan yang sungguh gelap. Ternyata, dalam cobaan itulah, Allah telah menyiapkan hadiah kebaikan untuknya; hadiah keimanan yang menyelimuti dada kaumnya. Semoga ujian-ujian yang Allah berikan, akan pula berbuah kebaikan.. Aamiin


***) Ina Salma Febriany – (Republika Online

Selasa, 16 Februari 2016

DOA UNTUK PENGHUNI BARZAH

Sebelum manusia terbujur kaku, termasuk mereka yang gagah perkasa dan kaya raya, lalu kain kafan putih menyelimuti dirinya, sebaiknya mereka merenungkan sabda Rasulullah saw berikut ini, "Bila salah seorang anak Adam meninggal dunia, maka putuslah segala amal perbuatannya, kecuali tiga perkara: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak shaleh kepada orang tuanya." 
Berdasarkan sabda Rasul itu kita tahu bahwa satu dari tiga perkara yang bisa dinikmati setiap penghuni alam barzah setelah mereka mati adalah doa anak shaleh kepada orang tuanya. Hadits itu mempunyai dua sasaran. Pertama, kepedulian kepada orang lain walaupun sudah berpindah alam. Kedua, memberi tarbiyah (pendidikan) kepada anak kita agar kelak menjadi anak shaleh, ingat kepada orang tuanya yang sudah meninggal. 
Sebuah pengalaman spiritual tentang hal itu bisa dipetik dari kitab Irsyadul 'Ibaad, adalah seseorang bermimpi dalam tidurnya melihat ahli kubur keluar dari liang kuburnya. Mereka memungut sesuatu, namun ia tak mengerti apa yang mereka pungut. Ia juga terheran-heran karena salah satu dari ahli kubur itu hanya duduk dan tak ikut memungut. 
Lalu ia mendekatinya dan bertanya, "Apa sesungguhnya yang mereka pungut?" Si ahli kubur itu menjawab, "Mereka memungut hadiah yang diberikan orang-orang Muslim [yang masih hidup] berupa bacaan Alquran, sadaqah, dan doa." Orang itu bertanya lagi, "Mengapa Anda tak ikut memungut?" Si ahli kubur menjawab, "Aku sudah merasa cukup karena aku sudah dikirimi anakku setiap hari dengan bacaan Alquran. Saat ini anakku berjualan kue di pasar." 
Ketika terjaga, orang yang bermimpi itu bergegas ke pasar. Ia menemui dan menanyakan apa yang dilakukan si pemuda yang disebut ahli kubur dalam mimpinya tersebut. "Aku baca Alquran ketika berziarah kubur, dan aku hadiahkan buat orang tuaku," jawab si pemuda tersebut. 
Kisah tersebut mengandung hikmah bahwa doa yang diharapkan si mati tentunya berasal dari orang yang paling dekat, yakni anaknya. Ini menjadi bentuk bakti si anak kepada orang tua ketika kedua orang tua itu sudah meninggal. Tentu saja, si orang tua tidak akan menikmati doa-doa yang dikirim dari dunia kalau saja anak-anak mereka adalah para pendurhaka. Naudzubillah
Hari ini kita mendoakan orang tua, besok lusa insya Allah kita didoakan anak-anak kita yang shaleh. Amien. 


