Jumat, 07 Agustus 2015

MUDIK KE HARIBAAN ALLAH

Baru saja kita menyaksikan peristiwa mudik Lebaran tahun ini. Barangkali inilah salah satu peristiwa mudik Lebaran yang terbesar sepanjang sejarah mudik di Tanah Air kita. Bahkan, boleh jadi di dunia.
Pemudiknya sangat banyak. Moda transportasi yang dipilihnya sangat beragam. Sarana transportasi yang dibutuhkannya sangat banyak. Destinasi yang ditujunya sangat jauh. Waktu tempuh yang diperlukannya sangat lama.
Kita dibuat terkagum-kagum dengan perjuangan saudara-saudara kita yang menjalani mudik tahun ini. Betapa tidak? Mereka harus berkorban lahir dan batin. Segala daya dan upaya mereka kerahkan demi mudik ke kampung halaman.
Kita menyaksikan keramaian lalu lintas kendaraan yang sangat luar biasa. Maka, kemacetan demi kemacetan terjadi di banyak tempat. Antrean kendaraan sangat panjang. Hanya untuk melewati satu titik, yakni gerbang Tol Cikopo-Palimanan, misalnya, antrean kendaraan dikabarkan mengular mencapai 20 kilometer! Mudik Lebaran sebenarnya sebuah pilihan. Boleh mudik, boleh tidak.
Ingatlah, selain mudik Lebaran kita dihadapkan pada peristiwa mudik ke haribaan Allah, yakni Raja pada hari kiamat. Bedanya, mudik ini bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan. Bedanya lagi, mudik ini permanen. Kita tidak dapat kembali ke "perantauan" lagi.
 
Laksana akan mudik Lebaran, kita harus mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa. Kita seharusnya hanya membawa sesuatu yang akan memudahkan perjalanan. Kita tidak seharusnya membawa sesuatu yang justru akan menyulitkan perjalanan.
 
Kita tidak boleh berhenti belajar menentukan prioritas paling tepat guna mempersiapkan diri masing-masing untuk mudik ke haribaan Allah. Kita harus berkali-kali mengalkulasi segala sesuatu yang kita perlukan di sana. Laksana hendak mudik Lebaran, kita harus pastikan apa yang mesti dipersiapkan untuk dibawa.
Ketika kita memilih mudik dengan menggunakan moda transportasi umum (bus, kereta api, kapal laut, dan/atau kapal udara), salah satu yang harus kita bawa adalah tiket. Maka, untuk berjaga-jaga, kita harus menyiapkan tiket itu jauh hari sebelumnya, lalu seperangkat pakaian dan keperluan lainnya.
Jangan lupa, harga tiket yang akan dibeli itu lumrahnya bervariasi sesuai dengan destinasinya dan fasilitas yang ditawarkannya. Ketika kita hendak membeli tiket kapal udara, misalnya, tentu tidak akan membeli tiket kelas ekonomi kalau ingin mendapatkan layanan yang jauh lebih baik. Dalam konteks ini lazimnya harga tidak menjadi persoalan serius.
Tiket untuk mudik ke haribaan Allah itu namanya syahadatain (syahadat tauhid dan syahadat Rasul) dengan segala syarat-syaratnya dan rukun-rukunnya. Sedangkan, pakaian yang harus dibawa namanya pakaian ketakwaan.
Tambahannya, seperangkat amal kebajikan seperti shalat, puasa/shaum, sedekah, dan lainnya. Rasulullah SAW menyebutkan karena mereka akan dipersilakan memasuki surga sesuai dengan amalnya. Misalnya, ahli puasa akan disilakan masuk dari pintu Rayyan. Wallahu a'lam bishawab.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )

***) Mahmud Yunus

Kamis, 06 Agustus 2015

LANJUTKAN IKTIKAF PRODUKTIF

Dalam Ensiklopedi Islam (1999), iktikaf berarti tinggal di dalam masjid yang dilakukan oleh seseorang dengan niat. Dalam sejumlah referensi fikih yang tersebar dan dibaca di Indonesia, secara istilah, iktikaf berarti menetap dan tinggal di masjid dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla.
Pengertian ini sama sekali tidak menyiratkan hanya pada bulan Ramadhan, yang secara eksplisit disebutkan dalam pengertian di atas adalah masjid. Iktikaf hanya bisa dilakukan di dalam masjid. Memang ada perbedaan pendapat tentang kategori masjid yang dapat digunakan sebagai tempat iktikaf.
Abu Hanifah, Ahmad, Ishak, dan Abu Tsaur sepakat bahwa iktikaf hanya dapat dilakukan di masjid-masjid yang biasa dijadikan tempat shalat lima waktu oleh masyarakat umum dan sepekan sekali di gunakan untuk shalat Jumat. Nabi SAW mengisyaratkan, "Masjid yang mempunyai muazin dan imam." (HR Da ruquthni).
Selama iktikaf, orang dapat melakukan apa saja yang berkaitan dengan proses taqarrub. Ada sebagian yang membaca Alquran, berzikir, atau diisi dengan shalat-shalat sunah.
Lalu pertanyaannya kemudian, dapat kah seseorang yang tengah melakukan iktikaf melakukan pekerjaan lain dan bahkan dilakukan di luar masjid? Menurut jumhur ulama, dapat.
Ketika Shafiyyah datang menjenguk Rasulullah yang tengah beriktikaf, lalu Rasulullah pun bangkit dan mengantarkan Shafiyyah pulang.
Bahkan dalam beberapa riwayat, dijelaskan bahwa selama iktikaf, seseorang dapat tetap terlibat dalam urusan rumah tangga, seperti menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, dan lain sebagai nya.
Ia tetap dapat terlibat dalam aktivitas sosial. Ia tidak bisa hanya menjadi dirinya sendiri. Bukankah agama selalu memelihara keseimbangan individu dan sosial?
Jadi, setiap ibadah termasuk iktikaf, tidak boleh kehilangan fungsi sosial yang berkaitan dengan dirinya dan orang lain.
Ibadah ini, dan juga ibadah-ibadah lainnya dalam Islam, selain memberikan pencerahan melalui proses ta qarrub kepada Allah, juga harus mampu mem berikan dampak produktif bagi kepentingan umum (kemaslahatan sosial).
Islam tidak pernah memisahkan secara dikotomi dua kepentingan tersebut. Bahkan, Alquran berkali-kali mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara dimensi duniawi dan ukhrawi.
Dengan demikian, jika ajaran iktikaf masih mencerminkan praktik pengasingan diri secara pasif dengan mengambil posisi di masjid secara penuh selama sekitar sepuluh hari, menarik untuk dikaji ulang, terutama berkaitan dengan kepentingan produktivitas sosial yang juga tidak terlepas dari tuntunan agama.
Dalam Islam, tidak mungkin adanya pertentangan antara perintah yang satu dan perintah yang lainnya. Jika Alquran memerintahkan untuk tetap produktif, seseorang tidak boleh terus duduk dan tidak beranjak untuk mencari dunia.
Karena itu, untuk menghindari kesalahpahaman dalam praktik iktikaf, tampaknya perlu dirumuskan makna "baru" dengan tetap memelihara spirit yang menjadi substansi ajaran itu.
Kita tentu tidak bisa memindahkan iktikaf ke kantor atau ke supermarket, bahkan di rumah sekalipun. Secara fisik, iktikaf tetap hanya dapat dilakukan di masjid. Namun, secara spirit kita harus mampu memelihara iktikaf di manapun dan kapan pun.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar. syukur, takwa, )


