Sabtu, 05 Desember 2015

PAKET KEZALIMAN

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak merasa.” (QS. al Baqarah [2]:11-12). 
Alquran menyebutkan sejumlah kaum dan tokoh yang melakukan perbuatan destruktif atau kezaliman di muka bumi. Seperti, bangsa Yahudi, kaum Tsamud, Yakjuj dan Makjuj, Fir’aun, Qarun, dan sederetan nama dan kaum lainnya. 
Mereka diabadikan dalam Alquran sebagai pelaku atau agen kerusakan, al Mufsiduuna fil Ardh. Atau dengan bahasa lain, az Zhalimun (orang-orang yang berbuat zalim). Secara umum dan spesifik, Alquran juga menerangkan diversitas atau bentuk-bentuk kerusakan yang terjadi di atas bumi. 
Misalnya, merampas atau mencuri harta milik orang lain, baik pribadi maupun milik umum (QS Yusuf [12]: 73). Menghalang-halangi manusia menuju jalan yang diridhai Allah merupakan bentuk kerusakan di muka bumi (QS al-‘Araf [7]:86). 
Menuruti hawa nafsu duniawi dengan gejalanya seperti cinta dunia dan takut mati, budaya meterialistik, hedonis, tamak dan seumpamanya (QS. al-Mukminun [23]: 71).
Termasuk jenis kerusakan yang dijelaskan dalam Alquran adalah sikap orang-orang Mukmin yang menjadikan orang-orang yang tidak seakidah sebagai pemimpin (QS al Anfal [8]:73). 
Lebih-lebih apabila umat Islam menjadikan sekelompok orang sebagai teman setia atau kiblat politik, padahal selama ini mereka jelas-jelas memusuhi dan memerangi atas nama agama (QS. al-Mumtahanah [60]:8-9). 
Demikian juga kepongahan dan kesewenang-wenangan dengan segala indikatornya, seperti merancang konflik, penindasan dan pembunuhan secara biadab adalah bentuk kerusakan yang sangat nyata (QS al-Qashash [28]:4). 
Seorang pakar tafsir terkemuka di era sahabat, Abdullah bin Mas’ud, ketika menafsirkan ayat yang dikemukakan pada pendahuluan di atas (QS al-Baqarah [2]:11-12) mengatakan, yang dimaksud kerusakan di muka bumi dalam ayat ini adalah jalan kekufuran dan perbuatan maksiat. 
Sehingga logis, apabila sejumlah ulama tafsir menarik sebuah kesimpulan, kekufuran dan maksiat kepada Allah merupakan sumber kerusakan. Maknanya, status kufur dan maksiat adalah akar kerusakan yang menimbulkan kerusakan-kerusakan yang lain di atas bumi. 
Sebagaimana dikatakan salah seorang ahli tafsir, Imam Asy-Syaukani, perbuatan syirik (menyekutukan Allah) dan maksiat adalah sebab timbulnya berbagai kerusakan di alam semesta. Kesimpulannya, Islam adalah agama yang menghendaki keselamatan dan kemakmuran di atas bumi. 
Apa pun bentuk kerusakan dan kemudharatan sebagaimana disebutkan di atas, semuanya bertolak belakang dengan prinsip dan syariat Islam.
Orang-orang yang memerangi Allah dan rasulNya dan orang-orang yang senantiasa berbuat kerusakan merupakan satu paket kezaliman yang sejak dulu diperangi oleh para Nabi dan Rasul. 
Adapun ancaman atau hukuman yang pantas bagi orang-orang yang melakukan paket kezhaliman di atas, Alquran kembali menunjukkan salah satu dimensi kemukjizatannya kepada kita.
“Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya dan membuat kerusakan di bumi, hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar. Kecuali orang-orang yang bertaubat sebelum kamu menguasai mereka, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.” (QS al-Maidah [5]:33-34). Wallahu Al-musta’aan.
(PAKET  KEZALIMAN
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak merasa.” (QS. al Baqarah [2]:11-12). 

