Jumat, 08 Januari 2016

DI BALIK USIA 40 TAHUN

Setiap manusia yang diberi umur panjang akan melewati masa anak-anak, dewasa, hingga tua. Hakikat umur sesungguhnya rentangan perjalanan menuju kepada yang Maha Menciptakan, perjalanan kembali kepada Allah SWT. 
Usia 40 tahun ada dalam persimpangan, sebagian yang telah dilalui dan sisa yang akan dijalani menuju tempat kembali. Dalam usia tersebut memperkuat rasa syukur dan berbuat baik menjadi pilihan yang penting.
Alquran surah al-Ahqaaf ayat 15 menegaskan kondisi jiwa seseorang pada usia 40 tahun. “... Apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Usia 40 tahun ada pada masa dewasa, memiliki kematangan dalam berpikir dan mampu melakukan perenungan. Merefleksi keberadaan dan perjalanan yang telah dilewati serta mempertimbangkan sisa perjalanan yang akan dilalui. 
Bersyukur setiap saat tentu bukan hal yang mudah, ada celah godaan yang bisa saja terpeleset menjadi hamba yang kurang bersyukur.
Pada masa ini, sepatutnya kita meningkatkan syukur dengan memohon petunjuk agar dapat mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada diri sendiri dan juga kepada kedua orang tua supaya dapat beramal yang diridhai Allah. 
Memohon kebaikan untuk diri dan anak cucu. Dan, memohon ampunan kepada Allah serta menegaskan bahwa diri ini termasuk orang yang berserah diri. Setiap anak tidak lepas keterlibatan dan peran orang tua. 
Orang tua sebagai perantara keberadaan kita di bumi ini. Karena itu, orang tua menjadi orang pertama yang patut dimuliakan. Kepatuhan dan berbuat baik kepada orang tua selalu bersanding setelah perintah ketaatan dan kepatuhan kepada Allah. (QS al-Israa: [23], Luqman: 13-14).
Peran orang tua yang dengan segala kepayahannya mengandung, melahirkan, serta menyusui satu dasar kuat bahwa setiap anak yang terlahir patut mensyukuri akan hal ini. Tentu kesadaran berbuat baik kepada orang tua tidak serta merta tumbuh dalam diri anak. 
Namun seiring waktu, bertambahnya kekuatan untuk berpikir, merenung, dan bertambahnya ilmu dan pengalaman yang telah dilalui, sampai kepada masa dewasa dan usia 40 tahun ini masa untuk meningkatkan penyadaran dan perilaku syukur dan berbuat baik. 
Bersyukurlah kepada Allah dan memohon untuk diberi petunjuk untuk cara berbuat syukur. Karena, tidak ada syukur yang sempurna yang dapat kita lakukan, bahkan satu langkah pun dalam syukur yang mampu kita lakukan kecuali atas pertolongan Allah.
Upaya diri dalam melakukan kebaikan, ada harapan agar kebaikan yang dilakukan juga dapat diberikan kepada keturunan selanjutnya, yaitu anak dan cucu untuk senantiasa berbuat baik. Mengharap kesalehan diri dan keturunan menjadi harapan setiap Muslim. 
Tali-temali keturunan orang tua, anak, dan cucu yang terhubung dengan tali Allah, artinya ada dalam barisan yang berserah diri kepada Allah. Berapa pun usia, sesungguhnya kita sedang berjalan kembali kepada Allah. Wallahu alam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, sabar, syukur, takwa, )

