Ketika menjadi khalifah, Sayidina Abu Bakar
Siddiq pernah memerangi orang-orang yang menolak untuk melaksanakan kewajiban
membayar zakat. Bagi sang khalifah, apabila penolakan itu dibiarkan maka
ketaatan umat Islam terhadap ajaran Rasulullah SAW dan Allah SWT akan semakin
menipis. Penolakan itu juga menunjukkan bahwa mereka masih menyimpan salah satu
sifat yang tercela, yakni kikir.
Kikir jelas merupakan sifat yang
nyata-nyata dikecam oleh Allah SWT. Firman-Nya, ''Ingatlah, kalian adalah
orang-orang yang diminta untuk menafkahkan sebagian harta kalian di jalan Allah,
namun di antara kalian terdapat orang-orang yang bakhil. Siapa pun yang
bersikap bakhil (kikir), maka sesungguhnya ia bakhil (kikir) terhadap dirinya
sendiri, sebab Allah Mahakaya dan kalian adalah orang-orang miskin.''
(Muhammad: 38).
Dari ayat di atas jelaslah bahwa
orang-orang kikir adalah mereka yang mempunyai harta, namun ketika diminta
untuk menafkahkan sebagiannya di jalan Allah, mereka menolak. Menafkahkan harta
di jalan Allah itu macam-macam, antara lain, zakat, infak, sedekah, dan memberi
makan anak yatim-piatu. Padahal, Allah SWT telah menjamin bahwa segala sesuatu
yang diinfakkan dalam kerangka fi sabilillahtidak akan menjadi perbuatan yang
sia-sia. ''Apa pun yang kalian infakkan, maka Dia (Allah) akan menggantikannya.
Dialah sebaik-baik pemberi rezeki." (Saba: 39).
Ada beberapa penyebab tertentu dari
kekikiran. Di antaranya adalah takut miskin.
Mengenai hal ini, Khalifah Ali bin Abi
Thalib pernah menyatakan, ''Aku heran dengan orang yang kikir karena ia hanya
mempercepat laju kemiskinannya, padahal ia berusaha lari dari kemiskinan. Ia
kehilangan kesenangan hidup yang ia dambakan (karena tidak menikmati hartanya
akibat kebakhilannya). Ia hidup seperti orang yang miskin, namun ia harus
mempertanggungjawabkan hartanya pada hari kiamat seperti orang kaya.''
Motif lain dari kekikiran adalah sikap
berlebihan atau kekhawatiran berlebihan terhadap masa depan
keluarga. Orang yang demikian lebih suka menabung seluruh uangnya untuk
masa depan anak-anak/keluarga daripada menginfakkan sebagian daripadanya di
jalan Allah. Mereka berkeyakinan, harta akan dapat melindungi masa depan
anak-anaknya. Padahal, Alquran telah memberi petunjuk bahwa kekayaan dan
anak-anak hanyalah cobaan/fitnah. (Al-Anfal: 28).
Motif berikutnya dari kekikiran adalah
cinta harta secara berlebihan tanpa menganggapnya sebagai sarana ibadah. Mereka
ini mengira bahwa zakat, infak, dan sedekah akan mengurangi hartanya. Padahal,
Allahlah penetap segala rezeki.
Sebagai individu yang hidup di tengah
masyarakat, sifat kikir pasti mempunyai konsekuensi yang bisa merugikan diri
sendiri. Minimal ada dua kerugian bagi orang yang kikir. Pertama, kerugian
ketika di dunia, yaitu menimbulkan rasa permusuhan dan kebencian di antara
orang-orang dekat dan warga sekitar di mana ia tinggal. Paling tidak kikir
telah menimbulkan rasa tidak senang pada orang lain. Selain itu, orang yang
kikir adalah orang yang letih. Ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk
menimbun kekayaan, namun ia tidak menikmati hartanya. Karena, ahli warisnyalah
yang akan menikmatinya.
Kedua, kerugian yang diterima pada hari
pembalasan nanti. Yakni, orang yang kikir akan mempertanggungjawabkan harta
kekayaannya pada hari akhir nanti layaknya orang kaya. Padahal, seperti yang
telah disebutkan bahwa ia hidup di dunia ini layaknya orang miskin yang
terus-menerus mengejar harta, namun ia tidak menikmatinya.
***)Republika
online
Tidak ada komentar:
Posting Komentar