Alquran menyebutkan sejumlah kaum dan tokoh yang melakukan perbuatan destruktif atau kezaliman di muka bumi. Seperti, bangsa Yahudi, kaum Tsamud, Yakjuj dan Makjuj, Fir’aun, Qarun, dan sederetan nama dan kaum lainnya. 
Mereka diabadikan dalam Alquran sebagai pelaku atau agen kerusakan, al Mufsiduuna fil Ardh. Atau dengan bahasa lain, az Zhalimun (orang-orang yang berbuat zalim). Secara umum dan spesifik, Alquran juga menerangkan diversitas atau bentuk-bentuk kerusakan yang terjadi di atas bumi. 
Misalnya, merampas atau mencuri harta milik orang lain, baik pribadi maupun milik umum (QS Yusuf [12]: 73). Menghalang-halangi manusia menuju jalan yang diridhai Allah merupakan bentuk kerusakan di muka bumi (QS al-‘Araf [7]:86). 
Menuruti hawa nafsu duniawi dengan gejalanya seperti cinta dunia dan takut mati, budaya meterialistik, hedonis, tamak dan seumpamanya (QS. al-Mukminun [23]: 71).
Termasuk jenis kerusakan yang dijelaskan dalam Alquran adalah sikap orang-orang Mukmin yang menjadikan orang-orang yang tidak seakidah sebagai pemimpin (QS al Anfal [8]:73). 
Lebih-lebih apabila umat Islam menjadikan sekelompok orang sebagai teman setia atau kiblat politik, padahal selama ini mereka jelas-jelas memusuhi dan memerangi atas nama agama (QS. al-Mumtahanah [60]:8-9). 
Demikian juga kepongahan dan kesewenang-wenangan dengan segala indikatornya, seperti merancang konflik, penindasan dan pembunuhan secara biadab adalah bentuk kerusakan yang sangat nyata (QS al-Qashash [28]:4). 
Seorang pakar tafsir terkemuka di era sahabat, Abdullah bin Mas’ud, ketika menafsirkan ayat yang dikemukakan pada pendahuluan di atas (QS al-Baqarah [2]:11-12) mengatakan, yang dimaksud kerusakan di muka bumi dalam ayat ini adalah jalan kekufuran dan perbuatan maksiat. 
Sehingga logis, apabila sejumlah ulama tafsir menarik sebuah kesimpulan, kekufuran dan maksiat kepada Allah merupakan sumber kerusakan. Maknanya, status kufur dan maksiat adalah akar kerusakan yang menimbulkan kerusakan-kerusakan yang lain di atas bumi. 
Sebagaimana dikatakan salah seorang ahli tafsir, Imam Asy-Syaukani, perbuatan syirik (menyekutukan Allah) dan maksiat adalah sebab timbulnya berbagai kerusakan di alam semesta. Kesimpulannya, Islam adalah agama yang menghendaki keselamatan dan kemakmuran di atas bumi. 
Apa pun bentuk kerusakan dan kemudharatan sebagaimana disebutkan di atas, semuanya bertolak belakang dengan prinsip dan syariat Islam.
Orang-orang yang memerangi Allah dan rasulNya dan orang-orang yang senantiasa berbuat kerusakan merupakan satu paket kezaliman yang sejak dulu diperangi oleh para Nabi dan Rasul. 
Adapun ancaman atau hukuman yang pantas bagi orang-orang yang melakukan paket kezhaliman di atas, Alquran kembali menunjukkan salah satu dimensi kemukjizatannya kepada kita.
“Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya dan membuat kerusakan di bumi, hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar. Kecuali orang-orang yang bertaubat sebelum kamu menguasai mereka, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.” (QS al-Maidah [5]:33-34). Wallahu Al-musta’aan.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa., )

