Jumat, 26 Februari 2016

NIKMATI DETIK KEHIDUPAN

 Suatu sore selepas pulang kantor, HP berdering. Ketika saya angkat, terdengar suara parau seperti habis menangis. Ia bercerita tentang kehidupannya yang 2015 lalu seperti tidak pernah merasakan bahagia.
Padahal, ia orang kaya. Sibuknya luar biasa. Karyawannya banyak. Setiap butuh apa tinggal tekan tombol telepon, yang dimau datang. Semua serbaada dan dilayani.
Singkatnya, hidupnya sudah selesai secara materi. Namun, mengapa ia bercerita tak menemukan kebahagiaan di tengah tumpukan uang? Bukankah saat ini manusia sejagat bekerja keras untuk mendapatkan materi (uang)? Agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya?
Siapa pun dia, jika berkata "materi bukan segala-galanya", tapi memang segala-galanya membutuhkan materi bukan? Lalu, mengapa orang yang berkecukupan materi malah tidak pernah merasakan kebahagiaan? Bukankah hidup ini ujungnya adalah kebahagiaan? Surga itu metafora kebahagiaan. Jika kita mampu merasakan kebahagiaan, sejatinya kita sudah memasuki "surga".
Lalu, mengapa kita masih berharap pada surga yang sebenarnya? Hingga lupa pada Allah tujuan kita. Karena, kalau Allah tujuan kita maka surga akan kita dapatkan. Tapi, kalau hanya surga tujuan kita maka belum tentu kita dapatkan dan bertemu Allah.
Allah tujuan kita. Bukan surga. Bahagia adalah kendaraan kita menuju Allah. Kalau ibadah dirasakan sebagai kebahagiaan maka ibadah terasa lebih ringan dan indah. Jauh dari rasa terpaksa, berat, dan sulit dijalankan.
Seperti disinggung dalam Alquran, "Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS adz-Dzaariyat: 56). Petani yang tiap hari pergi ke sawah, bisa merasakan "surga"-nya ketika jam makan siang tiba. Makan nasi tempe dan segelas air putih dinikmatinya setiap detik hingga benar-benar terasa nikmat dan lega.
Bandingkan dengan orang-orang kaya, yang setiap makan siangnya semua menu tersedia. Tapi ketika ia makan, yang diingat dan dipikirkan adalah urusan kantor sehingga tiap detiknya tidak merasakan kenikmatan makan.
Bukankah kenikmatan dan kebahagian hidup itu terasa ketika kita bisa menikmati setiap detik peristiwa yang kita alami. Makanlah ketika sedang makan. Tidurlah ketika sedang tidur. Bekerjalah ketika sedang bekerja. Jangan makan, tapi pikirannya bekerja. Tidur pikirannya makan. Dan, kerja pikirannya tidur.
Nikmatilah setiap detik kehidupan yang kita alami. Gunakan sebaik-baiknya untuk sebesar-besarnya kemanfaatan hidup di dunia. Karena, tiap detik itulah sejatinya Allah berikan kesempatan pada kita manusia.
"Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman, beramal saleh, dan orang-orang yang nasihat-menasihati dalam kebaikan dan dalam kesabaran." (QS al-Ashr 1-3). Bahkan, Allah pun sampai bersumpah terkait betapa pentingnya detik demi detik yang kita alami ini adalah anugerah dan kesempatan kita sebagai hamba-Nya. Seperti tertuang dalam surah al-Fajr, al-Lail, ad-Dhuha, dan al-Ashr.
Mengapa? Agar setiap detik yang kita jalani tiap hari ini tidak berlalu begitu saja tanpa memberikan manfaat dan makna. Sehingga, kita tidak terjebak dalam kubangan duniawi semata seperti yang dialami teman penelepon tadi. Dengan begitu, kita akan benar-benar merasakan "surga" sebelum surga yang sebenarnya.


***) Abdul Muid Badrun , (Republika online)

Kamis, 25 Februari 2016

SEDEKAH YANG MENUNDA AJAL

Dikisahkan, syahdan, seorang jejaka dan gadis datang menemui Sulaiman bin Daud. Nabi Sulaiman pun mengikat keduanya dengan jalinan pernikahan. Lalu, keduanya keluar dari pertemuan tersebut dengan penuh bahagia dan sukacita.
Begitu keduanya keluar dari pertemuan dengan Sulaiman, masuklah malaikat maut menemui Sang Nabi, seraya berkata, "Wahai Nabi Allah, di tengah sukacita dan keriangan mereka berdua, jangan kaget, karena saya diperintahkan untuk mencabut ruh sang pemuda lima hari setelah ini."
Sulaiman pun selalu memantau dan mengawasi pemuda itu. Setelah berlalu lima hari, ternyata ia masih hidup. Hingga lima bulan pun, pemuda itu masih hidup juga. Sulaiman merasa heran.
Ketika Sulaiman dihantui keheranan tersebut, datanglah malaikat maut menemui Sulaiman, sambil berkata, "Hai Sulaiman, jangan terkejut dengan hal itu. Seperti yang sudah saya katakan padamu, saya akan mencabut ruh pemuda tersebut lima hari setelah itu.
Begitu dia keluar dari sisimu, seorang peminta datang menemuinya, dan pemuda itu pun memberinya lima dirham, sambil meminta didoakan agar dia panjang umur. Maka, aku pun diperintahkan untuk menangguhkan hal itu selama lima tahun karena keberkahan sedekah pemuda itu."