***)  Santi Lisnawati

Rabu, 06 Januari 2016

DAHSYATNYA ISTIGHFAR

Jika ikhwah sering menghadiri majelis-majelis zikir, tentu tidak hanya majelis kami, ikhwah pasti sering sekali mendengar dari para ustaz dan ulama kita tentang pelaziman istighfar. 
Dalam majelis zikir yang kami helat, misalnya, istighfar minimal seratus kali dibaca dan sekaligus sebagai pembuka zikir kami.
Lalu, mengapa kita sangat perlu beristighfar? Berikut ini adalah tuturan hikmahnya. Mohon ikhwah baca dengan iman dan pelan, serta resapi dan rujukkan kepada maraji'-nya.
Pertama, penyebab Allah jatuh cinta kepada hamba-Nya; hubbullaah(baca QS Al-Baqarah [2]: 222). Kedua, akan mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah dan makhluk-Nya; al-mukarromuun (QS Yasin [36]: 27).
Ketiga, mendapatkan ampunan Allah; al-magfuuruun (QS Az-Zumar [39]: 53). Berikutnya, al-fadhilah, upaya untuk mendapatkan karunia Allah yang paling besar (QS An-Nur [24]: 21). Dengan beristighfar, kita memberi kebaikan untuk tercegahnya bala dan hura-hura kiamat;daf'ul balaai (QS Al-Anfal [8]: 33).
Istighfar adalah Du'aaur Rasuul, doa yang menjadi wirid harian Rasulullah SAW. Istighfar juga adalah ijaabatul Malaikah, doa yang diaminkan para malaikat. Ia adalah rahmatullah, mengundang hujan yang penuh rahmat. Bahkan istighfar, bi amwaalin, memudahkan meraih rezeki halal penuh berkah.
Istighfar juga as-sahlu, penyebab Allah memudahkan dalam setiap urusan. Al-Marjuuqu, solusi rezeki yang tidak ia sangka-sangka.
Quwwatul iimaani, bisa memperkuat iman. Adz-Dzihnu, kecerdasan spiritual, kecerdasan yang terbimbing. Qowlan tsaqiilan, dengan istighfar akan menjadikan arah bicaranya hikmah dan disimak.
Orang yang melazimkan istighfar akan didapati pada dirinyaquwwatul jasadi, fisik yang kuat dan prima. Tathmainnul quluubi, hati terliputi tenang, damai, dan bahagia.
Dawaaun, ia adalah solusi dan obat penyakit jasmani dan rohani.Miftaahul falaahi, kunci sukses dan bahagia dunia akhirat (QS An-Nur [24]: 31).
Terakhir, simak kalam Allah dengan iman, "Sesungguhnya Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang sungguh-sungguh bertobat dan terus-menerus menjaga kesucian diri-Nya." (QS Al-Baqoroh [2]: 222).
"Mohonlah kalian pada ampunan Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah akan turunkan hujan yang lebat, kemudahan meraih rezeki halal penuh berkah, generasi yang saleh-saleh, dan kesejahteraan dengan kebun-kebun yang indah serta sungai sungai jernih yang mengalir." (QS Nuh [71]: 10-12).
Dari Abu Hurairah RA berkata, saya mendengar Rasulullah bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar memohon ampunan kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari lebih dari tujuh puluh kali." (HR Bukhari).
Dari al-Aghar bin Yasar al-Muzani RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Wahai manusia bertobatlah kamu kepada Allah dan mintalah ampunan kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertobat dalam sehari seratus kali." (HR Muslim).
Allahumma ya Allah ampunilah seluruh dosa-dosa kami. Mari kita sungguh-sungguh bertobat dengan banyak mohon ampunan-Nya.
(Da'wah, hidayah, keyakinan ., sabarR,syukur., takwa, )


***) Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Selasa, 05 Januari 2016

KHIANAT

Khianat artinya curang, culas, tidak jujur, tidak lurus hati. Menurut Raghib al-Isfahani, khianat kurang lebih sama artinya dengan nifak(orangnya disebut munafik). Khianat dapat terjadi terhadap diri sendiri, terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya, dan terhadap orang lain.
Rasullullah SAW menempatkan khianat sebagai salah satu tanda munafik. Dikatakan bahwa “Tanda munafik itu ada tiga: apabila berbicara, dia dusta; apabila berjanji, dia ingkar; dan apabila dipercaya, dia khianat.” (HR Bukhari dan Muslim).
Namun, penting kita pahami bahwa nifak mengandung arti lebih luas dari pada khianat. Nifak mengandung arti curang terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya. Khianat mengandung arti curang terhadap janji yang dibikinnya dan culas terhadap kepercayaan (amanah) yang diberikan kepadanya.
Khianat terhadap diri sendiri, misalnya, mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah kepadanya tanpa alasan syari. Contohnya, mengharamkan makanan dan/atau minuman yang secara faktual telah dinyatakan kehalalannya dalam kalam Allah atau sabda Rasul-Nya.
Khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya, misalnya, mengingkari perkara yang disyariatkan Allah dan Rasul-Nya. Contohnya, mengabaikan perintah shalat fardhu padahal tidak ada udzur syari, mengabaikan perintah zakat padahal sudah nisab, dan mengabaikan perintah pergi haji padahal sudah istithaah.
Lebih jauh, mengutip pendapat Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang dimaksudkan khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya tidak sebatas meninggalkan aturan agama, tetapi juga menyempitkan aturan agama. 
Ambil contoh: menyempitkan agenda dakwah, tarbiyah, dan khidmat kepada sesama dikait-kaitkan dengan untung rugi secara finansial. Khianat terhadap orang lain, misalnya, tidak membuktikan janji-janjinya terhadap orang lain dan amanah yang diberikan orang lain kepadanya. 
Contohnya, presiden atau wakil presiden tidak dengan sungguh-sungguh membuktikan janji-janji kampanyenya. Padahal, disebabkan janji-janji kampanyenya itulah rakyat telah memilihnya.
Khianat terhadap diri sendiri, khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan khianat terhadap orang lain itu hukumnya terlarang (haram). Risiko ketiga-tiganya tidak ada yang ringan.

Dengan begitu, pastikan bahwa khianat bukan tabiat kita sebagai Muslim. Sehingga, khianat dalam level mana pun semestinya kita hindari. 
Allah SWT berfirman, “Hai, orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang diberikan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS al-Anfal [8] : 27).
Dalam ayat lain, “Dan, jika kamu mengetahui pengkhianatan dari suatu golongan maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang khianat.” (QS al-Anfal [8] : 58).
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang yang tidak memiliki sikap (perilaku) amanah.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban). 
Menariknya, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR Ahmad, Thabrani, Ibnu Hibban, dan al-Bazzar). Wallahu alam.