***) Imron Baehaqi



***) Imron Baehaqi

Jumat, 04 Desember 2015

MENASEHATI ITU ANJURAN AGAMA

Dikisahkan bahwa seseorang datang menasihati khalifah al-Makmun dengan cara yang lantang dan tidak santun. Khalifah lalu menimpalinya.
"Orang yang lebih baik darimu pernah datang memberi peringatan kepada orang yang lebih buruk dariku. Sesungguhnya Nabi Musa dan Nabi Harun Alaihimassalam diutus Allah kepada Firaun dengan seruan, 'Maka berkatalah kepadanya (Firaun) dengan qaulan layyinan (ucapan yang lembut).'" (QS Taha [20]: 44).
Nasihat dalam hidup ini sangat diperlukan. Dengan nasihat, seseorang bisa mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan, apa kekurangan, dan bagaimana seharusnya. Seseorang membutuhkan saran dari orang lain agar menjadi lebih baik. Sebab, manusia tidak bisa melakukan apa pun sendiri, melainkan butuh nasihat, saran, atau masukan dari orang lain.
Dalam menasihati seseorang hendaklah memilih bahasa yang santun dan lembut. Sering kali orang menggunakan kalimat yang tidak tepat lagi berintonasi tinggi dalam menegur orang lain. Hal ini tentu memberi kesan tidak baik. Menasihati berbeda dengan marah-marah meski tujuannya kadang sama.
Nasihat dengan menggunakan bahasa yang kasar, nada meninggi, sikap tidak santun, dan terkesan menantang debat otomatis tidak akan mudah diterima oleh orang yang dinasihati meski kesalahannya itu nyata dan benar adanya. Kesantunan berbahasa dan kearifan sikap sangat berpengaruh diterima atau tidaknya nasihat itu. Jadi, pemberi nasihat harus cerdas memilah dan memilih bahasa yang tepat.
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziah menyebut perbedaan antara menasihati dan mempermalukan. Menurut beliau, menasihati itu berlaku adil dan ihsan kepada yang dinasihati, menampakkan kasih sayang kepadanya, tidak sudi melihat saudaranya melakukan kesalahan. Niatnya hanya mencari keridhaan Allah. Dia berlaku layaknya seorang dokter yang mengetahui sakitnya pasien lalu menentukan obat yang tepat agar pasiennya lekas sembuh.
Adapun mempermalukan seseorang itu niatnya mengubah sambil menghinakan, mencela orang yang diperingatinya. Celaannya berbentuk nasihat. Dia berkata padanya, "Hai engkau, mengapa berbuat begini begitu? Hai, celaka engkau, tercelalah dirimu," sambil pura-pura menasihati.
Di antara adab memberi nasihat, hendaklah ketika menasihati ia dalam keadaan sendirian. Sebab, barang siapa yang menutupi kesalahan saudaranya, Allah akan menutupi kekurangannya di dunia akhirat.
Ini perkara sulit karena semua menyadari jika menasihati di hadapan banyak orang maka pemberi nasihat akan terlihat pintar, arif, dan ahli, tetapi orang yang dinasihati tentu merasakan hal berbeda. Dia pasti merasa malu, tidak enak, bahkan mungkin dongkol.
Berkata Imam as-Syafi'i, "Barang siapa menasihati saudaranya secara rahasia, maka ia telah benar-benar menasihatinya dan memuliakannya. Dan siapa yang menasihatinya secara terang-terangan, maka ia telah menistakan dan memalukannya."
Seseorang itu harus siap dipuji dan sebaliknya siap pula diberi masukan atau dikritik sekalipun. Bila pujian itu sering subjektif dengan menyebut kebaikan yang kadang dilebih-lebihkan, teguran atau kritikan itu adalah menyampaikan kekurangannya, kesalahannya, baik sikap maupun tata cara. Dengan itu dia bisa memperbaiki diri. Bisa meminimalkan kekeliruannya dengan tidak mengulang lagi di kemudian hari.
Demikianlah, menasihati itu adalah anjuran agama. Itu juga bagian dari amar makruf nahi mungkar. Kepedulian seseorang dengan datang menasihatinya menandakan kasih sayang pada saudaranya.
Kesiapan menerima masukan adalah tanda kebesaran hati dan jiwa penerima nasihat. Bahkan, ia pun akan berdoa, "Semoga Allah merahmati dan membalasmu dengan kebaikan karena nasihatmu padaku menunjukkan kekuranganku."
(Da'wah, hidayah, hikmah, kebesaran, keyakinan, sabar, syukur)