***)  Makmun Nawawi  (Republika Online)

Rabu, 24 Februari 2016

SAATNYA MENGAMALKAN ILMU

Setelah ilmu, kunci berikutnya adalah amal. Tidak akan berarti ilmu setinggi apapun kalau tidak diaplikasikan dalam bentuk amal.
Ilmu adalah pupuk iman. Iman inilah yang membedakan baik buruknya seseorang. Tak akan berarti ilmu tahajud, bila kita tidak pernah tahajud. Tak berarti pula ilmu berenang, kalau kita tidak pernah berenang. 
Bila dalam diri kita terpadu ilmu dan amal, pasti kita akan bangkit menjadi pribadi-pribadi sukses. Sudah menjadi satu keniscayaan, bila kita selalu mengamalkan ilmu yang didapat, maka Allah SWT akan mewariskan ilmu-ilmu yang lain.
Tapi sebaliknya, bila kita tidak pernah mengamalkannya, maka laknat Allah akan datang menimpa. Ilmu tersebut akan jadi bumerang bagi kita. Ilmu adalah pupuk dan amal adalah pohonnya. 
Masalahnya, kita sering mengalami kesulitan untuk beramal, padahal kita sudah mengetahui ilmunya. Bila ini terjadi ada lima keberanian yang harus kita miliki.
Pertama, berani bertekad dan bercita-cita. Kedua, berani berbuat dan memulai, serta tidak menunda-nunda pekerjaan. Ketiga, berani berkorban dan berani gagal. Keempat, berani menjalani proses. Dan terakhir, berani untuk selalu mengevaluasi diri.


Sumber : Pusat Data Republika

Selasa, 23 Februari 2016

KEBEBASAN MANUSIA YANG DIAJARKAN ISLAM

Islam adalah agama yang selalu menekankan kepada umatnya untuk berbuat kebajikan, kedamaian, kasih sayang, dan keselamatan. Islam merupakan agama yang menganjurkan umatnya untuk selalu berinovasi dan menuntut ilmu pengetahuan. Perhatikan firman Allah: Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan (QS 96: 1). 
Demikian pula dalam hal kebebasan. Rasulullah bersabda, "Telah datang kepadaku Malaikat Jibril dan berkata, 'Hai Muhammad, hiduplah sesuka hatimu, maka sesungguhnya engkau akan mati. Dan cintailah apa yang engkau cintai, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengan kecintaanmu itu. Dan, beramallah apa yang engkau kehendaki, karena sesungguhnya engkau akan mendapatkan balasan. Lalu, ketahuilah bahwa semulia-mulianya orang mukmin ialah orang yang melaksanakan tahajud dan manusia yang terhormat adalah orang yang tidak meminta-minta kepada orang lain'." (HR Baihaqi dari Jabir). 
Hadis di atas menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang menjunjung kebebasan manusia. Islam memberikan kebebasan hidup, kebebasan beramal, kebebasan mencintai dan dicintai, kebebasan bekerja, bahkan kebebasan berpendapat. Namun, kebebasan yang diajarkan Islam bukanlah kebebasan tanpa batas. Melainkan kebebasan yang bertanggung jawab, yaitu suatu kebebasan yang dipertimbangkan secara matang dan komprehensif, yang diatur guna keselamatan dan kemuliaan manusia. 
Suatu kebebasan yang dilandasi pertimbangan-pertimbangan yang rasional. Ada pertimbangan kehidupan akhirat setelah dunia. Ada pertimbangan mati setelah hidup dan ada pertimbangan pahala dan dosa. Perhatikan firman Allah: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari duniawi dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS 28: 77). 
Dalam konteks kekinian, kebebasan yang ada sudah kebablasan. Kebebasan yang ada sudah tidak memperhatikan lagi pengaruhnya, apalagi memperhatikan norma-norma agama maupun norma kehidupan dalam masyarakat.
Tayangan televisi, misalnya, berebut menayangkan tarian-tarian yang erotis dan menayangkannya pada waktu-waktu yang tidak terbatas. Demikian pula dengan media massa tertentu yang selalu mengekspose pornografi dan kejahatan seksual. Padahal, pada saat bersamaan jutaan anak-anak menonton dan membacanya. Menayangkan pornografi jelas sudah merupakan kebebasan yang kebablasan, kebebasan yang merusak norma kehidupan dan ajaran agama. 