"""Mahmud Yunus

Da'wah, hidayah, hikmah, sabar syukur., tawakal, 

Senin, 04 Januari 2016

DOA UMAR BIN KHATTAB SAAT MEMIMPIN UMAT ISLAM

Abu Said al-Khudri pernah meriwayatkan hadis yang artinya, "Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah dan orang yang paling dekat posisinya dengan-Nya pada hari kiamat nanti adalah pemimpin yang adil. Sementara, orang yang paling dimurkai Allah dan yang paling jauh tempatnya dari sisi-Nya adalah pemimpin yang jahat." (HR Turmudzi).
Hadis ini merupakan harapan sekaligus ancaman bagi para pemimpin. Harapan bagi pemimpin yang baik agar menjadi hamba yang dicintai oleh Allah dan mendapat posisi yang paling dekat dengan-Nya di akhirat nanti. Begitu pula sebaliknya, hadis di atas juga bisa menjadi ancaman bagi pemimpin yang tidak baik atau jahat. Bahwa mereka akan mendapat murka dari Allah dan akan menempati posisi yang sangat jauh dari-Nya.
Dalam melaksanakan tugasnya, para pemimpin dihadapkan pada dua pilihan, adil atau zalim. Adil ketika ia menempatkan sesuatu pada tempatnya dan zalim ketika ia menempatkan sesuatu tidak pada tempat yang semestinya.
Karena tugas pemimpin yang berat seperti ini, maka pantas ketika Umar bin Khattab setiap menghadapi persoalan selalu berdoa, "Ya Allah, bimbinglah saya dalam menghadapi dua orang ini karena masing-masing dari mereka berdua ingin melihat saya dari segi agama saya."
Pada kesempatan yang lain, kadang Umar berdoa, "Ya Allah, berilah saya pertolongan untuk berbuat adil kepada keduanya. Sesungguhnya salah satu dari mereka bisa menjauhkan saya dari agama saya."
Pemimpin yang adil atau baik bukan berarti pemimpin yang membiarkan kebaikan dan kejahatan berjalan bersamaan, membiarkan kebaikan tetap berjalan, tapi juga membiarkan kejahatan tumbuh subur. Pemimpin yang seperti ini justru bukan merupakan pemimpin yang adil, melainkan tergolong pemimpin yang lemah.
Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang bisa membela rakyatnya yang lemah tapi benar dan bisa menghukum rakyatnya yang kuat tapi bersalah. Sehingga, ia bisa menempatkan kebenaran pada tempatnya dan menempatkan kejahatan atau kezaliman pada tempatnya pula.
Jika suatu daerah atau wilayah dipimpin oleh pemimpin yang adil, rakyatnya akan tertib, aman, dan sejahtera. Tertib karena seluruh rakyatnya akan mematuhi peraturan yang diundangkan oleh sang pemimpin.
Aman karena semua rakyatnya tidak merasa khawatir dengan kezaliman orang lain, lebih-lebih kezaliman sang pemimpin sendiri. Dan sejahtera setelah kehidupan mereka tidak ada yang mengganggu dan mereka bisa hidup sesuai dengan keinginan dan kebebasannya sendiri.
Oleh sebab itu, pantas ketika seorang pemimpin yang bisa menjadikan wilayahnya tertib, aman, dan sejahtera atau berbuat adil pada rakyatnya akan mendapatkan beberapa keutamaan di akhirat nanti. Di antaranya akan termasuk golongan yang mendapatkan naungan Allah (HR Bukhari dan Nasai), akan mendapatkan cinta Allah dan tempat yang paling dekat dengan-Nya (HR Turmudzi), serta mendapat posisi di mimbar sebelah kanan Zat Yang Maha Pengasih di akhirat nanti (HR Muslim).
Dan pemimpin yang adil pantas mendapatkan tempat-tempat yang dijanjikan Allah itu karena mereka telah melakukan tugasnya dengan sangat baik.
(Da'wah, hidayah, hikmah, syukur, sabar, takwa, ) 