Sumber : Pusat Data Republika

Minggu, 14 Februari 2016

ALI PUN HERAN DENGAN ORANG KIKIR

Ketika menjadi khalifah, Sayidina Abu Bakar Siddiq pernah memerangi orang-orang yang menolak untuk melaksanakan kewajiban membayar zakat. Bagi sang khalifah, apabila penolakan itu dibiarkan maka ketaatan umat Islam terhadap ajaran Rasulullah SAW dan Allah SWT akan semakin menipis. Penolakan itu juga menunjukkan bahwa mereka masih menyimpan salah satu sifat yang tercela, yakni kikir.
Kikir jelas merupakan sifat yang nyata-nyata dikecam oleh Allah SWT. Firman-Nya, ''Ingatlah, kalian adalah orang-orang yang diminta untuk menafkahkan sebagian harta kalian di jalan Allah, namun di antara kalian terdapat orang-orang yang bakhil. Siapa pun yang bersikap bakhil (kikir), maka sesungguhnya ia bakhil (kikir) terhadap dirinya sendiri, sebab Allah Mahakaya dan kalian adalah orang-orang miskin.'' (Muhammad: 38).
Dari ayat di atas jelaslah bahwa orang-orang kikir adalah mereka yang mempunyai harta, namun ketika diminta untuk menafkahkan sebagiannya di jalan Allah, mereka menolak. Menafkahkan harta di jalan Allah itu macam-macam, antara lain, zakat, infak, sedekah, dan memberi makan anak yatim-piatu. Padahal, Allah SWT telah menjamin bahwa segala sesuatu yang diinfakkan dalam kerangka fi sabilillahtidak akan menjadi perbuatan yang sia-sia. ''Apa pun yang kalian infakkan, maka Dia (Allah) akan menggantikannya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki." (Saba: 39).
Ada beberapa penyebab tertentu dari kekikiran. Di antaranya adalah takut miskin.
Mengenai hal ini, Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah menyatakan, ''Aku heran dengan orang yang kikir karena ia hanya mempercepat laju kemiskinannya, padahal ia berusaha lari dari kemiskinan. Ia kehilangan kesenangan hidup yang ia dambakan (karena tidak menikmati hartanya akibat kebakhilannya). Ia hidup seperti orang yang miskin, namun ia harus mempertanggungjawabkan hartanya pada hari kiamat seperti orang kaya.''
Motif lain dari kekikiran adalah sikap berlebihan atau kekhawatiran berlebihan terhadap masa depan keluarga. Orang yang demikian lebih suka menabung seluruh uangnya untuk masa depan anak-anak/keluarga daripada menginfakkan sebagian daripadanya di jalan Allah. Mereka berkeyakinan, harta akan dapat melindungi masa depan anak-anaknya. Padahal, Alquran telah memberi petunjuk bahwa kekayaan dan anak-anak hanyalah cobaan/fitnah. (Al-Anfal: 28). 
Motif berikutnya dari kekikiran adalah cinta harta secara berlebihan tanpa menganggapnya sebagai sarana ibadah. Mereka ini mengira bahwa zakat, infak, dan sedekah akan mengurangi hartanya. Padahal, Allahlah penetap segala rezeki.
Sebagai individu yang hidup di tengah masyarakat, sifat kikir pasti mempunyai konsekuensi yang bisa merugikan diri sendiri. Minimal ada dua kerugian bagi orang yang kikir. Pertama, kerugian ketika di dunia, yaitu menimbulkan rasa permusuhan dan kebencian di antara orang-orang dekat dan warga sekitar di mana ia tinggal. Paling tidak kikir telah menimbulkan rasa tidak senang pada orang lain. Selain itu, orang yang kikir adalah orang yang letih. Ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menimbun kekayaan, namun ia tidak menikmati hartanya. Karena, ahli warisnyalah yang akan menikmatinya. 
Kedua, kerugian yang diterima pada hari pembalasan nanti. Yakni, orang yang kikir akan mempertanggungjawabkan harta kekayaannya pada hari akhir nanti layaknya orang kaya. Padahal, seperti yang telah disebutkan bahwa ia hidup di dunia ini layaknya orang miskin yang terus-menerus mengejar harta, namun ia tidak menikmatinya.


