Senin, 18 Januari 2016

KASIH SAYANG RASULULLAH

Pada suatu hari diberitakan ada keluarga Muslim yang mengalami musibah kematian. Rasulullah merupakan orang pertama yang datang melayat ke rumah duka. Berikutnya, para tetangga, kerabat, sanak famili, dan handai taulan, datang pula berduyun-duyun untuk menyatakan duka dan belasungkawa. Dalam kerumunan para pelayat itu, Nabi menegaskan kembali misi utama kerasulannya, yaitu membangun dan mewujudkan kasih sayang.
Dalam kesempatan itu, Rasulullah SAW bersabda, ''Saudara-saudaraku, kalau ada di antaramu seseorang yang mati meninggalkan harta, maka hartanya itu harus dibagikan kepada ahli warisnya. Dan kalau ada yang mati meninggalkan utang yang besar atau tanggungan keluarga yang banyak, maka hendaklah kalian datang kepadaku, karena akulah penolong dan pelindungnya.'' (HR Muslim).
Apa yang dilakukan dan ditunjukkan Nabi di atas tak lain adalah wujud dari kasih sayangnya. Seperti dikemukakan, salah satu misi utama kerasulan beliau adalah membangun dan mewujudkan kasih sayang bagi seluruh alam. Ini sesuai dengan firman Allah SWT, ''Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.'' (Al-Anbiya: 107).
Kasih sayang Rasul dapat dilihat dari sifat-sifatnya yang sangat mulia. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, beliau memiliki sifat lemah lembut kepada para sahabatnya, memaafkan mereka, bahkan memohonkan ampun kepada Allah atas dosa-dosa dan kesalahan mereka (Ali Imran: 159). Beliau juga pengasih dan penyayang.
Firman Allah SWT, ''Sesungguhnya telah datang seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat mengharapkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.'' (At-Taubah: 128).
Menurut ulama besar Rasyid Ridha, ada tiga sifat Nabi yang sangat utama berdasarkan ayat di atas. Pertama, kepekaan sosial (sense of crisis) yang sangat tinggi, sehingga beliau dapat merasakan kesulitan dan penderitaan orang lain. Kedua, semangat kemajuan (sense of achievement), sehingga beliau tidak pernah berhenti berjuang dan bekerja keras untuk kemajuan dan kebahagiaan umat. Ketiga, pengasih dan penyayang. Sifat yang ketiga ini juga merupakan sifat Tuhan dan merupakan salah satu dari Nama-Nya Yang Indah (Asma' al-Husna).
Selanjutnya, Rasyid Ridha mengimbau kaum Muslim, khususnya para pemimpin, agar meneladani sifat-sifat Nabi yang amat mulia itu. Menurut Ridha, seorang pemimpin, baik pemimpin masyarakat apalagi pemimpin bangsa dan negara, wajib hukumnya memiliki tiga sifat Nabi seperti disebutkan di atas. Alasannya, menurut Ridha, tanpa tiga sifat itu seorang pemimpin tidak akan pernah memikirkan kepentingan dan kesejahteraan umat.
Kasih sayang memang tak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikan. Sebagaimana Rasulullah telah membuktikannya, maka setiap Muslim, setingkat dengan kemampuan yang dimiliki, harus berusaha mewujudkan kasih sayang itu dalam kehidupannya, sehingga kehadirannya di tengah-tengah masyarakat benar-benar dirasakan sebagai rahmat bagi seluruh alam.