***)Abdul Syukur

Minggu, 03 Januari 2016

BATAS ISRAF

Israf mempunyai arti berlebih-lebihan. Sikap israf atau berlebih-lebihan merupakan hal yang kurang baik atau bahkan malah tidak baik. Terlalu banyak bersedekah itu kurang baik, bahkan terlalu banyak rakaat dalam shalat sunah juga kurang baik.
Itu baru berlebihan atau israf dalam kebaikan, yang hal itu saja kurang baik, apalagi israf dalam kemaksiatan. Sungguh hal itu akan mampu menjerumuskan pelaku israf dalam kemaksiatan ke neraka.
Segala hal yang dilakukan secara berlebihan itu tidak baik. Pada zaman Rasulullah SAW, ada seorang sahabat laki-laki yang gemar beribadah di dalam masjid. Dia terus-terusan beribadah di masjid. Melihat hal itu, Rasulullah SAW pun menegurnya agar lelaki itu beribadah di masjid secukupnya saja.
Rasulullah SAW juga memerintahkannya untuk bekerja, berkumpul bersama istri, dan tidak melulu di masjid. Apa guna beribadah secara berlebihan tetapi keluarga di rumah telantar?
Allah SWT berfirman yang termaktub dalam potongan QS al-A'raf ayat 31, " ... Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang berlebihan." Dengan demikian, kita semua pun tahu bahwa israf itu tidak baik.
Lalu, hal yang dikatakan israf itu sejauh mana? Jika israf diartikan sebagai sikap atau perilaku yang dilakukan secara berlebihan, semua dari kita paham. Namun, sebagian dari kita terkadang tidak memahami batas-batas dari berlebihan itu.
Batas dari berlebihan memang antara satu orang dan orang yang lain itu berbeda. Dengan demikian, israf itu memang berbeda-beda kadarnya. Bukankah kita bisa menghabiskan nasi sepiring penuh, tetapi anak berusia empat tahun tidak bisa? Ya, bisa diibaratkan seperti itu.
Oleh karena itu, batas dari israf yang paling jelas adalah cukup, tidak membebani, dan seimbang. Kita boleh menunaikan shalat sunah seratus rakaat, asalkan keharusan yang lain juga bisa terpenuhi sesuai kadarnya. Kita pun tidak dilarang untuk rajin berpuasa. Akan tetapi, ketika waktu Maghrib tiba, maka kita harus berbuka atau membatalkan puasa.
Allah SWT menetapkan syariat Islam memang telah dirancang sesuai dengan kadar kemampuan umat manusia. Shalat wajib yang asalnya 50 waktu saja kini menjadi hanya lima waktu. Kita tidak akan sanggup untuk menunaikan shalat 50 kali dalam sehari semalam. Oleh karenanya, Allah SWT hanya mewajibkan lima waktu dan jika kita masih merasa kurang, maka ada shalat sunah yang bisa dikerjakan sesuai dengan kemampuan.
Perlu kita memahami QS al-Baqarah ayat 286 bahwa Allah SWT tidak membebani kita di luar kemampuan kita. Allah SWT tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
Islam mengajarkan ajaran yang seimbang; antara kebutuhan duniawi dan ukhrawi, antara kebutuhan jasmani dan rohani, antara kebutuhan diri sendiri dan orang lain, antara kebutuhan pribadi dan keluarga. Ada skala prioritas dalam syariat. Islam mengajarkan keseimbangan dalam hidup ini dan tidak membenarkan israf. Wallahu a'lam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur., takwa, )