***) Tgh Habib Ziadi

Kamis, 03 Desember 2015

PERSAHABATAN YANG MENYEMBUHKAN

Diceritakan, sebut saja tiga perempuan itu bernama A, B, dan C. Ketiganya tinggal di perumahan besar Bekasi. Mereka begitu dekat, bahkan hati dan pikiran mereka sedekat jari manis dan kelingking. Saking dekatnya, mereka tak bisa dipisahkan. Hingga suatu ketika salah satu di antara mereka, sebut saja A, mengalami sakit.
"Kring!" telepon berbunyi di rumah A. "Halo...." jawab suami A yang saat itu sedang menemaninya. "Saya B Pak, apa benar A sedang sakit?" tanyanya. "Benar, sudah dua hari ini istri saya A sakit." "Kalau begitu saya akan ajak C langsung ke rumah Bapak," ucapnya sambil cepat-cepat menutup telepon. Sesampai di rumah A, B dan C langsung memeluk temannya yang sakit itu dengan pelukan hangat seorang sahabat.
Anehnya, setelah B dan C datang dan memeluk, kondisi sakit A langsung berubah. A seakan dapat "obat mujarab" dari kedatangan dan pelukan B dan C. Hasilnya A sembuh dari sakitnya. Namun, ketika B dan C pulang, paginya A sakit lagi. Akhirnya suami A meminta B dan C tinggal sementara di rumahnya agar sakit A bisa cepat disembuhkan.
Inilah yang dalam bahasa psikologi layanan disebut emotional bonding (keterikatan emosi). Sebuah peristiwa yang bisa muncul karena adanya persahabatan yang kuat. Ini bukan sugesti, bukan pula mitos dan ilusi. Ini nyata adanya bahwa persahabatan yang kuat itu bisa menyembuhkan. Hal ini pula seirama dengan sabda Nabi SAW, "Orang mukmin satu dengan yang lainnya seperti sebuah bangunan, satu sama lain saling menguatkan (HR Bukhari dan Muslim).
Sakit yang dialami A sembuh bukan karena obat-obatan medis, melainkan karena kedatangan dan pelukan kedua sahabatnya, B dan C. Kenyataan ini semakin memberikan pelajaran pada kita semua bahwa arti persahabatan saat ini perlu di-rejuvenasi (diremajakan) dan direinterpretasi (dimaknai ulang). Karena, selama ini orang berteman atau bersahabat lebih didominasi karena adanya kepentingan, bukan ketulusan yang dalam. Padahal, Alquran memberikan motivasi pada kita, "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara" (QS al-Hujuraat [49]:10).
Persahabatan ketiga perempuan dalam satu kompleks perumahan di atas semakin membuktikan bahwa tanpa kepentingan pun mereka bisa bersabahat dengan baik dan indah. Bahkan, melebihi kata baik dan indah. Ketika saya bertanya kepada salah satu di antara mereka, "Apa yang menyebabkan persahabatan kalian bisa baik dan kuat begini?"  Salah satu di antara mereka menjawab, "Semuanya karena sejak awal persahabatan kita didasari rasa saling memiliki dan melayani." Inilah yang saat ini langka di negeri ini.
Tokoh politik, tokoh masyarakat, ilmuwan, cendekiawan, tokoh agama, mahasiswa, dan siapa saja perlu belajar dari model persahabatan ketiga ibu-ibu tersebut. Saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami penyusutan persatuan dan kesatuan nyata adanya. Satu sama lain berlomba-lomba untuk mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya masing-masing di atas kepentingan umat dan rakyat.
Akibatnya hubungan mereka sebatas transaksional semata. Bukan saling memiliki dan melayani. Persatuan dan kesatuan adalah harga mati bagi bangsa ini. Tanpa persatuan dan kesatuan, bangsa ini akan semakin mudah goyah, rapuh oleh tantangan zaman. Nah, model persahabatan di ataslah yang patut kita coba terapkan sebagai dasar untuk memperkuat fondasi persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia.
(Da'wah, hidayah, hikmah, sabar, syukur, takwa, )