***)Republika

Minggu, 17 Januari 2016

TERAPI PENYAKIT HATI

“Maka adapun orang-orang yang melampaui batas (37). Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia (38). Maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya. (39). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya (40). Maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya (41). (QS An-Nazi’at: 37- 41)
Surah An-Naazi’at di atas membuka alam pikiran kita tentang nasib dua golongan di akhirah kelak. Telah disebutkan bahwa ahlunnar adalah orang yang melampaui batas, berlebih-lebihan, boros, enggan berbagi dengan sesama, juga membangkang atas perintah-Nya.
Sedangkan golongan kedua; yakni ahlul jannah, mereka yang senantiasa takut dan dengan susah payah menahan hawa nafsu (menahan diri dari dorongan yang buruk) entah itu menzalimi diri sendiri maupun oranglain.
Kata kunci dari nasib yang akan menimpa ahlunnar ialah akibat perbuatan mereka selama di dunia yang kerap menuruti hawa nafsu yang buruk (al-ammarah bi al-su). Padahal, satu hal penting yang harus kita ketahui bahwa seluruh penyakit hati berasal dari nafsu.
Rasulullah Saw dalam sebuah khutbahnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, bersabda, “Segala puji bagi Allah, kita memohon pertolongan, petunjuk, dan ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan-kejahatan nafsu kita dan keburukan-keburukan perbuatan kita,” (HR At-Tirmidzi, An-Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad)
Berdasar hadits di atas, Rasulullah Saw berlindung dari kejahatan nafsu secara umum dari berbagai perbuatan yang lahir darinya dan dari kejahatan yang muncul sebagai akibat darinya. Oleh karenanya, terdapat dua aspek pemaknaan, yakni pertama, masalah penyandaran sesuatu kepada jenisnya. Artinya, aku berlindung kepada-Mu dari jenis perbuatan-perbuatan ini. Kedua, maksudnya adalah siksaan-siksaan atas perbuatan yang merusak pelakunya.
Pada pengertian pertama, berarti berlindung dari nafsu dan perbuatannya. Pada pengertian kedua, berarti berlindung dari siksaan dan sebab-sebabnya. Demikian penjelasan yang dijabarkan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam Igasatulahfani fi Masayidi Asy-Syaitani.
Orang-orang yang menuju jalan Allah Swt dengan berbagai perbedaan jalan dan cara bersepakat bahwa nafsu adalah pemutus terhubungnya hati dengan Allah Swt. Dia tidak akan menyambungkan hati seorang hamba kepada-Nya kecuali setelah nafsu itu diredam dengan cara dikalahkan.
Dari sini, manusia dibagi atas  dua macam, pertama, orang yang dikalahkan nafsunya lalu tunduk pada perintah-perintah nafsunya. Kedua, orang yang bisa mengalahkan dan memaksa nafsunya tunduk. Tentu saja, proses mengalahkan hawa nafsu –bagi sebagian orang—tidaklah mudah.
Bahkan, seorang sufi berkata, “Perjalanan ath-thalibin (para pencari) berakhir dengan mengalahkan nafsu, siapa yang berhasil mengalahkan nafsunya, maka dia telah sukses. Sebaliknya, siapa yang dikalahkan oleh nafsunya, maka dia orang merugi (perhatikan Qs An-Nazi’at [79]; 37- 41)
Nafsu menyeru pada kedurhakaan dan mengutamakan dunia; mengejar jabatan dengan menghalalkan segala cara, memakan uang negara dengan merampasnya secara diam-diam dan menzalimi sesama, sedangkan Tuhan menyeru hamba-Nya agar takut kepada-Nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu.
Hati di antara dua penyeru itu terkadang condong kepada penyeru yang satu (ketaatan) dan terkadang condong kepada yang lain (hawa nafsu). Inilah tempat ujian dan cobaan. Oleh karenanya, Allah mengelompokkan nafsu dalam tiga sifat; muthmainnah, al-ammarah bi al-suu, dan lawwamah.
Disini kita hendak menekankan pengobatan penyakit hati dengan menguasai nafsu al-ammarah bi al-suu. Untuk itu, terdapat dua jenis pengobatan, pertama senantiasa melakukan muhasabah (introspeksi) atas nafsu. Kedua, selalu menyangkal nafsu karena kehancuran hati terjadi karena meremehkan masalah muhasabah.