***) Supriyadi

Sabtu, 02 Januari 2016

AGAR BAIK TETAP BAIK

Imam an-Nawawi mengemukakan, perkara baik tidak akan tetap baik kecuali bila ditunjang dengan perkara baik lainnya. Dalam konteks ini an-Nawawi mengemukakan sepuluh perkara baik. Lima di antaranya: akal (kecerdasan), kemenangan/kesuksesan, kekuasaan, kekayaan, dan kemiskinan.
Lima perkara tersebut berdasar pada sabda Rasulullah SAW semuanya baik. Namun, kelima perkara tersebut tidak akan baik tanpa dilengkapi perkara baik lainnya. Maka, siapa pun yang memiliki lima perkara tersebut dianjurkan untuk melengkapinya dengan memiliki perkara baik lainnya.
Pertama, akal (kecerdasan). Tidak diragukan lagi orang yang memiliki kecerdasan adalah orang yang beruntung. Lebih-lebih bila kecerdasan yang dimilikinya itu digunakan untuk mendalami al-Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Kecerdasan itu adalah cahaya di dalam hati/kalbu yang dapat membedakan antara yang benar dan yang salah.”
Tetapi, memiliki kecerdasan itu bisa juga membuat pemiliknya salah kaprah. Oleh sebab itu, yang bersangkutan sangat dianjurkan untuk melengkapinya dengan sifat wara’. Dengan sifat inilah yang bersangkutan dinilai aman dari kemungkinan salah kaprah dalam mengaplikasikan kecerdasan yang dimiliknya.
Kedua, kemenangan/kesuksesan. Orang yang meraih kemenangan/kesuksesan dapat dikatakan orang yang mujur. Tetapi, kemenangan/kesuksesan yang tidak diikuti syukur dan takut kepada Allah justru akan menjerumuskannya ke neraka. 
Maka, orang yang meraih kemenangan/kesuksesan dianjurkan untuk syukur dan takut kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk neraka orang yang menangis lantaran takut kepada Allah.”
Ketiga, kekuasaan atau jabatan. Kekuasaan atau jabatan adalah amanah yang wajib ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Bila tidak demikian, kekuasaan atau jabatan itu justru akan mendatangkan murka Allah SWT. Dengan begitu, orang yang memiliki kekuasaan atau jabatan wajib mengembannya dengan tanggung jawab. 
Rasulullah SAW bersabda, “Manusia yang paling dicintai Allah dan yang paling dekat dari-Nya pada hari kiamat nanti adalah pemimpin yang adil. Manusia yang paling dibenci Allah dan yang paling jauh dari-Nya pada hari kiamat nanti adalah pemimpin yang zalim.”
Keempat, kekayaan. Memiliki kekayaan adalah baik. Tetapi, kekayaan tidak akan manfaat jika tidak didermakan di jalan Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. (Sebaliknya) orang yang kikir itu jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka.”
Kelima, kemiskinan. Sejatinya kemiskinan itu baik. Abdullah bin Mubarak berkata, “Merasa kaya saat berada dalam kemiskinan lebih baik dari kemiskinan itu sendiri.” Tetapi, kemiskinan itu dapat berubah menjadi kemudaratan bagi yang bersangkutan.
Misalnya, ketika yang bersangkutan tidak menyikapinya secara qana’ah.Rasulullah SAW bersabda, “Jadilah kamu orang yang qana’ah niscaya kamu akan menjadi orang yang paling bersyukur.” Wallahu A’lam. 
 (Da'wah, hidayah, hikmah, pendidikan, takwa, )

***) Mahmud Yunus

Jumat, 01 Januari 2016

MENGAPA DOA KU TIDAK DIJABAH

Ada yang bertanya Ustaz, mengapa doa doaku tidak diijabah Allah?
Sahabatku,
1. Tugas kita sebagai hamba-Nya berdoa, hak mutlak Allah untuk mengijabahnya.
2. Allah ingin kita selalu berdoa pada-Nya, boleh jadi kalau dikabulkan kita tidak berdoa lagi.
3. Tidak dikabulkan karena kalau dikabulkan membawa fitnah untuk kita, tidak jadi kaya, boleh jadi setelah kaya jadi sombong.
4. InsyaAllah dikabulkan hanya waktu kemudian, atau
5. Allah hanya kabulkan di akhirat saja, jadi doa sebagai tabungan akhirat.
6. Allah kabulkan dalam bentuk lain, Allah tahu baik buruknya untuk kita,
7. Kalau tidak juga tetaplah baik sangka,
8. Dan saatnya untuk muhasabah diri, mungkin hidup kita dari rizki tidak halal, Rasulullah mengisahkan seseorang yang rambutnya acak-acakan dan berdebu lalu menengadahkan tangannya ke langit untuk berdoa, “Ya Rabi, ya Rabi.’
Padahal, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan keluarganya diberi makan dari sumber yang haram. Bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad). Mungkin ibadah kita masih diiringi ma’siyat, atau masih sering menyakiti orang lain atau aurat kita masih belum terjaga.
9. Perbaiki diri, sungguh sungguhlah taat dan jangan pernah putus asa dalam berdoa. Baca dengan iman, “Berdoalah kalian kepada-Ku, pasti KU ijabah doa kalian!!”(QS al Mu’min : 60).
SubhanAllah, terus, terus, dan terus berdoa karena kita tidak tahu kapan, dimana, dan bagaimana doa kita diijabah Allah…insyaAllah, aamiin.

Sumber: Akun Facebook Ustaz Arifin Ilham
 Da'wah, hidayah, hikmah, sabar syukur., takwa.,