***)Republika online

Sabtu, 13 Februari 2016

HUKUM BERMAIN CATUR

Catur merupakan permainan yang belum dikenal pada masa Rasulullah SAW. Permainan ini dikenal melalui masyarakat persia ketika mereka memeluk Islam, sedangkan asal muasalnya konon dari India.
Saat ini catur telah banyak digemari oleh masyarakat Indonesia, tidak hanya oleh kalangan tua tapi juga anak muda. Tapi, bagaimana hukum permainan tersebut menurut pandangan Islam?
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum bermain catur. Ulama yang ketat mengharamkannya, sedangkan ulama moderat membolehkannya dengan syarat-syarat tertentu. Ulama yang mengharamkan permainan ini mendasarkan pendapatnya pada hal berikut ini, sebagaimana dikutip dalam buku "M. Quraish Shihab" menjawab, Jumat (12/2).
Pertama, menurut Quraish Shihab, ulama tersebut mengharamkannya berdasarkan ayat Alquran yang melarang perjudian (QS al-Ma'idah [5]: 90). Kedua, mereka berpendapat berdasarkan pada beberapa riwayat yang dinisbahkan kepada nabi, yang mengutuk atau mengecam para pemain catur dengan siksa.
Ketiga, kata dia, didasarkan pada kesamaannya dengan nardasyir(dadu). Dalam konteks ini, nabi bersabda. "Barang siapa yang bermain nardasyir, maka dia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya (HR Malik, Ahmad, dan Abu Dawud melalui Abu Musa)."
Para ulama yang tidak menilai haram menilai menolak mempersamakan permaianan ini dengan berjudi. Menurut Quraish, penolakan tersebut jelas tempatnya. "Di mana gerakan letak persamaannya? Memang jika disertai dengan judi ia haram, tapi keharamannya adalah karena perjudian bukan karena catur," kata dia mengatakan.
Selain itu, hadis-hadis yang mengancam pemain catur kesemuanya berasal dari hadis dhaif atau lemah. Karena nabi juga tidak mungkin menilai satu hal yang belum dikenal pada masanya.


*)Republika Online

Kamis, 04 Februari 2016

KOMITMEN CINTA

Seorang sahabat bernama Jabir RA bercerita bahwa Nabi SAW menasihati. “Sungguh, yang paling aku suka di antara kalian dan paling dekat duduknya denganku pada Hari Kiamat adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sungguh, yang paling aku benci di antara kalian dan paling jauh tempat duduknya pada hari kiamat adalah al-tsartsarun (orang-orang yang banyak membual), al-mutasyaddiqun (orang yang banyak berkata kotor), dan al-mutafaihiqun. 
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami tahu al-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun. Namun, siapakah al-mutafaihiqun itu? Beliau menjawab, “Al-mutakabbirun (orang-orang sombong).'' (HR At-Tirmidzi).
Ketiga kelompok tersebut adalah orang-orang yang melakukan dosa-dosa sosial, bukan individual atau ritual. Tindakan zalim, menipu, mengumbar janji palsu, sumpah serapah, kata-kata yang menghinakan, pembalakan liar, pembakaran hutan, perusakan lingkungan, korupsi, terorisme, anarkisme, menyebarkan paham sesat, merasa paling benar dan orang lain ahli bid'ah dan kafir adalah perilaku yang paling dibenci Nabi SAW.
Seorang yang mengaku umat Nabi Muhammad SAW wajib menunjukkan kepatuhan kepadanya (QS 3:144,59:7). Kepatuhan bukan hanya pada perintahnya (wajib dan sunat), tetapi juga pada larangannya (haram dan makruh). Komitmen itulah yang disebut dengan cinta.
Kita tunjukkan komitmen itu melalui 6 M. Pertama, meyakini kenabiannya. Salah satu rukun iman yang enam adalah beriman kepada nabi dan rasul Allah SWT. Sekaligus meyakini bahwa tidak ada lagi nabi setelah Nabi SAW. (laa nabiyya ba'dahu) karena Beliau SAW adalah penutup para nabi dan rasul (khatamul anbiya` wal mursaliin).
Konsekuensinya adalah menolak setiap orang atau paham yang mengaku sebagai nabi atau penyelamat seperti Ahmad Mushaddeq dengan Gafatar yang memperdaya ribuan pengikutnya.
Kedua, mengikrarkan keyakinan. Sebagai bukti keyakinan akan kenabiannya yang tertanam dalam lubuk hati maka setiap Muslim wajib mendeklarasikannya dengan syahadatain (dua kesaksian).
Ikrar yang lahir dari hati yang tulus dan sungguh-sungguh sebagai pintu masuk agama Islam bukan hanya wajib diucapkan pada shalat, melainkan juga pada setiap waktu untuk memperbaharui keimanan (akidah tauhid).
Ketiga, menyebutkan namanya. Kata pepatah, “man ahabba syai`an aktsaru min dzikrihi” (siapa yang mencintai seseorang pasti ia banyak menyebut namanya). Sungguh, Allah SAW dan malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi SAW, begitupun orang-orang beriman.'' (QS 33:56).
Tidak hanya dalam shalat dan berdoa, tetapi mewiridkannya. Jika namanya disebut maka bershalawatlah. Sebagian orang menggubah syair nan indah untuk merefleksikan kecintaannya.
Keempat, meneladani sunahnya. Sunah Nabi SAW atau akhlak Nabi SAW ada yang bersifat manusiawi, ibadah (mahdhah), dan sosial (muamalah). Semua yang berkaitan dengan kepribadian beliau selalu mengagumkan (ajaban).
Itulah uswah hasanah yang mesti diteladani umatnya (QS 33:21), sejak Beliau bangun tidur hingga tidur lagi. Cobalah ukur komitmen ini melalui tujuh sunah harian, yakni shalat Tahajud, shalat berjamaah, tilawah Alquran, shalat Dhuha, sedekah, zikir, dan puasa sunah.
Kelima, mendakwahkan ajarannya. Komitmen cinta Nabi SAW dengan menyiarkan dakwahnya. Kewajiban berdakwah bukan di pundak para dai saja, tetapi setiap Muslim sesuai kapasitas dan keahlian, baik individual maupun kolektif (QS16:125,3:104,110).
Pesan Nabi Muhammad SAW agar menyampaikan kepada orang lain walaupun satu ayat atau kebaikan. Mengajarkan ajaran Islam damai yang dikemas akhlak mulia (QS 3:159), dan kearifan (QS16:125,21:107).
Keenam, menceritakan tetang dirinya. Komitmen terakhir, yakni menceritakan sejarah hidupnya kepada anak-anak kita agar menjadi inspirasi dan pelajaran. Hal ini menuntut kita membaca sirah nabawiyah dan sahabatnya.
Penulis non-Muslim, Michael H Hart, menulis buku 100 Orang Paling Berpengaruh hingga ia berkata bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang paling berpengaruh karena keagungan akhlaknya. Allahu alam bish shawab.