***)  Abdul Muid Badrun

Rabu, 02 Desember 2015

5 KEGELAPAN MENURUT KHALIFAH ABU BAKAR

Dalam pandangan Abu Bakar ash-Shiddiq RA, kegelapan jumlahnya ada lima. Kelima-limanya dapat merugikan manusia. Supaya terhindar dari kerugian, manusia dituntut mengoptimalkan potensinya masing-masing.
Pertama, mencintai dunia. Rasulullah SAW bersabda, "Mencintai dunia adalah pangkal segala kesalahan." (HR Baihaqi). Dalam konteks ini, al-Ghazali berkata, "Karena dunia adalah pangkal segala kesalahan maka membenci dunia adalah pangkal segala kebaikan."
Agar tidak mencintai dunia, manusia dituntut untuk melazimkan ketakwaan. Yakni, menjaga diri dengan melazimkan ketaatan kepada Allah demi menghindari siksa-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Jika kamu meninggalkan sesuatu karena takwa kepada Allah 'Azza Wa Jalla maka Dia akan memberimu sesuatu yang lebih baik darinya." (HR Ahmad dan Nasa'i).
Kedua, perbuatan dosa. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya jika seorang hamba melakukan sebuah kesalahan maka kesalahan tersebut akan memunculkan noda hitam di hatinya. Jika dia melepaskan dirinya dari dosa dan beristighfar maka terhapuslah noda hitam di hatinya. Jika dia mengulangi lagi dosanya maka akan bertambahlah noda hitam di hatinya bahkan akan menguasai hatinya. Noda tersebut adalah karat berwarna hitam." (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa'i, Ibnu Hibban, dan al-Hakim).
Ketiga, pekuburan. Dikatakan, pekuburan itu keadaannya gelap. Dijelaskan, ada enam perkara yang dapat menerangi pekuburan: ikhlas dalam beramal, berbakti kepada kedua orang tua, silaturahim, tidak menghabiskan usia dalam kemaksiatan, tidak menuruti hawa nafsu, gemar melakukan ketaatan, dan mengingat Allah sebanyak-banyaknya.
Keempat, akhirat. Dikatakan, akhirat itu keadaannya gelap lantaran begitu banyaknya hal-hal yang menakutkan. Dijelaskan, agar dapat terhindar dari kegelapan akhirat manusia harus meneranginya dengan amal saleh sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Baik ketentuan yang ringan maupun yang berat.
Rasulullah SAW cenderung mengedepankan ketentuan yang ringan. Rasulullah SAW bersabda, "Tunaikan ketentuan yang berat (azimah) dan terimalah ketentuan yang ringan (rukhshah) dan biarkanlah manusia melakukannya; sesungguhnya kalian telah dijaga dari mereka." (HR al-Khatib).
Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa tidak menerima rukhshah dari Allah maka dia telah berdosa sebesar Gunung Arafah." (HR Ahmad). Dalam riwayat lain, "Sesungguhnya, Allah mengutusku dengan agama yang ringan lagi pula mudah: agama Ibrahim." (HR Ibnu Asakir). 
Kelima, jembatan (shirath). Dikatakan, shirath itu gelap. Dijelaskan, agar terhindar dari kegelapan shirath, manusia dituntut mempercayai perkara gaib tanpa keragu-raguan sedikit pun. 
Perkara gaib yang dituntut memercayainya, antara lain, adanya malaikat, adanya hari kiamat, adanya perhitungan/balasan amal, dan adanya kehidupan abadi di akhirat. Dengan begitu, manusia akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindari lima kegelapan yang dapat merugikan dirinya.
Manusia dijamin akan selamat di dunia dan di akhirat bila dia memegang teguh ketentuan kitab Allah dan sunah Rasul-Nya. Wallahu a'lam. 
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Mahmud Yunus