Sumber : Pusat Data Republika

Senin, 22 Februari 2016

JIHAD TAK SEMATA PERAN

Jihad, kata yang kini menjadi sensitif dan kontroversial itu, sejatinya memiliki multimakna. Namun, kini mengalami penyempitan makna yang mengarah kepada perlawanan fisik; peperangan dan kekerasan yang radikal. Saat istilah jihad diucapkan, makna yang tersirat pun hanya pertempuran, agresi militer, bom bunuh diri, dan aksi-aksi kekerasan lain. Istilah jihad pun menjadi mengerikan banyak orang.
Kata jihad berasal dari bahasa Arab, dengan berakar kata al juhd atau al jahd. Dalam kamus Lisan Al Arab disebutkan bahwa al jahd itu bermakna kesulitan, sedangkan al juhd memiliki arti kemampuan dan kekuatan. Menurut Al Laits, al juhd dan al jahd memiliki satu arti yaitu segala sesuatu yang diusahakan seseorang dari penderitaan dan kesulitan.
Al Azhari, Imam Ibnu Katsir, dan Imam Al Fara' menyebutkan bahwa kata ini memiliki arti tujuan. Sedangkan menurut Ibnu Arafah, al jahd bermakna mengerahkan kemampuan dan al juhd maknanya berlebihan dan tujuan. Kesimpulan dari pemaparan tersebut adalah jihad memiliki pengertian kesanggupan dalam mengerahkan kemampuan dan kekuatan untuk mencapai tujuan. Kesanggupan itu tetap diambil sekalipun dalam kondisi menderita dan sulit.
Meskipun mengalami perubahan struktur kata dan penambahan huruf, menjadi seperti al ijtihad, al jihad, dan al mujahadah, makna kata-kata tersebut tetap tidak bisa lepas dari makna dasar istilah jihad. Misalnya, al ijtihad berarti mengerahkan kemampuan dalam memutuskan perkara. Kemudian dalam tradisi sufi dikenal istilah al mujahadah yang berarti medan perjuangan spiritual dan jiwa seseorang.
Dalam Alquran, Allah SWT berfirman, ''Maka, janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Alquran dengan jihad yang besar.'' (QS Al Furqan [25]:52). Menurut Ibnu Abbas, makna jihad dalam ayat itu adalah berjihad dengan Alquran. Menurut Ibnu Ziyad, maknanya jihad dengan Islam dan ada juga yang berpendapat dengan pedang, namun Imam Al Qurthubi menolak keras pendapat tersebut karena ayat ini turun di Makkah, sebelum turun perintah perang.
Dalam sepenggal hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Al Hasan, disebutkan, ''Tidak patut seseorang yang berjihad dengan hartanya (hingga habis) kemudian ia duduk untuk meminta-minta kepada manusia.'' Berjihad dengan harta tidak bisa diartikan sebagai perang tetapi mengorbankan hartanya sebagai implementasi perjuangan.
Dari pemaparan tersebut, jelaslah bahwa istilah jihad yang banyak disebutkan Alquran dan hadis memiliki multimakna, multitafsir, dan multibentuk. Sangat tidak tepat kalau kata jihad hanya didefinisikan dalam satu arti dan satu bentuk saja yaitu perang. Lebih tepat kalau kata jihad dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia dengan arti perjuangan. Kata jihad baru identik dengan peperangan jika konteks maknanya dekat dengan istilah al qital, al harb, dan al ghazwah.