***) Hasan Basri Tanjung (REPUBLIKA ONLINE)

Selasa, 02 Februari 2016

EMPAT MAKNA IHSAN

Istilah ihsan secara bahasa berarti baik dan berbuat baik. Istilah ini muncul dalam Alquran dan hadis beberapa kali untuk menunjukkan beberapa makna yang sekaligus menggambarkan bentuk-bentuk sikap ihsan yang perlu ditampilkan Muslim dalam kehidupan.
Pertama, ihsan adalah memberikan nikmat atau sesuatu yang disenangi kepada orang lain. Banyak ayat Alquran dan hadis yang mendorong umat Islam memberikan sesuatu yang baik kepada orang lain. Bahkan, pemberian itu dipandang sebagai tolok ukur kesempurnaan iman seseorang.
Kedua, berbuat baik dan menyebarkan kebaikan. Sikap ini lahir karena pelakunya menyadari bahwa perbuatan itu baik dan diperintahkan agama untuk dilakukan. Dalam hal ini, lahirnya sikap ihsan sangat didukung oleh pengetahuan seseorang tentang kebaikan.
Umar ibn Khattab pernah mengungkapkan, ''Manusia dipandang dan dinilai karena pengetahuannya tentang kebaikan dan konsistensinya melakukan perbuatan baik sesuai dengan pengetahuan tersebut.''
Ketiga, berbuat baik karena seseorang memahami bahwa perbuatan tersebut akan dibalas Allah dengan yang lebih baik, di dunia maupun di akhirat. Perbuatan baik seseorang tidak akan disia-siakan Allah, meskipun sedikit jumlahnya.
Keempat, ihsan lebih tinggi dari berlaku adil. Seseorang disebut adil apabila melaksanakan kewajibannya, lalu ia menerima haknya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sedangkan ihsan adalah melakukan pekerjaan melebihi dari yang diwajibkan dengan tidak melanggar aturan dan mengambil atau menerima hak kurang dari yang telah ditentukan. Jadi, orang yang ihsan tidak pernah mengambil hak orang lain. Ia bahkan masih menyisakan haknya demi kemaslahatan orang lain.


Sumber : Pusat Data Republika