***) Asep S Muhtadi -- Republika

Rabu, 05 Agustus 2015

SATU KEKUATAN INDONESIA YG TERAMAT DASYAT

Bismillah, saya tahu bagaimana caranya menurunkan dolar AS sampai di bawah Rp 10 ribu. Bahkan, bisa sampai di bawah Rp 5.000 atau malah terbalik. AS, Cina, dan Jepang yang minjem ke Indonesia. Tidak ada yang tidak mungkin selama Tuhannya Allah.
Seorang kawan tersenyum heran. Beliau pikir saya lagi bercanda atau bermimpi. ''Gimana caranya?'' tanyanya. Yunani dalam waktu dekat, pada Juli, agaknya akan mengumumkan sesuatu, sehubungan mereka bakal gagal lagi bayar utang.
Mudah-mudahan Allah menolong kita semua. Masalah di negara yang satu, dampaknya akan ada bagi negara yang lain. Sebab, kita hidup di bumi yang satu. Saling terhubung. ''Ya udah, gimana caranya?" tanya lagi kawan saya tidak sabar.
Ini berkah Ramadhan. Supaya terjadi nanti, berwujud nanti, habis Ramadhan. Bila kita mampu melakukan cara ini bersama-sama, se-Indonesia. Saya lalu bismillah, mulai memberi tahu kawan saya tersebut.
Buat diri saya dan buat siapa pun yang mau merenungi QS 3 ayat 189, semua kekuasaan, termasuk menjatuhkan, membangunkan, menaikkan, atau menurunkan. Apa saja dan urusan apa saja, kekuasaannya ada pada Allah.
Dan, Allah bilang, ''Wallaahu 'alaa kulli syaiin qodiir." Allah sangat sanggup melakukan segala sesuatunya. Jangan bilang ga mungkin. Dan jangan bilang kekuasaan dan kemampuan itu hanya pada orang atau lembaga tertentu, seperti the Fed, BI, atau negara tertentu.
Semuanya, pure ada pada Allah. Yuk lihat lagi, yaitu surah yang sama, Ali Imran ayat 109. Kekuasaan mutlak, terhadap apa saja, dan pada urusan apa saja, di langit-Nya dan di bumi-Nya, adalah ada pada dan milik Allah semata.
Allah kemudian bilang, ''Wa ilallaahi turja'ul umuur." Langkah apa saja yang kalian lakukan, ikhtiar apa saja yang kalian kerjakan, semua akan berpulang ke Allah juga segala urusannya. Indonesia punya satu kekuatan yang teramat dahsyat.
Sebanyak 80 persen penduduknya insya Allah Islam. Tinggal dijadikan beriman saja. Jika kekuatan ini digerakkan untuk mengimani Allah, bisa menolong, bahkan tidak hanya soal rupiah, dolar, yuan, yen, euro, real, tapi di semua urusan.
Komandonya dari presiden. Kalau perlu siarkan, presiden yang azan pada lima waktu shalat. Presiden tinggal muncul saja di tujuh stasiun televisi nasional. Pagi, siang, sore, malam. Ngajak masyarakat sepenuh-penuh hatinya, rasanya, berdoa kepada Allah.
Minta dolar diturunin, rupiah dinaikkin. Minta agar tidak dikontrol oleh kebijakan negara manapun, juga oleh siapa pun, termasuk dari dalam negeri sendiri jika itu merugikan. Kalau sama-sama untung, oke lah.
Presiden muncul pagi, siang, sore, dan malam di stasiun televisi nasional. Pimpin baca Alquran dan sedikit menadaburinya, lalu menjadi agenda nasional.
(Da'wah, hidayah, hikmah, kebesaran, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Ustaz Yusuf Mansur

Selasa, 04 Agustus 2015

TETAPLAH LAPAR

“ Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya untuk sering-sering merasakan lapar dan dahaga karena dapat mengetuk pintu surga.”