***) Ina Salma Febriany

Kamis, 14 Januari 2016

15 HIKMAH SAKIT

1. Sakit itu dzikrullah
Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma ALLAH di banding ketika dalam sehatnya.
2. Sakit itu istighfar
Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit, sehingga lisan terbimbing untuk mohon ampun.
3. Sakit itu tauhid
Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thoyyibat yang akan terus digetar?
4. Sakit itu muhasabah
Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali.
5. Sakit itu jihad
Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah, di wajibkan terus berikhtiar, berjuang demi kesembuhannya.
6. Bahkan Sakit itu ilmu
Bukankah ketika sakit, dia akan memeriksa, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit.
7. Sakit itu nasihat
Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri, yang sehat hibur si sakit agar mau bersabar, ALLAH cinta dan sayang keduanya.
8. Sakit itu silaturrahim
Saat jenguk, bukankah keluarga yang jarang datang akhirnya datang membesuk, penuh senyum dan rindu mesra? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah.
9. Sakit itu gugur dosa
Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan yang sakit dinyerikan dan di cuci-Nya.
10. Sakit itu mustajab do’a
Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta dido’akan oleh yang sakit.
11. Sakit itu salah satu keadaan yang menyulitkan syaitan, di ajak maksiat tak mampu tak mau, dosa lalu malah disesali kemudian diampuni.
12. Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis, satu sikap keinsyafan yang disukai Nabi dan para makhluk langit.
13. Sakit meningkatkan kualitas ibadah, rukuk-sujud lebih khusyuk, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyyat-do’a jadi lebih lama.
14. Sakit itu memperbaiki akhlak, kesombongan terkikis, sifat tamak di paksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu.
15. Dan pada akhirnya sakit membawa kita untuk selalu ingat mati, mengingat mati dan bersiap amal untuk menyambutnya, adalah pendongkrak derajat ketaqwaan.
Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa memberi kesembuhan atas penyakit yang saat ini sahabatku derita dan Allah berikan kemudahan untuk mengambil hikmahnya.
(Da'wah, hidayah, hikmah, kebesaran, keyakinan, sabar, syukur, takwa., )


***)Sumber: Salingsapa

Rabu, 13 Januari 2016

SIAPA GURU KARAKTER TERBAIK ?

Mukmin yang berakhlak baik. Rasulullah SAW bersabda, "Orang mukmin yang pa ling sempurna imannya adalah mukmin yang paling baik akhlaknya." (HR Abu Hurairah).
Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihyaa' `Uluumuddiin, mendefinisikan akhlak sebagai "sifat-sifat yang telah tertanam dalam jiwa, yang darinya timbul perbuatan-perbuatan atau perilaku dengan mudah, tanpa memerlukan terlebih dahulu pertimbangan pikiran".
Perilaku yang menjadi-menjadi kebiasaan adalah wujud akhlak yang zahir, sedangkan perilaku yang membentuk karakter adalah wujud akhlak yang batin (Fathuddin, 2008).
Tanpa karakter atau akhlak, peradaban suatu bangsa akan rusak dan merusakkan. Bangsa Arab di zaman Jahiliyah mencerminkan potret bangsa tanpa karakter. Perjudian, perbudakan, perzinaan, budaya mabuk-mabukan sangat merajalela. Revolusi karakter terjadi di bangsa Arab lewat ikhtiar memperbaiki, mengubah, dan membangun akhlakul karimah di tengah-tengah masyarakat.
Dengan akhlaknya yang agung (QS al-Qalam: 4), Rasulullah SAW tampil sebagai pendidik karakter yang mengubah wajah bangsa Arab yang Jahiliyah menjadi bang sa yang berperadaban. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya aku diutus Allah ke dunia, tiada lain untuk me ngubah dan membangun masyarakat dengan akhlak yang mulia." (HR Ahmad).
Kini, perilaku Jahiliyah terjadi di Indonesia. Tiada hari tanpa kabar kekerasan dan pembunuhan, pemerkosaan, perzinaan, penipuan, pelanggaran hukum, dan perilaku menyimpang lainnya. Institusi pendidikan kerap melahirkan orang terpelajar, tapi lemah budi pekerti.
Orang cerdas, orang kaya, yang punya jabatan dan kekuasaan, banyak tidak tampak karakternya. Semakin cerdas, semakin kaya, semakin tinggi kedudukan, ternyata ber potensi semakin mematikan karakter. Itulah persoalan kita.
Mengajarkan karakter itu mudah karena hanya menyam paikan pengetahuan. Namun, mendidik karakter dan ber perilaku baik, itulah yang tersulit. Karakter hanya bisa di ajarkan oleh pendidik, bukan pengajar. Pendidik karakter terbaik adalah orang bertakwa.
Orang bertakwa memiliki kesadaran moral dan keimanan yang mantap. Hal tersebut tecermin dalam perilakunya yang mulia dan memberikan manfaat kepada orang lain. Pendidik karakter itu jujur hatinya dan benar ucapannya (QS al-Baqarah: 177), orang yang bisa mengemban amanah dan menepati janji (QS al-Mu'minun: 8), bersikap istiqamah dalam kesabaran (QS Yusuf: 90), mampu menaklukkan hawa nafsu dan berjiwa pemaaf (QS Ali Imran: 134), serta sosok yang mudah dinasihati dan cepat sadar kalau berbuat keliru (QS Ali Imran: 135). 
(Da'wah, hidayah, hikmah, pendidikan, sabar, syukur, )