Selasa, 01 Desember 2015

SAKU KEBERKAHAN

Pagi itu cuaca cerah membelah pinggiran Kota Semarang, Jawa Tengah. Angin semilir menyapa tanda pagi tiba. Selepas shalat shubuh di masjid, saya berhenti melihat kerumunan. Tampak orang duduk rapi di pinggir jalan menyantap sarapan. 
Kendaraan lalu lalang tak dihiraukan. Saya penasaran dan menghampirinya. Ternyata mereka sedang menyantap sepincuk nasi. "Bu, saya satu pincuk ya," pintaku. "Antre ya mas," jawabnya singkat. Suasana pagi itu begitu indah. 
Satu per satu pembeli dilayani dengan tertib. Jauh dari kesan rebutan seperti yang sering saya lihat di kota-kota besar. "Bu, sepincuk nasi berapa harganya?" "Tiga ribu mas," jawabnya singkat sambil melayani pembeli lainnya. 
Sungguh, saya tergaget. Uang Rp 3.000 dapat sepincuk nasi. Padahal di kota-kota besar, untuk bayar parkir pun kurang. Apalagi untuk makan. "Jam berapa buka-nya, Bu?" tanyaku. "Jam 5, Mas". "Terus habisnya biasanya jam berapa?" "Jam 7..." jawabnya. 
"Ibu tinggalnya di mana?". "Di Gubug, Mas". Gubug adalah kecamatan di wilayah Grobogan, Purwodadi. Butuh dua jam perjalanan untuk sampai ke lokasi. Hal ini dilakukannya lebih dari 10 tahun lamanya. 
Dari ceritanya, ibu ini memiliki tiga putra. Semuanya kuliah dan ada yang sudah sarjana. Kesederhanaannya memikatku. Betapa besarnya Allah SWT. Allahu Akbar! Betapa Mahadilnya Allah. Betapa kasih dan sayangnya Allah pada hamba-hamba-Nya. 
Kasihnya tak pernah pilih kasih. Sayangnya tak pernah hilang ditelan zaman. Semua hamba-Nya diberi ketika mau berusaha tiap hari. Termasuk ibu-ibu penjual nasi pincuk di pinggir jalan Kota Semarang ini.
Kita mestinya merasa malu (pada penjual nasi pincuk) karena suka menghambur-hamburkan uang. Kita malu karena uang Rp 3.000 ternyata begitu berarti. Kita malu, mengapa harus korupsi. Kita malu, mengapa harus mark-up/ proyek tiap hari. 
Kita malu mengapa harus demonstrasi dengan tuntutan yang terkadang basi. Kita malu mengapa harus rebutan kursi. Kita malu mengapa harus menuntut hak tanpa tahu diri. Kita pun malu mengapa tak pernah bersyukur atas kesehatan yang diberi. 
Ataukah jangan-jangan kita sudah tidak punya rasa malu? Termasuk pada diri sendiri? Maka, tepat sekali peringatan Allah SWT dalam surah Ar-Rahman yang diulang berkali-kali, "Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?" 
Makan nasi pincuk seharga Rp 3.000 saja sudah kenyang. Mengapa harus mencari lebih dan lebih ketika kecukupan itu sudah kita peroleh? Kesederhanaan dalam pola makan, pola sikap dan pola hidup inilah yang patut kita lakukan.
Sehingga, yang kita peroleh adalah keberkahan. Inilah yang sering dilupakan oleh kita semua dalam menjalani kehidupan. Berkah itu hakikatnya ziyadayul khair” artinya bertambah kebaikan. 
Apapun yang kita lakukan, jika menjadikan kebaikan kita itu bertambah berarti ada nilai keberkahan di dalamnya. Demikian juga sebaliknya. Bukankah, kita sering mendengar cerita, tukang bubur bisa naik haji, penjual nasi pincuk bisa menyekolahkan anaknya sampai sarjana bahkan S3 dan masih banyak cerita-cerita penuh hikmah lagi. 
Boleh jadi penjual nasi pincuk dan tukang bubur itu memiliki saku keberkahan. Sehingga apapun yang masuk dalam saku itu akan bertambah terus kebaikan demi kebaikannya. Inilah yang menjadikannya semakin mudah dalam meraih apa yang diharapkannya. 
Mari kita renungkan firman Allah SWT ini, “Jika sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi jika mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya,” (QS. Al-A’raaf: 96).