Sewaktu Bulan Suci Ramadhan pergi, seakan ia berpesan kepada semua alumni-nya agar memegang teguh janji (adab) sebagai ikatan persahabatan sejati yang pernah terjalin.
Paling tidak, ada empat pesan penting yang ia titipkan kepada kita jika betul merasa sedih saat kepergiannya dan rindu menanti kedatangannya.  
Pertama; tetaplah lapar. Lapar memang sengsara membawa nikmat.  wa maal ladz-dzatu illa ba’da ta’bi (tiada kelezatan kecuali setelah kepayahan”). 
Apa maknanya ? Yakni meneruskan kebiasaan tak makan di siang hari, dengan menjalankan puasa sunnah, seperti enam hari di bulan syawal, puasa Senin-Kamis, apalagi puasa Nabi Daus As, sehari lapar sehari kenyang. 
Kenapa lapar itu penting dijaga, karena hanya orang lapar yang mengerti arti sesuap nasi. Jika makan tak pernah bersisa walau sebutir. 
Makan yang nikmat adalah ketika lapar. Tetaplah lapar, karena lapar membuat badan sehat dan enteng, pikiran cerdas dan hati lembut serta mudah berempati kepada derita sesama, lalu senang bersedekah kepada yatim dan dhuafa.  
Kedua; Tetaplah haus. Semakna dengan lapar, ia juga derita. Tetapi melahirkan kelezatan. Minum yang nikmat ketika haus, maka berhaus-hauslah di siang hari (puasa), agar enak minum di sore hati (berbuka). 
Ketika air banyak berlimpah, kita sering kali membuang-buangnya seakan tak berdosa, padahal itu mubazzir (QS.17:26-27).
Lalu, kapan air baru berharga? Ketika kehausan atau kekeringan melanda karena kemarau panjang seperti yang terjadi saat ini. Orang yang haus akan menghargai segelas air dan jika ia minum tak bersisa walau setetes. 
Orang puasa akan menghargai, menjaga kebersihan dan kejernihannya. Mereka tidak akan mengotori, mencemari atau merusak lingkungan. Mereka pun  tak tahan melihat derita orang yang dahaga, binatang kehausan atau tanaman yang hampir mati kepanasan.  
Ketiga; Tetaplah bodoh. Orang yang merasa bodoh tak berprasangka macam-macam kepada orang lain. Mereka polos menjalani kehidupan, dan sadar akan kekurangan dirinya lalu terus belajar (QS.58:11). 
Orang yang merasa bodoh itu pertanda tahu bahwa ia tidak tahu (rajulun yadri annahu laa yadri). Tapi, orang yang merasa tahu pertanda tidak tahu ia tidak tahu (rajulun laa yadri annahu laa yadri). Orang yang merasa tahu semua hal sebenarnya tidak apa-apa dan itu kesombongan.
Meski sudah banyak belajar, mengkaji, meneliti, mendengar tausiah, tapi tetaplah merasa bodoh (murid). Tanda orang berilmu itu menyadari yang diketahuinya lebih sedikit daripada yang tidak diketahuinya (rajulun yadri annahu yadri). Yang paling berbahaya adalah orang dungu, yakni tidak tahu bahwa ia tidak tahu (rajulun laa yadri annahu laa yadri).
Keempat; Tetaplah rendah hati  (tawadhu’). Walaupun sudah banyak ilmu yang dipahamkan, banyak sedekah yang diterbarkan, banyak kearifan yang didapatkan, kenikmatan spritual yang dirasakan, namun tetaplah rendah hati. 
Penyakit orang kaya dan orang berilmu itu keangkuhan. Hanya sedikit orang kaya rendah hati, yakni yang dermawan. Sedikit pula orang berilmu rendah hati, yakni yang saleh. Allah SWT benci kepada orang kaya sombong, tapi lebih benci melihat orang miskin yang sombong. 
Allah SWT juga tak suka orang berlimu sombong, namun lebih tak suka kepada orang bodoh yang sombong. Setinggi apapun pun pangkat, sebanyak apapun harta, seluas apapun ilmu, sehebat apapun pencapaian, namun tetaplah rendah hati. Karena, keangkuhan adalah awal dari setiap kejatuhan. 
Pesan-pesan ini saling berkaitan satu sama lain. Keempatnya adalah kesalehan indvidual yang berbuah pada kesalehan sosial. Itulah mukmin sejati, yakni al-Muttaqiin (orang-orang bertakwa). Allahu a’lam bish-shawab. 
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, pendidikan, sabar, syukur., takwa, toleransi,  )