***) Asep Sapat

Selasa, 12 Januari 2016

SEJAUH MANA UPAYA KITA TELADANI RASULLAH

Kini kita telah berada di bulan Rabiul Awal. Pada bulan ini kaum Muslimin selalu memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Momentum peringatan ini hendaknya dijadikan sarana untuk evaluasi diri, sejauh mana upaya kita untuk meneladani keluhuran akhlak Nabi SAW.
Jangan sampai setiap tahun kita memperingati maulid Nabi SAW, tetapi akhlak kita masih jauh dari apa yang diteladankan olehnya. Sungguh, dalam diri Nabi terdapat teladan yang baik (QS al-Ahzab [33]: 21).
Ketika Rasulullah SAW disakiti oleh orang-orang yang menentangnya, beliau tidak pernah membalasnya. Rasul menghadapinya dengan penuh kesabaran. Setiap kali Rasulullah melintas di depan rumah seorang wanita tua, beliau selalu diludahi oleh wanita tua itu.
Suatu hari, saat Rasulullah SAW melewati rumah wanitu tua itu, beliau tidak bertemu dengannya. Karena penasaran, beliau pun bertanya kepada seseorang tentang wanita tua itu. Justru orang yang ditanya pun malah heran, mengapa Rasulullah menanyakan kabar tentang wanita tua yang telah berlaku buruk kepadanya.
Setelah Rasulullah mendapatkan jawaban, wanita tua yang biasa meludahinya itu ternyata sedang sakit. Bukannya gembira, justru beliau memutuskan untuk menjenguknya. Wanita tua itu tidak menyangka jika Rasulullah mau menjenguknya.
Bahkan, ketika si wanita tua itu sadar bahwa manusia yang menjenguknya adalah orang yang selalu diludahinya setiap kali melewati depan rumahnya, si wanita tua itu pun menangis di dalam hatinya, "Duhai, betapa luhur budi manusia ini. Kendati tiap hari aku ludahi, justru dialah orang pertama yang menjengukku kemari.
"Dengan menitikkan air mata haru dan bahagia, si wanita tua itu lantas bertanya, "Wahai Muhammad, mengapa engkau menjengukku, padahal tiap hari aku meludahimu?" Rasulullah menjawab, "Aku yakin engkau meludahiku karena engkau belum tahu tentang kebenaranku. Jika engkau telah mengetahuinya, aku yakin engkau tidak akan melakukannya.
"Mendengar jawaban bijak dari Rasulullah, wanita tua itu pun menangis dalam hati. Dadanya sesak, tenggorokannya terasa tercekat. Kemudian dengan penuh kesadaran, ia pun berkata, "Wahai Muhammad, mulai saat ini aku bersaksi untuk mengikuti agamamu.
" Lantas, wanita tua itu pun mengikrarkan dua kalimat syahadat, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah." Subhanallah.Demikianlah sebagian kisah manusia agung, Nabi Muhammad SAW. Masih banyak kisah lainnya yang hendaknya terus digali, disosialisasikan, diteladani, dan diejawantahkan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Wallahu a'lam. 
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur, takwa, )