***)  Abdul Muid Badrun


Senin, 30 November 2015

3 SYARAT MENUJU SURGA

Dalam kitab sahihnya, Imam Muslim menyebutkan sebuah hadis riwayat dari Abu Hurairah RA yang menyatakan, Rasulullah SAW pernah bersabda kepada para sahabat, "Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai antarsesama. Maukah kalian, aku tunjukkan suatu perbuatan, jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai, yaitu tebarkan salam di antara kalian."
Hadis ini menegaskan, syarat-syarat yang harus dilakukan seseorang jika ingin masuk surga dan syarat-syarat ini saling berkelindan antara yang satu dengan yang lain.
Pertama, orang tersebut harus beriman. Iman dalam arti yang sesungguhnya, yaitu mempercayai adanya Allah SWT dan meyakini bahwa Allah merupakan Tuhan alam semesta, Yang Maha Pencipta dan Mahakuasa atas segalanya. Percaya adanya malaikat-malaikat Allah dan meyakini bahwa mereka tidak pernah membangkang kepada Allah dan selalu melaksanakan semua perintah-perintah-Nya.
Percaya bahwa Allah menurunkan kitab suci sebagai pedoman bagi umat manusia agar mereka selamat di dunia dan akhirat. Percaya bahwa Allah mengutus para nabi dan para rasul untuk membimbing umatnya ke jalan yang benar. Percaya akan adanya hari kiamat dan kehidupan-kehidupan setelahnya sebagai hari pembalasan. Dan, percaya akan qadha dan qadar yang telah Allah tentukan bagi segenap makhluk-Nya.
Kedua, saling mencintai antarsesama. Ini merupakan syarat seseorang untuk bisa beriman. Karena, tanpa adanya syarat ini, seseorang tidak bisa disebut beriman. Mencintai sesama maksudnya adalah memperlakukan orang lain sama dengan dirinya.
Jika ia senang diperlakukan dengan baik oleh orang lain maka senyatanya orang lain juga ingin diperlakukan dengan baik pula olehnya. Demikian juga sebaliknya, ketika ia tidak ingin diperlakukan buruk oleh orang lain maka orang lain juga tidak ingin mendapat perlakukan yang tidak baik darinya.
Dalam hadis yang lain disebutkan, "Tidak beriman seseorang dari kalian sampai ia mencintai sesuatu untuk orang lain, sebagaimana ia mencintainya untuk dirinya sendiri." (HR Bukhari). Bahkan, dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Syuraih Nabi Muhammad sampai bersumpah tiga kali, "Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman!" Para sahabat bertanya, "Siapa wahai Rasulullah?" Nabi menjawab, "Orang yang membuat orang-orang dekatnya tidak aman dari keburukannya." (HR Bukhari).
Dari berbagai hadis ini, syarat agar seseorang mendapat kesempurnaan iman maka ia harus mencintai antarsesama manusia, bahkan sesama makhluk Allah. Dan, di antara bukti kecintaan seseorang pada orang lain adalah ia memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan oleh orang lain.
Ketiga, menyebarkan salam. Ini merupakan petunjuk dari Nabi agar seseorang bisa mencintai antarsesama manusia. Menyebarkan salam maksudnya setiap bertemu orang mengucapkan, "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" yang artinya kita mendoakan mereka, "Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan berkahnya tercurah pada kalian!" 
Jika ada orang yang setiap bertemu orang lain selalu menyampaikan pesan damai ini maka orang yang ada di sekitarnya akan merasa aman, nyaman, dan damai. Sehingga, orang tersebut akan dicintai oleh masyarakat sekitarnya.
Dan, jika ketiga syarat ini terpenuhi, yaitu menyebarkan salam, saling mencintai antarsesama, dan mendasari keduanya dengan keimanan maka ia pantas masuk surga dengan damai.
(Da'wah, hidayah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Abdul Syukur