***) Ustaz Hasan Basri Tanjung, MA --- republika

Senin, 03 Agustus 2015

RAHASIA PUASA SYAWAL

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda yang artinya, “Barang siapa yang berpuasa selama bulan Ramadhan dan melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya sama dengan puasa selama satu tahun.” (HR Muslim).
Dalam pemahaman sederhananya, hadis ini hendak menyampaikan bahwa orang Islam yang berpuasa wajib selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan puasa sunah selama enam hari pada bulan Syawal, pahalanya sama dengan orang yang puasa selama satu tahun penuh.
Pahala sebanyak itu diperoleh dari matematika agama yang menyebutkan, satu kebaikan akan dibalas sepuluh pahala oleh Allah SWT. Dengan demikian, orang yang berpuasa satu hari akan mendapat pahala sama dengan berpuasa selama sepuluh hari.
Dan akhirnya, seorang Muslim yang ber puasa selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan, kemudian dilanjutkan enam hari di bulan Syawal, totalnya ber puasa antara 35 atau 36 hari (ber gantung bilangan hari di bulan Ramadhan, apakah 29 hari atau 30 hari). Dengan begitu, ketika dikalikan 10, akan men jadi 350 hari atau 360 hari. Artinya, jumlah seperti itu sama dengan satu tahun dari segi pahala.
Hitung-hitungan pahala puasa seperti ini memiliki kesamaan dengan hikmah puasa dari segi kesehatan. Sebagaimana sudah maklum bahwa puasa bisa membuat anggota tubuh kita mampu beradaptasi dengan kadar terendah jumlah makanan yang ada di dalam pencernaan. Jika kadar makanan yang masuk ke pencernaan sedikit, tekanan pe rut ke dada akan berkurang sehingga per napasan menjadi teratur.
Jika pernapasan teratur, jantung akan memompa darah dengan stabil karena energi yang dibutuhkan pencernaan untuk mencerna makanan telah berkurang. Ketika pencernaan bisa mendapat waktu yang cukup untuk ber is tirahat, ia bisa memperbaiki sel-sel nya yang telah rusak dan menggantinya dengan sel-sel baru yang lebih baik.
Letak kesamaannya, ternyata satu hari puasa bisa membersihkan pencernaan dari sisa-sisa makanan selama 10 hari. Dengan demikian, ketika kita ber puasa selama satu bulan, manfaat yang dirasakan oleh pencernaan bisa sampai 300 hari. Dan untuk melengkapinya menjadi satu tahun, berarti membutuhkan waktu pembersihan pencernaan se lama 60 hari. Artinya, butuh waktu puasa lagi selama enam hari. Di sinilah urgensi puasa enam hari di bulan Sya wal, yakni sebagai pelengkap agar genap satu tahun, baik dari segi pahala mau pun dari segi kesehatan.
Mahabenar Allah SWT dan Rasul- Nya yang menyatakan melalui lisan Rasulullah SAW. “Barang siapa yang ber puasa selama bulan Ramadhan dan me lanjutkannya dengan puasa enam ha ri di bulan Syawal, maka pahalanya sama dengan puasa selama satu tahun.”
Sungguh, akan sangat merugi jika kita membiarkan kelimpahan pahala dan hikmah sehat dalam puasa enam ha ri di bulan Syawal lewat begitu saja tan pa kita perhatikan dan pergunakan se baik-baiknya. Sementara dalam prak tik nyatanya, belum tentu kita mampu ber puasa selama satu tahun penuh.
(Da'wah, hidayah, keyakinan, pendidikan, sabar, syukur., takwa, )

***)Republika

Minggu, 02 Agustus 2015

BERAKHIRNYA RAMADHAN, ......

