Proses kehidupan manusia di muka bumi tak terlepas dari
kekuasaan Allah Yang Maha Tak Terbatas. Kekuasaan Allah meliputi apa yang ada
di langit dan apa yang ada di bumi.
Salah satu bentuk kuasa-Nya adalah Allah ciptakan segala sesuatunya
berpasang-pasangan. Keberadaan siang dan malam, panas dan hujan, lelaki dan
perempuan, hitam dan putih, matahari dan bulan, termasuk di dalamnya ujian dan
kebahagiaan.
Sungguh, tiada satu pun kesia-siaan dalam hidup ini, meskipun bentuknya adalah
ujian. Namun kadangkala, manusia kerap menyalahartikan bentuk cinta-Nya yang
datang berupa ujian. Prasangka pun datang, padahal ujian datang sebagai bentuk
kasih sayang.
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki
Allah kebaikan pada dirinya, maka Dia akan mengujinya,” (HR Bukhari)
Dr Musthafa Sa’id Al-Khin dalam Nuzhatul Muttaqina Syarhu Riyadis Shalihina,
hadits di atas memberikan faedah bahwa orang yang beriman tidak akan terlepas
dari ujian. Sesungguhnya, apa yang menimpanya itu tiada lain adalah kebaikan
bagi dirinya, karena ketika itu ia berlindung kepada Allah Swt dan jadilah
ujian-ujian itu sebagai penghapus kesalahan-kesalahannya.
Jika kita mau merenungkan ujian-ujian yang Allah berikan, sepertinya belum
seberat ujian yang datang kepada para Nabi Allah—lebih khusus ujian yang Allah
berikan kepada Rasul Ulul Azmi— dan secara umum ujian yang dikirim kepada
Nabi-nabi yang Allah abadikan dalam Alquran. Salah satu contohnya ialah cobaan
yang Allah berikan kepada Nabi Yunus as.
Allah berfirman, “Kemudian dia ikut diundi ternyata dia termasuk orang-orang
yang kalah (dalam undian),” (Qs Ash-Shaffaat: 141)
Firman Allah dalam surah Ash-Shaffat ayat 141 di atas adalah peristiwa saat
Nabi Yunus as harus ditenggelamkan ke tengah laut. Ada peristiwa yang terjadi
sebelumnya kenapa pada akhirnya Yunus as harus mengalami hal tersebut. Yunus as
yang diutus kepada kaum Ninawa yang gemar menyembah patung singa, harus
merasakan pedih yang teramat sangat tatkala kaumnya tersebut menolak dakwahnya
mentah-mentah.
Tidak sekali dua kali Yunus as menyerukan untuk menyembah Allah saja, tidak
selain-Nya, tapi berulang kali pula kaumnya tersebut membantah. Hingga suatu
hari, Yunus as pun kurang kesabaran. Ia pun berniat meninggalkan kaumnya,
sebelum dakwahnya usai. Ia pun memutuskan untuk pergi begitu saja tanpa ada
perintah dari Allah karena kekesalan yang tidak mampu ia bendung lagi kepada
kaumnya. Akhirnya, ia pun menumpang suatu perahu agar dapat menyebrang lautan.
Ibnu Katsir dalam dalam Tafsirul Quran’l Adzhim mengungkapkan ketika perahu itu
mulai terombang ambing oleh ombak di sekelilingnya dan hampir tenggelam, mereka
langsung saja mengadakan undian. Barangsiapa di antara mereka yang mendapatkan
undian itu, ia mesti dilemparkan ke laut supaya beban perahu menjadi ringan dan
seimbang kembali.
Ternyata undian itu jatuh pada Nabi Allah, yaitu Yunus as. Setelah diulang
sampai ketiga kali, ternyata undian itu tetap saja jatuh pada Yunus as, tetapi
mereka tidak mengingkan Yunus as dilemparkan di antara mereka.