Minggu, 29 November 2015

KILAU (HARTA) YANG MENIPU

Hati siapa yang tidak tertarik dengan godaan harta. Terlebih seseorang seharusnya mendapatkan bagian harta tertentu setelah ia berjuang keras. Berjuang hingga risiko antara hidup dan mati hanya dipisahkan benang tipis.
Ketertarikan atas harta yang lantas tak sesuai dengan harapan tentu memunculkan gundah. Keresehan itu pula yang dialami oleh kaum Anshar saat Perang Hunain nan berat itu sudah usai. Kaum Muslimin mendapat kemenangan yang besar.
Seperti laiknya perang-perang lain, kaum Muslimin pun berhak mendapat harta rampasan perang (ghanimah). Namun alangkah kecewanya kaum yang menerima Nabi SAW saat ia diusir dari kaummnya itu. Nabi SAW justru memberikan bagian harta ghanimah kepada orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam semisal Abu Sufyan, 'Uyainah, Al Aqra' dan Suhail bin 'Amar.
Maka jiwa-jiwa manusia biasa kaum Anshar menyeruak protes. Kenapa orang yang dulunya memusuhi Nabi SAW dan baru masuk Islam mendapat bagian? sementara mereka yang menolong Nabi SAW dan kaum muhajirin, pulang dengan tangan hampa.
Rasulullah seperti yang diriwayatkan Imam Ahmad, lantas menemui dan menjawab kegundahan sahabat-sahabatnya dari Anshar itu. "Tidakkah kamu ridha, hai orang-orang Anshar," ujar Nabi SAW dalam kalimatnya yang bersejarah, "manusia pergi dengan kambing dan unta mereka, sedangkan kamu pulang ke kampung halamanmu membawa Rasulullah? Demi yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentulah aku termasuk salah seorang dari Anshar."
Kita paham bagaimana akhir dari kisah ini. Siapakah yang lebih beruntung bisa membawa serta Rasulullah SAW bersama mereka dibandingkan sampah dunia bernama harta. Sesenggukan wajah-wajah Anshar itu terdengar saling bersahutan. Air mata penyesalan mereka basah mengaliri hingga janggut-janggut mereka.
Begitulah kita sejatinya diajarkan untuk bersikap terhadap harta. Memiliki keinginan untuk menguasai harta adalah sesuatu yang wajar. Namun pada hakikatnya, harta hanyalah sebuah sarana. Seperti hanya Rasulullah SAW memberikan harta kepada kaum Quraisy yang baru masuk Islam. Semua itu hanya sarana untuk mengikat hati mereka agar tetap bersama dakwah.
Sementara Rasulullah SAW paham, sejatinya kaum Anshar tak memerlukan itu semua. Bagi mereka yang mengutamakan kaum muhajirin di atas diri mereka sendiri, tentu harta bukanlah yang paling utama. Jika kaum Anshar menangis tersedu karena mereka "mendapat" Rasulullah SAW, kita justru tergugu jika harta kita berkurang. 
Otak kita seakan disetting hanya untuk mencari uang dan materi. Bukan dengan niat jihad mencari nafkah, namun demi memenuhi buas nafsu diri. Terkadang waktu yang kita miliki tak cukup 24 jam guna mencari pundi-pundi rupiah. Demi sebuah tas bermerk agar tak lagi dijauhi dalam kumpulan arisan-arisan masa kini.
Kehidupan kini hanya berjalan dari satu transaksi ke transaksi berikutnya. Dari satu lembur ke lembur yang sama keesokannya. Muara semuanya itu hanya kelelahan raga dan jiwa yang tak pernah tenang. Terlalu keras mengais emas terkadang turut melenakan kita pada hal-hal kecil yang sejatinya butuh perhatian.
Mengejar tender milyaran bagi kita masih terlalu penting dibanding mengajari anak-anak kita belajar huruf hijaiyah agar mereka dapat membaca kitab sucinya. Kita lupa membantu mengejakan hukum-hukum tajwid agar kelak saat kita mati, si anak dengan lancar memimpin barisan shalat jenazah.
Padahal bisa jadi bekal yang sangat ia perlukan bukanlah properti tak bergerak senilai puluhan miliar. Yang mereka butuhkan sejatinya adalah apa yang kaum Anshar butuhkan. Kehadiran sosok Rasulullah SAW. Mereka jauh lebih beruntung membawa pulang Nabi Muhammad SAW ke kota mereka. Lantas menyerap saripati hidup yang sebenarnya.
Semoga kita ini seperti orang-orang Anshar yang mendapat keistimewaan untuk "membawa pulang" Rasulullah SAW bersama mereka. Karena mereka sadar, meski ketertarikan pada kilau harta sangatlah normal namun tak akan bisa menggantikan kilau cahaya hakiki dari Muhammad SAW.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa., )


***) Hafidz Muftisany