Sebagai seorang Muslim, kita patut sedih dan berat hati berpisah dengan bulan Ramadhan. Kita berharap dan berdoa agar amal ibadah kita diterima, istiqamah dalam ibadah dan amal saleh, dan dipertemukan kembali dengan Ramadhan mendatang.
Berbagai keutamaan bulan Ramadhan telah memotivasi kita untuk meraihnya. Tidak mengherankan bila pada Ramadhan, masjid dan mushala penuh dengan jamaah shalat lima waktu, Tarawih, dan witir serta tadarus Alquran. Begitu pula, umat Islam berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan berinfak, bersedekah, dan lainnya.
Berakhirnya Ramadhan, menjadikan manusia terbagi dalam tiga kelompok. Pertama, golongan yang tetap taat dalam kebenaran dan kebaikan. Mereka menjadikan Ramadhan sebagai ghanimah rabbaniyah atau hadiah termahal dari Allah SWT untuk meraih takwa.
Kedua, golongan yang kembali kumat bakda Ramadhan. Inilah orang-orang yang dijajah oleh hawa nafsunya. Baginya, Ramadhan seperti obat nyamuk. Ketiga, golongan yang biasa-biasa saja, mau di bulan atau di luar Ramadhan, baginya sama saja, tak ada yang istimewa.
Golongan kedua dan ketiga, setali tiga uang. “Rugilah orang yang memasuki dan mengakhiri Ramadhan sementara dosanya tidak Allah ampuni.” (HR Tirmidzi). Ke mana pahala puasanya? Orang itu hanya kebagian haus dan lapar, hanya mendapat capai dan letih. Dan, inilah orang yang tekor, paling merugi tiada tara. (HR Nasa’i).
Golongan pertama ini, jika Ramadhan berlalu, berada di antara dua keadaan: antara khawatir dan harap. Khawatir jika umurnya tidak sampai ke Ramadhan berikutnya. Khawatir jika amalnya tidak bisa menebus dosa-dosanya. Dan, berharap semoga amal ibadah mereka diterima, dicatat sebagai amal saleh, dan keluar dari Ramadhan sebagai pemenang.
Sejatinya pasca-Ramadhan, kita tetap istiqamah dan mampu serta terbiasa melakukan aktivitas ibadah dan amal saleh untuk hari-hari berikutnya selama 11 bulan. Sungguh Ramadhan telah memberikan pembelajaran terhadap kepribadian seorang Muslim untuk melahirkan insan yang bertakwa.
Di antaranya, pertama, semangat beribadah dan beramal saleh secara kualitas maupun kuantitas. Kedua, menjaga diri dari maksiat. Ramadhan lalu telah mengajarkan kepada kita bagaimana mengendalikan diri dan hawa nafsu lewat ibadah puasa.
Maka, sudah sepatutnya setelah Ramadhan kita mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu dan maksiat, baik berupa perkataan yang haram, seperti ghibah, mencaci maki, menghina, menipu, memfitnah, maupun perbuatan yang haram, seperti mencuri, merampok, mencopet, korupsi, memukul, membunuh, dan sebagainya. Dengan begitu, pasca-Ramadhan perilaku kita menjadi lebih baik.
Ketiga, suka membantu dan mencintai saudara seiman. Keempat, selalu menjaga shalat berjamaah di masjid atau mushala. Sejatinya semangat shalat berjamaah ini bisa dipertahankan dan dilanjutkan pada shalat lima waktu setelah Ramadhan.
Kelima, menjaga shalat sunah. Keenam, suka membaca Alquran. Sepeninggal Ramadhan, kita diharapkan terbiasa membaca Alquran dan berinteraksi dengannya pada setiap saat.
Semoga nuansa Ramadhan senantiasa membekas dan memancar dalam hidup dan kehidupan kita pada bulan-bulan di luar Ramadhan sehingga tujuan ibadah Ramadhan menjadikan manusia sebagai insan takwa terus terpelihara dengan baik. Amin.
(Da'wah, hidayah, keyakinan, pendidikan, sabar, syukur., takwa., )


***) Ahmad Agus Fitriawan

Sabtu, 01 Agustus 2015

HUKUMAN BERAT BAGI PEMUTUS SILATURAHIM

Bulan Syawal merupakan bulan silaturahim bagi masyarakat Muslim Indonesia. Hal ini karena pada hari Lebaran tersebut diisi dengan saling bermaafan, saling berkunjung, dan saling menyapa antara yang satu dan lainnya.
Selain memeriahkan Lebaran dan memang sudah menjadi tradisi, masyarakat pun mudik hanya untuk bersilaturahim.
Secara bahasa, kata silaturahim merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yaitu shilah al-rahim. Istilah tersebut terdiri atas dua kata, yakni shilah yang berarti sambung atau menyambung dan al-rahim yang berarti persaudaraan atau kekerabatan (bisa juga kasih sayang). Dengan demikian, secara bahasa, silaturahim berarti menyambung (tali) persaudaraan atau kekerabatan.
Sementara itu, jika kita mengorek arti silaturahim secara istilah yang disesuaikan dengan konteks masyarakat kita sekarang, kita bisa mengartikan bahwa silaturahim adalah upaya menyambung tali persaudaraan dengan saling mengunjungi antara yang satu dan yang lainnya agar terjalin rasa kasih sayang dan solidaritas antarsesama.
Dalam konteks tersebut, silaturahim dilakukan dengan bertamu, saling melihat keadaan dengan kunjungan, dan saling menyapa dengan komunikasi yang baik pada kunjungan tersebut.
Paling tidak, ada dua hal yang perlu kita ketahui dari silaturahim berkaitan dengan pengertiannya secara istilah. Pertama, menyambung tali persaudaraan yang sebelumnya belum tersambung, artinya berkenalan dengan orang lain kemudian menjalin persaudaraan. Kedua, mempererat persaudaraan atau kekerabatan sehingga jalinan tersebut semakin baik dari waktu ke waktu dan tidak dilepaskan.
Ajaran tentang silaturahim ini sungguh digaungkan oleh agama Islam untuk persatuan umat. Islam tidak menghendaki permusuhan, tetapi menghendaki persaudaraan. Hal itu sesuai dengan fitrah kemanusiaan bahwa manusia itu adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan antara yang satu dan yang lainnya.
Anjuran silaturahim ini sangat Rasulullah SAW tekankan kepada umat Islam. Ketika Rasulullah SAW hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau pun melekatkan hubungan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang sebelumnya kedua kaum tersebut belum saling kenal. Karena Rasulullah SAW memerintahkan silaturahim, hubungan kedua kaum tersebut sungguh sangat harmonis. Mereka terikat dalam sebuah tali persaudaraan yang sangat kuat.
Selain menambah jaringan dan saudara, silaturahim juga mempunyai manfaat lain. Rasulullah SAW menjelaskan, “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya (kebaikannya), maka bersilaturahimlah." (HR Bukhari).
Sementara itu, Islam tidak menyukai orang-orang yang memutuskan tali persaudaraan. Islam mengancam dan mengecam secara tegas orang-orang yang memutuskan tali persaudaraan. Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus (silaturahim)." (HR Bukhari dan Muslim).
Islam begitu tegas terhadap hubungan baik sesama manusia. Oleh karena itu, orang yang tidak mau berbuat baik dan justru memutus persaudaraan, Islam pun memberikan ancaman yang keras, yakni tidak akan masuk surga sebagai balasannya. Sungguh mengerikan. Na’udzu billah min dzalik.
(Da'wah, keyakinan, hidayah, sabar, syukur, takwa, pendidikan, )


***)Supriyadi  -- Republika