***)Imam Nur Suharno

Senin, 11 Januari 2016

MATA HATI

Syaqiq al-Balkhi mengisahkan, suatu ketika Ibrahim bin Adham jalan-jalan di Pasar Bashrah. Sekonyong-konyong, mendekatlah orang-orang. Lalu, mengelilinginya. Mereka bertanya kepadanya, “Apa maksud firman Allah, berdoalah kamu kepada-Ku niscaya Aku akan perkenankan doamu.” (QS Ghafir [40] : 60).
Mereka berkata, “Kami sebenarnya telah berdoa, namun setidaknya hingga hari ini tak kunjung dikabulkan Allah.” Ibrahim berkata, “Karena kalian mati hati. Maka, bagaimana doa kalian akan dikabulkan?”
Mereka bertanya lagi, “Mengapa kami dikatakan mati hati?” Ibrahim menjawab, “Terdapat 10 perkara yang menyebabkan mati hati”. Kemudian dia sebutkan satu per satu secara berurutan.
Pertama, kalian mengaku mengetahui Allah sebagai pencipta kalian tetapi kalian tidak menunaikan hak-hak-Nya. Allah berhak ditaati perintah-Nya. Mengapa, perintah-Nya itu kadang-kadang dilaksanakan dan kadang-kadang tidak dilaksanakan?
Kedua, kalian membaca kitab Allah, tetapi kalian tidak mengamalkan isinya. Allah memerintahkan agar menyembah Allah semata tanpa menyekutukan-Nya. Mengapa, Allah (langsung atau tidak langsung) kerap disekutukan dengan selain-Nya?
Ketiga, kalian mengaku memusuhi setan, tetapi kalian mengikuti perintahnya. Allah melarang mengikuti langkah-langkah setan. Mengapa langkah-langkah setan itulah yang kerap dijadikan rujukan dalam kehidupan sehari-hari?
Keempat, kalian mengaku mencintai Rasulullah SAW, tetapi kalian meninggalkan sunahnya. Rasulullah SAW menjelaskan, orang yang memelihara anak yatim akan mendapat tempat istimewa di surga. Mengapa, tidak sedikit orang yang membiarkan anak yatim tanpa masa depan cerah?
Kelima, kalian mengaku mendambakan surga, tetapi kalian tidak mengerjakan hal-hal yang akan mengantarkan kalian masuk ke dalamnya. Mendirikan shalat dengan khusyuk, mengeluarkan zakat, menjaga kemaluan adalah sebagian kecil contoh-contohnya. Mengapa, tidak sedikit orang yang melalaikannya?
Keenam, kalian mengaku takut neraka, tetapi kalian tidak menghindari perbuatan dosa/maksiat. Misalnya, Allah melarang keras perbuatan zalim. Mengapa, banyak orang yang merasa dizalimi sesamanya?
Ketujuh, kalian mengaku kematian itu niscaya datangnya, tetapi kalian tidak bersiap-siap menghadapinya. Contohnya, Allah menjelaskan di akhirat setiap orang akan dibalas sesuai dengan amalnya masing-masing. Mengapa, banyak orang yang tidak sungguh-sungguh mengerjakan amal saleh semasa hidupnya?
Kedelapan, kalian sibuk mempersoalkan cela, kekurangan, dan kesalahan orang lain sementara kalian abai terhadap cela, kekurangan, dan kesalahan diri kalian sendiri. Allah melarang keras membuka aib orang lain. Mengapa, masih banyak orang tidak menghiraukan larangan tersebut?
Kesembilan, kalian mendapatkan rezeki dari Allah, tetapi kalian lupa bersyukur kepada-Nya. Allah menitipkan harta yang banyak. Mengapa, tidak sedikit orang yang mengklaim harta itu miliknya sendiri? Lalu, mereka tidak mau berbagi dengan orang lain.
Kesepuluh, kalian mengebumikan jenazah saudara kalian, tetapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya. Allah menyatakan, “Setiap yang bernyawa niscaya bakal merasakan kematian.” Mengapa banyak orang yang seakan-akan tidak memercayainya? Wallahu alam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, takwa, sabar. syukur, sabar, )

