Di antara korban itu adalah anak kandung Nuh sendiri,
bernama Kan'an. Dia menolak bergabung dengan ayahnya dan berpihak kepada kaum
kafir. Karenanya Nuh AS merasa kecewa yang mendalam.
Sebelumnya Nuh telah berusaha agar anaknya itu selamat.
Ketika air sedang naik, ombak bergulung, Nuh memanggil anaknya Kan'an agar naik
ke kapal bersamanya. Tapi Kan'an menolak sambil menunjuk sebuah gunung tempat
ia lari dari kejaran banjir. Akhirnya gunung tempat berlindung Kan'an pun
dibenam air. Kan'an tewas di sana.
Setelah banjir surut, Nuh mengetahui nasib anaknya yang
malang. ''Dan, Nuh memanggil Rab-nya lalu berkata: 'Oh Tuhanku! Sesungguhnya
anakku itu bahagian dari keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu benar dan Engkau
hakim yang paling adil'. Allah SWT berkata: 'Hai Nuh! Sesungguhnya dia bukan
keluarga engkau, sebenarnya dia telah melakukan pekerjaan yang tidak baik, maka
janganlah engkau menanyakan kepada-Ku tentang persoalan yang kamu tidak
berpengetahuan tentang itu, Aku mengajar engkau supaya engkau tidak termasuk
orang yang bodoh'.'' (QS Hud ayat 45 dan 46).
Pada ayat berikutnya Nuh AS menyesali perkataannya. Ia
berlindung kepada Allah SWT dari pernyataan yang tidak berdasar kepada
pengetahuannya. Dia mohon ampun kepada Allah SWT dan menuntut kasih sayang-Nya.
Sebagai Rasul Allah, Nuh AS tentu tunduk sepenuhnya.
Berdasarkan ajaran Allah SWT, bapak dan anak menjadi sebuah keluarga. Dan
karena Allah SWT pula hubungan keluarga antara anak dan bapak jadi terputus.
Siapa yang bisa bilang kalau antara ayah dan anak bukan
sebuah keluarga, tapi siapa pula yang bisa membantah kalau hubungan keluarga
itu dinyatakan putus akibat tidak seiman? Menurut ajaran Allah SWT, keluarga
yang abadi adalah sebuah keluarga yang sama beriman kepada-Nya. Bukan hanya di
dunia, akan tetapi berhubungan keluarga sampai ke akhirat kelak.
Firman Allah SWT: ''Dan orang-orang yang beriman, lalu
diiringi oleh anak cucunya yang juga beriman, nanti mereka kami pertemukan
dengan turunannya itu dan tiada kami kurangi amal mereka sedikit pun, setiap
orang bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakannya.'' (Surat At Thur ayat
21).
Alangkah indahnya keluarga mukmin itu. Tentu jadi idaman
semua orang yang mengaku beriman. Amatlah bijak kalau pertemuan keluarga dalam
suasana Idul Fitri atau pertemuan lainnya diarahkan pada pemantapan iman semua
anggota keluarga. Wallahu a'lam
***) Nasril Zainun (Republika Online)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar