Selasa, 12 Januari 2016

SEJAUH MANA UPAYA KITA TELADANI RASULLAH

Kini kita telah berada di bulan Rabiul Awal. Pada bulan ini kaum Muslimin selalu memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Momentum peringatan ini hendaknya dijadikan sarana untuk evaluasi diri, sejauh mana upaya kita untuk meneladani keluhuran akhlak Nabi SAW.
Jangan sampai setiap tahun kita memperingati maulid Nabi SAW, tetapi akhlak kita masih jauh dari apa yang diteladankan olehnya. Sungguh, dalam diri Nabi terdapat teladan yang baik (QS al-Ahzab [33]: 21).
Ketika Rasulullah SAW disakiti oleh orang-orang yang menentangnya, beliau tidak pernah membalasnya. Rasul menghadapinya dengan penuh kesabaran. Setiap kali Rasulullah melintas di depan rumah seorang wanita tua, beliau selalu diludahi oleh wanita tua itu.
Suatu hari, saat Rasulullah SAW melewati rumah wanitu tua itu, beliau tidak bertemu dengannya. Karena penasaran, beliau pun bertanya kepada seseorang tentang wanita tua itu. Justru orang yang ditanya pun malah heran, mengapa Rasulullah menanyakan kabar tentang wanita tua yang telah berlaku buruk kepadanya.
Setelah Rasulullah mendapatkan jawaban, wanita tua yang biasa meludahinya itu ternyata sedang sakit. Bukannya gembira, justru beliau memutuskan untuk menjenguknya. Wanita tua itu tidak menyangka jika Rasulullah mau menjenguknya.
Bahkan, ketika si wanita tua itu sadar bahwa manusia yang menjenguknya adalah orang yang selalu diludahinya setiap kali melewati depan rumahnya, si wanita tua itu pun menangis di dalam hatinya, "Duhai, betapa luhur budi manusia ini. Kendati tiap hari aku ludahi, justru dialah orang pertama yang menjengukku kemari.
"Dengan menitikkan air mata haru dan bahagia, si wanita tua itu lantas bertanya, "Wahai Muhammad, mengapa engkau menjengukku, padahal tiap hari aku meludahimu?" Rasulullah menjawab, "Aku yakin engkau meludahiku karena engkau belum tahu tentang kebenaranku. Jika engkau telah mengetahuinya, aku yakin engkau tidak akan melakukannya.
"Mendengar jawaban bijak dari Rasulullah, wanita tua itu pun menangis dalam hati. Dadanya sesak, tenggorokannya terasa tercekat. Kemudian dengan penuh kesadaran, ia pun berkata, "Wahai Muhammad, mulai saat ini aku bersaksi untuk mengikuti agamamu.
" Lantas, wanita tua itu pun mengikrarkan dua kalimat syahadat, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah." Subhanallah.Demikianlah sebagian kisah manusia agung, Nabi Muhammad SAW. Masih banyak kisah lainnya yang hendaknya terus digali, disosialisasikan, diteladani, dan diejawantahkan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Wallahu a'lam. 
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur, takwa, )

***)Imam Nur Suharno

Senin, 11 Januari 2016

MATA HATI

Syaqiq al-Balkhi mengisahkan, suatu ketika Ibrahim bin Adham jalan-jalan di Pasar Bashrah. Sekonyong-konyong, mendekatlah orang-orang. Lalu, mengelilinginya. Mereka bertanya kepadanya, “Apa maksud firman Allah, berdoalah kamu kepada-Ku niscaya Aku akan perkenankan doamu.” (QS Ghafir [40] : 60).
Mereka berkata, “Kami sebenarnya telah berdoa, namun setidaknya hingga hari ini tak kunjung dikabulkan Allah.” Ibrahim berkata, “Karena kalian mati hati. Maka, bagaimana doa kalian akan dikabulkan?”
Mereka bertanya lagi, “Mengapa kami dikatakan mati hati?” Ibrahim menjawab, “Terdapat 10 perkara yang menyebabkan mati hati”. Kemudian dia sebutkan satu per satu secara berurutan.
Pertama, kalian mengaku mengetahui Allah sebagai pencipta kalian tetapi kalian tidak menunaikan hak-hak-Nya. Allah berhak ditaati perintah-Nya. Mengapa, perintah-Nya itu kadang-kadang dilaksanakan dan kadang-kadang tidak dilaksanakan?
Kedua, kalian membaca kitab Allah, tetapi kalian tidak mengamalkan isinya. Allah memerintahkan agar menyembah Allah semata tanpa menyekutukan-Nya. Mengapa, Allah (langsung atau tidak langsung) kerap disekutukan dengan selain-Nya?
Ketiga, kalian mengaku memusuhi setan, tetapi kalian mengikuti perintahnya. Allah melarang mengikuti langkah-langkah setan. Mengapa langkah-langkah setan itulah yang kerap dijadikan rujukan dalam kehidupan sehari-hari?
Keempat, kalian mengaku mencintai Rasulullah SAW, tetapi kalian meninggalkan sunahnya. Rasulullah SAW menjelaskan, orang yang memelihara anak yatim akan mendapat tempat istimewa di surga. Mengapa, tidak sedikit orang yang membiarkan anak yatim tanpa masa depan cerah?
Kelima, kalian mengaku mendambakan surga, tetapi kalian tidak mengerjakan hal-hal yang akan mengantarkan kalian masuk ke dalamnya. Mendirikan shalat dengan khusyuk, mengeluarkan zakat, menjaga kemaluan adalah sebagian kecil contoh-contohnya. Mengapa, tidak sedikit orang yang melalaikannya?
Keenam, kalian mengaku takut neraka, tetapi kalian tidak menghindari perbuatan dosa/maksiat. Misalnya, Allah melarang keras perbuatan zalim. Mengapa, banyak orang yang merasa dizalimi sesamanya?
Ketujuh, kalian mengaku kematian itu niscaya datangnya, tetapi kalian tidak bersiap-siap menghadapinya. Contohnya, Allah menjelaskan di akhirat setiap orang akan dibalas sesuai dengan amalnya masing-masing. Mengapa, banyak orang yang tidak sungguh-sungguh mengerjakan amal saleh semasa hidupnya?
Kedelapan, kalian sibuk mempersoalkan cela, kekurangan, dan kesalahan orang lain sementara kalian abai terhadap cela, kekurangan, dan kesalahan diri kalian sendiri. Allah melarang keras membuka aib orang lain. Mengapa, masih banyak orang tidak menghiraukan larangan tersebut?
Kesembilan, kalian mendapatkan rezeki dari Allah, tetapi kalian lupa bersyukur kepada-Nya. Allah menitipkan harta yang banyak. Mengapa, tidak sedikit orang yang mengklaim harta itu miliknya sendiri? Lalu, mereka tidak mau berbagi dengan orang lain.
Kesepuluh, kalian mengebumikan jenazah saudara kalian, tetapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya. Allah menyatakan, “Setiap yang bernyawa niscaya bakal merasakan kematian.” Mengapa banyak orang yang seakan-akan tidak memercayainya? Wallahu alam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, sabar. syukur, sabar, )

***) Mahmud Yunus

Minggu, 10 Januari 2016

10 PERKARA SEBABKAN MATI HATI

Syaqiq al-Balkhi mengisahkan, suatu ketika Ibrahim bin Adham jalan-jalan di Pasar Bashrah. Sekonyong-konyong, mendekatlah orang-orang. Lalu, mengelilinginya. Mereka bertanya kepadanya, “Apa maksud firman Allah, berdoalah kamu kepada-Ku niscaya Aku akan perkenankan doamu.” (QS Ghafir [40] : 60).
Mereka berkata, “Kami sebenarnya telah berdoa, namun setidaknya hingga hari ini tak kunjung dikabulkan Allah.” Ibrahim berkata, “Karena kalian mati hati. Maka, bagaimana doa kalian akan dikabulkan?”
Mereka bertanya lagi, “Mengapa kami dikatakan mati hati?” Ibrahim menjawab, “Terdapat 10 perkara yang menyebabkan mati hati.” Kemudian dia sebutkan satu per satu secara berurutan.
Pertama, kalian mengaku mengetahui Allah sebagai pencipta kalian tetapi kalian tidak menunaikan hak-hak-Nya. Allah berhak ditaati perintah-Nya. Mengapa, perintah-Nya itu kadang-kadang dilaksanakan dan kadang-kadang tidak dilaksanakan?
Kedua, kalian membaca kitab Allah, tetapi kalian tidak mengamalkan isinya. Allah memerintahkan agar menyembah Allah semata tanpa menyekutukan-Nya. Mengapa, Allah (langsung atau tidak langsung) kerap disekutukan dengan selain-Nya? 
Ketiga, kalian mengaku memusuhi setan, tetapi kalian mengikuti perintahnya. Allah melarang mengikuti langkah-langkah setan. Mengapa langkah-langkah setan itulah yang kerap dijadikan rujukan dalam kehidupan sehari-hari?
Keempat, kalian mengaku mencintai Rasulullah SAW, tetapi kalian meninggalkan sunahnya. Rasulullah SAW menjelaskan, orang yang memelihara anak yatim akan mendapat tempat istimewa di surga. Mengapa, tidak sedikit orang yang membiarkan anak yatim tanpa masa depan cerah?
Kelima, kalian mengaku mendambakan surga, tetapi kalian tidak mengerjakan hal-hal yang akan mengantarkan kalian masuk ke dalamnya. Mendirikan shalat dengan khusyuk, mengeluarkan zakat, menjaga kemaluan adalah sebagian kecil contoh-contohnya. Mengapa, tidak sedikit orang yang melalaikannya?
Keenam, kalian mengaku takut neraka, tetapi kalian tidak menghindari perbuatan dosa/maksiat. Misalnya, Allah melarang keras perbuatan zalim. Mengapa, banyak orang yang merasa dizalimi sesamanya?
Ketujuh, kalian mengaku kematian itu niscaya datangnya, tetapi kalian tidak bersiap-siap menghadapinya. Contohnya, Allah menjelaskan di akhirat setiap orang akan dibalas sesuai dengan amalnya masing-masing. Mengapa, banyak orang yang tidak sungguh-sungguh mengerjakan amal saleh semasa hidupnya?
Kedelapan, kalian sibuk mempersoalkan cela, kekurangan, dan kesalahan orang lain sementara kalian abai terhadap cela, kekurangan, dan kesalahan diri kalian sendiri. Allah melarang keras membuka aib orang lain. Mengapa, masih banyak orang tidak menghiraukan larangan tersebut?
Kesembilan, kalian mendapatkan rezeki dari Allah, tetapi kalian lupa bersyukur kepada-Nya. Allah menitipkan harta yang banyak. Mengapa, tidak sedikit orang yang mengklaim harta itu miliknya sendiri? Lalu, mereka tidak mau berbagi dengan orang lain.
Kesepuluh, kalian mengebumikan jenazah saudara kalian, tetapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya. Allah SWT berfirman, “Setiap yang bernyawa niscaya bakal merasakan kematian.” Mengapa banyak orang yang seakan-akan tidak memercayainya? Wallahu alam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur, takwa, ) 

***) Mahmud Yunus

Jumat, 08 Januari 2016

DI BALIK USIA 40 TAHUN

Setiap manusia yang diberi umur panjang akan melewati masa anak-anak, dewasa, hingga tua. Hakikat umur sesungguhnya rentangan perjalanan menuju kepada yang Maha Menciptakan, perjalanan kembali kepada Allah SWT. 
Usia 40 tahun ada dalam persimpangan, sebagian yang telah dilalui dan sisa yang akan dijalani menuju tempat kembali. Dalam usia tersebut memperkuat rasa syukur dan berbuat baik menjadi pilihan yang penting.
Alquran surah al-Ahqaaf ayat 15 menegaskan kondisi jiwa seseorang pada usia 40 tahun. “... Apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Usia 40 tahun ada pada masa dewasa, memiliki kematangan dalam berpikir dan mampu melakukan perenungan. Merefleksi keberadaan dan perjalanan yang telah dilewati serta mempertimbangkan sisa perjalanan yang akan dilalui. 
Bersyukur setiap saat tentu bukan hal yang mudah, ada celah godaan yang bisa saja terpeleset menjadi hamba yang kurang bersyukur.
Pada masa ini, sepatutnya kita meningkatkan syukur dengan memohon petunjuk agar dapat mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada diri sendiri dan juga kepada kedua orang tua supaya dapat beramal yang diridhai Allah. 
Memohon kebaikan untuk diri dan anak cucu. Dan, memohon ampunan kepada Allah serta menegaskan bahwa diri ini termasuk orang yang berserah diri. Setiap anak tidak lepas keterlibatan dan peran orang tua. 
Orang tua sebagai perantara keberadaan kita di bumi ini. Karena itu, orang tua menjadi orang pertama yang patut dimuliakan. Kepatuhan dan berbuat baik kepada orang tua selalu bersanding setelah perintah ketaatan dan kepatuhan kepada Allah. (QS al-Israa: [23], Luqman: 13-14).
Peran orang tua yang dengan segala kepayahannya mengandung, melahirkan, serta menyusui satu dasar kuat bahwa setiap anak yang terlahir patut mensyukuri akan hal ini. Tentu kesadaran berbuat baik kepada orang tua tidak serta merta tumbuh dalam diri anak. 
Namun seiring waktu, bertambahnya kekuatan untuk berpikir, merenung, dan bertambahnya ilmu dan pengalaman yang telah dilalui, sampai kepada masa dewasa dan usia 40 tahun ini masa untuk meningkatkan penyadaran dan perilaku syukur dan berbuat baik. 
Bersyukurlah kepada Allah dan memohon untuk diberi petunjuk untuk cara berbuat syukur. Karena, tidak ada syukur yang sempurna yang dapat kita lakukan, bahkan satu langkah pun dalam syukur yang mampu kita lakukan kecuali atas pertolongan Allah.
Upaya diri dalam melakukan kebaikan, ada harapan agar kebaikan yang dilakukan juga dapat diberikan kepada keturunan selanjutnya, yaitu anak dan cucu untuk senantiasa berbuat baik. Mengharap kesalehan diri dan keturunan menjadi harapan setiap Muslim. 
Tali-temali keturunan orang tua, anak, dan cucu yang terhubung dengan tali Allah, artinya ada dalam barisan yang berserah diri kepada Allah. Berapa pun usia, sesungguhnya kita sedang berjalan kembali kepada Allah. Wallahu alam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, sabar, syukur, takwa, )

***)  Santi Lisnawati

Rabu, 06 Januari 2016

DAHSYATNYA ISTIGHFAR

Jika ikhwah sering menghadiri majelis-majelis zikir, tentu tidak hanya majelis kami, ikhwah pasti sering sekali mendengar dari para ustaz dan ulama kita tentang pelaziman istighfar. 
Dalam majelis zikir yang kami helat, misalnya, istighfar minimal seratus kali dibaca dan sekaligus sebagai pembuka zikir kami.
Lalu, mengapa kita sangat perlu beristighfar? Berikut ini adalah tuturan hikmahnya. Mohon ikhwah baca dengan iman dan pelan, serta resapi dan rujukkan kepada maraji'-nya.
Pertama, penyebab Allah jatuh cinta kepada hamba-Nya; hubbullaah(baca QS Al-Baqarah [2]: 222). Kedua, akan mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah dan makhluk-Nya; al-mukarromuun (QS Yasin [36]: 27).
Ketiga, mendapatkan ampunan Allah; al-magfuuruun (QS Az-Zumar [39]: 53). Berikutnya, al-fadhilah, upaya untuk mendapatkan karunia Allah yang paling besar (QS An-Nur [24]: 21). Dengan beristighfar, kita memberi kebaikan untuk tercegahnya bala dan hura-hura kiamat;daf'ul balaai (QS Al-Anfal [8]: 33).
Istighfar adalah Du'aaur Rasuul, doa yang menjadi wirid harian Rasulullah SAW. Istighfar juga adalah ijaabatul Malaikah, doa yang diaminkan para malaikat. Ia adalah rahmatullah, mengundang hujan yang penuh rahmat. Bahkan istighfar, bi amwaalin, memudahkan meraih rezeki halal penuh berkah.
Istighfar juga as-sahlu, penyebab Allah memudahkan dalam setiap urusan. Al-Marjuuqu, solusi rezeki yang tidak ia sangka-sangka.
Quwwatul iimaani, bisa memperkuat iman. Adz-Dzihnu, kecerdasan spiritual, kecerdasan yang terbimbing. Qowlan tsaqiilan, dengan istighfar akan menjadikan arah bicaranya hikmah dan disimak.
Orang yang melazimkan istighfar akan didapati pada dirinyaquwwatul jasadi, fisik yang kuat dan prima. Tathmainnul quluubi, hati terliputi tenang, damai, dan bahagia.
Dawaaun, ia adalah solusi dan obat penyakit jasmani dan rohani.Miftaahul falaahi, kunci sukses dan bahagia dunia akhirat (QS An-Nur [24]: 31).
Terakhir, simak kalam Allah dengan iman, "Sesungguhnya Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang sungguh-sungguh bertobat dan terus-menerus menjaga kesucian diri-Nya." (QS Al-Baqoroh [2]: 222).
"Mohonlah kalian pada ampunan Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah akan turunkan hujan yang lebat, kemudahan meraih rezeki halal penuh berkah, generasi yang saleh-saleh, dan kesejahteraan dengan kebun-kebun yang indah serta sungai sungai jernih yang mengalir." (QS Nuh [71]: 10-12).
Dari Abu Hurairah RA berkata, saya mendengar Rasulullah bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar memohon ampunan kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari lebih dari tujuh puluh kali." (HR Bukhari).
Dari al-Aghar bin Yasar al-Muzani RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Wahai manusia bertobatlah kamu kepada Allah dan mintalah ampunan kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertobat dalam sehari seratus kali." (HR Muslim).
Allahumma ya Allah ampunilah seluruh dosa-dosa kami. Mari kita sungguh-sungguh bertobat dengan banyak mohon ampunan-Nya.
(Da'wah, hidayah, keyakinan ., sabarR,syukur., takwa, )


***) Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Selasa, 05 Januari 2016

KHIANAT

Khianat artinya curang, culas, tidak jujur, tidak lurus hati. Menurut Raghib al-Isfahani, khianat kurang lebih sama artinya dengan nifak(orangnya disebut munafik). Khianat dapat terjadi terhadap diri sendiri, terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya, dan terhadap orang lain.
Rasullullah SAW menempatkan khianat sebagai salah satu tanda munafik. Dikatakan bahwa “Tanda munafik itu ada tiga: apabila berbicara, dia dusta; apabila berjanji, dia ingkar; dan apabila dipercaya, dia khianat.” (HR Bukhari dan Muslim).
Namun, penting kita pahami bahwa nifak mengandung arti lebih luas dari pada khianat. Nifak mengandung arti curang terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya. Khianat mengandung arti curang terhadap janji yang dibikinnya dan culas terhadap kepercayaan (amanah) yang diberikan kepadanya.
Khianat terhadap diri sendiri, misalnya, mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah kepadanya tanpa alasan syari. Contohnya, mengharamkan makanan dan/atau minuman yang secara faktual telah dinyatakan kehalalannya dalam kalam Allah atau sabda Rasul-Nya.
Khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya, misalnya, mengingkari perkara yang disyariatkan Allah dan Rasul-Nya. Contohnya, mengabaikan perintah shalat fardhu padahal tidak ada udzur syari, mengabaikan perintah zakat padahal sudah nisab, dan mengabaikan perintah pergi haji padahal sudah istithaah.
Lebih jauh, mengutip pendapat Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang dimaksudkan khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya tidak sebatas meninggalkan aturan agama, tetapi juga menyempitkan aturan agama. 
Ambil contoh: menyempitkan agenda dakwah, tarbiyah, dan khidmat kepada sesama dikait-kaitkan dengan untung rugi secara finansial. Khianat terhadap orang lain, misalnya, tidak membuktikan janji-janjinya terhadap orang lain dan amanah yang diberikan orang lain kepadanya. 
Contohnya, presiden atau wakil presiden tidak dengan sungguh-sungguh membuktikan janji-janji kampanyenya. Padahal, disebabkan janji-janji kampanyenya itulah rakyat telah memilihnya.
Khianat terhadap diri sendiri, khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan khianat terhadap orang lain itu hukumnya terlarang (haram). Risiko ketiga-tiganya tidak ada yang ringan.

Dengan begitu, pastikan bahwa khianat bukan tabiat kita sebagai Muslim. Sehingga, khianat dalam level mana pun semestinya kita hindari. 
Allah SWT berfirman, “Hai, orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang diberikan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS al-Anfal [8] : 27).
Dalam ayat lain, “Dan, jika kamu mengetahui pengkhianatan dari suatu golongan maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang khianat.” (QS al-Anfal [8] : 58).
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang yang tidak memiliki sikap (perilaku) amanah.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban). 
Menariknya, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR Ahmad, Thabrani, Ibnu Hibban, dan al-Bazzar). Wallahu alam.


"""Mahmud Yunus

Da'wah, hidayah, hikmah, sabar syukur., tawakal, 

Senin, 04 Januari 2016

DOA UMAR BIN KHATTAB SAAT MEMIMPIN UMAT ISLAM

Abu Said al-Khudri pernah meriwayatkan hadis yang artinya, "Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah dan orang yang paling dekat posisinya dengan-Nya pada hari kiamat nanti adalah pemimpin yang adil. Sementara, orang yang paling dimurkai Allah dan yang paling jauh tempatnya dari sisi-Nya adalah pemimpin yang jahat." (HR Turmudzi).
Hadis ini merupakan harapan sekaligus ancaman bagi para pemimpin. Harapan bagi pemimpin yang baik agar menjadi hamba yang dicintai oleh Allah dan mendapat posisi yang paling dekat dengan-Nya di akhirat nanti. Begitu pula sebaliknya, hadis di atas juga bisa menjadi ancaman bagi pemimpin yang tidak baik atau jahat. Bahwa mereka akan mendapat murka dari Allah dan akan menempati posisi yang sangat jauh dari-Nya.
Dalam melaksanakan tugasnya, para pemimpin dihadapkan pada dua pilihan, adil atau zalim. Adil ketika ia menempatkan sesuatu pada tempatnya dan zalim ketika ia menempatkan sesuatu tidak pada tempat yang semestinya.
Karena tugas pemimpin yang berat seperti ini, maka pantas ketika Umar bin Khattab setiap menghadapi persoalan selalu berdoa, "Ya Allah, bimbinglah saya dalam menghadapi dua orang ini karena masing-masing dari mereka berdua ingin melihat saya dari segi agama saya."
Pada kesempatan yang lain, kadang Umar berdoa, "Ya Allah, berilah saya pertolongan untuk berbuat adil kepada keduanya. Sesungguhnya salah satu dari mereka bisa menjauhkan saya dari agama saya."
Pemimpin yang adil atau baik bukan berarti pemimpin yang membiarkan kebaikan dan kejahatan berjalan bersamaan, membiarkan kebaikan tetap berjalan, tapi juga membiarkan kejahatan tumbuh subur. Pemimpin yang seperti ini justru bukan merupakan pemimpin yang adil, melainkan tergolong pemimpin yang lemah.
Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang bisa membela rakyatnya yang lemah tapi benar dan bisa menghukum rakyatnya yang kuat tapi bersalah. Sehingga, ia bisa menempatkan kebenaran pada tempatnya dan menempatkan kejahatan atau kezaliman pada tempatnya pula.
Jika suatu daerah atau wilayah dipimpin oleh pemimpin yang adil, rakyatnya akan tertib, aman, dan sejahtera. Tertib karena seluruh rakyatnya akan mematuhi peraturan yang diundangkan oleh sang pemimpin.
Aman karena semua rakyatnya tidak merasa khawatir dengan kezaliman orang lain, lebih-lebih kezaliman sang pemimpin sendiri. Dan sejahtera setelah kehidupan mereka tidak ada yang mengganggu dan mereka bisa hidup sesuai dengan keinginan dan kebebasannya sendiri.
Oleh sebab itu, pantas ketika seorang pemimpin yang bisa menjadikan wilayahnya tertib, aman, dan sejahtera atau berbuat adil pada rakyatnya akan mendapatkan beberapa keutamaan di akhirat nanti. Di antaranya akan termasuk golongan yang mendapatkan naungan Allah (HR Bukhari dan Nasai), akan mendapatkan cinta Allah dan tempat yang paling dekat dengan-Nya (HR Turmudzi), serta mendapat posisi di mimbar sebelah kanan Zat Yang Maha Pengasih di akhirat nanti (HR Muslim).
Dan pemimpin yang adil pantas mendapatkan tempat-tempat yang dijanjikan Allah itu karena mereka telah melakukan tugasnya dengan sangat baik.
(Da'wah, hidayah, hikmah, syukur, sabar, takwa, ) 


***)Abdul Syukur