***) Mahmud Yunus

Minggu, 10 Januari 2016

10 PERKARA SEBABKAN MATI HATI

Syaqiq al-Balkhi mengisahkan, suatu ketika Ibrahim bin Adham jalan-jalan di Pasar Bashrah. Sekonyong-konyong, mendekatlah orang-orang. Lalu, mengelilinginya. Mereka bertanya kepadanya, “Apa maksud firman Allah, berdoalah kamu kepada-Ku niscaya Aku akan perkenankan doamu.” (QS Ghafir [40] : 60).
Mereka berkata, “Kami sebenarnya telah berdoa, namun setidaknya hingga hari ini tak kunjung dikabulkan Allah.” Ibrahim berkata, “Karena kalian mati hati. Maka, bagaimana doa kalian akan dikabulkan?”
Mereka bertanya lagi, “Mengapa kami dikatakan mati hati?” Ibrahim menjawab, “Terdapat 10 perkara yang menyebabkan mati hati.” Kemudian dia sebutkan satu per satu secara berurutan.
Pertama, kalian mengaku mengetahui Allah sebagai pencipta kalian tetapi kalian tidak menunaikan hak-hak-Nya. Allah berhak ditaati perintah-Nya. Mengapa, perintah-Nya itu kadang-kadang dilaksanakan dan kadang-kadang tidak dilaksanakan?
Kedua, kalian membaca kitab Allah, tetapi kalian tidak mengamalkan isinya. Allah memerintahkan agar menyembah Allah semata tanpa menyekutukan-Nya. Mengapa, Allah (langsung atau tidak langsung) kerap disekutukan dengan selain-Nya? 
Ketiga, kalian mengaku memusuhi setan, tetapi kalian mengikuti perintahnya. Allah melarang mengikuti langkah-langkah setan. Mengapa langkah-langkah setan itulah yang kerap dijadikan rujukan dalam kehidupan sehari-hari?
Keempat, kalian mengaku mencintai Rasulullah SAW, tetapi kalian meninggalkan sunahnya. Rasulullah SAW menjelaskan, orang yang memelihara anak yatim akan mendapat tempat istimewa di surga. Mengapa, tidak sedikit orang yang membiarkan anak yatim tanpa masa depan cerah?
Kelima, kalian mengaku mendambakan surga, tetapi kalian tidak mengerjakan hal-hal yang akan mengantarkan kalian masuk ke dalamnya. Mendirikan shalat dengan khusyuk, mengeluarkan zakat, menjaga kemaluan adalah sebagian kecil contoh-contohnya. Mengapa, tidak sedikit orang yang melalaikannya?
Keenam, kalian mengaku takut neraka, tetapi kalian tidak menghindari perbuatan dosa/maksiat. Misalnya, Allah melarang keras perbuatan zalim. Mengapa, banyak orang yang merasa dizalimi sesamanya?
Ketujuh, kalian mengaku kematian itu niscaya datangnya, tetapi kalian tidak bersiap-siap menghadapinya. Contohnya, Allah menjelaskan di akhirat setiap orang akan dibalas sesuai dengan amalnya masing-masing. Mengapa, banyak orang yang tidak sungguh-sungguh mengerjakan amal saleh semasa hidupnya?
Kedelapan, kalian sibuk mempersoalkan cela, kekurangan, dan kesalahan orang lain sementara kalian abai terhadap cela, kekurangan, dan kesalahan diri kalian sendiri. Allah melarang keras membuka aib orang lain. Mengapa, masih banyak orang tidak menghiraukan larangan tersebut?
Kesembilan, kalian mendapatkan rezeki dari Allah, tetapi kalian lupa bersyukur kepada-Nya. Allah menitipkan harta yang banyak. Mengapa, tidak sedikit orang yang mengklaim harta itu miliknya sendiri? Lalu, mereka tidak mau berbagi dengan orang lain.
Kesepuluh, kalian mengebumikan jenazah saudara kalian, tetapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya. Allah SWT berfirman, “Setiap yang bernyawa niscaya bakal merasakan kematian.” Mengapa banyak orang yang seakan-akan tidak memercayainya? Wallahu alam.
(Da'wah, hidayah, hikmah, keyakinan, sabar, syukur, takwa, ) 

***) Mahmud Yunus