Tanpa menunggu lama, dengan kesedihan sekaligus kepasrahannya pada Allah, Yunus
as melepas bajunya dan langsung terjun ke laut, padahal mereka tidak
mengharapkan hal itu terjadi. Lalu Allah Swt memerintahkan seekor ikan paus
yang berasal dari laut biru agar membelah lautan dan menelan Yunus as tanpa
meremukan dagingnya dan memecahkan tulangnya. Dibawalah Yunus as oleh paus
mengelilingi lautan.
Di saat Yunus as berada di perut ikan paus, ia mengira dirinya sudah mati,
namun kemudian bergeraklah kepala dan kedua kaki serta ujung-ujung jarinya,
ternyata bersyukur ia masih hidup. Lalu ia pun berdiri dan melaksanakan shalat
di perut ikan paus, dan sejumlah doa dipanjatkannya, yaitu, “Wahai Tuhanku, aku
jadikan tempat ini sebagai tempat sujud kepada-Mu, yang mana tidak ada seorang
pun dari manusia mengalaminya,”
Allah berfirman, “Maka sekiranya dia (Yunus) tidak termasuk orang yang banyak
berzikir (bertasbih) kepada Allah niscaya dia akan tetap tinggal di perut itu
sampai hari berbangkit,” (Qs Ash-Shaaffat: 143-144). Ibnu Abbas ra, Sa’id bin
Jubair, Adh-Dhahak, Atha bin As-Saib, As-Sudi, Al-Hasan, dan Qatadah berkata,
“Yang dimaksud dengan orang-orang yang yang senantiasa bertasbih itu ialah
orang-orang yang senantiasa melaksanakan shalat, karena dijelaskan bahwa Nabi
Yunus gemar melaksanakan shalat sebelumnya,”
Tidak hanya shalat di dalam ikan, Nabi Yunus juga membaca doa yang ia
ulang-ulang agar Allah mau mengampuninya, “Tiada Tuhan melainkan Engkau (ya
Allah) Maha Suci Engkau (daripada melakukan aniaya, tolonglah aku). Sesungguhnya
aku adalah dari orang-orang yang menganiaya diri sendiri” (QS Al-Anbiya’ :
87).
Kala itu, Yunus as benar-benar kepayahan dan tiada daya upaya. Ia pasrah jika
pada akhirnya, harus wafat di dalam perut ikan. Tapi ia pun menyesal dan
memikirkan bagaimana kabar kaumnya setelah ia tinggal dalam keadaan yang masih
kafir?
Akhirnya, Allah tak tinggal diam. Keberadaan Yunus as dalam perut ikan ternyata
bersamaan dengan musibah angin besar dan banjir bah yang melanda kaum Ninawa.
Mereka akhirnya menyadari bahwa musibah itu datang karena mereka tak
mengiraukan ajakan Nabi Yunus untuk menyembah Allah.
Setelah sembuh berkat pertolongan Allah, Nabi Yunus as pun diperintahkan
kembali kepada kaumnya. Maha Besar Allah, betapa takjubnya Yunus as tatkala
mendapati seluruh kaumnya yang berjumlah 100 ribu lebih akhirnya beriman kepada
Allah.
“”Dan Kami utus dia (Yunus) kepada seratus ribu lebih dari mereka. Lalu mereka
beriman dan Kami berikan kesenangan hingga waktu tertentu,” (Qs Ash-Shaffat
147-148)
Nabi Yunus as pun menangis. Ia menyadari betapa baiknya Allah, padahal ia telah
meninggalkan kaumnya sebelum ada perintah dari Allah dan dakwahnya belum usai.
Hingga akhirnya Allah pun memberikan cobaan dengan tinggal puluhan hari di
dalam perut ikan yang sungguh gelap. Ternyata, dalam cobaan itulah, Allah telah
menyiapkan hadiah kebaikan untuknya; hadiah keimanan yang menyelimuti dada
kaumnya. Semoga ujian-ujian yang Allah berikan, akan pula berbuah kebaikan..
Aamiin
***) Ina Salma Febriany – (Republika Online