***) Asep Sulhadi  (Republika Online)

Minggu, 21 Februari 2016

MELEPAS STRES DENGAN SHALAT TAHAJUD

Anda rajin shalat tahajud? Jika demikian, berbahagialah. Sebab, ketaatan Anda untuk bersujud kepada Yang Maha Kuasa ketika kebanyakan orang tengah terlelap itu, benar-benar sangat bermanfaat baik dunia maupun akhirat. 
Di satu sisi, jika Anda melakukannya dengan ikhlas, maka shalat tahajud akan membuat ''tabungan'' pahala Anda makin bertambah. Di sisi lain Anda pun bisa memetik keuntungan jasmaniah dari shalat tahajud ini. Anda akan terhindar dari pelbagai penyakit!
Setidaknya, itulah yang dikatakan oleh dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya, Dr Moh Sholeh MPd. Menurutnya, shalat tahajud yang dilakukan di menghujung malam yang sunyi, bisa mendatangkan ketenangan. Sementara ketenangan itu sendiri terbukti mampu meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung dan meningkatkan usia harapan hidup.
Sebaliknya, bentuk-bentuk tekanan mental seperti stres maupun depresi membuat seseorang rentan terhadap infeksi dan mempercepat perkembangan sel kanker serta meningkatkan metastasis (penyebaran sel kanker). 
Tekanan mental itu sendiri terjadi akibat gangguan irama sirkadian (siklus bioritmik manusia) yang ditandai dengan peningkatan hormon kortisol. Asal tahu saja, hormon kortisol ini biasa dipakai sebagai tolok ukur untuk mengetahui kondisi seseorang apakah jiwanya tengah terserang stres atau tidak.
Untungnya, stres bisa dikelola. Dan pengelolaan itu bisa dilakukan dengan cara edukatif atau dengan cara teknis relaksasi, yang meliputi meditasi atau perenungan, dan umpan balik hayati (bio feed back). ''Nah, shalat tahajud mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai coping mechanism atau pereda stres yang akan meningkatkan ketahanan tubuh seseorang secara natural,'' jelas Moh Sholeh dalam disertasinya yang bertajuk Pengaruh Salat Tahajud terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik.
Tapi pada saat yang sama, shalat tahajud pun bisa mendatangkan stres, terutama jika tidak dijalankan secara ikhlas dan kontinu. ''Jika tidak dilakukan dengan iklas, akan terjadi kegagalan dalam menjaga homeostasis atau daya adaptasi terhadap perubahan pola irama pertumbuhan sel yang normal, tetapi jika dijalankan dengan ikhlas dan kontinu akan sebaliknya.'' Dengan begitu, keikhlasan dalam menjalankan shalat tahajud memang sangat penting. 
''Keikhlasan Anda dalam menjalankan salat tahajud itu dapat dimonitor lewat irama sirkadian, terutama pada sekresi hormon kortisolnya,'' kata pria yang meraih gelar doktor di bidang psikonevroimunologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya ini.


Sumber : Pusat Data Republika

Sabtu, 20 Februari 2016

MENJADI MANUSIA BURUNG

Burung adalah salah satu makhluk yang ditundukkan oleh Allah SWT bagi manusia, guna dinikmati dan dijadikan ibrah dalam kehidupan. Telah menjadi kehendak Allah bahwa burung menjadi ayat qauliah (tersurat) dan kauniah (tersirat). 
Dalam Alquran terdapat kisah burung hudhud yang kecil, tetapi mampu mengerjakan sesuatu yang melebihi bentuk fisiknya. Dalam hadis Rasulullah saw disebutkan bagaimana burung-burung berangkat di pagi hari dalam keadaan perut kosong, dan kembali di sore hari dalam keadaan perut kenyang oleh makanan. 
Karena itu, manusia diperintahkan oleh Allah SWT untuk selalu membaca ayat-ayat-Nya secara utuh, baik yang tersurat maupun yang tersirat. Terhadap kisah burung hudhud ataupun eksistensi burung-burung yang hidup di alam semesta ini, terdapat pelajaran yang bisa kita teladani. 
Burung mengajarkan kepada kita untuk memiliki obsesi melebihi bentuk fisik kita, misalnya, fisik boleh kecil, tetapi cita-cita dan idealisme harus lebih besar. Hal ini bukanlah mimpi dan khayalan. Yang membedakan antara kenyataan dan khayalan adalah kemauan dan kesungguhan untuk merealisasikan obsesi, cita-cita, dan idealisme itu. 
Lihatlah hudhud seekor burung kecil mampu memberikan informasi yang tidak diketahui oleh Nabi Sulaiman, bahwa ada kerajaan yang penduduknya menyembah selain Allah SWT dan dipimpin oleh seorang wanita. Burung juga mengajarkan optimisme, tidak boleh berputus asa dalam berbuat, terutama dalam hal pemenuhan hajat dan kebutuhan sehari-hari. 
Bagaimana burung yang sedemikian kecil dari segi fisik itu, begitu besar dalam semangat mencari dan mengais karunia Allah SWT. Keputusasaan hanya akan menjadikan seseorang malas dan berakibat fatal dalam kehidupannya. 
Sesungguhnya burung hanya mempunyai insting, namun mampu mencukupi kebutuhannya, apalagi manusia yang dilengkapi dengan akal. Ini hanyalah sebagian dari apa yang diajarkan burung kepada kita.
Sekarang bagaimana kita bisa membuat diri kita menjadi manusia burung, dalam arti mempelajari dan mengambil pelajaran dari burung dan menjadikan diri mampu berbuat besar, bahkan lebih besar dari apa yang diperbuat oleh burung hudhud. Burung saja mampu, mengapa kita tidak? Wallahu a'lam bishshawab.


***) Eva Nuramida (Republika Online